Anda di halaman 1dari 8

ETIKA PROFESI

PELANGGARAN KODE ETIK KEDOKTERAN


Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Matakuliah Etika Profesi

Disusun Oleh :
Kelompok 1
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Bayu Aditia
Fitri Wulandary
Yofan Al Hafizh
Rian Firdaus
Hamidatul Nesya
Atillah Sridhany Putri

1110452002
1110452024
1110452022
1110452026
201
1110453002
1110453006

Dosen Pembimbing :
Tiara Turay, BSBA, MS.i

PROGRAM STUDI SISTEM KOMPUTER


FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak permulaan sejarah yang tersurat mengenai umat manusia, sudah
dikenal hubungan kepercayaan antara dua insan yaitu sang pengobat dan
penderita.

Dalam

zaman

modern,

hubungan

ini

disebut

hubungan

kesepakatanterapeutik antara dokter dan penderita (pasien) yang dilakukan


dalam suasan asaling percay amempercayai (konfidensial) serta senantiasa
diliputi oleh segala emosi, harapan dan kekhawatiran makhluk insani.Sejak
terwujudnya sejarah kedokteran, seluruh umat manusia mengakui serta
mengetahui adanya beberapa sifat mendasar (fundamental) yang melekat
secara mutlak pada diri seorang dokter yang baik dan bijaksana, yaitu sifat
ketuhanan,kemurnian niat, keluhuran budi, kerendahan hati, kesungguhan
kerja,

integritas

ilmiah

dan

sosial,

serta

kesejawatan

yang

tidak

diragukan.Inhotep dan Mesin, Hippocrates dari Yunani, Galenus dan Roma,


merupakan beberapa ahli pelopor kedokteran kuno yang telah meletakkan
sendi-sendi permulaan untuk terbinanya suatu tradisi kedokteran yang mulia.
Beserta semua tokoh dan organisasi kedokteran yang tampil ke forum
internasional, kemudian mereka bermaksud mendasarkan tradisi dan disiplin
kedokteran tersebut atas suatu etik profesional. Etik tersebut, sepanjang masa
mengutamakan

penderitayang

berobat

serta

demi

keselamatan

dan

kepentingan penderita. Etik ini sendiri memuat prinsip-prinsip, yaitu:


beneficence, nonmaleficence, autonomy dan justice.
Etik kedokteran sudah sewajarnya dilandaskan atas norma-norma etik
yang mengatur hubungan manusia umumnya, dan dimiliki asas-asasnya dalam
falsafah masyarakat yang diterima dan dikembangkan terus. Khusus di
Indonesia,asas ituadalah Pancasila yang sama-sama kita akui sebagai landasan
Idiil dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan struktural.Dengan
maksud untuk lebih nyata mewujudkan kesungguhan dan keluhuran ilmu

kedokteran, kami paradokter Indonesia baik yang tergabung secara


profesional dalam Ikatan Dokter Indonesia, maupun secara fungsional terikat
dalam organisasi bidang pelayanan, pendidikan serta penelitian kesehatan dan
kedokteran

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Definisi Kode Etik


Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional
tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik dan apa
yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional. Kode etik menyatakan
perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan
dan apa yang harus dihindari.
Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaikbaiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan
melindungi perbuatan yang tidak profesional.
Ketaatan tenaga profesional terhadap kode etik merupakan
ketaatan naluriah yang telah bersatu dengan pikiran, jiwa dan perilaku
tenaga profesional. Jadi ketaatan itu terbentuk dari masing-masing orang
bukan karena paksaan. Dengan demikian tenaga profesional merasa bila dia
melanggar kode etiknya sendiri maka profesinya akan rusak dan yang rugi
adalah dia sendiri.
Kode etik bukan merupakan kode yang kaku karena akibat
perkembangan zaman maka kode etik mungkin menjadi usang atau sudah
tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Misalnya kode etik tentang euthanasia
(mati atas kehendak sendiri), dahulu belum tercantum dalam kode etik
kedokteran kini sudah dicantumkan.
Kode etik disusun oleh organisasi profesi sehingga masingmasing profesi memiliki kode etik tersendiri. Misalnya kode etik dokter,
guru, pustakawan, pengacara, Pelanggaran kde etik tidak diadili oleh
pengadilan karena melanggar kode etik tidak selalu berarti melanggar
hukum. Sebagai contoh untuk Ikatan Dokter Indonesia terdapat Kode Etik
Kedokteran. Bila seorang dokter dianggap melanggar kode etik tersebut,
maka dia akan diperiksa oleh Majelis Kode Etik Kedokteran Indonesia,
bukannya oleh pengadilan.

2.2

Artikel
RS Global Medika Diduga Lakukan Malpraktek
beritabatavia.com - RS Global Medika, Jl MH Thamrin 3, Kebon
Nanas,Cikokol, Tangerang, Banten diduga telah menyebabkan terjadinya kasus
malpraktek terhadap seorang bayi perempuan berusia 7 bulan, Maureen Angela
Gouw. Namun setelah diminta isi rekam medis pasien oleh orangtua Maureen dan
pengacara, pihak RS menolak menyerahkan isi rekam medis tersebut.
"Kami telah menyerahkan somasi kedua pada 21 Januari 2011 untuk
meminta pihak RS untuk menyerahkan isi rekam medis dari anak klien kami,
Budy Katjana dan Ny Linda yaitu Maureen Angela Gouw,namun sampai sekarang
pihak RS belum menanggapi," ujar June M Simanungkalit,pengacara Budy
Katjana, Kamis (9/2).
Akibat dugaan keras malpraktek itu, lanjut ayah korban, anaknya
mengalami cacat. "Pada tanggal 20 Desember 2010 kuku pada telunjuk tangan
kanan anak kami telah terlepas, dan kemudian pada tanggal 27 Desember 2010
kondisi ujung jari kelingking tangan kanan anak kami menghitam dan mengecil,
kemudian telah putus dengan sendirinya," jelas Ny Linda.
Budy Katjana, ayah Maureen menambahkan, anaknya diasuransikan ke
Prudential. Tapi pihak asuransi menolak membayar. "Karena aneh, tagihan dari
RS menyebutkan bahwa anak saya sakit panas, namun ada biaya anestesi dan
operasi. Akhirnya saya bayar sendiri tagihannya," jelasnya.
Pihak RS disebut Budi hanya mendatangkan ahli bedah, dr Gwendy
Aniko. "Dokter tersebut juga membenarkan bahwa cacat tangan pada Maureen
diakibatkan oleh pemakaian cairan infus yang sangat keras, yang disuntikan saat
pemasangan infus di telapak tangan Maureen," jelasnya.

Sebagaimana diberitakan beritabatavia dua hari lalu, awalnya Maureen


terkena demam tinggi dan dibawa ke RS Global. Namun ketika demamnya makin
tinggi bahkan sempat muntah setelah diberi obat oleh dokter RS, Maureen
dipindahkan ke ruang UGD.Ternyata setelah bayi yang ketika itu berusia empat
bulan itu diinfus ditangan kanannya, terjadilah cacat seperti diceritakan di atas,
lantaran penggunaan cairan infus yang sebelumnya tidak pernah digunakan pada
bayi.

Sumber : beritabatavia.com

2.3

Analisa Kasus
Berdasarkan kasus yang terjadi pada artikel diatas, terdapat
pelanggaran terhadap Ethical Principles. Menurut The Kitcheners Ethical
Principles ada lima prinsip etika. Pada kasus ini, etika yang dilanggar
adalah :
1. Non maleficence : Do no Hurm (tidak merugikan orang lain)
Dilihat dari kasus diatas, jelas sekali terjadi pelanggaran etika
ini. Maureen Angela Gouw, seorang bayi yang berumur 7 tahun harus
mengalami cacat akibat dirawat di RS Global Medika. Pasien yang
pada awalnya hanya terkena demam tinggi harus kehilangan jarinya
setelah mendapatkan perawatan di RS tersebut. Ini jelas sekali
merugikan pasien. Jadi, pihak RS telah melakukan pelanggaran etika
Non maleficence.
2. Beneficence : Act to benefit others (Manfaat untuk orang lain)
Apa yang dilakukan pihak RS sama sekali tidak bermanfaat
terhadap pasien. Pasien yang seharusnya sembuh setelah berobat, malah
mengalami cacat setelah diberikan perawatan oleh pihak RS.

3. Autonomy : Respect Autonomy


Pihak RS Global Medika tidak menghargai pasien yang
dirugikan. Ketika pihak pasien meminta isi rekam medis, pihak RS
menolak menyerahkan isi rekam medis tersebut. Ini sangat melanggar
etika karena itu merupakan hak dari seorang pasien RS.
2.4

Solusi
Menurut hukum, setiap warga negara dapat dipanggil untuk didengar
sebagai saksi. Selain itu, seorang yang mempunyai keahlian dapat juga
dipanggil sebagai saksi ahli. Maka dapat terjadi bahwa seorang yang
mempunyal keahlian umpamanya seorang dokter dipanggil sebagai saksi,
sebagal ahli atau sekaligus sebagai saksi (expert witness). Sebagai saksi
atau saksi ahli, mungkin sekali ia diharuskan memberi keterangan tentang
seseorang (umpamanya terdakwa) yang sebelum itu telah pernah menjadi
pasien yang ditanganmnya. Ini berarti Ia seolah-olah melanggar rahasia
jabatannya
Umpamanya seorang dokter sebagai saksi harus memberikan
keterangan mengenai seseonang yang telah diperiksa dan diobatinya karena
menderita luka-luka. Pada sidang pengadilan diketahui bahwa ternyata
pasien itu adalah seorang penjahat besar yang melakukan tindakan
pidananya. Keterangan dokter itu sangat diperlukan oleh pengadilan agar
rangkaian bukti menjadi lengkap. Hal demikian dokter itu wajib memberi
keterangan, agar masyarakat dapat dihindarkan dan kejahatan-kejahatan
yang lain yang mungkin dilakukan bila dibebaskan.

DAFTAR PUSTAKA
Bertens., K. 2000. Pengantar Etika Bisnis. Yogyakarta : Penerbit Kanisius
Boone Krutz, David L; Fardiansyah, Anwar. 2002. Pengantar Bisnis. Jakarta :
Erlangga
Veelasquelz, Manuel. 2006. Etika Bisnis. Jakarta : Andi Publisher.
http://akhmadsubairiyanto.blogspot.com/2010/11/etika-bisnis-dalammelakukan-kegiatan.html diakses pada 27 Agustus 2014 pukul
20:44
http://www.anneahira.com/artikel-umum/etika-bisnis.htm diakses pada 27
Agustus 2014