Anda di halaman 1dari 2

Dua cangkir nyaris saling berdenting.

Pada kepulan demi kepulan yang membumbung, muara berjinjit


menyejajari ujung. Hening. Tak ada yang berani mencicit selain jarum jam yang terus mengayuh. Di
dalam kubus bersebut kafe, Ben tetap merasa sempit.

Thanks for everything.

Ben menengadah, menangkap dunia yang kelam di iris hazel milik Ara. Pada sepasang mata yang
menatapnya itu, Ben tak mengerti arti di dalamnya. Ia ingin tenggelam. Menyelam. Tak ingin kembali.

"Are you really Ben memutus ucapannya sendiri. Terseret bersama ludah yang ia paksa berseluncur
di tenggorokan.

Ya, jawab Ara tanpa harus Ben merampungkan pertanyaannya. Lugas. Tak ada sepenggal pun yang
bergetar.

Sunyi seakan menelan bumi perlahan, mengikis tanah bersamanya. Mencuri warna. Merambat dari
segala arah, mendekati tempat Ben duduk. Ia nyaris tertelan. Bola matanya berputar, mencari celah
untuk lari. Tak ada. Tak pernah ada.

"Ra tell me" ucap Ben terhenti, kala mata mereka bertumbuk. Can you live without me?

Ben menata degup yang berkhianat. Menyembunyikan peluh yang berlomba keluar dari pori kulitnya.
Membangun asa di ujung tebing.

Please say no.

Ara menyesap espresso miliknya, lamat-lamat. Mengikis harapan tipis Ben lambat. Bibir wanita itu
berjungkit, sembari jemari lentiknya meletakkan cangkir kembali.

Yes, Ben. I can.

Ben berharap bumi bisa menelannya. Sekarang. Pada bunyi sepatu Ara yang menjauh, merta bel kafe
yang bergemerincing nyaring, Ben ingin menghilang.

Everyone has their own fault. For him, loving her thoroughly is his fault.

Satu teguk terakhir. Tanpa aba-aba, segalanya berakhir.

Ben tersenyum getir. Pahit.

Because nothing last forever. Nothing, but he bitter taste of espresso which lingering in his mouth.