Anda di halaman 1dari 10

Tugas kelompok

Akuntansi Perbankan

Kredit Bermasalah dan Restrukturisasi Kredit


D
I
S
U
S
U
N

Oleh :
Kelompok 13
Ikhlas Ul Akmal

Sulaeman

Husnul Khatimah

Rahmah

Wana Mariska

(1192040097)

Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Makassar
2013/2014

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Kredit yang diberikan oleh bank mengandung resiko sehingga bank dituntut kemampuan
dan efektivitasnya dalam mengelola resiko kredit dan meminimalkan potensi kerugian sehingga
bank wajib memperhatikan asas perkreditan yang sehat:
1. Bank tidak diperkenankan memberikan kredit tanpa surat perjanjian tertulis.
2. Bank tidak diperkenankan memberi kredit pada usaha yang dari awal telah diperhitungkan
kurang sehat dan akan membawa kerugian.
3. Bank tidak diperkenankan memberikan kredit untuk pembelian saham dan modal kerja dalam
rangka kegiatan jual beli saham.
4. Memberikan kredit melampaui batas maksimum pemberian kredit (legal ending limit).
Bank dalam menyalurkan dana untuk kredit harus didasarkan pada adanya suatu jaminan.
Yang dimaksud jaminan dalam pemberian kredit adalah keyakinan bank atas kesanggupan
debitur untuk melunasi kredit sesuai dengan yang diperjanjikan.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :
1. Apa pengertian kredit bermasalah.
2. Apa jenis kredit dilihat dari kolektibilitasnya.
3. Bagaimana membukukan pencatatan pengakuan bunga untuk kredit performing dan nonperforming.
4. Bagaimana membukukan pencatatan pembayaran kredit performing dan non-performing.
5. Bagaimana membukukan pencatatan atas restrukturisasikredit.

BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Kredit Bermasalah
Kredit bermasalah adalah suatu keadaan di mana nasabah sudah tidak sanggup
membayar sebagian atau seluruh kewajibannya kepada bank seperti yang telah
diperjanjikan.
Kredit bermasalah akan berakibat pada kerugian bank, yaitu kerugian karena tidak
diterimanya kembali dana yang telah disalurkan maupun pendapatan bunga yang tidak
dapat diterima. Artinya bank kehilangan kesempatan mendapat bunga, yang berakibat
pada penurunan pendapatan secara total.
Beberapa faktor penyebab kredit bermasalah antara lain penyebab kredit yang
berasal dari intern bank dan ekstern bank.
- Faktor intern bank
Beberapa faktor penyebab kredit bermasalah yang berasal dari faktor intern bank
yaitu :
1. Analisis yang dilakukan oleh pejabat bank kurang tepat, sehingga tidak dapat
memprediksi apa yang akan terjadi dalam kurung waktu selama jangka waktu
kredit.
2. Adanya kolusi antara pejabat bank yang menangani kredit dan nasabah, sehingga
bank memutuskan kredit yang tidak seharusnya diberikan.
3. Keterbatasan pengetahuan pejabat bank terhadap jenis usaha debitur, sehingga
tidak dapat melakukan analisis kredit dengan tepat dan akurat.
4. Campur tangan terlalu besar dari pihak terkait, misalnya komisaris, Direktur bank
sehingga petugas tidak independen dalam memutuskan kredit.
5. Kelemahan dalam melakukan pembinaan dan monitoring kredit.
- Faktor ekstern bank
Beberapa faktor ekstern yang dapat menyebabkan kredit bermasalah antara lain :
1. Debitur dengan sengaja tidak melakukan pembayaran angsuran kepada bank,
karena nasabah tidak memiliki kemauan dalam memenuhi kewajibannya.
2. Debitur melakukan ekspansi terlalu besar sehingga dana yang dibutuhkan terlalu
besar.
3. Penyelewengan yang dilakukan nasabah dengan menggunakan dana kredit
tersebut tidak sesuai dengan tujuan penggunaan (side streaming).
4. Adanya unsur ketidaksengajaan, misalnya bencana alam, ketidakstabilan
perekonomian negara sehingga inflasi tinggi.

Jenis Kredit Sesuai dengan Kolektibiitas


Kredit dapat dibedakan sesuai dengan kolektibilitas/kualitas/penggolongan kredit
yaitu performing loan dan non-performing loan. penggolongan kredit menjadi performing
loan dan non-performing loan didasarkan pada kriteria kualitatif dan kuantitatif.
- Performing loan merupakan penggolongan kredit atas kualitas kredit nasabah yang
lancer dan/atau terjadi tunggakan sampai dengan 90 hari.
Performing loan dibagi menjadi dua yaitu :
a. Kredit Lancar
Kredit lancer adalah kredit yang tidak terdapat tunggakan. Setiap tanggal jatuh
tempo angsuran, debitur dapat membayar pinjaman pokok maupun bunga.
b. Kredit dalam perhatian khusus
Kredit dalam perhatian khusus adalah penggolongan kredit yang tertunggak baik
angsuran pinjaman pokok dan pembayaran buunga, akan tetapi tunggakannya
sampe dengan 90 hari (tidak melebihi 90 hari kalender)
-

Non-performing loan merupakan kredit yang menunggak melebihi 90 hari. Nonperforming loan dibagi atas 3 yaitu :
a. Kredit kurang lancar
Kredit kurang lancer terjadi bila debitur tidak dapat membayar angsuran
pinjaman pokok dan /atau bunga antara 91 hari 180 hari.
b. Kredit diragukan
Kredit diragukan terjadi dalam hal debitur tidak dapat membayar angsuran
pinjaman pokok dan /atau pembayaran bung antara 181 hari 270 hari
c. Kredit macet
Kredit macet terjadi bila debitur tidak mampu membayar berturut-turut lebih
dari 270 hari.

Akuntansi Kredit Bermasalah


Kredit bermasalah terjadi ketika debitur tidak dapat membayar angsuran setelah
90 hari. Kredit bermasalah dapat menyebabkan tidak kembalinya dana yang telah
disalurkan oleh bank. Pendapatan bunga kredit diakui secara akrual kecuali pendapatan
bunga dari kredit non-performing. Pendapatan bunga kredit yang berasal dari nonperforming loan diakui pada saat diterima pembayarannya. Pada saat kredit
diklasifikasikan sebagai nonperforming loan , bunga yang telah diakui tetapi belum
tertagih harus dibatalkan ( PSAK 31 paragraf 22 ).
Selanjutnya pendapatan bunga kredit untuk kredit dengan kualitas non-performing loan
dicatat dalam tagihan kontigensi.

Dalam akuntansi, kredit bermasalah terbagi atas dua yaitu :


1. Performing Loan
a. Pengakuan Pendapatan Bunga Kredit Performing
Pendapatan bunga kredit diakui secara akrual untuk kredit yang digolongkan pada
performing loan. sehingga pendapatan bunga kredit performing loan akan
berpengaruh pada laporan laba/rugi bank. Yang tergolong dalam performing
adalah kredit dengan kolektibilitas lancer dan dalam perhatian khusus.
b. Pembayaran Kewajiban Kredit Performing
Pembayaran atas tunggakan kredit sebesar sama atau lebih dari kewajiban pokok
dan bunga, maka seluruh kewajibannya dapat dibayarkan. Pembayaran angsuran
kurang dari total kewajibannya, maka perioritas pembayarannya adalah
pembayaran bunga dan denda, kemudian sisanya akan mengurangi saldo
pinjaman pokok.
2. Akuntansi Non-Performing Loan
a. Pengakuan Pendapatan Bunga Kredit Non-Performing
Non-performing loan terjadi bila debitur tidak membayar angsuran pinjaman
pokok maupun bunga setelah 90 hari. Pendapatan bunga kredit untuk kredit nonperformingdiakui atas dasar cash basis, yaitu pengakuan pendapatan bunga kredit
pada saat adanya pembayaran dari debitur. Pendapatan bunga kredit untuk kredit nonperforming diakui sebagai pendapatan bunga kredit dalam penyelesaian yang tidak
dicatat dalam laporan laba/rugi, akan tetapi dicatat dalam tagihan kontigensi.
Dalam hal kualitas kredit menjadi kredit non-performing, maka
pendapatan bunga kredit yang belum diterima, tidak boleh dicatat dalam pendapatan
bunga kredit. Perlakuan pendapatan bunga kredit yang telah dicatat dan telah masuk
dalam laporan laba/rugi, sebagai berikut :
a. Pendapatan bunga kredit yang telah diakui, harus dibatalkan dan dibuat jurnal
koreksi atas pendapatan bunga kredit.
b. Pendapatan bunga kredit dicatat dalam pendapatan bunga kredit dalam
penyelesaian.
c. Pendapatan bunga kredit untuk angsuran berikutnya bila masih menunggak, maka
langsung dicatat dalam pendapatan bunga kredit dalam penyelesaian.
Pada saat debitur tidak dapat membayar angsuran lebih dari 90 hari, maka kualitas
debitur turun dari performing loan menjadi non-performing loan. pendapatan bunga
kredit yang teah diakui harus dibatalkan dengan mendebit pendapatan bunga kredit
dan mengkredit pendapatan bunga kredit yang telah diterima. Kemudian mencatat
pendapatan bunga kredit yang belum diterima pada akun tagihan kontigensi, yaitu
pendapatan bunga kredit dalam penyelesaian pada posisi debit. Untuk selanjutnya
bila nasabah tidak membayar angsuran, bank akan membuat jurnal pada tagihan
kontigensi, pendapatan bunga kredit dalam penyekesaian pada posisi debit. Jurnal
ini dibuat sampai adanya pembayaran.

b. Pembayaran Kewajiban Kredit Non-Performing


Bila debitur sudah masuk dalam kualitas kredit non-performing, kemudian
melakukan pembayaran atas tunggakannya, maka bila kredit termasuk golongan
kredit kurang lancar, prioritas pembayarannya adalah pembayaran bunga, denda, dan
lain-lain. Sisanya digunakan untuk pembyaran pinjaman pokok. Untuk kualitas kredit
diragukan dan kredit macet, prioritas pembayaran adalah untuk pembayaran pokok,
dan sisanya digunakan untuk pembayaran bunga, denda dan biaya lainnya.
Restrukturisasi Kredit
Kredit yang diberikan oleh bank memiliki tujuan agar uang yang disalurkan
dalam bentuk kredit kepada debitur dapat dikembalikan sesuai jangka waktu yang telah
diberjanjikan. Namun dalam kenyataannya, dari seluruh kredit yang diberikan masih
terdapat kredit yang bermasalah. Dalam hal terdapat kredit yang bermasalah maka, bank
berupaya untuk menyelesaikannya. Restrukturisasi kredit merupakan upaya yang
digunakan bank dalam kegiatan usaha perkreditan agar debitur dapat memenuhi
kewajibannya.
Restrukturisasi kredit diberikan kepada debiitur yang tidak dapat memenuhi
kewajibannya atau debitur yang diperkirakan tidak dapat memenuhi kewajiban
pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga sesuai dengan jadwal yang diperjanjikan.
Bank melakukan restrukturisasi kredit kepada debitur berdasarkan pertimbangan ekonomi
atau hukum, yang pemberiannya terbatas pada adanya kesulitan keuangan debitur
sehingga perlu dibantu oleh bank dalam menyelesaikannya. Bank memiliki keyakinan
bahwa dengan dilakukannya restrukturisasi kredit kepada debitur, maka kondisi keuangan
debitur akan menjadi lebih baik, sehingga kualitas kredit debitur meningkat.
Restrukturisasi kredit dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain sebagai
berikut :
1. Modifikasi persyaratan kredit
Restrukturisasi kredit yang paling umum dilakukan oleh bank adalah dengan
melakukan modifikasi persyaratan kredit. Persyaratan kredit yang perlu diperbarui
dalam rangka restrukturisasi antara lain :
Penurunan suku bunga kredit
Perpanjangan jangka waktu kredit
Pengurangan tunggakan bunga kredit
Pengurangan jumlah pokok kredit
Dengan melakukan kombinasi atas perubahan persyaratan kredit, diharapkan
kondisi keuangan debitur menjadi lebih baik dan pada akhirnya debitur mampu
memenuhi kewajiban pembayaran pokok kredit maupun bunga.

Menurut Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia tahun2001, perhitungan nilai


tunai penerimaan kas masa depan dan kerugian restrukturisasi kredit untuk
restrukturisasi yang dilakukan dengan mengubah/memodifikasi persyaratan kredit
sebagai berikut :
a. Bila nilai tunai penerimaan kas masa depan yang ditentukan dalam
persyaratan baru sama dengan nilai tercatat kredit, maka bank mencatat
dampak restrukturisasi secara prospektif, dan tidak mengubah nilai tercatat
kredit pada tanggal restrukturisasi karena bank tidak mengalami kerugian
restrukturisasi.
b. Bila nilai tunai penerimaan kas masa depan yang ditentukan dalam
persyaratan baru lebih kecil dari nilai tercatat kredit, maka bank mengakui
kerugian restrukturisasi sebesar selisih antara nilai tercatat kredit dan nilai
tunai penerimaan pokok dan bunga.
c. Faktor pendiskonto yang digunakan dalam perhitungan nilai tunai penerimaan
kas masa depan atas kredit yang direstrukturisasi adalah tingkat bunga pasar,
yaitu tingkat bunga efektif dari kredit sebelum restrukturisasi. Tingkat bunga
ini dilakukan evaluasi secara triwulanan sesuai dengan tingkat bunga pasar.
d. Dalam penetuan kerugian restrukturisasi, jumlah pembayaran kontingen dari
debitur ( misalnya peningkatan pembayaran angsuran di masa depan sesuai
dengan perbaikan usaha debitur ) dapat diperhitungkan sebagai bagian dari
nilai tunai penerimaan masa depan, hanya jika jumlah kontingen ini lebih
besar kemungkinannya untuk dapat direalisasi ( probable ) dan jumlahnya
dapat ditentukan secara wajar serta telah diperjanjikan sebelumnya.
Restrukturisasi kredit dengan pengurangan poko dan/atau bunga, maka selain
perhitungan nilai tunai penerimaan kas masa depan dan kerugian restrukturisasi
kredit, maka perlu juga diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Pengurangan pokok dan/atau bunga secara absolut, maka pengurangan pokok
kredit dibebankan ke penyisihan kerugian kredit. Pengurangan bunga
dilakukan dengan melakukan jurnal balik atas tagihan kontigensi dan tidak
mengakui kerugian.
b. Pengurangan pokok dan/atau bunga secara kontinjen/bersyarat, pengurangan
pokok kredit dibebankan ke penyisihan kerugian kredit dan bank mengakui
tagihan kontigensi pokok. Pengurangan bunga dilakukan dengan melakukan
jurnal balik atas tagihan kontigensi dan bank tidak mengakui kerugian.
2. Penambahan Fasilitas Kredit
Dalam kasus tertentu , debitur bermasalah justru akan mendapat tambahan kredit
dengan tujuan agar usahanya menjadi lancar dan dapat mengembalikan

kewajibannya. Tambahan kredit ini diberikan kepada debitur yang memperoleh kredit
investasi dan/atau kredit modal kerja. Misalnya usaha debitur tidak dapat berjalan bila
tidak diikuti dengan investasi peralatan baru atau ditambah modal kerja. Bank dapat
memberikan tambahan kredit untuk investasi dan/atau modal kerja.
3. Pengambilalihan Agunan/Aset Debitur
Pengambilalihan agunan/asset debitur dilakukan bila debitur sudah tidak sanggup
membayar kewajibannya dan debitur kooperatif untuk menyelesaikan kewajibannya
dengan menyerahkan agunannya. Agunan yang dimiliki oleh bank adalah berupa
surat/bukti kepemilikan, sementara fisik asset yang diagunkan masih dikuasai oleh
debitur. Dalam hal penguasaan agunan, bisa dilakukan bila debitur kooperatif dan
ikut membantu menyelesaikan kreditnya.
Restrukturisasi kredit dengan pengambilalihan agunan/asset debitur, dilakukan
dengan ketentuan sebagai berikut :
Agunan kredit atau asset lain yang diambil alih seperti tanah, bangunan,
dan surat berharga diakui sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi, yaitu
nilai wajar agunan/asset setelah dikurangi estimasi biaya untuk menjual
agunan/asset tersebut.
Sisa kredit setelah dikurangi nilai bersih agunan/asset lain yang diambil
alih merupakan kredit yang direstrukturisasi yang perlakuannya
sebagaimana yang diatur dalam restrukturisasi dengan modifikasi
persyaratan.
4. Konversi Kredit
Konversi kredit merupakan konversi pinjaman debitur dalam bentuk penyertaan
modal pada perusahaan debitur. Dengan dilakukannya konversi kredit, maka
outstanding kredit debitur yang telah dikonversi, dikurangkan dari akun kredit.
Konversi kredit dilakukan dengan mendapat saham perusahaan debitur.
Dalam hal saham yang diserahkan nilainya lebih rendah dibanding total
kewajibannya, maka sisanya masih menjadi kredit debitur. Sebaliknya bila nilai ajar
saham lebih tinggi dibandingkan dengan total kewajiban debitur maka selisihnya
dicatat sebagai pendapatan yang ditangguhkan.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Kredit bermasalah adalah suatu keadaan di mana nasabah sudah tidak sanggup
membayar sebagian atau seluruh kewajibannya kepada bank seperti yang telah
diperjanjikan.
2. Kredit dapat dibedakan sesuai dengan kolektibilitas/kualitas/penggolongan kredit
yaitu performing loan dan non-performing loan.
Performing loan merupakan penggolongan kredit atas kualitas kredit nasabah
yang lancer dan/atau terjadi tunggakan sampai dengan 90 hari.
Performing loan dibagi menjadi dua yaitu :
a. Kredit Lancar
b. Kredit dalam perhatian khusus
Non-performing loan merupakan kredit yang menunggak melebihi 90 hari. Nonperforming loan dibagi atas 3 yaitu :
a. Kredit kurang lancar
b. Kredit diragukan
c. Kredit macet
3. Dalam akuntansi, kredit bermasalah terbagi atas dua yaitu :
1. Performing Loan
a. Pengakuan Pendapatan Bunga Kredit Performing
b. Pembayaran Kewajiban Kredit Performing
2. Akuntansi Non-Performing Loan
a. Pengakuan Pendapatan Bunga Kredit Non-Performing
b. Pembayaran Kewajiban Kredit Non-Performing
4. Restrukturisasi kredit dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain sebagai
berikut :
a. Modifikasi persyaratan kredit
b. Penambahan Fasilitas Kredit
c. Pengambilalihan Agunan/Aset Debitur
d. Konversi Kredit