Anda di halaman 1dari 11

SUBJEKTIF

Identitas
Nama

: Supriali Riski

Umur

: 17 tahun

Suku

: sasak

Peekrjaaan

: pelajar

Alamat

: Selong Lombok Timur

Alloanamnesis
Pasien masuk ke Rumah Sakit Jiwa untuk kedua kalinya dengan keluhan gelisah jika jam 9
malam. Tidur (+), mudah tersinggung, putus obat kurang lebih 1 tahun yang lalu, bicara sendiri,
asma (-), kejang (-), Herediter (-), suka mondar mandir. Pasien tiba-tiba banyak bicara kurang
lebih 1 hari yang lalu setelah terjadinya keributan saat main sepak bola.
OBJEKTIF
Pemeriksaan fisik
TD : 130/80
Status psikiatri
A. Deskripsi umum
1. Penampilan : rapi
2. Kesadaran : kompos mentis
3. Perilaku dengan aktifitas psikomototr : hiperaktif
4. Pembicaraan : verbal
5. Sikap terhadap pemeriksa : koperatif
B. Emosi/ afek : luas
C. Proses piker : realistis, inkoheren, flight of idea, waham kebesaran.
D. Gangguan : halusinasi auditorik, halusinasi visual

E. Intelektual : baik
F. Memori : baik
G. Insight : derajat I
H. Judgment : terganggu
Diagnosis
Skizofrenia Paranoid Episode Berkelanjutan
Terapi
Haloperidol 2X5 mg
Marlopan 0-1 mg

TINJAUAN PUSTAKA
a. Pengertian
Skizofrenia adalah gangguan yang benar-benar membingungkan dan menyimpan banyak
tanda tanya (teka-teki). Kadangkala skizofrenia dapat berpikir dan berkomunikasi dengan jelas,
memiliki pandangan yang tepat dan berfungsi secara baik dalam kehidupan sehari-hari. Namun
pada saat yang lain, pemikiran dan kata-kata terbalik, mereka kehilangan sentuhan dan mereka
tidak mampu memelihara diri mereka sendiri.

Skizofrenia merupakan sindrom klinis yang paling membingungkan dan melumpuhkan.


Skizofrenia merupakan gangguan psikologis yang paling berhubungan dengan pandangan
populer tentang gila atau sakit mental. Hal ini sering menimbulkan rasa takut, kesalahpahaman,
dan penghukuman, bukannya simpati dan perhatian. Skizofrenia menyerang jati diri seseorang,
memutus hubungan yang erat antara pemikiran dan perasaan serta mengisinya dengan persepsi
yang terganggu, ide yang salah, dan konsepsi yang tidak logis. Mereka mungkin berbicara
dengan nada yang mendatar dan menunjukkan sedikit ekspresi .

Skizofrenia paranoid ditandai oleh keasyikan (preokupasi) pada satu atau lebih waham atau
halusinasi, dan tidak ada perilaku pada tipe terdisorganisasi atau katatonik. Secara klasik
skizofrenia tipe paranoid ditandai terutama oleh adanya waham kebesaran atau waham kejar,
jalannya penyakit agak konstan . Pikiran melayang (Flight of ideas) lebih sering terdapat pada
mania, pada skizofrenia lebih sering inkoherensi .

b. Faktor Resiko
Faktor resiko skizofrenia adalah sebagai berikut:
1. Riwayat skizofrenia dalam keluarga
2. Kembar identik
Kembar identik memiliki risiko skizofrenia 50%, walaupun gen mereka identik 100%
3. Struktur otak abnormal .

Dengan perkembangan teknik pencitraan teknik noninvasif, seperti CT scan, Magnetic


Resonance Imaging (MRI), dan Positron Emission Tomography (PET) dalam 25 tahun
terakhir, para ilmuwan meneliti struktur otak dan aktivitas otak individu penderita
skizofrenia. Penelitian menunjukkan bahwa individu penderita skizofrenia memiliki
jaringan otak yang relatif lebih sedikit .
4. Sosiokultural
Lingkungan sosial individu dengan skizofrenia di negara-negara berkembang mungkin
menfasilitasi dan memulihkan (recovery) dengan lebih baik daripada di negara maju . Di
negara berkembang, terdapat jaringan keluarga yang lebih luas dan lebih dekat
disekeliling orang-orang dengan skizofrenia dan menyediakan lebih banyak kepedulian
terhadap penderita. Keluarga-keluarga di beberapa negara berkembang lebih sedikit
melakukan tindakan permusuhan, mengkritik, dan sangat terlibat jika dibandingkan
dengan keluarga-keluarga di beberapa negara-negara maju. Hal ini mungkin membantu
jumlah atau tingkat kekambuhan dari anggota-anggota keluarga penderita skizofrenia.

5. Tampilan emosi
Sejumlah penelitian menunjukkan orang-orang dengan skizofrenia yang keluarganya
tinggi dalam mengekspresikan emosi, lebih besar kemungkinannya untuk menderita
kekambuhan psikosis daripada mereka yang keluarganya sedikit atau kurang
mengekspresikan emosi

c. Gejala - gejala
Gejala-gejala skizofrenia dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu:
1. Gejala positif

Delusi atau waham

Suatu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal). Meskipun telah dibuktikan secara
objektif bahwa keyakinannya itu tidak rasional, namun penderita tetap meyakini
kebenarannya.

Halusinasi

Pengalaman panca indera tanpa ada rangsangan (stimulus). Misalnya penderita mendengar
suara

suara/ bisikan-bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber dari suara/ bisikan itu.

Kekacauan alam pikiran

Dapat dilihat dari isi pembicaraannya. Misalnya bicaranya kacau, sehingga tidak dapat
diikuti
alur pikirannya.

Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan semangat dan
gembira berlebihan.

Merasa dirinya Orang Besar, merasa serba mampu dan sejenisnya.

Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada ancaman terhadap dirinya.

Menyimpan rasa permusuhan.

2. Gejala negatif

Alam perasaan (affect) tumpul dan mendatar .Gambaran alam perasaan ini dapat
terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi.

Menarik diri atau mengasingkan diri, tidak mau bergaul atau kontak dengan orang lain
dan suka melamun.

Kontak emosional amat sedikit, sukar diajak bicara dan pendiam.

Pasif dan apatis serta menarik diri dari pergaulan sosial.

Sulit dalam berpikir nyata.

Pola pikir steorotip.

Tidak ada/ kehilangan dorongan kehendak dan tidak ada inisiatif.

d. Penegakan diagnostic
Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) di Indonesia yang keIII sebagai berikut:

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau
lebih bila gejala-gejala itu kurang jelas):
a)

thought eco = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan walaupun isinya sama tapi
kualitasnya berbeda.
thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk ke
dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari
luar dirinya (withdrawal); dan
thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau
umum mengetahuinya;

b)

delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan


tertentu dari luar, atau
delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar
delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah
terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya secara jelas merujuk ke
pergerakan tubuh/anggota gerak atau pikiran, tindakan atau penginderaan khusus);
delusion perception = pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna
sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;

c)

Halusinasi auditorik:
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus-menerus terhadap perilkau
pasien,

- Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara


yang berbicara) atau Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian
tubuh pasien
c)

Waham-waham menetap lainnya yang menurut budaya setempat dianggap tidak


wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik
tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa

Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
e)

Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja apabila disertai baik oleh

waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif
yang jelas ataupun disertai oleh ide-ide yang berlebihan yang menetap atau apabila terjadi
setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus.
f)

Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan yang berakibat

inkoherensi atau pembicaraannya tidak relevan atau neologisme.


g)

Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah, posisi tubuh tertentu (porturing),

fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme dan stupor;


h)

Gejala-gejala negatif seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang dan respon

emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya mengakibatkan penarikan diri dari
pergaulan sosialdan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal
tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu
bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodormal).

Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari
beberapa aspek perilaku pribadi, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak
bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri, dan penarikan diri secara
sosial.

Gejala tambahan untuk skizofreniap paranoid:

Halusinasi dan/waham harus menonjol

Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicraan serta gejala katatonik secara
relative tidak nyata atau tidak menonjol.

e. Tatalaksana
Pengobatan untuk penderita skizofrenia dapat menggunakan beberapa metode antara lain:
a. Metode biologic
Obat psikosis akut dengan obat anti psikotik, lebih disukai dengan anti psikotik atypical baru
(kisaran dosis ekuivalen = chlorpromaxine 300-600 mg/hari). Ketidak patuhan minum obat
sering terjadi, oleh karena itu perlu diberikan depo flufenazine atau haloperidol kerja lama
merupakan obat terpilih. Penambahan litium, benzodiazepine, atau diazepam 15-30 mg/ hari atau
klonazepam 5-15 mg/hari sangat membantu menangani skizofrenia yang disertai dengan
kecemasan atau depresi. Terapi kejang listrik dapat bermanfaat untuk mengontrol dengan cepat
beberapa psikosis akut. Sangat sedikit pasien skizofrenia yang tidak berespon dengan obatobatan dapat membaik dengan ECT.
b. Metode psikosis
Jenis psikoterapi yang dilakukan untuk menangani penyakit skizofrenia antara lain;
1. Psikoterapi suportif
Bentuk terapi yang bertujuan memberikan dorongan semangat dan motivasi agar penderita tidak
merasa putus asadan semangat juangnya (fighting spirit) dalam menghadapi hidup.
2. Psikoterapi redukatif
Bentuk terapi yang dimaksudkan member pendidikan ulang untuk merubah pola pendidikan
lama dengan yang baru sehingga penderita lebih adaptif terhadap dunia luar.
3. Psikoterapi rekonstruksi
Terapi yang dimaksudkan untuk memperbaiki kembali kepribadian yang mengalami keresahan.

4. Terapi tingkah laku


Terapi yang bersumber dari teori psikologi tingkah laku (behavior psichology) yang
mempergunakan stimulasi dan respon modus operandi dengan pemberian stimulasi yang positif
akan timbul proses positif.
5. Terapi keluarga
Bentuk terapi yang menggunakan media sebagai titik tolak terapi karena keluarga selain sebagai
sumber terjadinya gangguan tingkah laku juga sekaligus sarana terapi yang dapat
mengembalikan fungsi psikis dan sosial melalui komunikasi timbal balik.
6. Psikoterapi kognitif
Memulihkan kembali fungsi kognitif sehingga mampu membedakan nilai nilai sosial dan etika.
Tatalaksana pengobatan skizofrenia paranoid mengacu pada penatalaksanaan skizofrenia secara
umum antara lain :
1) Anti Psikotik
Jenis- jenis obat antipsikotik antara lain :
a) Chlorpromazine
Untuk mengatasi psikosa, premidikasi dalam anestesi, dan mengurangi gejala emesis.
Untuk gangguan jiwa, dosis awal : 325 mg, kemudian dapat ditingkatkan supaya
optimal, dengan dosis tertinggi : 1000 mg/hari secara oral.

b) Trifluoperazine
Untuk terapi gangguan jiwa organik, dan gangguan psikotik menarik diri. Dosis awal :
31 mg, dan bertahap dinaikkan sampai 50 mg/hari.

c) Haloperidol
Untuk keadaan ansietas, ketegangan, psikosomatik, psikosis,dan mania. Dosis awal :
30,5 mg sampai 3 mg.
Obat antipsikotik merupakan obat terpilih yang mengatasi gangguan waham. Pada
kondisi gawat darurat, klien yang teragitasi parah, harus diberikan obat antipsikotik

secara intramuskular. Sedangkan jika klien gagal berespon dengan obat pada dosis yang
cukup dalam waktu 6 minggu, anti psikotik dari kelas lain harus diberikan. Penyebab
kegagalan pengobatan yang paling sering adalah ketidakpatuhan klien minum obat.
Kondisi ini harus diperhitungkan oleh dokter dan perawat. Sedangkan terapi yang
berhasil dapat ditandai adanya suatu penyesuaian sosial, dan bukan hilangnya waham
pada klien.

2) Anti Parkinson
a) Triheksipenydil (Artane)
Untuk semua bentuk parkinsonisme, dan untuk menghilangkan reaksi ekstrapiramidal
akibat obat. Dosis yang digunakan : 1-15 mg/hari
b) Difehidamin
Dosis yang diberikan : 10- 400 mg/hari
3) Anti Depresan
a) Amitriptylin
Dosis : 75-300 mg/hari.
b) Imipramin
Dosis awal : 25 mg/hari, dosis pemeliharaan : 50-75 mg/hari.

BLOK XVII : Neuropsikiatri

LAPORAN KUNJUNGAN LAPANGAN


Rumah Sakit Jiwa Mataram

OLEH:

Ardini Kuswari

(H1A011008)

Fita Nirma Listya

(H1A011022)

Fujiyani Sulistiawati A (H1A011024)

FAKULTAS KEDOKTERAN
Universitas Mataram
2014