Anda di halaman 1dari 5

1.

1 Latar Belakang
Pembelajaran adalah perpaduan dari dua aktivitas, yaitu aktivitas mengajar dan aktivitas belajar.
Pembelajaran sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan
menghubungkan dengan anak didik sehingga terjadi proses belajar (S.Nasution, (1994: 25). Kegiatan
pengajaran merupakan suatu kegiatan yang disadari dan direncanakan. Pembelajaran merupakan suatu
sistem yang terdiri dari beberapa komponen yang saling terkait satu dengan yang lainnya untuk
mencapai suatu tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Pembelajaran yang baik akan tercapai apabila disertai dengan perencanaan pengajaran sebagai acuan
dalam mengajar. Perencanaan Pembelajaran mempunyai peranan penting dalam memandu guru
melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Oleh karena itu, seorang guru harus memiliki rencana
pembelajaran karena perencanaan tersebut adalah fungsi pedagogi yang penting untuk meningkatkan
kualitas praktik pembelajaran dan mungkin sekali untuk memotivasi guru (Wawan S. Suherman,
2001:113). Perencanaan pembelajaran dibuat dengan mengacu pada kurikulum.
Dalam konteks pembelajaran, perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi
pelajaran, penggunaaan media pengajaran, penggunakaan pendekatan dan metode pengajaran dan
penilaian dalam suatu lokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan
yang telah ditentukan (Abdul Majid, 2005: 17).
Seorang guru dituntut untuk mengetahui pengetahuan, keterampilan dan sikap yang profesional
dalam membelajarkan siswa. Guru merupakan unsur penanggungjawab dalam penyelenggaraan
pendidikan jasmani dan seringkali melaksanakan pembelajaran yang kurang menyeluruh sehingga dalam
pelaksanaannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Oleh karena itu, membuat rencana
mengajar merupakan tugas guru, dimana guru harus mampu menilai kebutuhan siswa sebagai subjek
belajar, merumuskan tujuan pembelajaran dan memilih metode serta strategi belajar yang tepat untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Perencanaan pembelajaran dilakukan untuk mengkoordinasikan komponen-komponen pembelajaran
diantaranya kompetensi dasar, materi standar, indikator sekaligus metode yang digunakan dalam proses
mengajar. Perencanaan pengajaran digunakan oleh guru sebagai petunjuk dan arah kegiatan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan pengajaran mempunyai manfaat baik bagi guru
maupun murid. Bagi guru perencanaan pengajaran merupakan suatu pedoman kerja untuk melaksanakan
tugasnya sebagi pendidik dan untuk murid perencanaan pengajaran merupakan pedoman belajar yang
bisa digunakan sebagai pemandu siswa dalam belajar (E. Mulyasa, 2006: 213).
Membuat perencanaan pembelajaran mensyaratkan seorang guru harus mempelajari kurikulum
sekolah dan memahami semua program pendidikan yang sedang dilaksanakan. Selanjutnya dituangkan
dalam program tahunan dan program semester dan silabus, untuk dapat dilaksanakan dalam PBM, maka
dibuat dalam bentuk RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Persiapan tersebut berisi tujuan
mengajar, pokok yang diajarkan, metode mengajar, bahan pelajaran, alat peraga, dan teknik observasi
yang akan digunakan. Kekuatan dan kelemahan dari program pengajaran yang telah disusun guru akan
terlihat jelas setelah program tersebut dilaksanakan. Langkah selanjutnya adalah guru harus mampu
mengembangkan kekuatan program mengajar dan mengevaluasi kelemahan kemudian mencari jalan
keluarnya (Abdul Majid, 2005: 98).
PEMBAHASAN
2.1 Matriks Gagasan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)

Sebagaimana diketahui kurikulum keaksaraan fungsional berbasis pada konteks lokal dan disain
lokal. Artinya hal-hal yang dipelajari oleh WB bukan merupakan seperangkat mata pelajaran yang harus
diselesaikan dalam waktu tertentu, tetapi didasarkan pada minat dan kebutuhan belajar WB, potensi serta
masalah yang ada di lingkungan sekitar warga belajar (learner centerd). Oleh karenanya, informasi yang
dikumpulkan melalui proses identifikasi dan penilaian Awal WB digunakan sebagai bahan awal dalam
penyusunan rencana pembelajaran.
Untuk mempermudah tutor dalam menyusun dan mengembangkan rencana pembelajaran, maka
disarankan membuat matrik gagasan KBM terlebih dahulu. Karena "Matriks Gagasan KBM" ini merupakan
salah satu cara untuk mengidentifikasi dan menyusun ide-ide pembuatan kurikulum lokal. Untuk membuat
matrik gagasan KBM, tidak terlalu sulit apabila tutor mengikuti langkah-langkah berikut ini:
1. Tutor membuat tabel kosong
2. Kumpulkan semua informasi awal hasil identifikasi kebutuhan belajar (kemampuan awal WB, minat dan
kebutuhan WB, masalah, potensi dan lain-lain).
3. Buat kolom-kolom yang menggambarkan proses KBM, yang terdiri dari kolom:
Topik Belajar: berisi point-point penting yang akan dibelajarkan yang diangkat dari masalah,
poetnsi, minat dan kebutuhan belajar WB.
Topik Diskusi: berisi hal-hal yang perlu didiskusikan bersama WB untuk menganalisa masalah,
potensi, minat dan kebutuhan belajar WB.
Topik Menulis: berisi rangkaian pembelajaran menulis untuk WB berdasarkan hasil diskusitt minat
dan kebutuhan belajar WB, masalah, dan potensinya.
Bahan bacaan: tutor bersama WB mencari bahan bacaan yang berkaitan dengan topik topik yang
akan dipelajari di kelompok belajar.
Kegiatan Berhitung: Tutor merancang kegiatan pembelajaran berhitung yang terkait dengan topiktopik pembelajaran di atas.
Kegiatan Aksi/penerapan: Tutor merancang kegiatan aksi/penerapan baik sifatnya individu maupun
kelompok (misalnya keterampilan membuat kue, dan sebagainya)
2.2 Proses Menyusun Rencana KBM
Strategi pembelajaran pada program keaksaraan fungsional terdiri dari lima langkah kegiatan, yaitu:
menulis, membaca, berhitung, diskusi dan aksi/penerapan. Langkah-langkah tersebut, bukan berarti langkah
yang baku/kaku atau harus berurutan. Tetapi bisa saja dilakukan secara acak, misalnya dimulai dari diskusi,
kemudian belajar membaca, menulis dan seterusnya. Hal ini tergantung dari situasi dan kondisi serta
kesepakatan di dalam kelompok belajar. Namun demikian, kebiasaan yang ditemui adalah melalui diskusi
terlebih dahulu baru dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan yang lain. Bisa juga dimulai dari masalah yang
ditemui (aksi) warga belajar, kemudian didiskusikan di kelompok belajar, menulis, membaca dan
seterusnya.
Keefektifan kegiatan belajar, sangat tergantung dari kemampuan tutor dalam mengarahkan, dan
membimbing warga belajar di dalam kegiatan belajarnya. Pengalaman juga menunjukkan bahwa, kegiatan
menulis perlu didahulukan dan pada kegiatan membaca. Karena melalui kegiatan belajar menulis, warga
belajar sedikit demi sedikit langsung belajar membaca. Sebaliknya apabila warga belajar didahulukan
belajar membaca, maka cenderung kurang terampil dalam hal menulis.
2.3 Strategi Pengembangan Kemampuan Fungsional
Dalam pengembangan kemampuan fungsional dikenal lima strategi pembelajaran yaitu :

1. Diskusi BDPS (Belajar dari Pengalaman Sendiri) : Tutor dan warga belajar berdiskusi dengan
menggunakan beberapa teknik seperti melalui pembuatan tabel, peta, garis waktu dan Kalender kegiatan
dengan tujuan untuk merangsang ide, pengetahuan, pengalaman yang sudah dimiliki warga belajar dan
permasalahan yang ada di warga belajar, sehingga dapat diungkapkan dengan baik.
2.
Membaca : Tutor membantu warga belajar meningkatkan keterampilan membaca yang bertepatan,
kelancaran dan pemahaman. Warga belajar yang buta huruf murni, belajar melalui teknik pendekatan
pengalaman berbahasa untuk membuat bahan bacaan berdasarkan ucapan warga belajar sendiri.
3.
Menulis : Tutor membantu warga belajar menulis berdasarkan pikiran / ide sendiri
4. Berhitung : Tutor membantu warga belajar meningkatkan keterampilan berhitung disesuaikan dengan
kebiasaan di daerahnya dalam cara menghitung/usaha/jual beli yang disesuaikan dengan perhitungan
modern (perkembangan jaman sekarang) dan membuat pembukuan sederhana.
5.
Penerapan dalam kegiatan (Aksi) : Tutor membantu warga belajar meningkatkan keterampilan,
seperti memasak, menjahit, menanam, usaha dan lain-lain yang diminati warga belajar juga menerapkan
pengetahuan dan informasi baru dalam memperbaiki situasi di rumah dan lingkungan.
2.4 Melibatkan Warga Belajar dalam Membuat Kesepakatan Belajar
Agar kelompok belajar menjadi mandiri, WB perlu diupayakan agar dapat mengembangkan
kemampuan mengidentifikasi kebutuhan belajar dan mencari bahan belajar sendiri, serta membuat
keputusan secara bersama-sama di kelompok belajar. Caranya tutor memfasilitasi pertemuan dengan
seluruh WB untuk membantu mereka mendiskusikan minat dan kebutuhan, tujuan, materi belajar,
memilih topik belajar (keterampilan CALISTUNG yang terkait), sub-topik, dan sumber belajarnya.
Untuk memancing minat, keinginan, dan gagasan sari warga belajar, tutor dapat memperlihatkan
contoh-contoh bahan belajar yang ada, seperti buku cerita, puisi, lagu, majalah, koran,TV, radio, surat,
buku telepon, selebaran, poster, rambu-rambu lalu lintas, iklan, kalender, jam, riwayat hidup, silsilah
keluarga, kitab suci, kuitansi, buku catatan, faktur, buku Tabanas, kartu menuju sehat (KMS), kartu
pertumbuhan anak, formulir, kartu tanda penduduk (KTP), kartu keluarga, perangko, materai, mata uang
dan lain-lain. Hal ini untuk membantu WB mengerti bagaimana dan dimana mencari bahan belajar yang
sudah pasti tersedia dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya tutor memberi kesempatan kepada WB untuk membuat keputusan tentang topik
khusus yang ingin dipelajari, bahan bacaan yang digunakan, waktu belajar, dan lain-lainya, guna membuat
rencana belajar. Beberapa pertanyan untuk membantu warga belajar mengidentifikasi kebutuhan dan
minat belajar yang sifatnya khusus, misalnya:
1. Apa yang sudah bisa (pandai) dilakukan warga belajar?
2. Apa yang tidak bisa dilakukan, namun orang lain mampu melakukannva?
3. Apa masalah yang selalu mengkhawatirkan WB selama kegiatan membaca atau menulis dalam
kehidupan sehari-hari?
4. Bahan bacaan mana yang mau dibaca?
5. Siapa yang sudah tahu menggunakan alat bantu belajar (seperti meteran, timbangan dan lain-lain?)

2.5 Melibatkan Warga Belajar dalam Membuat Perencanaan Aplikatif


Untuk membantu warga belajar belajar keterampilan yang dapat meningkatkan penghasilan dan
memotivasi WB agar terus belajar, program keaksaraan fungsional menyediakan dana belajar untuk tiap
kelompok. Sambil belajar menulis, membaca, dan berhitung mereka sekaligus belajar keterampilan untuk
memperbaiki taraf kehidupannya.
3

Berdasarkan pengalaman lapangan, warga belajar dengan bimbingan tutor dapat menulis satu atau
beberapa proposal untuk memperoleh dana belajar keterampilan. Intinya kegiatan ini bukan semata-mata
mendidik warga belajar untuk meminta-minta sumbangan, tetapi bagaimana membantu warga belajar
untuk membuat perencanaan aplikatif, belajar bersama, berorganisasi, berdiskusi, dan tetap dalam kerangka
belajar CALISTUNG. Penyusunan proposal sederhana ini bertujuan untuk membantu warga belajar
membuat perencanaan tentang keterampilan fungsional yang ingin mereka pelajari, yang nantinya dapat
dijadikan bekal mata pencaharianya.
Oleh karena itu, proposal yang diajukan harus sesuai dengan kebutuhan warga belajar dan
memperhatikan peluang pasar yang ada di tempat sekitar. Selanjutnya mereka dapat memasukkan hasil
penjualan tersebut (dalam pembukuan dana belajar Kejar). Bagi setiap WB yang mau menggunakan dana
simpan pinjam Kejar, mereka dapat menulis proposal baru untuk menggunakan lagi seperti layaknya
koperasi simpan pinjam yang di kelola Kejar. Dengan demikian, mereka dapat selalu belajar, beraktifitas,
dan berorganisasi sambil meningkatkan mutu dan taraf hidupnya. Tujuan utama menulis proposal dana
belajar ini, adalah:
1. Membantu WB membuat rencana kegiatan yang harus diselenggarakan.
2. Membantu WB memikirkan bagaimana cara menggunakan dana secara efektif dan efisien.
3. Membantu WB memikirkan bagaimana cara mendapatkan dana baik dari Dikmas maupun dari instansi
lain.
4. Agar WB lebih berparitsipasi dalam kegiatan di kelompok belajar.
5. Agar WB dapat memberikan kontribusi lebih besar di kelompok belajar.
Bila kelompok belajar memerlukan dana belajar, di bawah ini dijelaskan langkah-langkah (cara
menulis proposal dana belajar). Dalam kegiatan ini mengandung unsur KBM keaksaraan fungsional seperti:
1. Diskusi
Warga belajar dengan bimbingan tutor mendiskusikan ide-ide dan saling bekerjasama dalam menulis
proposal. Mereka juga mendiskusikan tentang kegiatan keterampilan yang akan dilakukan selama proses
pembelajaran di kelompok belajar, misalnya untuk belajar keterampilan menjahit baju daster:
berapa dana yang dibutuhkan?, berapa meter yang diperlukan, berapa harga kain?
alat apa saja yang diperlukan dan dapat dibawa oleh setiap WB di kelompok belajar baik berupa
sumbangan maupun yang dipinjamkan/dibeli (misalnya pinjam mesin jahit dari PKK, gunting dan
meteran dari WB dan sebagainya).
2. Membaca
Tutor membantu warga belajar membaca format proposal dan berdiskusi dengan mereka bagaimana
mengisi informasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.
3. Menulis
Warga belajar praktek menulis nama kelompoknya, alamat dan tujuan kegiatan yang direncanakan.
Setelah selesai praktek, meminta salah seorang warga belajar melengkapi informasi sesuai dengan
format proposal.
4. Berhitung
Warga belajar dengan bimbingan tutor diskusi berapa dana yang diperlukan, dan menghitung bahanbahan dan jumlah harganya. Kemudian salah seorang warga belajar mengisi informasi di atas format
proposal.
4

5. Aksi
Setiap WB menulis nama dan tanda tangan di proposal, dan mengajukan proposal tersebut kepada
Penilik Dikmas, TLD atau Pamong Belajar, atau instansi lain yang menyediakan dana.

Anda mungkin juga menyukai