Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di

dunia ini. Pada tahun 1992 WHO telah mencanangkan tuberkulosis sebagai
Global emergency. Tuberkulosis merupakan penyakit peringkat kedua setelah
HIV/AIDS mematikan di dunia.

Pada tahun 2012 sebanyak 8,6 juta orang

terjangkit TB dan 1,3 juta dinyatakan meninggal. Lebih dari 95% penderita TB
terdapat di negara dengan pendapatan menengah ke bawah atau negara
berkembang. Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta
kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002 sebanyak 3,9 juta adalah kasus BTA
positif. Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan
menurut regional WHO jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia tenggara yaitu
33% dari seluruh kasus TB di dunia, namun bila dilihat dari jumlah penduduk
terdapat 182 kasus per 100.000 penduduk.1
Indonesia berada di peringkat kelima untuk beban TB di seluruh dunia.
Angka kejadian TB di Indonesia berada pada 189 kasus per 100.000 penduduk.
Upaya penanggulangan TB di Indonesia telah dijalankan sejak 1969. Di tahun
1995 kemudian mengunakan strategi Directly Observed Treatment Shortcourse
(DOTS).2 Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan ditemukan sebanyak 13
dari 909 penderita dinyatakan meninggal akibat TB di tahun 2011. Tahun 2012,
sebanyak 16 dari 867 penderita dinyatakan meninggal karena TB. Dan pada tahun

2013, sebanyak 15 dari 462 penderita dinyatakan meninggal karena TB. Sehingga
didapatkan angka kejadian TB di Jawa Barat perada pada 107 kasus per 100.000
penduduk. Pada tahun 2013 di UPTD Kramatmulya, 1 orang dinyatakan
meninggal karena TB HIV.3
Dalam upaya pemberantasan TB di Indonesia telah ditetapkan angka
kesakitan, kematian dan penularan yang sesuai dengan tujuan program
penganggulangan TB. Diharapkan permasalahan penyakit TB dapat ditanggulangi
sesuai dengan apa yang dilaksanakan program penanggulangan TB.
Agar tujuan penanggulangan TB dapat tercapai dengan baik maka
ditetapkan program jangka panjang, yaitu menurunkan angka kesakitan dan angka
kematian penyakit TB dengan cara memutuskan rantai penularan. Sehingga
penyakit TB tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.
Tujuan program jangka pendek adalah menyembuhkan minimal 85% penderita
baru BTA (+), tercapainya cakupan 70% dari semua penderita TB yang
diperkirakan dan mencegah timbulnya resistensi obat TB di masyarakat. Untuk
mendukung keberhasilan terhadap upaya yang dilakukan tersebut, perlu adanya
strategi kebijakan pembangunan di bidang kesehatan. Oleh karena itu Departemen
Kesehatan membuat suatu Pedoman Nasional Penanggulangan TB, salah satu
diantaranya terulang kebijakan WHO yaitu strategi yang direkomendasikan
Directly Observed Treadment Shourtcours (DOTS).4 DOTS mengandung lima
komponen, yaitu : komitmen pemerintah untuk menjalankan program TB
nasional; Penemuan kasus TB dengan pemerikassan BTA mikroskopis;
Pemberian obat jangka pendek yang diawasi secara langsung, dikenal dengan

istilah

DOT

(Directly

Observed

Therapy);

Pengadaan

OAT

secara

berkesinambungan; Monitoring serta pencatatan dan pelaporan baku/standar.5


Evaluasi program TB dapat diartikan sebagai suatu proses yang
memungkinkan administrator mengetahui hasil programnya dengan menilai
perubahan-perubahan dalam hal indikator-indikator yang digunakan sebagai
evaluasi program penanggulangan TB adalah proporsi suspek yang diperiksa
dahak, proporsi kasus BTA (+) diantara suspek, proporsi penderita TB BTA (+)
diantara semua kasus TB tercatat, angka konversi, angka kesembuhan, Case
Natification Rate (CNR), Case Detection Rate (CDR).4
Sesuai dengan fungsi puskesmas di dalam Sistem Kesehatan Nasional,
terdapat 3 fungsi utama, yaitu (1) Menggerakkan pembangunan berwawasan
kesehatan, (2) Memberdayakan masyarakat dan memberdayakan keluarga, (3)
Memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Sesuai dengan tugas dan
fungsi puskesmas yang menangani berbagai program, salah satu program yang
dilakukan di Puskesmas adalah penanggulangan penyakit TB yang dimulai dari
menjaring penderita dengan pemeriksaan dahak dengan mikroskopis sputum BTA
sampai pengobatan dan pengontrolannya. Hal ini membutuhkan tenaga kesehatan
yang berkualitas, agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu
sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat. Oleh karena penyakit TB ini
membutuhkan waktu 6-8 bulan masa pengobatan, maka perlu diberikan informasi
kepada masyarakat agar mengerti tentang akibat yang ditimbulkan penyakit TB
dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh petugas kesehatan puskesmas.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan merupakan salah satu instansi daerah
yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kewenangan di bidang

kesehatan. Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan memiliki 37 Puskesmas,


dengan pengelompokan sebagai berikut : Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM)
sebanyak 12 Puskesmas, 6 buah Puskesmas Pelaksanaan Mandiri (PPM), dan 19
buah Puskesmas Satelit. Puskesmas Kramatmulya termasuk ke dalam Puskesmas
Rujukan Mikroskopis yang ada di Kabupaten Kuningan. Sebagai Puskesmas
Rujukan Mikroskopis Puskesmas Kramatmulya membawahi Lapas kelas IIA
Kuningan, tentunya Puskesmas Kramaymulya merupakan tempat proses kegiatan
pengelolaan dan pengobatan penderita, selain itu Puskesmas Kramatmulya juga
merupakan tempat melakukan rujukan mikroskopis bagi Puskesmas Satelit.6
Di Kabupaten Kuningan pada tahun 2011 diketahui terdapat 909 kejadian
TB BTA (+), di UPTD Kramatmulya sebanyak 49 kasus TB BTA (+). Pada tahun
2012 diketahui terdapat 867 kejadian TB BTA (+), di UPTD Kramatmulya
sebanyak 43 kasus TB BTA (+). Pada tahun 2013 diketahui terdapat 913 kejadian
TB BTA (+), di UPTD Kramatmulya sebanyak 54 kasus TB BTA (+). Diketahui
pada Bulan Januari-Juli tahun 2014 terdapat sebanyak 459 kejadian TB BTA (+),
di UPTD Kramatmulya sebanyak 43 kasus TB BTA (+).7
Dari data di atas dapat dilihat terdapat peningkatan kejadian TB BTA (+)
khususnya di UPTD Kramatmulya. Berdasarkan latar belakang tersebut kami
tertarik untuk mengangkat judul Evaluasi Program TB Berdasarkan Strategi
DOTS di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kramatmulya Tahun 2011-2013.
Sehingga pada akhirnya diharapkan dapat mengetahui hasil pencapaian kegiatan
Program TB paru berdasarkan strategi DOTS di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas
Kramatmulya Tahun 2011-2014.

1.2

Permasalahan
Belum diketahuinya hasil pencapaian kegiatan yang dilakukan oleh unit

utama yaitu Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) dalam


kaitannya dengan Program TB berdasarkan strategi DOTS di Wilayah Kerja
UPTD Puskesmas Kramatmulya periode tahun 2011-2014.

1.3
1.3.1

Tujuan
Tujuan Umum : Mengetahui hasil pencapaian kegiatan yang dilaksanakan
oleh program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) dalam
kaitannya dengan Program TB berdasarkan strategi DOTS di Wilayah
Kerja UPTD Puskesmas Kramatmulya periode tahun 2011-2014.

1.3.2

Tujuan Khusus :
a. Mengetahui evaluasi input (masukan) pelaksanaan Program TB
berdasarkan strategi DOTS yang meliputi kebijakan strategi, SDM,
sarana, dana dan tenaga Pengawas Minum Obat (PMO) di Wilayah
Kerja UPTD Puskesmas Kramatmulya periode tahun 2011-2014.
b. Mengetahui proses pelaksanaan Program TB berdasarkan strategi
DOTS yang meliputi, penjaringan suspect, cross check, konversi,
pengobatan sesuai stategi DOTS, kunjungan/pelacakan kasus TB paru
BTA (+) mangkir di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kramatmulya
periode tahun 2011-2014.
c. Mengetahui output (keluaran) pelaksanaan Program TB berdasarkan
strategi DOTS yang selesai pengobatan dan dinyatakan sembuh di

Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kramatmulya periode tahun 20112014.


d. Mengetahui impact (dampak) pelaksanaan Program TB berdasarkan
strategi DOTS dengan diketahuinya jumlah penderita TB paru BTA
(+), Insiden rate TB, jumlah penderita yang meninggal akibat TB di
Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kramatmulya periode tahun 20112014.

1.4
1.4.1

Manfaat
Sebagai bahan masukan Program Pencegahan dan Penanggulangan
Penyakit dalam kaitannya Program TB berdasarkan strategi DOTS.

1.4.2

Untuk media belajar bagi mahasiswa, antara lain dengan menambah


pengetahuan dan pengalaman lapangan tentang Program TB berdasarkan
strategi DOTS.