Anda di halaman 1dari 2

VAKSINASI POLIO

Imunisasi polio dimulai dari upaya imunisasi pasif dengan menggunakan serum konvalesen penderita
untuk mengobati kasus polio akut. Meskipun berbagai cara penggunaan/memasukkan serum telah
dicoba dengan hasil yang kontroversial, namun akhirnya terbukti (pada wabah tahun 1931), bahwa cara
ini tidak mempunyai manfaat yang bermakna secara klinis.5,6
Imunisasi aktif mulai dicoba, setelah berbagai upaya imunisasi pasif gagal. Penelitian berkembang
menjadi dua arah yaitu virus yang dimatikan dengan menggunakan feno/formalin (IPV) atau virus
dilemahkan (attenuated vaccine OPV) dengan cara melakukan pasasi berulang pada kultur jaringan.
Kedua cara tersebut menghasilkan dua macam vaksin yaitu yang pertama adalah Inactivated Polio
Vaccine dan disusul dengan Oral Polio Vaccine. Kedua vaksin terbukti dapat menurunkan angka
kelumpuhan dan angka kesakitan akibat virus polio. Kriteria vaksin yang baik adalah vaksin itu harus
antigenik, proporsi vaksin trivalent harus sesuai dengan virus liar yang ada di lingkunan, replikasi dan
mutasi harus sangat minimal. Vaksin OPV mengandung vaksin yang masih hidup sehingga bisa hidup dan
berkembangbiak dalam usus. Imunisasi cara ini tidak hanya membentuk antibodi humoral yang dapat
menghambat virus polio menimbulkan infeksi di sistem saraf pusat, namun juga merangsang sekretori
IgA, antibodi sekretori yang mencegah perlekatan dan replikasi virus di epitel usus. Virus dapat bertahan
sampai 17 bulan setelah imunisasi dan pada anak dengan agammaglobulin, bahkan dapat bereplikasi
terus sampai 684 hari. Suntikan IPV bisa menimbulkan antibodi antipolio humoral yang tinggi, namun
karena tidak menimbulkan kekebalan interstinal yang cukup, IPV tidak bisa menghentikan trasmisi virus
polio liar.5,6,
Eliminasi
Eliminasi (elimination) penyakit merupakan upaya intervensi berkelanjutan yang bertujuan menurunkan
insidensi dan prevalensi suatu penyakit sampai pada tingkat nol di suatu wilayah geografis. Upaya
intervensi berkelanjutan diperlukan untuk mempertahankan tingkat nol. Contoh: eliminasi tetanus
neonatorum, poliomyelitis, di suatu wilayah. Eliminasi infeksi merupakan upaya intervensi berkelanjutan
yang bertujuan menurunkan insidensi infeksi yang disebabkan oleh suatu agen spesifik sampai pada
tingkat nol di suatu wilayah geografis. Eliminasi infeksi bertujuan memutus transmisi (penularan)
penyakit di suatu wilayah. Upaya intervensi berkelanjutan diperlukan untuk mencegah terulangnya
transmisi. Contoh: eliminasi campak, poliomielitis, dan difteri. Eliminasi penyakit/ infeksi di tingkat
wilayah merupakan tahap penting untuk mencapai eradikasi global.5,6
Untuk mempercepat eliminasi penyakit polio di seluruh dunia, WHO membuat rekomendasi untuk
melakukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN). Indonesia melakukan PIN dengan memberikan satu dosis
polio pada bulan September 1995, 1996, dan 1997. Pada tahun 2002, PIN dilaksanakan kembali dengan
menambahkan imunisasi campak di beberapa daerah. Setelah adanya kejadian luar biasa (KLB) acute
flaccid paralysis (AFP) pada tahun 2005, PIN tahun 2005 dilakukan kembali dengan memberikan tiga
dosis polio saja pada bulan September, Oktober, dan November. Pada tahun 2006 PIN diulang kembali
dua kali/dosis polio yang dilakukan pada bulan September dan Oktober 2006. Dengan adanya PIN

tersebut, frekuensi imunisasi polio bisa lebih dari seharusnya. Tetapi WHO menyatakan bahwa polio
sebanyak tiga kali cukup memadai untuk imunisasi dasar polio.5,6
Eradikasi
Berbagai manfaat akan diperoleh apabila eradikasi polio global berhasil dicapai, terutama dunia
terbebas dari penyakit polio dan cacat/lumpuh/layu yang terjadi akibat penyakit tersebut, mengurangi
pengeluaran biaya yang diperlukan oleh sistem kesehatan untuk menyelenggarakan imunisasi dan
perawatan kasus-kasus polio yang diperkirakan mencapai US S 1.5 milyar pertahun.5
Pada tahun 1988, dalam sidangnya yang ke 41, WHO telah menetapkan program eradikasi polio global
(global polio eradication initiative) yang ditujukan untuk mengeradikasikan penyakit polio pada tahun
2000 (ERAPO 2000). Target ini kemudian diformulasikan lagi pada pertemuan World Summit for Children
yang berlangsung tanggal 29-30 September 1990 di New York, yakni dalam sasaran kesejahteraan
anak.3,5,6
Terbukanya peluang untuk melaksanakan eradikasi polio dimungkinkan oleh karena :5,6,9
a.
Infeksi polio hanya berlangsung pada manusia, tidak ada binatang reservoir (binatang pengidap
polio) maupun pengidap kronis (chronic carrier).
b.
Sumber virus polio dari lingkungan yang dapat bertahan lama tidak ada; virus polio didaerah
tropis diluar tubuh hanya bertahan sekitar 48 jam.
c.

Kekebalan berlangsung seumur hidup.

d.
Vaksin polio yang efektif telah berhasil dikembangkan, yakni vaksin polio inaktif pada tahun
1955 oleh Dr. Jonas Salk dan vaksin polio oral (life attenuated) tahun 1960 oleh Dr. Albert Sabin.
Untuk mencapai eradikasi polio tersebut WHO menetapkan 4 strategi global untuk mengeradikasi polio
pada tahun 2000, yakni:
1.

Imunisasi rutin dengan cakupan > 80%

2.

NID (National Immunization Days) identik dengan PIN (pekan Imunisasi Nasional.

3.

Surveilans AFP dan surveilans virus polio liar.

4.

Mopping-up

Anda mungkin juga menyukai