Anda di halaman 1dari 3

HUBUNGAN TINGKAT GIZI PROTEIN DENGAN ANEMIA DEFISIENSI BESI

Protein merupakan zat gizi yang sangat penting bagi tubuh karena selain berfungsi
sebagai sumber energi dalam tubuh juga berfungsi sebagai zat pembangun dan pengatur. Protein
berperan penting dalam transportasi zat besi dalam tubuh. Kurangnya asupan protein akan
mengakibatkan transportasi zat besi terhambat sehingga akan terjadi defisiensi besi (Almatsier,
2009).
Tingkat konsumsi protein perlu diperhatikan karena semakin rendah tingkat konsumsi
protein maka semakin cenderung untuk menderita anemia (Linder, 1992). Protein berfungsi
dalam pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh. Hemoglobin, pigmen darah yang berwarna
merah dan berfungsi sebagai pengangkut oksigen dan karbon dioksida adalah ikatan protein.
Protein juga berperan dalam proses pengangkutan zat-zat gizi termasuk besi dari saluran cerna ke
dalam darah, dari darah ke jaringan-jaringan, dan melalui membran sel ke dalam sel-sel.
Sehingga apabila kekurangan protein akan menyebabkan gangguan pada absorpsi dan
transportasi zat-zat gizi (Almatsier, 2003)
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara
konsumsi protein total dan protein hewani dengan kadar hemoglobi. Hal ini menunjukkan
pentingnya peranan protein dalam pembetukan hemoglobin. Menurut Muhilal (1993), protein
dalam bahan makanan yang berasal dari hewan seperti protein daging dan ikan selain sebagai
sumber protein juga sumber zat besi heme pembentuk hemoglobin darah. Protein dalam tubuh
manusia berperan sebagai pembentuk butir-butir darah (hemopoiesis) yaitu pembentukan
erytrocyt dengan hemoglobin di dalamnya. Di dalam tubuh, zat besi tidak terdapat bebas, tetapi
berasosiasi dengan molekul protein membentuk ferritin. Feritin merupakan suatu kompleks
protein-besi. Dalam kondisi transpor, zat besi berasosiasi dengan protein membentuk transferrin.
Transferin berfungsi untuk mengangkut besi di dalam darah, sedangkan ferritin di dalam sel
mukosa dinding usus halus. Kekurangan besi terutama bersangkutan dengan peningkatan
kegiatan hemopoiesis dan cadangan besi yang rendah (Linder, 1991)
Berdasarkan hasil uji fishers exact test diketahui bahwa terdapat hubungan yang
bermakna antara asupan protein dengan kejadian anemia. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa konsumsi protein yang kurang memiliki kemungkinan untuk menderita anemia.

Protein merupakan sumber utama zat besi dalam makanan. Absorpsi besi yang terjadi di
usus halus dibantu oleh alat angkut protein yaitu transferin dan feritin. Transferin mengandung
besi berbentuk ferro yang berfungsi mentranspor besi ke sumsum tulang untuk pembentukkan
hemoglobin.
Protein terdapat pada pangan nabati maupun hewani. Nilai biologi protein pada bahan
pangan yang bersumber dari hewani lebih tinggi dibandingkan dengan bahan pangan yang
bersumber dari nabati (Sulistyoningsih, 2011). Bahan makanan hewani sumber zat besi lebih
mudah diserap diantaranya hati, ikan, daging, dan telur. Bahan makanan yang mempengaruhi
absorpsi zat besi antara lain protein, vitamin C, vitamin B12. Sedangkan faktor penghambat zat
besi adalah zat zat dalam bahan makanan yang mengandung fitat, asam oksalat, tanin, kopi,
bekatul dan fosfitin (Wirakusumah, 1999).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, ____, (internet) <http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/140/jtptunimus-gdl-septiadewi6980-2-babi.pdf >
Andarina, Dewi, Sumarmi, Sri, 2006, Hubungan Konsumsi Protein Hewani dan Zat Besi dengan
Kadar

Hemoglobin

pada

Balita

Usia

1336

Bulan

(internet)

<http://journal.unair.ac.id/filerPDF/Nakah%205%20hal%2019-23.pdf >
Allenfina O. Tadete, Nancy S. H. Malonda, Anita. Basuki, 2013, Hubungan Antara Asupan Zat
Besi, Protein dan Vitamin C dengan Kejadian Anemia pada Anak Sekolah Dasar di
Kelurahan

Bunaken

Kecamatan

Bunaken

Kepulauan

Kota

Manado

(internet)

<http://fkm.unsrat.ac.id/wp-content/uploads/2013/08/ALLENFINA-OLIVIA-TADETE091511128.pdf >