Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

LATARBELAKANG
Kebutuhan energi listrik terus bertambah seiring dengan penambahan

konsumen, pertumbuhan bisnis, industri dan lainnya. Hal ini dapat dilihat dari
permintaan kebutuhan energi listrik oleh masyarakat setiap tahun yang terus
meningkat dengan pesat. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan perencanaan dan
pengembangan sistem tenaga listrik. Sehingga penyediaan energi listrik terhadap
konsumen dapat terpenuhi dengan baik dan tepat.
PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Nagan Raya memiliki dua unit
pembangkit dengan daya setiap unit 110 MW.Dimana pembangkit tenaga listrik
menggunakan batubara sebagai bahan bakar utamanya. Sistem pembangkit tenaga
listrik ini mengkonversikan energi kimia listrik dengan menggunakan uap air
sebagai fluida kerjanya, yaitu dengan memanfaatkan energi kinetik uap untuk
menggerakkan turbin. Uap itu sendiri dihasilkan melalui proses pemanasan yang
terjadi didalam boiler.
Sisa pembakaran dari gas buang boiler mengandung berbagai macam
senyawa organik dan anorganik dengan diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1
mikron sampai dengan 500 mikron. Partikulat debu tersebut akan berada dalam
waktu lama dalam keadaan melayang-layang dan masuk kedalam tubuh manusia
melalui sistem pernafasan.Tentunya ini merupakan bahaya yang terbesar bagi
kesehatan. Sehingga menjadi permasalahan lingkungan yang harus dihadapi
bersama-sama disamping terjadinya polusi udara.
Salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh pihak perusahaan untuk
mangatasi permasalahan pencemaran udara tersebut adalah menggunakan
Electrostatic Precipitator (ESP). Alat ini berfungsi menangkap debu dengan

efisiensi tinggi (mencapai diatas 90%) dengan rentang partikel yang didapat
cukup besar. Sehingga diharapkan jumlah debu yang keluar dari cerobong hanya
sekitar 0,16% (efektifitas penangkap debu mencapai 99.84%). Dan PT. PLN
(Persero) Sektor Pembangkitan Nagan Raya menjadi perusahaan yang peduli dan
berbasis terhadap permasalahan lingkungan hidup. Maka dalam kesempatan kerja
praktek ini, penulis mengambil tema tentang ESP. ESP yang akan dibahas adalah
sistem kerjaElectrostatic Precipitator (ESP) pada PLTU Nagan Raya 2 X 110
MW.

1.2

TUJUAN PENULISAN
Penulisan laporan Kerja Praktek ini bertujuan untuk :
1. Mempelajari prinsip kerja ESP pada PLTU Nagan Raya
2. Mengetahui sistem kerja ESP pada PLTU Nagan Raya

1.3

RUMUSAN MASALAH
Dalam laporan kerja praktek ini, penulis akan membahas tentang kerja

ESP pada PLTU Nagan Raya.

1.4

METODA PENULISAN
Metoda penulisan yang digunakan dalam pelaksanaan Kerja Praktek ini

adalah sebagai berikut :

Melakukan Observasi
Merupakan kegiatan yang dilakukan di lapangan, yaitu mengumpulkan
data dengan melakukan survei dan wawancara langsung dengan
pembimbing lapangan.

Metode Studi Literatur


Membaca dan mengambil data-data teori dari buku-buku manual dan
referensi lainnya yang berhubungan dengan sistem kerja ESP.

1.5

SISTEMATIK PENULISAN
Laporan kerja praktek ini tersusun secara sistematis dalam 5 bab yang,

adapun penulisannya yaitu:

BAB 1

PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis akan menguraikan mengenai latar
belakang, rumusan masalah tujuan, metode penulisan dan
sistematika penulisan.

BAB II

PROFIL UNIT
Dalam bab ini berisi tentang profil dan struktur organisasi
PT.PLN (Persero)Sektor Pembangkitan Nagan Raya.

BAB III

SISTEM KERJA ELECTROSTATIC


PRECIPITATOR (ESP) PADA PLTU NAGAN RAYA
Berisi tentang uraian umum tentang teori yang berkaitan
langsung dengan sistem yang dikaji. Dan pembahasan
mengenai hasil analisa sistem untuk mengetahui kerja
sistem yang dikaji

BAB IV

PENUTUP
Berisi kesimpulan dan saran dari semua yang telah ditulis
sebelumnya mulai dari batasan masalah, teori dasar
pendukung hingga pada sistem yang dikaji

1.6

RENCANA PENELITIAN
Tabel 1.1 Jadwal Kerja Praktek

BAB II
PROFIL UNIT

2.1

SEJARAH PT. PLN (PERSERO) SEKTOR PEMBANGKITAN


NAGAN RAYA

Gambar 2.1 PLTU Nagan Raya


Perkembangan ketenagalistrikan di Indonesia terjadi awal abad ke-19 saat
perusahaan asal Belanda yang bergerak di bidang pabrik gula dan pabrik teh
mendirikan pembangkit listrik untuk keperluan proses produksi. Pada akhir
Perang Dunia II Agustus 1945, saat Jepang menyerah kepada sekutu. Di Oktober
1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas dibawah
Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga dengan kapasitas pembangkit tenaga
listrik sebesar 157.5 MW.

Pada tahun 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN
(Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang
listrik, gas dan kokas. Kemudian tahun 1972, sesuai dengan Peraturan Pemerintah
No. 17, status Perusahaan Listrik Negara (PLN) ditetapkan sebagai Perusahaan
Umum Listrik dengan tugas menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum.
Seiring dengan kebijakan Pemerintah, maka tahun 2009, sesuai dengan UU No.
30 Tahun 2009, PLN berubah menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
dengan tugas menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum.
Kemudian dalam perkembangannya, pada tahun 2004 dibentuk PT. PLN
(Persero) Pembangkitan Sumatera Bagian Utara disingkat KITSBU hasil dari
reorganisasi PT. PLN (Persero) Pembangkitan dan Penyaluran Sumatera Bagian
Selatan yang didirikan tahun 1997. Dimana KITSBU sampai sekarang memiliki
69 unit pembangkit dengan berbagai jenis mesin pembangkit tenaga listrik
berkapasitas daya terpasang 1.772 MW dan daya mampu 1.616 MW. Sesuai
dengan Keputusan Direksi Nomor 177.K/010/DIR/2004 tanggal 24 Agustus 2004,
maka tujuan KITSBU adalah meningkatkan efektifitas pembangkitan di wilayah
Sumatera Bagian Utaraserta mengantisipasi perkemabangan sistem penyaluran
ketenagalistrikan Sumatera sebagai upaya peningkatan pelayanan, mutu dan
keandalan tenaga listrik di Sumatera.

2.2

VISI DAN MISI PERUSAHAAN


PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Nagan Raya mempunyai visi &

misi sebagai berikut :


Visiadalah diakui sebagai Organisasi kelas dunia yang bertumbuh kembang,
unggul dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani.
Misiantara lain
1.

Menjalankan usaha pembangkitan energi listrik yang efisien, andal, dan


berwawasan lingkungan.

2.

Menerapkan tata kelola pembangkit kelas dunia yang didukung oleh SDM
berpengalaman dan berpengetahuan.

3.

Menjadikan budaya perusahaan sebagai tuntunan di dalam pelaksanaan


tugas dan tanggung jawab.

4.

Menjalankan usaha-usaha lain yang menunjang bidang ketenagalistrikan.


Untuk mencapai visi & misi, maka tata nilai yang dikembangkan di
lingkungan tersebut adalah : Saling Percaya; Integritas; Peduli; Pembelajar.

2.3

LOKASI

PT.

PLN

(PERSERO)

SEKTOR

PEMBANGKITAN

NAGAN RAYA 2 x 110 MW (PLTU)


Pembangkit Listrik Tenaga Uap 2x110 MW terletak di Gampoeng Suak
Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, kabupaten Nagan Raya. Berjarak sekitar 11
KM dari Meulaboh kota yang pernah hancur karena terjangan Tsunami 10 tahun
silam dan berjarak 237 KM dari Kota Banda Aceh yang merupakan ibukota dari
Provinsi Aceh. Dimana letak geografisnya ada pada 04622 lintang selatan dan
961152 lintang barat.
2. 4

Struktur Organisasi
Struktur organisasi mempunyai peran yang sangat penting dalam suatu

perusahaan karena memberikan informasi kepada anggota untuk mengetahui


kegiatan atau pekerjaan masing-masing, sehingga proses kerjasama menuju
pencapaian tujuan serta visi-misi dapat terwujud sesuai dengan perencanaan yang
telah dikembangkan.
Berikut adalah struktur organisasi PT. PLN (Persero) Sektor
Pembangkitan Nagan Raya :

Gambar 2.2 Struktur Organisasi

Karyawan yang bekerja pada PT. PLN (Persero) terdiri dari karyawan tetap dan
kontrak (outsourcing). Dimana karyawan tetap merupakan rekrutan dari Balai
Diklat yang dimiliki oleh PT.PLN (Persero) dan sudah disekolahkan di STT PLN
setara dengan D1 dan D3. Sementara karyawan kontrak merupakan rekrutan
subkontraktor yang bekerja sama dengan PT. PLN (Persero). Berikut adalah
rincian jumlah karyawan yang saat ini bekerja untuk PT.PLN (Persero) Sektor
Pembangkitan Nagan Raya :
Tabel 2.1 Jumlah Karyawan PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan
Nagan Raya
No

Status Karyawan

Perusahaan Penyedia

Karyawan Tetap

PT. PLN (Persero) SNGR 168 Orang

Karyawan Outsourcing

PT. Syukur Nikmat

101 Orang

Karyawan Outsourcing

PT. Tanduk Perkasa

91 Orang

Karyawan Outsourcing

PT. Arains

8 Orang

JumlahKaryawan

Jumlah

368 Orang

Jumlah karyawan tetap yang tercantum pada table di atas merupakan


gabungan dari 3 pembangkit yaitu PLTU Nagan Raya, PLTD Pulo Pisang, dan
PLTD Lueng Bata yang merupakan gabungan area kerja. Karyawan yang bekerja
pada PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan PLTU Nagan Raya di bagi
beberapa jabatan sesuai dengan kebutuhan perusahaan dapat dilihat pada table
berikut in:
Tabel 2.2 Daftar Jabatan Karyawan
No

Nama Jabatan

Manajer

Senior Specialist II/Analyst / Assistant Analyst

AssitenManajer

Supervisor

Engineer

Assistant Engineer

Junior Engineer

Assistant Technician

Junior Technician

10

Assistant Operator

11

Junior Operator

12

Assistant Officer

13

Junior Officer

BAB III
SISTEM KERJA ELECTROSTATIC PRECIPITATOR (ESP)
PADA PLTU NAGAN RAYA

3.1

Tinjauan Umum
Electrostatic precipatator merupakan suatu peralatan yang digunakan

untuk menangkap debu dengan berbagai ukuran yang dihasilkan dari sisa
pembakaran batubara pada boiler di PLTU Nagan Raya. Terdapat dua jenis abu
yang dihasilkan dari pembakaran batubara di dalam boiler, yaitu fly ash dan
bottom ash. Fly ash merupakan abu yang berukuran cukup kecil, sehingga
bercampur dengan gas-gas hasil pembakaran (flue gas) yang akan keluar melalui
cerobong asap boiler. Namun sebagian dari abu yang dihasilkan dari proses
pembakaran akan menempel pada dinding pipa boiler, terakumulasi, memadat dan
akan jatuh ke bawah boiler. Abu yang jatuh ini dikenal dengan bottom ash dan
ditangkap oleh ESP. Besar dan banyaknya abu yang terbentuk tergantung dari
jenis batu bara dan boiler yang digunakan. Berikut spesifikasi boiler pada PLTU
Nagan Raya :
Tabel 3.1 Spesifikasi Boiler
Nama

Keterangan

Type

Wuxi Huaguan Boiler

Rated Steam Temp

540 C

Rated Steam Press


Feedwater Temp

9.8 Mpa
234 C

Fuel Consumption

76.2 t/h

Coal Calorific

3700-4300 kcal/kg

10

Limest consump

7.433 t/h

4 Lower Burner

Q=800 Kg/h

4 Upper Burner

: Q=1000 kg/h

Untuk mengetahui sistem operasi dari ESP, mengenai desain, fungsi dari
komponen mekanikal dan elektrikal, berikut gambaran dari electrostatic
precipatator:

Gambar 3.1 Electrostatic Precipatator

11

3.2

Sistem Dasar Operasi Electrostatic Precipitator


Electrostatic precipitator yang digunakan di PLTU Nagan Raya memiliki

beberapa spesifikasi,berikut antara lain :


Tabel 3.1 Spesifikasi Electrostatic Precipitator
No

Nama

Data

Unit

Efisiensi

99.5

Resistansi

200

Pa

Tingkat kebocoran udara

Inlet gas buang

157.2 (tergantung batu bara)

m3/s

Inlet suhu buang

139.2 (tergantung batu bara)

Kecepatan gas buang

0.72

m/s

Jumlah hoppers tiap ESP

set

Pengumpul level abu hopper

set

Transformator rectifier tiap ESP

set

10

Kapasitas transformator rectifier

83

KVA

Power
Supply

SCR Stack

VI-CLR

T/R set

Firing
Circuit

VI-CLR
Control

Ammeter &
Voltmeter

Automatic Voltage Control

ESP

Primer
Sekunder

Gambar 3.2 Diagram Operasi Elecrostatic Precipitator

12

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa ESP pada awalnya harus diberi
suplai dari sumber berupa tenaga listrik. Suplai ESP berasal bus bar main
distribution board dengan tegangan 380 V dengan frekuensi 50 Hz.
Sebelum masuk pada sistem ESP, tenaga listrik yang disuplai harus
melalui silicon controlled rectifier (SCR) yang digunakan untuk mengontrol
tegangan input AC. Untuk membuat gelombang penuh maka SCR yang dipakai
merupakan SCR yang dihubungkan secara inverse-paralel. Pengaturan dari
kondisi konduksi SCR diatur secara automatic voltage control.
Setelah dari SCR maka gelombang input ini akan dibentuk mendekati
bentuk gelombang sinus murni oleh variable inductance current limitting reactor
(VI-CLR) yang dikontrol oleh AVC. Pembentukan gelombang input mendekati
sinusoidal murni yang dimaksudkan untuk memperoleh efisiensi penangkapan
yang optimum. Jadi pada SCR dan VI-CLR inilah yang akan memperhalus bantuk
gelombang tegangan dan arus yang akan masuk sisi primer transformator rectifier
(T/R set).
Jadi pada T/R set akan dilakukan penaikan tegangan dan penyearahan
gelombang AC ke gelombang DC. Keluaran T/R set inilah yang akan menjadi
power supply masuk pada ESP, dimana input pada ESP ditentukan juga oleh
output T/R set. Dikarenakan T/R set yang digunakan 3 buah pada ESP ini maka
diberi kode A1 untuk T/R set pertama dan A2 untuk T/R set kedua dan A3 untuk
T/R set ketiga.
AVC dapat mengukur besar tegangan baik tegangan primer maupun
tegangan sekunder dan arus primer maupun arus sekunder sebagai nilai masukan
pada AVC untuk primary form factor dan secondary fractional conduction.
Secara sederhana ESP adalah peralatan yang membersihkan gas-gas hasil
proses dengan menggunakan kekuatan medan listrik untuk memindahkan partikel
padat yang terbawa dalam bentuk gas. Gas kotor dialirkan melewati sebuah
medan listrik yang berada diantara elektroda yang mempunyai polaritas
berlawanan. Dimana discharge electroda menginduksikan muatan negatif pada
partikel, dan kemudian partikel akan ditangkap oleh collecting electrode yang

13

berpolaritas positif relatif terhadap discharge electrode, dimana didalam


prakteknya collecting electroda dihubungkan ke tanah.

3.3

Sistem Kerja Electrostatic Precipitator


Sistem kerja electrostatic precipitator pada PLTU Nagan Raya terbagi
menjadi tiga, yaitu:
1. Sistem Kerja Pada Ash Silo,
2. Sistem Kerja Remove Ash
3. Sistem KerjaRemove Ash Compressed
Dalam pengaturan kerja utama dikendalikan secara manual dan otomatis.

Pengendalian secara manual di kerjakan oleh operator diruang panel electrostatic


precipitator, sedangkan secara otomatis dikendalikan oleh HollySys dan power
supplay electrosatatic precipitator.
HollySys merupakan software komputer yang digunakan untuk sistem
pengendalin dan kemudian diteruskan melalui sensor dan power supplay sehingga
mengubahnya menjadi informasi. Power supply tegangan tinggi terdiri dari
Transfomator Rectifier Set (T/R set), Automatic Voltage Control, Current
Limitting Reactor dan Silicon Controlled Rectified (SCR).
Berikut adalah blok diagram power supplay ESP :

Gambar 3.3 Blok Diagram ESP

14

Sedangkan pengontrolan dengan sistem komputerisasi adalah sebagai berikut :

Gambar 3.4 Sistem Operasi dengan Komputer


Sistem kerja secara komputerisasi bertujuan untuk meningkatkan sistem
kerja yang sesuai, dimana pengontrol menerima informasi dalam bentuk sinyal
berdasarkan kondisi tertentu yang telah di proses dalam programmable logic
kontrol (PLC).

4.3.1 Sistem Kerja Pada Ash Silo

Gambar 3.5 Sistem Kerja Ash Silo System

15

Fly ash system merupakan proses pertama yang dilakukan dalam


penanganan abu batubara sisa pembakaran yang terjadi didalam boiler. Abu
tersebut terbawa dalam aliran gas bekas (flue gas system) yang keluar dari dalam
boiler menuju stack sebagai tempat pembuangan gas. Ash silo system bekerja
menangani debu jenis fly ash, sedangkan bottom ash dimanfaatkan kembali untuk
proses produksi. Aliran flue gas akan difilter dengan menggunakan silo bag filter
fan yang berfungsi untuk menyaring abu dalam aliran gas, sedangkan gas akan
dibuang melalui stack yang sebelumnya digunakan Induced Draft Fans (ID Fan)
untuk menyerap gas didalam pneumatic conveyer yang terhubung ke ESP..
Setelah difilter abu akan diproses didalam ash silo, dengan menggunakan
discharge ellectroda, collecting ellectroda, rapping serta hammer. Penanganan abu
didalam ash silo juga membutuhkan sistem pengeringan yang bertujuan untuk
meningkatkan proses efisiensi pemprosesan abu di discharge plate maupun
collecting plate. Selain itu ash silo sendiri membutuhkan proses pengeringan agar
debu tidak menempel di dinding ash silo. Proses pengeringan abu menggunakan
fluidizing blower yang terhubung ke masing-masing ash silo. Fluidizing blower
terdiri dari kipas (blower) dan pemanas (heater). Blower yang berfungsi untuk
menghasilkan aliran udara, sedangkan heater berfungsi untuk memanaskan udara.
Tingkat pengeringan fluidizing blower dapat diatur dengan electrical heater,
namun pengoperasian electrical heater harus difungsikan secara manual. Setelah
proses penangan abu selesai di dalam ash silo, maka abu akan di tampung
sementara di hopper. Selanjutnya abu akan di transpor ke limestone main silo
yang berguna untuk menetralkan abu dari gas-gas yang dapat membahayakan.
Kemudian abu akan di buang melalui silo dry ash unloader.

16

3.3.2 Sistem Kerja Pada Remove Ash Air Compressed

Gambar 3.6 Sistem Kerja Remove Air Compressed


Sistem kompresor berperan penting dalam proses cleaning dan fushing fly
ash

yang akan diproses. Kompresor merupakan alat yang digunakan untuk

mengubah energi listrik atau energi gas menjadi energi kinetik bertekanan tinggi
yang keluarannya dalam bentuk semburan cepat. Sistem kompresor pada ESP
terdiri dari 3 unit kompresor, 3 unit air dryer serta 2 unit air storage tank. Setiap
kompresor dilengkapi dengan air dryer guna mengurangi embun yang terkandung
dalam udara terkondensasi. Udara yang telah di kondensasi di simpan didalam air
storage tank yang selanjutnya akan digunakan untuk proses cleaning dan fushing
fly ash. Sebagian udara yang terkondensasi juga di gunakan untuk proses
limestone dan proses pembuangan fly ash sebagai tekanan udara.

17

3.3.3 Sistem Kerja Remove Ash System Pada Unit 1 dan Unit 2

Gambar 3.7 Sistem Kerja Remove Ash System Pada Unit 1

Gambar 3.8Sistem Kerja Remove Ash System Unit 2


Sistem pembersihan abu pada hopper di unit 1 dan unit 2 terdiri dari besarnya
tekanan udara dan waktu. Tekanan udara berasal dari kompressor yang digunakan

18

untuk menyalurkan kecepatan tekanan udara di dalam pipa transfer sedangkan


waktu berasal dari pengaturan waktu yang diatur di hammer untuk memukul
collecting plat.Ketika tiga titik merah pada setiap hopper terisi penuh, maka valva
pada hopper dan valva pada pipa transfer akan terbuka dengan ditandai indikator
valvahijau. Pipa transfer akan menyalurkan tekanan udara berdasarkan tekanan
yang telah

diatur secara manual pada kompressor.Saat proses pembersihan

pada hopper yang sudah terisi penuh debu, maka valva hopper kosong dan valva
pada pipa transfer ditandai akan tertutup dengan indikator valva berwarna merah.
Proses pembersihan abu di hopper dapat di atur timer berdasarkan banyaknya
batubara yang dibakar didalam boiler. Jika kapasitas pembakaran batu bara
diboiler dimaksimalkan maka debu sisa pembakaran akan semakin meningkat dan
pembersihan abu diboiler akan semakin sering dilakukan.Ketika tegangan dan
arus primer yang diberikan pada proses rapping dan hammer semakin besar, maka
perontokkan debu akan semakin banyak. Namun tegangan dan arus primer yang
diberikan harus disesuaikan dengan banyaknya batu bara yang dibakar guna
proses penghematan energi.Setiap hopper pada unit 1 dan unit 2 dilengkapi
dengan panel kontrol (HV control kabinet), dimana setiap unit memiliki masingmaing 6 hopper, dengan demikian terdapat 6 panel kontrol untuk setiap unit yang
terletak di ruang kontrol. Tegangan dan arus primer disetting secara manual pada
panel kontrol hopper. Dengan melihat kapasitas debu sisa pembakaran yang
dihasilkan.Selain pengaturan tegangan dan arus primer proses switch ON/OFF
setiap hopper juga dapat dilakukan secara manual pada panel kontrol (HV control
cabinet). Ketika debu di hopper dalam keadaan penuh, maka lampu indikator di
LV cabinet control akan bertanda alarm sesuai dengan nomer hopper (lihat
gambar 4.8)Setelah proses pembersihan debu pada hopper selesai dilakukan,
maka valva pada setiap hopper dan valva pada pipa transfer akan terutup kembali
ditandai dengan lampu indikator valva berwarna merah.

19

3.4

Blok Diagram Fly Ash Handling System


Secara umum proses penanganan debu jenis fly ash pada PLTU Nagan

Raya dapat dilihat pada blok diagram di bawah ini :

Gambar 3.9 Blog Diagram Fly Ash Handling System


Pada gambar diatas menunjukkan proses penanganan fly ash handling
dimana fly ash yang dihasilkan dari sisa pembakaran batu bara di boiler
ditransfusikan melalui pneumatic conveyer yang kemudian di proses di dalam ash
silo. Terdapat 4 pneumatic conveyer yang dihubungkan ke ash silo baik ash silo
pertama maupun ash silo kedua dengan kapasitas masing-masing 400 m3.
Pengisian fly ash ke ash silo dioperasikan secara bertahap, apabila ash silo

20

pertama dalam keadaan penuh maka valva pada pneumatic conveyer menuju ke
ash silo pertama akan tertutup dan valva pada pneumatic conveyer menuju ke ash
silo ke dua akan terbuka. Didalam ESP terdapat discharge electroda dan collecting
electroda. Pada discharge electroda diberikan muatan negatif sehingga debu akan
menempel, sedangkan pada collecting electroda diberikan muatan positif sehingga
terjadilah proses electrostatic. Terdapat 6 lapis collecting plat didalam ESP yang
disetiap lapisan tersebut dilengkapi dengan hammer. Intensitas pemukulan
hammer dapat ditentukan secara otomatis. Jadi, lamanya pemukulan hammer pada
plat collecting unuk merontokkan debu tergantung waktu setting.
Setelah terjadi proses perontokan debu di collecting ellectroda maka debu
akan ditampung sementara didalam hopper. Pada setiap ESP terdapat 6 buah
hopper yang saling terhubung. Ketika hopper terisi penuh maka debu tersebut di
tembakkan dengan udara bertekanan tinggi dengan menggunakan kompressor
yang terlebih dahulu digunakan air drayer sebagai pemisah gas dan air, sehingga
yang dihasilkan dari kompressor adalah dalam bentuk gas. Ketika tekanan udara
yang di setting

kompressor tinggi maka semakin cepat tekanan udara yang

dihasilkan, sehingga proses pembuangan debu akan semakin cepat mengalir.


Sebelum terjadi proses buang debu, maka terlebih dahulu debu dihubungkan ke
limestone, gunanya untuk menetralkan gas-gas yang dapat membahayakan
keselamatan.

3.5 Panel Kontrol ESP


Panel kontrol mengindikasikan sistem kontrol operasi kerja baik
dioperasikan manual maupun secara otomatis dengan penjelasan yang tertera pada
gambar panel kontrol ESP. Berikut panel kontrol :

21

Lampu indikator starter


Voltmeter Primer
Ammeter Primer
Voltmeter Secunder
Ammeter Secunder
Monitor Voltmeter dan Ammeter Digital
Stop Hopper
ON/OFF Power Supplay Hopper
Start Hopper
Gambar3.10 HV Cabinet Control ESP

Thermal insulation box heater 1


Thermal insulation box heater 2
1 Hopper heating s/d 6 hopper heating
1 Anode rapping s/d 6 anode heating
Manual stop automatic Thermal insulation box
heater 1
Manual stop automatic Thermal insulation box
heater 2
1 Manual stop automatic hopper heating s/d 6
manual stop automatic hopper heating

Gambar 3.11LV 1 Control Cabinet ESP

22

Rapping
Fault alarm
1 Hopper high level s/d 6 hopper high level

Rapping Start
Rapping Stop

Gambar 3.12 LV 2 Control Cabinet ESP

23

BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil kerja praktek dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya
maka dapat diambil kesimpulan :
1.

Electrostatic precipitator adalah salah satu peralatan penangkap debu yang


digunakan pada PLTU Nagan Raya. Alat ini memanfaatkan energi listrik
statis yang bertegangan tinggi. Selain alasannya untuk meningkatkan
efisiensi produksi, alat ini juga sangat berperan aktif dalam menjaga
kelestarian lingkungan

2.

Electrostatic precipitator (ESP), dalam sistem operasinya melalui beberapa


tahap, yaitu :

3.

a.

Pendistribusian abu kedalam ESP

b.

Pemberian muatan pada partikel abu

c.

Pengumpulan partikel debu yang telah bermuatan

d.

Pelepasan partikel debu dari collecting plate dan discharge electroda

e.

Pemindahan partikel debu yang telah terkumpul

Sistem kerja penanganan debu pada ESP PLTU Nagan Raya terdiri dari
a.

Sistem Kerja Pada Ash Silo

b.

Sistem Kerja Remove Ash

c.

Sistem KerjaRemove Ash Compressed

24

4.

Dari seluruh proses penanganan debu, hal yang paling penting adalah peran
tegangan dan arus. Dimana tegangan tinggi digunakan untuk mendorong
partikel debu menuju collecting plate setelah diionisasi oleh dicharge
electroda. Sedangkan arus berfungsi untuk tetap memberi energi pada
partikel debu agar tetap menempel pada collecting plate.

5.

Tegangan tinggi yang ditimbulkan akan menghasilkan mesdan listrik yang


lebih tinggi sehingga akan memiliki kekuatan dorong yang besar terhadap
partikel-partikel debu untuk mempercepat pergerakan menuju collecting
plate.

6.

Perawatan ESP harus dilakukan sesuai jangka waktu sehingga mengurangi


permasalahan pada ESP.

25