Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FISIKA DASAR


MOMEN INERSIA (M9)

PRAKTIKAN
Nama :
1. TR. Bima Septian Agam Nugraha (1114100099)
2. M. Azmi Caesardi

(1114100100)

3.Ryan Rahman

(1114100101)

4. Doni Lutfi

(1114100102)

5. Mochammad Novritza Zulfikar

(3714100051)

6. I Gusti Ayu Tara Nuarisanti

(3714100059)

Tanggal Praktikum : 5 November 2014


Nama Asst : Khusna Indria Rukmana

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

MOMEN INERSIA (M9)


5 November 2014
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

ABSTRAK

Momen inersia adalah sifat yang dimiliki oleh sebuah benda untuk
mempertahankan posisinya dari gerak rotasi atau dapat juga diartikan sebagai ukuran
kelembaman benda yang berotasi atau berputar pada sumbunya. Tujuan dilakukannya
percobaan ini adalah untuk mengetahui peenggunaan prinsip Hukum Newton II pada
gerak rotasi dan untuk menentukan momen inersia sistem benda berwujud roda
sepeda. Prinsip yang digunakan pada percobaan ini adalah prinsip Hukum Newton II
yang berbunyi besar gaya yang bekerja pada suatu benda berbanding lurus dengan
massa dan percepatannya.
Cara kerja dari percobaan ini adalah yang pertama roda diatur agar berada
pada posisi sumbu statif dan sumbu statif harus tegak bidang. Tinggi antara beban
dan lantai ditentukan kemudian dilepaskan. Waktu tempuh dicatat dan diulangi
sebanyak lima kali dan dilakukan untuk beban yang berbeda sebanyak lima kali.
Kesimpulan dari percobaan ini adalah bahwa prinsip Hukum Newton II dapat
digunakan untuk mencari besar momen inersia suatu benda berwujud roda sepeda.

Kata kunci : Hukum Newton II, momen inersia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap benda pasti memiliki titik pusat massa yang merupakan tempat dimana
massa benda bertumpu. Dengan pengertian diatas maka dapat dipastikan bahwa setiap
benda pasti memiliki momen inersia yang besarnya bergantung dari kuadrat jarak
benda dari pusat massa ke sumbu putar dan besarnya massa benda tersebut. Tetapi,
pusat massa setiap benda tidaklah sama. Hal inilah yang menyebabkan besar momen
inersia stiap benda berbeda dengan benda lainnya. Momen inersia merupakan sifat
yang dimiliki oleh sebuahn benda untuk mempertahankan posisinya dari gerak rotasi.
Contoh-contoh penerapan dari momen inersia adalah pemain ski es yang berputar
di ujung sepatu luncurnya, tongkat golf yang hendak diayunkan, pesawat atwood dan
lain-lain. Pesawat atwood adalah alat yang digunkan untuk menjelaskan hubungan
antara tegangan, energi potensial, dan energi kinetic dengan alat dua benda dan dua
pemberat yang memiliki massa yang berbeda dan dihubungkan dengan tali pada
sebuah katrol. Prinsip momen inersia sangat banyak digunakan dalam kehidupan
sehari-hari, khususnya pada benda yang bergerak rotasi.

1.2 Permasalahan
Permasalahan yang dibahas pada percobaan ini adalah bagaimana cara
menggunakan persamaan Hukum Newton II pada gerak rotasi dan bagaimana cara
menentukan momen inersia sistem benda yang berwujud roda sepeda.

1.3 Tujuan
Tujuan dari dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengetahui penggunaan
Hukum Newton II pada gerak rotasi dan untuk menentukan momen inersia sistem
benda berwujud roda sepeda.

BAB II
DASAR TEORI

2.1 Momen Inersia


Seperti yang telah dijelaskan pada bab I bahwa momen inersia adala sifat yang
dimiliki oleh sebuah benda untuk mempertahankan posisinya dari gerak rotasi atau
dapat juga diartikan sebagai ukuran kelembaman benda yang berotasi atau berputar
pada sumbunya. Momen inersia suatu benda dan benda lainnya berbeda. Hal ini
tergantung pada besarnya kuadrat jarak benda dari sumbu putar dan massa benda
tersebut. Dari pengertian diatas, maka besarnya momen inersia dapat dirumuskan
sebagai berikut :
. (2.1)
Dengan I adalah momen inersia, m adalah masa benda dan r adalah jarak benda dari
sumbu putar.
(Lubis Riani, Diktat Kuliah Fisika Dasar 1 UNIKOM, 2008,hal 80-81)
Momen inersia dapat dimiliki oleh setiap benda, manusiapun memiliki
momen inersia tertentu. Besarnya momen inersia bergantung pada berbagai bentuk
benda, pusat rotasi, jari-jar rotasi, dan massa benda. Pada penentuan momen inersia
bentuk tertentu seperti bola silinder pejal, plat segi empat, atau bentuk yang lain
cenderung lebih mudah dari pada momen inersia benda yang memiliki bentuk yang
tidak beraturan. Bentuk yang tidak beraturan ini tidak bias dihitung jari-jarinya,
sehingga terdapat istilah jari-jari girasi. Jari-jari girasi ini adalah jari-jari dari benda
yang bentuknya tak beraturan dihitung dari pusat rotasinya. Jari-jari girasi inilah yang
membantu pada proses perhitungan jari momen inersia benda, tetapi pada setiap sisi
benda yang tidak beraturan ini yang menyebabkan momen inersia yang tidak
beraturan sulit untuk dihitung.
(Giancolli, 2000, hal 226)
Benda tegar yang berotasi terdiri dari massa yang bergerak, sehingga memiliki
energi kinetik. Hal ini dapat dinyatakan energi kinetik ini dalam bentuk kecepaian
sudut benda dan sebuah besaran baru yang disehut momen inersia. Untuk
mengembangkan hubungan ini, misalkan sebuah benda yang lerdiri dari sejumlah

besar partikel dengan massa m1, m2, m3,.....pada jarak r1,r2,r3.....dari sumbu putar.
Apabila diberi nama masing-masing partikel dengan subskrip i, massa partikel ke-i
adalah mi, dan jaraknya dari sumbu pular adalah ri. Partikel tidak harus seluruhnya
berada pada satu bidang, sehingga dapat ditunjukkan bahwa rt adalah jarak legak
lurus dari sumbu terhadap partikel ke-i.

Ketika benda tegar berotasi di sekitar sebuah sumbu tetap, laju Vi dari partikel
ke-i diberikan oleh Persamaan v, = ri , di mana adalah laju sudut benda. Setiap
partikel memiliki nilai r yang bcrbeda. Tetapi yang sama untuk semua (kalau tidak.
benda tidak akan tegar). Energi kinelik uniuk partikel ke-i dinyatakan sebagai
=

.................................. (2.2)

Energi kinetik total benda adalah jumlah energi kinetik dari semua partikelnya adalah
...................(2.3)
Dengan mengeluarkan faktor 2/2 dari persamaan, didapat :
...................(2.4)
Besaran di dalam kurung , di dapat dengan mengalikan massa masing-masing partikel
dengan kuadrat jarakn ya dari sumbu putar dan menambahkan hasilnya, dinyatakan
dengan I dan disebut sebagai momen inersia. Sehingga momen inersia dapat di
nyatakan sebagai

...................(2.5)
(Sears, Zemansky.1962, 293-294)

2.2 Menghitung Momen Inersia


Persamaan umum dari momen inersia adalah :

(2.6)

Tetapi untuk benda-benda kontinu, perhitungan pada momen inersia dapat digantikan
oleh sebuah integral,yakni :

. (2.7)

Dengan r adalah jarak elemen massa dm dari sumbu rotasi. Salah satu bentuk benda
yang memiliki momen inersia adalah piringan tipis. Tinjau piringan tipis berjari-jari r
yang mempunyai massa persatuan luas

. Piringan diputar terhadap sumbu ( tegak

lurus bidang gambar ) yang melalui titik O tepat pada sumbu simetrinya. Momen
inersia dihitung melalui persamaan dalam bentuk integral, dalam hal ini
disubstitusikan

, dengan

adalah elemen luas sehingga

(2.8)

Oleh karena massa piringan

.(2.9)

Maka momen inersia piringan tipis terhadap sumbu simetrinya dinyatakan sebagai
(2.10)

Gambar 2.1 Penampang Piringan Tipis


(Dosen dosen Fisika , 2013 , hlm. 98-99)
2.4 Hukum dua Newton Pada Momen Inersia
Gambar 4 menunjukkan sebuah benda tegar yang berputar terhadap sebuah
sumbu tetap melalui titik O yang tegak lurus pada bidang gambar.

Gambar 4
Gambar 4. Gaya luar Fi dan gaya dakhil fi yang bekerja terhadap partikel bermassa mi
Titik besar merupakan salah satu partikel benda yang mempunyai massa mi. Partikel
itu mengalami gaya luar Fi dan juga gaya dakhil fi, yaitu resultan gaya-gaya yang
dilakukan terhadapnya oleh semua oartikel lain dari benda itu.Apabila tinjauan gaya
hanya pada Fi dan fi yang terletak pada bidang yang tegak lurus pada sumbu.
Berasarkan hukum kedua Newton,
Fi + fi = miai

.................................(2.11)

Maka, apabila setiap gaya tersebut diuraikan dan percepatan menjadi percepatan
radial persamaannya adalah :
..................................(2.12)

.................................(2.13)

Apabila kedua ruas persamaan dikalikan dengan jarak ri dari partikel ke sumbu,
diperoleh
..................................(2.14)
Suku pertama diruas kiri adalah momen inersia ,gaya luar terhadap sumbu, dan suku
kedua adalah momen gaya dakhil.
Karena benda itu tegar, maka semua partikel memiliki percepatan sudut
dan oleh karena itu

Jumlah
O,sehingga

yang sama

.................................(2.15)

adalah momen inersia benda terhadap sumbu yang melalui titik

.................................(2.16)
Artinya apabila sebuah benda tegar diputar terhadap suatu sumbu tetap, maka
resultan gaya putar (torsi) luar terhadap sumbu itu sama dengan hasil kali
kelembaman benda itu terhadap sumbu dengan percepatan sudut.
Jadi percepatan sudut sebuah benda tegar terhadap suatu sumbu tetap
ditentukan berdasarkan persamaan yang bentuknya tepat sama seperti persamaan
seperti percepatan linear sebuah partikel :
.................................(2.17)

Gaya putar resultan terhadap sumbu bersesuaian dengan gaya resultan F, percepatan
sudut

bersesuaian dengan percepatan sudu linear a, dan momen kelembaman I

terhadap subu bersesuain dengan massa m.


(Sears, Zemansky.1962, 219-221)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Peralatan dan Bahan


Dalam percobaan ini diperlukan peralatan dan bahan. Beberapa peralatan dan
bahan yang diperlukan adalah 1 set roda sepeda beserta statif, 1 buah electric
stoplock, 1 set anak timbangan, 1 buah rollmeter, waterpass, dan 1 buah tempat
beban. Peralatan-peralatan tersebut dikumpulkan dan dirangkai. Untuk mendapatkan
hasil yang maksimal, maka peralatan tersebut harus dirangkai sesuai dengan petujuk
yang diberikan.
3.2 Cara Kerja
Dalam melakukan percobaan ini, langkah-langkah untuk melakukan
percobaan harus dilakukan dengan benar atau sesuai urutan. Hal ini untuk
menghindari kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Cara untuk melakukan percobaan
ini adalah roda diatur agar menyerupai gambar diatas, posisi sumbu statif diperiksa
agar tegak lurus bidang dengan waterpass. Kemudian tinggi antara beban dengan
lantai ditentukan dan beban dilepaskan. Waktu tempuh beban untuk mencapai jarak h
dicatat dan diulangi sebanyak 5 kali. Lakukan percobaan ini untuk beban yang
berbeda sebanyak 5 kali dan juga unutk tinggi yang berbeda. Untuk cara yang kedua,
tali diatur hingga beban tergantung tepat pada roda demikian pula dengan posisi
sasarannya. Ikuti langkah-langkah percobaan sebelumnya dan ukur jari-jari roda
sepeda.

roda

statif

Gambar 3.1 Rangkaian Percobaan Momen Inersia

BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Data
h1 = 0,5 m
h2 = 0,7 m
h3 = 0,9 m
Massa timbangan = 13,5 gr
Jari-jari roda sepeda = 25,875 cm = 26 cm
Massa anak timbangan :
m1 = 10 gr
m2 = 20 gr
m3 = 50 gr
Massa total tiap beban
Beban 1 = m1 + massa timbangan
= 10 + 13,5 = 23,5 gr
Beban 2 = m2 + massa timbangan
= 20 + 13,5 = 33,5 gr
Beban 3 = m3 + massa timbangan
= 50 + 13,5 = 63,5 gr
Tabel 1 Percobaan 1 Untuk Massa 10 gr
h

t1

t2

t3

t4

t5

0,5 m

2,72 s

2,62 s

2,65 s

2,78 s

2,69 s

0,7 m

3,44 s

3,18 s

3,41 s

3,16 s

3,47 s

0,9 m

3,88 s

3,78 s

3,18 s

3,88 s

3,75 s

Tabel Percobaan 2 Untuk Massa 20 gr


h

t1

t2

t3

t4

t5

0,5 m

2,19 s

2,34 s

2,34 s

2,25 s

2,22 s

0,7 m

2,90 s

2,91 s

2,91 s

2,72 s

2,85 s

0,9 m

3,38 s

3,19 s

3,39 s

3,22 s

3,25 s

Tabel Percobaan 3 Untuk Massa 50 gr


H

t1

t2

t3

t4

t5

0,5 m

1,63 s

1,81 s

1,66 s

1,87 s

1,68 s

0,7 m

2,15 s

2,13 s

2,13 s

2,16 s

2,09 s

0,9 m

2,34 s

2,32 s

2,41 s

2,25 s

2,38 s

4.2 Perhitungan
Dibawah ini akan diberikan contoh perhitungan :
Diketahui

m = mbeban +mtimbangan = 10 gr + 13.5 gr = 23.5 gr = 0.0235 kg


h = 50 cm = 0.5 m
R = 26 cm = 0.26 m
t = 2,72 s
g = 9.8 m/s2

Ditanyakan

I =.....?

Jawab

h = a t2
a = 2h/t2
a = 2.0,5/(2.72)2
a = 0.135
I = m R2 (g/a-1)
I = 0.0235(0.26)2 ((9.8/0,135)-1)
I = 0.1112 Kg m2

Dengan menggunakan cara diatas, maka akan didapatkan nilai I sebagai


berikut :

4.2.1 Tabel Massa Beban 1 (10 gr)


m1 = mbeban + mtimbangan = 10 gr + 13.5 gr = 23.5 gr = 0.0235 kg
No
h (m) m1 (kg)
r2
trata-rata
(trata-rata)2
1
0.5
0.0235 0.0676
2.692
7.2469
2
0.7
0.0235 0.0676
3.332
11.1022
3
0.9
0.0235 0.0676
3.82
14.5924

a
0.138
0.126
0.123

I
0.1112
0.1220
0.1250

4.2.2 Tabel Massa Beban 2 (20 gr)


m2 = mbeban + mtimbangan =20 gr + 13.5 gr = 33.5 gr = 0.0335 kg
No

h (m)

m (kg)

r2

trata-rata

(trata-rata)2

0.5

0.0335

0.0676

2.268

5.1438

0.194

0.1121

0.7

0.0335

0.0676

2.858

8.1682

0.171

0.1275

0.9

0.0335

0.0676

3.286

10.7978

0.167

0.1306

4.2.3 Tabel Massa Beban 3 (50 gr)


m3 = mbeban + mtimbangan =50 gr + 13.5 gr = 63.5 gr = 0.0635 kg
No

h (m)

m (kg)

rata-rata

(trata2
rata)

0.5

0.0635

0.0676

1.73

2.9929

0.334

0.1217

0.7

0.0635

0.0676

2.132

4.5454

0.308

0.1323

0.9

0.0635

0.0676

2.34

5.4756

0.329

0.1236

4.3 Grafik
Berikut ini telah didapatkan grafik yang diolah dari data yang diperoleh untuk
mencari Momen Inersia.

grafik momen inersia


0.005
0.0045

y = 0.1298x - 0.0003
R = 0.9987

0.004
0.0035

mr^2

0.003
grafik momen inersia

0.0025
0.002

Linear (grafik momen


inersia)

0.0015
0.001
0.0005
0
0

0.01

0.02

0.03

0.04

a/(g-a)

4.4 Pembahasan
Percobaan Momen Inersia ini dilakukan untuk menerapkan penggunaan
Hukum Newton II pada gerak rotasi dan menentukan momen inersia sistem benda
berwujud roda sepeda. Prinsip yang digunakan dalam percobaan ini adalah Hukum
Newton II pada gerak rotasi. Percobaan dalam menentukan momen inersia ini
dilakukan dengan menggunakan satu beban yang berada pada tepi roda. Dalam
menentukan ketinggian benda kita juga menentukan pusat massa benda dengan
menggunakan water pas agar posisi roda berada dalam keadaan setimbang pada saat
pengukuran, sehingga pada saat roda mengalami perputaran posisi roda tetap berada
dalam posisi semula (tidak mengalami pergeseran). Percobaan ini menggunakan
variasi massa dan variasi ketinggian. Pada percobaan ini digunakan anak timbangan
bermassa 10 gram ditambah dengan massa timbangan 13,5 gram, pada massa tersebut
dilakukan percobaan dengan variasi ketinggian 0,5 m, 0,7 m, dan 0,9 m. Masing
masing variasi ketinggian dilakukan sebanyak lima kali dan diperoleh data yaitu
waktu dari saat benda dilepaskan hingga menyentuh lantai. Begitu juga dengan
variasi massa anak timbangan yang menggunakan 20 gram dan 50 gram dan yang
juga nantinya ditambah dengan massa timbangan yaitu 13,5 gram. Setiap variasi
massa juga dilakukan dengan variasi ketinggian, yaitu 0,5 m, 0,7 m, dan 0,9 m. Dan
setiap variasi massa benda dan ketinggian dilakukan percobaan sebanyak lima kali.
Dengan demikian, dari percobaan ini telah didapatkan data sebanyak 45 data, seperti

yang telah dicantumkan pada tabel percobaan 1, tabel percobaan 2, dan tabel
percobaan 3. Dari keseluruhan data yang telah diperoleh, dapat diamati bahwa apabila
semakin berat massa benda maka semakin cepat benda menyentuh lantai, begitu juga
dengan sebaliknya, apabila massa benda semakin ringan maka semakin lama benda
mencapai lantai. Dan dari data yang diperoleh, dapat diamati pula bahwa semakin
rendah ketinggian awal benda yang akan dilepaskan, semakin cepat benda menyentuh
lantai. Begitu juga sebaliknya apabila semakin tinggi ketinggian awal benda saat akan
dilepaskan, maka akan semakin lama benda menyentuh lantai. Sehingga didapati
bahwa percobaan yang dilakukan dan benda mencapai lantai paling cepat adalah
benda yang bermassa 50 gram ditambah masssa timbangan 13,5 gram dengan variasi
ketinggian yaitu 0,5 m. Dan yang paling lama mencapai lantai adalah yang bermassa
10 gram ditambah 13,5 gram massa timbangan dan variasi ketinggian 0,9 m.
Dari percobaan yang telah dilakukan, telah diperoleh data. Data yang telah
diperoleh lalu diolah sehingga dapat menjadi grafik seperti pada subbab 4.3 grafik.
Pada grafik tersebut, penentuan koordinat titik pada sumbu-x adalah dengan cara
membagi percepatan dengan selisih antara percepatan gravitasi dengan percepatan tu
sendiri. Lalu untuk menentukan koordinat titik pada sumbu-y adalah dengan cara
mengalikan massa benda dengan jari jari roda sepeda tersebut. Setelah ditentukan
koordinatnya, terbentuklah grafik tersebut. Dan grafik tersebut menunjukkan besar
nilai momen inersia.
Dari perhitungan momen inersia yang telah dilakukan dan grafik yang
menunjukan besar nilai momen inersia, dapat diamati bahwa terdapat perbedaan yang
tidak terlalu besar. Hal itu dapat terjadi, karena pada perhitungan, angka yang
digunakan adalah angka yang telah dibulatkan agar mudah diolah. Sedangkan angka
angka yang digunakan untuk membuat grafik adalah angka yang sesungguhnya tanpa
adanya pembulatan sehingga angka yang ditunjukkan dapat sedikit berbeda dengan
perhitungan yang telah dilakukan. Sehingga besar nilai momen inersia perhitungan
dan grafik terdapat sedikit perbedaan.
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat diamati bahwa variasi ketinggian
dan massa berpengaruh pada momen inersia. Momen inersia tidak hanya dipengaruhi
oleh massa benda dan jarak titik pusat, momen inersia juga dipengaruhi oleh gayagaya yang bekerja pada roda sesuai teori-teori hukum newton II, roda sepeda ternyata
memiliki percepatan tangensial sehingga menyebabkan jari-jari roda sepeda akan
berpengaruh pada perhitungan momen inersia.

Dari percobaan

yang telah dilakukan,

dapat

diamati

faktor

yang

mempengaruhi perbedaan momen inersia. Dari data hasil percobaan dapat diketahui
variabel-variabel yang mempengaruhi besarnya nilai momen inersia. Pada percobaan
ini khususnya, yang mempengaruhi adalah massa benda, jarak partikel ke sumbu
rotasi, percepatan gravitasi, dan percepatan tangensial.

BAB V
KESIMPULAN

Momen inersia adalah sifat yang dimiliki oleh sebuah benda untuk
mempertahankan posisinya dari gerak rotasi atau dapat juga diartikan seagai ukuran
kelembaman benda yang berotasi atau berputar pada sumbunya. Besar momen inersia
suatu benda berbeda dengan benda lainnya. Hal ini bergantung pada letak sumbu
putarnya. Besarnya momen inersia berbanding lurus dengan massa dan kuadrat jarak
benda terhadap sumbu putarnya.Untuk benda-benda tak beraturan, momen inersia
dicari menggunakan rumus integral.
Pinsip Hukum Newton II digunakan pada percobaan ini. Hukum Newton II
berbunyi bahwa besar gaya yang bekerja pada suatu benda berbanding lurus dengan
massa dan percepatannya. Dari persamaan Hukum Newon II untuk gerak rotasi
didapatkan besar momen inersia. Demikian hubungan hukum Newton II yang bekerja
pada gerak rotasi.

DAFTAR PUSTAKA

Dosen-Dosen Fisika FMIPA ITS.2013.Fisika 1.Yanasika, Surabaya


Giancoli, C. Douglas .2000.PHYSICS for Scientist and Engineers. Prentice Hall .
USA
Lubis Rian.2008.Diktat Kuliah Fisika Dasar 1 UNIKOM.UNIKOM, Bandung
Sears, Zemansky. 1962. Fisika untuk Universitas 1. Trimitra Mandiri , Jakarta.

LAMPIRAN

Ralat Perhitungan
Tabel 1 Ketinggian 0,5 m dan massa 23,5 gr
Pengkuran Ke

Waktu ( t )

( t t)

( t t )2

2,72 s

0,028 s

7,8410-4 s2

2,62 s

-0,072 s

5,18410-3 s2

2,65 s

-0,042 s

1,76410-3 s2

2,78 s

0,088 s

7,74410-3 s2

2,69 s

-210-3 s

410-6 s2

Rata-rata (t) =

2,692 s

Ralat Mutlak :

= [

= 0,03 s
Ralat Nisbi :

=
= 1,1
Keseksamaan :
= 100
= 98,9
Hasil Pengukuran =
Jadi, hasil pengukuran sebenarnya adalah

Tabel 2 Ketinggian 07 m dan massa 23,5 gr


Pengukuran Ke

Waktu ( t )

3,44 s

0,108 s

0,011664 s2

3,18 s

-0,152 s

0,023104 s2

3,41 s

-0,0192 s

0,036864 s2

3,16 s

-0,172 s

0,029584 s2

3,47 s

0,138 s

0,019044 s2

Rata-rata ( t ) =

3,332 s

Ralat Mutak :

=
= 0,08 s
Ralat Nisbi :

=
= 2,4

Keseksamaan :
=
= 97,6
Hasil Pengukuran =
Jadi, hasil pengkuran sebenarnya adalah
Tabel 3 Ketinggian 0,9 m dan massa 23,5gr
Pengukuran Ke

Waktu ( t )

3,88 s

0,06 s

s2

s2

3,78 s

-0,04 s

3,81 s

-0,01 s

3,88 s

0,06 s

s2

3,75 s

-0,07 s

s2

Rata-rata (t) =

s2

3,82 s

Ralat Mutlak :

=
= 0,03 s
Ralat Nisbi :

=
=
Keseksamaan :
=
=
Hasil Pengukuran =
Jadi, hasil pengukuran sebenarnya adalah
Tabel 4 Ketinggian 0,5 m dan massa 33,5 gr
Pengukuran Ke

Waktu ( t )

2,19

-0,078

2,34

0,072

2,34

0,072

2,25

-0,018

2,22

-0,048

Rata-rata (t) =

0,01908 s2

2,268 s

Ralat Mutlak :

=
= 0,03 s
Ralat Nisbi :

=
=
Keseksamaan :
= 100% - 1,3%
= 98,7 %
Hasil Pengukuran =
Jadi, hasil pengukuran sebenarnya adalah
Tabel 5 Ketinggian 0,7 m dan massa 33,5 gr
Pengukuran Ke

Waktu ( t )

2,90 s

0,042 s

2,91 s

0,052 s

2,91 s

0,052 s

2,72 s

-0,138 s

2,85 s

Rata-rata (t) =
2,858 s
Ralat Mutlak :

= 0,04 s
Ralat Nisbi :

=
=
Keseksamaan :
=
=
Hasil Pengukuran =
Jadi, hasil pengukuran sebenarnya adalah
Tabel 6 Ketinggian 0,9 m dan massa 33,5 gr
Pengukuran Ke

Waktu ( t )

3,38 s

0,094 s

3,19 s

-0,096 s

3,39 s

0,104 s

3,22 s

-0,066 s

3,25 s

-0,036 s

Rata-rata (t) =

3,286 s

Ralat Mutlak :

=
= 0,04 s
Ralat Nisbi :

=
=
Keseksamaan :
=
=

Hasil Pengukuran
Jadi, hasil pengukuran sebenarnya adalah

Tabel 7 Ketinggian 0,5 m dan massa 63,5 gr


Pengukuran Ke

Waktu ( t )

1,63 s

-0,1 s

1,81 s

0,08 s

1,66 s

-0,07 s

1,87 s

0,14

1,68 s

-0,05

Rata-rata (t) =

1,73 s

Ralat Mutlak :

=
= 0,05 s
Ralat Nisbi :

=
=

Keseksamaan :
=
=
Hasil Pengukuran
Jadi, hasil pengukuran sebenarnya adalah
Tabel 8 Ketinggian 0,7 m dan massa 63,5 gr
Pengukuran Ke

Waktu ( t )

2,15 s

2,13 s

2,13 s

2,16 s

0,028 s

2,09 s

-0,042 s

Rata-rata (t) =

0,018 s

2,132 s

Ralat Mutlak :

=
= 0,01 s
Ralat Nisbi :

=
=
Keseksamaan :
=
=
Hasil Pengukuran

Jadi, hasil pengukuran sebenarnya adalah


Tabel 9 Ketinggian 0,9 m dan massa 63,5 gr
Pengukuran Ke

Waktu ( t )

2,34 s

0s

2,32 s

-0,02 s

2,41 s

0,07 s

2,25 s

-0,09 s

2,38 s

0,04 s

Rata-rata (t) =

2,34 s

Ralat Mutlak :

=
= 0,03 s
Ralat Nisbi :

=
=
Keseksamaan :
=
=
Hasil Pengukuran
Jadi, hasil pengukuran sebenarnya adalah