Anda di halaman 1dari 32

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang
Perkembanga zaman yang disertai oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi (IPTEK) yang pesat dewasa ini menciptakan era globalisasi dan keterbukaan yang
menuntut setiap individu untuk ikut serta didalamnya, sehingga sumber daya manusia harus
menguasai IPTEK serta mampu mengaplikasikannya dalam setiap kehidupan. Pengelasan
merupakan bagian tak terpisahkan dari pertumbuhan peningkatan industri karena hampir
memegang peran utama dalam rekayasa dan reparasi produksi logam.
Luasnya penggunaan teknologi ini disebabkan karena bangunan dan mesin yang
dibuat dengan teknik penyambungan menjadi ringan dan lebih sederhana dalam proses
pembuatannya. Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam bidang konstruksi sangat luas,
meliputi perkapalan, jembatan, rangka baja, pipa saluran dan lain sebagainya. Disamping itu
proses las dapat juga dipergunakan untuk reparasi misalnya untuk mengisi lubang-lubang
pada coran, membuat lapisan keras pada perkakas, mempertebal bagian-bagian yang sudah
aus dan lain-lain. Pengelasan bukan tujuan utama dari konstruksi, tetapi merupakan sarana
untuk mencapai pembuatan yang lebih baik.Karena itu rancangan las harus betul-betul
memperhatikan kesesuaian antara sifat-sifat las yaitu kekuatan dari sambungan dan
memperhatikan sambungan yang akan dilas, sehingga hasil dari pengelasan sesuai dengan
yang diharapkan. Dalam memilih proses pengelasan harus dititik beratkan pada proses yang
paling sesuai untuk tiap-tiap sambungan las yang ada pada konstruksi.Dalam hal ini dasarnya
adalah efisiensi yang tinggi, biaya yang murah, penghematan tenaga dan penghematan energi
sejauh mungkin. Mutu dari hasil pengelasan disamping tergantung dari pengerjaan lasnya
sendiri dan juga sangat tergantung dari persiapan sebelum pelaksanaan pengelasan, karena
pengelasan adalah proses penyambungan antara dua bagian logam atau lebih dengan
menggunakan energi panas.

1.2

TUJUAN
Tujuan dilakukannya praktikum las ini adalah:

Memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang dasar teknik pengelasan.

Memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang alat-alat yang digunakan dalam


pengelasan.

Memberikan pengetahuan kepada mahasiswa dalam perawatan alat-alat maupun hasil


pengelasan.

Mengenal mesin las dan cara kerjanya.

Mengenal beberapa jenis sambungan las.

Menggunakan dan mengerjakan pengelasan

1.3

Manfaat
Adapun manfaat yang akan diperoleh dari praktikum las :
1. Setiap mahasiswa mengenal peralatan praktikum las.
2. Setiap mahasiswa dapat mengoprasikan cara pengelasan.
3. Setiap mahasiswa mengetahui teknik pengelasan.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1

Pengertian las
Las menurutKamus Besar Bahasa Indonesia (1994), adalah penyambungan besi

dengan cara membakar. Dalam referensi-referensi teknis, terdapat beberapa definisi dari Las,
yakni sebagai berikut :
Berdasarkan defenisi dari Deutsche Industrie Normen (DIN) dalam Harsono dkk
(1991:1), mendefinisikan bahwa " las adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam paduan
yang dilakukan dalam keadaan lumer atau cair ". Sedangkan menurut maman suratman
(2001:1) mengatakan tentang pengertian mengelas yaitu salah satu cara menyambung dua
bagian logam secara permanen dengan menggunakan tenaga panas. Sedangkan Sriwidartho,
Las adalah suatu cara untuk menyambung benda padat dengan dengan jalan mencairkannya
melalui pemanasan.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kerja las adalah
menyambung dua bagian logam atau lebih dengan menggunkan energi panas.

2.2

Teknik pengelasan
a. Posisi bawah tangan : Pengelasan di bawah tangan adalah proses pengelasan yang
dilakukan di bawah tangan dan benda kerja terletak di atas bidang datar. Sudut ujung
pembakar (brander) terletak diantara 600 dan kawat pengisi (filler rod) dimiringkan
dengan sudut antara 300 400 dengan benda kerja. Kedudukan ujung pembakar ke
sudut sambungan dengan jarak 2 3 mm agar terjadi panas maksimal pada
sambungan. Pada sambungan sudut luar, nyala diarahkan ke tengah sambungan dan
gerakannya adalah lurus.
b. Posisi mendatar : Pada posisi ini benda kerja berdiri tegak sedangkan pengelasan
dilakukan dengan arah mendatar sehingga cairan las cenderung mengalir ke bawah,
untuk itu ayunan brander sebaiknya sekecil mungkin. Kedudukan brander terhadap
benda kerja menyudut 700 dan miring kira-kira 100 di bawah garis mendatar,
sedangkan kawat pengisi dimiringkan pada sudut 100 di atas garis mendatar.
c. Posisi tegak : Pada pengelasan dengan posisi tegak, arah pengelasan berlangsung ke
atas atau ke bawah. Kawat pengisi ditempatkan antara nyala api dan tempat
sambungan yang bersudut 450-600 dan sudut brander sebesar 800.

d. Posisi atas kepala : Pengelasan dengan posisi ini adalah yang paling sulit dibandingkan
dengan posisi lainnya dimana benda kerja berada di atas kepala dan pengelasan
dilakukan dari bawahnya. Pada pengelasan posisi ini sudut brander dimiringkan 100
dari garis vertikal sedangkan kawat pengisi berada di belakangnya bersudut 450-600.

2.3

Penggolongan las
a. Las listrik
Mesin las listrik adalah mesinlas yang dalam penggunaanya menggunakan arus listrik
yang didapat dari PLN ataupu dari mesin lainya, dimana pada mesin ini dibutuhkan
jumlah arus yang besar, hampir mencapai 200-500 amper dan voltasenya adalah sekitar
36-70 volt.
Mesin las listrik sering dipakai dalam bengkel las yakni mesin las arus blak-balik atau
AC, untuk memakai mesin las ini kita membutuhkan arus sebesar 110 volt 220 volt.
Macam-macam las listrik :
1. Las SMAW
Menurut Boentarto (1995) elektroda yang digunakan pada las jenis ini adalah
elektroda berselaput. Selaput elektroda tersebut ikut terbakar sehingga mencair dan
menghasilkan gas yang melindungi ujung elektroda kawah las, busur listrik terhadap
pengaruh udara luar. Cairan selaput elektroda yang membeku akan menutupi
permukaan las yang juga berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh luar.
Menurut Edriandi (2004) las SMAW merupakan proses las busur manual dimana
panas pengelasan dihasilkan oleh busur listrik antara elektroda terumpan berpelindung
flux dengan benda kerja. Keuntungan dari las SMAW adalah jenis las yang paling
sederhana dan paling serbaguna, karena mudah dalam mengangkut peralatan dan
erlengkapannya.
Hal tersebut membuat proses pengelasan SMAW mempunyai aplikasi refinery
piping hingga pipeline, dan bahkan pengelasan untuk dibawah laut, guna untuk
memperbaiki lokasi yang bisa terjangkau oleh sebatang elektroda. Sambungansambungan pada daerah dimana pandangan mata terbatas masih bisa dilas dengan cara
membengkokkan elektroda.
Kelemahan dari las SMAW adalah proses pengelasan ini mempunyai karakteristik
dimana laju pengisiannya lebih rendah dibandingkan proses pengelasan GTAW.
Panjang elektroda tetap dan pengelasan mesti dihentikan setelah sebatang elektroda
habis, puntug elektroda terbuang dan waktu juga terbuang untuk mengganti-ganti

elektroda yang baru. Terak (slag) yang terbentuk harus dihilangkan dari lapisan las
yang sebelumnya.
Komponen mesin las SMAW terdiri dari :
1) Sumber tenaga (PLN/enjin)
2) Mesin las

Gambar 2.1 mesin las SMAW

3) Penjepit massa

gambar 2.2 pemjepit massa


4) Kabel elektroda
5) Penjepit elektroda

Gambar 2.3 penjepit elektroda


6) Elektroda

Gambar 2.4 elektroda

2. Las GTAW
Las GTAW atau las TIG adalah las busur dengan tungsten sebagai busur nyalanya.
Busur nyala terjadi antara elektroda tungsten dan benda kerja. Busur las, elektroda
tungsten dan benda kerja dilindungi oleh gas inert dari gangguan udara luar. Titik cair
elektroda tungsten sangat tinggi yaitu 33700C. Gas inert yang digunakan adalah Argon
atau Helium, karena sifat kedua gas tersebut tidak mudah bereaksi secara kimia
dengan unsur lain (Boentarto, 1995).
Menurut Edriandi (2004) las GTAW adalah las yang menggunakan inert gas (gas
mulia) sebagai bahan yang dapat melindungi cairan elektroda dari atmosfir yang dapat
merusak mutu dari pengelasan.
Menurut Boentarto (1995) Keuntungan las GTAW adalah :
1. Hasil pengelasan lebih kuat, lebih tahan terhadap korosi dan tahan pukul.
2. Dapat digunakan untuk mengelas pada segala posisi. Tidak timbul retak
sehingga tidak akan terjadi terak yang terjebak di dalam rigi-rigi las.
3. Pengelasan tidak mengguanakan flux sehingga jalur las tidak perlu dibersihkan
dengan sikat baja. Gas pelindung yang keluar mencegah pengotoran dari oksigen
dan nitrogen yang ada di udara luar terhadap cairan logam las.
4. Tidak terjadi asap atau nyala api pada daerah las dan cairan logam bersih.
5. Dapat digunakan untuk mengelas semua logam dan segala bentuk sambungan
serta berbagai ketebalan logam.

Kelemahan las GTAW adalah ;


1) Butuh kontrol kelurusan sambungan yang lebih ketat, untuk menghasilkan
pengelasan yang bermutu tinggi pada pengelasan dari arah satu sisi.
2) Pengelasan GTAW harus selalu terjaga kebersihan sambungannya dari minyak,
karat, dan kotoran-kotoran lain, agar terhindar dari cacat-cacat las,

Komponen mesin las GTAW adalah :


1. Sumber tenaga (PLN/enjin)
2. Mesin las

Gambar 2.5 mesin las


3. Kabel api

Gambar 2.6 kabel api

4. Penjepit massa

Gamabar 2.7 penjepit massa


5. Tabung argon

Gambar 2.8 tabung argon


6. Slang argon
7. Stang las GTAW

Gambar 2.9 stang las

10

8. Elektroda

Gambar 2.10 elektroda


3. las listrik submarged
Las listrik submerged yang umumnya otomatis atau semi otomatis menggunakan
fluksi serbuk untuk pelindung dari pengaruh udara luar. Busur listrik di antara ujung
elektroda dan bahan dasar di dalam timnunan fluksi sehingga tidak terjadi sinar las
keluar seperti biasanya pada las listrik lainya. Operator las tidak perlu menggunakan
kaca pelindung mata (helm las).
Pada waktu pengelasan, fluksi serbuk akan mencir dan membeku dan menutup
lapian las. Sebagian fluksi serbuk yang tidak mencair dapat dipakai lagi setelah
dibersihkan dari terak-terak las.
Elektora yang merupakan kawat tampa selaput berbentuk gulungan (roll) digerakan
maju oleh pasangan roda gigi yang diputar oleh motor listrik ean dapat diatur
kecepatannya sesuai dengan kebutuhan pengelasan.

Gambar 2.11las listrik submarged

11

b. Las cair
Dimana logam induk dan bahan tambahan dipanaskan hingga mencair, kemudian
membiarkan keduanya membeku sehingga membentuk sambungan.

c. Las tekan
Yaitu dimana kedua logam yang disambung, dipanaskan hingga meleleh, lalu
keduanya ditekan hingga menyambung. Adapun pengelasan tekan itu sendiri dibagi
menjadi:
a. Pengelasan tempa
Merupakan proses pengelasan yang diawali dengan proses pemanasan pada logam
yang diteruskan dengan penempaan (tekan) sehingga terjadi penyambungan logam.
Jenis logam yang cocok pada proses ini adalah baja karbon rendah dan besi, karena
memiliki daerah suhu pengelasan yang besar.

Gambar 2.12 pengelasan tempa


b. Pengelasan tahanan
Proses ini meliputi:
1. Las proyeksi
Merupakan proses pengelasan yang hasil pengelasannya sangat dipengaruhi oleh
distribusi arus dan tekanan yang tepat. Prosesnya yaitu plat yang akan disambung
dijepit dengan elektroda dari paduan tembaga, kemudian ketebalan plat yang akan
dilas.

12

Gambar 2.13 las proyeksi


2. Las titik
Prosesnya hampir sama dengan las proyeksi, yaitu plat yang akan disambung
dijepit dahulu oleh elektroda dari paduan tembaga, kemudian dialiri arus listrik
yang besar, dan waktunya dapat diatur sesuai dengan ketebalan plat yang akan
dilas.
3. Las kampuh
Merupakan proses pengelasan yang menghasilkan sambungan las yang continue
pada dua lembar logam yang tertumpuh. Ada tiga jenis las kampuh, yaitu las
kampuh sudut, las kampuh tunmpang sederhana, dan las kampuh penyelesaian.

13

Gambar 2.14 las kampuh

d. Las pematrian
Seperti pengelasan cair, akan tetapi bedanya adalah penggunaan bahan tambahan/filler
yang mempunyai titik leleh dibawah titik leleh logam induk. Pengelasan fusion dapat
dibedakan menjadi:
a. Pengelasan laser
Merupakan pengelasan yang lambat dan hanya diterpkan pada las yang kecil,
khususnya dalam industri elektronika.

Gambar 2.15 pengelasan laser

14

b. Pengelasan listrik berkas elektron


Pengelasan jenis ini digunakan untuk pengelasan pada logam biasa, logam tahan api,
logam yang mudah teroksidasi dan beberapa jenis paduan super yang tak mungkin dilas.

Gambar 2.16 pengelasan bekas elektron


c. Pengelasan thermit
Merupakan satu-satunya pengelasan yang menggunakan reaksi kimia eksotermis
sebagai sumber panas. Thermit merupakan campuran serbuk Al dan Oksidasi besi dengan
perbandingan 1 : 3

15

Gambar 2.17 pengelasn thermit

e. Las gas
Pengelasan dengan gas dilakukan dengan membakar bahan bakar gas yang dicampur
dengan oksigen (O2) sehingga menimbulkan nyala api dengan suhu tinggi (3000o) yang
mampu mencairkan logam induk dan logam pengisinya. Jenis bahan bakar gas yang
digunakan asetilen, propan atau hidrogen, sehingga cara pengelasan ini dinamakan las oksiasetilen atau dikenal dengan nama las karbit.
Nyala asetilen diperoleh dari nyala gas campuran oksigen dan asetilen yang digunakan
untuk memanaskan logam sampai mencapai titik cair logam induk. Pengelasan dapat
dilakukan dengan atau tanpa logam pengisi.
Oksigen diperoleh dari proses elektrolisa atau proses pencairan udara. Oksigen komersil
umumnya berasal dari proses pencairan udara dimana oksigen dipisahkan dari nitrogen.
Oksigen ini disimpan dalam silinder baja pada tekanan 14 MPa. Gas asetilen (C2H2)

16

dihasilkan dari reaksi kalsium karbida dengan air. Gelembung-gelembung gas naik dan
endapan yang terjadi adalah kapur tohor.
Bila dihitung ternyata 1 kg CaC2 menghasilkan kurang lebih 300 liter asetilen. Sifat dari
asetilen (C2H2) yang merupakan gas bahan bakar adalah tidak berwarna, tidak beracun,
berbau, lebih ringan dari udara, cenderung untuk memisahkan diri bila terjadi kenaikan
tekanan dan suhu (di atas 1,5 bar dan 3500C), dapat larut dalam massa berpori (aseton).
Karbida kalsium keras, mirip batu, berwarna kelabu dan terbentuk sebagai hasil reaksi
antara kalsium dan batu bara dalam dapur listrik. Hasil reaksi ini kemudian digerus, dipilih
dan disimpan dalam drum baja yang tertutup rapat. Gas asetilen dapat diperoleh dari
generator asetilen yang menghasilkan gas asetilen dengan mencampurkan karbid dengan air
atau kini dapat dibeli dalam tabung-tabung gas siap pakai. Agar aman tekanan gas asetilen
dalam tabung tidak boleh melebihi 100 Kpa, dan disimpan tercampur dengan aseton.
Tabung asetilen diisi dengan bahan pengisi berpori yang jenuh dengan aseton, kemudian
diisi dengan gas asetilen. Tabung jenis ini mampu menampung gas asetilen bertekanan
sampai 1,7 MPa.
Prisip dari pengelasan ini tidak terlalu rumit. Hanya dengan mengatur besarnya gas
asetilen dan oksigen, kemudian ujungnya didekatkan dengan nyala api maka akan timbul
nyala api. Tetapi besarnya gas asetilen dan oksigen harus diatur sedemikian rupa dengan
memutar pengatur tekanan sedikit demi sedikit. Apabila gas asetilen saja yang dihidupkan
maka nyala apinya berupa nyala biasa dengan mengeluarkan jelaga. Apabila gas asetilennya
terlalu sedikit yang diputar, maka las tidak akan menyala.
Kecepatan penarikan kembali gas per jam dari sebuah silinder asetilen tidak boleh lebih
besar dari 20% (seperlima) dari isinya, agar gas aseton bisa dialirkan (silinder asetilen
haruslah selalu tegak lurus).
Nyala hasil pembakaran dalam las oksi-asetilen dapat berubah bergantung pada
perbandingan antara gas oksigen dan gas asetilennya. Ada tiga macam nyala api dalam las
oksi-asetilen seperti ditunjukkan pada gambar di bawah :

a) Nyala asetilen lebih (nyala karburasi)


Bila terlalu banyak perbandingan gas asetilen yang digunakan maka di antara kerucut
dalam dan kerucut luar akan timbul kerucut nyala baru berwarna biru. Di antara kerucut
yang menyala dan selubung luar akan terdapat kerucut antara yang berwarna keputihputihan, yang panjangnya ditentukan oleh jumlah kelebihan asetilen. Hal ini akan
menyebabkan terjadinya karburisasi pada logam cair. Nyala ini banyak digunakan dalam

17

pengelasan logam monel, nikel, berbagai jenis baja dan bermacam-macam bahan
pengerasan permukaan non-ferous.

b) Nyala netral
Nyala ini terjadi bila perbandingan antara oksigen dan asetilen sekitar satu. Nyala
terdiri atas kerucut dalam yang berwarna putih bersinar dan kerucut luar yang berwarna
biru bening. Oksigen yang diperlukan nyala ini berasal dari udara. Suhu maksimum
setinggi 3300 sampai 3500 oC tercapai pada ujung nyala kerucut.

c) Nyala oksigen lebih (nyala oksidasi)


Bila gas oksigen lebih daripada yang dibutuhkan untuk menghasilkan nyala netral
maka nyala api menjadi pendek dan warna kerucut dalam berubah menjadi ungu. Nyala
ini akan menyebabkan terjadinya proses oksidasi atau dekarburisasi pada logam cair.
Nyala yang bersifat oksidasi ini harus digunakan dalam pengelasan fusion dari kuningan
dan perunggu namun tidak dianjurkan untuk pengelasan lainnya.
Karena sifatnya yang dapat merubah komposisi logam cair maka nyala asetilen
berlebih dan nyala oksigen berlebih tidak dapat digunakan untuk mengelas baja.Suhu
Pada ujung kerucut dalam kira-kira 30000C dan di tengah kerucut luar kira-kira 25000C.

2.4

Cacat las
Dalam setiap proses pengelasan sering kali terjadi cacat pada benda kerja.
Macam-macam cacat yang timbul pada proses pengelasan yaitu :
1. Terak yang tertimbun
Cacat seperti ini dicagah dengan cara :

Tiap lapisan harus benar-benar dibersihkan

Ayunan elektroda jangan lebar

Kecepatan pengelasan harus continue

2. Porosita (gelembung gas)


Cacat ini dapat dicegah dengan cara :

Elektroda gas harus dikeringkan

Gunakan panjang busur yang tepat dan tetap.

Kurangi ecepatan pengelasan

18

Gunakan tipe elektroda yang lain

Gambar 2.18 Porosita

3. Undercut
Dapat dicegah dengan :

Mengurani kuat arus pengelasan

Posisi elektroda arah longitudinal dan tranversal harus tepat

Ayunan elektroda jangan terlalu cepat.

Gambar 2.19 Undercut

4. Hot cracking
Yaitu retakan yang biasa timbul pada saat cairan las mulai membeku kerena
luas penampang yang terlalu kecil dibandingkan dengan besar benda kerja yang
akan di las, sehingga terjadi pendinginan.

5. Cold cracking
Cara mengatasinya dengan menggunakan elektroda las low hidrogen,
disamping pemanasan awal yang akan banyak membantu.

6. Underbread cracking

19

Terjadi karena adanya hidrogen atau pun karena kuatnya konstruksi penguat
sampingan. Dapat di tanggulangi dengan menggunakan elektroda las low
hidrogen atau pemanasan awal benda kerja sampai suhu 1200C.

7. Lack of fussion
Adalah cacat yang antara bahan dasar dengan logam las tidak terjadi
ditanggulangi dengan menambah kuat arus, ayunan las dapat ditambah.

8. Lack of penetratic
Cara penanggulangannya yaitu dengan memilih dan mengganti elektroda
dengan diameter yang cocok serta menambah kuat arus pengelasan.

9. Wearning foult
Adalah timbunan las yang berlebihan diatasi dengan menjaga kontinuitas
kecepatan pengelasan.

10. Qeld spotter


Adalah percikan las yang terlalu banyak.

2.5

Langkah-langkah proses pengelasan

1. Pastikan peralatan dan perlengkapan pengelasan sudah siap semua.


2. Nyalakan generator las, dan atur amperenya sesuai dengan bahan yang akan di
las.
3. Taruh benda yang akan dilas diatas meja kerja las.
4. Posisikan badan yang benar untuksiap melakukan pengelasan,

dilanjutkan

dnegan pengelasan titik terlebih dahulu untuk mengikat awal agar tidak terjadi
deformasi padasaat proses pengelasn berlangsung.
5. Setelah dilas titik, benda kerja dibersihkan terlebih dahulu dari kerak agar saat
proses pengelasan nanti tidak terjadi cacat.
6. Kalau benda kerja sudah dipastikan bersih dari kerak, maka selanjutnya
lakukan proses pengelasan hingga selesai.
7. Kemudian celupkan benda kerja yang telah dilas kedalam air agar
mempercepat proses pendinginan.

20

8. Bersihkan kerak yang menempel pada hasil pengelasn dengan pali las.
9. Agar hasil lebih terlihat bersih, maka bersihkan dengan sikat baja.
10. Proses pengelasan selesai, tinggal melihat hasilnya.
Serta jangan lupa, bersihkan peralatan dan tata rapih lagi perlengkapan
pengelasan agar penggunaan berikutnya mudah.

2.6

Prosedur keselamatan kerja


Untuk menghindari kecelakaan kerja prosedur keselamatan kerja prosedur keselamatan

kerja perlu dilaksanakan antara lain sebagai berikut :


1. Gunakan sepatu pada saat pelaksanaan praktikum.

Gambar 2.20 sepatu


2. Gunakan topeng las saat mengelas

Gambar 2.21 topeng

21

3. Baju praktikum.

Gambar 2.22 baju


4. Hindari kontak/hubungan singkat antara kabel terminal mesin las dalam jangka waktu
yang lama.
5. Gunakan sarung tangan/tang saat mengangkat atau memegang benda kerja yang baru di
las.

22

Gambar 2.23 sarung tangan


6. Jangan bercanda saat praktikum.

23

BAB III
JURNAL PRAKTIKUM

3.1 MAKSUD DAN TUJUAN PRAKTIKUM


-

Mengetahui teknik pengelasan

Mengetahui alat-alat pengelasan

Melatik keterampilan dibidang las busur listrik

3.2 ALAT DAN BAHAN


Alat :
1. Palu
2. Mistar siku
3. Ragum
4. Kikir
5. Sikat kawat
6. Penitik nomor
7. Topeng las
8. Tang
9. Meja las
10. Elektroda
11. Mesin las
Bahan :
1. Besi 30 cm = 1
2. Besi 15 cm = 1
3. Besi 10 cm = 4
3.3 LANGKAH KERJA
1. Siapkan besi yang akan di las
2. Siapkan alat-alat pengelasan
3. Sambungkan 4 besi 10 cm pada besi 15 cm secara mendatar
4. Sambungkan besi yang sudah di las tadi kebesi yang 30 cm secara vertikal
5. Tunggu hinga hasil las dingin
6. selesai

24

3.4 GAMABAR

Gambar 3.1 hasil praktikum

25

3.5 KESIMPULAN
Pengelasan akan sempurna jika semua alat dan bahan dalam kondisi yang baik dan juga
keterampilan dasar seorang pengelas sudah terlatih. Dalam praktikum ini kelompok kami
masih belum memiliki ketrampilan dalam pengelasan dikarenakan belum terbiasa dan kurang
trampil.
Dalam praktikum las kelompok kami membuat garpu sampah menggunakan 1 besi
50cm sebagai gagang, 4 besi 10 cm sebagai gigi garpuh dan 1 besi sebagai penyambung
antara gagang dengan gigi garpuh.

26

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 SOAL
1) Buat sketsa :
a. arc welding
b. gas welding
2) apa yang dimaksud soldering, brazing dan welding.
3) Tuliskan macam las yang saudara ketahui
4) Tulis beberapa sambungan las
5) Apa pengaruh struktur dan kekuatan sambungan las
6) Sebutkan tiga macam penyambungan dan ceritakan keuntungan dan kerugianya
7) Apa yang dimaksud dengan straigh polarity dan reverse polarity dalam pengelasan
8) Apa fungsi dari laisan elektroda pada arc welding
9) Apa yang menyebabkan prous pada pengelasan
10) Sebutkan tiga bagian cara penyetelan api pada las oksiasetilen

4.2 JAWABAN
1. buatlah sketsa :
a. arc welding

27

Gambar 4.1 arc welding


b. gas welding

Gambar 4.2 gas welding

2. apa yang dimaksud :

a. Soldering adalah proses penyambungan dua atau lebih logam dengan melumerkan
dan mengalirkan filler metal (logam pengisi) diantara sendi sambungan, dimana
filler metal memiliki titik lumer yang lebih rendah dari pada logam yang akan
disambung.
b. Brazing adalah adalah proses penyambungan dua atau lebih logam dengan
melumerkan dan mengalirkan filler metal (logam pengisi) diantara sendi
sambungan menggunakan capillary action, dimana filler metal memiliki titik lumer
yang lebih rendah dari pada logam yang akan disambung.
c. Welding proses pengelasan adalah proses penyambungan antara metal atau nonmetal yang menghasilkan satu bagian yang menyatu, dengan memanaskan material
yang akan disambung sampai pada suhu pengelasan tertentu, dengan atau tanpa
penekanan, dan dengan atau tanpa logam pengisi.
3. Tuliskan beberapa macam las yang saudara ketahui
a. SMAW
Menurut Boentarto (1995) elektroda yang digunakan pada las jenis ini adalah
elektroda berselaput. Selaput elektroda tersebut ikut terbakar sehingga mencair dan
menghasilkan gas yang melindungi ujung elektroda kawah las, busur listrik terhadap
pengaruh udara luar. Cairan selaput elektroda yang membeku akan menutupi
permukaan las yang juga berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh luar.
Menurut Edriandi (2004) las SMAW merupakan proses las busur manual dimana
panas pengelasan dihasilkan oleh busur listrik antara elektroda terumpan
berpelindung flux dengan benda kerja. Keuntungan dari las SMAW adalah jenis las

28

yang paling sederhana dan paling serbaguna, karena mudah dalam mengangkut
peralatan dan erlengkapannya.
Hal tersebut membuat proses pengelasan SMAW mempunyai aplikasi refinery
piping hingga pipeline, dan bahkan pengelasan untuk dibawah laut, guna untuk
memperbaiki lokasi yang bisa terjangkau oleh sebatang elektroda. Sambungansambungan pada daerah dimana pandangan mata terbatas masih bisa dilas dengan
cara membengkokkan elektroda.

b. GTAW
Las GTAW atau las TIG adalah las busur dengan tungsten sebagai busur nyalanya.
Busur nyala terjadi antara elektroda tungsten dan benda kerja. Busur las, elektroda
tungsten dan benda kerja dilindungi oleh gas inert dari gangguan udara luar. Titik cair
elektroda tungsten sangat tinggi yaitu 33700C. Gas inert yang digunakan adalah Argon
atau Helium, karena sifat kedua gas tersebut tidak mudah bereaksi secara kimia
dengan unsur lain (Boentarto, 1995).
Menurut Edriandi (2004) las GTAW adalah las yang menggunakan inert gas (gas
mulia) sebagai bahan yang dapat melindungi cairan elektroda dari atmosfir yang dapat
merusak mutu dari pengelasan.
Menurut Boentarto (1995) Keuntungan las GTAW adalah :
1. Hasil pengelasan lebih kuat, lebih tahan terhadap korosi dan tahan pukul.
2. Dapat digunakan untuk mengelas pada segala posisi. Tidak timbul retak
sehingga tidak akan terjadi terak yang terjebak di dalam rigi-rigi las.
3. Pengelasan tidak mengguanakan flux sehingga jalur las tidak perlu
dibersihkan dengan sikat baja. Gas pelindung yang keluar mencegah
pengotoran dari oksigen dan nitrogen yang ada di udara luar terhadap cairan
logam las.
4. Tidak terjadi asap atau nyala api pada daerah las dan cairan logam bersih.
5. Dapat digunakan untuk mengelas semua logam dan segala bentuk
sambungan serta berbagai ketebalan logam.

4. Beberapa jenis sambungan las


1. Sambungan tumbul : dibentuk dua anggota sambungan yang berapa kurang lebih
dalam bidang yang sama didekatkan antara ujung satu sama lainnya. Dapat

29

digunakan dengan atau tanpa persiapan terhadap anggota sambungan yang


memiliki ketebalan yang sama ataupun berbeda.
2. Sambungan sudut : merupakan sambungan las yang dibentuk bila dua anggota
sambungan diposisikan membentuk sudut kurang lebih 90o dengan sambungan las
pada bagian luar anggota sambungan. Umunya digunakan pada konstruksi bejana
tekan dan tangki.
3. Sambungan T : merupakan sambungan las yang dibentuk bila dua anggota
sambungan diposisikan kurang lebih 900 satu sama lain dalam bentuk T. Jika
memungkinkan dilas pada kedua sisinya untuk mendapatkan kekuatan maksimum.
4. Sambungan tumpang : merupakan sambungan las yang dibentuk bila dua anggota
sambungan diposisikan salaing menumpuk satu sama lain. Akan menambah berat
benda, umumnya digunakan untuk penambahan panjang material.
5. Sambungan sisi : merupakan sambungan las yang dibentuk bila sisi dua anggota
sambungan akan disambung. Sisi yang dilas sejajar satu sama lain.

5. Apa pengaruh struktur dan kekuatan sambungan las


Struktur akan berpengaruh pada pertambahan panjang dan juga pertambahan berat
material yang akan dilas.
Kekuatan sambungan las ditentukan oleh cara pengelasn dan pemilihan elektroda
dalam pengelasannya.

6. Sebutkan tiga macam penyambungan dan ceritakan keuntungan dan kerugianya


a. Sambungan tumpang : Lebih kuat dari sambunga tumpul tetapi akan
menambahkan berat material.
b. Sambungan sudut : dapat diperlukan logam pengisi, tetapi tergantung pada desain
dan fungsi sambungan
c. Sambungan T : dapat mendapatkan kekuatan maksimum jika kedua sisinya dilas,
namun akan menambah beban pada material setelah di las.

7. Apa yang dimaksud dengan straigh polarity dan reverse polarity dalam pengelasan

a. Straigh polarity :

Apabila material dasar atau material yang akan dilas

disambungkan dengan kutup positip ( + ) dan elektrodenya disambungkan dengan


kutup negatif ( - ) pada mesin las DC maka cara ini disebut pengelasan polaritas
lurus atau DCSP.

30

b. Reverse polarity :

Dengan proses pengelasan cara ini material dasar

disambungkan dengan kutup negatip ( - ) dan elektrodenya disambungkan dengan


kutup positif ( + ) dari mesin las DC, dan disebut DCRP sehingga busur listrik
bergerak dari material dasar ke elektrode dan tumbukan elektron berada di
elektrode yang berakibat 2/3 panas berada di elektroda dan 1/3 panas berada di
material dasar.

8. Apa fungsi dari laisan elektroda pada arc welding


Cairan selaput elektroda yang membeku akan memutupi permukaan las yang juga
berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh luar
.
9. Apa yang menyebabkan prous pada pengelasan
Cacat Las Porositas adalah salah satu jenis cacat pengelasan yang disebabkan karena
terkontaminasinya logam las dalam bentuk gas yang terperangkap sehingga di dalam
logam las terdapat rongga- rongga.

10. Sebutkan tiga bagian cara penyetelan api pada las oksiasetilen =
a. Nyala asetilen lebih (nyala karburasi)
Bila terlalu banyak perbandingan gas asetilen yang digunakan maka di antara
kerucut dalam dan kerucut luar akan timbul kerucut nyala baru berwarna biru. Di
antara kerucut yang menyala dan selubung luar akan terdapat kerucut antara yang
berwarna keputih-putihan, yang panjangnya ditentukan oleh jumlah kelebihan asetilen.
Hal ini akan menyebabkan terjadinya karburisasi pada logam cair. Nyala ini banyak
digunakan dalam pengelasan logam monel, nikel, berbagai jenis baja dan bermacammacam bahan pengerasan permukaan non-ferous.
b. Nyala netral
Nyala ini terjadi bila perbandingan antara oksigen dan asetilen sekitar satu. Nyala
terdiri atas kerucut dalam yang berwarna putih bersinar dan kerucut luar yang
berwarna biru bening. Oksigen yang diperlukan nyala ini berasal dari udara. Suhu
maksimum setinggi 3300 sampai 3500 oC tercapai pada ujung nyala kerucut.
c. Nyala oksigen lebih (nyala oksidasi)
Bila gas oksigen lebih daripada yang dibutuhkan untuk menghasilkan nyala netral
maka nyala api menjadi pendek dan warna kerucut dalam berubah menjadi ungu.
Nyala ini akan menyebabkan terjadinya proses oksidasi atau dekarburisasi pada logam

31

cair. Nyala yang bersifat oksidasi ini harus digunakan dalam pengelasan fusion dari
kuningan dan perunggu namun tidak dianjurkan untuk pengelasan lainnya.

32

BAB V
KESIMPULAN
1. Untuk mendapatkan hasih pengelasan yang baik dibutuhakn banyak latihan dalam
waktu yang tidak singkat.
2. Dalam mengelas kecepatan pergeseran elaktroda juga akan mempengaruhi hasil
pengelasan. Jika terlalu cepat bidang las tidak akan tertutup sempurna. Jika terlalu
lama akan banyak menimbulkan kerak pada hasil pegelasan
3. Jika elektroda baru akan lebih tidak stabil karena panjang elektroda baru akan
mebuat tangan kita gemetar.
4. Jarah ujung elektroda juga sangat mempengaruhi hasil pengelasn. Jika terlalu dekat
elektroda akan menempel. Jika terlalu jauh elektroda akan mati.

Anda mungkin juga menyukai