Anda di halaman 1dari 43

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No 21 Tahun 2008
tentang Perbankan Syariah, yang dimaksud dengan Perbankan Syariah adalah
segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah,
mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam
melaksanakan kegiatan usahanya. Sedangkan yang dimaksud dengan Bank
Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip
syariah dan menurut jenisnya terdiri dari Bank Umum syariah dan Bank
pembiayaan rakyat syariah.
Pada tahun 1992 awal perkembangan Bank Syariah di Indonesia yaitu
dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Bank-bank Perkreditan
Rakyat Syariah (BPRS). Penduduk Indonesia yang mayoritas beragama muslim
adalah pangsa pasar yang cukup besar. Tidak mengherankan setelah akhir
tahun 2000 kemudian banyak perbankan konvensional yang membuka layanan
perbankan dengan prinsip syariah, seperti Bank Mandiri Syariah, BNI Syariah,
BRI Syariah, BTN Syariah, Bank Danamon Syariah, dan lain-lain yang
menggunakan sIstem perbankan ganda atau Dual Banking System, yaitu
penggunaan perbankan konvensional dan syariah secara paralel. Hal ini termuat
dalam kerangaka Arsitektur Perbankan Indonesia (API) untuk menghadirkan
alternatif jasa perbankan yang semakin lengkap kepada masyarakat Indonesia.
Secara nasional, volume usaha perbankan syariah yang terdiri dari Bank
Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS) dan Bank Pembiayaan Rakyat
Syariah (BPRS) meningkat 34,0% (yoy) dari posisi Rp149,0 triliun pada tahun
1

2011, menjadi Rp199,7 triliun pada tahun 2012. Jumlah bank yang melakukan
kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah pada tahun 2013 bertambah seiring
dengan beroperasinya sejumlah bank syariah baru. Jumlah BUS dan UUS yaitu
sebanyak 11 BUS dan 23 UUS, serta BPRS menjadi 163 BPRS yang 31 di
antaranya berada di wilayah Jawa Timur.
Perkembangan Bank Syariah ini tidak terlepas dari beberapa faktor
pendorong

peningkatan

kinerja

industri

perbankan

syariah

baik dalam

penghimpunan dana maupun penyaluran pembiayaan. Karakteristik yang


membedakan bank syariah dengan bank konvensional yaitu terletak pada
penyediaan jasa atau pada praktek operasional bisnisnya yang berdasarkan
prinsip syariah. Prinsip inilah yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi
masyarakat untuk menjadi nasabah dari bank syariah. Beberapa faktor lain yang
mempengaruhi nasabah dalam meningkatkan kesadaran atau minat untuk
memilih bank syariah yaitu ekspansi jaringan kantor dan kemudahan akses,
banyaknya program edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai
produk-produk bank syariah, upaya peningkatan kualitas layanan perbankan
syariah agar dapat bersaing dengan bank konvensional, dan kepastian hukum.
Perkembangan perbankan syariah ini diarahkan untuk memberikan kontribusi
optimal bagi perekonomian nasional.
Secara makro, perbankan syariah dapat memberikan daya dukung
terhadap terciptanya stabilitas sistem keuangan dan perekonomian nasional
karena produk-produknya tidak bersifat spekulatif sehingga mempunyai daya
tahan yang kuat. Bank syariah lebih dekat dengan sektor riil sehingga
dampaknya lebih nyata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Selain itu
sistem bagi hasil yang diterapkan bank syariah dirasa lebih adil bagi pihak-pihak

terkait, baik pemilik dana, pengusaha sebagai debitur, maupun pihak bank
sebagai pengelola dana.
Bank syariah memiliki potensi keuntungan besar yang kemudian menarik
perhatian bagi negara-negara barat untuk menganut sistem ekonomi islam ini
untuk diterapkan kedalam sistem ekonominya. tidak seperti sistem perbankan
konvensional yang dikenal di negara barat, bank syariah dijalankan sesuai
dengan syariat atau hukum islam. Seperti disebutkan di atas bahwa perbedaan
perbankan konvensional dan perbankan syariah yaitu pada prinsip syariah dan
hukum islam yang digunakan dalam perbankan syariah. Di negara barat, bank
syariah menjadi alternatif sistem perbankan dan dalam perkembangannya bank
syariah tidak hanya menerima nasabah dari kaum muslim namun juga para nonmuslim.
Tidak berbeda dengan negara-negara barat, di Indonesia perbankan
syariah juga tidak hanya diminati oleh masyarakat muslim. Hal ini dibuktikan
dengan banyaknya masyarakat non-muslim yang menjadi nasabah di beberpa
bank syariah. Contohnya dibeberapa Bank Syariah di Kota Kediri seperti Bank
Jatim Syariah, Bank Mandiri Syariah, dan lain-lain merupakan bank yang
nasabahnya tidak hanya terdiri dari kaum muslim. Terdapat banyak faktor yang
menjadi alasan baik bagi masyarakat muslim maupun non-muslim menjadi
nasabah di bank syariah diantaranya, faktor agama, keuntungan (motif profit),
pelayanan dan fasilitas, tingkat keamanan, dan lain-lain. Di antara berbagai
macam kemungkinan motif menjadi nasabah bank syariah pasti terdapat
perbedaan persepsi antara kaum muslim dan non-muslim terhadap pelayanan
yang ada di perbankan syariah.
Tidak dapat dipungkiri bahwa muncul persepsi di masyarakat bahwa
perbankan syariah hanya diperuntukkan pada masyarakat muslim dan tertutup

untuk kalangan non muslim karena adanya fanatisme agama masih kental
terlihat dalam masyarakat. Padahal, sistem bagi hasil merupakan salah satu
elemen penting dari pasar syariah yang sudah lama diterapkan oleh negaranegara di Eropa terutama Inggris. Kemudian mulai timbul kesadaran pada
masyarakat bahwa perbankan syariah bukan hanya menjadi kebutuhan
masyarakat Indonesia tapi juga telah menjadi kecenderungan dunia Internasional
termasuk negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama non muslim.
Kondisi di atas membuat penulis tertarik untuk membuat sebuah
penelitian yang berjudul Analisis Persepsi Nasabah Non-muslim terhadap
Layanan Bank Syariah di Kota Kediri.
1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana persepsi nasabah non muslim terhadap Pelayanan Pada


Bank Syariah di Kota Kediri?

1.3 Tujuan

Mengetahui persepsi nasabah non muslim terhadap Pelayanan Pada


Bank Syariah di Kota Kediri?

1.4 Manfaat
1. Bagi penulis, penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan
serta merupakan salah satu syarat untuk memenuhi Tugas Akhir Bank Indonesia
Kediri.
2. Sebagai data dasar (bench mark data) bagi penelitian selanjutnya.
3. Sebagai bahan masukan bagi pemegang kebijakan yang berkaitan dengan
bank syariah untuk menentukan langkah-langkah pengembangan bank syariah
kedepannya.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Bank Syariah
2.1.1 Pengertian Bank Syariah
Bank syariah adalah bank yang dalam aktivitasnya, baik penghimpun
dana maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan mengenakan
imbalan atas dasar prinsip syariah yaitu jual beli dan bagi hasil. Prinsip utama
operasional bank yang berlandaskan prinsip syariah adalah hukum islam yang
bersumber dari Alquran dan Al Hadits. Kegiatan operasional bank harus
memperhatikan perintah dan larangan dalam Alquran dan Sunnah Rasulullah
SAW. Larangan terutama berkaitan dengan kegiatan bank yang dapat
diklasifikasikan sebagai riba (Susilo,2000).
Perbankan syariah memberikan layanan bebas bunga kepada para
nasabah. Pembayaran dan penarikan bunga dilarang dalam semua bentuk
transaksi. Islam melarang kaum muslim menarik atau membayar bunga (riba).
Pelarangan inilah yang membedakan sistem perbankan Islam dengan sistem
perbankan konvensional. Tujuan utama perbankan dan keuangan Islam ada tiga
yaitu (1) penghapusan bunga dengan prinsip-prinsip Islam. (2) Pencapaian
distribusi pendapatan dan kekayaan yang wajar. (3) Promosi pembangunan
ekonomi (Algaoud, 2001).
Antonio dan Perwataatmadja (1997) membedakan dua pengertian yaitu
bank Islam dan bank yang beroperasi dengan prinsip syariah Islam. Bank Islam
adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam, bank
yang tata cara beroperasinya mengacu kepada ketentuan-ketentuan Alquran dan
Hadits. Sementara bank yang beroperasi sesuai prinsip syariah adalah bank
yang dalam operasinya itu mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam,
khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalat secara Islam. Dikatakan
5

lebih lanjut, dengan tata cara bermuamalat itu dijauhi praktik-praktik yang
dikhawatirkan mengandung unsur riba untuk diisi dengan kegiatan investasi atas
dasar bagi hasil dan pembiayaan perdagangan.
Bank

syariah

sebagai

bank

berdasarkan

prinsip

syariah

wajib

memposisikan diri sebagai uswatun khasanah dalam implementasi moral dan


etika bisnis yang benar atau melaksanakan etika dan moral agama dalam
aktivitas ekonomi. Secara filosofis bank syariah adalah bank yang aktivitasnya
meninggalkan masalah riba. Suatu hal yang sangat menggembirakan bahwa
belakangan ini para ekonom muslim telah mencurahkan perhatian besar guna
menemukan cara untuk mengganti sistem bunga dalam transaksi perbankan dan
keuangan yang lebih sesuai dengan etika Islam (Muhammad, 2005).
Berdasarkan Undang-undang RI No. 21 tahun 2008 mengenai perbankan
syariah, pada pasal 1 ayat 12 disebutkan bahwa prinsip syariah adalah prinsip
hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan
oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa dibidang
syariah.
Dalam kegiatan operasional bank, prinsip syariah adalah aturan
perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk
penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya
yang sesuai dengan syariah, antara lain pembiayaan berdasarkan prinsip bagi
hasil

(mudharabah),

pembiayaan

berdasarkan

prinsip

penyerta

modal

(musyarakah), prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan


(murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni
tanpa pilihan (ijarah), atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas
barang yang disewakan dari pihak bank oleh pihak lain.
Perbankan syariah menurut UU RI No. 21 tahun 2008 pasal 1 ayat 1
adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah atau Unit Usaha
6

Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam
melaksanakan kegiatan usahanya.
Dalam pasal 1 ayat 7 disebutkan bank syariah adalah bank yang
menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut
jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.
Bank syariah atau perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang
dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) Islam.

Asset
Asset perbankan syariah meliputi kas, penempatan dana pada BI,

penempatan pada bank lain, pembiayaan yang diberikan, penyertaan, penyisihan


penghapusan Akitva Produktif, Aktiva Tetap dan Inventaris, serta Rupa-rupa
Akitva. (Banoon dan Malik, 2007)
a) Kas
Uang kartal yang tersedia bagi suatu usaha, terdiri atas uang kertas bank
dan uang logam yang merupakan alat pembayaran yang sah; dalam perusahaan
bukan bank, cek, wesel, dan surat berharga lain yang dapat segera dijadikan
uang diperhitungkan juga sebagai kas.
b) Penempatan
Penanaman dana bank syariah pada Bank Indonesia, bank syariah
lainnya dan atau Bank Pembiayaan Rakyat berdasarkan prinsip syariah, antara
lain dalam bentuk gio dan atau tabungan wadiah, deposito berjangka dan atau
tabungan

mudharabah,

pembiayaan

yang

diberikan,

Sertifikat

Investasi

Mudharabah Antarabank (sertifikat IMA) dan atau bentuk-bentuk penempatan


lainnya berdasarkan prinsip syariah.
c) Pembiayaan

Pembiayaan
pembiayaan

pada

investasi,

bank

syariah

pembiayaan

meliputi

likuiditas,

pembiayaan
pembiayaan

diterima,
konsumtif,

pembiayaan modal kerja, pembiayaan persediaan, dan pembiayaan piutang.


d) Penyertaan
Penanaman dana bank syariah dalam bentuk saham pada perusahaan
yang bergerak dibidang keuangan syariah atau untuk mengatasi kegagalan
pembiayaan dan atau piutang dalam perusahaan nasabah. Hal ini menyebabkan
bank syariah memiliki atau akan memiliki saham pada perusahaan yang
bergerak dibidang keuangan syariah atau pada perusahaan milik nasabah.
2.2 Perbedaan Perbankan Konvensional dan Perbankan Syariah
Perbedaan antara perbankan konvensional dengan perbankan syariah
tidak hanya dibatas pada unsur bunga saja. Jika dilihat atau dianalisis secara
menyeluruh, terdapat banyak perbedaan utama antara kedua sistem perbankan
tersebut yang sekaligus merupakan satu gambaran tentang keutamaan dan
kelemahan masing-masing sistem.
Tabel 1. Perbedaan Bank Syariah dengan Bank Konvensional
No.

Perbedaan

Bank Syariah

Bank
Konvensional

Landasan

Berdasarkan margin keuntungan Menggunakan

Operasional

dan bagi hasil

perangkat bunga

Hubungan Bank Hubungan dengan nasabah dalam Sebatas hubungan


dengan Nasabah

bentuk kemitraan (sejajar)

debitur-kreditur

Penyaluran Dana

Melakukan investasi halal

Investasi

yang

halal dan haram


4

Sistem

Penyaluran dan pengerahan dana Tidak

Pembayaran

harus sesuai dengan pendapat dewan


dari dewan pengawas syariah

memiliki
yang

sejenis ini

Sumber : Antonio, 2001

Tabel 2. Perbedaan Sistem Bunga dan Bagi Hasil


Sistem Bunga

Sistem Bagi Hasil

Penentuan bunga dibuat pada saat

Penentuan besarnya rasio/nisbah

akad dengan asumsi harus untung

bagi hasil dibuat pada waktu akad


dengan berpedoman pada
kemungkinan untung atau rugi

Besarnya persentase berdasarkan

Besarnya rasio bagi hasil

pada jumlah uang (modal) yang

berdasarkan jumlah keuntungan dan

dipinjamkan)

kerugian

Pembayaran bunga tetap seperti yang

Besarnya bagi hasil tergantung pada

dijanjikan tanpa pertimbangan

keuntungan proyek/usaha yang

apakah proyek yang dijalankan oleh

dijalankan nasabah, bila usaha

nasabah untung atau rugi

merugi maka kerugian akan


ditanggung bersama oleh kedua
belah pihak.

Jumlah pembayaran bunga tidak

Jumlah pembagian laba meningkat

meningkat sekalipun jumlah

sesuai dengan peningkatan

keuntungan berlipat atau keadaan

pendapatan

ekonomi sedang booming


Eksistensi bunga diragukan oleh

Tidak ada yang meragukan

semua agama, termasuk Islam

keabsahan sistem bagi hasil

Sumber : Antonio, 2001


2.3 Konsep Bunga di Kalangan Non Muslim

Konsep Riba di Kalangan Hindu dan Budha


Di antara referensi paling tua mengenai riba adalah yang ditemukan pada

naskah keagamaan India kuno sebagaimana disarikan dengan amat baik oleh
Jain (1929) dalam karyanya Indigenous Banking in India. Catatan awal
diturunkan dari teks Vedic India kuno (2000-1400 SM) di mana pemungut riba
(kusidin) disebut berulang kali dan diinterpretasikan sebagai pemberian pinjaman
dengan bunga. Hal ini juga ditemukan pada teks Sutra (700-100 SM), serta
Jatakas dalam Budha (600-400 SM). Pada masa inilah perasaan jijik pada riba

diekspresikan. Misalnya, adanya larangan bagi kasta Brahmana dan Kshatriya


meminjamkan uang dengan memungut bunga. Namun demikian, pada abad
kedua Masehi, riba telah menjadi istilah yang lebih relatif, sebagaimana
termaktub pada Laws of Manu saat itu:Stipulated interest beyond the legal rate
being against [the law], cannot be recovered; they call that a usurious way (of
lending) (Jain, 1929). Dilusi makna riba ini tampaknya terus berlanjut hingga kini,
di mana meskipun secara prinsip masih dikutuk, namun riba hanya merujuk pada
bunga yang diterapkan di atas batas yang diterima masyarakat umum, dan tidak
lagi dilarang atau dikontrol dengan cara yang signifikan.

Konsep Riba di Kalangan Yahudi


Kecaman terhadap riba, yang dalam bahasa Yahudi dikenal sebagai

neshekh, memiliki akarnya dalam beberapa bagian Perjanjian Lama yang


menyatakan

pemungutan

bunga

sebagai hal

yang

dilarang

dan

hina

(Visser,1998), misalkan dalam Keluaran 22: 25 yang menyebutkan: Jika engkau


meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di
antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang
terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. Larangan
mempraktikkan riba juga dimuat dalam Imamat 25: 35-37 yang menyatakan,
Apabila Saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu,
maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya
ia dapat hidup di antaramu. Janganlah
engkau mengambil bunga uang atau riba darinya, melainkan engkau harus takut
akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu. Janganlah engakau
memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu
janganlah kauberikan dengan meminta riba.

10

Konsep Riba di Kalangan Kristen


Meskipun terdapat akarnya dalam agama Yahudi, debat mengenai riba

oleh lembaga-lembaga gereja kristen berlangsung selama lebih dari seribu


tahun.

Pada

abad

keempat

Masehi,

Gereja

Katholik Roma

melarang

pemungutan riba bagi para rohaniwan, aturan yang kemudian diperluas bagi
kalangan awam pada abad kelima. Pada abad kedelapan, di bawah
Charlemagne, mereka bahkan menekan lebih dalam dan mendeklarasikan
pemungutan riba sebagai tindakan kriminal (Visser, 1998).
Seiring dengan perkembangan komersialisasi, gerakan pro-bunga juga
mulai tumbuh. Munculnya protestanisme serta pengaruh prokapitalismenya juga
berhubungan dengan perubahan ini, meskipun harus dicatat bahwa baik Luther
maupun Calvin juga berkeberatan terhadap praktek riba, namun meyakini bahwa
hal semacam itu tidak dapat digeneralisasi dan diterapkan secara universal.
Namun demikian, meskipun larangan riba tidak termaktub secara khusus dalam
Kitab Perjanjian Baru, banyak yang meyakini Lukas 6:34-35 sebagai ayat yang
mengecam praktik pemungutan bunga. Ayat tersebut menyatakan, Dan, jikalau
kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan
menerima sesuatu daripadanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun
meminjamkan kepada orangorang berdosa, supaya mereka menerima kembali
sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada
mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu
akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Tuhan Yang Mahatinggi, sebab
Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap
orang-orang jahat.
2.4 Produk-Produk Perbankan Syariah
1. Al-wadiah (Simpanan)

11

Al-Wadiah merupakan titipan atau simpanan pada Bank Syariah, Prinsip


Al-wadiah merupakan titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik perorangan
maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja bila si
penitip menghendaki. Penerima Simpanan disebut yad al-amanah yang artinya
tangan amanah. Si penyimpan tidak bertanggung jawab atas segala kehilangan
dan kerusakan yang terjadi pada titipan selama hal itu bukan akibat dari kelalaian
atau kecerobohan yang bersangkutan dalam memelihara barang titipan.
Dewasa ini agar uang yang dititipkan tidak menganggur begitu saja, oleh si
penyimpan uang titipan tersebut (Bank Syariah) digunakan untuk kegiatan
perekonomian. Prinsip yad al-amanah (tangan amanah) menjadi prinsip yad
adhdhamanah (tangan penanggung). Mengacu pada prinsip yad adh-dhamanah
bank sebagai penerima dana dapat memanfaatkan dana titipan seperti simpanan
giro dan tabungan, deposito berjangka untuk dimanfaatkan bagi kepentingan
masyarakat dan kepentingan negara.
Konsekuensi dari diterapkannya prinsip yad adh-dhamanah pihak bank
akan menerima seluruh keuntungan dari penggunaan uang, namun sebaliknya
bila mengalami kerugian juga harus ditanggung oleh bank. Sebagai imbalan
kepada pemilik dana di samping jaminan keamanan uangnya juga akan
memperoleh fasilitas lainnya seperti insentif atau bonus untuk giro wadiah.
Artinya bank tidak dilarang untuk memberikan jasa atas pemakaian uangnya
berupa insentif atau bonus dengan catatan tanpa perjanjian terlebih dahulu baik
nominal maupun persentanse dan ini murni merupakan kebijakan bank sebagai
pengguna bank. Pemberian jasa berupa insentif atau bonus biasanya digunakan
istilah nisbah atau bagi hasil antara bank dengan nasabah. Bonus biasanya
diberikan kepada nasabah yang memiliki dana rata-rata minimal yang ditetapkan.
Pada praktiknya nisbah antara bank (shahibul maal) dengan deposan
(mudharib) berupa bonus untuk giro wadiah sebesar 30%, nisbah 40:60 untuk
12

simpanan tabungan dan nisbah 45:55 untuk simpanan deposito.


2. Pembiayaan dengan Bagi Hasil
Penyaluran dana dalam bank konvensional kita kenal dengan istilah kredit
atau pinjaman, sedangkan dalam Bank Syariah untuk penyaluran dana kita kenal
dengan istilah pembiayaan. Kalau bank konvesional keuntungan bank dikenal
dengan bunga dan jika bank syariah dikenal dengan istilah bagi hasil.Prinsip bagi
hasil dalam bank syariah yang diterapkan dalam pembiayaan dapat dilakukan
dalam 4 (empat) akad utama:
a) Al Musyarakah
Al-musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk
melakukan usaha tertentu.
b) Al Mudharabah
Al-mudharabah adalah akad kerja sama antara dua pihak dimana pihak
pertama menyediakan seluruh modal dan pihak lain menjadi pengelola.
Keuntungan dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak.
Apabila rugi, maka akan ditanggung pemilik modal selama kerugian itu bukan
akibat dari kelalaian si pengelola. Apabila kerugian diakibatkan kelalaian
pengelola, maka si pengelola lah yang bertanggung jawab.
Mudharabah dibagi 2 (dua) jenis yaitu:
- Mudharabah Muthlaqah
Mudharabah muthlaqah merupakan kerja sama antara pihak pertama dan
pihak lain yang cakupannya lebih luas. Maksudnya tidak dibatasi oleh waktu,
spesifikasi usaha dan daerah bisnis.
- Mudharabah Muqayyah
Mudharabah

muqayyah

merupakan

kebalikan

dari

mudharabah

muthlaqah di mana pihak lain dibatasi oleh waktu spesifikasi usaha dan daerah
bisnis.
13

Dalam dunia perbankan al-mudharabah biasanya diaplikasikan pada


produk pembiayaan atau pendanaan seperti pembiayaan modal kerja.
c) Al Muzaarah
Al-muzaarah merupakan kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik
lahan dengan penggarap. Pemilik lahan menyediakan lahan kepada penggarap
untuk ditanami produk pertanian dengan imbalan bagian tertentu dari hasil
panen. Dalam dunia perbankan kasus ini diaplikasikan untuk pembiayaan bidang
platation atas dasar bagi hasil panen. Pemilik lahan dalam hal ini menyediakan
lahan, benih, dan pupuk. Sedangkan penggarap menyediakan keahlian, tenaga,
waktu. Keuntungan diperoleh dari panen dengan imbalan yang telah disepakati.
d) Al Musaqah
Al-musaarah adalah bagian dari al-musaarah yaitu penggarap hanya
bertanggung jawab atas penyiraman dan pemeliharaan dengan penggunakan
dana dan peralatan mereka sendiri. Imbalan tetap diperoleh dari persentase hasil
panen pertanian. Jadi tetap dalam kontek adalah kerja sama pengolahan
pertanian antara pemilik lahan dengan penggarap.
3. Baial-murabahah
Baial-murabahah merupakan kegiatan jual beli pada harga pokok dengan
tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam hal ini penjual harus terlebih dulu
memberitahukan harga pokok yang ia beli ditambah keuntungan yang
diinginkannya.
Baial-murabahah ini baru dilakukan setelah ada kesepakatan dengan
pembeli baru kemudian dilakukan pemesanan. Dalam dunia perbankan kegiatan
Baial-murabahah pada pembiayaan produk barang-barang investasi baik dalam
negeri maupun luar negeri seperti Letter of credit atau lebih dikenal LC.
4. Baial-salam

14

Baial-salam adalah pembelian barang yang diserahkan kemudian hari


sedangkan pembayaran dilakukan di muka. Prinsip yang harus dianut adalah
harus diketahui terlebih dulu jenis, kualitas, dan jumlah barang dan hukum awal
pembayaran harus dalam bentuk uang.
5. BaiAl-Istihna
BaiAl-Istihna adalah bentuk khusus dari akad Baias-salam oleh karena
itu ketentuan dalam Baial-istihna mengikuti ketentuan aturan Baias-salam.
Pegertian Baial-istihna adalah kontrak penjualan antara produsen (pembuat
barang). Kedua belah pihak harus saling menyetujui atau sepakat lebih dulu
tentang harga dan sistem pembayaran. Kesepakatan harga dapat dilakukan
tawar-menawar dan sistem pembayaran dapat dilakukan di muka atau secara
angsuran per bulan atau di belakang.
6. Al-Ijarah (Leasing)
Al-Ijarah merupakan akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa
melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan
atas barang itu sendiri. Dalam praktiknya kegiatan ini dilakukan oleh perusahaan
leasing baik untuk kegiatan operating lease maupun financial lease.
7. Al-Wakalah (Amanat)
Al-Wakalah artinya penyerahan atau pendelegasian atau pemberian
mandat dari satu pihak kepada pihak lain.
8. Al-Kafalah (Garansi)
Al-Kafalah merupakan jaminan yang diberikan penanggung kepada pihak
ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. Dapat
diartikan sebagai pengalihan tanggung jawab dari satu pihak kepada pihak lain.
9. Al-Hawalah

15

Al-Hawalah merupakan pengalihan utang dari orang yang berhutang


kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Dalam dunia perbankan dikenal
dengan kegiatan anjak piutang atau Factoring.
10. Al-Rahn
Al-Rahn adalah kegiatan menahan salah satu harta milik si peminjam
sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Kegiatan seperti ini dilakukan
seperti jaminan utang atau gadai.
2.5 Pengertian Nasabah
Menurut Saladin (1994:7) nasabah adalah konsumen-konsumen sebagai
penyedia dana. Sedangkan pengertian nasabah menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (1997: 683) adalah orang yang biasa berhubungan dengan atau
menjadi pelanggan Bank (dalam hal keuangan). Berdasarkan pengertian diatas,
maka untuk penelitian ini yang dimaksud dengan calon nasabah adalah orang
yang akan menjadi tanggungan suatu perusahaan bank dan belum menjadi
nasabah suatu perusahaan bank.
2.6 Konsepsi Teoritik Mengenai Persepsi
Manusia sebagai makhluk individu pada hakekatnya memiliki berbagai
dimensi dalam hidupnya seperti misalnya susunan syaraf, bentuk tubuh, sifat dan
kepribadian yang berbeda satu sama lainnya. Faktor-faktor ini menimbulkan
adanya berbagai macam perbedaan antar manusia.
Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa membutuhkan orang lain
dalam hidupnya. Kebutuhan ini menyebabkan timbulnya kesamaan sikap dan
perilaku yang akan berarti mempersempit variasai antar individu yang satu
dengan individu lainnya.
Manusia akan selalu berhadapan dengan berbagai macam rangsangan
baik yang menyangkut dirinya sebagai individu maupun berkaitan sebagai

16

makhluk sosial. Stimulus ini dapat berupa stimulus fisik, tetapi juga bisa berupa
stimulus non-fisik.
Kotler (2003) mendefinisikan persepsi sebagai perception is the process
by which am individual selected, organized and interprets information inputs to
create a meaningful picture of the world. Sementara Wells dan Prenskey (2000)
mendefinisikan persepsi sebagai perception is the process consumers use to
select stimuli or object in their environment, gather information about them and
interpret the meaning of the information.
Definisi persepsi itu sendiri dapat dilihat dari beberapa definisi persepsi
berikut ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) persepsi adalah: (1)
tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu, serapan dan (2) proses
seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya.
Pengertian persepsi menurut Michael W. Levine & Shefner (2000) yaitu:
persepsi merupakan cara dimana kita menginterpretasikan informasi yang
dikumpulkan (diproses) oleh indera.
2.7 Kerangka Penelitian
Untuk memudahkan pemahaman mengenai keseluruhan rangkaian dari
penelitian ini, maka disusunlah kerangka penelitian ini sebagai berikut:
Pelayanan Bank
Syariah

Persepsi Nasabah Non Muslim


n

2.8 Hipotesis Penelitian


Berdasarkan kerangka pikir diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini
dapat disusun sebagai berikut:
Ho : Pelayanan Nasabah Non Muslim tidak berpengaruh terhadap persepsi Bank
Syariah di Kota Kediri
H1 : Pelayanan Nasabah Non Muslim berpengaruh terhadap persepsi Bank
Syariah di Kota Kediri
17

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang ingin dicapai,
maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Menurut Nazir
(2003:54), penelitian yang menggunakan metode deskriptif adalah:
Untuk meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi,
suatu sistem pemikiran, atau suatu jelas peristiwa pada masa sekarang yang
bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis,
faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar
fenomena yang diselidiki.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa penelitian deskriptif merupakan
penelitian yang digunakan untuk memperoleh gambaran tentang situasi atau
kejadian dengan maksud mengadakan akumulasi data, memberikan deskriptif
atau gambaran mengenai fenomena-fenomena yang terjadi serta mendapatkan
gambaran tentang masalah yang dihadapi.
3.2 Lokasi Penelitian
Untuk memperoleh data tentang persepsi nasabah non muslim terhadap
pelayanan perbankan syariah di Kota Kediri maka penelitian ini dilakukan di Kota
Kediri.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek dan objek
yang mempunyai kualitas dan karekteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2006:25).
Populasi penelitian ini adalah nasabah non muslim Kota Kediri.

18

3.3.2 Sampel
Berbagai metode penentuan sampel merupakan cara-cara untuk
meminimalisir kekeliruan generalisasi dari sampel ke populasi. Metode
pengambilan sampel yang digunakan adalah convenience sampling yaitu sampel
yang dapat ditemui dengan mudah, sebanyak 30 responden. Guilford (1987)
dalam Alimunir (2003) menyebutkan persyaratan minimal untuk sampel adalah
30 responden, semakin besar sampel akan memberikan hasil yang lebih akurat.
Namun karena berbagai keterbatasan, maka pada penelitian ini peneliti
menetapkan jumlah sampel yang akan digunakan sebanyak 30 responden.
3.4 Variabel Penelitian
Variable penelitian adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik
penelitian (Suharsimi, 1999). Obyek penelitian yang dimaksud adalah nasabah
non-muslim yang menjadi nasabah di Bank syariah. Penelitian ini menggunakan
dua macam variabel, yaitu variabel Independent (bebas) dan variabel Dependent
(terikat).
1) Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah pelayanan, dengan
menggunakan indikator berupa fasilitas ATM, Internet Banking dan mobile
Banking, daya tanggap, kelengkapan, dan lokasi.
2) Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah persepsi, yang menunjukkan
kepuasan nasabah terhadap bank syariah dan menunjukan minat untuk menjadi
nasabah di bank syariah.
3.5 Sumber Data
1. Data Primer
Data primer merupakan data asli atau data mentah yang langsung
diperoleh penulis dari sumber data (Sugiono, 2004) selama melakukan penelitian
di lapangan (field research) dalam hal ini, penelitian terhadap nasabah non
muslim di Kota Kediri sebagai objek penelitian dan responden.
19

Data primer ini diperoleh melalui :


a. Kuesioner
Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberi beberapa pertanyaan tertulis kepada responden. Data dari kuisioner
adalah jawaban yang diberikan oleh para responden.
2. Data Sekunder
Data pendukung yang diperoleh dari berbagai tulisan mulai buku, jurnal,
tesis dan sumber-sumber lain yang dapat memperkuat hasil analisa.
3.6 Alat Pengumpulan Data
Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kuesioner. Format
yang digunakan berupa pertanyaan-pertanyaan. Jumlah pertanyaan yang ada di
ambil dari masing-masing item yang diperoleh dari masing-masing indicator
variable, baik variable terikat maupun bebas. Kuesioner diberikan langsung
kepada responden dengan tujuan agar lebih efektif dan efisien menjangkau
jumlah sampel dan mudah member penjelasan terkait dengan pengisian
kuesioner tersebut. Hasil dari masing-masing bagian akan menunjukan faktor
mana yang paling berpengaruh untuk membuat nasabah non muslim lebih
memilih Bank Syariah dan mengetahui pandangan mengenai bank syariah dari
sudut pandang nasabah non muslim Bank Syariah. Variabel di dalam kuesioner
ini menggunakan skala likert, yaitu dengan menjabarkan variabel yang akan
diukur menjadi indikator variabel. Jawaban setiap instrumen mempunyai gradasi
dari yang sangat positif sampai sangat negatif. Gradasi yang digunakan adalah :
a. Sangat setuju

= Skor 5

b. Setuju

= Skor 4

c. Ragu-ragu

= Skor 3

d. Tidak setuju

= Skor 2

e. Sangat tidak setuju = Skor 1


20

3.7 Analisis Data


Analisis Data menurut Hasan ( 2006: 29) adalah memperkirakan atau
dengan menentukan besarnya pengaruh secara kuantitatif dari suatu (beberapa)
kejadian terhadap suatu (beberapa) kejadian lainnya, serta memperkirakan/
meramalkan kejadian lainnya. Kejadian dapat dinyatakan sebagai perubahan
nilai variabel. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang
diperoleh baik melalui hasil kuesioner dan bantuan wawancara.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis
Deskriptif Persentase. Metode ini digunakan untuk mengkaji variabel yang ada
pada penelitian yaitu Pelayanan (X) dan Persepsi (Y). Deskriptif persentase ini
diolah dengan cara frekuensi dibagi dengan jumlah responden dikali 100 persen,
seperti dikemukan Sudjana (2001:129) adalah sebagai berikut:
P = F/N x 100%
Keterangan :
P : Persentase
F : Frekuensi
N : Jumlah responden
100% : Bilangan tetap
Penghitungan deskriptif persentase ini mempunyai langkah-langkah sebagai
berikut:
a. Mengkoreksi jawaban kuesioner dari responden
b. Menghitung frekuensi jawaban responden

21

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Dasar Penelitian dan Jumlah Responden
Di dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kuesioner skala
likert. Disebutkan dalam buku Riduwan (2011,p20) skala likert digunakan untuk
mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang
kejadian atau gejala sosial. Dalam penelitian gejala sosial ini telah ditetapkan
secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut variabel penelitian.
Variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi dimensi, dimensi dijabarkan
menjadi sub variabel kemudian dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator yang
terukur yang dapat dijadikan titik tolak untuk membuat item instrument yang
berupa pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab oleh responden. Jumlah
pertanyaan yang penulis ajukan dalam kuesioner berisi 14 pertanyaan. 14
pertanyaan yang diajukan oleh penulis mengandung komponen Pelayanan Bank
Syariah dan Persepsi Nasabah Non Muslim.
4.2 Karakteristik Responden
Setiap responden memiliki karakteristik yang berbeda. oleh karena itu
perlu

dilakukan

pengelompokan

dengan

karakteristik

tertentu.

Adapun

karakteristik yang digunakan dalam penelitian ini adalah kategori agama, jenis
kelamin, usia, pendidikan, pendapatan dan pekerjaan. Berikut ini hasil
pengelompokan responden berdasarkan kuesioner yang telah di sebar.

22

4.2.1 Karakteristik Agama


Responden yang dipilih di kelompokan berdasarkan agama dalam lima
kelompok yaitu Kristen protestan, katolik, hindu, budha. Untuk mengetahui
proporsi agama dengan jelas dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini.
Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Agama
Agama

Frekuensi

Persentase

(orang)

(%)

Katolik

13

43%

Kristen

14

47%

Hindu

10%

Budha

0%

Jumlah

30

100%

Protestan

Sumber : Data Primer Diolah, 2014


Berdasarkan tabel 4.1, dapat diketahui bahwa

responden

yang

mempunyai jumlah terbanyak berdasarkan agama adalah responden yang


beragama Kristen Protestan 13 orang atau 50% dari keseluruhan responden,
responden yang beragama Katolik sebanyak 14 orang atau 47% dari
keseluruhan responden, dan responden yang beragama hindu sebanyak 3 orang
atau 10% dari keseluruhan responden.

23

4.2.2 Karakteristik Jenis Kelamin


Responden yang terpilih dikelompokan berdasarkan jenis kelamin dalam
dua kelompok yaitu pria dan wanita. Untuk mengetahui proporsi jenis kelamin
dengan jelas dapat di lihat pada tabel 4.2 di bawah ini.
Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis

Frekuensi

Persentase

Kelamin

(orang)

(%)

Pria

27%

Wanita

22

73%

Jumlah

30

100%

Sumber: Data Primer yang Diolah, 2014


4.2.3 Karakteristik Usia
Responden dibagi dalam lima kelompok yaitu kelompok usia < 20 tahun,
kelompok usia 21-30 tahun, kelompok usia 31-40 tahun, kelompok usia 41-50
tahun, kelompok usia > 50 tahun. Untuk mengetahui proporsi usia dengan jelas
dapat di lihat pada tabel 4.3 di bawah ini.
Tabel 5. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Usia

Responden Frekuensi

(tahun)

(orang)

Persentase
(%)

<20

13%

21-30

12

40%

31-40

20%

24

41-50

20%

>50

7%

Jumlah

30

100%

Sumber: Data Primer Diolah, 2014


Berdasarkan tabel 4.3 diatas, diketahui bahwa responden yang
mempunyai jumlah terbanyak berdasarkan karakteristik usia adalah responden
yang berusia <20

tahun sejumlah 4 orang atau 13% dari keseluruhan

responden, responden yang berusia 21-30 tahun sejumlah 12 orang atau 40 %


dari keseluruhan responden, responden yang berusia 31-40 tahun sejumlah 6
orang atau 20% dari keseluruhan responden, responden yang berusia 41-50
tahun sejumlah 6 orang atau 20% dari keseluruhan responden, responden yang
berusia >50 tahun sejumlah 2 orang atau 7% dari keseluruhan responden.
4.1.4 Karakteristik Pendidikan
Responden dibagi dalam enam kelompok yaitu responden yang
berpendidikan SMU, D3, S1, S2, S3, lainnya. Proporsi pendidikan responden
dapat di lihat pada tabel 4.4 di bawah ini:

25

Tabel 6. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan


Pendidikan

Terakhir Frekuensi

Persentase

Responden

(orang)

(%)

SMU

18

60%

D3

13%

S1

13%

S2

3%

S3

0%

Lainnya

10%

Jumlah

30

100%

Sumber: Data Primer Diolah, 2014


Berdasarkan tabel 4.4 diatas, diketahui bahwa responden yang
mempunyai jumlah terbanyak berdasarkan karakteristik pendidikan adalah
responden yang memiliki pendidikan terakhir SMU sebanyak 18 orang atau 60%
dari jumlah keseluruhan. Kemudian pendidikan terakhir D3 dan S1 adalah 4
orang atau 13% dari jumlah responden secara keseluruhan. Responden
berpendidikan terakhir lainnya (SMP) sebanyak 3 orang atau 10% secara
keseluruhan dan S2 sebanyak 1 orang atau 3% dari jumlah responden secara
keseluruhan.
4.1.5 Karakteristik Pendapatan
Responden dikelompokan berdasarkan karakteristik pendapatan di
kelompokan dalam lima kelompok yaitu responden yang berpendapatan <Rp
1.000.000, responden yang berpendapatan antara Rp 1.000.000-Rp 3.000.000,
responden yang berpendapatan antara >Rp 3.000.000-Rp 5.000.000, responden
yang berpendapatan antara Rp >5.000.000-Rp 10.000.000, dan > Rp
10.000.000. Proporsi pendapatan responden dapat di lihat pada tabel 4.5 di
bawah ini.

26

Tabel 7. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan


Tingkat Pendapatan (Rp)

Frekuensi (orang)

Persentase (%)

<Rp 1.000.000

30%

Rp 1.000.000-Rp 3.000.000

13

43%

>Rp 3.000.000-Rp 5.000.000

20%

>Rp 5.000.000-Rp 10.000.000

7%

> Rp 10.000.000

0%

Total

30

100%

Sumber : Data Primer Diolah


Berdasarkan tabel 4.5 di atas di ketahui bahwa, responden yang
mempunyai jumlah terbanyak berdasarkan pendapatan adalah responden yang
memiliki pendapatan antara Rp 1.000.000 Rp 3.000.000 sebanyak 13 orang
atau 43 % dari keseluruhan responden, responden yang memiliki pendapatan
antara <Rp 1.000.000 sebanyak 9 orang atau 30% dari keseluruhan responden,
responden yang memiliki pendapatan >Rp. 3.000.000 Rp 5.000.000 sebanyak
6 orang atau 20 % dari keseluruhan responden. Responden yang memiliki
pendapatan >Rp 5.000.000-Rp 10.000.000 sebanyak 2 orang atau 7% dari
keseluruhan responden.
4.1.6 Karakteristik Pekerjaan
Responden di kelompokan berdasarkan pekerjaan ke dalam enam
kelompok yaitu responden yang berstatus mahasiswa, responden yang bekerja
sebagai Pegawai Negeri Sipil, responden yang bekerja sebagai Pegawai swasta,
Pengusaha, maupun lainnya. Proporsi Pekerjaan responden dapat di lihat pada
tabel 4.6 di bawah ini.

27

Tabel 8. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan


Pekerjaan Responden

Frekuensi (orang)

Persentase (%)

Mahasiswa

30%

PNS

7%

Pegawai Swasta

13%

Pengusaha/Wiraswasta

10%

Ibu Rumah Tangga

30%

Lainnya

10%

Jumlah

30

100%

Sumber: Data Primer Diolah,


Berdasarkan tabel 4.6 diketahui bahwa responden yang mempunyai
jumlah terbanyak berdasarkan pekerjaan adalah Mahasiswa dan Ibu Rumah
Tangga yang masing-masing berjumlah 9 orang atau 30% dari responden
keseluruhan, kemudian peringkat dua adalah responden yang berprofesi sebagai
pegawai swasta sebanyak 4 orang atau 13% dari responden secara
keseluruhan. Kemudian responden yang berprofesi pengusaha/wiraswasta dan
lainnya (bidan) menduduki peringkat tiga berjumlah 3 orang atau 10% secara
keseluruhan, dan PNS berjumlah 2 orang atau 7% secara keseluruhan.
4.3 Hasil Analisis
Pada bagian ini akan dibahas mengenai analisa data berdasarkan hasil
penyebaran kuesioner kepada 30 orang yang terpilih secara random.
Berdasarkan data dari kuesioner tersebut maka dapat diketahui persepsi
nasabah non muslim terhadap layanan perbankan syariah di Kota Kediri.

28

Tabel 9. Hasil Analisis Kuesioner dengan Skala Likert


Persepsi
No.

Uraian Pertanyaan

1
2
3

6
7
8
9

Setuju

Ragu
-ragu

Tidak
Setuju

Sang
at
Tidak
Setuju

10

52

39

104

7%

10

66

88

6%

52

39

98

7%

28

57

95

7%

15

28

54

100

7%

56

42

101

7%

25

48

39

112

8%

36

51

94

7%

10

52

45

107

8%

10

28

63

101

7%

20

69

96

7%

15

52

39

108

8%

10

40

54

104

7%

44

57

101

7%

1409

100%

Sangat
setuju

Prinsip kerja Bank Syariah


tidak sama dengan Bank
Konvensional
Peran
Bank
Syariah
mampu
menggantikan
peran Bank Konvensional
Bank Syariah merupakan
bank yang universal, adil,
transparan, dan seimbang
Bank Syariah merupakan
bank yang mendapatkan
kepercayaan yang tinggi
dari masyarakat
Bank
Syariah
lebih
menguntungkan
dibandingkan
dengan
Bank Konvensional
Bank Syariah memiliki
produk yang variatif
Bank Syariah memiliki
fasilitas ATM
Lokasi ATM yang mudah
dijangkau
Bank Syariah memiliki
pelayanan
internet
banking
dan
mobile
banking
Bank Syariah memiliki
pelayanan yang cepat dan
mudah
Bank Syariah tanggap
dalam
menghadapi
permasalahan nasabah
Karyawan Bank Syariah
ramah dan sopan
Semua jenis formulir yang
diperlukan selalu tersedia
dan mudah diperoleh
Lokasi
Bank
Syariah
mudah dijangkau

Total

Tingkat
Persetujuan

Total

29

Diagram 1. Prinsip Kerja Bank Syariah tidak sama dengan Bank


Konvensional

Prinsip kerja Bank Syariah tidak sama


dengan Bank Konvensional
Sangat setuju

Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

3% 3%
7%

43%

44%

Sumber: Data Primer yang diolah, 2014


Berdasarkan penilaian terhadap persepsi, dapat diketahui bahwa prinsip
kerja Bank Syariah tidak sama dengan Bank Konvensional mendorong saya
untuk menabung di Bank Syariah, pada uraian pertama jawaban mengatakan
setuju dan ragi-ragu sebanyak 43% sedangkan sisanya sebanyak 7% menjawab
sangat setuju dan sisanya 6% menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju.

30

Diagram 2. Peran Bank Syariah mampu menggantikan peran Bank


Konvensional

Peran Bank Syariah mampu


menggantikan peran Bank
Konvensional
Sangat setuju

Setuju

Ragu-ragu
10%

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

3%
7% 7%

73%

Sumber: Data Primer yang diolah, 2014


Selanjutnya, pada uraian kedua diketahui bahwa dasar anda memilih
bank syariah karena peran bank syariah dianggap mampu menggantikan peran
bank konvensional sekitar 73% responden menjawab ragu-ragu. Sedangkan
sisanya sebanyak 10 % menjawab tidak setuju. 7% menjawab sangat setuju dan
sangat tidak setuju dan 3% menjawab setuju.
Diagram 3. Bank Syariah merupakan bank yang universal, adil, transparan,
dan seimbang

Bank Syariah merupakan bank yang


universal, adil, transparan, dan seimbang
Sangat setuju

Setuju

Ragu-ragu

10%

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

3% 0%

44%
43%

31

Sumber : Data Primer yang Diolah, 2014


Pada uraian ketiga, diketahui bahwa sekitar 43% mengatakan setuju dan
ragu-ragu bahwa Bank syariah merupakan bank yang universal, adil, transparan,
dan seimbang. Sedangkan sisanya sebanyak 10% responden menjawab tidak
setuju, 3% responden mengatakan sangat tidak setuju.
Diagram 3. Bank Syariah merupakan bank yang universal, adil, transparan,
dan seimbang

Bank Syariah merupakan bank yang


mendapatkan kepercayaan yang
tinggi dari masyarakat
3% 3%
Sangat setuju

7%
24%

Setuju
Ragu-ragu
Tidak Setuju

63%

Sangat Tidak Setuju

Sumber: Data Primer yang Diolah, 2014


Pada uraian keempat diketahui bahwa sekitar 63% mengatakan raguragu bahwa Bank syariah merupakan bank yang mendapatkan kepercayaan
yang tinggi dari masyarakat, sedangkan sisanya sebanyak 23% responden
menjawab setuju, 7% menjawab tidak setuju, dan 3% menjawab sangat setuju
dan sangat tidak setuju.

32

Diagram 5. Bank Syariah lebih menguntungkan dibandingkan dengan Bank


Konvensional

Bank Syariah lebih menguntungkan


dibandingkan dengan Bank
Konvensional
3% 3%
Sangat setuju

10%

Setuju

24%

Ragu-ragu
Tidak Setuju

60%

Sangat Tidak Setuju

Sumber: Data Primer yang Diolah, 2014


Pada uraian ke lima diketahui bahwa sekitar 60% mengatakan ragu-ragu
bahwa bank syariah

lebih

menguntungkan dibandingkan

dengan bank

konvensional, sedangkan sisanya sebanyak 23% responden menjawab setuju,


10% responden menjawab sangat setuju dan 3% menjawab tidak setuju dan
sangat tidak setuju.
Diagram 6. Bank Syariah memiliki produk yang variatif

Bank Syariah memiliki produk yang variatif


3% 3% 0%
Sangat setuju
Setuju
47%
47%

Ragu-ragu
Tidak Setuju
Sangat Tidak Setuju

Sumber: Data Primer yang Diolah, 2014

33

Berdasarkan penilaian terhadap pelayanan, dapat di ketahui bahwa pada


uraian ke enam jawaban mengatakan setuju dan ragu-ragu bahwa Bank Syariah
memiliki produk yang variatif sebanyak 47 %. Sedangkan sisanya sebanyak 3%
menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju.
Diagram 7. Bank Syariah memiliki fasilitas ATM

Bank Syariah memiliki fasilitas ATM


Sangat setuju

Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

0% 0%
17%
43%

40%

Sumber: Data Primer yang diolah, 2014


Selanjutnya pada uraian ke tujuh diketahui bahwa sekitar 43%
mengatakan ragu-ragu bahwa Bank Syariah memiliki fasilitas ATM, sedangkan
sisanya 40% responden mengatakan setuju, 17% responden menjawab sangat
setuju.
Diagram 8. Lokasi ATM yang mudah dijangkau

34

Lokasi ATM yang mudah dijangkau


Sangat setuju

Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

3% 0%
10%
30%

57%

Sumber: Data Primer yang diolah, 2014


Pada uraian ke delapan diketahui bahwa sekitar 57 % mengatakan raguragu bahwa Lokasi ATM yang mudah dijangkau sedangkan sisanya sebanyak
30% responden menjawab setuju, 10% menjawab tidak setuju, dan 3%
menjawab sangat tidak setuju.
Diagram 9. Bank Syariah memiliki pelayanan Internet Banking dan Mobile
Banking

Bank Syariah memiliki pelayanan


internet banking dan mobile banking
Sangat setuju

Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

0% 0%

7%

50%

43%

Sumber: Data Primer yang diolah, 2014

35

Pada uraian ke sembilan diketahui bahwa sekitar 50% responden


mengatakan ragu-ragu bahwa bank syariah memiliki pelayanan internet banking
dan mobile banking sedangkan sisanya sebanyak 43% responden mengatakan
setuju, dan 7% responden mengatakan sangat setuju.
Diagram 11. Bank Syariah memiliki pelayanan yang cepat dan mudah

Bank Syariah memiliki pelayanan


yang cepat dan mudah
0% 0%
7%
Sangat setuju
23%

Setuju
Ragu-ragu
Tidak Setuju

70%

Sangat Tidak Setuju

Sumber: Data Primer yang Diolah


Sedangkan pada uraian kesepuluh diketahui bahwa sekitar 70%
mengatakan ragu-ragu bahwa Bank Syariah memiliki pelayanan yang cepat dan
mudah, sedangkan sisanya sebanyak 23% responden menjawab setuju, 7%
responden menjawab sangat setuju.

36

Diagram 12. Bank Syariah tanggap dalam menghadapi permasalahan


nasabah

Bank Syariah tanggap dalam


menghadapi permasalahan nasabah
3%

0% 3%
17%

Sangat setuju
Setuju
Ragu-ragu
Tidak Setuju
Sangat Tidak Setuju

77%

Sumber : Data Primer yang Diolah, 2014


Pada uraian kedua belas diketahui bahwa sekitar 77% mengatakan raguragu bahwa Bank Syariah tanggap dalam menghadapi permasalahan nasabah
sedangkan sisanya sebanyak 17% responden setuju, dan 3% responden
menjawab tidak setuju dan sangat setuju.

Diagram 13. Karyawan Bank Syariah ramah dan sopan

Karyawan Bank Syariah ramah dan


sopan
3% 0%
10%

Sangat setuju
Setuju
Ragu-ragu

43%
44%

Tidak Setuju
Sangat Tidak Setuju

37

Sumber: Data Primer yang Diolah, 2014


Pada uraian kedua belas di ketahui bahwa sekitar 43% mengatakan
setuju dan ragu-ragu bahwa karyawan Bank Syariah ramah dan sopan
sedangkan sisanya sebanyak 10% responden sangat setuju, dan 3% responden
menjawab tidak setuju.
Diagram 13. Semua jenis formulir yang diperlukan selalu tersedia dan
mudah diperoleh

Semua jenis formulir yang diperlukan


selalu tersedia dan mudah diperoleh
Sangat setuju

Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

0% 0%
7%
33%
60%

Sumber: Data primer yang diolah, 2014


Pada uraian ketiga belas diketahui bahwa sekitar 60% mengatakan raguragu bahwa semua jenis formulir yang diperlukan selalu tersedia dan mudah
diperoleh sedangkan sisanya sebanyak 33% responden setuju, dan 7%
responden menjawab sangat setuju.
Diagram 14. Lokasi Bank Syariah mudah dijangkau

38

Lokasi Bank Syariah mudah


dijangkau
0%

0% 0%
Sangat setuju
37%

Setuju
Ragu-ragu

63%

Tidak Setuju
Sangat Tidak Setuju

Sumber: Data Primer yang diolah, 2014


Pada uraian keempat belas diketahui bahwa sekitar 63% mengatakan
ragu-ragu bahwa Lokasi Bank Syariah mudah dijangkau sedangkan sisanya
sebanyak 37% responden menjawab setuju.
Berdasarkan hasil pembahasan diatas, diketahui bahwa nasabah non
muslim pada umumnya masih belum mengenal dan mengetahui adanya Bank
Syariah di Kota Kediri. Ketertarikan masyarakat terhadap Bank Syariah juga
tergolong rendah. Hal ini dilihat dari Masyarakat Non Muslim yang masih raguragu dengan produk dan pelayanan yang ditawarkan oleh Bank Syariah.

39

BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya maka didapatkan
kesimpulan sebagai sebagai berikut:
1. Bank syariah adalah bank yang menganut prinsip-prinsip syariah dalam
operasionalnya. Meski demikian bank syariah tidak hanya diperuntukkan
bagi penduduk muslim melainkan juga melayani penduduk non muslim.
Di Kediri misalnya, nasabah bank syariah tidak hanya beragama muslim.
Berdasarkan hasil penelitian mengenai persepsi nasabah non muslim
terhadap pelayanan di bank syariah kota Kediri menunjukkan bahwa
perbedaan prinsip kerja yang diterapkan oleh bank syariah tidak
menghalangi nasabah non muslim untuk menjadi nasabah di bank
syariah. Alasannya, karena bank syariah merupakan bank yang universal
berarti bank syariah tidak hanya ditujukan bagi kaum muslim, adil berarti
system bagi hasil yang diterapkan bank syariah dirasa cukup adil bagi
pihak-pihak yang bekerjasama, transparan, dan seimbang. Namun,
tingkat kepercayaan nasabah non muslim terhadap bank syariah masih
cenderung rendah dan dirasa belum sebaik bank konvensional.
2. Pelayanan dan fasilitas bank syariah diantaranya ATM, internet banking,
dan mobile banking masih belum mampu memenuhi kebutuhan nasabah
karena masih sulit dijangkau. Selain itu produk bank syariah masih
terbatas, kurang variatif, belum cukup lengkap dan keuntungan. Persepsi

40

nasabah non muslim terhadap pelayanan di bank syariah seperti cepat


tanggap dalam mengahadapi permasalahan nasabah.
Saran
Berdasarkan kesimpulan penelitian, ada beberapa saran yang dapat
disajikan sebagai berikut :
1. Meningkatkan fasilitas dan pelayanan serta menambah produk-produk
bank syariah untuk meningkatkan kepercayaan nasabah.
2. Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bank syariah. Hal ini
dapat dicapai dengan cara sosialisasi yang lebih mendalam, membangun
pengetahuan mengenai bank syariah kepada seluruh lapisan masyarakat.
Sosialisasi lebih mendalam dapat dilakukan dengan pemasangan papan
informasi mengenai bank syariah di media elektronik yang sasarannya
adalah kaum pelajar dan pengusaha. Selain itu dapat melalui sosialisasi
secara langsung dengan sarana atau bantuan tokoh agama yang
sasarannya

adalah

kelompok-kelompok

agama.

Kemudian

dapat

dilakukan dengan cara sosialisasi langsung pada kegiatan-kegiatan


warga

misalnya

arisan,

perkumpulan

ibu-ibu/bapak-bapak

yang

sasarnnya adalah masyarakat awam. Terakhir melalui ajakan di sekolahsekolah yang sasarannya adalah siswa dan orang tuanya.

41

DAFTAR PUSTAKA
Akbar, Harviz & Ritonga, H.D.H. 2013. Persepsi etnis China terhadap
perbankan syariah di kota Medan. Jurnal ekonomi dan keuangan, Vol.1, (No.2).
Alamsyah, Halim. ______. Perkembangan dan Prospek Perbankan
Syariah Indonesia: Tantangan dalam Menyongsong MEA 2015. ______:Ikatan
Ahli Ekonomi Islam (IAEI).
Andrew. ______. Bank Syariah. ______:STIE MDP
Ariani, Dian. 2007. Persepsi Masyarakat Umum terhadap Bank Syariah di
Medan. Medan: Program Pascasarjana USU.
Bank Indonesia. 2012a. Laporan Perkembangan Perbankan Syariah.
Bank Indonesia. 2012b. Outlook Perbankan Syariah Tahun 2013.
Cahyani, P.D. 2011. Tingkat Kepuasan Nasabah terhadap Kualitas Kinerja
Perbankan Syariah : Studi Pada Bank Muamalat Indonesia, BNI Syariah, BTN
Syariah dan BPD DIY Syariah Cabang Yogyakarta. Yogyakarta: Program
Pascasarjana UIN Sunankalijaga.
Dini, A.W. 2007. Analisis Preferensi Nasabah Bank Syariah Di Kota
Surakarta. Fakultas pertanian: UNS.
Hamidi, Jazim dkk. ______. Persepsi Sikap Masyarakat Santri Jawa
Timur terhadap Bank Syariah. ______.______.
Hutabarat, Sakti. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan
Masyarakat Menjadi Nasabah Bank Syariah di Pekanbaru. Pekanabaru:
Universitas Riau.
Machmudah, R. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Nasabah
Non Muslim Menjadi Nasabah di Bank Syariah: Studi Pada Bank CIMB Niaga
Syariah Cabang Semarang. Semarang: Institut Agama Islam Negeri Walisongo.
Muallim, Amir. 2003. Persepsi masyarakat terhadap lembaga keuangan
syariah. Al-Mawarid edisi X.

42

Mutasowifin, Ali. 2003. Menggagas Strategi Pengembangan Perbankan


Syariah di Pasar Non Muslim. Jurnal Universitas Paramadina, Vol.3, (No.1), 2539.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Perbankan Syariah.
Wiroso. 2011. Produk perbankan syariah. Jakarta: LPFE Usakti.
Yupitri, Evi & Sari, R.L. 2012. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Non Muslim Menjadi Nasabah Bank Syariah Mandiri di Medan. Jurnal ekonomi
dan keuangan, Vol.1, (No.1).

43