Anda di halaman 1dari 9

Definisi

Istilah "otitis media" dibagi menjadi dua subklasifikasi utama: OME dan OMA.
OME adalah adanya efusi telinga tengah tanpa tanda atau gejala infeksi. Sebelumnya,
OME disebut otitis media serosa atau sektretorial. "The American Academy of Pediatrics
(AAP) telah mendefinisikan OMA sebagai infeksi telinga tengah akut dengan onset akut,
efusi telinga tengah, serta tanda dan gejala peradangan telinga tengah akut.
Disebut OMA gagal pengobatan jika tidak adanya perbaikan tanda dan gejala
dalam waktu 48 hingga 72 jam setelah dimulainya terapi antibiotik. OMA berulang
adalah jika terjadi episode OMA 3 dalam 6 bulan sebelumnya atau 4 dalam 12 bulan
sebelumnya. OME yang berlangsung lebih dari 3 bulan disebut otitis media kronis atau
otitis media kronis dengan efusi. Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) didefinisikan
sebagai cairan telinga purulent dengan perforasi membran timpani kronis yang
berlangsung lebih dari 6 minggu.
Epidemiologi
Pemberian antibotik pada anak-anak di Amerika serikat paling sering disebabkan
oleh OMA, sehingga OMA menjadi kontributor utama dalam masalah bakteri-resistenantibiotik. Di seluruh dunia, kematian anak usia < 5 tahun akibat otitis media mencapai
50.000 kasus per tahun dikarenakan komplikasi dari OMSK.
Di Amerika Serikat, insidensi OMA paling banyak terdapat di musim dingin pada
anak usia 6-18 bulan.
Faktor resiko OME atau OMA akut atau kronik
Usia < 2 tahun
Alergi
Penggunaan empeng
Sinusitis kronik
Disfungsi silia
Bibir sumbing dan anomali kraniofasial
Anak yang sering di bawah ke tempat penitipan anak
Sindrom Down dan kondisi genetik lainnya
Episode pertama OMA saat usia di bawah 6 bulan.
Patogenesis
Normalnya di dalam ruang telinga tengah terdapat tekanan yang sedikit negatif.
Tekanan negatif ini dikeluarkan secara periodik dengan cara pembukaan tuba eustachius
selama kegiatan seperti menguap dan mengunyah. Gangguan pada fungsi tuba eustachius
merupakan mekanisme awal yang memicu otitis media. Gangguan tersebut dapat bersifat
sementara seperti yang terjadi selama ISPA;gastroesophageal reflux;rhinitis alergi, atau
dapat bersifat permanen, seperti yang terjadi pada anomali kraniofasial (bibir sumbing).

Setelah terganggu, tuba eustachius tersebut kurang mampu menyamakan perbedaan


tekanan di telinga tengah, sehingga tekanan di dalam telinga tengah semakin negatif yang
dapat menyebabkan aspirasi isi di dalam nasofaring ke telinga yang kemudian
menyebabkan inflamasi. Selain itu, tekanan negatif tersebut juga dapat meningkatkan
permeabilitas vaskular sehingga menyebabkan efusi. Gangguan fungsi tuba selama ISPA
akan terjadi lebih berat pada anak usia < 2 tahun.
Koinfeksi dengan virus ISPA meningkatkan kemampuan bakteri patogen untuk
menempel dan naik dari nasofaring ke telinga tengah melalui tuba eustachius. Selain itu,
virus dapat mempengaruhi respon imun lokal host. Virus yang paling sering menjadi
penyebab otitis media adalah adenovirus, RSV dan coronavirus.
Pada tes PCR atau kultur telinga tengah yang didapatkan sampelnya dari
timpanosintesis, bakteri paling banyak ditemukan, kemudian selanjutnya virus.
Bakteri patogen yang terdapat pada kultur telinga tengah tersebut yang paling
sering ditemukan adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae
nontypeable, Moraxella catarrhalis, dan S pyogenes (kelompok A Streptococcus).
Presentasi
Riwayat Penyakit
OME umumnya didahului oleh salah satu pemicu yang disebutkan sebelumnya
(ISPA, rhinitis alergi, gastroesophageal reflux). Gejala paling sering ditemui pada OME
adalah gangguan pendengaran ringan.
OMA dapat dibedakan dari OME dengan adanya tanda inflamasi, khususnya
otalgia dan demam.
Pemeriksaan Fisik
Diagnosis OME atau OMA ditegakan dengan ditemukannya cairan di telinga
tengah, dan tanda inflamasi untuk membedakan OME dan OMA. Pada OME, membran
timpani terlihat opaque atau keruh, retraksi, dan dapat ditemukan air fluid level atau air
bubles di dalam telinga tengah. Pada OMA, cairan telinga tengah terlihat opaque,
membrana timbani berwarna merah atau hitam kekuningan dan bulging.
Otoskopi pneumatik merupakan metode terbaik untuk mendiagnosis adanya
cairan di dalam telinga tengah. Selain itu, bisa juga menggunakan timpanometri dan
akustik reflektometri.
Mikrobiologi OMA
S pneumoniae
S pneumoniae ditemukan di nasofaring pada kira-kira 50% dari anak-anak yang
ditempatkan pada tempat penitipan anak dan kira-kira-kira 5% sampai 10% dari orang
dewasa
Kaiser Permanente mempelajari menggunakan teknik
double-blind yang
melibatkan 37.868 anak-anak yang secara acak menerima PCV7 atau plasebo
2

menunjukkan bahwa anak-anak yang menerima PCV7 terkena otitis media berkurang
sebesar 7,8%, penurunan pengunaan antibiotik sebesar 5,7%, dan penurunan penggunaan
tympanostomy tube placements sebesar 24%. Bagi anak-anak yang menderita OMA
berulang, PCV7 mengurangi risiko tiga kali kekambuhan sebesar 10%.
Nontypeable H influenzae
Nontypeable H influenzae paling sering ditemukan pada OMA berulang atau
OMA dengan kegagalan pengobatan. Patogen ini terdapat pada telinga tengah dan
konjungtiva pada remaja dan telah ditemukan baru-baru ini pada bayi dengan usia 2
bulan.
M catarrhalis
M catarrhalis telah diisolasi dari kultur telinga tengah anak-anak yang memiliki
OMA. M catarrhalis menyebabkan sekitar 4 sampai 5 juta dari jumlah 25 juta kejadian
OMA setiap tahun di Amerika Serikat. Organisme ini lebih sering ditemukan pada tahun
pertama setelah kelahiran.
S pyogenes (Group A Streptococcus)
Infeksi S pyogenes paling sering terjadi pada anak-anak yang lebih tua dari usia 5
tahun. OMA disebabkan oleh S pyogenes ditandai dengan usia yang lebih tua dan
penyakit yang lebih agresif serta kemungkinan membrane timpani perforasi dan
mastoiditis lebih tinggi.
S agalactiae (Group B Streptococcus)
S agalactiae terutama ditemukan pada neonatus dan bayi muda.
S aureus
Studi terbaru menujukan peningkatan insidensi S.aureus pada OMA rekuren
setelah penggunaan PCV7. Selain itu, MRSA juga meningkat pada anak otorhea akut
yang dilakukan tympanostomy tube.
Basil tahan asam gram negatif
Dalam sebuah studi terbaru yang dilakukan di Israel, basil gram negatif terisolasi
dalam kultur cairan telinga bagian tengah dari bayi yang memiliki OMA dalam 2 bulan
pertama setelah kelahiran termasuk Klebsiella pneumoniae (3,9%), Escherichia coli
(2,7%), Pseudomonas aeruginosa (2.3 %), Enterobacter (1,1%), dan Proteus (0,4%).

Bulosa Myringitis

Patologi mikroba myringitis bulosa mirip dengan OMA. Dalam sebuah penelitian,
virus pernapasan terdeteksi pada 70% sampel aspirasi nasofaring dan di 27% dari sampel
cairan telinga tengah.
Otitis Media Ssupuratif Kronik
OMSK didefinisikan sebagai pengeluaran sekret/ cairan melalui membran timpani
yang perforasi (berlubang) lebih dari 6 minggu meskipun perawatan yang tepat untuk
OMA telah diberikan. Patogen yang paling sering ditemukan pada telinga anak-anak yang
lebih tua yang memiliki OMSK adalah P aeruginosa, enterik gram negatif basil lain, dan
S aureus, termasuk MRSA.
Pengelolaan OMA
Dua puluh empat jam setelah diagnosis, 61% dari anak-anak yang memiliki OMA
mengalami perbaikan gejala, walau menerima plasebo atau antibiotic. Pada satu minggu
mereka mengalami resolusi.
Kekhawatiran tentang masalah resistensi antibiotik, dampak negatif antibiotik,
dan efek marginal antibiotik dalam mengobati OMA tanpa komplikasi atau OME di
Amerika membuat sebagian orang merekomendasikan observasi klinis selama 48 jam
sambil memberikan obat pereda. Jika pasien tidak lebih baik setelah 48 sampai 72 jam,
antibiotik lini pertama diresepkan. AAP memberikan rekomendasi untuk "watchfull
waiting" selama 48 sampai 72 jam, yang meliputi mengontrol rasa nyeri dengan
ibuprofen atau acetaminophen dan agen topikal seperti benzokain.
Pedoman AAP menyatakan bahwa keputusan untuk observasi atau diobati
didasarkan pada usia anak, kepastian diagnosis, dan tingkat keparahan penyakit. Disebut
penyakit tidak parah bila terdapat otalgia(nyeri telinga) ringan dan suhu kurang dari
39,0C dalam 24 jam terakhir. Diagnosis pasti OMA harus memenuhi ketiga kriteria ini:
onset cepat, tanda efusi telinga tengah serta tanda dan gejala dari inflamasi telinga
tengah.
Usia
< 6 bulan
6 bulan sampai dengan 2 tahun
>2 tahun

Diagnosis pasti
Terapi antibiotika
Terapi antibiotika

Diagnosis belum pasti


Terapi antibiotika
Terapi antibiotika bila penyakit
parah dan observasi bila penyakit
ringan
Observasi saja

Antibiotik bila penyakit


parah , observasi bila
penyakit ringan
Tabel 1. Kriteria untuk pemberian Antibiotika awal atau observasi pada anak anak yang
menderita Otitis Media Akut

AAP merekomendasikan penggunaan amoksisilin 90 mg / kg per hari dua kali


sehari (Tabel 2) untuk terapi awal OMA. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa
4

program antibiotik lebih pendek dari 10 hari efektif pada anak-anak berisiko rendah yang
memiliki penyakit ringan. Mereka yang mungkin dapat diobati dengan singkat (5 sampai
7 hari) adalah anak-anak usia 6 tahun dan lebih tua yang memiliki MT utuh dan tidak
punya OMA dalam waktu 1 bulan dari diagnosis. Untuk anak-anak muda dan anak-anak
yang memiliki penyakit parah, yang dianjurkan adalah 10 hari. Semua antibiotik oral,
dengan pengecualian azitromisin, harus disesuailkan dengan usia pasien dan tingkat
keparahan penyakit.
Penelitian juga menunjukkan bahwa dosis tunggal ceftriaxone parenteral (50 mg /
kg per hari) sama efektifnya dengan pemberian terapi antibiotik oral dosis penuh dalam
kasus-kasus tanpa komplikasi OMA. Untuk pasien yang menderita rasa sakit yang berat
dan suhu lebih dari 39,0 C, dosis tinggi amoksisilin-klavulanat (90 mg / kg per hari
amoksisilin, 6,4 mg / kg per hari klavulanat) dianjurkan sebagai terapi pengobatan. Untuk
awal kegagalan klinis terapi antibiotic hari ke -3, AAP merekomendasikan dosis tinggi
amoksisilin-klavulanat (90 mg / kg per hari amoksisilin, 6,4 mg / kg per hari klavulanat)
atau ceftriaxone intramuskular selama 1 sampai 3 hari. Dosis harian ceftriaxone selama 3
hari lebih efektif daripada hanya diberikan sekali. Terapi lini kedua juga dianjurkan jika
diduga penyebabnya adalah organisme produksi beta-laktamase (seperti nontypeable H.
influenzae atau M. catarrhalis). Untuk OMA yang disebabkan S. pneumoniae resisten
penicillin diberikan amoksisilin selama 10 hari dosis tinggi (90 mg / kg per hari) dua kali
sehari atau tiga rejimen dosis cetriaxone (50 mg / kg per hari) telah terbukti berkhasiat.
Untuk pasien yang memiliki alergi penisilin tipe I (urtikaria, spasme laring,
mengi, anafilaksis), AAP merekomendasikan penggunaan azalides atau makrolid seperti
azythromycin (15 mg / kg per hari pada hari 1 diikuti dengan 5 mg / kg per hari selama 4
hari dengan dosis harian tunggal) dan klaritromisin (15 mg / kg per hari dibagi dalam dua
dosis selama 10 hari atau selama 5 sampai 7 hari jika usia 6 tahun dan sakitnya ringansedang). Namun, sebagian besar organisme S. pneumoniae resisten terhadap obat ini.
Pasien yang sakitnya berat harus diberikan kombinasi clindamycin (30 sampai 40
mg / kg per hari dibagi dalam tiga dosis) untuk S. pneumonia dan sulfisoxazole untuk
nontypeable H. influenza.Pasien yang memiliki alergi penisilin nontipe I diberikan
sefalosporin oral seperti cefdinir (14 mg / kg per hari dibagi dua kali sehari atau sekali
sehari, diberikan 5 sampai 10 hari), cefuroxime (30 mg / lg per hari dua dosis terbagi),
cefpodoxime (10 mg / kg per hari sekali sehari), atau ceftriaxone intramuskular (50 mg /
kg selama 1 sampai 3 hari).

Untuk pasien yang


ditangani awal

Gagal pengobatan pada


48-72 jam setelah

Gagal pengobatan pada 4872 jam setelah manajemen


5

Temperat
ur
39.0C
dan/atau
otalgia
berat

Tidak

Ya

menggunakan
antibakteria
Rekomend Alternatif
asi
untuk
alergi
penisilin
Amoksisilin Non tipe I:
80-90
cefdinir,
mg/kg per
cefuroxime,
hari
cefpodoxim
e
Tipe I:
azithromyci
n,
clarithromy
cin
Amoksisilin Ceftriaxone
90 mg/kg
1 atau 3 hari
per hari +
clavulanate
6,4 mg/kg
per hari

manajemen awal dengan


observasi
Rekomend Alternatif
asi
untuk
alergi
penisilin
Amoksisilin Non tipe I:
80-90
cefdinir,
mg/kg per
cefuroxime,
hari
cefpodoxim
e
Tipe I:
azithromyci
n,
clarithromy
cin
Amoksisilin Ceftriaxone
90 mg/kg
1 atau 3 hari
per hari +
clavulanate
6,4 mg/kg
per hari

awal dengan antibakteria


Rekomend
asi

Alternatif
untuk alergi
penisilin

Amoksisilin
90 mg/kg
per hari +
clavulanate
6,4 mg/kg
per hari

Non tipe I:
ceftriaxone 3
hari
Tipe I:
clindamycin

Ceftriaxone
3 hari

Tympanocente
sis,
clindamycin

Tabel 2 . Antibiotika rekomendasi untuk Otitis Media Akut


Untuk membantu pemilihan antibiotik, tympanocentesis dianjurkan baik untuk
keperluan diagnostik dan terapi untuk pasien yang sakitnya berat dan yang telah gagal
pengobatan antibiotik lini kedua atau bagi mereka yang telah gagal pengobatan lini
pertama dan yang juga memiliki alergi penisilin. Tympanocentesis juga harus
dipertimbangkan untuk pasien yang sakitnya berat, pasien immunocompromised,
neonatus yang usianya lebih muda dari 2 minggu, dan pasien yang telah refrakter
terhadap pengobatan. Selain itu, beberapa ahli merekomendasikan tympanocentesis pada
bayi OMA yang berusia kurang dari 2 bulan untuk mengidentifikasi organisme penyebab
dan target terapi antibiotik yang lebih akurat.
Relaps dan rekuren merupakan perkembangan OMA setelah respons gejala awal
terhadap pengobatan antibiotik atau dalam beberapa jangka waktu tertentu setelah selesai
terapi.Pichichero dan rekan mendefinisikan OMA rekuren sebagai terdapatnya tiga
episode OMA dalam 6 bulan terakhir atau empat episode dalam 12 bulan terakhir.AAP
merekomendasikan bahwa pengobatan OMA rekuren diberikan dalam waktu 30 hari
memerlukan penggunaan antibiotik spectrum luas seperti ceftriaxone atau amoksisilinklavulanat dosis tinggi untuk mengurangi potensi patogen resistan terhadap obat.AAP
merekomendasikan amoksisilin-klavulanat dosis tinggi atau cefuroxime, cefpodoxime,
cefdinir, atau ceftriaxone untuk pasien gagal pengobatan atau yang baru saja diobati

dengan amoksisilin dosis tinggi.Antibiotik ini memiliki efektivitas tinggi terhadap bakteri
produksi beta-laktamase seperti nontypeable H influenzae dan S pneumoniae
nonsusceptible.
Indikasi untuk Mengubah Antibiotik
Indikasi umum untuk mengubah terapi antibiotik selama pengobatan OMA
meliputi menetapnya atau berulangnya sakit telinga atau demam atau keduanya setelah 2
sampai 3 hari terapi atau bila terdapat potensi untuk menjadi komplikasi supuratif.
Seorang pasien yang gagal terapi amoxicillin-clavulanate harus diobati dengan
ceftriaxone parenteral selama 3 hari karena efektivitasnya yang lebih baik terhadap S
pneumonia dibandingkan dengan pemberian oral. AAP merekomendasikan bahwa jika
OMA tetap bertahan, tympanocentesis harus dilakukan untuk membuat diagnosis
bakteriologis. Jika tympanocentesis tidak dapat dilakukan, pemberian klindamisin dapat
dipertimbangkan untuk kasus infeksi pneumokokal resisten penisilin yang jarang terjadi.
Jika pasien gagal untuk respon terhadap klindamisin, tympanocentesis diperlukan.
Profilaksis Antimikroba untuk Otitis Media Rekuren
Beberapa studi telah menunjukkan bahwa profilaksis antibiotik mengurangi
jumlah kasus OMA dan OME. Namun, manfaat tersebut berumur pendek karena sebagian
besar anak-anak yang rawan terjadi otitis terus memiliki episode berulang setelah
profilaksis antibiotik dihentikan. Selain itu, timbul masalah yang signifikan akibat
penggunaan profilaksis antibiotik yaitu potensi otopathogens menjadi resistan terhadap
obat yang bisa menyulitkan manajemen episode baru OMA.
Oleh karena itu, manajemen episode baru dari OMA bagi anak yang menerima
profilaksis antimikroba, harus mencakup pengobatan oral antimikroba yang berbeda
dengan yang digunakan untuk profilaksis. Jika seorang anak telah memiliki setidaknya
tiga episode OMA dalam 6 bulan atau empat episode dalam 12 bulan, ia dapat dianggap
sebagai kandidat potensial untuk kemoprofilaksis. Sebagian besar penelitian yang
dipublikasi yang menunjukkan manfaat penggunaansetengah dosis amoksisilin atau
sulfonamid sekali sehari untuk mengobati OMA. Jika kemoprofilaksis dicoba, biasanya
diberikan selama 6 bulan, idealnya sepanjang musim dingin dan musim semi, ketika virus
respiratori paling banyak.
Komplikasi supuratif
Komplikasi supuratif paling umum dari OMA adalah mastoiditis. S
pneumoniae ,S pyogenes, dan nontypeable H influenzae merupakan patogen yang paling
umum yang menyebabkan mastoiditis akut. Labyrinthitis akut merupakan komplikasi
supuratif laindari OMA. Komplikasi yang jarang terjadi pada OMA meliputi petrositis
(lanjutan infeksi ke bagian petrosa dari tulang temporal, yang mengakibatkan
osteomyelitis);meningitis; abses otak; abses epidural; dan hidrosefalus otitis karena
thrombosis pada sinus transversus, lateral, sigmoid.
7

OMSK
OMSK adalah suatu kondisi yang sulit untuk diobati karena pasien sering gagal
untuk merespon pengobatan standar antibiotik topical dan sistemik. Antibiotik kuinolon
topikal (seperti ciprofloxacin) lebih efektif daripada antibiotik kuinolon sistemik dalam
mengeradikasi cairan telinga dan bahwa antibiotic kuinolon tanpa kortikosteroid topikal
sama hasilnya dengan antibiotik nonkuinolon tanpa kortikosteroid topical
Berbeda dengan aminoglikosida topikal yang ototoksik, ciprofloxacin topikal
tidak ototoksik dan umumnya ditoleransi dengan baik. Selain itu, penggunaan antibiotik
topikal menyerap konsentrasi tinggi pada lokasi infeksi tanpa menyebabkan efek samping
sistemik dan jarang cenderung untuk menjadi bakteri-resisten-obat. Namun, antibiotik
topikal tidak bekerja dengan baik bila terdapat cairan purulen dan kotoran yang belebihan
pada saluran telinga. Oleh karena itu, dianjurkan untuk membersihkan kanal eksternal
sebelum diberikan antibiotik topikal.
OMA Pada Neonatus
OMA yang didiagnosis pada 6 minggu pertama kelahiran membutuhkan evaluasi
hati-hati dan tindak lanjut karena risiko penyakit invasif dan resiko yang lebih tinggi
untuk terjadi OMA rekuren pada neonatus. Terapi awal untuk neonatus yang demam yang
di diagnosis OMA dalam 2 minggu pertama kelahiran mirip dengan sepsis neonatal.
Pasien tersebut dapat diobati dengan antibiotik oral yang sesuai (amoksisilin) sebagai
pasien rawat jalan. Kultur darah dan cairan serebrospinal, antibiotik parenteral, dan rawat
inap diberikan untuk bayi yang memiliki OMA dan terlihat toksik pada pemeriksaan
karena kemungkinan terjadinya infeksi sistemik.
Manajemen OME
Angka kejadian penyembuhan spontan OME tinggi. Ketika terjadi OME setelah
epidose OMA, lebih dari 75% kasus sembuh dalam 3 bulan. Kebijakan AAP pada OME
merekomendasikan untuk menunggu 3 bulan setelah terdiagnosis karena kerugian dari
OME adalah sedikit bila dibandingkan dengan kemungkinan bahaya dari pengobatan.
Orang tua harus memahami bahwa anak mungkin mengalami gangguan pendengaran
sementara ketika efusi masih ada, tetapi efusi dapat menyebabkan efek minimal terhadap
perkembangan bahasa anak. Faktor risiko sehingga terjadi efusi persisten adalah OME
yang durasinya lama, onset OME di musim panas atau musim gugur, hilangnya
pendengaran, riwayat penggunaan selang tympanostomy, dan memiliki adenoid yang
intak.
Sayangnya, terapi untuk penanganan efusi yang menetap lebih dari 3 bulan
terbatas. Antihistamin, dekongestan, dan kortikosteroid intranasal tidak pernah
efektif.Antibiotik menghasilkan perbaikan sementara tapi belum terbukti memiliki
manfaat jangka panjang.Kortikosteroid oral tidak memiliki pengaruh ketika digunakan
tanpa kombinasi, tetapi percobaan kecil telah menunjukkan perbaikan jangka pendek
ketika kortikosteroid oral digabungkan dengan antibiotik.Pemberian antibiotik selama 108

14 hari tunggal atau kombinasi dengan kortikosteroid oral, merupakan upaya untuk
mencegah operasi, tapi risiko yang terkait dengan terapi harus dipertimbangkan terhadap
kurangnya manfaat jangka panjang.
Ketika OME berlangsung lebih dari 3 bulan atau terjadinya gangguan
pendengaran sedang sampai berat, keterlambatan bahasa atau keterlambatan
perkembangan mental harus diperhatikan, pendengaran anak harus dievaluasi.Hilangnya
pendengaran jangka pendek dan keterlambatan bahasa merupakan hasil dari efusi
persisten, tapi kondisi ini kebanyakan sembuh tanpa manajemen tambahan pada sebagian
banyak anak.
Seorang anak yang memiliki derajat apapun pada gangguan pendengaran harus
diskrining untuk keterlambatan bahasa.
Anak-anak yang memiliki pendengaran normal meskipun adanya efusi persisten
harus dievaluasi kembali setiap 3 sampai 6 bulan. Pemeriksaan fisik harus fokus pada
pengawasan MT dan telinga tengah, khusus untuk membuktikan adanya retraksi (dengan
atau tanpa debris keratin), erosi pada tulang, atau atrofi MT. Otoscopy pneumatic dan
tympanometry harus digunakan untuk mengetahui adanya efusi. Anak-anak dengan
kondisi ini memerlukan evaluasi komprehensif audiologic serta rujukan ke
otolaryngologist.
Pemeriksaan lanjutan
Setelah OMA didiagnosis, seperti disebutkan, sebagian besar kegagalan
pengobatan terjadi pada saat 48 sampai 72 jam setelah dimulainya terapi. Pemeriksaan
lanjutan jangka panjang sangat penting untuk menilai resolusi terkait MEE. Karena
normalnya efusi tersebut dapat bertahan sampai 12 minggu setelah terjadi episode OMA,
tinjauan lanjut harus dilakuan pada waktu tersebut sehingga resolusi atau efusi menetap
dapat dikelolah.
Kesimpulan
Seni dalam mengelola otitis media pada abad 21 telah berubah secara dramatis.
Pelaksanaan imunisasi PCV7 telah menyebabkan pengurangan jumlah kasus otitis media,
sedangkan penggunaan sembarangan antimikroba telah menghasilkan otopathogens lebih
resisten. Bukti saat ini telah menyarankan bahwa terapi antibiotika rutin tidak lagi
diperlukan untuk semua kasus OMA dan pemberian antibiotik jangka pendek sama
efektifnya. Kewajiban pada semua dokter untuk menggunakan antimikroba dengan
bijaksana untuk melanjutkan kemajuan dalam diagnosis, pengobatan, dan pencegahan
otitis media.