Anda di halaman 1dari 11

Kedudukan Hukum Pada Pulau-Pulau Terluar

Indonesia Ditinjau Dari Hukum Laut


Internasional
Disusun oleh:
Angelina
Triartha Anastasia
Linda Juniaty
Lusi Marlina
Marwin
Qaulam Enggartias P.
Aileen Tionarta
Eric Chunata

205100012
205100022
205100033
205100037
205100062
205100063
205100087
205100090

Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan
Permasalahan pulau terluar yang berbatasan dekat dengan
negara lain
Pulau Sipadan-Ligitan, Pulau Miangas
Ratifikasi UNCLOS III

Permasalahan

Bagaimana kedudukan hukum pada pulau-pulau terluar


indonesia ditinjau dari hukum laut internasional dan
nasional ?

ANALISA

Teori

Teori
Okupasi

Konvensi

UNCLOS III

Preseden

P.Channel
Island of
Palmas
Arbitration
P,SipadanLigitan

Teori Okupasi
Prinsip : Keefektifan
Syarat melakukan okupasi :
a) Maksud untuk berkuasa
b) Pelaksanaan kedaulatan memadai (damai, nyata dan
langsung, berkesinambungan)
2 teori okupasi :
a) Teori Kontinuitas
b) Teori Kontiguitas

UNCLOS III
Batas ZEE
Batas Laut Teritorial
Batas Zona Tambahan
Batas Landasan Benua

Preseden
Putusan Mahkamah Internasional mengenai Pulau Channel
Putusan dari Island of Palmas Arbitration
Putusan Mahkamah Internasional tentang Pulau Sipadan
dan Ligitan

Kesimpulan

Berdasarkan teori pendudukan yang dikemukakan oleh J.G. Starke


mengenai kedaulatan teritorial dimana prinsip keefektifan dalam
suatu penegakkan kedaulatan atas wilayah yang bukan di bawah
wewenang negara lain atau yang baru ditemukan menjadi sangat
penting. Dimana terlihat sudah dengan jelas bahwa kedudukan
hukum suatu pulau terluar yang dapat menjadi permasalahan antara
suatu negara dengan negara lainnya dapat ditentukan dengan
menegakkan kedaulatan atas wilayah oleh suatu negara terhadap
pulau terluar secara efektif. Selain itu adanya pernyataan Konvensi
Hukum Laut 1982 atau UNCLOS III juga menjadi dasar bagi
pembagian kedaulatan teritorial suatu negara. Dimana jika suatu
pulau termasuk dari Zona Eksklusif Ekonomi suatu negara maka
negara tersebut mempunyai yurisdiksi eksklusif dan berhak untuk
memanfaatkan dan mengawasi pulau tersebut. Preseden atas kasus
Inggris dan Netherlands, Putusan atas Island of Palmas Arbitration
serta Putusan Mahkamah Internasioanl mengenai kasus perebutan
Pulau Sipadan-Ligitan juga menekankan bahwa sangat penting
pelaksanaan aktual fungsi-fungsi negara serta berdasarkan fakta
bahwa pelaksanaan kekuasaan efektif yang terus-menerus dalam

Saran

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan


yang dengan jumlah pulau tersebar di dunia dan memiliki kekayaan
yang berlimpah, tak terkecuali yang terkandung dalam pulau-pulau
terluarnya. Pulau-pulau terluar merupakan sumber kekayaan yang
belum tergarap sekaligus garda depan ketahanan dan keamanan
negara. Tanpa pengelolaan dan perlindungan yang optimal,
kekayaan negara sangat muda dicuri oleh pihak luar dan keamanan
negara pun terancam. Sehingga usaha-usaha perlindungan dan
pengelolaan harus segera dilakukan.

Penguatan kelembagaan pemerintah yang diikuti dengan kerja


sama antara pusat dan daerah, diharapkan mampu memberikan
perhatian dan pengelolaan yang lebih baik terhadap pulau-pulau
terluar. Ditunjang dengan peningkatan sumber daya manusia dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan
potensi pulau-pulau terluar, maka kerjasama antara pemerintah dan
masyarakat dapat senantiasa menjaga keutuhan bangsa melalui
pulau-pulau terluar di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Terima Kasih