Anda di halaman 1dari 1

Buku Gurita Cikeas Benar atau Tidak?

Dian Inda Sari

Beberapa hari ini kita dihebohkan oleh pernerbitan buku Gurita Cikeas oleh George
Junus Aditjondro. Dari beberapa perdebatan di tayangan televisi mengenai kontroversi
data dari buku tersebut yang dinilai beberapa kalangan lemah, aku teringat ketika aku
menyelesaikan tugas akhir ku beberapa bulan yang lalu.

Pada saat seminar perusahaan, ada beberapa pertanyaan yang bisa mengarahkan kepada
kesimpulan dan saran dalam tugas akhirku itu tidak didukung oleh data yang lengkap.
Pada saat konsultasi dengan Profesor pembimbingku, dia mengatakan suatu hal yang aku
rasa dapat membantu kita menilai buku Gurita Cikeas, layak atau tidak untuk diterima.

Pembimbingku memberiku pencerahan dan menekankan bahwa, seorang peneliti dalam


melakukan penelitian dibatasi oleh batasan dan ruang lingkup penelitian. Berdasarkan
inilah menurutku sang peneliti melakukan penelitian, memilih metode penelitian dan
teknik pengumpulan data sehingga peneliti memperoleh kesimpulan dari indikasi
masalah yang ia lontarkan dalam penelitian. Dosen pembimbing ku tersebut mewanti-
wanti aku untuk menghilangkan segala keabsolutan dalam penelitian karena
sesungguhnya data yang aku peroleh terbatas karena adanya batasan dan ruang lingkup
penelitian tadi. Pembimbingku juga menekankan perlunya membuat satu sub bab khusus
yang menyatakan dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menyempurnakan serta
membuktikan bahwa penelitian ini bisa diterima dan terbukti akurat dimasa yang akan
datang.

Kembali ke buku Gurita Cikeas, George adalah seorang Phd. Aroma akademis tentu
sangat kental dalam setiap bukunya. Buku Gurita Cikeas memakai metode kualitatif
deskriptif dengan teknik metode pengumpulan data diperoleh melalui data primer yaitu
melalui wawancara dan data skunder yang diperoleh dari internet serta data-data terkait
yang pernah dipublikasi. Dari data-data inilah George merangkai buku Gurita Cikeas.

Kalaupun ada pihak-pihak tertentu yang mengarahkan hal ini kepada politik untuk
menjatuhkan pihak-pihak tertentu, sebaiknya kita yang awam ini tidak terlarut dalam
hiruk pikuk perdebatan yang seakan tidak berujung dan kembali kepada kenyataan bahwa
George dibatasi oleh ruang lingkup dan batasan peneletian yang tercermin dari metode
penelitian dan teknik pengumpulan data yang ia lakukan. Untuk membuktikan bukunya
bukan pepesan kosong atau fitnah semata, sebaiknya dilakukan penelitian ataupun
penyidikan lebih lanjut untuk menjawab segala keraguan, dan selanjutnya biarlah hukum
menjawab melalui putusan pengadilan apakah George bersalah atau tidak kalau ternyata
buku ini di identifikasi memiliki unsur pidana atau perdata.

Medan, 30 Desember 2009