Anda di halaman 1dari 16

Sirosis Hepatis

Muhammad Jaka Satria


1102009188
Pembimbing:
Dr. Agung, Sp.PD

Sirosis hati adalah suatu keadaan patologis


yang menggambarkan stadium akhir fibrosis
hepatik yang berlangsung progresif yang
ditandai dengan distorsi dari arsitektur hepar
dan pembentukan nodulus regeneratif, akibat
dari nekrosis hepatoselular.

klasifikasi
1.

Berdasarkan etiologi
Alkohol
Post Hepatitis
Metabolik
Kolestasis kronik/sirosis biliar sekunder intra
dan ekstrahepatik
Obstruksi aliran vena hepatik
Gangguan imunologis
Toksin
Obat
Malnutrisi
Etiologi tidak diketahui (sirosis kriptogenik)

2. Berdasarkan morfologi
- Sirosis mikronodular
- Sirosis makronodular
- Sirosis campuran (mikronodular dan
makronodular)

Secara fungsional sirosis terbagi atas :


Sirosis hati kompensata : Merupakan sirosis hati
laten. Pada stadium kompensata ini belum
terlihat gejala-gejala yang nyata seperti lemas ,
mudah lelah,nafsu makan berkurang,kembung,
mual dan berat badan turun. Biasanya stadium ini
ditemukan pada saat pemeriksaan skreening.
Sirosis hati dekompensata : dikenal dengan
Sirosis hati aktif, dan stadium ini biasanya gejalagejala sudah jelas, misalnya ; ascites, edema dan
ikterus.

Berdasarkan stadium menurut


consensus Baveno IV
a. Stadium 1

: tidak ada varises , tidak ada


asites
b. Stadium 2
: varises , tanpa asites
c. Stadium 3
: asites dengan atau tanpa
varises
d. Stadium 4
: perdarahan atau tanpa varises
Stadium 1 dan 2 : kompensata
Stadium 3 dan 4 : dekompensata

Patofisiologi
Peradangan sel hati kronik nekrosis
hepatoseluler kolaps lobulus hati
jaringan parut dan nodul sel hati.
Jaringan parut inilah yang menghubungkan
daerah porta yang satu dengan lainnya atau
porta dengan sentral (bridging necrosis)

MANIFESTASI KLINIS
Keluhan dari sirosis hati dapat berupa :
Merasa kemampuan jasmani menurun / lemas
Nausea, anorexia dan diikuti dengan penurunan berat
badan
Sclera ikterik dan buang air kecil berwarna gelap
(warna teh)
Ascites dan edema anasarka Perdarahan saluran cerna
bagian atas (hematemesis melena)
Pada keadaan lanjut dapat dijumpai Hepatic
Enchephalopathy
Pruritus

edema
ikterus
koma
kerusakan hati
asites
kelainan darah (anemia
penyakit
kronik,hematom/mudah
terjadi perdarahan)

varises oesophagus
splenomegali
gastropati
hipertensi porta
caput medusa
asites collateral
hemorrhoid
hematoschezia

Diagnosa
Diagnosa yang pasti ditegaskan secara
mikroskopis dengan melakukan biopsi hati.
Dengan pemeriksaan histopatologi dari
sediaan jaringan hati dapat ditentukan
keparahan dan kronisitas dari peradangan
hatinya, mengetahui penyebab dari penyakit
hati kronis, dan mendiagnosis apakah
penyakitnya suatu keganasan ataukah hanya
penyakit sistemik yang disertai hepatomegali

Tes fungsi hati meliputi aminotransferase,


alkali fosfatase, gammaglutamil
transpeptidase, bilirubin, albumin, dan waktu
protrombin
Serologi: HBsAg, HBeAg, HBV-DNA, HCV-RNA,
alfafeto protein (AFP).

USG pada sirosis lanjut dapat dinilai hati


mengecil dan nodular, permukaan ireguler,
dan ada peningkatan ekogenitas parenkim
hati, juga untuk melihat adanya asites,
splenomegali, trombosis vena porta dan
pelebaran vena porta, serta skrining adanya
karsinoma hati pada pasien sirosis

komplikasi
Peritonitis bakterial spontan
Hematemesis dan melena : pecahnya varises
esofagus
Ensefalopati hepatikum koma hepatikum
Gagal hati (hepatoselular)
Hipertensi portal
Sindroma hepatorenal

Sirosis tanpa gagal hati dan hipertensi


portal
Diet cukup kalori dan protein : misalnya 2500
kalori dan protein 60-80 g/hari
Lemak tidak perlu dibatasi jumlahnya
Vitamin : vit C, tiamin, riboflavin, asam
nikotinat, vit B 12
Fosfolipid esensial
Curcuma
Hindari alkohol, zat hepatotoksik dan makanan
yang disimpan pada suhu udara lebih dari 48
jam

Sirosis dengan gagal hati dan


hipertensi portal
Istirahat : aktivitas fisik dibatasi, terutama pasien asites
Diet :
Tidak koma hepatikum : kalori 1500-2000 dan protein 1 g/kgBB
Koma hepatikum : protein minimal

Ada asites :

Diet rendah garam 0,5g/hr


Pembatasan cairan : 1-1,5 liter/hari
Protein 1-2g/kgBB dan Na 200-500 mg/hari
Diuretik :
Antagonis aldosteron (spironolactone) :
menghambat reabsorbsi Na dan Cl
menambah ekskresi Kalium
Pada asites masif: perlu kombinasi furosemide dan antagonis aldosteron
Risikonya; hipokalemia yang dapat mencetuskan koma hepatikum
Disarankan juga untuk dilakuakn pungsi asites