Anda di halaman 1dari 11

Perkawinan Transgender dalam perspektif Hukum Islam

dan Hukum positif Indonesia

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Perkawinan merupakan sebuah ikatan yang di lakukan oleh pihak pria dan
wanita sebagai tanda persatuan kasih, sebagai perbuatan hukum yang juga akan
menimbulkan akibat hukum. Di dalam Konstitusi juga menjelaskan
berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28b setiap orang berhak
membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang
sah.
Menurut pasal 1 Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan ( UU
Perkawinan ) , perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan
seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga ( rumah
tangga ) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat ambil kesimpulan bahwa perkawinan di
Indonesia dilakukan oleh orang yang memiliki gender berbeda sebagai wanita
dan pria untuk memiliki keturunan berdasarkan perkawinan yang sah. Namun
banyak permasalahan yang timbul dari pengertian perkawinan yang sah.
Banyak problema sahnya perkawinan berdasarkan undang-undang dan
berdasarkan keragaman agama yang ada di Indonesia. Salah satu bentuk
problema perkawinan yang sah adalah perkawinan yang dilangsungkan oleh
seseorang yang melakukan transgender. Tidak sesuainya hukum dan agama
menimbulkan kebingungan dan persepsi yang berbeda yang ada dimasyarakat

terhadap perkawinan sehingga banyak orang melakukan perkawinan


berdasarkan kecacatan hukum yang berlaku atas dasar agama.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimanakah pengaturan atas perkawinan Transgender berdasarkan ajaran
agama Islam di Indonesia?
2. Bagaimanakah pengaturan atas perkawinan Transgender berdasarkan
undang-undang yang berlaku di Indonesia?
1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui bagaimana pengaturan atas perkawinan Transgender
berdasarkan undang-undang yang berlaku di Indonesia
2. Untuk mengetahui bagaimana pengeturan atas perkawinan Transgender
berdasarkan ajaran agama Islam di Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN
Perkawinan merupakan sebuah perbuatan sakral dimana seorang laki-laki mengikatkan
dirinya kepada seorang wanita. Namun terdapat sebuah kasus di Indonesia, Yayan syahdan,
merupakan Warga Negara Indonesia yang terlahir secara biologis perempuan, memiliki kelainan
biologis dimana pada saat Yayan berumur 18 tahun, tubuhnya menunjukkan perubahan menjadi
tubuh yang dimiliki seorang laki-laki, juga alat kelamin yang dimiliki Yayan juga berubah.
Namun terjadi ketidaksesuaian apakah yayan seorang laki-laki atau perempuan dan apakah itu
mempengaruhi terhadap status pernikahan Yayan.
Pada hakikatnya, masalah kebingungan jenis kelamin atau yang lazim disebut juga sebagai gejala
transseksualisme ataupun transgender merupakan suatu gejala ketidakpuasan seseorang karena
merasa tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan ataupun
adanya ketidakpuasan dengan alat kelamin yang dimilikinya. Ekspresinya bisa dalam bentuk
dandanan, make up, gaya dan tingkah laku, bahkan sampai kepada operasi penggantian kelamin
(Sex Reassignment Surgery). Dalam DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorder) III, penyimpangan ini disebut sebagai juga gender dysporia syndrome.
Penyimpangan ini terbagi lagi menjadi beberapa subtipe meliputi transseksual, a-seksual,
homoseksual, dan heteroseksual.
Tanda-tanda transseksual yang bisa dilacak melalui DSM, antara lain: perasaan tidak nyaman
dan tidak puas dengan salah satu anatomi seksnya; berharap dapat berganti kelamin dan hidup
dengan jenis kelamin lain; mengalami guncangan yang terus menerus untuk sekurangnya selama
dua tahun dan bukan hanya ketika dating stress; adanya penampilan fisik interseks atau genetik
yang tidak normal; dan dapat ditemukannya kelainan mental semisal schizophrenia yaitu
menurut J.P. Chaplin dalam Dictionary of Psychology (1981) semacam reaksi psikotis dicirikan

di antaranya dengan gejala pengurungan diri, gangguan pada kehidupan emosional dan afektif
serta tingkah laku negativisme.
Transeksual dapat diakibatkan faktor bawaan (hormon dan gen) dan faktor lingkungan. Faktor
lingkungan di antaranya pendidikan yang salah pada masa kecil dengan membiarkan anak lakilaki berkembang dalam tingkah laku perempuan, pada masa pubertas dengan homoseksual yang
kecewa dan trauma, trauma pergaulan seks dengan pacar, suami atau istri. Perlu dibedakan
penyebab transseksual kejiwaan dan bawaan. Pada kasus transseksual karena keseimbangan
hormon yang menyimpang (bawaan), menyeimbangkan kondisi hormonal guna mendekatkan
kecenderungan biologis jenis kelamin bisa dilakukan. Mereka yang sebenarnya normal karena
tidak memiliki kelainan genetikal maupun hormonal dan memiliki kecenderungan
berpenampilan lawan jenis hanya untuk memperturutkan dorongan kejiwaan dan nafsu adalah
sesuatu yang menyimpang dan tidak dibenarkan menurut syariat Islam.
Adapun hukum operasi kelamin dalam syariat Islam harus diperinci persoalan dan latar
belakangnya. Dalam dunia kedokteran modern dikenal tiga bentuk operasi kelamin yaitu: (1)
Operasi penggantian jenis kelamin, yang dilakukan terhadap orang yang sejak lahir memiliki
kelamin normal; (2) Operasi perbaikan atau penyempurnaan kelamin yang dilakukan terhadap
orang yang sejak lahir memiliki cacat kelamin, seperti zakar (penis) atau vagina yang tidak
berlubang atau tidak sempurna.; (3) Operasi pembuangan salah satu dari kelamin
ganda, yang dilakukan terhadap orang yang sejak lahir memiliki dua organ/jenis
kelamin (penis dan vagina).

Pertama: Masalah seseorang yang lahir dalam kondisi normal dan sempurna organ
kelaminnya yaitu penis (dzakar) bagi laki-laki dan vagina (farj) bagi perempuan yang
dilengkapi dengan rahim dan ovarium tidak dibolehkan dan diharamkan oleh syariat
Islam untuk melakukan operasi kelamin. Ketetapan haram ini sesuai dengan keputusan
fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Musyawarah Nasional II tahun 1980
tentang Operasi Perubahan/ Penyempurnaan kelamin. Menurut fatwa MUI ini sekalipun
diubah jenis kelamin yang semula normal kedudukan hukum jenis kelaminnya sama
dengan jenis kelamin semula sebelum diubah.
Para ulama fiqih mendasarkan ketetapan hukum tersebut pada dalil-dalil yaitu: (1)
firman Allah Swt dalam surat Al-Hujurat ayat 13 yang menurut kitab Tafsir Ath-Thabari
mengajarkan prinsip equality (keadilan) bagi segenap manusia di hadapan Allah dan
hukum yang masing-masing telah ditentukan jenis kelaminnya dan ketentuan Allah ini

tidak boleh diubah dan seseorang harus menjalani hidupnya sesuai kodratnya; (2)
firman Allah Swt dalam surat an-Nisa ayat 119. Menurut kitab-kitab tafsir seperti Tafsir
Ath-Thabari, Al-Shawi, Al-Khazin (I/405), Al-Baidhawi (II/117), Zubat al-Tafsir (hal.123)
dan al-Qurthubi (III/1963) disebutkan beberapa perbuatan manusia yang diharamkan
karena termasuk mengubah ciptaan Tuhan sebagaimana dimaksud ayat di atas yaitu
seperti mengebiri manusia, homoseksual, lesbian, menyambung rambut dengan sopak,
pangur dan sanggul, membuat tato, mengerok bulu alis dan takhannus (seorang pria
berpakaian dan bertingkah laku seperti wanita layaknya waria dan sebaliknya); (3)
Hadits Nabi saw.: Allah mengutuk para tukang tato, yang meminta ditato, yang
menghilangkan alis, dan orang-orang yang memotong (pangur) giginya, yang
semuanya itu untuk kecantikan dengan mengubah ciptaan Allah. (HR. Al-Bukhari); (4)
Hadits Nabi saw.: Allah mengutuk laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang
menyerupai laki-laki. (HR. Ahmad). Oleh karena itu kasus ini sebenarnya berakar dari
kondisi kesehatan mental yang penanganannya bukan dengan merubah ciptaan Allah
melainkan melalui pendekatan spiritual dan kejiwaan (spiritual and psychological
therapy).
Kedua: Operasi kelamin yang bersifat tashih atau takmil (perbaikan atau
penyempurnaan) dan bukan penggantian jenis kelamin menurut para ulama
diperbolehkan secara hukum syariat. Jika kelamin seseorang tidak memiliki lubang
yang berfungsi untuk mengeluarkan air seni dan mani baik penis maupun vagina, maka
operasi untuk memperbaiki atau menyempurnakannya dibolehkan bahkan dianjurkan
sehingga menjadi kelamin yang normal karena kelainan seperti ini merupakan suatu
penyakit yang harus diobati.
Para ulama seperti Hasanain Muhammad Makhluf (tokoh ulama Mesir) dalam
bukunya Shafwatul Bayan (1987:131) memberikan argumentasi hal tersebut bahwa
orang yang lahir dengan alat kelamin tidak normal bisa mengalami kelainan psikis dan
sosial sehingga dapat tersisih dan mengasingkan diri dari kehidupan masyarakat
normal serta kadang mencari jalannya sendiri, seperti melacurkan diri menjadi waria
atau melakukan homoseks dan lesbianisme. Semua perbuatan ini dikutuk oleh Islam
berdasarkan hadits Nabi saw.: Allah dan rasulnya mengutuk kaum homoseksual
(HR.al-Bukhari) Guna menghindari hal ini, operasi perbaikan atau penyempurnaan
kelamin boleh dilakukan berdasarkan prinsip Mashalih Mursalah karena kaidah fiqih
menyatakan Adh-Dhararu Yuzal (Bahaya harus dihilangkan) yang menurut Imam Asy-

Syathibi menghindari dan menghilangkan bahaya termasuk suatu kemaslahatan yang


dianjurkan syariat Islam. Hal ini sejalan dengan hadits Nabi saw.: Berobatlah wahai
hamba-hamba Allah! Karena sesungguhnya Allah tidak mengadakan penyakit kecuali
mengadakan pula obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu penyakit ketuaan. (HR. Ahmad)
Apabila seseorang mempunyai alat kelamin ganda, yaitu mempunyai penis dan juga
vagina, maka untuk memperjelas dan memfungsikan secara optimal dan definitif salah
satu alat kelaminnya, ia boleh melakukan operasi untuk mematikan dan
menghilangkan salah satu alat kelaminnya. Misalnya, jika seseorang memiliki penis dan
vagina, sedangkan pada bagian dalam tubuh dan kelaminnya memiliki rahim dan
ovarium yang menjadi ciri khas dan spesifikasi utama jenis kelamin wanita, maka ia
boleh mengoperasi penisnya untuk memfungsikan vaginanya dan dengan demikian
mempertegas identitasnya sebagai wanita. Hal ini dianjurkan syariat karena
keberadaan penis (dzakar) yang berbeda dengan keadaan bagian dalamnya bisa
mengganggu dan merugikan dirinya sendiri baik dari segi hukum agama karena hak
dan kewajibannya sulit ditentukan apakah dikategorikan perempuan atau laki-laki
maupun dari segi kehidupan sosialnya.
Untuk menghilangkan mudharat (bahaya) dan mafsadat (kerusakan) tersebut, menurut
Makhluf dan Syalthut, syariat Islam membolehkan dan bahkan menganjurkan untuk
membuang penis yang berlawanan dengan dalam alat kelaminnya. Oleh sebab itu,
operasi kelamin yang dilakukan dalam hal ini harus sejalan dengan bagian dalam alat
kelaminnya. Apabila seseorang memiliki penis dan vagina, sedangkan pada bagian
dalamnya ada rahim dan ovarium, maka ia tidak boleh menutup lubang vaginanya
untuk memfungsikan penisnya. Demikian pula sebaliknya, apabila seseorang memiliki
penis dan vagina, sedangkan pada bagian dalam kelaminnya sesuai dengan fungsi
penis, maka ia boleh mengoperasi dan menutup lubang vaginanya sehingga penisnya
berfungsi sempurna dan identitasnya sebagai laki-laki menjadi jelas. Ia dilarang
membuang penisnya agar memiliki vagina sebagai wanita, sedangkan di bagian dalam
kelaminnya tidak terdapat rahim dan ovarium. Hal ini dilarang karena operasi kelamin
yang berbeda dengan kondisi bagian dalam kelaminnya berarti melakukan pelanggaran
syariat dengan mengubah ciptaan Allah SWT; dan ini bertentangan dengan firman Allah
bahwa tidak ada perubahan pada fitrah Allah (QS.Ar-Rum:30).
Dibolehkannya operasi perbaikan atau penyempurnaan kelamin, sesuai dengan
keadaan anatomi bagian dalam kelamin orang yang mempunyai kelainan kelamin atau

kelamin ganda, juga merupakan keputusan Nahdhatul Ulama PW Jawa Timur pada
seminar Tinjauan Syariat Islam tentang Operasi Ganti Kelamin pada tanggal 26-28
Desember 1989 di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo Jawa Timur.
Peranan dokter dan para medis dalam operasi penggantian kelamin ini dalam status
hukumnya sesuai dengan kondisi alat kelamin yang dioperasinya. Jika haram maka ia
ikut berdosa karena termasuk bertolong-menolong dalam dosa dan bila yang dioperasi
kelaminnya adalah sesuai syariat Islam dan bahkan dianjurkan maka ia mendapat
pahala dan terpuji karena termasuk anjuran bekerja sama dalam ketakwaan dan
kebajikan.(QS.Al-Maidah:2)
Adapun konsekuensi hukum penggantian kelamin adalah sebagai berikut:
Apabila penggantian kelamin dilakukan oleh seseorang dengan tujuan tabdil dan taghyir
(mengubah-ubah ciptaan Allah), maka identitasnya sama dengan sebelum operasi dan
tidak berubah dari segi hukum. Menurut Mahmud Syaltut, dari segi waris seorang
wanita yang melakukan operasi penggantian kelamin menjadi pria tidak akan menerima
bagian warisan pria (dua kali bagian wanita) demikian juga sebaliknya.
Sementara operasi kelamin yang dilakukan pada seorang yang mengalami kelainan
kelamin (misalnya berkelamin ganda) dengan tujuan tashih atau takmil (perbaikan atau
penyempurnaan) dan sesuai dengan hukum akan membuat identitas dan status hukum
orang tersebut menjadi jelas. Menurut Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa
Adillatuhu bahwa jika selama ini penentuan hukum waris bagi orang yang berkelamin
ganda (khuntsa) didasarkan atas indikasi atau kecenderungan sifat dan tingkah
lakunya, maka setelah perbaikan kelamin menjadi pria atau wanita, hak waris dan
status hukumnya menjadi lebih tegas. Dan menurutnya perbaikan dan
penyempurnaan alat kelamin bagi khuntsa musykil sangat dianjurkan demi
kejelasan status hukumnya.

Menurut UU yang berlaku dan ditinjau dari KHI yaitu :


Pasal 1
Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami
isteri dengan tujuan membentuk keluarga(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha esa.
Berdasarkan pasal tersebut,makna seorang pria atau wanita merupakan salah satu penentu sahnya
perkawinan ( tidak perkawinan sejenis )

Dalam perkawinan Yayan, Yayan harus memiliki status yang berkekuatan hukum tetap terhadap
status kelamin Yayan untuk dapat melangsungkan pernikahan.
Sebagai syarat sahnya perkawinan berdasarkan undang-undang, Yayan harus melakukan
perubahan status kelamin tetap sebagai laki-laki dengan cara melakukan permohonan perubahan
status kelamin ke pengadilan. Berdasarkan pasal 77 UU No. 23 tahun 2006 tentang Administrasi
Kependudukan , tidak dapat seorangpun dapat merubah/mengganti/menambah identitasnya tanpa
ijin pengadilan. Lalu apabila berdomisili di Sleman berdasarkan Perbub ( Peraturan Bupati ) 80
tahun 2009 huruf O tentang tata cara pelaporan perubahan dan atau pembatalan akta, perubahan
akta dilakukan setelah ada penepatan pengadilan.

Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan


dikatakan juga bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masingmasing agamanya dan kepercayaannya. Ini berarti selain negara hanya mengenal perkawinan
antara wanita dan pria, negara juga mengembalikan lagi hal tersebut kepada agama masingmasing
Makna dari menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya, yaitu Yayan yang
beragama Islam, ajaran Islam mengizinkan perkawinan yang dilakukan Yayan terkait perubahan
kelaminnya apabila Yayan sebagai pelaku perkawinan transgender, dimana Yayan sebagai orang
yang memiliki kelainan biologis terkait alat kelaminnya yang pada akhirnya menuntut Yayan
memilih salah satu status kelamin.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Perkawinan Transgender di Indonesia adalah hal yang memiliki banyak pertimbangan. Terkait
hak asasi, juga terkait pengaturan dalam agama. Namun pada dasarnya, perkawinan transgender
di negara kita, diperbolehkan sesuai dengan undang-undang perkawinan tahun 1974. Karena
memang tidak ada larangan yang jelas mengenai pernikahan transgender. Namun terdapat
beberapa larangan dalam hukum islam. Jika transgender yang dilakukan oleh seseorang yang
lahir dalam kondisi normal dan sempurna organ kelaminnya yaitu penis (dzakar) bagi laki-laki
dan vagina (farj) bagi perempuan yang dilengkapi dengan rahim dan ovarium. Hal tersebut
diharamkan oleh syariat Islam untuk melakukan operasi kelamin. Ketetapan haram ini sesuai
dengan keputusan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Musyawarah Nasional II tahun
1980 tentang Operasi Perubahan/ Penyempurnaan kelamin. Menurut fatwa MUI ini sekalipun
diubah jenis kelamin yang semula normal kedudukan hukum jenis kelaminnya sama dengan jenis
kelamin semula sebelum diubah.

Namun jika transgender yang dilakukan karena tashih atau takmil (perbaikan atau
penyempurnaan), bukan penggantian jenis kelamin dan/atau berkelamin ganda (khuntsa)
didasarkan atas indikasi atau kecenderungan sifat dan tingkah lakunya, maka hal tersebut
diperbolehkan dalam hukum islam. Sehingga pada kasus Yayan, hal tersebut diperbolehkan
karena Yayan berkelamin ganda. Justru Yayan dianjurkan untuk melakukan transgender menurut

hukum islam dan undang-undang yang berlaku, agar jelas statusnya. Maka dari itu, pernikahan
yang dilakukan Yayan diperbolehkan dan tidak melanggar hukum. Baik hukum islam maupun
hukum positif yang berlaku di Indonesia.

3.2 Usul dan Saran

Transgender ini tidak diatur dalam undang-undang, sehingga membuat kebingungan di


dalamnya. Alangkah lebih baik jika aturan mengenai transgender akibat kelainan biologis diatur
dalam undang-undang, agar tidak terjadi ketidaksesuaian antara hukum dengan agama. Di sisi
lain, agar memberi kejelasan bagi masyarakat Indonesia. Karena, pada kasus ini kebetulan Yayan
beragama Islam. Bagaimanakah jika dia beragama selain Islam? Sulit untuk menentukan
kejelasan mengenai boleh atau tidaknya. Maka dari itu, lebih baik perihal mengenai transgender,
diatur dalam Undang-Undang agar memberi aturan yang jelas bagi masyarakat Indonesia
mengenai transgender serta perkawinan transgender.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA


Undang-undang dasar 1945
Undang-undang no. 1 tahun 1974
Undang-undang no. 23 tahun 2006
Lampiran Peraturan Bupati no. 80 tahun 2009
www.Pikiran-rakyat.com/node/145084
http://www.dakwatuna.com/2009/08/12/3427/fenomena-transgender-dan-hukum-operasi-kelamin