Anda di halaman 1dari 9

JUDUL

1. (Kualitatif)Makam Dato Tiro (Tinjauan tentang ritual Ziarah di


Kelurahan Eka Tiro Kecematan Bonto Tiro Kabupaten
Bulukumba)
2. (Kuantitatif)Pengaruh makam Dato Tiro Dalam masyarakat Di
Kelurahan Kecematan Bonto Tiro Kabupaten Bulukumba

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Dalam kehidupan ini tidak ada satupun mahluk yang kekal,semua yang hidup
pasti akan merasakan kematian , seperti yang Allah firmankan dalam surah( An-Nisa
: 78)1









Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di
dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan[319],
mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu
bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)".
Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu
(orang munafik) Hampir-hampir tidak memahami pembicaraan[320] sedikitpun.(QS
An-Nisa : 78)
Berdasarkan ayat diatas bahwa kehidupan didunia ini tidak kekal semua yang
hidup pasti akan mengalami kematian, tanpa mengaenal siapa dan apa semua pasti
akan kembali pada asalnya, tidak ada yang dapat mengendalikan apa yang telah di
tetapkan Allah swt. ini berarti bahwa kematian adalah suatu keniscayaan tidak

(QS ANNISA:78)

satupun jiwa yang mampu menghindarinya. dan yang kekal hanyalah kehidupan di
akhirat dimana manusia hanya akan ditempatkan pada dua tempat yaitu antara surge
dan neraka,ketika Tuhan sudah mau menarik ruh dari tubuh manusia maka tak
satupun manusia yang bisa menolaknya,manusia diciptakan oleh Allah swt dari
empat unsur yaitu tanah,air, api,dan udara.maka semua unsure unsure itu akan
kembali pada asalnya dan di persatukan kembali di akhirat, maka karena manusia di
ciptakan dari empat unsur maka manusia punya cara dalam mengembalikan sesuai
dengan kepercayaan masing masing, sperti pembakaran dan menenggelamkan abu ke
laut, ada menyimpan dalam peti kemudian di simpan di gua, ada yang menaruh
dipohon,dan bahkan ada yang langsun saja di tenggelamkan ke laut,akan tetapi cara
yang sering dilakukan dalam islam adalah dengan di makamkan atau dikuburkan di
dalam tanah. Oleh karena itu,tempat jasat inilah yang disebut dengan makam atau
kuburan.
Tiap daerah mempunyai tempat khusus untuk memakamkan jenasah dan tiap
tiap tempat memiliki adat istiadat dalam cara memakamkan.samapai sekarang ini
masih banyak orang yang mempercayai tentang kelebihan dari benda benda mati.
benda benda tersebut seperti batu,kris,peninggalan nenenk moyang,termasuk pada
tempat pemakaman. dan juga masing masing daerah punya ritual dan adat tersendiri
dalam memperlakukan benda benda yang di yakininya punya kelebihan. mereka
melakukan ritual atau adat sesuai dengan kebiasaan kebiasaan nenek moyang atau

ritual, dan itu itu bersifat turung temurung, hingga kepercayaan ini bisa menjadi
tradisi sampai pada era modern ini2.
Seperti juga halnya dengan pemakaman yang ada di Kelurahan Eka Tiro,
Kecematan

Bonto

Tiro,

Kabupaten

Bulukumba

yang

disebut

makam

DatoTiromakam Dato Tiro sangat di hormati oleh masyarakat baik itu masyarakat
ber ada di daerah tersebut maupun yang dari luar daerah. banyak masyarakat yang
datang ke makam Dato Tiro, dengan berbagai tujuan baik dari penduduk asli
daerah maupun yang dari luar daerah.
Adapun tujuan dan maksud meraka datang ke makam Dato Tiro untuk
mendoakan arwahnya, dan juga yang melakukan pemujaan dihadapan makam
DatoTiro dalam rangka tercapainya keinginan mereka. Misalnya, meminta agar
diberikan jodoh, agar diberi kemudahan dalam melaksanakan ibadah haji, agar di beri
kesehatan dan lain lain.hampir semua aktifitas masyarakat menyimpan pengharapan
pada makam DatoTiro. Makam DatoTiro merupakan makam Dari seorang
pembawa ajaran Islam pertama di Kabupaten Bulukumba, yang bernama Al Maulana
Khatib Bungsu Dia dianggap adalah pembawa rahmat Oleh masyarakat baik itu
masyarakat pada umumnya di bulukumba dan hususnya dalam masyarakat Bonto
Tiro, Sehingga masyarakat menganggap Al Maulana Khatib Bungsu Dato
mempunyai kedudukan yang sama dengan Nabi Muhammad.

Khadijah Salim,Apa arti Hidup? (cet.X; Bandung: PT. al-maarif,1983),h.108

Dan akhir makam Al Maulana Khatib Bungsu diberi nama Dato Tiro yang
berarti Orang tua yang di hormati,orang yang mempunyai kedudukan yang tinggi di
tempat tersebut pada zaman dahulu, dia diberi gelar oleh masyarakat sebagai Dato
Tiro karena Dia adalah orang yang pertama membawa ajaran Islam di Kabupaten
Bulukumba selain itu dia juga dianggap sebagai pembawa mukjisat oleh masyarakat
dimana dengan tongkat yang sering dia pakai yang ditancapkan pada sebuah batu
kemudia ditarik berbelok belok seperti ular sehingga keluar air dari batu itu dan
jadilah sungai yang dimana sungai itu airnya sangat jernih karena langsun keluar dari
batu bukan dari dasar pasir putih,sungai kecil inilah yang disebut Buhung
Labbua(Sumur panjang), Buhung Labbua ini berada di kelurahan Eka Tiro sekitar
50 meter dari Makam DatoTiro. sumur ini dipercaya airnya bisa meyembuhkan
penyakit,bagi orang yang mandi di sumur ini semua jenis penyakitnya akan sembuh,
bagaimanapun bentuk penyakitnya, karena sumur ini adalah mukjizat Dato Tiro
yaitu orang yang pertama membawa ajaran Islam di Kabupaten Bulukumba3. Dengan
melihat latar belakang yang telah diuraikan diatas, Maka penulis mempunyai alas an
dalam memilih judul tersebut yaitu antara lain:
1. Meneliti dan mengetahui bagimana pengaruh keberadaan Makam Dato
Tiro Dalam kehidupan masyarakat di Kelurahan Eka Tiro Kecematan
Bonto Tiro Kabupaten Bulukumba.
2. Meneliti tentang bagaimana bentuk bentuk ritual dan makna dari symbol
symbol ritual yang di lakukan dilakukan oleh Masyarakat di Kelurahan
Eka Tiro Kecematan Bonto Tiro Kabupaten Bulukumba
3

Hapik cambang sialia tokoh masyarakat, Wawancara,di Kindang Tanggal 17 Oktober 2010

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh keberadaan Makam Dato Tiro dalam kehidupan masyarakat
di kelurahan Eka Tiro ?
2. Bagaimana bentuk ritual serta makna symbol ritual yang dilakukan oleh
masyarakat di Kelurahan Eka tiro?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori
1. Dato Tiro
a. Asal Usul Dato Tiro
"Dato Tiro" sebelumnya hanyalah sebuah gelar yang di berikan oleh
masyarakat setempat atas penghargaan dan rasa hormat. Konon "Dato Tiro" adalah
sebuah nama yg di juluki "Abdul Djawad". Kemudian sebagian versi lain menyebut
nama aslinya adalah Nurdin Ariyani.
Abdul Djawad atau Al Maulana khatib bungsu datang ke sulawesi selatan
bersama dua orang sahabatnya dari Sumatera, diantaranya: khatib Makmur dgn nama
Dato ri Bandung, dan Khatib Sulaiman yang lebih dikenal dengan Dato Patimang.
Mereka bertiga adalah murid atau santri dari pesantren "Sunan Giri". Sunan
Giri adalah nama salah seorang "Walisongo" Islam di "Tanah Jawa" pada abad ke-17.
Pada tahun 1600-an Masehi, Abdul Djawad menyiarkan agama Islam di Tiro.
Adapun rajat yg pertama di Islamkan dlm Kerajaan Tiro adalah "Launru Daeng" yang
bergelar karaeng Ambibia dia adalah cucu ke-4 dari Karaeng Samparaja Daeng
Malaja yang pertama di Tiro.
Kedatangan Abdul Djawad yang di juluki Dato Tiro yaitu Datuknya Dito yang
diterima oleh masyarakat setempat, karena dirinya memiliki kesaktian dan santuhan
ajaran Islam yang di bawahnya, keyakinan untuk hidup zuhud, suci lahir batin dan
meng-Esahkan Allah SWT, berbeda dgn Sahabatnya yang lain. Abdul Jawab inilah
yang menjadi mubalig sampai akhir hayatnya di Tiro sehingga masyarakat
mengelarnya Dato Tiro, kata Dato di gunakan oleh masyarakat karena sulit
mengucapkan Datuk artinya kakek atau orang Tua yang di hormati.

b. Biografi Dato Tiro


Datuk ri Tiro yang bernama asli Nurdin Ariyani/Abdul Jawad dengan gelar
Khatib Bungsu adalah seorang ulama dari Koto Tangah, Minangkabau yang
menyebarkan agama Islam ke kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan serta Kerajaan
Bima di Nusa Tenggara sejak kedatangannya pada penghujung abad ke-16 hingga
akhir hayatnya. Dia bersama dua orang saudaranya yang juga ulama, yaitu Datuk
Patimang yang bernama asli Datuk Sulaiman dan bergelar Khatib Sulung serta Datuk
ri Bandang yang bernama asli Abdul Makmur dengan gelar Khatib Tunggal
menyebarkan agama Islam ke kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah timur nusantara
pada masa itu4

2. Makam Dato Tiro


Salah satu objek wisata andalan pemerintah dan masyarakat Kabupaten
Bulukumba adalah Makam Dato Tiro, di kampung Hila-hila, Kelurahan Eka Tiro,
Kecamatan Bontotiro. Makam yang sudah berusia ratusan tahun itu, hingga kini tetap
menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
Makam ini berjarak 44 km dari kota Bulukumba, setiap hari makam ini banyak
dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan bahkan ada
yang dari luar pulau seperti dari Sumatera dan Jawa.
Meskipun makam ini sudah berusia ratusan tahun, namun baru ditata dengan
baik pada 1979 silam di bawah naungan Yayasan Dato Tiro. Ini sesuai SK Notaris
tertanggal 22 Juli 1979. Makam Datu Tiro ditempatkan di bagian belakang bangunan
dengan dibuatkan terowongan sekira 20 meter dan lebar sekira satu meter.
Makam Dato Tiro berada dalam ruangan sekira 10 x 6 meter persegi. Dengan
posisi melintang dari bangunan makam ini, setiap peziarah diberikan kesempatan
untuk mendekati makam tersebut dan menyentuh nisan Dato yang usianya sudah
ratusan tahun tersebut. Nisan tersebut terbuat dari kayu. Meskipun tidak ada yang
bisa menjelaskan kayu nisan ini adalah jenis kayu apa. Terlebih setelah berusia
ratusan tahun tetap tidak berubah dan tidak termakan rayap atau sejenisnya.

PT Balai Pustaka, Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah nasional


Indonesia, Volume 3

Soal keberadaan makam ini kerap disalahartikan sebagian masyarakat.


Menurutnya, makam ini bukan diadakan untuk dikultuskan menjadi tempat meminta
sesuatu dengan mempersekutukan Tuhan. Tempat ini hanya sebagai bentuk
penghargaan kepada tokoh penyiar agama Islam di daerah ini. Termasuk dalam
berdoa, bukan berdoa kepada makam, melainkan berdoa kepada Allah swt hanya
tempatnya di makam ini. "Sama saja kalau orang berdoa di makam Rasulullah saw,"

B. Kerangka Berfikir
Berdasarkan kerangka teori yang telah dikemukakan di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa Dato Tiro adalah ulama besar yang menyebarkan Islam di
Sulawesi selatan, meliputi Bantaeng dan Bulukumba. Datuk Tiro wafat dan
dimakamkan di Tiro, Bulukumba. Selain sebagai objek wisata, makam Dato Tiro
kerap disalah artikan oleh sebagian masyaarakat.

.
C. Hipotesis Penelitian
Menurut Arikunto mendefinisikan hipotesis sebagai suatu jawaban yang
besifat sementara terhadap masalah penelitian sampai terbukti melalui data yang akan
terkumpul .
Berdasarkan pendapat diatas maka peneliti rumuskan bahwa terdapat pengaruh
makam Dato Tiro terhadap segi kepercayaan dalam kehidupan masyarakat di
kelurahan Eka Tiro, Kecematan Bonto Tiro Kabupaten Bulukumba.