Anda di halaman 1dari 10

Ilmu Reproduksi Ternak

TINGKAH LAKU SEKSUAL PADA BABI

Oleh :
Halim Setiawan
1307105048
Kelompok B1

ILMU PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

ABSTRAK
Babi merupakan salah satu hewan ternak yang cukup mudah untuk diternakkan
karena litter sizenya yang banyak dan masa kehamilan yang relative singkat dari pada sapi
sehingga peternakan babi patut untuk dilirik
Dalam pembudidayaannya tentu perlu untuk mengetahui bagaimana system
reproduksinya sehingga dengan memahaminya maka pemerlakuan terhadap ternak babi untuk
dibudidayakan (breeding) dapat terlaksana dengan baik dan benar. Tentunya system
reproduksi tidak akan lepas dari hormone reproduksi dan siklus reproduksi. Kedua hal
tersebut sangat perlu di perhatikan karena baik hormone dan siklus reproduksi sangat
berkaitan dengan perilaku seksual pada babi. Pada siklus reproduksi tertentu akan terjadi
perubahan kadar hormone sehingga mengakibatkan perilaku babi menjadi berubah. Dengan
mengetahuinya maka akan banyak manfaat yang dapat diambil. Seperti mengerti kapan babi
mengalami estrus (birahi) sehingga didapatkan waktu yang tepat dalam melakukan AI.
Kata kunci : perilaku seksual pada babi, hormone reproduksi, siklus reproduksi.

BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Ilmu reproduksi ternak merupakan ilmu yang mempelajari tentang organ-organ
reproduksi paada ternak serta fungsi-fungsinya. Ilmu reproduksi sangat penting dalam bidang

peternakan karena dengan mengetahui dan memahaminya maka potensi dari ternak itu sendiri
akan dapat dimanfaat dengan sebaik mungkin.
Semua jenis ternak memiliki alat reproduksi, tetapi bentuk dari alat reproduksi pada
masing-masing jenis ternak berbeda. Alat reproduksi pada ternak sendiri mulai berfungsi saat
ternak sudah dalam usia pubertas. Usia pubertas dimulai saat ternak pertama kali mulai dapat
memproduksi ovum pada bentina dan spermatozoa pada jantan. Tentunya terdapat juga tandatanda sekunder seperti berubah warna menjadi hitam pada ternak sapi Bali jantan, munculnya
putting susu
Reproduksi pada ternak sangat berkaitan dengan siklus reproduksi dan hormonehormon reproduksi. Siklus reproduksi merupakan rangkaian kejadian biologic kelamin yang
berlangsung secara berkesinambungan hingga terlahir generasi baru dari suatu makhluk
hidup. Sedangkan fungsi hormone adalah sebagai pendukung sehingga siklus reproduksi
dapat berjalan dengan baik.
Siklus reproduksi pada ternak juga membuat perubahan perilaku pada ternak. Salah
satunya karena pengaruh dari siklus birahi pada ternak. Terdapat perbedaan tingkah laku
seksual pada masing-masing ternak walaupun perbedaannya tidak terlalu jauh. Perubahan
tingkah laku ini perlu di ketahui oleh peternak agar peternak dapat memperlakukan ternak
yang mengalami perubahan tingkah laku ini dengan baik dan benar. Oleh karena itulah
penulis akan menulis makalah ini. Dimana akan membahas tentang prilaku seksual
khususnya pada ternak Babi.
1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana prilaku seksual pada ternak Babi?
2. Hormon reproduksi apa sajakah yang mempengaruhi perubahan perilaku seksual
pada ternak Babi?
3. Bagaimana siklus reproduksi pada ternak Babi sehingga dapat mempengaruhi
prilaku seksualnya?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk membahas bagaimana
perubahan tingkah laku seksual yang dikaitkan dengan hormone reproduksi.dan siklus
reproduksi pada ternak Babi.
1.4 Manfaat

Adapun Manfaat yang dapat diambil dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat lebih
memahami tentang perilaku seksual ternak Babi, hormone reproduksi, dan siklus reproduksi.

BAB II
Tinjauan Pustaka
2.1 Babi
Babi adalah salah satu hewan di genus Sus , dalam Suidae keluarga dari binatang
berkuku genap . Sejenis hewan ungulata yang bermoncong panjang dan berhidung lemper

dan merupakan hewan yang aslinya berasal dari Eurasia. Kadang juga dirujuk sebagai khinzir
(bahasa Arab). Babi adalah omnivora, yang berarti mereka mengonsumsi baik daging
maupun tumbuh-tumbuhan. Dan termasuk hewan yang cerdas.
Seekor babi khas memiliki kepala besar dengan moncong panjang yang diperkuat
dengan tulang prenasal khusus dan disk dari tulang rawan di ujung. Moncong ini digunakan
untuk menggali ke dalam tanah untuk mencari makanan . Ada empat jari berkuku pada setiap
kaki.
Nenek moyang babi peliharaan adalah babi hutan , yang merupakan salah satu
mamalia yang jumlahnya paling banyak sebagai mamalia besar. Lama terisolasi dari babi lain
di banyak pulau Indonesia, Malaysia, dan Filipina, babi telah berevolusi menjadi banyak
spesies yang berbeda, termasuk babi hutan, dan babi berkutil. Manusia telah memperkenalkan
babi ke Australia, Amerika Utara dan Selatan, dan beberapa pulau, sehingga meningkat
jumlah populasinya.
2.2 Hormon Reproduksi
Berjalannya sistem reproduksi pada ternak tidak terjadi dengan sendirinya, namun
dipengaruhi oleh beberapa hormone. Hormon reproduksi pada ternak betina dan ternak jantan
berbeda.Berikut ini merupakan hormone-hormon reproduksi yang mengendalikan fungsifungsi organ reproduksi pada ternak.
2.2.1 FSH (Follicle Stimulating Hormone)
Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis. Hormon FSH ini berfungsi dalam
proses pembentukan dan pematangan spermatozoa yang dikenal sebagai spermatogenesis
dan ovum yang dikenal sebagai oogenesis. Di samping itu, FSH juga merangsang
produksi hormon testoseron pada pria dan estrogen pada wanita.
2.2.2 LH (Luteinizing Hormone).
Hormon ini juga dihasilkan oleh kelenjar hipofisis. Hormon ini dapat merangsang
proses pembentukan badan kuning atau korpus luteum di dalam ovarium, setelah terjadi
poses ovulasi (pelepasan sel telur).
2.2.3 Testoseron
Hormon yang dihasilkan testis dan berperan dalam spermatogenesis dan penampakan
ciri-ciri kelamin sekunder pada pria.
2.2.4 Estrogen
Hormon ini dihasilkan oleh folikel graaf di dalam ovarium. Hormon ini berperan alam
oogenesis dan penampakan ciri-ciri kelamin sekunder pada betina. Di samping itu,

hormon ini juga berperan untuk merangsang produksi LH dan menghambat produksi
FSH.
2.2.5 Progesteron
Hormon ini dihasilkan oleh badan kuning atau korpus luteum di dalam ovarium.
Berperan dalam proses pembentukan lapisan endometrium pada dinding rahim untuk
menerima ovum yang telah dibuahi. Pada saat terjadi kehamilan, progesteron bersamasama dengan hormon estrogen menjaga agar endometrium tetap mengalami
pertumbuhan, membentuk plasenta, menahan agar otot uterus tidak berkontraksi, dan
merangsang kelenjar susu memproduksi susu.
2.2.6 Oksitosin
Hormon ini dihasilkan oleh hipofisis. Peranannya, yaitu pada proses kelahiran, untuk
merangsang kontraksi awal dari otot uterus.
2.2.7 Relaksin
Hormon ini dihasilkan oleh plasenta, berperan untuk merangsang relaksasi ligamen
pelvis pada proses kelahiran.
2.2.8 Laktogen
Dihasilkan oleh kelenjar hipofisis yang bersama-sama dengan progesteron
merangsang pembentukan air susu.
2.3 Siklus Reproduksi
Siklus reproduksi adalah rangkaian semua kejadian biologic kelamin yang
berlangsung secara berkesinambungan hingga terlahir generasi baru dari suatu makhluk
hidup. Siklus reproduksi meliputi pubertas dan siklus birahi. Pubertas adalah periode dalam
kehidupan makhluk hidup jantand dan betina dimana proses reproduksi mulai terjadi yang
ditandai dengan kemampuan untuk pertama kalinya memproduksi benih. Siklus birahi
(estrus) sendiri merupakan interval timbulnya periode birahi ke pernulaan periode birahi
berikutnya. Fase-fase dari siklus birahi sendiri yaitu 1) proesterus; 2) estrus; 3) metestrus; dan
4) diestrus.
BAB III
Pembahasan
3.1 Prilaku Seksual pada Babi
3.1.1 Jantan

Umur pubertas sekitar 7 bulan. Sperma sudah tumbuh pada umur 4 bulan sampai
umur 1 tahun dan mampu membuahi. Pada umur 5 8 bulan biasanya belum bisa
ejakulasi. Perilaku seksual yang ditunjukan Babi jantan puber adalah
1. Menaiki apa saja betina berahi/tidak berahi, jantan lain dan benda-benda lain.
2. Indra penciumannya bagus, kurang dalam penglihatan & pendengaran
3. Jika ada betina yang birahi jantan dapat melihatnya lalu menciumi vulva betina
dan menjilat-jiilat vulva betina.
3.1.2 Betina
Umur pubertas 6 8 bulan. tergantung ras. Ditandai dengan timbul perhatian terhadap
jantan. Sejak awal puber berprilaku gelisah, dan sering menaiki temannya, tapi tidak mau
menaiki jantan. Saat estrus menunjukan perilaku yang cenderung diam. Jika dinaiki babi
tidak berontak.
3.2 Hormon yang Mempengaruhi Perilaku Seksual pada Babi
Hormon yang sangat berpengaruh pada perilaku seksual pada Babi adalah hormone
esterogen pada betina dan hormone testosterone pada jantan. Perilaku seksual merupakan
tanda-tanda kelamin sekunder dimana menujukan babi tersebut sudah mulai mengalami
pubertas. Dengan adanya hormone testosterone pada Jantan misalnya. Salah satu fungsi dari
hormone ini adalah menigkatkan libido sehingga babi jantan saat pubertas dia menaiki betina
atau jantan atau benda-benda lain. Hal ini menunjukan bahwa babi mulai ingin kawin.
Sedangkan pada ternak babi betina saat esterus hormone esterogen mempengaruhi babi betina
sehingga ingin kawin. Perilakunya cenderung lebih diam dan saat dinaiki dia juga tidak
berontak seperti saat tidak estrus.

3.3 Siklus Reproduksi pada Babi dan Pengaruhnya Terhadap Perilaku Seksual
Siklus reproduksi ditekankan pada Babi betina dimana sikklus reproduksi meliputi
pubertas dan siklus birahi.
3.3.1 Pubertas

Umur pubertas pada babi jantan adalah sekitar 7 bulan sedangkan pada babi betina
umur pubertas lebih muda yaitu sekitar umur 6-8 bulan. Umur pubertas sendiri
dipengaruhi oleh factor internal dan factor external. Factor internal meliputi Jenis baba
atau genetic. Sedangkan factor external adalah lingkungan dan juga cara pemeliharaan.
3.3.2 Siklus Birahi
Siklus birahi mempunyai fase-fase. Pada setiap fase akan mempengaruhi perilaku
seksual dari babi itu sendiri. Fase siklus birahi adalah :
a. Proestrus
Merupakan fase persiapan. Babi terlihat gelisah dan menaiki betina lainnya.
Pada fase ini babi masih menolak untuk berkopulasi meskipun menunjukan gejala birahi.
Selain itu babi mengalami perubahan alat reproduksi bagian dalam untuk mempersiapkan
estrus.
b. Estrus
Pada fase ini betina sudah mau menerima pejantan untuk berkopulasi. Adanya
peningkatan hormone esterogen yang menyebabkan terjadinya ovulasi. Pada babi juga
muncul tanda-tanda birahi seperti servix mengeluarkan lender dan jika diduduki babi
tidak bergerak atau berontak.
c. Metestrus
Pada fase ini babi betina sudah menolak untuk berkopulasi. Servik telah
menutup dan pada ovarium telah membentuk corpus luteum.
d. Diesterus
Fase ini tergantung pada terjadi atau tidaknya kebuntingan pada babi. Jika
tidak terjadi kebuntingan maka akan kembali ke fase proesterus lagi setelah 13
hari.Tetapi jika terjadi kebuntingan maka fase ini akan terjadi selama kebuntingan
tersebut berlangsung. Perubahan perilaku seksual yang terjadi pada fase ini adalah babi
sudah kembali tenang dan tidak menunjukan gejala-gejala birahi.

BAB IV
Kesimpulan

Perilaku seksual merupakan tanda-tanda kelamin sekunder dimana perubahan dari


perilaku ini sangat dipengaruhi oleh hormone reproduksi dan siklus reproduksi. Peningakatan
dan penurunan kadar hormone dalam tubuh terutama esterogen dan testosterone pada babi
akan membuat perubahan perilaku seksual pada babi. Peningkatan dan penurunan hormone
reproduksi ini terjadi selama terjadi siklus reproduksi. Salah satunya adalah pada siklus
birahi. Pada saat esterus terjadi peningkatan hormone esterogen yang membuat babi betina
mengalami ovulasi dan mau berkopulasi dengan pejantan. Sedangkan pada pejantan sendiri
peningkatan hormone testosterone akan meingkatkan libido sehingga menjadi tertarik pada
betina dan ingin berkopulasi dengan betina.

DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia. 2014. Pig. http://en.wikipedia.org/wiki/Pig . Diakses pada 4/11/2014.

Sridianti. 2014. Jenis dan Fungsi Hormon Reproduksi. http://www.sridianti.com/jenis-fungsihormon-reproduksi.html. Diakses pada 4/11/2014.
Maulida. 2013. Tingkah Laku Babi. http://maulidayanti1.blogspot.com/2013/07/tingkah-lakubabi.html. Diakses pada 4/11/2014.
Sumardani, Ni Luh Gede. 2014. Bahan Ajar Hormon-Hormon Reproduksi Ternak.
Universitas Udayana. Denpasar.
Sudarmoyo, Bambang, Isroli and Siti Susanti. 2007. Buku Ajar Hormon dan Sistem
Reproduksi pada Ternak. http://www.slideshare.net/romieabrorie/hormon-dan-sistemreproduksi-pada-ternak.Universitas Diponegoro. Semarang.