Anda di halaman 1dari 24

REFLEKSI KASUS

AGUSTUS 2014

BAYI ATERM + SMK + ASFIKSIA + GANGGUAN NAPAS


BERAT + DUGAAN SEPSIS

Nama

: Melly Haw, S.Ked

No. Stambuk

: N 111 13 025

Pembimbing

: dr. Suldiah, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
PALU
2014

PENDAHULUAN

Asfiksia pada bayi baru lahir adalah kegagalan napas secara spontan dan
teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir. Sering sekali seorang bayi
yang mengalami gawat janin sebelum persalinan akan mengalami asfiksia sesudah
persalinan. Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir dengan asfiksia meliputi pemberian
oksigen dengan kateter nasal dan menjaga patensi jalan napas.(1,2)
Gangguan napas pada bayi baru lahir (BBL) adalah keadaan bayi yang
sebelumnya normal atau bayi dengan asfiksia yang sudah dilakukan resusitasi dan
berhasil, tetapi beberapa saat kemudian mengalami gangguan nafas. Gangguan napas
merupakan sindroma klinis yang terdiri dari kumpulan gejala sebagai berikut: (3,4,5)
Frekuensi napas bayi > 60 kali per menit atau frekuensi napas bayi < 30 kali per
menit dan mungkin menunjukkan satu atau lebih tanda tambahan gangguan napas
sebagai berikut:

Bayi dengan sianosis sentral (biru pada lidah dan bibir)

Tarikan dinding dada

Merintih

Bayi apneu (napas berhenti > 20 detik).


Penatalaksanaan gangguan napas secara umum yaitu melakukan patensi jalan

napas, pemasangan infus (dextrosa 5% jika tidak dehidrasi), pemberian O2 2-3 liter
menggunakan kateter nasal dan pemberian antibiotik jika ada kecurigaan sepsis

neonatorum, tidak memberikan minum. Pada gangguan napas, observasi tanda-tanda


vital harus dilakukan setiap 1-2 jam.
Berikut akan dibahas sebuah refleksi kasus mengenai bayi aterm + SMK +
asfiksia + gangguan napas berat + dugaan sepsis yang di rawat di ruangan Perinatal
Resiko Tinggi RSUD Undata Palu.

LAPORAN KASUS

IDENTITAS
Nama

: Bayi Ny. H

Jenis kelamin

: Laki-laki

Tanggal lahir

: 25 Juli 2014 (12.15 Wita)

Tanggal masuk

: 25 Juli 2014 (12.40 Wita)

ANAMNESIS
Bayi laki-laki lahir di Rumah Sakit Undata Palu pada tanggal 25 Juli 2014
pukul 12.15 Wita dengan persalinan secara induksi dengan berat badan lahir 3100
gram dan panjang badan 49 cm. Bayi tidak langsung menangis saat lahir, Apgar
score 3/5/7, sianosis (+) tetapi hilang dengan O2, merintih (+), retraksi (+), air
ketuban berwarna hijau kental dan gerakan kurang aktif.
Riwayat maternal :
Usia kehamilan 38 minggu. Riwayat kehamilan ibu G2P1A0, ibu berumur 36
tahun sewaktu hamil. Antenatal Care rutin ke puskesmas, terdapat riwayat
preeklamsia selama kehamilan dan KPD. Ibu tidak menderita flu dan demam saat
mengandung. Tidak ada riwayat konsumsi minuman beralkohol. Tidak ada yang
merokok di lingkungan rumah.
PEMERIKSAAN TANDA VITAL :
-

Denyut Jantung

: 152 x/menit

Respirasi

: 64 x/menit

: 36,6 C

Suhu

Capillary Refill Time : < 2 detik

PEMERIKSAAN FISIK :
Berat Badan Lahir : 3100 gram
Panjang Badan Lahir : 49 cm
Lingkar Kepala

: 36 cm

Lingkar Dada

: 34 cm

Lingkar Perut

: 32 cm

Lingkar Lengan

: 11 cm

Sistem Neurologis

: - Aktivitas bayi : kurang aktif


- Kesadaran : compos mentis
- Fontanella : datar
- Sutura : belum menyatu
- Refleks terhadap cahaya : (+/+) kesan normal
- Kejang : (-)
- Tonus otot : Baik

Sistem Respirasi

: - Sianosis (+) hilang dengan O2


- Retraksi (+)
- Napas cuping hidung (+)
- Pergerakan dinding dada : Simetris bilateral
- Merintih (+)
- Apneu (-)

- Bunyi napas : bronkovesikuler


- Bunyi napas tambahan (-)
Score DOWNE

: - Frekuensi nafas : 1
- Retraksi : 1
- Sianosis : 1
- Udara Masuk : 0
- Merintih : 2
Total : 5
Kesimpulan : Ada gawat nafas

WHO : Gangguan Napas Berat


Sistem Kardiovaskuler : - Bunyi jantung : S1-S2 murni regular
- Bising jantung : (-)
Sistem Hematologi : - Pucat : (-)
- Ikterus : (-)
Sistem Gastrointestinal : - Kelainan dinding abdomen (-)
- Muntah (-)
- Diare (-)
- Umbilikus : bernanah (-), iritasi (-), edema (-)
- Bising usus : (+) kesan normal
- Organomegali : (-)
- Residu lambung : (-)

Sistem Genital

: - Anus imperforata (-)


- Testis sudah turun dan rugae pada skrotum tampak
jelas (+)

Pemeriksaan lain

: - Ekstremitas

: Akral hangat, lengkap

- Turgor

: Baik

- Trauma Lahir

: (-)

- Kelainan Kongenital : (-)


Ballards Score:

Maturitas Neuromuskular

Maturitas Fisik

Sikap tubuh : 3

- Kulit : 2

Persegi jendela : 4

- Lanugo : 2

Recoil lengan : 4

- Permukaan Plantar: 4

Tanda selempang : 3

- Payudara : 3

Sudut poplitea : 3

- Daun Telinga : 3

Tumit ke telinga : 3

- Kelamin : 3

Total : 37
Estimasi Minggu Kehamilan : 38-40
Estimasi usia kehamilan menurut kurva Lubscencho: Bayi aterm + SMK

Kriteria Sepsis :
Kategori A
Gangguan Napas

Kategori B
Kurang aktif

Kesimpulan : Dugaan sepsis neonatorum

RESUME
Bayi laki-laki lahir dengan persalinan secara induksi dengan berat badan lahir
3100 gram dan panjang badan 49 cm. Bayi tidak langsung menangis saat lahir, Apgar
score 3/5/7, sianosis (+) tetapi hilang dengan O2, merintih (+), retraksi (+), air
ketuban berwarna hijau kental dan gerakan kurang aktif. Terdapat riwayat
preeklamsia selama kehamilan dan KPD. Score DOWNE 5 (WHO : Gangguan napas

berat), Ballards score 37 dengan estimasi minggu kehamilan : 38-40 minggu,


estimasi berdasarkan kurva lubscenco : SMK dan terdapat dugaan sepsis neonatorum.

DIAGNOSIS

: Bayi aterm + SMK + Asfiksia + Gangguan napas berat + Dugaan


sepsis

TERAPI :
Langkah awal resusitasi
-

Hangatkan bayi

Atur posisi kepala bayi

Isap lendir

Keringkan dan beri rangsangan taktil

Atur kembali posisi bayi

Penilaian Denyut jantung, respirasi, dan warna kulit.

Pasca resusitasi
-

Jaga kehangatan bayi

Inisiasi menyusu dini

Observasi tanda vital

Observasi tanda bahaya

Oksigen 2-3 liter/menit

Injeksi vitamin K 1 mg Intramuscular

Tetes mata Gentamicin 1 tetes/mata

IVFD Dextrose 5% 8 tetes per menit

Inj. Cefotaksime 2 x 150 mg/IV

Inj. Gentamicin 2 x 6 mg/IV

Inj. Dexamethasone 3 x 0,5 mg/IV

ANJURAN PEMERIKSAAN :

- Observasi tanda-tanda vital tiap 1-2 jam


- Observasi keadaan bayi (pantau kejang,
ikterus)
- Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu
- Pemeriksaan Darah Rutin
- Foto thorax

FOLLOW UP
Tanggal 26/7/2014 (Usia 1 hari)
S

: -

O : Tanda Vital
Denyut Jantung : 122 x/menit
Pernapasan : 65 x/menit
Suhu : 36,8C
CRT : < 2 detik
Berat Badan sekarang : 3100 gram
Berat Badan Lahir

: 3100 gram

Kondisi umum

: lemah, bayi tidur, kejang (-), sianosis (-),

merintih (-), pernapasan cuping hidung (-), retraksi dinding dada (-),

muntah (-), diare (-), perut kembung (-), pucat (-), ikterus (-). Pola
minum belum baik.
SKOR DOWNE : 1 (gangguan Napas Ringan)
Kriteria Sepsis : Dugaan Sepsis
Kategori A : Gangguan Napas
Kategori B : Gangguan minum
Hasil pemeriksaan laboratorium GDS : 129 mg/dl
Hasil Laboratorium darah :
WBC (11,5 x 103/L) H
RBC (5,27 x 106/L)
HGB (13,6 g/dL)
HCT (48,6%)
PLT (226 x 103/L)
A

: Bayi aterm + SMK + Asfiksia + Gangguan Napas Ringan + Dugaan


Sepsis

: Observasi tanda-tanda vital tiap 1-2 jam


Oksigen 1-2 liter/menit
IVFD Dextrose 5% 6 tetes permenit
Inj. Cefotaksime 2 x 150 mg/IV
Inj. Gentamicin 2 x 6 mg/IV
Inj. Dexamethasone 3 x 0,5 mg/IV
Asi/Pasi 10 cc/3 jam

Tanggal 27/7/2014 (Usia 2 hari)


S

: -

O : Tanda Vital
Denyut Jantung : 124 x/m
Pernapasan : 54 x/m
Suhu : 36,8C
CRT : < 2 detik
Berat Badan Lahir

: 3100 gram

Berat Badan sekarang

: 3000 gram

Kondisi umum

: lemah, bayi tidur, kejang (-), sianosis (-),

merintih (-), pernapasan cuping hidung (-), retraksi dinding dada (-),
muntah (-), diare (-), perut kembung (-), pucat (-), ikterus (-). Pola
minum belum efektif.
SKOR DOWNE : 0
Kriteria Sepsis : A

: Bayi aterm + SMK + Post Asfiksia + Post Gangguan Napas

: - IVFD Dextrose 5% 6 tpm


- Inj. Cefotaksime 2 x 150 mg/IV
- Inj. Gentamicin 2 x 6 mg/IV
- Inj. Dexamethasone 3 x 0,5 mg/IV
- Asi/Pasi 18 cc/3 jam

Tanggal 28/7/2014 (Usia 3 hari)

: -

O : Tanda Tanda Vital


Denyut Jantung : 120 x/m
Pernapasan : 52 x/m
Suhu : 36,5C
CRT : < 2 detik
Berat Badan Lahir

: 3100 gram

Berat Badan sekarang : 3000 gram


Kondisi umum

: lemah, bayi tidur, kejang (-), sianosis (-),

merintih (-), pernapasan cuping hidung (-), retraksi dinding dada (-),
muntah (-), diare (-), perut kembung (-), pucat (-), ikterus (-). Pola
minum baik.
SKOR DOWNE : 0
Kriteria Sepsis : A

: Bayi aterm + SMK + Post Asfiksia + Post Gangguan Napas

: - IVFD Dextrose 5% 8 tpm


- Inj. Cefotaksime 2 x 150 mg/IV
- Inj. Gentamicin 2 x 6 mg/IV
- Asi/Pasi 22 cc/3 jam

Tanggal 29/7/2014 (Usia 4 hari)


S

: -

O : Tanda Vital

Denyut Jantung : 118 x/m


Pernapasan : 50 x/m
Suhu : 36,5C
CRT : < 2 detik
Berat Badan Lahir

: 3100 gram

Berat Badan sekarang : 3000 gram


Kondisi umum

: sakit sedang, bayi tidur, kejang (-), sianosis (-),

merintih (-), pernapasan cuping hidung (-), retraksi dinding dada (-),
muntah (-), diare (-), perut kembung (-), pucat (-), ikterus (-). Pola
minum baik.
SKOR DOWN : 0
Kriteria Sepsis : A

: Bayi aterm + SMK + Post Asfiksia + Post Gangguan Napas

: - IVFD Dextrose 5% 10 tpm


- Inj. Cefotaksime 2 x 150 mg/IV
- Inj. Gentamicin 2 x 6 mg/IV
- Asi/Pasi 25 cc/3 jam

Tanggal 30/7/2014 (Usia 5 hari)


S

: -

O : Tanda Vital
Denyut Jantung : 120 x/m
Pernapasan : 58 x/m

Suhu : 36,5C
CRT : < 2 detik
Berat Badan Lahir

: 3100 gram

Berat Badan sekarang : 2900 gram


Kondisi umum

:baik, bayi aktif, kejang (-), sianosis (-),

merintih (-), pernapasan cuping hidung (-), retraksi dinding dada (-),
muntah (-), diare (-), perut kembung (-), pucat (-), ikterus (-). Pola
minum baik.
SKOR DOWN : 0
Kriteria Sepsis : A

: Bayi aterm + SMK + Post Asfiksia + Post Gangguan Napas

: - Asi/Pasi 50 cc/3 jam

Tanggal 31/7/2014 (Usia 6 hari)


S

: -

O : Tanda Vital
Denyut Jantung : 128 x/m
Pernapasan : 55 x/m
Suhu : 36,5C
CRT : < 2 detik
Berat Badan Lahir

: 3100 gram

Berat Badan Hari ini : 2900 gram

Kondisi umum

:baik, bayi aktif, kejang (-), sianosis (-),

merintih (-), pernapasan cuping hidung (-), retraksi dinding dada (-),
muntah (-), diare (-), perut kembung (-), pucat (-), ikterus (-). Pola
minum baik.
SKOR DOWN : 0
Kriteria Sepsis : A

: Bayi aterm + SMK + Post Asfiksia + Post Gangguan Napas

: - Asi/Pasi 60 cc/3 jam

DISKUSI
Asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir tidak bernapas secara spontan.
Seringkali bayi yang mengalami gawat janin sebelum persalinan akan mengalami
asfiksia sesudah persalinan. Masalah ini mungkin berkaitan dengan kondisi ibu,
masalah pada tali pusat dan plasenta atau masalah pada bayi selama atau sesudah
persalinan. Berikut beberapa masalah tersebut: (2)
a.

Faktor ibu. Kurangnya aliran darah ibu melalui plasenta sehingga terjadi
hipoksia janin dan menyebabkan gawat janin serta asfiksia setelah lahir.
Beberapa faktor predisposisinya, yaitu:

b.

1.

Preeklampsia dan eklampsia,

2.

Perdarahan antepartum abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta),

3.

Partus lama atau partus macet,

4.

Partus dengan tindakan (misal vakum ekstraksi, sectio cesaria),

5.

Demam sebelum dan selama persalinan,

6.

Infeksi berat ( malaria, sifilid, TBC, HIV), dan

7.

Kehamilan lebih bulan ( lebih 42 minggu kehamilan).

Faktor plasenta dan tali pusat. Penurunan aliran darah dan oksigen melalui tali
pusat bayi akan menyebabkan kejadian asfiksia. Beberapa faktor predisposisinya,
yaitu:
1.

Infark plasenta,

2.

Hematom plasenta,

c.

3.

Lilitan tali pusat,

4.

Tali pusat pendek,

5.

Simpul tali pusat, dan

6.

Prolapsus tali pusat.

Faktor bayi. Beberapa keadaan bayi yang dapat mengalami asfiksia walaupun
kadang-kadang tanpa didahului tanda gawat janin diantaranya, yaitu :
1.

Bayi kurang bulan/prematur (< 37 minggu kehamilan),

2.

Air ketuban bercampur mekonium, dan

3.

Kelainan kongenital yang memberi dampak pada pernapasan bayi.


Pada kasus ini faktor predisposisi terjadinya asfiksia adalah dari faktor ibu dan

faktor bayi, yaitu ibu menderita preeklampsia dan air ketuban bercampur mekonium.
Pada preeklampsia dapat menurunkan aliran darah ke plasenta sehingga
mengakibatkan gangguan fungsi plasenta, maka fungsi plasenta yang mengalirkan
makanan dan oksigen pada janin terganggu, sehingga bayi mengalami asfiksia. Selain
itu, bayi meminum ketuban dan masuk ke alveoli paru bayi sehingga terisi cairan
yang menyebabkan kesulitan bernafas ketika lahir atau beberapa saat setelah lahir.(2,4)
Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir dengan asfiksia (2):
1. Pasang jalur infus intravena,
2. Bila bayi tidak dalam keadaan dehidrasi berikan infus Dekstrosa 5 %
3. Pantau selalu tanda vital
4. Jaga patensi jalan napas
5. Berikan Oksigen ( 2-3 liter / menit dengan kateter nasal )

6. Jika bayi mengalami apneu:


a. Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan
b. Lakukan penilaian lanjut
7. Segera periksa kadar glukosa darah (bila fasilitas tersedia)
8. Pemberian nutrisi adekuat
Manajemen lanjutan pasca resusitasi :
1. Keringkan dan tetap jaga kehangatan bayi,
2. Lakukan inisiasi menyusu dini,
3. Beri salep mata antibiotik,
4. Beri injeksi vit.K 1 jam di paha kiri anterolateral
5. Beri imunisasi hepatitis B0 1-2 jam setelah injeksi vitamin K
6. Pantau tanda vital tiap jam
Managemen lanjutan pasca resusitasi dilakukan, serta dilakukan pula
pemberian infus intravena dan pemberian obat melalui intravena, diakibatkan karena
bayi mengalami gangguan napas berat, sehingga untuk memasukkan cairan ke dalam
tubuh dilakukan pemasangan infus. Pemberian obat antibiotik dilakukan untuk
mencegah terjadinya infeksi pada bayi.
Asfiksia biasanya akan berlanjut menjadi gangguan napas. Gangguan napas
adalah suatu keadaan meningkatnya kerja pernapasan yang ditandai dengan, antara
lain : takipneu, retraksi interkostal dan substernal selama inspirasi, napas cuping
hidung, merintih atau grunting, sianosis, apneu.(3,4,5)

Pasien selain menderita asfiksia, juga mengalami gangguan napas. Hal ini
ditegakkan berdasarkan pemeriksaan tanda vital dan pemeriksaan fisik. Pada tanda
vital saat pasien baru masuk, didapatkan pernapasan 64 x/menit dan pada
pemeriksaan fisik didapatkan retraksi, merintih, sianosis tetapi hilang dengan O2.
Sesuai klasifikasi yang ditetapkan WHO, pasien termasuk gangguan napas
berat. Berikut ini merupakan klasifikasi gangguan napas berdasarkan WHO : (3,5)

Secara umum, gangguan napas pada bayi baru lahir disebabkan oleh beberapa hal: (3,5)
Kelainan paru : Pneumonia
Kelainan jantung : Penyakit Jantung Bawaan, Disfungsi miokardium
Kelainan Susunan Syaraf Pusat akibat : Asfiksia, Perdarahan otak
Kelainan metabolik : Hipoglikemia, Asidosis metabolik
Kelainan

Bedah:

Pneumotoraks,

Fistula

Trakheoesofageal,

Hernia

diafragmatika
Kelainan lain : Sindrom Aspirasi Mekonium, Transient tachypnea of the
Newborn , Penyakit Membran Hialin
Penyebab gangguan napas menurut masa gestasi : (6,5)
Pada Bayi Kurang Bulan :
Penyakit Membran Hialin
Pneumonia
Asfiksia
Kelainan atau Malformasi Kongenital
Pada Bayi Cukup Bulan :
Sindrom Aspirasi Mekonium
Pneumonia
Transient Tachypnea of the Newborn

Asidosis
Kelainan atau Malformasi Kongenital
Kemungkinan penyebab gangguan napas pada pasien yaitu terjadi sindrom
aspirasi mekonium. Penanganan aspirasi mekonium yaitu dilakukan pengisapan.
Penanganan yang dilakukan pada pasien yaitu diberikan antibiotik dan obat
antiinflamasi. Hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya sepsis
neonatorum. Dan juga diberikan O2 2-3 L/menit sampai tidak terjadi gangguan napas.
Selain itu, dilakukan juga observasi tanda vital setiap 1-2 jam setelah kelahiran dan
dipuasakan karena bayi menderita gangguan napas berat. Dan diberikan ASI serta
susu formula sebagai tambahan ASI jika tidak terjadi gangguan napas. (3,7)
Prognosis gangguan napas tergantung pada latar belakang etiologi gangguan
napas. Prognosis pada kasus ini baik karena gangguan napas karena bersifat akut dan
tidak berhubungan dengan keadaan hipoksemia yang lama serta tidak berlanjut
menjadi sepsis neonatorum.
Dugaan sepsis pada pasien ini kemungkinan terjadi karena akibat ketuban pecah
dini sehingga bakteri vagina dapat naik dan menyebabkan infeksi pada membran
janin, tali pusat dan plasenta. Selain itu juga, infeksi pada janin dapat disebabkan
oleh aspirasi air ketuban yang terinfeksi sehingga menyebabkan sepsis.
Faktor resiko sepsis neonatorum diantaranya:

Faktor resiko ibu:


-

Ketuban pecah dini > 18 jam

Infeksi ibu peripartum (koriamnionitis, persalinan kurang bulan, demam


intrapartum, uterus teraba keras, leukosit ibu > 15.000/mm3

Persalinan kurang bulan < 37 bulan

Asfiksia intrapartum

Infeksi saluran kemih

Faktor resiko neonatus:


-

Prematuritas dan BBLR

Neonatus dengan pemasangan pipa ET, kateter vena umbilikalis atau


pemasangan ventilator

Kelainan kongenital misalnya meningokel, kelainan saluran kemih

Faktor resiko lingkungan:


-

Lingkungan dan peralatan dikamar bersalin dan kamar operasi

Infeksi nosokomial

Untuk memastikan sepsis, maka dapat dilakukan kultur darah sebagai Gold standard
untuk melihat adanya temuan bakteri dalam darah. (6,7)

DAFTAR PUSTAKA
1. Dorland, dan Newman, Kamus Kedokteran Dorland, Edisi 29, EGC, Jakarta,
2002
2. Tim Poned UKK Perinatologi IDAI, dalam slide Asfiksia Pada Bayi Baru
Lahir, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta
3. IDAI. 2010. Buku Ajar Neonatologi. Badan Penerbit IDAI. Jakarta.
4. Rudolph Abraham, dkk. 2007. Buku Ajar Pediatri Rudolph, volume 2.
Penerbit EGC. Jakarta.
5. Tim Poned UKK Perinatologi IDAI, dalam slide Gangguan Napas Pada
Bayi Baru Lahir, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta
6. Behrman, Kliegman, dan Arvin, Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.1, Ed. 15,
EGC, Jakarta, 1991
7. IDAI, 2005. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi I. pp: 286-90.
Jakarta : Badan Penerbit IDAI.