Anda di halaman 1dari 9

PERMASALAHAN KURIKULUM INDONESIA

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Kajian Kurikulum
yang dibina oleh Bpk. Prof. Dr. Ery Try Djatmika Rudijanto Wahyu Wardhana, M.A., M.Si

Oleh
IRMAWANSAH

132103818906

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PASCASARJANA
PROGRAM PENDIDIKAN DASAR
Februari 2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kurikulum merupakan alat yang sangat penting bagi keberhasilan suatu pendidikan.
Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk mencapai tujuan dan sasaran
pendidikan yang diinginkan. Dalam sejarah pendidikan di Indonesia sudah beberapa kali
diadakan perubahan dan perbaikan kurikulum yang tujuannya sudah tentu untuk
menyesuaikannya dengan perkembangan dan kemajuan zaman, guna mencapai hasil yang
maksimal.
Pembelajaran di Indonesia hingga saat ini masih dianggap belum maksimal.
Pembelajaran di sekolah memberikan dampak pada pendidikan di Indonesia. Jika
dibandingkan dengan negara lain, pendidikan di Indonesia masih sangat jauh. Pendidikan
merupakan hal yang berkaitan dengan sistem kurikulum yang dijalankan. Kemerosotan
pendidikan di Indonesia yang tertinggal dari negara lain, sangat erat kaitannya dengan
masalah-masalah kurikulum yang dijalankan oleh para tenaga pendidik dan Mendiknas.
Untuk memajukan kembali pendidikan di Indonesia, maka kita harus terlebih dahulu
mengetahui masalah-masalah yang telah dihadapi oleh kurikulum Indonesia. Setelah itu,
barulah kita mampu mencari solusi untuk memecahkan masalah kurikulum di Indonesia.
Perubahan secara terus menerus ini menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan
nasional, termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu
bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan.
Perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia dewasa ini salah satu diantaranya
adalah karena ilmu pengetahuan itu sendiri selalu dinamis. Selain itu, perubahan tersebut juga
dinilainya dipengaruhi oleh kebutuhan manusia yang selalu berubah juga pengaruh dari luar,
dimana secara menyeluruh kurikulum itu tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh
prubahan iklim ekonomi, politik, dan kebudayaan. Sehingga dengan adanya perubahan
kurikulum itu, pada gilirannya berdampak pada kemajuan bangsa dan negara. Kurikulum
pendidikan harus berubah tapi diiringi juga dengan perubahan dari seluruh masyarakat
pendidikan di Indonesia yang harus mengikuti perubahan tersebut, karena kurikulum itu
bersifat dinamis bukan stasis, kalau kurikulum bersifat statis maka itulah yang merupakan
kurikulum yang tidak baik.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Masalah kurikulum yang kompleks di Indonesia.
2. Masalah kurikulum di Indonesia sering berganti nama.
3. Masalah kurangnya sumber prinsip pengembangan kurikulm di Indonesia.

C. Tujuan Penulisan
Ada pun tujuan penulisan dalam makalah ini, di antaranya adalah:
1. Memenuhi salah satu tugas individu mata kuliah kajian kurikulum.
2. Mengetahui masalah-masalah yang terjadi pada kurikulum di Indonesia.
3. Mengetahui cara atau solusi untuk mengatasi masalah kurikulum di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kurikulum
Kurikulum adalah segala sesuatu yang dijalankan, dilaksanakan, direncanakan,
diajukan dan diawasi pelaksanaannya yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan,
perkembangan siswa agar mampu ikut andil dalam masyarakat dan berguna bagi
masyarakat, juga akan berguna masa depannya kelak.
Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus sebagai
pedoman dalam pelaksanaan pendidikan. Dalam usaha pencapaian tujuan pendidikan,
peran kurikulum dalam pendidikan formal di sekolah sangatlah strategis. Bahkan
kurikulum memiliki kedudukan dan posisi yang sangat sentral dalam keseluruhan proses
pendidikan, serta kurikulum merupakan syarat mutlak dan bagian yang tak terpisahkan
dari pendidikan itu sendiri, karena peran kurikulum sangat penting maka, menjadi
tanggung jawab semua pihak yang terkait dala proses pendidikan. Bagi guru, kurikulum
berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Bagi kepala
sekolah dan pengawas berfungsi sebagai pedoman supervisi atau pengawasan. Bagi orang
tua kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman untuk memberikan bantuan bagi
terselenggaranya proses pendidikan. Sedangkan bagi siswa kurikulum sebagai pedoman
pelajaran.

B. Masalah-masalah Kurikulum di Indonesia


Begitu banyak masalah-masalah kurikulum dan pembelajaran yang dialami
Indonesia. Masalah-masalah ini turut andil dalam dampaknya terhadap pembelajaran dan
pendidikan Indonesia. Berikut ini adalah beberapa masalah kurikulum:
1. Kurikulum Indonesia Terlalu Kompleks
Jika dibandingkan dengan kurikulum di negara maju, kurikulum yang
dijalankan di Indonesia terlalu kompleks. Hal ini akan berakibat bagi guru dan siswa.
Siswa akan terbebani dengan segudang materi yang harus dikuasainya. Ssiswa harus
berusaha keras untuk memahami dan mengejar materi yang sudah ditargetkan. Hal ini
akan mengakibatkan siswa tidak akan memahami seluruh materi yang diajarkan. Siswa

akan lebih memilih untuk mempelajari materi dan hanya memahami sepintas tentang
materi tersebut. Dampaknya, pengetahuan siswa akan sangat terbatas dan siswa kurang
mengeluarkan potensinya, daya saing siswa akan berkurang.
Selain berdampak pada siswa, guru juga akan mendapat dampaknya. Tugas guru
akan semakin menumpuk dan kurang maksimal dalam memberikan pengajaran. Guru
akan terbebani dengan pencapaian target materi yang terlalu banyak, sekalipun masih
banyak siswa yang mengalami kesulitan, guru harus tetap melanjutkan materi. Hal ini
tidak sesuai dengan peran guru. Kurikulum di Indonesia yang cenderung fokus pada
kemampuan intelektual membuat bakat atau soft skill siswa tidak berkembang. Padahal,
sebenarnya bakat siswa bermacam-macam dan tidak bisa dipaksa harus berada di suatu
bidang saja. Akibat soft skill yang kurang tergali, di katakan Rektor Universitas
Pakuan, Bibin Rubini saat ini tawuran serta bentrok makin marak. Selain itu, Bibin juga
mengingatkan banyaknya aturan dan ketentuan yang ada dalam sistem pendidikan tidak
diimplementasikan. "Jika dilihat, sistem pendidikan kita tidak jauh berbeda dengan
negara lain. Hanya saja, di negara lain diimplementasikan dengan baik, sedangkan di
kita hanya sekadar aturan," misalnya kebijakan sekolah gratis tidak diterapkan dengan
baik sehingga masih banyak siswa tidak mampu yang tidak bisa mengenyam
pendidikan karena keberatan dengan biaya pendidikan yang mahal. Jadi kebijakan yang
ada diimplementasikan dengan baik, terutama soal wajib belajar, maka angka
partisipasi kasar pendidikan kita tentu akan semakin meningkat (A-155/A-89).
2. Seringnya Berganti Nama
Kurikulum di Indonesia sering sekali mengalami perubahan. Namun, perubahan
tersebut hanyalah sebatas perubahan nama semata. Tanpa mengubah konsep kurikulum,
tentulah tidak akan ada dampak positif dari perubahan kurikulum Indonesia. Bahkan,
pengubahan nama kurikulum mampu disajikan sebagai lahan bisnis oleh oknum-oknum
yang tidak bertanggung jawab.
Pengubahan nama kurikulum tentulah memerlukan dana yang cukup banyak.
Apabila dilihat dari sudut pandang ekonomi, alangkah baiknya jika dana tersebut
digunakan untuk bantuan pendidikan yang lebih berpotensi untuk kemajuan
pendidikan.

3. Kurangnya sumber prinsip pengembangan


Pengembangan suatu kurikulum tentu saja berdasarkan sumber prinsip, untuk
menunjukan dari mana asal mula lahirnya suatu prinsip pengembangan kurikulum.
Sumber prinsip pengembangan kurikulum yang dimaksud adalah data empiris
(pengalaman yang terdokumentasi dan terbukti efektif), data eksperimen (temuan hasil
penelitian), cerita/legenda yang hidup di masayaraksat (folklore of curriculum), dan
akal sehat (common sense).
Namun dalam fakta kehidupan, data hasil penelitian (hard data) itu sifatnya
sangat terbatas. Terdapat banayk data yang bukan diperoleh dari hasil penelitian juga
terbukti efektif untuk memecahkan masalah-masalah yang komploks, diantaranya adat
kebiasaan yang hidup di masyarakat (folklore of curiculum). Ada juga hasil pemikiran
umum atau akal sehat (common sense).

C. Solusi
Dari masalah-masalah yang telah diuraikan sebelumnya, tentu akan ada solusi yang
mampu untuk memecahkannya.
Berikut ini adalah beberapa solusi yang dapat dilakukan :
1. Mengubah paradigma dari pengajaran yang berbasis sistetik-materialistik menjadi
religius. Solusi ini menunjukan akan berkurangnya kemerosotan moral. Dimana tidak
akan ada lagi siswa cerdas yang tidak bermoral.
2. Mengubah konsep awal paradigma kurikulum menjadi alur yang benar untuk mencapai
suatu tujuan yang sebenarnya.
3. Melakukan pemerataan pendidikan melalui pemerataan sarana dan prasarana ke sekolah
terpencil, sehingga tidak akan ada lagi siswa di daerah terpencil yang terbelakang
pendidikan.
4. Menjalankan kurikulum dengan sebaik mungkin.
5. Membersihkan organ-organ kurikulum darin oknum-oknum tak bertanggung jawab.
6. Mengadakan studi kasus penelitan di setiap daerah Nusantara, agar dapat melahirkan
pengalaman dan dokumentasi yang kuat dan efektif dalam pengembangan kurikulum.
Faktor sosial budaya sangat penting dalam penyusunan kurikulum yang relevan,
karena kurikulum merupakan alat untuk merealisasikan sistem pendidikan, sebagai salah
satu dimensi dari kebudayaan. Implikasi dasarnya adalah sebagai berikut:

1. Kurikulum harus disusun berdasarkan kondisi sosial-budaya masyarakat. Kurikulum


disusun bukan saja harus berdasarkan nilai, adat istiadat, cita-cita dari masyarakat,
tetapi juga harus berlandaskan semua dimensi kebuadayaan seperti kehidupan keluarga,
ekonomi, politik, pendidikan dan sebagainya.
2. Karena kondisi sosial budaya senantiasa berubah dan berkembang sejalan dengan
perubahan masyarakat, maka kurikulum harus disusun dengan memperhatikan unsur
fleksibilitas dan bersifat dinamis, sehingga kurikulum tersebut senantiasa relevan
dengan masyarakat. Konsekuensi logisnya, pada waktunya perlu diadakan perubahan
dan revisi kurikulum, sesuai dengan perkembangan dan perubahan sosial budaya yang
ada pada saat itu.
3. Program kurikulum harus disusun dan mengandung materi sosial budaya dalam
masyarakat. Ini bukan hanya dimaksudkan untuk membudayakan anak didik, tetapi
sejalan dengan usaha mengawetkan kebudayaan itu sendiri. Kemajuan dalam bidang
teknologi akan memberikan bahan yang memadai dalam penyampaian teknologi baru
itu kepada siswa, yang sekaligus mempersiapkan mempersiapkan para siswa tersebut
agar mampu hidup dalam teknologi itu. Dengan demikian, sekolah benar-benar dapat
mengemban peran dan fungsinya sebagai lembaga modernisasi.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Indonesia mengalami kemerosotan di bidang pendidikan. Jika dibandingkan dengan
negara lain, Indonesia menduduki peringkat di bawah negara-negara di Asia. Hal ini
sangat berkatan dengan masalah-masalah kurikulum yang dihadapi Indonesia. Masalah
kurikulum di Indonesia dapat diselesaikan tidak cukup dengan mengganti namanya saja,
melainkan harus melakukan perombakan secara menyeluruh dari kurikulum.
Masalah kurikulum juga terletak dari sarana dan prasarana yang kurang merata. Selain
itu, kurikulum Indonesia yang terlalu kompleks, kurangnya sumber prinsip pengembangan
dan membebani siswa beserta guru yang berkaitan menjadikan kurang maksimalnya
pembelajaran.
B. Saran
Persoalan yang sering kita temui di lapangan jangankan menyusun kurikulum,
menjalankan kurikulum yang sudah ada sulitnya bukan main. Oleh karena itu, diperlukan
upaya-upaya kongkrit untuk mengiringi suksesnya penyempurnaan kurikulum ini.
Langkah perbaikan itu ibarat pepetah tiada rotan akarpun berguna, maka
pemerintah sebaiknya melakukan berbagai langkah perbaikan konsep dengan melibatkan
berbagai unsur/Stakholders pendidikan dan melakukan studi/penelitian lebih mendalam
sebelum kebijakan tersebut bergulir.

DAFTAR RUJUKAN

Adiwikarta,S, 1994. Kurikulum yang Berorientasi pada Kekinian, Kurikulum untuk Abad
21, Jakarta : Grasindo.
Abdullah, Idi. 2007. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Jakarta: Ar-Ruzz
Media.
http://situs-berita-terbaru.blogspot.com/2012/07/kurikulum-pendidikan-diindonesia.html.
Roni, Ahmad. Masalah Kurikulum dalam Pembelajaran. (http://kurtek.epi.edu/kurpen/6pembelajaran.html diakses, tgl 5 mei 2008).