Anda di halaman 1dari 18

RADIKALISME BERLATAR BELAKANG AGAMA DALAM

MASYARAKAT
(STUDI KASUS PADA ORMAS FRONT PEMBELA ISLAM DI KOTA PALEMBANG)

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam
Mencapai Derajat S1 Ilmu Sosiologi

OLEH :

REZA FEBRIANSYAH
07081002051

JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDERALAYA
2013

ABSTRAK
Skripsi ini berjudul Radikalisme Berlatar Belakang Agama Di Masyarakat (Studi Kasus Pada
Ormas Front Pembela Islam Di Kota Palembang). Kemuculan ormas berlatar belakang agama
yang dapat dikatakan termasuk kategori keras tidak terlepas dari perubahan kondisi sosial yang
terjadi di masyarakat serta perubahan politik yang turut menjadi suburnya ormas ormas seperti
Front Pembela Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana munculnya
radikalisme berlatar belakang agama pada Front Pembela Islam, tujuan mereka bertindak keras
terhadap kemaksiatan yang terjadi di masyarakat serta bagaimana pandangan Front Pembela
Islam sendiri terhadap Amar Maruf Nahi Munkar di masyarakat. Penelitian ini menggunakan
rancangan kualitatif dimana mulai dari melakukan observasi kecil untuk menentukan
permasalahan yang muncul di lapangan, kemudian barulah muncul rumusan masalah.
Pengolahan data pun akan dilakukan secara langsung setelah terjun di lapangan dan keabsahan
penelitian ini akan dicek kembali di lapangan. Informan ini terdiri dari 2 orang, dimana kedua
informan ini dapat memberikan informasi keterangan yang lengkap untuk menjawab rumusan
masalah. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa munculnya radikalisme berlatar belakang agama pada
Front Pembela Islam dengan alasan Amar Maruf Nahi Munkar bertujuan melawan
penyimpangan sosial yang dilakukan sebagian masyarakat sebagai imbas dari perubahan sosial
yang terjadi agar sebagian masyarakat yang tidak rusak dapat terlindungi dari penyimpangan
sosial.
Kata kunci : Radikalisme, Agama, Front Pembela Islam
1.1. Latar Belakang

Sepanjang sejarah agama dapat memberi sumbangsih positif bagi masyarakat dengan
memupuk persaudaraan dan semangat kerjasama antar anggota masyarakat. Namun sisi yang
lain, agama juga dapat sebagai pemicu konflik antar masyarakat beragama. Ini adalah sisi negatif
dari agama dalam mempengaruhi masyarakat.

Agama memang memiliki motivasi yang luar biasa dalam menggerakkan individu atau
pemeluknya. Sehingga apapun yang dilakukan umat beragama, semua didasarkan pada motivasi
atas pengamalan ajaran agama. Seseorang yang beragama bisa melaksanakan peperangan
maupun perdamaian, semua bisa disandarkan pada ajaran agama.

Yang paling menarik adalah Front Pembela Islam (FPI) adalah cara mereka dalam
melakukan dakwah amal maruf nahi mungkarnya mempunyai cara yang berbeda dibandingkan
organisasi-organisasi keagamaan pada umumnya, mereka lebih menyukai cara-cara yang nyata
dalam memberantas penyimpangan sosial di Indonesia, misalnya saja penghancuran berbagai
tempat yang digunakan sebagai sarang maksiat.

Front Pembela Islam (FPI) muncul karena premanisme dan penyimpangan sosial yang
sudah tidak mampu lagi dikontrol oleh negara. Tugas ini mereka ambil alih, dengan argumen
yang bersifat agamis: amar maruf nahi mungkar. Karena itu, sasaran tembak FPI selalu lokasilokasi perjudian, hiburan dan pelacuran yang menjadi simbol dekadensi moral di masyarakat
(Andri Rosyadi, 2008: 65-66).

Organisasi massa (ormas) pimpinan Habib Rizieq itu tercatat melakukan 38 kali
kekerasan atau sekitar 18 persen. FPI menempati urutan pertama dalam aksi kekerasan yang
diawali dari paham radikal bila dibandingkan dengan kelompok lain seperti kelompok massa
terorganisir (tapi bukan dari organisasi masyarakat) melakukan kekerasan sebanyak 32 kali atau
15 persen. Selanjutnya, kekerasan terbanyak berikutnya dilakukan oleh Pemkab/ Pemkot, yaitu
sebanyak 22 kali atau 10 persen. Sedangkan Massa tidak teridentifikasi 19 kali atau 9 persen,
MUI 17 kali atau 8 persen, polisi 16 kali atau 8 persen, dan perorangan 14 kali atau 7 persen.

Tabel 1. Pelaku Intoleransi


NO
1
2
3
4
5
6

PELAKU
FPI
Kelompok massa terorganisir
Massa tidak teridentifikasi
Polisi
Perorangan
Pemkab/pemkot

JUMLAH
38
33
19
16
14
22

%
18
15
9
8
7
10

MUI

17

Sumber : The Wahid Institute

Tabel 2. Korban Intoleransi 2011


NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

KORBAN
JAI
Individu
Pemilik usaha / pedagang
Umat Kristen
Pejabat / pegawai pemerintah
Kelompok atau individu terduga sesat
Tempat ibadah
Jemaat GKI Yasmin
Artis / pelaku seni
Kelompok Pelajar / siswa
Properti umum
Pengikut Syiah
Peneliti / akademisi
LSM
Polisi
Warga NU
Ormas Agama
Media

JUMLAH
65
42
24
21
16
16
15
11
7
6
4
5
3
3
4
2
2
1

%
26
17
10
9
7
7
6
4
3
2
2
2
1
1
2
1
1
0

Sumber : The Wahid Institute

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan penjabaran latar belakang masalah diatas, maka masalah penelitian yang
akan dikaji dapat dirumuskan ke dalam pertanyaan penelitian berikut :

1. Bagaimana munculnya radikalisme berlatar belakang agama dalam menegakkan kebaikan


dan meniadakan keburukan (Amar Maruf Nahi Munkar) pada FPI di kota Palembang ?
2. Apa pandangan FPI di kota Palembang tentang menegakkan kebaikan dan meniadakan
keburukan (Amar Maruf Nahi Munkar) ?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui dan memperoleh gambaran tentang
paham radikal dari ormas FPI kota Palembang dalam menjalankan prinsip radikalisme
menegakkan kebaikan dan meniadakan kemungkaran serta toleransi dalam kehidupan beragama.
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah informasi untuk dunia akademis dan masyarakat
mengenai penegakkan kebaikan, peniadaan kemungkaran, dan toleransi kehidupan beragama
menurut ormas FPI di kota Palembang.

1.4. Manfaat Penelitian

a. Manfaat secara teoritis adalah :


1.

Penelitian ini dapat dijadikan bahan acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan
khususnya kajian paham radikalisme berlatar belakang agama pada organisasi
masyarakat dalam kajian Sosiologi.

2.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan dan dimanfaatkan oleh pihak yang
berkepentingan dan dapat memberikan kontribusi teoritis dalam bidang ilmu sosial.

b. Manfaat secara praktis adalah :


1. Penelitian ini berguna untuk memperoleh gambaran, pengetahuan, maupun pemahaman
mengenai radikalisme berlatar belakang agama dalam masyarakat.
2. Data hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pengembangan bagi golongan
akademisi agar bisa memperbaharui analisis tentang ormas radikalisme berlatar belakang
agama secara kajian social.

1.5. Tinjauan Pustaka

1.5.1. Konsep Radikalisme

Dengan demikian radikalisme dapat dimaknakan sebagai suatu sikap atau keadaan yang
mendambakan perubahan terhadap status quo dengan jalan menghancurkannya secara totalitas,
dan menggantinya dengan seseuatu yang baru, yang sama sekali berbeda. Biasanya cara yang
digunakan bersifat revolusioner, artinya menjungkir-balikkan nilai-nilai yang ada secara drastis
lewat kekerasan (violence) dan aksi-aksi yang ekstrem. (Rais, Amien. 1996. Cakrawala Islam.
Bandung: Mizan).

1.5.2. Konsep Purifikasi

Harold Issaac (1993) mengatakan purifikasi merupakan proses pengenalan diri atau
identifikasi diri yang menghasilkan pemahaman tentang diri sendiri, yang berbeda dengan
kelompok lain. Issaac melihat hal ini sebagai sesuatu yang telah ada sejak awal dan itu ada di
dalam setiap komunitas/kelompok dan individu. Hal ini sejalan dengan semakin menguatnya
kesadaran kolektif bahwa perasaan merasa terayomi di dalam kelompoknya akan lebih
diutamakan di bandingkan dengan perasaan yang dibentuk oleh ikatan-ikatan dan interaksiinteraksi lain di luar kelompoknya.

1.5.3. Konsep Toleransi

Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan
perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau
tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi
beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agamaagama lainnya. Jadi toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap manusia sebagai umat

yang beragama dan mempunyai keyakinan, untuk menghormati dan menghargai manusia yang
beragama lain. [2]

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Toleransi diakses pada tanggal 20 Maret 2012

1.6. Kerangka Pemikiran

Bagan Kerangka Pemikiran


Konstruksi Sosial
yang akan diwujudkan

Individu atau Komunitas

Internalisasi

Eksternalisasi

Objektivasi

Agama Islam sebagai Ideologi FPI


di Kota Palembang

Realitas Sosial Masyarakat di Kota


Palembang

Kerangka teoritis dasar yang dipergunakan dalam menganalisis radikalisme FPI dalam
menegakkan kebaikan dan meniadakan kemungkaran adalah analisis teori Konstruksi Realita
Sosial, diperkenalkan oleh Peter Berger dan Thomas Luckman yang berupa Internalisasi,
Objektivasi, dan Eksternalisasi. Eksternalisasi menunjuk pada proses kreatif manusia, objektivasi
menunjuk pada proses dimana hasil-hasil aktivitas kreatif tersebut mengkonfrontasi individu
sebagai kenyataan objektif, dan internalisasi menunjuk pada proses dimana kenyataan eksternal
itu menjadi bagian dari kesadaran subyektif individu atau internalisasi terjadi melalui proses
sosialisasi.

Internalisasi adalah peresapan kembali realitas tersebut oleh individu/komunitas dan


mentransformasikannya sekali lagi dari struktur-struktur dunia obyektif ke dalam strukturstruktur kesadaran subyektif.

Setelah terjadinya proses internalisasi dalam diri aktivis FPI dan mereka kemudian
melakukan objektivasi yaitu keluar dari realitas sosial masyarakat Palembang, mereka
mendirikan kelompok tersendiri yang berbeda dengan komunitas masyarakat Palembang yang
ada. Pada tahap ini mereka mulai menarik garis pembeda dengan komunitas di luar kelompoknya
(purifikasi).

Obyektivasi adalah disandangnya produk-produk aktivitas itu (baik fisik maupun mental),
suatu realitas yang berhadapan dengan para produsennya semula, dalam bentuk suatu kefaktaan
yang eksternal terhadap para produsen itu sendiri. Setiap masyarakat yang terus berjalan dalam
sejarah akan menghadapi masalah pengalihan makna-makna terobyektivasinya dari satu generasi
ke generasi berikutnya.

Eksternalisasi adalah suatu pencurahan kedirian manusia secara terus-menerus ke dalam


dunia, baik dalam aktivitas fisik maupun mentalnya. Melalui eksternalisasi, manusia
mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Melalui eksternalisasi ini, masyarakat
menjadi kenyataan buatan manusia.

1.7. Metode Penelitian


1.7.1. Sifat dan Jenis Penelitian

Jenis pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan Kualitatif ini
diambil karena penelitian ini memilki pembatas secara sasaran atau objek tetapi harus digali

informasi sebanyak-banyaknya sehingga tidak memungkinkan untuk melakuan pelebaran objek.


Pendekatan kualitatif ini dilakukan di lapangan, peneliti mencoba melakukan observasi kecil
untuk menentukan permasalahan yang muncul di lapangan, kemudian barulah muncul rumusan
masalah.

1.7.2. Strategi Penelitian

Dipilihnya studi kasus intrinsic sebagai rancangan strategi penelitian karena peneliti ingin
mempertahankan keutuhan subjek penelitian dan tidak untuk menguji teori yang telah ada.
Peneliti juga beranggapan bahwa fokus penelitian kualitatif biasanya akan lebih mudah dijawab
dengan desain studi kasus. Studi kasus sendiri merupakan bagian dari penelitian kualitatif. Jadi,
sebuah penelitian yang menggunakan studi kasus sejatinya hanya menggunakan desain atau
rancangan studi kasus, adapun pendekatannya tetap mengacu pada pendekatan kualitatif.

1.7.3. Fokus Penelitian

Penentuan fokus suatu penelitian memiliki dua tujuan.

1. Pertama, penetapan fokus dapat membatasi studi, jadi dalam hal ini fokus akan
membatasi bidang inquiry (penyelidikan), misalnya penulis akan menyelidiki sebab
munculnya radikalisme tanpa memasuki ranah dimensi ke arah yang bersifat politis.
2. Kedua, penetapan fokus itu berfungsi untuk memenuhi kriteria inklusi - eksklusi atau
memasukan mengeluarkan suatu informasi yang baru diperoleh di lapangan, contohnya
penulis akan mencari informasi dalam penelitian apakah hanya kriteria agama saja yang
menjadi penyebab munculnya radikalisme. (Moleong : 2002 : 62).

1.7.4. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yakni markas Front Pembela Islam Kota Palembang yang terletak di Jl
Dr M Isa Lorong Gubah, Kelurahan Kuto Batu Palembang.

1.7.5. Peranan Peneliti

Peranan peneliti dalam hal ini adalah pemeran serta sebagai pengamat. Buford Jungker
(Patton, 1980 : 131-132) menggambarkan peranan peneliti sebagai pengamat, dalam hal ini tidak
sepenuhnya sebagai pemeran serta tetapi melakukan fungsi pengamatan. Ia sebagai anggota
pura-pura jadi tidak melebur sesungguhnya (Moleong, 1989). Peranan peneliti pada penelitian ini
adalah sebagai pengamat, yang mengamati paham radikalisme pada ormas FPI

1.7.6. Unit Analisis Data

Unit penelitian adalah unit yang akan diteliti dan dianalisis. Sedangkan menurut
Suharsini Arikunto, unit analisis adalah satuan-satuan yang menunjuk pada subjek penelitian unit
atau kesatuan yang menjadi sasaran dalam penelitian. Berdasarkan pengertian mengenai unit
analisis, maka unit analisis penelitian ini adalah ormas FPI di kota Palembang.

1.7.7. Informan

Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi
dan kondisi latar belakang penelitian (Moleong 1999 : 90). Teknik yang digunakan untuk
menentukan informasi kunci (key informan) atau situasi sosial tertentu yang sarat informasi,
dilakukan secara sengaja yaitu (purposive) sesuai dengan fokus penelitian (Bungin 2003 :53).
Jadi penentuan informan dalam penelitian ini digunakan secara purposive yang ditetapkan secara

sengaja dengan kriteria tertentu, adapun kriteria untuk menentukan informan adalah pemimpin
atau tokoh FPI di kota Palembang.

1.7.8. Sumber dan Jenis Data

1)

Data primer, yaitu sumber data utama yang berupa hasil pembicaraan dan tindakan serta
beberapa keterangan dan informasi yang diperoleh langsung dari informan. Sumber data
utama dicatat melalui catatan, tertulis atau melalui pengambilan foto. Sumber data primer
dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara mendalam dengan objek penelitian. Dalam
hal ini adalah tokoh, anggota, dan simpatisan FPI.

2)

Data sekunder, yaitu sumber data yang diperoleh bersifat secara tidak langsung mampu
melengkapi data primer. Data sekunder diperoleh dari berupa sumber buku, majalah ilmiah,
sumber dari arsip, dokumen pribadi, maupun dokumen resmi.

1.7.9. Teknik Pengumpulan Data

Pada penelitian ini dalam proses pengumpulan data akan digunakan metode wawancara,
observasi dan dokumentasi.

a. Observasi
b. Wawancara mendalam (indepth interview)
c. Dokumentasi
1.7.10. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitan ini akan menggunakan analisis deskriptif kualitatif.
Dimana dalam penelitian ini tidak menutup kemungkinan terhadap penggunaan data kuantitatif,

karena sebenarnya data ini bermanfaat bagi pengembangan analisis data kualitatif itu sendiri.
Data kualitatif dapat dianalisis melalui tahapan sebagai berikut (Sitorus, 1994: 101-102):
1. Proses awal dimulai dengan menelaah seluruh reduksi data yang ada yang telah tersedia
dari berbagai sumber yaitu pengamatan dan wawancara.
2. Kemudian penyajian (display) data yaitu pada tahapan ini data diolah dengan menyusun
atau menyajikan ke dalam matriks-matriks atau teks naratif yang sesuai dengan keadaan
data yang telah direduksi, yang akan memudahkan pengkonstruksi data dan memudahkan
mengetahui cakupan data terkumpul
3. Penarikan kesimpulan adalah dengan memberi kesimpulan dari data yang telah direduksi
atau disajikan.

1.7.11. Teknik Triangulasi

Dalam rangka mencari validitas data dalam penelitian digunakan metode triangulasi.
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang
lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan data atau sebagai pembanding terhadap data
itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber
lain (Moleong, 1988).

Berdasarkan perolehan data sekunder dan pengamatan di lapangan oleh peneliti,


munculnya Radikalisme FPI dalam menegakkan kebaikan dan meniadakan keburukan (Amar
Maruf Nahi Munkar) di masyarakat, ada yang muncul dari dalam diri FPI, faktor faktor temuan
dari dalam diri FPI yang membuat FPI berfikir dan bersikap radikal dalam ruang lingkup
fundamentalis dan fanatis, yakni prinsip, filsafat, doktrin, dan sikap.

Inspirasi utama dari FPI adalah sebuah hadits Nabi Muhammad yang mengatakan bahwa
bila melihat kemungkaran harus dilawan dengan tangan, kalau tak mampu dengan lisan dan
kalau masih tidak bisa dengan hati, tapi ini adalah selemah-lemahnya iman. FPI sendiri tak mau
dianggap sebagai kelompok selemah-lemah iman, oleh karena itu FPI memilih sebisa mungkin
mengubah kemungkaran dengan tangan atau dengan kekuatan fisik. Namun FPI sendiri melihat
aktivitas mereka melawan kemungkaran hanya sebuah strategi saja. Konkrit dari strategi untuk
meraih visi atau cita-cita yang lebih tinggi yaitu penegakan syariat Islam.

Konkrit dari pemahaman prinsip, filsafat, doktrin, dan sikap ini oleh Front Pembela Islam
(FPI) adalah mendeklarasikan jihad terhadap tempat tempat yang dipahami secara subjektif
menurut FPI yang dinilai melakukan penyimpangan sosial seperti bar, diskotek, kafe dan tempat
hiburan lainnya yang menurutnya aparat negara telah gagal untuk menertibkan dan menegakkan
hukum. Menurut FPI yang dianggap baik adalah perbuatan yang sesuai dengan kehendak Tuhan,
sedangkan perbuatan buruk adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam
pemahaman ini keyakinan teologis yakni keimanan kepada Tuhan sangat memegang peranan
penting bagi FPI. Dari pengamatan yang didapat peneliti bahwa FPI melakukan tindakan koersif
radikal yang diperlukan terhadap tempat-tempat tersebut yang dianggap bertanggung jawab
terhadap kemerosotan moral dan etika sosial jika himbauan persuasif tidak direspon.

Berdasarkan pengamatan di lapangan oleh peneliti, munculnya Radikalisme FPI dalam


menegakkan kebaikan dan meniadakan keburukan (Amar Maruf Nahi Munkar) di masyarakat
dikarenakan tidak semata mata muncul dari dalam diri FPI saja, tapi ada faktor faktor temuan
dari luar yang membuat FPI berfikir dan bersikap radikal, antara lain sebagai berikut:

1. Terjadinya penyimpangan sosial yang dilakukan sebagian masyarakat sebagai dampak


dari perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
2. Sebagian masyarakat telah kehilangan control sosial terhadap diri mereka dalam
menghadapi efek perubahan sosial, sebagian masyarakat sudah tidak menyepakati norma
norma yang berlaku di masyarakat seperti norma agama, norma susila, norma hukum,
dan nilai nilai moralitas lainnya.
3. Tidak adanya wadah gerakan sosial untuk melawan penyimpangan sosial yang
dilakukan oleh sebagian masyarakat, maka FPI hadir sebagai wadah penyaluran aspirasi
untuk melawan penyimpangan sosial.
4. Ketidakpedulian sebagian masyarakat terhadap sebagian masyarakat lainnya, misalnya
masyarakat tidak peduli dengan keberadaan mantan narapidana, anak jalanan, atau para
kaum fakir miskin. Ketidakpedulian sosial sebagian masyarakat tersebut akhirnya diisi
oleh FPI sehingga kepedulian sosial FPI tersebut menjadi basis yang kuat bagi
keberadaan FPI.
5. Tidak seimbangnya antara pemberitaan aksi sosial kemanusiaan dengan aksi gerakan anti
maksiat oleh media massa yang akhirnya menjadikan FPI mendapat stigma dari
masyarakat sebagai organisasi Islam garis keras yang radikal.

Pandangan FPI dalam mengklasifiksikan perbuatan dibagi dua, yaitu amar maruf dan
nahi munkar, meski dibagi dua tapi penerapannya selalu bersamaan, yang membedakannya ada
yang cara persuasif dan ada juga dengan cara koersif. Dalam amar maruf nahi munkar, FPI Kota
Palembang tidak langsung beraksi atau bertindak secara massa seperti yang diyakini publik
masyarakat selama ini, untuk memberantas penyimpangan sosial, FPI Kota Palembang selalu
menempuh jalur jalur diplomasi terlebih dahulu.

Cara pandang Amar maruf nahi munkar FPI juga terdapat dalam sikap toleransinya. FPI
kota Palembang dalam memandang toleransi terhadap non Muslim dan Muslim yang berbeda
dengan mainstream bersikap selektif dan cenderung berhati hati. Sepanjang yang peneliti amati
tentang toleransi beragama menurut FPI Kota Palembang, mereka memiliki pandangan toleransi
yang dibatasi sesuai pada letak tempatnya dan bersyarat sesuai dengan aturan hukum yang
berlaku.

FPI tidak selalu menempuh jalur koersif (paksa dengan keras) seperti yang kebanyakan
anggapan masyarakat, tapi FPI selalu mengupayakan cara cara diplomasi yang bersifat persuasif
(ajakan) terlebih dahulu. Jika cara cara persuasif sudah ditempuh juga tidak juga ada respon dari
pemerintah, baru FPI melalui laskarnya mengambil tindakan secara massa.
FPI memaknai bahwa amar maruf dan nahi munkar adalah suatu kewajiban, tapi
kenyataannya realitas sosial di lapangan menunjukkan bahwa proses penegakkannya tidak
selalu mungkin terlaksana dengan baik kecuali dengan pengendalian sosial secara koersif
(paksaan) dan radikal (mengubah secara total). Maka, dalam kondisi ini, koersif juga merupkan
suatu pilihan jika cara persuasif tidak mendapat respon tanggapan, sebab penegakkan amar
maruf dan nahi munkar tak mungkin terlaksana tanpa koersif tersebut. Inilah pandangan FPI,
yang kemudian dipakai sebagai pemahaman dalam setiap aksi gerakan FPI.

DAFTAR PUSTAKA
Albahy, Muhammad. 1981. Islam Agama Dakwah Bukan Revolusi. Jakarta : Radar Jaya Offset.
Al-Chaidar. 1998. Wacana Ideologi Negara Islam : Studi Harakah Darul Islam dan Moro
National Liberation Front. Jakarta : Darul Falah.
Al-Qardhawi, Yusuf. 2004. Islam Radikal : Analisis Terhadap Radikalisme Dalam Berislam dan
Upaya Pemecahannya. Solo : ERA Intermedia.

Al-Zastrouw Ng. 2006. Gerakan Islam Simbolik : Politik Kepentingan FPI. Yogyakarta : LKiS
Andriyono, Bakti. 2003. Organisasi Keagamaan Front Pembela Islam. Jakarta : Pascasarjana
Universitas Indonesia.
Arikunto, Suharsimi. 2006-cetakan ke13. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Azra, Azyumardi. 1999. Islam Reformis Dinamika Intelekutal dan Gerakan. Jakarta: Rajawali
Press.
Benford, Robert dan David Snow. 2000. Framing Process and Social Movements: An Overview
and Assesment dalam Annual Review of Sociology 26: 611-39
Bungin, Burhan. 2007-cetakan kelima. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surabaya: Rajawali
Pers.
Bruce, Steve. 2000. Fundamentalisme. Pertautan Sikap Keberagaman dan Modernitas. Jakarta,
Erlangga
Deddy Mulyana. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif; Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan
Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: PT. Remaja Rosdakaya.
Hanifah, Abu. 2012. Toleransi Dalam Masyarakat Plural Memperkuat Ketahanan Sosial.
Jakarta : Puslibang Kesos
Hasani, Ismail et.all. 2011. Radikalisme Agama di Jabodetabek & Jawa Barat. Jakarta :
Publikasi SETARA Institute.
Hasani, Ismail dan Naipospos, Bonar Tigor. 2010. Wajah Para Pembela Islam. Radikalisme
Agama dan Implikasinya Terhadap Jaminan Kebebasan Beragama Berkeyakinan di
Jawa Barat. Jakarta : Pustaka Masyarakat Setara.
Hidayat, Dady. 2012. Gerakan Dakwah Salafi di Indonesia Pada Era Reformasi. Depok :
LabSosio FISIP UI.
Hitti, Philip K. 1974. History of The Arabs, tenth edition. London and Basingstoke: The
Macmilan Press LTD.
Hwang, Julie Chernov. 2009. Umat Bergerak : Mobilisasi Damai Kaum Islamis di Indonesia,
Malaysia, dan Turki. Jakarta : Freedom Institute.
Jawas, Yazid Abdul Qadir. 2008. Mulia dengan Manhaj Salaf. Bogor: Pustaka At Takwa.
Johnson, Doyle Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.

Kamanto, Sunarto. 1985. Pengantar Sosiologi : Sebuah Bunga Rampai. Jakarta : Yayasan Obor
Indonesia.
Kareen Armstrong. 2001. Berperang Demi Tuhan, Fundamentalisme dalam Islam, Kristen dan
Yahudi. Jakarta : Serambi.
Koentjoro dan Beben Rubianto. 2009. Radikalisme Islam dan Perilaku Orang Kalah Dalam
Perspektif Psikologi Sosial. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
M. Poloma, Margaret. 2007. Teori Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali Pers.
Meleong Lexi J. 1998. Metode penelitian Kualitatif. Bandung. Jakarta : Remaja Rosdakarya
Moeslim Abdurrahman. 2003. Islam Sebagai Kritik Sosial. Jakarta : Erlangga.
Munim, A. Sirry. 2003. Membendung Militansi Agama Iman dan Politik dalam Masyarakat
Modern. Jakarta : Erlangga.
Muhtadi, Burhanudin. Demokrasi Zonder Toleransi: Potret Islam Pasca Orde Baru. Makalah
yang dipresentasikan pada diskusi Agama dan Sekularisme di Ruang Publik:
Pengalaman Indonesia oleh Komunitas Salihara, di Jakarta, Januari 2011.
Rahmat, Imdadun M. 2005. Arus Baru Islam Radikal: Transmisi Revivalisme Islam Timur
Tengah ke Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Rais, Amien. 1996. Cakrawala Islam. Bandung: Mizan
Ritzer, George. 1992. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: CV.
Rajawali.
Ritzer, George - Douglas J. Goodman. 2005. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Kencana.
Rizieq Shihab, Muhammad. 2008. Dialog FPI Amar Maruf Nahi Munkar, Menjawab Berbagai
Tuduhan Terhadap Gerakan Nasional Anti Maksiat di Indonesia. Jakarta : Pustaka Ibnu
Sidah.
Rosadi, Andri. 2008. Hitam Putih FPI (Front Pembela Islam). Jakarta : Nun Publisher
Setiawan. 2009. Orientasi Tindakan Dalam Gerakan Nahi Munkar Laskar Front Pembela Islam
FPI Yogyakarta. Yogyakarta : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Sistarwanto, Rocky. 2011. Potensi Ideologisasi Jihad Yang Mengarah Pada Aksi Terorisme
Oleh Kelompok-Kelompok Islam Radikal di Indonesia. Depok : Universitas Indonesia.
Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT Raja Grasindo Persada.

Soekanto, Soerjono. 1984. Struktur dan Proses Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.
Sudjarwo. 2011. Dinamika Kelompok. Bandung : CV Mandar Maju.
Sukidin, et.al. 2005. Metode Penelitian: Membimbing dan Mengantar Kesuksesan Anda dalam
Dunia Penelitian. Surabaya: Insan Cendekia.
Sutikno. 2011. Satu Dusun Tiga Agama : Kajian Atas Toleransi Tokoh Agama di Dusun Balun
Lamongan. Surabaya : Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel.
Turner, Bryan S. 2003. Agama dan Teori Sosial. Yogyakarta : IRCiSoD.
Wahid, Yenny Zannuba. 2011. Lampu Merah Kebebasan Beragama. Jakarta : The Wahid
Institute.
Sumber Internet
http://sandrokaroly.blogspot.com/2012/08/agama-sebagai-realitas-sosial.html
tanggal 2 November 2012

diakses

pada

http://sociologyunej.blogspot.com/2010/08/menelusuri-jejak-radikalisme-di.html diakses pada


tanggal 20 Maret 2012
http://sociologyunej.blogspot.com/2011/05/transformasi-perilaku-keagamaan.html diakses pada
tanggal 21 April 2012
http://www.indonesiamedia.com/2010/03/30/terorisme-dan-ideologi-fundamentalisme
pada tanggal 21 April 2012
http://www.sosbud kompas.com diakses pada tanggal 21 April 2012

diakses