Anda di halaman 1dari 30

Apendisitis pada anak

Oleh : Melly Haw, S.Ked


Pembimbing Klinik : dr. Amsyar Praja, Sp.A

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis
dan merupakan penyebab nyeri abdomen akut yang paling
sering.
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu
secara normal disalurkan ke dalam lumen dan selanjutnya
di alirkan ke sekum. Hambatan pada pengaliran tersebut
merupakan salah satu penyebab timbulnya apendisitis.

LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
Nama

: An. A

Umur

: 10 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan


Tanggal masuk: 13 Juni 2014

LAPORAN KASUS
Anamnesis
Keluhan Utama
: Sakit perut
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien masuk dengan keluhan sakit perut terutama
di sebelah kanan bawah sejak 3 hari yang lalu. Saat
keluhan ini muncul, pasien mengeluh ada demam yang
menetap dan disertai BAB cair dengan frekuensi 3-4 kali
per hari, kotoran berwarna kuning, konsistensi cair
berampas, berbau biasa dan tidak disertai lendir atau
darah. Pasien juga mengeluh nyeri uluh hati, mual dan
ada muntah 1 kali sebelum masuk rumah sakit. Nafsu
makan pasien kurang, BAK biasa, tidak ada keluhan nyeri
saat kencing dan volume urin biasa.

LAPORAN KASUS
Anamnesis (Lanjutan)
Riwayat Penyakit Sebelumnya :
Pasien pernah mengalami keluhan yang sama 7 bulan yang
lalu dan di rawat di rumah sakit. Namun keluhan membaik
setelah minum antibiotik.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama.

LAPORAN KASUS
Anamnesis (Lanjutan)
Riwayat Kebiasaan dan Lingkungan :
Pasien tinggal bersama orangtua dan biasanya sering
bermain di dalam rumah. Pasien sangat suka jajan
makanan ringan disekolahnya dan makan indomie
dirumah. Pasien tidak suka makan sayur.
Riwayat Kehamilan dan Persalinan :
Pasien lahir normal dan cukup bulan di rumah sakit
dengan berat badan lahir 3 kg. Saat lahir, pasien langsung
menangis.
Kemampuan dan Kepandaian Bayi :
Saat umur 6 bulan anak sudah bisa duduk. Umur 9
bulan anak sudah bisa berdiri, dan saat umur 1 tahun
anak dapat berjalan.

LAPORAN KASUS
Anamnesis (Lanjutan)
Anamnesis Makanan :
Pasien mendapatkan ASI dari sejak lahir hingga usia 2
tahun. Pemberian makanan pendamping ASI (bubur
saring) diberikan saat usia 1 tahun 2 bulan dan mulai
bisa makan bubur biasa sejak umur 1 tahun 7 bulan.
Riwayat Imunisasi :
Imunisasi dasar lengkap.

LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
Kesadaran
BB
PB/TB
Status Gizi
Tanda Vital
TD
Nadi
Suhu
Respirasi

:
:
:
:
:

Sakit berat
Komposmentis
23 kg
141 cm
Gizi buruk (CDC: BB/TB = 65%)

:
:
:
:

100/60 mmHg
128 kali/menit
38,60C
36 kali/menit

LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Fisik (Lanjutan)
Kulit :
Tidak ada sianosis, turgor < 2 detik cepat kembali,
kelembapan cukup.
Kepala :
Bentuk normocephal, warna rambut hitam kecoklatan,
tidak mudah dicabut, tidak terlalu tebal.
Mata : Palpebra
: Edema (-/-)
Konjungtiva
: Anemis (-/-)
Sklera
: Ikterik (-/-)
Refleks Cahaya
: (+/+)
Exophtalmus
: (-/-)
Cekung
: (-/-)

LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Fisik (Lanjutan)
Hidung
:
Tidak ada pernapasan cuping hidung, tidak ada sekret
dan epistaksis.
Mulut :
Mukosa bibir lembab, tidak hiperemis, gusi tidak
berdarah.
Lidah : Tidak kotor
Leher :
Pembesaran kelenjar getah bening : -/Pembesaran kelenjar tiroid
:Faring
: Tidak hiperemis
Tonsil
: T1/T1, tidak hiperemis

LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Fisik (Lanjutan)
Thoraks
:
Paru-paru :
Inspeksi :
Bentuk
:Simetris
Dispneu
: Tidak ada
Retraksi
: Tidak ada
Palpasi:
Vokal fremitus: Simetris kiri dan
kanan
Perkusi
: Sonor kiri dan kanan
Auskultasi :
Suara Napas Dasar : Bronchovesikuler (+/+)
Suara Napas Tambahan : Rhonchi (-/-)
Wheezing (-/-)

LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Fisik (Lanjutan)
Jantung :
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC V linea
midclavicula sinistra
Perkusi : Batas jantung kanan : SIC IV linea
parasternal dextra
Batas jantung atas : SIC II linea parasternal
sinistra
Batas jantung kiri : SIC V linea
midclavicula sinistra
Auskultasi : Suara dasar : S1 dan S2 murni, regular,
Bising : Tidak ada

LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Fisik (Lanjutan)
Abdomen :
Inspeksi : Bentuk datar, distensi abdomen (+)
Auskultasi : Bunyi peristaltik usus (+), frekuensi kesan
meningkat
Perkusi :
Bunyi : Timpani
Asites : (-)
Nyeri ketuk : (+) di kuadran kanan bawah dan
suprapubik
Palpasi :
Nyeri tekan : (+) pada titik Mc Burney dan
suprapubik
Hati
: Tidak teraba
Lien : Tidak teraba
Ginjal : Tidak teraba

LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Fisik (Lanjutan)

Ekstremitas : Akral hangat, edema tidak ada, Rumple


leede test (-)
Genitalia : Tidak ada kelainan

Otot-otot : Eutrofi, tonus otot baik, kekuatan otot 5

LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium (Tgl. 13/6-2014) :

WBC

: 26,56 x 103/mm3 H

RBC

: 5,67 x 106/mm3

HGB

: 13,6 g/dl

HCT

: 45,88 %

PLT

: 445 x 103/mm3

LAPORAN KASUS
Resume
Pasien anak perempuan berusia 10 tahun masuk
dengan keluhan sakit perut terutama di sebelah kanan
bagian bawah sejak 3 hari yang lalu. Saat keluhan ini
muncul, pasien mengeluh ada demam yang menetap dan
disertai BAB cair dengan frekuensi 3-4 kali per hari, kotoran
berwarna kuning, konsistensi cair berampas, berbau biasa
dan tidak disertai lendir atau darah. Pasien juga mengeluh
nyeri uluh hati, mual (+) dan ada muntah 1 kali sebelum
masuk rumah sakit. Nafsu makan pasien kurang, BAK biasa,
tidak ada keluhan nyeri saat kencing dan volume urin biasa.
Pasien pernah mengalami keluhan yang sama 7 bulan yang
lalu dan di rawat di rumah sakit, namun keluhan membaik
setelah minum antibiotik. Dari hasil pemeriksaan fisik di
dapatkan :

LAPORAN KASUS
Resume (Lanjutan)
Status gizi
: Gizi buruk (CDC: BB/TB = 65%)
Tanda vital :

TD : 100/60 mmHg

Nadi : 128 kali/menit

Suhu : 38,60C

Respirasi : 36 kali/menit
Abdomen :

Inspeksi :Bentuk datar, distensi abdomen (+)

Auskultasi :Bunyi peristaltik usus (+), frekuensi kesan meningkat

Perkusi : Bunyi
: Timpani
Nyeri ketuk
: (+) di kuadran kanan bawah dan
suprapubik

Palpasi : Nyeri tekan


: (+) pada titik Mc Burney dan
suprapubik

LAPORAN KASUS
Diagnosis
: Apendisitis + diare akut tanpa dehidrasi
Terapi :
IVFD RL 16 tpm/menit
Inj. Ceftriaxone 2 x 500 mg IV
Inj. Ranitidin 2 x ampul
Oralit 100 mL tiap kali BAB
Zink 20 mg 1x1 tablet
Anjuran Pemeriksaan Penunjang
Urinalisis
USG abdomen

DISKUSI
Apendisitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Faktor
pencetusnya antara lain obstruksi yang terjadi pada lumen
apendiks. Obstruksi ini biasanya disebabkan karena adanya

timbunan tinja yang keras (fekalit), hiperplasia jaringan


limfoid, tumor apendiks, striktur, benda asing dalam tubuh,
dan cacing askaris dapat pula menyebabkan terjadinya

sumbatan.
Namun, diantara penyebab obstruksi lumen tersebut, fekalit
dan hiperplasia jaringan limfoid merupakan penyebab

obstruksi yang paling sering terjadi. Penyebab lain yang di


duga menimbulkan apendisitis adalah ulserasi mukosa
apendiks oleh parasit E. hemolytica.

DISKUSI

Patofisiologi

Jaringan mukosa pada apendiks mengalami obstruksi


menyebabkan pengaliran mukus dari lumen apendiks ke
sekum menjadi terhambat.
Mukus akan semakin bertambah banyak dan kemudian
terbentuklah bendungan mukus di dalam lumen.
Terjadinya peningkatan tekanan intralumen.
Terhambatnya aliran limfe, sehingga mengakibatkan edema,
diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah
terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri di
daerah epigastrium di sekitar umbilikus.

Manifestasi klinis
Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala klasik
apendisitis adalah nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah
epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus.
Keluhan biasanya disertai rasa mual, kadang muntah dan
nafsu makan menurun.
Kemudian dalam beberapa jam, nyeri akan beralih ke kuadran
kanan bawah (titik Mc Burney). Di titik ini nyeri terasa lebih
tajam dan jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri somatik
setempat.
Apendisitis juga dapat disertai dengan demam subfebril
sekitar 37,5 38,50C setelah keluhan nyeri muncul.

Manifestasi klinis
Setiap penderita dengan nyeri perut kanan bawah dan belum
pernah menjalani apendektomi, harus dicurigai menderita
apendisitis.
Nyeri pada awalnya disekitar umbilikus, awalnya nyeri
minimal lalu meningkat secara bertahap hingga akhirnya nyeri
bersifat konstan. Kemudian nyeri berpindah sesuai posisi
apendiks. Bila lokasi apendiks pada daerah Mc Burneys maka

nyeri berpindah ke daerah kuadran kanan bawah.

Manifestasi klinis

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium (DR, urinalisis)
USG

Foto polos abdomen

Penatalaksanaan

1. Apendektomi
2. Pemberian antibiotik (ampisilin,
gentamisin, clindamisin,
metronidazole)

THANKS...