Anda di halaman 1dari 3

Bising tidak hanya dapat mempengaruhi organ pendengaran, tetapi juga sistem tubuh

dan juga organ lainnya. Paparan terhadap bising pada seseorang dapat menimbulkan masalah
pada fisiologis tubuh secara jangka pendek yang menggunakan jalur sistem saraf autonomi.
Efek paparan bising menyebabkan naiknya beberapa kondisi tubuh seseorang, antara lain:
peningkatan detak jantung, naiknya tekanan darah, vasokonstriksi pembuluh darah periferal
dan peningkatan resistensi pembuluh darah periferal. Sampai saat ini penelitian masih
terfokus dengan bising paparan jangka pendek dan belum sepenuhnya mengerti atau dapat
menjelaskan mengenai paparan bising jangka panjang.
Bukti paling nyata pada efek yang ditimbulkan dari paparan bising adalah pada
kondisi kardiovaskular yang diteliti berdasarkan nilai kenaikan darah pada kondisi bekerja
atau pekerja. Banyak penelitian kedokteran kerja menyimpulkan bahwa apabila seseorang
terkena paparan bising secara jangka panjang dan berkelanjutan pada level kebisingan 85
dBA memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dari pada mereka yang tidak terkena paparan
bising. Pada banyak penelitian mengenai masalah ini menyebutkan bahwa paparan bising
merupakan satu indikator paparan faktor lainnya, baik secara fisik maupun psikologis, yang
mana dapat menyebabkan tekanan darah menjadi naik. Apabila faktor-faktor lain dapat
dikendalikan, maka kecurigaan hubungan antara bising dan kenaikan tekanan darah semakin
jelas. Pada penelitian pioner longitudinal pada industri memperlihatkan bahwa mekanisme
kenaikan tekanan darah akibat paparan bising merupakan suatu mekanisme yang kompleks
dan lebih jauh lagi dapat digunakan untuk menentukan resiko kematian. Bising akibat
paparan kerja pada akhir-akhir ini juga dihubungkan dengan resiko kematian yang lebih
besar karena terjadi kecelakaan. Hal ini dapat terjadi karena kenaikan tekanan darah akan
menyebabkan respon fisiologis intermediet yang dapat mengganggu kesadaran dan
konsentrasi seseorang. Namun, perlu digaris bawahi bahwa respon ini masing belum jelas dan
terbukti secara klinis.
Gejala yang dilaporkan diantara para pekerja industri yang sering terpapar bising
seperti sekolah dan pabrik meliputi pusing, sakit kepala, kegelisahan, dan perubahan pada
mood dan emosi. Pada survei komunitas melaporkan gejala yang sama yaitu: sakit kepala,
mual dan mudah marah. Namun, perlu dicatat bahwa sebuah studi pada komunitas yang
berada di dekat bandara Swiss tidak mengindikasikan adanya hubungan antara bising pesawat
dengan gejala yang timbul (Stansfeld dan Matheson, 2003)
Selain mengganggu fungsi fisiologis jantung dan pembuluh darah, bising dapat
menyebabkan juga adanya gangguan tidur.Terdapat bukti yang subjektif maupun objektif
yang menjelaskan adanya gangguan tidur yang ditimbulkan oleh paparan bisisng.

Terpaparnya seseorang pada kebisingan dapat mengganggu ritme atau siklus tidur seseorang
dan menyebabkan mudah terbangun ketika tertidur. Secara objektif, gangguan tidur
kemungkinan dapat terjadi apabila terdapat lebih dari 50 kejadian bising dengan intensitasitas
50 dBA atau lebih dengan sumber suara berasal dari ruangan yang digunakan untuk tidur
(Gupta, 1999)
Bising dapat dikategorikan sebagai salah satu penyebab stress (stressor). Sebagai
salah stressor bising akan mengaktifkan sistem hormonal tubuh yang terkait dengan stress.
Adrenalin, kortisol dan norephinephrin merupakan beberapa hormon tubuh yang biasanya
terlibat dalam mekanisme stress. Pada kondisi bising yang terus menerus, kadar
norephinephrin meningkat. Disisi yang lain,ketidaknyamanan, stress emosional, dan bising
yang terputus-putus dapat menyebabkan kenaikan sekresi adrenalin (Tafalla dan Evans, 1997,
Ising dan Braun, 2000). Sekresi adrenalin terjadi sangat cepat dan perubahan fisilogis terjadi
dengan cepat pula, menyebabkan rasa tidak enak dan ingin mual/muntah (Gupta, 2006).
Kedua reaksi tersebut sebenarnya merupakan reaksi normal tubuh terhadap bahaya atau
stressor (Henry dan Stephens, 1977). Ketiga hormon di atas merupakan hormon yang
biasanya disekresikan oleh tubuh untuk menstimuli sinyal bahaya atau stressor yang
selanjutnya diterjemahkan oleh otak sebagai aksi pertahanan atau melarikan diri dari sumber
bahaya (Atherley et al., 1970).
Pada wanita terutama pada masa subur, paparan bising dapat menyebabkan terjadinya
gangguan pada siklus menstruasi. Bising yang mencapai 90 dBA dapat menyebabkan
terjadinya mual muntah dan rasa sakit pada saat terjadinya menstruasi. Apabila dipapar pada
ibu hamil dapat meningkatkan resiko keguguan. (Gupta, 1999)

Atherley GRC, Gibbons SL, Powell JA (1970) Moderate acoustic stimuli: the
interrelation of subjective importance and certain physiological changes. Ergonomics, 13:
536-545.
Gupta RD (1999). Environmental pollution: Hazar and Control. New Delhi: Concep
Publishing Company, p: 72.
Gupta RD (2006). Environmental pollution: Hazar and Control. New Delhi: Concep
Publishing Company, p: 77-78.
Stansfeld SA, Matheson MP (2003). Noise Pollution: non-Auditory Effect Health.
British Medical Bulletin, 68: 243257.
Tafalla RJ, Evans GW. (1997) Noise, physiology, and human performance: the
potential role of effort. Journal of Occupational Health Psychology 2: 148-155.

Ising H, Braun C (2000). Acute and chronic endocrine effects of noise: review of the
research conducted at the Institute for Water, Soil and Air Hygiene. Noise & Health 7: 7-24.
Henry JP, Stephens PM (1977). Stress, health,and the social environment, a
sociobiologic approach to medicine. New York: Springer-Verlag.