Anda di halaman 1dari 2

Kelenturan Fenotipik (Phenotypic Plasticity)

Ahmad Fadli
(2011 38 001)
Program Studi Biologi Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Papua
2014
Kelenturan fenotipik (phenotypic plasticity) adalah kemampuan suatu genotipe untuk
menghasilkan lebih dari satu karakter morfologi, fisiologi, dan tingkah laku dalam merespons
perubahan lingkungan (Fahmi, 2010). Menurut Sultan (1987) kelenturan fenotipik adalah
variasi ekspresi fenotipe suatu genotipe sebagai respons terhadap kondisi lingkungan tertentu
sehingga dapat meningkatkan kemampuan individu untuk tetap bertahan hidup dan
berkembang biak. Hewan dikatakan memiliki kelenturan fenotipik jika mampu menyesuaikan
diri dengan cepat terhadap perubahan lingkungan dan mampu mengeskpresikan lebih dari
satu alternatif bentuk morfologi, status fisiologi dan tingkah laku. Pengontrolan variasi
fenotipe ini dapat dilakukan secara genetik (level gene).
Kelenturan fenotipik adalah kemampuan organisme merubah fenotipenya dalam
merespon perubahan lingkungan (Price et al, 2003). Menurut Noor (1996) kelenturan
fenotipik mencerminkan kepekaan fenotipe terhadap perubahan lingkungan. Kelenturan
fenotipik sebagai suatu variasi ekspresi fenotip suatu genotip merupakan respons terhadap
kondisi lingkungan tertentu dan dapat meningkatkan kemampuan individu untuk tetap
bertahan hidup dan berproduksi pada lingkungan tersebut.
Menurut Fahmi (2010) prinsip plasticity telah menjadi kesepakatan pada para ilmuwan
sebagai salah satu upaya untuk dapat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Namun
bagaimana cara mengukur plasticity masih terus berkembang hingga saat ini. Di antara
kendala dalam pengukuran satu karakter dari plasticity adalah apakah karakter tersebut
berdiri sendiri atau merupakan asosiasi dari berbagai gen. Salah satu pengukuran plasticity
yang umum dilakukan adalah dengan mengukur fenotipe individu dalam dua lingkungan
yang berbeda tanpa menuntut keberadaan gen-gen pengontrol plasticity. Dengan
menempatkan individu pada lingkungan berbeda maka hipotesa plasticity dapat dibangun.
Pada hewan akuatik yang melakukan aktivitas migrasi fenomena plasticity menjadi
sangat penting untuk menyukseskan migrasi tersebut. Mengingat migrasi merupakan aktivitas
yang dilakukan dari generasi ke generasi maka dapat diduga gen yang mengontrol kegiatan
migrasi akan diturunkan kepada generasi berikutnya. Untuk jangka panjang jika gen-gen

yang mengontrol plasticity pada hewan migran dapat dikenali, maka pemeliharaan hewan
tersebut dapat dilakukan di habitat yang diinginkan manusia (Fahmi, 2010).
Pada umumnya Kelenturan fenotipik lebih penting untuk organisme tidak bergerak
(misalnya tanaman) daripada organisme bergerak (misalnya hewan). Hal ini karena
organisme tidak bergerak harus beradaptasi pada lingkungan mereka atau mereka akan mati,
sementara organisme bergerak mampu berpindah dari lingkungannya yang rusak
(Schlichting, 1986). Contohnya kelenturan fenotipik pada tanaman yang tumbuh di tanah
yang kandungan konsentrasi nutrisinya rendah adalah perubahan ukuran dan ketebalan daun
serta alokasi sumber daya yang lebih banyak pada akar (Sultan, 1987). Protein transpor yang
ada di akar juga berubah tergantung pada konsentrasi nutrisi dan salinitas tanah (Alemana et
al, 2009). Beberapa tanaman seperti Mesembryanthemum crystallinum mampu merubah jalur
fotosintesisnya untuk memakai air lebih sedikit saat mereka kekurangan air atau garam
(Tallman et al, 1997). Walaupun begitu, beberapa organisme bergerak juga memiliki
kelenturan fenotipik yang signifikan, misalnya Acyrthosiphon pisum dari famili Aphid yang
menunjukkan kemampuan bertukar antara reproduksi seksual dan aseksual, begitu juga
menumbuhkan sayap antar generasi saat populasi yang memenuhi tanaman menjadi terlalu
padat (IAGC, 2010).
Referensi
Alemana, F. Navies-Cordonesa, M., Martinez, V. Maret 2009. Differential regulation of the
HAK5 genes encoding the high-affinity K+ transporters of Thellungiella
halophila and Arabidopsis thaliana. Environmental and Experimental Botany 65:
263-269.
Fahmi, M.R. 2010. Phenotypic Platisity Kunci Sukses Adaptasi Ikan Migrasi: Studi Kasus
Ikan Sidat (Anguilla sp.). Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur.
IAGC (The International Aphid Genomics Consortium). 2010. Genome Sequence of the Pea
Aphid Acyrthosiphon pisum.
Price T.D., Qvamstrom, A., Irwin, D.E. Juli 2003. The Role of Phenotypic Plasticity in
Driving Genetic Evolution. Proceeding of Biological Science 270 (1523): 143340.
Noor, R.R. 1996. Genetika Ternak. Jakarta: Penebar Swadaya.
Schlichting, C.D. November 1986. The Evolution of Phenotypic Plasticity in Plants. Annual
Review of Ecology and Systematics Vol. 17:667-693.
Sultan, S.E. 1987. Evolutionary implication of phenotypic plasticity in plants. Evol. Bio. 20:
127-178.
Tallman, G. Zhu, J. Mawson, B.T. 1997. Induction of CAM in Mesembryanthemum
crystallinum Abolishes the Stomatal Response to Blue Light and LightDependent Zeaxanthin Formation in Guard Cell Chloroplasts. Plant and Cell
Physiology 38(3): 236-242.