Anda di halaman 1dari 3

Hello, Red Tide

23 Desember 2012 by mirnanadiawpress in Nasional.

Kematian ikan di Texas akibat blooming Karenina brevis, salah satu species red tide -WHOI
Berbagai media nasional melaporkan terjadinya kematian puluhan ribu ikan di keramba apung
milik warga di Pantai Ringgung, Teluk Lampung, Kabupaten Pesawaran. Ikan yang
dibudidayakan oleh warga hampir seluruhnya musnah dan gagal panen, diantaranya adalah Ikan
kerapu dan Kakap yang rencananya akan dipanen dan dipasarkan ke sejumlah negara Asia,

seperti Jepang dan Cina. Kerugian yang terjadi diperkirakan mencapai IDR 5 milyar. Diduga hal
ini disebabkan oleh adanya ledakan alga (Algae blooming) di kawasan tersebut.
Sepekan sebelum terjadinya kematian mendadak ikan-ikan tersebut, permukaan air laut di teluk
lampung tampak berwarna kecoklekatan, bahkan merah pekat di beberapa area.
Fenoma yang biasa disebut red tide ini merupakan yang pertama terjadi di Teluk Lampung.
Akumulasi fitoplankton dari jenis dinoflagellata dengan cepat hingga mencapai konsentrasi
tinggi pada kolom air dapat menimbulkan perubahan warna pada permukaan air sehingga
permukaan air tampak keruh, merah, ungu atau pink. Hal ini disebabkan oleh pigmen fotosintetik
pada Dinoflagellata yang bervariasi antara hijau, cokelat hingga merah.
Beberapa species Red tide bersifat ichtyotoxic dan berasosiasi dengan produksi toksin alami dan
deplesi oksigen terlarut sehingga berbahaya. Ikan dapat terkena neurotoksin yang menyebabkan
kematian atau mati lemas karena kekurangan oksigen. Selain menyebabkan mortalitas species
laut dan pesisir seperti ikan, burung, mamalia laut dan organisme lain, red tide juga dapat
membahayakan manusia. Konsumsi tiram atau ikan yang terkontaminasi toksin red tide dapat
menyebabkan iritasi mata dan respiratori (batuk, bersin, keluar airmata, gatal-gatal).
Selain berbahaya bagi kesehatan manusia, red tide juga mengakibatkan kehancuran ekonomi
sehingga di beberapa wilayah fenomena outbreak dari red tide dipantau secara khusus seperti
misalnya di Florida dan Texas.
Debat mengenai penyebab terjadinya red tides masih bersifat kontroversial, mengingat red
tide secara alami dapat terjadi di seluruh pesisir dunia dan tidak semuanya melepas toksin seperti
misalnya fenomena non-toksin red tide spesies Noctiluca scintillans di New Zealand. Meskipun
demikian, para petani keramba apung di Teluk Lampung menduga peristiwa ini ada
hubungannya dengan industri tambak tradisional yang menggunakan bahan-bahan kimia serta
kondisi hutan mangrove yang telah rusak.
Faktor yang diduga berperan dalam menyebabkan red tide adalah peningkatan asupan nutrien ke
perairan akibat pertumbuhan populasi dan penggunaan lahan, serta peningkatan temperatur air
akibat pemanasan iklim global.
Di Teluk Lampung fenomena red tide memang baru pertama kali terjadi, namun bukan berarti
tidak akan terjadi lagi di kemudian hari. Beberapa manajemen yang diperlukan dalam
menghadapi hal ini adalah :
1. Pengendalian faktor-faktor potensial yang dapat menyebabkan red tide seperti misalnya
penerapan strategi manajemen nutrisi untuk mengurangi masuknya kelebihan nutrien ke badan
perairan.
2. Pengendalian untuk mengontrol dan mengeliminasi red tide saat fenomena ini terjadi
misalnya dengan melakukan penelitian mengenai teknologi yang dapat mengeliminasi
terjadinya red tide dan dampak yang ditimbulkan

3. Pengendalian untuk mengurangi dampak dari terjadinya red tide (mitigasi). Hal ini dapat
dilakukan dengan adanya program untuk monitoring, forecasting dan deteksi terjadinya red
tide, pengayaan pengetahuan dan persepsi publik mengenai red tide serta pengukuran aktivitas
ekonomi, dan rencana pemulihan (recovery).
Dengan manajemen yang baik, diharapkan petani keramba ikan tidak perlu lagi merugi hingga
milyaran seperti sebelumnya.