Anda di halaman 1dari 9

BAB V

INSTALASI
Dalam suatu sistem pembangkitan tenaga listrik, instalasi memegang
peranan penting yang cukup penting oleh karena performance genset
sangat dipengaruhi oleh kondisi instalasi yang meliputi beberapa halhal sebagai berikut :
1. Rumah mesin (power house)
2. Pondasi dan tanah pendukung
3. Parit (trench)
4. Ventilasi
5. Sistem pemipaan gas buang (Exhaust piping)
6. Sistem pembuangan udara radiator (radiator ducting)
7. Tangki solar
8. Sistem pemipaan bahan baker (Fuel piping system)
9. Kabel kontrol
10.

Kabel tenaga

11.

Pentanahan

12.

Penangkal petir.

V.1.

Rumah mesin
Perencanaan rumah mesin meliputi beberapa hal diantaranya :
a. Besarnya tenaga lsitrik yang diperlukan saat ini
dan

rencana

penambahan

daya

pada

masa

mendatang . Jumlah tenaga yang diperlukan ini


tentunya mempengaruhi jumlah generating set
yang akan dipasang sehingga bisa diperkirakan
besar rumah mesin yang akan dibuat.
b. Sistem yang akan dipakai dan komponen yang
akan diinstal untuk kelengkapan operasi seperti

tangki harian, pompa

dan lain-lain

dimana ini

juga akan berpengaruh terhadap ruangan rumah


mesin.
c. Lokasi rumah mesin .
Berkaitan

dengan

tingkat

kebisingan,

arah

pembuangan gas sisa pembakaran dan udara


panas radiator.
Perlu diingat bahwa jarak antar genset dalam suatu sistem
instalasi harus diperhitungan dan disesuaikan dengan standar
dari KOMATSU . Jarak antar genset dan peralatan lain ini, seperti
panel kontrol, tangki bahan bakar selain harus ditinjau dari segi
teknis pemasangan juga harus memenuhi unsur safety . Jarak
yang tidak diperhitungkan dengan baik tidak saja membuat
performance genset menurun atau bahkan banyak mengalami
gangguan, tetapi juga berkurangnya jaminan keselamatan kerja,
oleh karenanya instalasi genset berikut semua peralatan terkait
harus mendapatkan ijin pengesahkan dari Departemen Tenaga
Kerja.
V.2.

Pondasi dan tanah pendukung.


Pondasi merupakan tempat dimana genset akan diletakkan.
Ukurannya harus mengacu pada genset yang meliputi panjang ,
lebar, dan berat genset . Getaran yang dihasilkan sebagai
konsekuensi dari reciprocating engine harus bisa diredam dan
tidak merembet ke bagian lain bangunan . Agar pondasi kokoh,
tidak retak akibat dari longsor , tanah turun dan sebagainya
maka pondasi harus mendapatkan daya dukung tanah / sigma
tanah yang cukup. Dalam hal ini biasanya harus berkonsultasi
dengan ahli bangunan . Gambar 43. adalah contoh pondasi EGS
630-3 .

V.3.

Parit (trench)
Trench

berfungsi sebagai saluran kabel dari genset ke panel

control. Dalam prakteknya kabel harus terlindung dari adanya


jepitan atau tergencet benda lain yang menyebabkan rusaknya
isolasi pembungkus , oleh karena itu harus dibuat saluran atau
parit

yang

ditutup

dan

mudah

dibuka

untuk

kegiatan

pemeriksaan dan maintenance. Yang harus diperhatikan bahwa


saluran kabel tidak boleh menjadi satu dengan pipa bahan bakar
atau pipa-pipa yang lain.
Beberapa kabel yang sensitive terhadap elektrostatik harus
dipasang minimum pada jarak 20 CM dari kabel tenaga dalam
trech atau saluran kabel atas. Trench harus diberi penutup yang
kuat untuk menghindari kecelakaan kerja .
V.4. Radiator ducting
Udara panas yang dihembuskan oleh radiator harus diarahkan
gar keluar ruangan dan tidak boleh bersirkulasi masuk kembali
kedalam rumah mesin. Untuk mengarahkan

udara

panas tersebut

perlu dibuat ducting yang sekaligus merupakan sekat/isolasi terhadap


udara panas tersebut.

V.5. Pipa gas buang


Besar ukuran pipa gas buang juga berpengaruh terhadap
performance mesin, oleh karena ukuran pipa

tersebut akan

mengakibatkan engine back pressure yang pada gilirannya


akan menurunkan kapasitas mesin. Ukuran pipa berikut besarnya

back pressure yang ditimbulkan per meter ataupun per satuan


elbow ditentukan dalam KOMATSU SALES HAND BOOK .
Dari harga-harga tersebut bisa dihitung berapa besarnya back
pressure yang ditimbulkan untuk panjang dan jumlah elbow
tertentu,

untuk

kemudian

ditentukan

apakah

diatas

atau

dibawah standart yang diijinkan KOMATSU .


Standar maksimum back pressure untuk engine 4D95 L & 6D95L
adalah 680 mmAq atau 50 mmHg,

sedangkan untuk engine

yang lain sebesar 1020 mmAq atau 75 mmHg.


Contoh perhitungan sederhana :
EGS 500-3 dipasang exhaust pipe dengan ukuran pipa 5
panjang 3 meter dan 6 panjang 10 meter, dengan belokan 90

2 X . Berapakah back pressure dari isntalasi pipa gas buang


tersebut :
Jawab : Ukuran pipa 5 panjang 3 meter menghasilkan back
pressure
= 23 x 3
= 69 mmAg
Pipa 6 panjang 10 meter
= 9 x 10
= 90 mmAg
Elbow 90

= 36 x 3
= 108
Resistance muffler = 550
Sehingga total back pressure = 68 + 90 + 108 + 550
= 816

Standar spek untuk pipa gas buang adalah BSP medium


class.
Untuk

menekan suara (noise) genset yang keluar akibat

pembakaran, pipa knalpot

dimasukkan ke soundpitch,

dengan cara ini suara yang keluar dari knalpot bisa ditekan
sampai 60-70 dB.
V.6.

Ventilasi rumah mesin


Udara yang masuk ke rumah mesin mempunyai dua fungsi

utama :
1. pembakaran
Masuk melalui air cleaner, intake manifold, turbo charger,
after cooler dan ruang bakar .
2. Menjaga temperatur ruangan dan pendinginan radiator.
Kecukupan jumlah udara

sangat mempengaruhi kinerja

mesin. Sebagai contoh EGS 630 yang berkapasitas 500 kVA


Prime memerlukan udara untuk pembakaran (intake air)
sebesar 30,2 m3/min dan untuk pendinginan radiator sebesar
560 m3/min sehingga total udara yang diperlukan sejumlah
590 m3/min.
Jika kecepatan udara yang masuk melalui jendela/ventilasi =
3.5 m/sec., maka rumah mesin tersebut memerlukan jendela
atau ventilasi dengan luas 2,81 m2 apabila udara bisa masuk
ke ruang mesin tanpa hambatan (100%) dan perlu 5,56 m 2
apabila jumlah udara efektif yang masuk hanya 50% .
Bagaimana seandainya luas tersebut tidak terpenuhi ?

Apabila

luasan

tersebut

tidak

terpenuhi

maka

harus

ditambahkan additional intake fan yang berfungsi untuk


membantu memasukkan udara kedalam ruang mesin.
Perhitungannya adalah sebagai berikut :
Bagi jumlah kebutuhan total udara dengan kecepatan udara
memasuki jendela = 3,5 m/sec. maka akan ketemu luas area
yang diperlukan .
Kekurangan luas area tersebut dikalikan dengan 3,5 m/sec
maka akan didapatkan kapasitas fan dalam satuan m3/min .
Perkiraan kebutuhan udara per kWmin adalah 2.5 m3 .
Dalam kenyataan dilapangan, designer ruangan mesin tidak
cukup hanya mempertimbangkan kecukupan jumlah udara
tetapi juga tata letak peralatan yang lain seperti fuel tank
hendaknya tidak diletakkan pada aliran udara karena uap dari
solar akan terbawa ke radiator dan menjadi penyebab radiator
cepat kotor.
V. 7.

Sietem Pemipaan
a. Pipa bahan bakar / solar
Pipa berlapis aluminium tidak direkomendasi untuk
pekerjaan ini. Jenis pipa tersebut akan bereaksi secara
kimia dan dikawatirkan menimbulkan gangguan kemacetan
pada Fuel Injection Pump. Standar untuk pipa bahan bakar
adalah Black steel Pipe, medium class, ukuran .
Dalam pemasangan pipa bahan bakar harus diusahakan
sedemukian rupa agar bahan bakar tidak mempunyai
hambatan

sehingga

mengakibatkan

suplai

ke

mesin

mengalami keterlambatan . Hal ini akan berakibat low


power.

Instalasi pipa juga harus diusahakan agar mudah dalam


melepas dan memasang kembali semua komponen yang
ada seperti bay pass filter, water separator, service valve
dan lain lain.
b. Pipa air atau pembuangan air
Untuk keperluan pengisian radiator, kebersihan, ataupun
pengisian sound pitch

sebuah ruangan

mesin perlu

dilengkapi dengan instalasi air .


c. Pipa pembuangan uap oli breather
Uap oli yang keluar dari saluran pernafasan /breather perlu
dibuatkan saluran pemipaan agar uap oli tersebut tidak
terbawa aliran udara ke radiator, atau

bagian lain

ruangan.
Catatan :

Semua ujung-ujung pipa yang berhubungan dengan


mesin harus dilengkapi dengan fleksible pipe untuk
menghindari rambatan getaran mesin.

V.8.

TEST LOAD
Untuk mengetahui daya genset sampai daya maksimum perlu
dilakukan test load .

Untuk model EGS , setiap unit sudah ditest

di Singapura yang kemudian diterbitkan workshop test certificate


, sedangkan untuk model PL internal test dilakukan oleh cub
contractor kopel bersama-sama pihak UT dalam hal ini service
dan cabang Jakarta.
Namun seringkali dijumpai customer memerlukan test di site
dengan beberapa macam tujuan seperti untuk seting load

electronic governor, load sharing atau mengetahui kemampuan


genset setelah dilakukan instalasi .
1. Prosedure test.
Prosedure

test

harus

dipahami,

oleh

karena

salesman

merupakan leader dalam proses serah terima unit ataupun


instalasi . Prosedure test yang tidak benar, memungkinkan
terjadinya berbagai macam problem dan unit dianggap tidak
perform. Sub bab ini akan membahas tahapan test load baik
yang dilakukan di workshop ataupun di site .
a. Sebelum melakukan test load , dilakukan pemeriksaan
terhadap semua komponen yang berkaitan dengan
safety , baik komponen pada genset seperti low oil
pressure, water temperature, over speed

shut down

dan lain-lain maupun komponen safety pada load bank


dan kabel seperti switch fan , MCB dan lain-lain.
b. Bebani genset sesuai dengan kapasitasnya step by
step , 25% ; 50% ; 75 % ; 100 % dan 110% .
c. Pada setiap step tersebut catat hal-hal teknis yang
berkaitan dengan performance genset , dan apabila
terdapat hal-hal yang diluar standar test beban tidak
boleh dilanjutkan pada beban berikutnya sebelum
problem teratasi.
Sebagai beban biasanya digunakan load bank yang berupa
heater tersusun atas beberapa bagian sehingga bisa diatur
kW beban sesuai presentase pembebanan atau bisa juga
dengan menggunkan air garam sebagaimana terlihat pada
gambar dibawah.

MCB

Air garam
Output genset

Gambar 4.3 test dengan aor garam.