Anda di halaman 1dari 4

Bagaimana prinsip kerja Reaksi Fehling,

Tollens dan Benedict?


Ditulis oleh Danang Widya Wardhana pada 29-08-2007
Oleh Danang Widya Wardhana
Pada prinsipnya baik fehling, tollens maupun benedict digunakan untuk mengetahui apakah
suatu gula merupakan gula pereduksi atau bukan (mempunyai gugus aldehida bebas).
Fehling terdiri dari campuran CuSO4 + Asam tartat + Basa. Jika gula tersebut merupakan
gula pereduksi (glukosa, galaktosa, dll) Cu akan berubah menjadi Cu2O yang berwarna merah
bata.
Benedict terdiri dari campuran Na2Co3 + CuSO4 + Natrium sitrat. Reaksi Benedict akan
menyebabkan larutan yang berwarna biru akan berubah menjadi orange atau kuning. Untuk
mengetahui gula pereduksi yang mempunyai sifat reduksi lebih kuat, reaksi Fehling lebih
jelas perubahan warnanya.
Sedangkan Tollen terdiri dari Ag2SO4 yang bila ada gula pereduksi Ag akan direduksi
menjadi Ag+ yang akan membentuk cinci perak. Kelemahan dari reaksi Tollen adalah dia
bukan cuma bereaksi dengan gula pereduksi tetapi juga bereaksi dengan senyawa keton yang
mempunyai gugus metil.
http://www.chem-istry.org/tanya_pakar/bagaimana_prinsip_kerja_reaksi_fehling_tollens_dan_benedict/

Klasifikasi Karbohidrat:
1. Monosakarida : terdiri atas 3-6 atom C dan zat ini tidak dapat lagi dihidrolisis oleh larutan
asam dalam air menjadi karbohidrat yang lebih sederhana. berikut macam-macam
monosakarida : dengan ciri utamanya memiliki jumlah atom C berbeda-beda : triosa (C3),
tetrosa (C4), pentosa (C5), heksosa (C6), heptosa (C7).
Triosa : Gliserosa, Gliseraldehid, Dihidroksi aseton
Tetrosa : threosa, Eritrosa, xylulosa
Pentosa : Lyxosa, Xilosa, Arabinosa, Ribosa, Ribulosa
Hexosa : Galaktosa, Glukosa, Mannosa, fruktosa
Heptosa : Sedoheptulosa

2. Disakarida : senyawanya terbentuk dari 2 molekul monosakarida yg sejenis atau tidak.


Disakarida dapat dihidrolisis oleh larutan asam dalam air sehingga terurai menjadi 2 molekul
monosakarida.
hidrolisis : terdiri dari 2 monosakarida al
sukrosa : glukosa + fruktosa (C 1-2)
maltosa : 2 glukosa (C 1-4)
trehalosa 2 glukosa (C1-1)
Laktosa : glukosa + galaktosa (C1-4)
3. Oligosakarida : senyawa yang terdiri dari gabungan molekul2 monosakarida yang banyak
gabungan dari 3 6 monosakarida,misalnya maltotriosa
4. Polisakarida : senyawa yang terdiri dari gabungan molekul- molekul monosakarida yang
banyak jumlahnya, senyawa ini bisa dihidrolisis menjadi banyak molekul
monosakarida. Polisakarida merupakan jenis karbohidrat yang terdiri dari lebih 6
monosakarida dengan rantai lurus/cabang.

Macam-macam polisarida :
1.

AMILUM/TEPUNG

rantai a-glikosidik (glukosa)n : glukosan/glukan Amilosa (15 20%) : helix, tidak bercabang

2.

GLIKOGEN

3.

Amilopektin (80 85%) : bercabang


Terdiri dari 24 30 residu glukosa,
Simpanan karbohidrat pada tumbuhan,
Tes Iod : biru
ikatan C1-4 : lurus
ikatan C1-6 : titik percabangan

Simpanan polisakarida binatang


Glukosan (rantai a) Rantai cabang banyak
Iod tes : merah

INULIN

pati pada akar/umbi tumbuhan tertentu,


Fruktosan
Larut air hangat
Dapat menentukan kecepatan filtrasi glomeruli.
Tes Iod negatif

4.

DEKSTRIN dari hidrolisis pati

5.

SELULOSA (serat tumbuhan)

6.

KHITIN

7.

polisakarida invertebrata

GLIKOSAMINOGLIKAN

8.

Konstituen utama framework tumbuhan


tidak larut air terdiri dari unit b
Tidak dapat dicerna mamalia (enzim untuk memecah ikatan beta tidak ada) Usus
ruminantia, herbivora ada mikroorganisme dapat memecah ikatan beta : selulosa
dapat sebagai sumber karbohidrat.

karbohidrat kompleks
merupakan (+asam uronat, amina)
penyusun jaringan misalnya tulang, elastin, kolagen
Contoh : asam hialuronat, chondroitin sulfat

GLIKOPROTEIN

Terdapat di cairan tubuh dan jaringan


terdapat di membran sel
merupakan Protein + karbohidrat klik sini

http://habibana.staff.ub.ac.id/2014/06/30/pengertian-karbohidrat-klasifikasi-karbohidrat-danmetabolisme-karbohidrat/
Posted by Heni Endrawati, S.Si on June 30, 2014

Pada Uji Kelarutan ini, minyak kelapa digunakan sebagai bahan terlarut. Bahan
pelarut digunakan Air (aquades), Na2CO3, Alkohol 96% Eter, dan Kloroform. Uji kelarutan
yang dilakukan pada lemak menunjukkan bahwa pada tabung 1 yang berisi minyak kelapa
dan aquades tidak larut melainkan hanya bercampur sementara, setelah didiamkan sesaat,
larutan kembali seperti semula. Sedangkan pada tabung 2 yang berisi minyak kelapa dan
campuran alkohol 96% eter, serta tabung 3 yang berisi minyak kelapa dan kloroform
menunjukkan hal yang sama yakni sama-sama larut dalam minyak kelapa. Untuk tabung 4
yang berisi minyak kelapa dan NaCO3 0,5% menunjukkan reaksi yaitu kedua larutan
bercampur dan larut tetapi tidak sempurna. Hal ini disebabkan karena lemak dapat larut

dalam pelarut organik yang non polar contohnya eter, kloroform dan benzena. Sedangkan jika
didalam air (aquades), lemak tidak bisa larut karena aquades bersifat polar.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hart et al (2003) bahwa lipid tidak larut dalam air
tetapi larut dalam pelarut organik polar. Hawab (2004) juga menambahkan bahwa ciri khusus
dari zat atau senyawa lipid ialah tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut-pelarut
lemak, yaitu cairan pelarut nonpolar, seperti khloroform, eter, aseton, dan sebagainya. Pelarut
seperti eter dan klorofom yang digunakan disebut juga sebagai pelarut lemak. Sesuai
pendapat Poedjiadi (1994) bahwa pelarut organik misalnya eter, aseton, kloroform, benzena
yang sering disebut pelarut lemak.