Anda di halaman 1dari 16

Strategi Pengembangan Energi Terbarukan (Bio-fuel) di Indonesia

1)

Bambang Sugiyono Agus Purwono1), Ubud Salim2), Djumahir2), Solimun2).


Program Doktor Ilmu Manajemen, Pascasarjana, Fakultas Ekonomi, Universitas
Brawijaya dan Politeknik Negeri Malang, Malang
2)
Pascasarjana, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang
E-mail: bambangsap2010@gmail.com

ABSTRAK
Bambang Sugiyono Agus Purwono, Program Doktor Ilmu Manajemen, Pascasarjana,
Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya, 2011, Strategi Pengembangan Energi
Terbarukan (Bio-Fuel) di Indonesia. Promotor: Ubud Salim, Ko-Promotor: Djumahir,
dan Solimun.
Tujuan dari studi ini adalah untuk merancang Rencana Strategik Pengembangan
Energi Terbarukan di Indonesia dan untuk mereduksi variabel penelitian menjadi faktor
dominan.
Variabel penelitian yaitu variabel internal dan variabel eksternal. Variabel internal
terdiri dari variabel kekuatan dan kelemahan dan variabel eksternal terdiri dari variabel
peluang dan tantangan. Variabel kekuatan meliputi: logistik keluar, operasi, logistik ke
dalam, pemasaran dan penjualan, serta pelayanan, sedangkan variabel kelemahan
meliputi: infrastruktur perusahaan, manajemen sumber daya manusia, pengembangan
teknologi, dan pengadaan. Variabel eksternal meliputi: teknologi, kecenderungan
demografi, kecenderungan ekonomi, lingkungan politik dan hukum, lingkungan sosial
dan budaya, dan lingkungan global. Informan pada penelitian ini terdiri dari pemerintah,
produsen, dan pengguna
energi terbarukan. Metode analisis menggunakan
pendekatan kualitatif yang didukung pendekatan kuantitatif. Jumlah informan untuk
pendekatan kualitatif adalah 25 orang dan jumlah responden adalah 113 orang
Variabel penelitian yang terdiri dari 15 variabel direduksi dengan menggunakan
Analisis Faktor.
Temuan disertasi, pertama, semakin meningkat penggunaan teknologi
pemrosesan yang ramah lingkungan, perbaikan regulasi, dukungan dana, perbaikan
saluran distribusi dan ketersediaan bahan baku akan semakin meningkatkan kapasitas
produksi bahan bakar nabati. Kedua, adanya delapan langkah di dalam menyusun
Rencana Strategik terdiri dari menetapkan Visi, Misi, Tujuan, Strategi, Kebijakan,
Program, Anggaran, dan Prosedur bersifat hirarkhis, berjenjang. Sosialisasi kepada
SDM di lingkungan organisasi internal sesuai dengan masing-masing tingkatan, yaitu
manajemen tingkat puncak, manajemen tingkat menengah, dan manajemen tingkat
bawah.
Kata kunci Rencana Strategik, Energi Terbarukan, dan Metode Delapan Langkah.

ABSTRACT
Bambang Sugiyono Agus Purwono, Doctorate Program in Management Science, Post
Graduate, Faculty of Economics, University of Brawijaya, 2011, Strategy for
Developing Renewable Energy (Bio-Fuel) in Indonesia. Promotor: Ubud Salim, CoPromotor: Djumahir and Solimun.

This study aims at designing strategic planning for developing renewable


energy in Indonesia and reducing the research variables to be dominant factors.
The research variables are internal and external environment variables. The
internal ones consist of strengths and weaknesses variables while the external ones
consist of opportunities and threats variables. Strength variables include outbound
logistic, operation, inbound logistic, marketing and sales, and services. Meanwhile,
weakness variables include firm infrastructure, human resource management,
development of technology, and procurement. The external environment variables
include technology, demographic and economic trends, political and legal environment,
socio-cultural environment, and global environment. The participants of this study are
the regulators, the producers, and the end-users of renewable energy. This study
applies qualitative approach supported by quantitative one as its method to analyze the
data. The number of informants taken in qualitative approach is 25 people and the
number of respondents is 113 people with 15 research variables and is reduced by
using Factor Analyses.
The finding of this study reveals, first, the more the using of environmentally
friendly processing technologies, the regulation improvements, the financial supports,
the distribution channel improvements, and the availability of raw materials, the higher
the capacity of bio-fuel production. Second, there are eight steps in the arrangement of
strategic planning involving determining the visions, missions, objectives, strategies,
policies, programs, budgets, and procedures. In this case, the strategic planning is
hierarchic and gradual. The socialization toward human resources in the internal
organization is done based on their own levels, i.e. top-, middle-, and low-level
managements.
Key Words: Strategic Planning, Renewable Energy, and Eight-Step Method.

pernah mencapai sebesar US$ 142 per


barel. Pada awal tahun 2009 turun
menjadi sekitar US$ 39 per barel dan
pada awal tahun 2010 harga minyak
mentah naik lagi menjadi sekitar US$
83 per barel. Krisis minyak dunia untuk
ketiga kali terjadi Perang Teluk Persia I
atau Gulf War I disebabkan atas invasi
Irak atas Kuwait pada tanggal 2
Agustus 1990.
Kebutuhan akan energi baik
dalam bentuk fossil energy (nonrenewable energy/energi yang tidak
terbarukan) maupun non-fossil energy
(renewable energy/energi terbarukan)
di tingkat dunia meningkat dengan
pesatnya. Pasokan energi pada tahun
1976 sebesar sekitar 5.800 MTOE
(Million Ton of Oil Equivalent) dan
meningkat menjadi sekitar 12.000
MTOE pada tahun 2009. Kebutuhan
energi, investasi dan penerimaan
negara sektor ESDM di tingkat nasional

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Krisis minyak mentah dunia untuk
pertama kali terjadi pada tanggal 16
Oktober 1973 harga Arab Light (minyak
mentah) naik dari US$ 2,99 menjadi
US$ 5,12, pada bulan Desember 1973
menjadi US$ 12,70 per barel. Krisis ini
dimulai pada tanggal 15 Oktober 1973
hingga 1975 dengan naiknya harga
minyak mentah yang ditetapkan oleh
OPEC (Organisation of Petroleum
Exporting
Countries/Organisasi
Negera-negara Pengekspor Minyak).
Krisis minyak dunia untuk kedua kali
terjadi pada bulan September 1980 dan
berakhir pada bulan Agustus 1988
pada saat perang antara Irak dan Iran.
Pada tahun 1983 harga minyak mentah
naik menjadi US$ 29 (Partowidagdo,
2009: 46-47) dan di akhir tahun 2008
melonjak naik hampir menyentuh US$
100, bahkan harga minyak mentah

barel. BBN jenis ethanol biaya


produksinya hingga siap pakai sebesar
US$ 50 - US$ 60 per barel, jika harga
minyak mentah berkisar US$ 64 - US$
65 per barel, maka harga jual BBN bisa
US$ 70 per barel. Ini membuktikan
minyak nabati sudah bisa komersial.
Masa depan, pengembangan dan
investasi energi terbarukan tergantung
dari insentif yang diberikan oleh
pemerintah bagi pengembangan energi
ini. Target 25% pembauran energi pada
2025 dapat tercapai. Menteri Energi
Purnomo Yusgiantoro menjelaskan,
pemerintah mengembangkan BBN
guna mencapai beberapa target, di
antaranya, terciptanya lapangan kerja
bagi
3,5
juta
orang,
dan
memaksimalkan
tanaman
minyak
nabati seluas 5,25 juta hektar
(www.vivanews.com).
Sesuai data
yang diperoleh dari BPS (Badan Pusat
Statistik), pada tahun 2003 jumlah
lahan kritis di Indonesia mencapai 22
juta Ha.
Subsidi BBM yang sangat besar
yaitu sekitar Rp. 139,1 trilyun tahun
2008 dan sekitar Rp. 88,9 trilyun tahun
2010 (Tabel 1). Harga BBM (subsidi) di
Indonesia masih sangat murah (harga
BBM tahun 2004 adalah Rp. 2.100 per
liter) dan harga BBM sempat naik
cukup tinggi pada tahun 2008 dan
harga kembali turun pada tahun 2010
murah (harga BBM adalah Rp. 4.500
per liter dengan subsidi sebesar Rp.
1.600 per liter), kecuali harga
Pertamax, karena sudah non subsidi.
Pemerintah juga telah melakukan
pencampuran BBM dengan BBN
sekitar 2%. Salah satu hambatan untuk
tidak mencari alternatif dan penelitian
adalah harga BBM yang murah dan
subsidi yang sangat besar.
Partowidagdo (2009: 398, 399)
menyatakan bahwa apabila BBN
dengan menggunakan bahan baku biji
jarak pagar dibutuhkan 3 s.d. 4 kg per 1
liter BBN. Bila harga biji jarak pagar
adalah Rp. 1.250 per kg (alternatif I)
dan Rp. 1.000 per kg (alternatif II) maka
biaya untuk dibutuhkan bahan mentah
untuk membuat 1 liter BBN sebesar Rp.

(di Indonesia) meningkat dengan pesat.


Pemerintah telah mencanangkan crash
program
dengan
membangun
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)
dan proses instalasi selesai pada tahun
2009 dengan total kapasitas energi
sebesar 10.000 MW (mega Watt)
dengan investasi sebesar US$ 25,6
milyar
(Yusgiantoro,
http://www.kompas.com).
Direncanakan pada tahun 2030 akan
dibangun pembangkit tenaga listrik
sebesar 35.000 MW, dan sebagian
besar
PLTU
yang
dibangun
menggunakan bahan bakar batubara
dan
bahan
bakar
cair
(www.esdm.go.id).
Selain peningkatan dan fluktuasi
harga minyak mentah juga berdampak
pada penerimaan Negara dari sektor
minyak dan gas bumi (migas), pajak
dan penerimaan lain-lain. Besaran
penerimaan negara dari sektor Energi
dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
pada tahun 2009 (target) sebesar Rp.
230,208 trilyun sedangkan realisasi
sebesar Rp. 235,314 (realisasi),
dimana realisasi lebih besar sekitar 2%
dari target. Produksi minyak mentah
Nasional pada tahun 2009 adalah
944.000 bpd (barrel per day), target
pada tahun 2011 adalah 970.000 bpd
dan permintaan akan minyak mentah
Nasional adalah 1.050.000 bpd,
sehingga perlu import minyak mentah
sebesar
80.000
bpd
(www.tempointeraktif.com).
Keterlibatan
sebagian
besar
penduduk (baik secara individu maupun
kelompok) melakukan penanaman
pohon Jarak Pagar ataupun tanaman
sejenis yang lain (misal: tanaman
singkong, tebu, bunga matahari,
jagung, aren, nyamplung, sorghum)
dan proses produksi minyak nabati
(BBN/bio-fuel) serta menggunakan biofuel sebagai bahan bakar alternatif.
Ketua Umum Masyarakat Energi
Terbarukan Indonesia (METI) - Hilmi
Panigoro menyatakan bahwa Prediksi
BBN masih memiliki prospek bagus
menarik, jika harga minyak mentah
dunia berada pada kisaran US$ 60 per

yang lain penggunaan bio-fuel yaitu:


Adding ethanol to gasoline increase
octane, reducing knock and providing
cleaner
and
more
complete
combustion, which is good for the
environment. Ethanol produces lower
greenhouse gas (GHG) emissions than
gasoline: a 10% ethanol blend with
gasoline (known as E10) may reduce
GHG emissions by 4% for grainproduced ethanol and 8% for cellulosebased foodstocks. At concentrations of
E 85, GHG emissionsare reduced by up
to 80% when using cellulosic ethanol.
Biodiesel is readily biodegradable and
non-toxic, making it the ideal fuel
choice when used in environmentally
sensitive areas as parklands or marine
habitats. High cetane value, high
lubricity, low emissions, renewability,
and low sulfur (sulfur generates
additional carbon dioxide emissions).
Fenomena memproduksi BBN
(bio-etanol
dan
bio-diesel)
oleh
sebagian masyarakat dari berbagai
macam bahan baku cukup lumayan
tetapi beberapa tahun terakhir tampak
hilang.
Demikian
juga
berbagai
penelitian, pelatihan, pameran dan
seminar serta sosialisasi berkaitan
dengan BBN yang dilakukan oleh
Perguruan Tinggi dan swasta maupun
pemerintah telah banyak dilakukan.
Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM)
telah membentuk
Komisi Ketahanan Energi Nasional
(www.kompas.com)
yang
telah
melakukan seminar dan pameran
(Agrinex), Asosiasi Produsen Biofuel
Indonesia (APBI) telah memrakarsai
dan melakukan sosialisasi tentang
kompor bioetanol. Dewan Energi
Nasional
(DEN) diberi tugas oleh
Pemerintah
untuk
mempersiapkan
perangkat lunak dan sosialisasi tentang
energi. Kementerian Pertanian telah
melakukan penelitian serta pengadaan
bibit unggul Jarak Pagar dan peran
media cetak dan elektronik yang
membantu tentang sosialisasi BBN.
Beberapa
komitmen
yang
telah
dilakukan oleh Pemerintah untuk
mendukung pelaksanaan kebijakan

3.750 untuk alternatif I dan sebesar Rp.


4.000 untuk alternatif II. Apabila biaya
pengolahan adalah Rp. 1.500 maka
harga jual adalah Rp. 5.250 untuk
alternatif I dan sebesar Rp. 6.000 untuk
alternatif II. Apabila BBN dengan
menggunakan bahan baku biji kelapa
sawit dibutuhkan 5 kg per 1 liter BBN.
Bila harga biji kelapa sawit adalah Rp.
800 per kg (alternatif I) dan Rp. 1.800
per kg (alternatif II) maka dibutuhkan
biaya untuk bahan mentah untuk
membuat 1 liter BBN sebesar Rp. 4.000
untuk alternatif I dan sebesar Rp. 9.000
untuk alternatif II. Apabila biaya
pengolahan adalah Rp. 1.500 maka
harga jual adalah Rp. 6.000 untuk
alternatif I dan sebesar Rp. 11.000
untuk alternatif II. Sedangkan harga
solar adalah Rp. 4.500 per liter (subsidi
dari Pemerintah sebesar Rp. 1.600 per
liter), maka harga jual BBN masih kalah
bersaing.
UU
No.
30
tahun
2007
memberikan definisi energi terbarukan
adalah energi yang berasal dari sumber
energi terbarukan. Sedangkan sumber
energi terbarukan adalah sumber
energi yang dihasilkan dari sumber
daya energi yang berkelanjutan jika
dikelola dengan baik, antara lain panas
bumi, angin, bioenergi, sinar matahari,
aliran dan terjunan air, serta gerakan
dan perbedaan suhu lapisan laut.
Tabel 1. Perkembangan Subsidi Bahan
Bakar Minyak tahun 2007-2010

Sumber:
(http://www.fiskal.depkeu.go.id),
diakses 25 Februari 2011.
Kemp (2009: 408, 418-420)
menyatakan beberapa keuntungan

is not a solution to all planning


problems but a process which enables
managers to plan effectively and
translate those plans into actions.
Performance management process
terdiri dari 6 (enam) tahapan, yaitu:
vision, business objectives, strategic
goals, critical success factors, critical
task action plan, and performance
measures. Armstrong (2007: 37)
menyatakan bahwa terdapat dua
tahapan di dalam menyusun suatu
rencana strategik, yaitu corporate level
and business unit, product, and market
level.

energi nasional, berupa PP, Inpres,


Perpres, Kepmen dan UU telah
dilakukan. Pemerintah Pusat telah
memberikan bantuan peralatan press
dan peralatan pemerosesan biji jarak
pagar sejumlah lebih 100 unit pada
tahun 2007 untuk produksi bio-diesel.
Celah penelitian yang merupakan
suatu kajian empiris tentang rencana
strategik yang dilakukan oleh Singh
(2004: A9) menyatakan bahwa strategy
intent and strategic mission dipengaruhi
oleh external environment (terdiri dari:
opportunities (possibilities) and threats
(constraints)) dan internal environment
(terdiri
dari:
strengths
and
weaknesses). Lingkungan eksternal
tersebut disusun oleh kondisi-kondisi
eksternal,
seperti:
technology,
demographic trends, economic trends,
political/legal environment, sociocultural
environment, and global environment
yang akan mempengaruhi kinerja
perusahaan. Singh memberikan saran
untuk melakukan kajian ini dengan
menggunakan analisis rantai nilai
(value chain analysis). Hasil penelitian
Fries (2006: 6) menyatakan bahwa
strategi dipengaruhi oleh variabel
organization (yang terdiri dari goals and
values, resources and capabilities, and
structure and systems) dan variabel
environment
(yang
terdiri
dari:
competitors, communities, customers,
government,
industry,
institutions,
interest groups, media, and public).
Hasil penelitian Singh (2004) dan Fries
(2006) memberikan celah untuk diteliti,
yaitu dengan menggunakan variabel
internal organisasi berdasarkan analisis
rantai nilai (value chain analysis) dari
Michael E Porter (Hitt, 2005: 89) dan
variabel
eksternal
organisasi
berdasarkan penelitian Jochen Fries
(Fries, 2006: 6). Koontz (1988: 62, 82)
menyatakan
bahwa
tahapan
perancangan rencana strategik adalah
penetapan misi, tujuan, strategi,
kebijakan, prosedur, aturan, program,
dan anggaran. Tahapan tersebut
adalah berjenjang dan hirarkhis. Bititci
(Lee, 1998: 527, 531) menyatakan
bahwa hoshin kanri (policy deployment)

1.2. Tujuan Penelitian


Beberapa tujuan penelitian yang
akan dicapai, adalah:
1. Menganalisis faktor-faktor dominan
pada internal organization dan
external
organization
sebagai
dasar
perancangan
rencana
strategik pada kegiatan pergeseran
energi dari energi fosil ke energi
terbarukan
2. Merancang/membangun
model
rencana strategik yang didasarkan
pada variabel internal organization
dan external organization.
3. Merancang rencana strategik pada
kegiatan pergeseran energi dari
energi fosil ke energi terbarukan
yang didasarkan pada variabel
internal organization dan external
organization.
1.3. Manfaat Penelitian
Beberapa manfaat penelitian ini
adalah:
1. Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi di dalam
implementasi
bidang
ilmu
Manajemen
Strategik
yang
menekankan pada variabel internal
dan eksternal dalam perencanaan
strategik.
2. Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi di dalam
implementasi pemodelan sistem di
dalam merancang suatu Rencana
Strategik bagi suatu perusahaan

struktur
manajemen
(Opportunity,
timing and management structure), 6.
Pengendalian
situasi
pasar
dan
suasana (Control of market situation
and climate), 7. Manajemen konflik dan
menghindarkan
dari
konfrontasi
(Management of conflict and avoidance
of confrontation), 8. Fleksibilitas dan
adaptabilitas
(Flexibility
and
adaptability), 9. Observasi dan manuver
(Observing and maneuvring), 10.
Situasi yang kompetitif dan sebabsebab kegagalan (Competitive situation
and causes of failure), 11. Kondisikondisi yang kompetitif dan strategi
ofensif, aliansi dan visi (Competitive
conditions and offensive strategy,
alliance and vision), 12. Perusakan dan
keputusan (Destroying and decision),
dan 13. Intelijen dan informasi
(Intelligence and information).
Wheelen (2004: 13) menyatakan
bahwa A strategy of a corporate forms
a comprehensive master plan stating
how the corporation will achieve its
mission and objectives.
Pada tahun 1931, Walter Andrew
Shewhart
(Tenner, 1992: 122)
menyusun peta jalan (roadmap)
sebagai aplikasi dari perbaikan yang
mendasar di dalam merancang suatu
strategi dengan 4 (empat) langkah yang
dikenal dengan: Siklus PDCA (P-D-C-A
cycle/the Shewhart cycle atau dikenal
dengan the Deming Cycle). PDCA
cycle (Gambar 1) terdiri dari:
Perencanaan (Plan): determine
what needs to be done, when, how,
and by whom. Tahapan ini untuk
mengidentifikasikan persoalan yang
ada, proyek apa yang akan
dilakukan, dan fokus perhatian
kegiatan. Melakukan spesifikasi
persoalan, mengumpulkan data, dan
memberikan persetujuan terhadap
kriteria penilaian terhadap kegiatan
yang akan dilakukan.
Pelaksanaan (Do): carry out the
plan, on a small-scale first. Tahapan
ini menganalisis data, menyusun
kesimpulan
sementara,
dan
melakukan uji coba.

atau organisasi secara lebih


sederhana.
3. Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan
kontribusi
bagi
Pemerintah di dalam merancang
suatu Rencana Strategik di bidang
pengembangan energi terbarukan
di Indonesia.
2.

Tinjauan Pustaka
Beberapa pernyataan tentang
strategi yang telah dilakukan oleh
pendahulu, mulai dari Sun Tzu - The
Art of War oleh Chow Hou Wee (Wee,
1992) sampai Strategic Management
oleh Michael A Hitt (2005). Chow-Hou
Wee (Lee, 1998: 99) menyatakan
bahwa ada beberapa strategi yang
harus dilakukan di dalam merancang
suatu bisnis di dalam Seni Perang dari
Sun Tzu (Sun Tzus The Art of War).
Pernyataan Sun Tzu ini merupakan
salah satu karya atau strategi
perang/militer klasik tertua yang
diketahui dalam literatur Cina, yang
ditulis sekitar 400 sampai 300 tahun
Sebelum Masehi (Wee, 1992: 1). Fred
R David (David, 2003: 16) menyatakan
bahwa strategi berasal kata strategos
dari bahasa Yunani (Greek) yang
merupakan gabungan 2 (dua) kata
yaitu: stratos yang berarti army dan
ago
yang
berarti
leading/guiding/moving to, sehingga
strategi
adalah
seni
tentang
perencanaan dan pengelolaan operasi
militer skala besar, tentang pengarahan
ke posisi yang paling menguntungkan
sebelum pertemuan sesungguhnya
dengan musuh terjadi. Seni Perang
Sun Tzu memiliki 13 (tiga belas)
strategi (Lee, 2000: 75-76) yang dapat
diaplikasikan dalam dunia usaha, yaitu:
1. Perencanaan strategi, estimasi
mengenai kepemimpinan (Planning of
strategies, estimation and leadership),
2. Sumber daya dan tindakan-tindakan
yang kompetitif
(Resources and
competitive
actions),
3.
Strategi
kompetitif
dan
kebijaksanaan
(Competitive strategy and wisdom), 4.
Posisi dan sasaran (Positioning and
targeting), 5. Peluang, waktu, dan

Pengecekkan (Check): analyze the


results of carrying out the plan.
Tahapan ini untuk mengaplikasikan
kriteria melalui menganalisis data,
mengecek kesimpulan sementara,
dan apakah akan melanjutkan
kegiatan atau meninjau ulang
tahapan sebelumnya.
Tindakan koreksi (Act): take
appropriate steps to close the gap
between planned and actual results.
Tahapan
ini
untuk
mengimplementasikan perubahanperubahan yang terjadi, melakukan
standarisasi
pemeliharaan
dan
perbaikan dan mengkomunikasikan
perubahan-perubahan
yang
dilakukan.

Sumber: Gilmour (1996: 69).


Gambar 1. PDCA Cycle

Wheelen (2004: 9) menyatakan


bahwa Proses Manajemen Strategik
terdiri 4 (empat) elemen dasar (Gambar
2),
yaitu:
memindai
lingkungan,
memformulasikan
strategi,
mengimplementasikan strategi, dan
melakukan evaluasi dan pengendalian.
Proses
Manajemen
Strategik
merupakan suatu proses yang dinamis
dan
berkelanjutan
sehingga
memungkinkan
untuk
dilakukan
perubahan melalui tahapan umpan
balik atau pembelajaran (Gambar 3).
Koontz
(1988:
62,
82)
menyatakan
bahwa
tahapan
perancangan Rencana Strategik adalah
penetapan misi, tujuan, strategi,
kebijakan, prosedur, aturan, program,
dan anggaran (Purposes or missions,
Objectives,
Strategies,
Policies,
Procedures, Rules, Programs, and
Budgets). Dan tahapan tersebut adalah
berjenjang dan hirarkhis (Gambar 4).

Gambar 2. Strategic Management


Process

Sumber: Wheelen (2004: 10).


Gambar 3. Strategic Management
Model
Bititci (Lee, 1998: 527, 531)
menyatakan (Gambar 5) bahwa hoshin
kanri (policy deployment) is not a
solution to all planning problems but a
process which enables managers to
plan effectively and translate those
plans
into
actions.
Performance
management process terdiri dari 6
(enam) tahapan, yaitu: vision, business
objectives, strategic goals, critical
success factors, critical task action
plan, and performance measures.

suatu rencana strategi, terdiri dari: Visi,


Misi, Tujuan, Strategi, Kebijakan,
Program, Anggaran, dan Prosedur.
Gambar 2 menjelaskan bahwa untuk
menyusun suatu Rencana Strategik
dapat dimulai dengan penetapan
pernyataan visi, kemudian berturut-turut
penetapan pernyataan misi, tujuan,
strategi, kebijakan, program, anggaran,
dan prosedur. Sebaiknya di dalam
merancang
Rencana
Strategik
melibatkan manajemen tingkat puncak
(pimpinan),
manajemen
tingkat
menengah,
dan
bawahan.
Keterlibatannya dipilah-pilah sesuai
dengan dampak yang akan dihasilkan,
sebagai misal: Pertama, pernyataan
visi dan misi (tahap I dan II) dirancang
oleh
para
pimpinan
puncak
perusahaan/institusi/organisasi
(top
level management), karena dampak
dari pernyataan adalah berjangka
panjang sekitar 5 s.d. 25 tahun (longterm).
Kedua, pernyataan tujuan,
strategi dan kebijakan (tahap III s.d
tahap V) dirancang oleh manajemen
tingkat menengah perusahaan/institusi/
organisasi (middle level management),
karena dampak dari pernyataan adalah
berjangka menengah, yaitu sekitar 2
s.d. 5 tahun (medium-term). Ketiga,
pernyataan program, anggaran dan
prosedur (tahap VI s.d tahap VIII)
dirancang oleh manajemen tingkat
bawah
dari perusahaan/ institusi/
organisasi (lower level management),
karena dampak dari pernyataan adalah
berjangka
pendek
atau
tingkat
operasional, yaitu sekitar 1 s.d. 24
bulan.

Sumber: Koontz (1988: 62).


Gambar 4. Hierarchy of plans
Armstrong
(2007:
37)
menyatakan bahwa Strategic Planning
the process of developing and
maintaining a strategic fit between the
organizations goals and capabilities
and
its
changing
marketing
opportunities (Gambar 6).

Sumber: Lee (1998: 527, 531).


Gambar 5. Performance management
process

Sumber: Armstrong (2007: 37).


Gambar 6. Steps in Strategic Planning
Sumber: Purwono, BSA (2009: 63)
Gambar 7. Delapan langkah
merancang Rencana Strategik

Gambar 7 menjelaskan tentang


delapan (8) langkah untuk merancang

dalam melakukan integrasi atau


mengkombinasikan antara metode
kuantitatif dan kualitatif memberikan
fasilitas secara taktis dan memberikan
akses yang mulus (smooth) serta
memberikan hasil penelitian yang lebih
baik (superior) dibandingkan dengan
single method.
Lokasi penelitian ini dilakukan di
Indonesia (di P. Jawa, P. Kalimantan,
dan Nusa Tenggara Timur). Jangka
waktu yang dilakukan adalah mulai
bulan November 2008 s.d Desember
2010. Penentuan lokasi didasarkan
pada: Pertama, lokasi penelitian
terjangkau, baik dalam hal biaya,
tenaga dan waktu. Kedua, adanya
kegiatan yang berkaitan dengan proses
produksi dan pengguna BBN. Ketiga,
sepengetahuan penulis belum banyak
yang meneliti tentang rencana strategi
pengembangan BBN.
Penentuan
sampel
untuk
responden dan informan menggunakan
teknik purposive sampling (nonprobability sampling)
dan dipilih
judgment sampling artinya ditentukan
dengan mempertimbangkan tujuan
penelitian berdasarkan kriteria-kriteria
yang ditentukan sebelumnya (Sekaran,
2003: 277), yaitu responden dan
informan
yang sangat perhatian
terhadap
BBN,
terdiri
dari:
a)
Pemerintah, terdiri dari lingkungan
Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral, Kementerian Perdagangan,
Kementerian
Perindustrian,
Kementerian Hukum dan Hak Azasi
Manusia, Kementerian Kehutanan,
Kementerian
Pertanian,
Direktorat
Pajak
Kementerian
Keuangan,
Perbankan dan Badan Penerapan dan
Pengkajian Teknologi. b) Produsen
BBN, terdiri dari lingkungan produsen
bio-ethanol (ada sepuluh produsen
besar dan hanya satu yang memasok
ke PT Pertamina) dan PT Pertamina. c)
Pengusaha di bidang energi, terdiri
dari usaha kecil di Jawa Tengah, Jawa
Timur dan Nusa Tenggara Timur dan
Kontraktor Pembangkit Tenaga Listrik.
d) Pengguna BBN/masyarakat di
bidang bio-fuel.

Kedelapan tahapan ini dirancang


oleh top level management secara
hirarkhi, artinya setelah dirancang mulai
urutan tahap I sampai dengan tahap
VIII (mulai tahap visi s.d. prosedur)
dapat ditelusuri ulang
apakah ada
kesesuaian
antara
masing-masing
tahapan.
Artinya
hasil
Renstra
sementara dilakukan suatu pendekatan
dari atas ke bawah dan sebaliknya (topdown
approach
and
bottom-up
approach). Hasil akhir adalah suatu
musyawarah untuk memperoleh titik
temu (kompromi), dan memerlukan
umpan balik (feedback) dari bawahan
dan sebaliknya. Pimpinan memerlukan
sosialisasi (deployment) yang dilakukan
agar tidak terdapat perbedaan persepsi
pada saat diimplementasikan atau
untuk dilakukan secara operasional,
sebagai contoh: pernyataan visi, misi
(haruslah mencakup atau merupakan
bagian dari pernyataan visi atau
sebaliknya) dan tujuan (Gambar 7).
3.

METODE PENELITIAN
Pendekatan penelitian (Gambar
8) yang akan dilakukan adalah dengan
menggunakan
mixed
methods
(concurrent embedded design), yaitu
gabungan pendekatan kualitatif dan
didukung
dengan
pendekatan
kuantitatif
(Tashakkori, 2003: 226,
Sekaran, 2003: 119, dan Creswell,
2009: 6, 210). Tashakkori (2003: 15-16,
686) menyatakan bahwa A major
advantage of mixed methods research
is that it enables the researcher to
simultaneously answer confirmatory
and
exploratory
questions,
and
therefore verify and generate in the
same study. The fundamental principle
of mixed methods research: methods
should be mixed in a way that has
complementary
strengths
and
nonoverlapping weaknesses. In the
concurrent mixed design, there are
multiple questions (Qual annd Quan),
and each answered by collecting data
and analyzing corresponding data Qual
or Quan). Alan Bryman (Brannen
1993: 68-69) menyatakan bahwa di

Alasan yang lain menggunakan


teknik purposive sampling (nonprobability sampling) adalah bahwa
kegiatan energi terbarukan di sektor
bahan bakar alternatif ini masih relatif
belum lama, serta responden dan
informan diharapkan lebih mengetahui
kondisi energi terbarukan.
Gambar 9. Kerangka Penelitian
4.

HASIL
PENELITIAN
DAN
PEMBAHASAN
Hasil
pengolahan
dengan
menggunhakan
analisis
kualitatif
diperoleh
rencana
strategik
pengembangan BBN di Indonesia
seperti yang terlihat pada Gambar 10.

Gambar 8. Model Penelitian


Data
dan
informasi
yang
dikumpulkan
sehubungan
dengan
penelitian ini diperoleh melalui antara
lain: Pertama, obeservasi, yaitu melalui
pengamatan yang dilakukan, peneliti
meyakini dapat memperoleh data
melalui pengamatan langsung pada
obyek yang diteliti dan juga fenomena
atau kejadian yang terjadi dalam
kehidupan
sehari-hari.
Kedua,
wawancara yang merupakan hal utama
dalam
mengumpulkan
data
dan
informasi dari para partisipan. Hal ini
dilakukan untuk memperoleh data dan
informasi berkaitan dengan masalahmasalah
yang
diteliti
dengan
menggunakan pedoman wawancara.
Ketiga,
dokumentasi,
teknik
ini
digunakan sebagai alat atau pelengkap
serta untuk verifikasi data untuk
membantu
menyusun
data
dan
informasi yang berkaitan dengan
kepentingan penelitian yang diperoleh
melalui tinjauan langsung di lapangan,
websites, atau arsip yang ada.
Keempat, pengisian angket.
Hasil analisis kuantitatif ini
digunakan untuk melengkapi analisis
kualitatif dan menghasilkan 5 (lima)
proposisi dan proposisi utama yang
merupakan hasil pendekatan mixed
method.

Semakin sedikitnya cadangan


migas dan kesulitan pengadaan bahan
baku untuk memenuhi kapasitas
produksi bioethanol dan biodiesel,
karena pasokan bahan baku, misal:
singkong, biji kelapa sawit, biji jarak
pagar, biji jagung, dan tetes tebu yang
masih berebut antara food, feed, and
energy. Potensi penggunaan bahan
baku baru untuk produksi bioethanol
yang bisa dikembangkan di Indonesia
adalah switch grass, sweet sorghum,
tropical sugar beet, and giant king
grass. Jumlah lahan kering yang masih
luas.

Tabel 2. Definisi Operasional Variabel

Pemerintah sudah memberikan


subsidi untuk BBN yang jumlahnya
relatif sangat kecil dibandingkan
dengan subsidi yang diberikan untuk
BBM. Di sisi lain kebutuhan akan
substitusi BBM ke BBN sudah sangat
diperlukan, sehingga proposisi yang
diajukan adalah:
P12: Semakin meningkat dukungan
dana
akan
semakin
meningkatkan
kapasitas
produksi BBN.

Kepastian regulasi yang berkaitan


dengan bea masuk barang modal yang
diimpor dari negara lain serta insentif
atau kemudahan yang diberikan
kepada
individu,
kelompok
dan
perusahaan yang memproduksi BBN.
Regulasi tentang harga keekonomian
produk jadi BBN dan regulasi tentang
kepastian penggunaan lahan untuk
penanaman benih serta budi daya
tanaman
untuk
produksi
BBN,
sehingga proposisi yang diajukan
adalah:
P21: Semakin meningkat perbaikan
regulasi
akan
semakin
meningkatkan
kapasitas
produksi BBN.
Pemerintah
telah
banyak
memberikan bantuan teknologi untuk
produksi BBN,
dan membagikan
ratusan peralatan pemerah biji jarak
pagar dan puluhan unit pengolah
minyak,
tetapi
hasilnya
kurang
memadai. Pemilihan teknologi perlu
memperhatikan
spesifikasi,
buku
pedoman
(manual
book),
dan
pelayanan
purna
jual.
Bila
memungkinkan variasi merek atau
spesifikasi peralatan (yang akan
diimpor) tidak terlalu banyak, sehingga
proposisi yang diajukan adalah:

Saluran distribusi dikembangkan


melalui penjualan kepada masyarakat
di sekitar proses produksi dan
kelebihan persediaan atau produksi
dibeli oleh pemerintah untuk digunakan
bagi keperluan rumah tangga, gedung
komersial, transportasi, dan industri
yang dikelola oleh pemerintah (misal:
BUMN
dan
keperluan
militer),
sehingga proposisi yang diajukan
adalah:
P22: Semakin meningkat saluran
distribusi
akan
semakin
meningkatkan
kapasitas
produksi BBN.

P11: Semakin meningkat teknologi


pemrosesan
akan
semakin
meningkatkan
kapasitas
produksi BBN

baku

10

Selain itu sebagian besar bahan


yang lain (misal: kelapa

sawit/CPO, alkohol) masih diekspor ke


negara lain, sehingga proposisi yang
diajukan adalah:
P3: Semakin meningkat ketersediaan
bahan baku akan semakin
meningkatkan
kapasitas
produksi BBN.
Kelima proposisi di atas dapat
digambarkan pada Gambar 11.
Pembahasan
hasil
analisis
kuantitatif
dengan
menggunakan
Analisis Faktor membahas tentang:
eigen value, dan loading factors. Nilai
initial eigen values berkisar antara
0,199 s.d 4,956. Dipilih jumlah faktor
adalah 5 (lima) dengan memperhatikan
total initial eigen values di atas 1 dan
nilai rotation sums of squared loadings
sebesar 65,054% (di atas 50%), artinya
bahwa informasi yang disampaikan dari
kelima faktor tersebut adalah 65,054%.
Hasil reduksi, yaitu Komponen 1
atau Faktor 1 dan diberi nama Faktor
Pemrosesan yang ramah lingkungan
didukung oleh 5 (lima) variabel yaitu:
Teknologi
Pemrosesan
(x123_pro),
Pengembangan Ketrampilan Sumber
Daya Manusia (x122_DEV), Permesinan
untuk Pemrosesan (x112_MES), Perhatian
terhadap Ekologi (x222_EKO) dan Seleksi
terhadap Teknologi yang Dipergunakan
(x211_SEL) dengan total initial eigen
values sebesar 4,922 atau persentase
total initial eigen values sebesar
32,815%. Faktor 2 dan diberi nama
Perbaikan Regulasi didukung oleh 3
(tiga) variabel yaitu: Penyusunan
Regulasi (x221_REG), Penciptaan Pangsa
Pasar Baru (x223_MAR), dan Peralatan
Laboratorium (x124_LAB) dengan total
initial eigen values sebesar 1,457 atau
persentase total initial eigen values
sebesar 9,716%.

Sumber: data diolah.


Gambar 10. Pernyataan Visi, Misi, dan
Tujuan

11

Hasil ini digunakan untuk mendukung


hasil pengolahan pendekatan kualitatif
dan menghasilkan 5 (lima) proposisi.
Kedua analisis ini menghasilkan
proposisi utama yaitu memproduksi
BBN agar tidak terjadi kelangkaan BBM
dengan memberdayakan masyarakat,
menggunakan teknologi pemrosesan
yang ramah terhadap lingkungan,
melakukan perbaikan regulasi, adanya
peningkatan bantuan dana/subsidi dari
pemerintah dan melakukan perbaikan
saluran distribusi serta tersedia bahan
baku untuk memproduksi BBN akan
semakin
meningkatkan
kapasitas
produksi BBN.

Sumber: data diolah.


Gambar 11. Proposisi
Faktor 3 dan diberi nama Faktor
Subsidi didukung oleh 2 (dua) variabel,
yaitu:
Anggaran
(x213_BUD)
dan
Pelaporan Keuangan (x121_FIN) dengan
total initial eigen values sebesar 1,255
atau persentase total initial eigen
values sebesar 8,368%. Faktor 4 dan
diberi nama Faktor Saluran Distribusi
didukung oleh 2 (dua) variabel, yaitu:
Teknologi
Manufaktur
(x212_MAN),
Saluran distribusi (x114_DIS) dengan total
initial eigen values sebesar 1,104 atau
persentase total initial eigen values
sebesar 7,362%. Faktor 5 dan diberi
nama Faktor Ketersediaan Bahan Baku
didukung oleh 3 (tiga) variabel, yaitu:
Penanganan Bahan Baku Nabati
(x111_PBB), Penggudangan Bahan Baku
Nabati
(x113_GUD)
dan
Pelatihan
Peralatan untuk Pemrosesan bagi
Sumber Daya Manusia (x115_TRN)
dengan total initial eigen values
sebesar 1,019 atau persentase total
initial eigen values sebesar 6,792%.
Gambar
12
memperlihatkan
bahwa hasil analisis Mixed Method
dengan menggunakan cara concurrent
embedded design. Hasil pengolahan
data dengan menggunakan pendekatan
kuantitatif dari variabel internal dan
variabel eksternal yang terdiri dari 15
variabel
penelitian
direduksi
menghasilkan lima (5) faktor dominan
dengan menggunakan Analisis Faktor.

Sumber: Data diolah.


Gambar 12. Hasil Pengolahan dengan
menggunakan Mixed Method
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari
hasil pengolahan data pada bab-bab
sebelumnya adalah:
1. Usaha
yang
telah
dilakukan
sebagian masyarakat, baik secara
individu maupun kelompok serta
beberapa
investor
yang
menggunakan dana, daya, dan
teknologi, serta melibatkan sumber
daya manusia yang tidak sedikit,
apabila mendapatkan dukungan
dari pemerintah, baik di pusat
maupun di daerah serta instansi
terkait, misal: Kementerian Energi
dan
Sumber
Daya
Mineral,
Kementerian
Kehutanan,

12

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian
Pertanian,
Kementerian
Industri
dan
Perdagangan, dan Kementerian
Keuangan
serta
lembaga
penelitian, maka akan berdampak
positif bagi peningkatan kapasitas
produksi BBN.
2. Peran
pemerintah
untuk
mendukung peningkatan kapasitas
produksi BBN melalui penggunaan
teknologi pemrosesan yang ramah
lingkungan, perbaikan regulasi,
dukungan pendanaan dalam bentuk
subsidi, dan perbaikan saluran
distribusi serta ketersediaan bahan
baku.
3. Strategi yang digunakan untuk
pencapaian
pemenuhan
BBN
sampai dengan tahun 2025 melalui
visi yang direkomendasikan adalah
peningkatan
pendapatan
masyarakat
desa
melalui
pemberdayaan,
produksi,
dan
pemanfaatan
bio-fuels dan misi
adalah a) Budidaya tanaman bahan
baku BBN. b) Memroses bahan
baku
menjadi
BBN
dengan
memperhatikan
kualitas.
c)
Memasarkan dan memanfaatkan
BBN.
d)
Memanfaatkan
dan
mengoptimalkan
limbah
hasil
pemrosesan produk BBN.

Amaratunga, D, Baldry, B., Sarshar, M,


and
Newton,
R.
2002.
Quantitative
and
Qualitattive
Research
in
the
Built
Environment:
Application
of
Mixed Research Approach,
Work study journal 51 (1): 17-31.
Armstrong, G and Kotler, PE. 2007.
Marketing: An Introduction. 8th
edition,
Pearson-Prentice Hall
International. New Jersey.
Brannen, J. 1993. Mixing Methods:
Qualitative
and
Quantitative
Research. Avebury, Aldershot.
Cheney, D, 2001. National Energy
Policy: Report of the National
Energy
Policy
Development
Group, US Government Printing
Office, Washington.
Chow, I, Holbert, N, Kelley, L, and Yu,
J. 2004. Business Strategy: An
Asia-Pacific
Focus,
Second
edition, Prentice Hall-Pearson,
Singapore.
Cooper, D R, and Schinder, PS. 2006.
Business Research Methods. 9th
Edition. McGraw-Hill/Irwin. New
York.
Creswell, J W. 2009. Research Design:
Qualitative, Quantitative, and
Mixed
Methods
Approaches,
Third Edition, Sage Publications,
New Delhi.
Dillon, WR. and Goldstein, M. 1984.
Multivariate Analysis: Methods
and Applications, John Wiley and
Sons, New York.
Fries, J. 2006. The Contribution of
Business Intelligence to Strategic
Management, A Dissertation,
Vrije Universiteit, Brussel.
Ghozalli, I. 2007. Aplikasi Analisis
Multivariate dengan Program
SPSS. Badan Penerbit-UNDIP.
Semarang.
Green, J H. 1996. Renewable Energy
Systems in Southeast Asia.
PennWell Books. Oklahoma.

5.2. Saran
Ada beberapa saran yang ingin
disampaikan dari hasil penelitian ini,
yaitu:
1. Perlu
memperhatikan
dan
menambahkan variabel nilai dan
etika di dalam merancang
rencana strategik.
2. Perlu memperhatikan Strategic
Management Process di dalam
melakukan
evaluasi
dan
monitoring, apabila perusahaan
atau institusi tersebut telah
berfungsi atau telah beroperasi.
3. Perlu
melakukan
penelitian
dengan memperhatikan energi
baru dan terbarukan yang lain,
seperti: energi panas bumi,
energi surya, energi nuklir, dan
energi angin.

13

Hasyim, I. 2005. Siklus Krisis di Sekitar


Energi. Proklamasi Publishing
House.
Jakarta.
Hendroko, R. 2009. Demam Bioetanol.
http://www.kompasiana.com/.
Diakses 31 Mei 2010.
http://www.opec.org/Annual
Statistic
Bulletin 2007. Diakses 5 Maret
2008.
http://www.esdm.go.id/. Diakses 7 Mei
2010.
http://www.pertamina.com/. Diakses 25
Februari 2011.
http://www.pln.co.id/. Diakses 10 April
2010.
http://www.kompas.com/. Diakses 31
Mei 2010.
http://www.kompasiana.com/. Diakses
31 Mei 2010.
http://www.tempointeraktif.com/.
Diakses 25 Februari 2011.
http://www.pustaka-deptan.go.id/.
Diakses 17 Februari 2010.
http://www.indonesia.go.id/. Diakses 18
April 2010.
http://www.bps.go.id/.
Diakses
25
Februari 2011.
http://www.depkeu.go.id/. Diakses 25
Februari 2011.
http://www.fiskal.depkeu.go.id/. Diakses
25 Februari 2011.
http://www.renewableenergyindonesia.
wordpress.com/.
Diakses
11
Maret 2011.
Hubbard,
G.
2004.
Strategic
Management: Thinking, Analysis,
and Action. Second Edition.
Pearson Education Limitied. New
South Wales.
Idrus, MS, and Slaunton, J. A. 1991.
Strategic Planning Approach to
the Evaluation of Performance: A
Theoretical Framework, Journal
Management Forum 15 (1): 2135.
Instruksi Presiden Republik Indonesia
No. 1 Tahun 2006: tentang
Penyediaan dan Pemanfaatan
Bahan Bakar Nabati (Bio-fuel)
sebagai
bahan
bakar
lain,
Jakarta.

Kemp, WH. 2009. The Renewable


Energy Handbook. Aztext Press.
Canada.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 15 tahun 1996
tentang: Program Langit Biru.
Jakarta.
Khalil, TM. 2000. Management of
Technology:
the
Key
to
Competitiveness and Wealth
Creation. McGraw-Hill Book Co.,
Singapore.
Kondo, Y. 1998. Techniques: Hoshin
Kanri A Participative Way of
Quality Management in Japan,
The TQM Magazine 10 (6): 425431
Koontz, H and Weihrich, H. 1988.
Management, McGraw_Hill Book
Co., New York.
Lee, SF, Robert, P, Lau, WS and
Bhattacharyya. 1998. Sun Tzus
The Art of War as Business and
Management Strategies for world
class
business
excellence
evaluation
under
QFD
methodology, Business Process
Management Journal 4 (2): 96113.
Lumban, B. 2002. Listrik untuk
Kesejahteraan Rakyat. Grafika
Indah. Jakarta.
Partowidagdo, W. 2009. Migas dan
Energi
di
Indonesia:
Permasalahan
dan
Analisis
Kebijakan. Penerbit Development
Studies Foundation. Bandung.
Peraturan Presiden Republik Indonesia
No. 5 Tahun 2006: tentang
Kebijakan
Energi
Nasional,
Jakarta.
Peraturan Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral Nomor 32 Tahun
2008:
tentang
Penyediaan,
pemanfaatan dan tata niaga
bahan bakar nabati (Bio-fuel)
sebagai
bahan
bakar
lain.
Jakarta.
Robbins, SP, Bergman, R, Stagg, I,
and
Coulter,
M.
2009.
Management. Pearson Education.
New South Wales.

14

Salladien,
Maryaeni,
Sunaryanto,
Syafrudie, HA. 2009. Materi
Pelatihan Analisis Data Kualitatif.
Program
Pasca
SarjanaUniversitas
Negeri
Malang.
Malang.
Sekaran, U. 2003. Research Methods
for Business: a Skill Building
Approach. Fourth Edition. John
wiley and sons Inc. New York.
Singh, K, and Pangarkar, N, and
Heracleous, L. 2004. Business
Strategy in Asia: A Casebook,
Thompson, Singapore.
Singh, K, and Pangarkar, N, and
Heracleous, L. 2010. Business
Strategy in Asia: A Casebook,
Third
Edition,
Thompson,
Singapore.
Solimun, dan Rinaldo, A. 2008.
Multivariate Analysis: Aplikasi
Software SPSS dan Microsoft
Excell. LPM-UNIBRAW. Malang.
Tashakkori, A, and Charles Teddlie.
2003.
Handbook
of
Mixed
Methods:
In
Social
and
Behavioral
Research.
Sage
Publication. London.
Undang-Undang Republik Indonesia
No. 30 Tahun 2007: tentang
Energi, Jakarta.
Wheelen, T L., and Hunger, JD. 2004.
Strategic
Management
and
Business Policy, Ninth Edition,
Pearson-Prentice
Hall,
New
Jersey
Witcher, B J. 2002. Hoshin Kanri: A
Study of Practice in the UK,
Managerial Auditing Journal 17
(7): 390-396.
Witcher, B J., and Chau, Vinh-Sun.
2008. Dynamic Capabilities: Top
Executive Audit and Hoshin Kanri
at Nissan in South Africa,
International
Journal
of
Operations
and
Production
Management 28 (6): 540-561.
Yang, TM. 2007. Application of Hoshin
Kanri
for
Productivity
Improvement in a Semiconductor
Manufacturing Company, Journal
of Manufacturing Technology
Management 18 (6): 761-775.

15