Anda di halaman 1dari 5

Alterasi hidrotermal adalah suatu proses yang sangat kompleks yang

melibatkan perubahan mineralogi, kimiawi, dan tekstur yang disebabkan


oleh interaksi fluida panas dengan batuan yang dilaluinya, di bawah
kondisi evolusi fisio-kimia. Proses alterasi merupakan suatu bentuk
metasomatisme, yaitu pertukaran komponen kimiawi antara cairan-cairan
dengan batuan dinding ( Pirajno, 1992 ).
Interaksi antara fluida hidrotermal dengan batuan yang dilewatinya
( batuan dinding ), akan menyebabkan terubahnya mineral-mineral primer
menjadi mineral ubahan ( mineral alterasi ), maupun fluida itu sendiri
( Pirajno, 1992, dalam Sutarto, 2004 ).
Klasifikasi tipe alterasi hidrotermal pada endapan telah banyak dilakukan
oleh para ahli, antara lain Creassey (1956,1966). Lowell dan Guilbert
(1970), Rose (1970), Meyerdan Hemley (1967) serta Thomson dan
Thomson (1996). Lowell dan Guilbert membagi tipe alterasi ke dalam
potasik

(K-feldspar,

biotit,

(kuarsa,serisit,pirithidromika,klorit),
dan propilitik (klorit,epidot).

serisit,klorit,
argilik

kuarsa),filik

(kaolinit,monmorilonit,klorit)

Tabel Tipe-tipe alterasi berdasarkan himpunan mineral (Guilbert dan


Park,

1986)

Tipe alterasi argilic


Tipe alterasi ini dibedakan mnjadi 2 macam, yaitu tipe alterasi. Argilik
(sulfidasi rendah/low sulfidation) dan Argilik Lanjut (sulfidasi tinggi/high
sulfidation)
argilic

argilic

merupakan

tipe

alterasi

dari

endapan

epithermal

sulfidasi

rendah.Tipe alterasi ini melibatkan konversi mineral tertentu untuk


mineral dari kelompok lempung, seperti kaolinit dan montmorilonit
(smectite). Jenis alterasi ini dicirikan dengan kehadiran anggota dari kaolin
(Halloysit, kaolinitdan dickit) dan illit (smektit, interlayer, illit-smektit, illit),
serta asosiasi mineral transisi yang terbentuk pada pH menengah dan
suhu rendah.Kelompok dari mineral temperatur rendah-transisi yaitu
kelompok klorit-illit juga hadir.
1. Kaolin
Kaolin merupakan masa batuan yang tersusun dari material
lempung dengan kandungan besi yang rendah, dan umumnya
berwarna putih atau agak keputihan. Kaolin mempunyai komposisi
hidrous

alumunium

silikat

(2H2O.Al2O3.2SiO2),

dengan

disertai

beberapa mineral penyerta.


Proses pembentukan kaolin (kaolinisasi) dapat terjadi melalui proses
pelapukan

dan

proses

hidrotermal

alterasi

pada

batuan

beku

felspartik, mineral-mineral potas aluminium silka dan feldspar diubah


menjadi kaolin. Endapan kaolin ada dua macam, yaitu: endapan
residual

dan

sedimentasi.

Mineral yang termasuk dalam kelompok kaolin adalah kaolinit, nakrit,


dikrit,

dan

halloysit

(Al2(OH)4SiO5.2H2O),

yang

mempunyai

kandungan air lebih besar dan umumnya membentuk endapan


tersendiri. Sifat-sifat mineral kaolin antara lain, yaitu: kekerasan 2
2,5, berat jenis 2,6 2,63, plastis, mempunyai daya hantar panas dan
listrik yang rendah, serta pH bervariasi.
Potensi dan cadangan kaolin yang besar di Indonesia terdapat di
Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Pulau Bangka dan Belitung,
serta potensi lainnya tersebar di Pulau Sumatera, Pulau Jawa, dan
Sulawesi Utara. Kegunaan dan manfaat kaolin banyak dipakai sebagai
bahan pengisi (filler), pelapis (coater), barang-barang tahan api dan
isolator. Kegunaan kaolin sangat tergantung pada karakteristiknya
karena karakteristik berpengaruh terhadap kualitasnya.

Kaolin dipakai di keramik, obat, melapisi kertas, sebagai bahan


tambahan makanan, odol, sebagai bahan menyebarkan sinar di bola
lampu pijar agar putih, bahan kosmetik. Juga dipergunakan di cat dan
mengubah tingkat kilauan.
2. Illit
Kelompok mineral ini terbentuk pada fluida dengan pH yang lebih
tinggi (4-6). Smektit terbentuk pada temperatur < 100-150C,
interlayer

illit-smektit

(100-200C),

illit

(200-250C),

serisit

(muskovit) >200-250 C, phengit >250-300C. Kandungan smektit pada


interlayer illit smektit akan berkurang bersamaan dengan naiknya
temperature.

22

Interlayer

illit-smektit

dapat

menunjukkan

temperatur fluida hidrothermal pada kisaran 160-220 C (Lawless dan


White, 1997). Alterasi dengan mineral alterasi yang dominan illit
menunjukkan temperatur fluida pada kisaran 220-270 C (Lawless dkk,
1997). Sebagaimana illit umumnya stabil pada temperature lebih
tinggi dari 220 C, berkurangnya temperatur akan meningkatkan
stabilitas smektit. Pada umumnya illit banyak dijumpai pada zona
permeabel

dan

permeabilitas

berkurang

dengan

bertambahnya

mineral klorit (Lawless dkk, 1997).


Argillic lanjut (advanced argilic)
Alterasi ini dicirikan oleh kehadiran himpunan mineral pirofilit, diaspor,
andalusit, kuarsa, turmalin, enargit-luzonit (untuk temperatur tinggi, 250350C), atau himpunan mineral kaolinit+alunitkalsedonkuarsapirit
(untuk temperatur rendah,< 180 C).Alterasi ini terbentuk dari hasil
pencucian alkali dan kalsium dari fasealumina seperti feldspar dan mika,
tetapi

hanya

hadir

jika

aluminium

tidak bersifat

mobile,

apalagi

aluminium bergerak lagi diikuti dengn bertambahnya serisit dan terjadi


alterasi serisit (Evans, 1992). Alterasi advanced argilik ini dicirikan oleh
hadirnya mineral yang terbentuk pada kondisi asam terutama kaolinit,
dickit, piropilit, diaspor, alunit, jarosit dan zunyit. Perlu dibedakan antara
alterasi

hipogen

terbentuk

hasil

dan

supergen.

kondensasi

gas

Alterasi
alam

advanced
(terutama

argilik
gas

hipogen

HCl)

dan

ketidakseimbangan SO2 dalam membentuk asam sulfur dan hidrogen


sulfida. Alterasi advanced arrgilik supergen dapat terbentuk dalam 2
macam, pertama terbentuk oleh kondensasi gas hasil pendidihan fluida
hidrotermal yang membentuk air tanah yang teroksidasi.