Anda di halaman 1dari 26

CITA + N = CINTA

Uhuk.. uhuk.. Cita!!!, tunggu, perasaan ada


yang manggil aku. Bener ga sih?, Tanyaku dalam hati.
Citaaaa.. Cita, Ya Allah.. itu kan bunda..
dasar Cita Ningthyas bodoh!
iya.. Bunda.., jawabku sambil membereskan
meja belajar sehabis mengerjakan pekerjaan rumah yang
diberikan dosen padaku. Dengan tergesa aku langsung
menuju kamar bunda. Kamar bunda tidak jauh dari
kamarku. Jangan tanya kenapa larut malam begini bunda
memanggilku. Dalam keluargaku hanya ada aku, bunda
dan

Kira,

adikku.

Maka

sudah

kewajibanku

menggantikan atau setidaknya meringankan beban bunda


karena ditinggal ayah. Saat aku masih kecil aku pernah
mendengar percakapan mereka. Ayah meminta cerai
pada bunda. Entah mengapa aku juga tidak mengerti
ayah meminta cerai pada bunda. Tapi, kalau tidak salah
dengar saat mereka bertengkar aku mendengar ayah
selingkuh dengan wanita lain. Pada awalnya aku sangat
membenci ayah tapi, setelah bertahun-tahun tanpa sosok

seorang ayah aku jadi sangat merindukan ayah. Dan aku


tahu mungkin hal ini juga harus aku ikhlaskan bila
memang ini sudah menjadi takdir-Nya. Walaupun begitu
ayah, tetaplah ayah kandungku. Lho kok aku malah
mengingat masa lalu? Aku kan seharusnya menemui
bunda. Ugh,, dodol! Perlahan aku membuka pintu kamar
bunda. Lalu, aku melihat bunda membungkukkan
tubuhnya di atas kasur. Aku tahu penyakit bunda tidak
mudah disembuhkan. Kadang-kadang suka kambuh.
Masya Allah bunda.. maaf.. Cita ga cepat-cepat
datang.., seruku meminta maaf pada bunda.
iya sayang.. bunda mengerti tapi, boleh ga
bunda minta tolong sama kamu? Tolong belikan bunda
obat ini karena bunda harus segera meminumnya, seru
bunda sambil menunjukan wadah obat yang sudah habis.
iya bunda.., jawabku
kamu tahu uhuk.. kan huk.. dimana ngambil
uangnya.. uhuk.. uhuk.., balas bunda. Sambil terbatukbatuk.

iya bunda.., jawabku lagi. Sambil beranjak


meninggalkan kamar bunda. Dengan cepat aku ke kamar
Kira karena Kira harus menjaga Bunda. Pokoknya salah
satu diantara kita harus ada yang di rumah tidak boleh
dua-duanya pergi. Karena aku sendiri tidak mau bunda
kesepian. Kini aku berada di depan kamar Kira.
TOK.TOK.TOK.
Kiraaa..

Kiraaa..

bangun

Ra..

bangun..!,

teriakku di depan kamarnya.


ugh.. ada apa sih Cit? apa ga tahu sekarang udah
jam berapa? Ngeganggu aja!, seru Kira dengan
juteknya.
heh! Kamu temenin bunda dulu! aku mau ke
apotek di suruh bunda beli obat.. oke!?, seruku
padanya.
ya.. tapi jangan lama-lama! , jawab Kira malasmalasan.
oke.. pokonya kamu ga boleh tidur sebelum aku
datang! oke?!, Tanyaku penuh harap.

ya.. udah sana buruan pergi aku dah ngantuk nih


Cit!, jawabnya.
ugh.. dasar ! coba kamu bukan adikku, udah aku
tendang kamu! Hahaha.., candaku.
ya.. whatever you say! And sekarang kamu
harus pergi ke apotek! Buruan... teriaknya.
ya. ya. ya. dadah adikku sayang.., teriakku
sambil berlari menuju apotek. Ibuku membuka usaha
rumah makan sederhana di pinggir kompleks. Jadi,
meski ayah tidak menafkahi kami, kami juga bisa
menafkahi diri kami sendiri. Aku tinggal di kompleks
perumahan Green Dreams Jl. Purnawarman. Ayah
memberikan rumah ini pada bunda ketika bunda dan
ayah bercerai. Aku tahu meski ayah dan bunda sudah
bercerai ayah masih sering menghubungi bunda. Dan
aku juga tahu ayah masih menafkahi kami. Ayah selalu
memberikan uangnya melalui rekening bunda. Tapi,
anehnya setelah ayah bercerai, ayah tidak pernah
bertemu dengan aku dan Kira. Bahkan sampai aku
berusia 16 tahun ini juga aku tidak pernah bertemu

dengan ayah. Entah mengapa aku juga tidak mengerti.


Tapi, aku selalu mencoba untuk berfikir positif, mungkin
saja ayah tinggal di luar negeri sehingga hanya mampu
mengirimkan uangnya melalui rekening tanpa bertatap
muka sama sekali. Mungkin itu juga. Pokoknya aku
sayang ayah. Tapi, sayangnya ini tidak terjadi pada Kira.
Kira

sangat

membenci

ayah.

Karena

peristiwa

perceraian. Bahkan ini semua mempengaruhi pandangan


Kira terhadap hubungan antara perempuan dan laki-laki.
Aku tahu, bahkan sudah terlalu sering mendengar dari
berbagai macam makhluk berkelamin perempuan bahwa
Kira itu sering mempermainkan perempuan. Ya.. dengan
kata lain adikku itu playboy. Ya.. tapi, dia tetap adikku.
Adikku satu-satunya. Tak terasa aku berada di tepi jalan.
Wah.. jalanannya kosong. Enak sekali kalau di pakai
nyebrang. Jadi tidak perlu lihat kanan-kiri, pikirku. Lalu,
karena apoteknya buka 24 jam dan sekarang ya.. kurang
lebih pukul 23.00 sudah dipastikan jalan menjadi sangat
lengang sekali. Dengan cepat aku menyebrang. Tanpa
aku tahu ada motor berkecepatan tinggi datang ke
arahku. Aku sempat menghindar tapi, semua sudah
terlambat. BRUG. BRUG. Aku terpental jauh. Aku

melihat cahaya yang terang sekali. Lalu segalanya


menjadi sangat hitam dan gelap. Aku tidak sadarkan diri.
^-^
nero.. lo kemana aja? Dah mulai jarang kesini
ya? haha.. lagi bokek lo ya? hahahaha., seru Rudi. Saat
gue baru aja sampai di Nirvana. Gue udah biasa ke
nirvana. Coz ni tempat dugem punya temennya temen
gue. Percaya atau tidak, yang punya tempat dugem
sekaliber Nirvana adalah seorang gadis 20 tahun, ya..
seumuran sama gue dan dia juga berjilbab..?! percaya?
Sepertinya kamu harus percaya. Karena ini memang
nyata.
hai.. Ner.., sapa temen dugem gue. ya.. disini
gue emang punya banyak temen. Ya.. boleh dibilang gue
cukup dikenal banyak orang disini.
hai.., balas gue. Dimana sih si Dara? Gue
kesini kan pengen ngapelin dia. Gue ama dia udah 1
tahun jalan. Gue sayang dia. Walau banyak cewe yang
suka ma gue. Pede banget gue?! Haha.. Entah kenapa
gue masih tetap setia sama Dara. Gue tahu ada rumor

yang berkata kalau Dara itu playgirl. Terkadang gue juga


suka berpikir negative tentang dia. Tapi, gue selalu
mencoba untuk berpikir positif. Selama gue belum
melihat dengan mata gue sendiri, gue ga akan percaya.
Tunggu.. yang gue lihat ini bohong kan? Engga,, itu
bukan Dara.. tapi, gue tahu persis itu Dara.. engga..
engga mungkin Dara selingkuh.. engga.. ga mungkin..
entah dapat kekuatan dari mana mulut gue mangucapkan
namanya
Daraaa, seru gue, masih terpaku di tempat
gue berdiri. Perlahan gue mundur. Gue berbalik dan gue
berlari kencang. Tanpa gue sadari gue nubruk banyak
orang, orang yang berseliweran di gedung Nirvana.
Sayup-sayup gue dengar Dara manggil gue. Tapi, gue
terlalu sakit untuk berbalik menatap matanya. Dan
sekarang gue udah ada di basement tempat gue nyimpen
Ninja RR gue. Gue langsung ambil kunci motor gue.
tapi, ada yang menghentikan tangan gue. Dara.
Mau apa lagi lo? Mau ngejelasin hah?
Terlambat.. gue udah lihat semuanya.. hahaha.. gue
tertipu.. hahaha.., seru gue sambil tertawa hambar.

engga,, semua yang lo lihat itu benar.. gue..


APA MAKSUD LO DENGAN SEMUA ITU
BENAR? HA? APA? JAWAB GUE DARA!!!, teriak
gue kalap. Gue lupa kalau dia itu cewe. Gue cengkram
tangannya. Gue dorong dia ke tembok. Gue mendesak
tubuhnya, yang dalam sekejap langsung gemetar.
GA USAH MAIN KASAR NERO! GUE INI
CEWE.. BUKA MATA LO!!!! BUKA
HA? COBA SEKALI LAGI LO ULANGIN..
LO NGOMONG APA? APA?
BUKA

MATA

LO,

NEROOO..!!!

BUKAAAAAAAA..
LO BILANG BUKA MATA GUE? APA MATA
LO JUGA TERBUKA SAAT LO BERMAIN DI
BELAKANG GUE? JAWAB DARA!!! JAWAAAAAAB
GUEEE.., lalu gue lihat Dara menundukan kepala.
ya.. mata gue terbuka. Karena sesungguhnya
gue ga pernah menyayangi lo, Nero.. gue ini cuman
mainin elo!! Gue cuman jaga popularitas gue, karena gue

tahu lo ketua geng NPC. Bagi popularitas gue itu semua


sangat menguntungkan.., ha.. jadi selama 1 tahun ini dia
macarin

gue

cuman

untuk

popularitas

dia?

BRENGSEK.. kalau bukan cewek udah gue tonjok dia


daritadi. Tapi, gue benar-benar sayang dia.. akh.. Sial.
gue benci mengakui kalau gue cinta ama dia. Dara.. lo
berhasil nyakitin gue.. gue ucapkan SELAMAT!!!
pergi.., kata gue sambil melepaskan Dara dan
berjalan menjauhinya.
apa..?, tanyanya pingin gue ngulang apa yang
udah gue ucapkan.
pergi.. gue ga mau lihat wajah lo lagi..
setidaknya untuk 1 tahun ke depan sampai gue benarbenar siap lihat wajah lo lagi, seru gue masih
membelakangi Dara. Lalu, gue dengar suara kaki
melangkah ke arah gue berdiri dan suara kaki itu
berhenti ketika suara itu semakin jelas di telinga gue.
Dan gue merasakan ada tangan memeluk pinggang gue
dari belakang. Dara. Pelukan Dara semakin erat di
pinggang gue . Meski gue pengen Dara meluk gue.. tapi,

ego gue engga mengizinkannya. Gue hendak melepaskan


tangannya di pinggang gue. Tapi,
gue.. mohon! ini untuk terakhir kalinya. Biarkan
gue seperti ini. Katanya. Gue diam, dan gue
mengabulkan apa yang di inginkannya. Entah kenapa
ego gue mulai mengalah dengan apa yang dikatakan hati
gue. Gue masih diam. Gue merasakan Dara berjinjit di
punggung gue dan gue juga merasakan hembusan
nafasnya di telinga gue. sambil berbisik Dara berkata
maaf.. maafin gue Nero.. tapi, gue masih
berharap bahwa gue yang akan selalu berada di hati
lo..!, tunggu.. ini berbeda. Suara Dara kali ini sangat
berbeda.. seakan-akan Dara akan pergi entah kemana.
Tanpa mampu gue cegah mulut gue menggumamkan
namanya.
Daraaaa., seru gue perlahan. Lalu dia
melepaskan pelukannya. Dia berbalik dan tanpa gue
cegah dia langsung berlari kencang menjauhi gue.
Seakan Dara takut gue bertanya sesuatu. Dengan cepat
gue berbalik. Hendak mengejarnya. Tapi, gue ga

melihatnnya sama sekali. Gue baru tahu ternyata lari


Dara sangat kencang. Dan tanpa gue tahu bahwa Dara
bersembunyi di balik tiang peyangga yang ada di
basement. Gue langsung berjalan lunglai kembali ke
dalam gedung nirvana. Gue lihat jam. Masih jam 9. Ga
rame kalau udah nyampe nirvana tapi, ga ngedugem
dulu. Huh! Daripada stress mikirin Dara mending gue
ajep-ajep.. refreshing man!
hai man! Kenapa lo? Berantakan banget? Mana
si Dara?, Tanya Rudi sambil lihat kanan and kiri
mencari Dara. Melihat tidak ada respon dari gue. Mulut
dia langsung berkicau lagi.
eh, man! Lo lagi berantem ya sama Dara?
Tumben amat malam minggu lo ga jalan sama Dara,,,
seru Rudi tanpa tahu situasi yang sebenarnya terjadi.
Bubar.., jawab gue perlahan.
hah?, Tanyanya mengulang.
GUE BUBAR SAMA DARA. THE END.
TITIK.

GA

PAKE

KOMA.

PUAS

LO?!

ANJRIIIIIIIIIIIITT

SETAN

BANGET

SIH!!!

ANJ***, Teriak gue begitu mengingat apa yang


baru saja terjadi.
eh, man! sabar.. sabar.. oke..?! kita ajep ajep
aja ato Minum.. ayo kita minum!! Nge-fly.. dijamin
MANTAP, sob..!! hahaha.., sarannya takut-takut gue
marah lagi. Samar-samar gue tersenyum. Lalu, dia
ngerangkul pundak gue. Sambil ngajak gue turun ke
dance floor. Gue udah kalap. Gue bergoyang-goyang
kesana kemari . Gue tahu kalau tubuh gue di sentuh
berbagai cewe yang kini mengelilingi gue. Dan gue juga
tahu reputasi gue sebagai ketua geng NPC yang ngebuat
gue amat diinginkan cewe cewe yang haus reputasi.
Contohnya Dara. Grrr.. Dara.. BRENGSEK lo!! Grrr..
tanpa gue sadari gue asal nyamber tangan cewe. Gue
peluk dia sampai gue sendiri ngerasa sesak. Dan saat gue
lihat dia. Ternyata cewe tadi bukan Dara.. Grrr.. ga.. ini
ga akan bener.. otak gue udah korslet.. dengan ragu gue
berkata..
sorry..,kata gue pada cewe tadi yang gue peluk.
Lalu, gue duduk di sofa tempat biasa gue minum bareng

anak-anak. Datang seorang waitress dengan busana mini.


Jujur.. sampai sekarang gue masih ga percaya kalau yang
punya nih tempat dugem bintang tujuh seperti Nirvana
ini milik gadis muda BERJILBAB.. dari jauh gue lihat
Rudi datang menghampiri gue.
ga percaya gue.. seorang Nero dugem ga sampai
30 menit..,katanya sambil tersenyum ngeremehin gue.
eh.. men! Tuh cewe cewe pada ngerubutin
gue.. bisa bisa tuh cewe jadi mangsa gue tahu ga?
Apalagi gue udah ga bareng Dara.. makin bebaslah gue..
tapi, gue juga kesel kalau ngelihat cewe.. ngingetin gue
sama Dara.. Arrrghh,, ANJRIIIT..
eh, men! Sabar.. sabar.. kalau lo teriak teriak
gini.. bisa bisa lo disangka gila.. masa cakep cakep
gila!!! Ga afdol banget kan?!,serunya sambil tertawa.
ugh.. BERISIK!!!!, seru gue sambil ngambil
alcohol berkadar 30% yang ada di meja.. dengan satu
teguk gue langsung meminumnya.
Nero.. lo sarap ya?! itu 30 % bodoh!!!

eh men!!! Gue kasih tahu ya.. kalau cuman 30%


mah cetek.. coba yang 50% dong! Mantap banget..
apalagi

yang

90..

langsung

Koit..

hahahahahahahahahahaha
heh!!! Udah udah.. lo ga akan bener!! Mending
sekarang lo pulang.. lo datang ke tempat yang salah
heh! Lo sendiri kan yang nyaranin gue
ngedugem and minum?!

akh.. belaga pilon lagi lo!!! Awas.. mending gue


balik.. lagian tujuan gue datang kesini kan si cewe ga
tahu diuntung itu.. akh.. SHIT!!!! Awas..!!!!, seru gue
sambil nyimpen uang 500 ribu ke waitress yang datang
menagih uang. Walau sekarang gue udah nge-fly.. gue
masih sanggup berdiri dengan tegak ke arah basement.
Saat gue sampai basement gue langsung ngehidupin
motor gue dan gue langsung tancap gas. Sekarang gue
lagi ada di jalan Sunda berarti bentar lagi purnawarman.
Biasanya di jam 11-an kaya gini purnawarman tuh
kosong melempem. Dengan kecepataan tinggi gue

kendarain motor di jalan purnawarman. Baru juga gue


meleng sedikit, gue ga sadar ternyata 5 meter di depan
gue ada seorang cewe yang lagi nyebrang. Ga.. gue harus
nge-rem motor gue.. tapi BRUG. BRUG. Terlambat..
gadis yang tadi terpental jauh sekitar, 5 meter. Ga.. gue
ga mungkin bunuh orang. Gue ga boleh bunuh orang..
ga.. gawat.. catatan gue di kepolisian bisa makin parah..
dengan cepat gue langsung ke arah korban. Ternyata
benar dia cewe. Kepalanya.. kepala cewe tadi banyak
mengeluarakan darah. Ambulance.. Ya.. Allah kenapa
disaat genting seperti ini pikiran gue teramat lemot. Dan
gue baru sadar, gue cuman inget Tuhan saat gue terpuruk
aja ya? Parah.. Melalui handphone gue telepon
ambulance. 10 menit kemudian.. gue dengar sirine
ambulance datang. Lalu.. dari jauh gue lihat ada yang
berbunyi. Handphone.. sepertinya itu handphone cewe
tadi.. dengan cepat gue lihat kontak terakhir cewe tadi.
Kira. Kaya nama Jepang. Akh.. siapa dia, gue ga
pedulilah.. yang penting ada keluarganya atau paling
tidak kerabatnya datang menemuinya disaat genting
seperti ini. Lalu.. gue klik tombol berwarna hijau di
handphone-nya.

Cita.. kamu lama banget sih?! Bunda udah


kesakitan tahu, buruaaan.. dan aku udah ngantuk!,
serunya langsung nyamber padahal baru aja gue telepon
udah main ceroscos aja.
hallo.. sorry.. ini bukan Cita-oh, jadi nama cewe
tadi Cita? Sekarang cewe yang bernama Cita lagi sekarat
di pinggir jalan Purnawarman di depan gerbang
kompleks Green Dreams. Diharapkan anda sekarang
segera datang karena saat ini tidak ada kerabatnya sama
sekali
APA?,

teriaknya

dan

nada

berikutrnya.TUT.TUT.TUT. 5 menit berlalu. Dan gue


kira cowo yang sedang berlari itu bernama Kira, cowo
yang baru aja gue telepon. Dengan tergesa gue datangi
dia dan bertanya.
Kira?
kamu? Kamu yang tadi menghubungi saya?
ya..
mana kakak saya? Mana?

kakak kamu udah di bawa sama ambulance ke


RSHS
lebih baik lo sekarang ikut gue ke RSHS dengan
motor gue
ya.. tapi, saya harus memberitahu ibu saya
terlebih dahulu
ya.. baiklah!
^-^
1 minggu kemudian. Paviliun Anggrek. Rumah
Sakit Hasan Sadikin Bandung.
uhm.. uhm.. bunda.., itulah kata pertama yang
keluar dari mulutku. Setelah beberapa hari aku
merasakan kegelapan yang teramat sangat. Tapi, ini
dimana? Setahuku ini bukan rumahku. Tunggu.. terakhir
kali aku membuka mata. Aku.. Aku.. Aku kan tertabrak
motor ketika aku hendak membelikan obat untuk Bunda.
Bundaaa, seruku perlahan. Tapi, ketika aku
melihat ke sekeliling kamar. Tidak ada seorang pun

disini. Bunda.. dimana bunda? Dan aku sendiri ada


dimana. Akh.. saat aku melihat tangan kiriku. Ternyata
aku di-infus. Lalu, terdengar ada yang membukakan
pintu. Dan si.. siapa dia? Aku tak mengenalnya.
Meskipun dia ganteng dan keren tapi, masa ganteng
ganteng tukang bawa culik perempuan..??? Tidaak..
bundaaa.. tolong Cita!!!, teriakku dalam hati.
Cita , ini.. ini kan suara bunda. Dengan cepat
aku langsung mengalihkan wajahku mencari sumber
suara. Dan
Bundaaa bun.., tak mampu aku bendung aku
langsung menangis. Dan bunda langsung memelukku.
bunda.. maafin Cita.. obatnya.. obatnya.. belum
bisa Cita beli kalau sekarang..
masya Allah Cita.. ga apa apa sayang.. yang
penting sekarang kamu sembuh!
sembuh? Emangnya Cita kenapa bunda???
Cita..

bunda.. Cita sakit apa?


kamu lumpuh sementara, jawab laki-laki yang
tadi memasuki kamar. Kemudian, aku hanya diam
sambil

masang

wajah

seakan-akan

berkata,kamu

siapa?.
gue Nero. Emh.. sorry. Gue yang.. yang ga
sengaja nabrak lo waktu lo mau beli obat ke apotek,
jelasnya. Jadi.. jadi dia yang nabrak gue. Sekarang dia
asyik lagi sama artikel di Koran.
kamu..?
iya.. maafin gue.., serunya lagi.
oya bunda.. kalau Kira sekarang dimana? Kok
ga ada?
biasa.. hari minggu kan dia sibuk olahraga ama
teman temannya di Newest.
owh.. sekarang hari minggu ya bunda?
iya sayang.. biasanya kan kamu sibuk browsing
sayang..

iya ya.. Cita lupa..


kamu ga akan keluar sayang?
tapi kan bun.. katanya aku lumpuh.
lumpuh sih lumpuh tapi, itu kan tidak berarti
kamu harus tidur terus sayang.. disini disediakan kursi
roda kok.. ya kan. Nak Nero?
o.. oia.. ia tante.
selama kamu dirawat setiap hari nak Nero
menjenguk kamu. Walaupun kamu tidak mengenal dia
saat itu. Oya.. nak Nero.. bisa tante minta tolong?!,
sepertinya sekarang percakapan beralih jadi ke bunda
sama.. siapa tadi namanya ? Nero ?
iya.. tante jangan sungkan..
tolong kamu ajak Cita keliling dia butuh udara
segar.. ga apa apa kan?
ya.. tidak apa apa tante

oya.. kamu ajak jalan jalannya pakai kursi


roda saja..
ya.. baik tante..
^-^
Udara segar selalu membuat pikiran tenang dan
terasa

begitu

damai.

Ku

pejamkan

mataku.

Kurentangkan tanganku. Alangkah senangnya bila semua


tempat di muka bumi sesegar ini. Mungkin ini akan
membantu orang-orang yang sedang dalam masalah jadi
bisa berpikir lebih jernih bila semua tempat di muka
bumi seperti ini.

Dan aku mendengar seseorang

berdeham
ehm.. Cita, gue mau ke kantin dulu ya..! ato lo
mau ikut?, Tanya Nero. Oya.. aku kesini kan sama
Nero.
ehm.. kalo aku ikut ga apa-apa kan?, balasku.
ya.. ga apa-apa, jawabnya mengalihkan
pandangan.

Sekarang aku ada di kantin bareng sama Nero.


Nero.. kadang-kadang aku merasa kalau namanya itu
aneh. Emang sih unik tapi aneh. Lho? Bukannya aneh
dan unik sama aja ya? haha.. ehm.. kalo mau jujur aku
kangen sama sekolah, sama anak-anak di sekolah,
pokoknya kangen sama semuanya.. dan aku memulai
perbincangan.
hei.. kenapa kamu ga kuliah? Emangnya kamu
ga akan di skors, pagi-pagi udah kesini?!, Tanyaku
polos.
hahaha.. aduh, ciit.. lo itu innocent banget ya?!
Haha.. sejenak di tatapnya Cita yang seketika itu juga
langsung melongo melihat Nero tertawa hingga berderaiderai dan kaget mendengar pertanyaan Nero, ups,,
sorry.. bukan maksud gue ngetawain lo.. tapi, sumpah!
Lucu banget pertanyaan lo tadi.. hehe.. Cita sayang..
sekarang kan udah bulan Juni.. jadi gue udah bebas.. gue
udah dinyatakan lulus dari semua mata kuliah gue dan
sekarang gue lagi liburan selama 2 bulan kurang lebih..
jadi, gue bebas.. and daripada gue sendirian di rumah
mending gue disini bantuin orang tua lo trus disini gue

juga bisa ngobrol sambil ngejagain cewe cantik yang


udah ga sengaja gue tabrak.. seru Nero sambil
tersenyum.
Kata-katanya memang terasa manis, namun
kurasa dia hanya menggodaku saja. Waspadalah cita!
Waspadalah!. Perlahan Nero mendorong kursi roda dan
berhenti ketika sampai di kursi taman yang teduh
dibawah pohon. Melihat betapa damai dan polosnya Cita
menghadapi semua ini membuat Nero agak malu pada
diri sendiri. Cita, seorang wanita polos yang seumuran
dengan gue, yang menghadapi semua masalah dengan
senyum tetap mengambil semua hal positif meski
sekalipun hal itu buruk bagi sebagian orang.
Hei Nero, berapa umurmu?, tanya Cita
mengagetkanku.
20. Kamu?, tanya Reno balik pada Cita.
Sama. Walaupun masih beberapa minggu lagi,
jawabnya sambil tersenyum. Tuhan, dosa apa yang udah
gue buat sehingga harus melepaskan hari ulang tahun

cewe disebelah gue dengan berada di rumahsakit dan


bertemankan sebuah kursi roda.
Maaf, seru gue pada Cita ketika gue
membayangkan

bagaimana

menyedihkannya

melaksanakan ulang tahun di rumah sakit.


Jangan merasa bersalah. Aku tidak munafik
dengan mengatakan aku senang berada disini. Namun,
aku senang karena dengan cara inilah aku bisa bertemu
denganmu. Mendengar dunia lain yang kamu ceritakan
padaku setiapkali ada waktu luang. Meski dunia kita
berbeda, kasta kita berbeda dan bahasa kita berbeda.
Tetap saja aku merasa senang karena aku bisa melihat
selain dari yang selama ini aku tahu., balas Cita sambil
tersenyum pada Nero. Mungkin Cita bukan gadis
tercantik yang pernah dilihat gue. Tapi, gue tahu Cita
adalah gadis paling tulus yang pernah gue kenal setelah
selama ini yang gue kenal hanyalah gadis-gadis
manipulative seperti Dara. Entah datang dorongan dari
mana. Nama Dara begitu saja keluar dari mulut gue.
Lalu, gue lihat Cita menatap mat ague seakan-akan
meminta penjelasan. Dengan tangan terbuka gue

akhirnya bisa bercerita tentang kehidupan gue, termasuk


Dara pada Cita.
Dara. Dia adalah nama pacar gue dulu. Tapi,
semua udah berlalu. Gue ga pernah denger apa-apa lagi
tentang dia. Gue, sempat merasakan cinta saat gue
pacaran sama Dara. Tapi, gue juga merasakan benci
setelahnya. Bayangin aja Cita, dia selingkuh dibelakang
gue. Boleh dikatakan gue cinta mampus sama dia. Tapi,
dia membawa gue ke jurang sehingga mau ga mau yang
gue lakukan hanyalah melompat. Dan lo tau apa alas an
dia macarin gue selama ini? Yaitu POPULARITAS.
Hanya karena gue keren, pinter, dan ketua genk NPC, dia
manfaatin gue untuk semua hal pribadi semacam itu.
Dan lo tau? Gue benci dia.
Bener aja ya apa kata orang bahwa seorang
lelaki bisa saja mendapatkan uang dan kekuasaan seperti
ketua genk. Namun, tidak dengan hati mereka. Mungkin
seorang lelaki bisa mendapatkan wanita secara fisik.
Namun, tidak dengan hati mereka.
Ya, lo bener. Tidak dengan hati.

Owh, sudahlah. Ini sudah terlalu serius Nero.


Kita kembali ke kamar. Aku rasa badanku mulai
menggigil
Oh Tuhan. Gue minta maaf. Ayo kita ke kamar
lo, jawab Nero sambil mendorong kursi, membawa Cita
bersamanya.