Anda di halaman 1dari 36

2.1.

Definisi Lipid
Lipid adalah nama suatu golongan senyawa organik yang meliputi sejumlah senyawa
yang terdapat di alam yang semuanya dapat larut dalam pelarut-pelarut organik tetapi sukar
larut atau tidak larut dalam air.
Suatu lipid didefinisikan sebagai senyawa organik yang terdapat dalam alam serta tak
larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik nonpolar seperti suatu hidrokarbon atau
dietil eter.
Lipid adalah ester asam lemak. Biasanya zat tersebut tidak larut dalam air akan tetapi
larut

dalam

pelarut

lemak.

Pelarut

lemak

adaah

eter,

chloroform,

benzena,

carbontetrachlorida, xylena, alkohol panas, dan aseton panas. (Iskandar, 1974)

2.2. Fungsi Umum Lipid


Fungsi lipida termasuk (soendoro, 1981) :
1.

Penyimpan energy dan transport

2.

Struktur membrane

3.

Kulit pelindung, komponen dinding sel

4.

Penyampai kimia
Selain itu ada beberapa referensi peran lipid dalam sistem makhluk hidup adalah sebagai
berikut (Toha, 2005) :
1. Komponen struktur membran
Semua membran sel termasuk mielin mengandung lapisan lipid ganda. Fungsi membran
diantaranya adalah sebagai barier permeabel.
2.

Lapisan pelindung pada beberapa jasad

Fungsi membran yang sebagian besar mengandung lipid sperti barier permeabel untuk
mencegah infeksi dan kehilangan atau penambahan air yang berlebihan.
3. Bentuk energi cadangan
Sebagai fungsi utama triasilgliserol yang ditemukan dalam jaringan adiposa.
4. Kofaktor/prekursor enzim
Untuk aktivitas enzim seperti fosfolipid dalam darah, koenzim A, dan sebagainya.
5.

Hormon dan vitamin

Prostaglandin: asam arakidonat adalah prekursor untuk biosintesis prostaglandin, hormon


steroid, dan lain-lain.
6. Insulasi Barier
Untuk menghindari panas, tekanan listrik dan fisik.

2.3.

Karakteristik Lipid
Lemak berkarakteristik sebagai biomolekul organik yang tidak larut atau sedikit larut

dalam air dan dapat diekstrasi dengan pelarut non-polar seperti chloroform, eter, benzene,
heksana, aseton dan alcohol panas. Di masa lalu, lemak bukan merupakan subjek yang
menarik untuk riset biokimia. Karena kesukarannya dalam meneliti senyawa yang tidak larut
dalam air dan berfungsi sebagai cadangan energi dan komponen struktural dari membran,
lemak dianggap tidak memiliki peranan metabolik beragam seperti yang dimiliki biomolekul
lain, contohnya karbohidrat dan asam amino.
Namun, dewasa ini, riset lemak merupakan subjek yang paling menawan dari riset
biokimia, khususnya dalam penelitian molekular mengenai membran. Pernah diduga sebagai
struktur lembam (inert), dewasa ini membran dikenal secara fungsional sebagai dinamik dan
suatu pengertian molekular dari fungsi selularnya merupakan kunci untuk menjelaskan
berbagai komponen biologi yang penting, contohnya, sistem transport aktif dan respon selular
terhadap rangsang luar (Armstrong, 1995). Jaringan bawah kulit di sekitar perut, jaringan
lemak sekitar ginjal mengandung banyak lipid terutama lemak kira-kira sekitar 90%, dalam
jaringan otak atau dalam telur terdapat lipid kira-kira sebesar 7,5-30% (Riawan, 1990).
Lipid menurut International Congress of Pure and Applied Chemistry adalah
kelompok senyawa kimia yang mempunyai sifat-sifat :
1. Tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik seperti eter,
CHCl3, benzen,alkohol/aseton panas, xylen, dll. serta dapat diekstraksi dari sel
hewan/tumbuhan dengan pelarut tersebut.
2. Secara kimia, penyusun utama adalah asam lemak (dalam 100 gram lipid terdapat
95%asam lemak).
3. Lipid mengandung zat-zat yang dibutuhkan oleh manusia seperti asam lemak essential
(EFA contohnya asam linoleat) dari asam linoleat dapat dibuat asam linolenat dan asam
arakidonat.
Dalam penjelasan yang lain di sebutkan bahwa karakteristik suatu lipid dibagi menjadi dua,
yaitu sebagai berikut :
2.3.1. Karakteristik Fisik Lipid
Berikut ini adalah beberapa karakteristik fisik lipid, yaitu (Rolifartika, 2011) :
1. Pada suhu kamar, lemak hewan pada umumnya berupa zat padat, sedangkan lemak dari
tumbuhan berupa zat cair.

2. Lemak yang mempunyai titik lebur tinggi mengandung asam lemak jenuh, sedangkan
lemak yang mempunyai titik lebur rendah mengandung asam lemak tak jenuh. Contoh:
Tristearin (ester gliserol dengan tiga molekul asam stearat) mempunyai titik lebur 71 C,
sedangkan triolein (ester gliserol dengan tiga molekul asam oleat) mempunyai titik lebur
17 C.
3. Lemak yang mengandung asam lemak rantai pendek larut dalam air, sedangkan lemak
yang mengandung asam lemak rantai panjang tidak larut dalam air.
4. Semua lemak larut dalam kloroform dan benzena. Alkohol panas merupakan pelarut
lemak yang baik.
5. Pada suhu kamar, jika berbentuk cair cenderung disebut dengan minyak. Jika berbentuk
padat disebut sebagai lemak.
6. Tidak larut dalam air sehingga disebut hidrofobik (takut air), sifat ini sangat penting
dalam pembentukan membran sel
7. Namun, fosfolipid bersifat ampifatik, yaitu dalam satu molekul ada bagian molekul yang
nonpolar dan hidrofob dan di bagian ada yang polar dan hidrofil (suka air).
Larut dalam solven semacam alkohol, hidrogen, dan oksigen, tetapi kadar oksigen
setiap molekulnya lebih rendah dari yang dimiliki karbohidrat. Juga larut dalam pelarut
nonpolar, seperti kloroform dan eter. Minyak mempunyai titik leleh dan titik didih lebih
rendah daripada lemak.
2.3.2.

Karakteristik Kimia Lipid

Beberapa karakteristik lipid adalah sebagai berikut (Iskandar, 1974):


1.

Penyabunan atau Saponifikasi (Latin, sapo = sabun)


Hidrolisis yang paling umum adalah dengan alkali atau enzim lipase. Hidrolisis

dengan alkali disebut penyabunan karena salah satu hasilnya adalah garam asam lemak yang
disebut sabun.
Reaksi hidrolisis berguna untuk menentukan bilangan penyabunan. Bilangan
penyabunan adalah bilangan yang menyatakan jumlah miligram KOH yang dibutuhkan untuk
menyabun satu gram lemak atau minyak. Besar kecilnya bilangan penyabunan tergantung
pada panjang pendeknya rantai karbon asam lemak atau dapat juga dikatakan bahwa besarnya
bilangan penyabunan tergantung pada massa molekul lemak tersebut.
Hidrolisis dari trigliserida biasanya oleh enzim lipase akan menghasilkan gliserol dan
asam lemak. Fosfolipase merupakan enzim yang menghidrolisis fosfolipid dan ternyata
terdapat beberapa fosfolipase, diantaranya fosfolipase A, yang dapat mengurai ikatan antara
gliserol dan asam lemak tidak jenuh. Fosfolipase B, menguraikan ikatan antara asam lemak

baik yang jenuh dan yang tidak. Fosfolipase C membebaskan ikatan antara gliserol dengan
fosfat-basa-nitrogen. Fosfolipase D akan membebaskan ikatan antara basa-nitrogen dengan
asam fosfat.
Reaksi lemak dengan alkali dinamakan penyabunan. Beberapa zat pada lipid tidak
dapat disabunkan, akan tetapi larut dalam eter. Karena sabun tidak larut dalam eter, maka
kedua zat tersebut dapat dipisahkan dengan memakai eter. Beberapa zat yang tidak dapat
disabunkan diantaranya, beberapa macam keton, alkohol dengan jumlah atom C yang tinggi,
steroid. Bila lemak dapat disabunkan maka dia mempunyai nilai yang disebut angka
penyabunan. Angka penyabunan ialah banyaknya mg KOH yang diperlukan untuk
menyabunkan 1 gr lemak atau minyak. Gunanya untuk menentukan berat molekul lemak atau
minyak tersebut.

Pembentukan membran, misel (micelle) dan emulsi.


Pada umumnya lipid tidak larut dalam air, karena mengandung hidrokarbon adalah

nonpolar. Akan tetapi asam lemak, beberapa fosfolipid, sfingolipid mengandung lebih banyak
bagian yang polar dibandingkan dengan bagian yang non polar. Karena itu dinamakan polar
lipid. Polar lipid tersebut sebagian larut dalam air, dan bagian lain larut dalam pelarutan
nonpolar. Pada oil water interface, bagian yang polar dalam fase air (water phase) sedangkan
bagian yang nonpolar pada fase minyak (oil phase). Dengan adanya polar lipid tersebut dapat
membentuk membran biologik dengan lapis ganda (double layer).
Misel (Micelle), bila polar lipid mencapai konsentrase tertentu yang terdapat pada
aqueous medium, maka akan terbentuk misel. Pembentukan garam empedu menjadi misel,
sehingga memudahkan pencernaan lemak, merupakan mekanisme yang penting untuk
penyerapan lemak di usus halus.
Emulsi, adalah partikel-partikel koloid yang besar, yang dibentuk dari non polar lipid di
dalam aqueous medium. Untuk kestabilannya biasanya dipakai emulgator (emulsifying agent)
sperti lesitin (polar lipid).

Halogenasi
Asam lemak tak jenuh, baik bebas maupun terikat sebagai ester dalam lemak atau minyak

mengadisi halogen (I2 tau Br2) pada ikatan rangkapnya.


Karena derajat absorpsi lemak atau minyak sebanding dengan banyaknya ikatan rangkap
pada asam lemaknya, maka jumlah halogen yang dapat bereaksi dengan lemak dipergunakan
untuk menentukan derajat ketidakjenuhan. Untuk menentukan derajat ketidakjenuhan asam
lemak yang terkandung dalam lemak, diukur dengan bilangan yodium. Bilangan

yodium adalah bilangan yang menyatakan banyaknya gram yodium yang dapat bereaksi
dengan 100 gram lemak. Yodium dapat bereaksi dengan ikatan rangkap dalam asam lemak.
Tiap molekul yodium mengadakan reaksi adisi pada suatu ikatan rangkap. Oleh karena itu
makin banyak ikatan rangkap, maka makin besar pula bilangan yodium.

Hidrogenasi
Dengan adanya katalisator (Pt atau Ni) maka lemak-lemak tak jenuh (biasanya lemak

tumbuh-tumbuhan) dapat dihidrogenasi sehingga membentuk asam lemak jenuh, sehingga


dapat menjadi lebih keras. Metode ini dapat dipakai unutuk membuat lemak buatan
(margarin) dari minyak. Sejumlah besar industri telah dikembangkan untuk merubah minyak
tumbuhan menjadi lemak padat dengan cara hidrogenasi katalitik (suatu reaksi reduksi).
Proses konversi minyak menjadi lemak dengan jalan hidrogenasi kadang-kadang lebih
dikenal dengan proses pengerasan. Salah satu cara adalah dengan mengalirkan gas hidrogen
dengan tekanan ke dalam tangki minyak panas (200 C) yang mengandung katalis nikel yang
terdispersi.

Ransid, Tengik (Rancidity)


Ransid atau tengik adalah perubahan kimiawi dari lemak atau minyak sehingga terjadi

perubahan bau dan rasa dari minyak tersebut. Proses ini agaknya proses oksidasi dari udara
bebas, pada ikatan rangkap sehingga terbentuk ikatan peroksida. Timbel (Pb) dan tembaga
(Cu) mempercepat proses ketengikan. Sebaliknya menghindarkan udara dan pemberian
antioksidan mencegah ketengikan.

Angka Keasaman
Ialah mg KOH yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas dari 1 gr lemak.

Gunanya untuk menetukan banyaknya asam lemak yang terdapat pada lemak tersebut.

Angka Iodine
Banyaknya iodine (dalam gr) yang diperlukan untuk diabsorbsi oleh 100 gr lemak

(minyak). Gunanya untuk menetukan banyaknya (derajad) ketidakjenuhan dari lemak.

Angka Asetat
Ialah mg KOH yang diperlukan untuk menetralisasikan asam asetat yang didapat dari 1 gr

lemak yang telah diasetilkan. Gunanya untuk menetukan banyaknya gugusan hidroksil dari
lemak tersebut.

2.4.

Klasifikasi Lipid

Lipid yang terdapat dalam tubuh dapat diklasifikasikan menurut struktur kimianya ke
dalam 5 grup, seperti pada tabel di bawah. Asam lemak, kelas pertama , berfungsi sebagai
sumber energi utama bagi tubuh. Selain itu, asam lemak adalah blok pembangun dario
asamlemak ini kompleks kompleks lipid disintetis. Prostaglandin, yang dibentukdariasam
lemak tidak jenuh ganda tertentu, adalah substansi pengatur intrasel yang mengubah
tanggapan tanggapan sel terhadap rangsangan luar. Karena prostaglandin berperan dalam
kerja hormon.
Kelas lipid kedua terdiri dari ester-ester gliseril. Ester-ester ini termasuk pula
asilgliserol, yang selain merupakan senyawa antara atau pengangkut metabolik dan bentuk
penyimpanan asam lemak, dan fosfogliserid yang merupakan komponen utama lipid dari
membran sel. Sfingolipid, kelas ketiga, juga merupakan komponen membran. Mereka berasal
dari alkohollemak sfingosin. Sterol mencangkup kelas ke empat lipid. Derivat sterol,
termasuk kolesterol, asam empedu, hormon steroid, dan vitamin D sangat penting dari segi
kesehatan. Aspek-aspek metabolisme ester kolesteril yang berkaitan dengan bagian-bagian
asam lemaknya. Terpen, kelas terakhir lipid, mencangkup dolikol dan vitamin A, E, K yang
larut dalam lemak. Derivat-derivat isoprene ini terdapat dalam jumlah kecil, tetapi
mempunyai fungsi metabolik yang sangat penting dan terpisah.
Tabel klasifikasi dan fungsi lipid

No
1
2

3
4

Lipid
Asam Lemak
Prostaglandin
EstergliserilAsilgliserol
Fosfogliseril
SfingolipidSfingomielin
Glikosfingolipid
Derivat sterolKolesterol
Ester Kolesterol
Asam empedu
Hormon steroid
Vitamin D
TerpenDolikol
Vitamin A
Vitamin E
Vitamin K

Asam Lemak

Fungsi
Bahan bakar metabolik, blok pembangun
untuk lipid lainModulator intrasel
Penyimpanan asam lemak, senyawa
metabolik
Struktur membran
Struktur membran
Membran antigen, permukaan
Membran dan struktur lipoprotein
Penyimpanan dan angkutan
Pencernaan lipid dan absorbsi
Pengaturan metabolik
Metabolisme kalsium dan fosfor
Sintesis glikoprotein
Penglihatan, integritas epitel
Antioksidan lipid
Pejendalan darah

Asam lemak merupakan senyawa yang disajikan dalam bentuk rumus kimiawi
sebagai R-COOH, dengan R adlah rantai alkil yang tersusun dari atom-atom karbon dan
hidrogen.

Ester kolesterol
Ester kolesterol mengandung asam lemak yang diesterkan menjadi gugus 3--hidroksil

dari sistem cincin steroid. Terbentuk dalam tetesan lipid intrasel dan dalam lipoprotein
plasma

Asilgiserol (gliserid)
Ester asam lemak dari gliserol, asilgliserol, sering dinamakan gliserid. Kelas gliserid

tergantung pada jumlah gugus alkohol gliserol yang diesterkan.

Fosfogliserid
Asilgliserol yang mengandung stasam fosfat diesterkan pada gugus C3-hidroksil disebut

fosfogliserid. Molekul ini membentuk lapis ganda yang bila dihamburkan pada larutan berair,
dan merupakan bentuk utama struktur membran sel.

Sfingomielin
Struktur ini merupakan komponen utama dari banyak membran eritrosit manusia.

2.5. Metabolisme Lipid


Lipid yang kita peroleh sebagai sumber energi utamanya adalah dari lipid netral, yaitu
trigliserid (ester antara gliserol dengan 3 asam lemak). Secara ringkas, hasil dari pencernaan
lipid adalah asam lemak dan gliserol, selain itu ada juga yang masih berupa monogliserid.
Karena larut dalam air, gliserol masuk sirkulasi portal (vena porta) menuju hati. Asam-asam
lemak rantai pendek juga dapat melalui jalur ini.
Sebagian besar asam lemak dan monogliserida karena tidak larut dalam air, maka
diangkut oleh miselus (dalam bentuk besar disebut emulsi) dan dilepaskan ke dalam sel epitel
usus (enterosit). Di dalam sel ini asam lemak dan monogliserida segera dibentuk menjadi
trigliserida (lipid) dan berkumpul berbentuk gelembung yang disebut kilomikron. Selanjutnya
kilomikron ditransportasikan melalui pembuluh limfe dan bermuara pada vena kava,
sehingga bersatu dengan sirkulasi darah. Kilomikron ini kemudian ditransportasikan menuju
hati dan jaringan adiposa.
Di dalam sel-sel hati dan jaringan adiposa, kilomikron segera dipecah menjadi asamasam lemak dan gliserol. Selanjutnya asam-asam lemak dan gliserol tersebut, dibentuk

kembali menjadi simpanan trigliserida. Proses pembentukan trigliserida ini dinamakan


esterifikasi. Sewaktu-waktu jika kita membutuhkan energi dari lipid, trigliserida dipecah
menjadi asam lemak dan gliserol, untuk ditransportasikan menuju sel-sel untuk dioksidasi
menjadi energi. Proses pemecahan lemak jaringan ini dinamakan lipolisis. Asam lemak
tersebut ditransportasikan oleh albumin ke jaringan yang memerlukan dan disebut sebagai
asam lemak bebas (free fatty acid/FFA).
Secara ringkas, hasil akhir dari pemecahan lipid dari makanan adalah asam lemak dan
gliserol. Jika sumber energi dari karbohidrat telah mencukupi, maka asam lemak mengalami
esterifikasi yaitu membentuk ester dengan gliserol menjadi trigliserida sebagai cadangan
energi jangka panjang. Jika sewaktu-waktu tak tersedia sumber energi dari karbohidrat
barulah asam lemak dioksidasi, baik asam lemak dari diet maupun jika harus memecah
cadangan trigliserida jaringan. Proses pemecahan trigliserida ini dinamakan lipolisis.
Proses oksidasi asam lemak dinamakan oksidasi beta dan menghasilkan asetil KoA.
Selanjutnya sebagaimana asetil KoA dari hasil metabolisme karbohidrat dan protein, asetil
KoA dari jalur inipun akan masuk ke dalam siklus asam sitrat sehingga dihasilkan energi. Di
sisi lain, jika kebutuhan energi sudah mencukupi, asetil KoA dapat mengalami lipogenesis
menjadi asam lemak dan selanjutnya dapat disimpan sebagai trigliserida.
Beberapa lipid non gliserida disintesis dari asetil KoA. Asetil KoA mengalami
kolesterogenesis menjadi kolesterol. Selanjutnya kolesterol mengalami steroidogenesis
membentuk steroid. Asetil KoA sebagai hasil oksidasi asam lemak juga berpotensi
menghasilkan badan-badan keton (aseto asetat, hidroksi butirat dan aseton). Proses ini
dinamakan ketogenesis. Badan-badan keton dapat menyebabkan gangguan keseimbangan
asam-basa yang dinamakan asidosis metabolik. Keadaan ini dapat menyebabkan kematian.

PROSES DAN TRANSPORT LIPID


Triasilgliserol atau trigliserida adalah senyawa lipid utama yang terkandung dalam
bahan makanan dan sebagai sumber energi yang penting, khususnya bagi hewan. Sebagian
besar triasilgliserol disimpan dalam sel-sel jaringan adiposa, adipocytes. Triasilgliserol secara
konstan didegradasi dan diresintesis.
Pemrosesan dan distribusi lipid dijelaskan dalam 8 tahap (gambar 3.1), yaitu:
1. Triasilgliserol yang berasal dari diet makanan tidak larut dalam air. Untuk mengangkutnya
menuju usus halus dan agar dapat diakses oleh enzim yang dapat larut di air seperti lipase,
triasilgliserol tersebut disolvasi oleh garam empedu seperti kolat dan glikolat membentuk
misel.

2. Di usus halus enzim pankreas lipase mendegradasi triasilgliserol menjadi asam lemak dan
gliserol. Asam lemak dan gliserol diabsorbsi ke dalam mukosa usus.
3. Di dalam mukosa usus asam lemak dan gliserol disintesis kembali menjadi triasilgliserol
4. Triasilgliserol tersebut kemudian digabungkan dengan kolesterol dari diet makanan dan
protein khusus membentuk agregat yang disebut kilomikron
5. Kilomikron bergerak melalui sistem limfa dan aliran darah ke jaringan-jaringan.
6. Triasilgliserol diputus pada dinding pembuluh darah oleh lipoprotein lipase menjadi asam
lemak dan gliserol.
7. Komponen ini kemudian diangkut menuju sel-sel target.
8. Di dalam sel otot (myocyte) asam lemak dioksidasi untuk energi dan di dalam sel adiposa
(adipocyte) asam lemak diesterifikasi untuk disimpan sebagai triasilgliserol.
Selama olah raga, otot membutuhkan dengan cepat sejumlah energi simpanan. Asam
lemak yang disimpan dalam adipocyte dapat dilepaskan dan ditransport ke myocyte oleh
serum albumin untuk didegradasi menghasilkan energi.
Ada 3 sumber asam lemak untuk metabolisme energi pada hewan, yaitu:
- suplai triasilgliserol dari makanan
- sintesis triasilgliserol dalam hati jika sumber energi internal melimpah
- simpanan triasilgliserol dalam adipocytes.

Gambar 3.1 Pemrosesan dan distribusi lipid pada vertebrata. Pencernaan dan absorpsi lipid dari diet terjadi di
usus halus. Asam-asam lemak hasil pengurain trigliserida di pak dan ditransport ke otot dan jaringan adiposa.

Metabolisme lipid pada jaringan adiposa:


Untuk proses lipogenesis (sintesis lipid) pada jaringan adiposa, triasilgliserol disuplai
dari hati dan usus dalam bentuk lipoprotein, VLDL dan kilomikron. Asam lemak dari
lipoprotein dilepaskan oleh lipoprotein lipase yang berlokasi pada permukaan sel-sel
endotelial pembuluh kapiler darah. Asam lemak kemudian diubah mejadi triasilgliserol.
Proses lipolisis (degradasi lipid) pada jaringan adiposa dikatalisis oleh Hormonesensitive
lipase, yang dikontrol oleh hormon, dengan mobilisasi sebagai berikut (gambar 3.2):

Gambar 3.2 Mobilisasi triasilgliserol yang disimpan dalam jaringan adiposa.

1. Jika glukosa dalam darah rendah, akan memicu pelepasan epinefrin atau glukagon. Kedua
hormon meninggalkan aliran darah dan mengikat molekul reseptor yang ditemui di dalam
membran adipocyte atau sel lemak.
2. Hal ini menyebabkan adenilat siklase melalui protein G mengubah ATP menjadi cAMP.
3. cAMP kemudian mengaktifkan protein kinase. Protein kinase aktif mengaktifkan
triasilgliserol lipase (Hormone-sensitive lipase) melalui forforilasi.
4. Protein kinase aktif juga mengkatalisis fosforilasi molekul perilipin pada permukaan
butiran lemak (lipid droplet) sehingga triasilgliserol lipase dapat mengakses permukaan
butiran lemak.
5. Selanjutnya triasilgliserol diuraikan menjadi asam lemak bebas dan gliserol oleh
triasilgliserol lipase.
6. Molekul asam lemak yang dihasilkan dilepaskan dari adipocyte dan diikat oleh protein
serum albumin dalam darah untuk diangkut melalui pembuluh darah menuju myocyte (sel
otot) jika dibutuhkan. Jumlah asam lemak yang dilepaskan oleh jaringan adiposa ini
tergantung pada aktivitas triasilgliserol lipase. Hanya asam lemak rantai pendek yang dapat
larut dalam air, sedangkan asam lemak rantai panjang tidak. Oleh karena itu untuk
pengangkutannya asam lemak rantai panjang diikatkan pada serum albumin.
7. Asam lemak tersebut dilepaskan dari albumin dan masuk ke myocyte melalui transport
khusus.

8. Di myocyte asam lemak mengalami -oksidasi yang menghasilkan CO2 dan energi ATP.

Degradasi asam lemak di dalam hati


Jaringan menangkap asam lemak dari aliran darah untuk dibangun kembali menjadi
lipid atau untuk memperoleh energi dari oksidasinya. Metabolisme asam lemak intensif
khususnya di dalam sel hati (hepatocytes)
Proses terpenting dari degradasi asam lemak adalah -oksidasi yang terjadi di dalam
mitokondria. Asam lemak dalam sitoplasma diaktifkan dengan mengikatkannya pada
coenzyme A, kemudian dengan sistem transport karnitin masuk ke mitokondria untuk
didegradasi menjadi acetyl-CoA melalui proses -oksidasi. Residu acetyl hasil dapat
dioksidasi lanjut menjadi CO2 melalui TCA dan rantai respirasi dengan menghasilkan ATP.
Jika produksi acetyl-CoA melebihi kebutuhan energi sel hepatocyte akan diubah menjadi
keton bodi untuk mensuplai energi pada jaringan lain. Hal ini terjadi jika suplai asam lemak
dalam plasma darah tinggi, misal dalam kondisi kelaparan atau diabetes mellitus.

Biosintesis lipid dalam hati.


Biosintesis asam lemak terjadi di sitoplasma, khususnya di hati, jaringan adiposa,
ginjal, paru-paru, dan kelenjar mammae. Pensuplai karbon yang paling penting adalah
glukosa. Akan tetapi prekursor asetyl-CoA yang lain seperti asam amino ketogenik dapat
digunakan. Mula-mula acetyl-CoA dikarboksilasi menjadi malonil CoA, kemudian
dipolimerisasi menjadi asam lemak. Asam lemak selanjutnya diaktivasi dan disintesis
menjadi lipid (triasilgliserol) dengan gleserol 3-fosfat. Untuk mensuplai jaringan lain, lipid
tersebut dipak ke dalam kompleks lipoprotein (VLDL) oleh hepatocyte dan dilepaskan ke
dalam darah.

B. KATABOLISME ASAM LEMAK


DEGRADASI ASAM LEMAK: -OKSIDASI
Degradasi asam lemak terjadi di mitokondria dalam beberapa tahap:
Tahap 1: aktivasi asam lemak di sitoplasma. Asam lemak difosforilasi dengan menggunakan
satu molekul ATP dan diaktifkan dengan asetil Co-A menghasilkan asam lemak-CoA, AMP,
dan pirofosfat inorganik (gambar 3.3) .

Gambar 3.3 Pengaktifan asam lemak dengan acetyl-CoA menjadi asam lemak-CoA

Tahap 2: Pengangkutan asam lemak-CoA dari sitoplasma ke mitokondria dengan bantuan


molekul pembawa carnitine, yang terdapat dalam membran mitokondria (Gambar 3.4).

Gambar 3.4 Masuknya asam lemak ke mitokondria melalui transport acyl-carnitine/carnitine.

Tahap 3: Reaksi -oksidasi, berlangsung dalam 4 tahap, yaitu (1) dehidrogenasi I, (2)
hidratasi, (3) dehidrogenasi II, dan (4) tiolasi (tahap pemotongan) (gambar 3.5).

Gambar 3.5 Urutan tahapan reaksi dalam -oksidasi asam lemak.

4. Pemecahan molekul dengan enzim -ketoacyl-CoA thiolase. Pada reaksi ini satu molekul
ketoacyl-CoA menghasilkan satu molekul asetyl-CoA dan sisa rantai asam lemak dalam
bentuk CoA-nya, yang mempunyai rantai dua atom karbon lebih pendek dari semula.

Proses degradasi asam lemak selanjutnya adalah pengulangan mekanisme -oksidasi


secara berurutan sampai panjang rantai asam lemak tersebut habis dipecah menjadi molekul
acetyl- CoA. Dengan demikian satu molekul asam miristat (C14) menghasilkan 7 molekul
acetyl- CoA (C2) dengan melalui 6 kali -oksidasi.

JALUR MINOR DEGRADASI ASAM LEMAK


Jalur utama degradasi asam lemak adalah -oksidasi, yaitu untuk asam lemak jenuh
beratom C genap. Akan tetapi ada juga jalur-jalur khusus yang lain yaitu untuk degradasi
asam lemak tak jenuh, degradasi asam lemak dengan atom C ganjil, serta a- dan w-oksidasi.
-Oksidasi asam lemak tak jenuh

Gambar 3.6 Oksidasi asam lemak tak jenuh (asam oleat). Oksidasi ini membutuhkan tambahan enzim enoylCoA isomerase untuk mereposisi ikatan rangkap dari cis ke isomer trans sebagai intermediet normal pada oksidasi.

Asam lemak tak jenuh di alam (misal asam oleat) mempunyai ikatan rangkap pada
konfigurasi cis. Karena pada -oksidasi enzimnya spesifik untuk enoyl-CoA dengan
konfigurasi trans, maka diperlukan enzim enoyl-CoA isomerase untuk mengubah konfigurasi
cis menjadi trans (gambar 3.6). Adapun mekanisme oksidasi asam lemak tak jenuh
berlangsung sama seperti -oksidasi untuk asam lemak jenuh. Karena terdapat satu ikatan tak
jenuh, maka dalam proses degradasinya, asam lemak tak jenuh mengalami satu mekanisme
reaksi tambahan yaitu reaksi isomerisasi bentuk cis ke trans yang dikatalisis oleh enzim
enoyl-CoA isomerase sebagaimana ditunjukkan pada gambar diatas.
Sebagai contoh: jalur -oksidasi asam linoleat, C17H31COOH (C18:2 cis,cis-D9: D12)

Pada asam lemak tak jenuh, ada siklus -oksidasi yang tidak melalui reaksi
dehidrogenasi I yang menghasilkan FADH2, yaitu pada pmotongan 2 C yang mengandung
ikatan rangkap (gambar 3.7). Dengan demikian jumlah ATP yang dihasilkan pada -oksidasi
asam lemak tak jenuh lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah ATP yang dihasilkan
oleh -oksidasi asam lemak jenuh dengan jumlah atom C yang sama.

Gambar 3.7 Urutan reaksi dalam oksidasi asam lemak tak jenuh (Contoh: asam linoleat dalam bentuk linoleoylCoA)

Oksidasi Asam Lemak dengan atom C ganjil


Gambar 3.8 Oksidasi asam lemak dengan atom
C ganjil (contoh: asam propionat dalam bentuk

Propionyl-CoA)
Bagi penderita anemia pernisiosa sebagai akibat kekurangan vitamin B, kerja enzim
methylmalonyl-CoA mutase terganggu, sehingga L-Methylmalonyl-CoA tidak bisa diubah
menjadi Succinyl-CoA. Dalam urin penderita ini ditemukan L-methylmalonyl-CoA maupun
propionyl-CoA dalam jumlah yang besar.
- dan w-oksidasi
oksidasi adalah degradasi senyawa asam karboksilat dengan melepaskan 1 atom karbon
pada ujung karboksilnya. Asam lemak yang bagian ujungnya mempunyai cabang metil tidak
bisa langsung didegradasi melalui mekanisme -oksidasi, melainkan harus dioksidasi terlebih
dahulu melalui mekanisme oksidasi. Dalam mekanisme oksidasi, gugus karboksilat
Pada asam lemak dengan jumlah
atom C ganjil, setelah pengambilan acetylCoA (2C) sisanya adalah residu propionylCoA (3C). Propionyl-CoA ini masuk ke
siklus Krebs lewat Succinyl-CoA (gambar
3.8). Dalam hal ini propionyl-CoA
dikarboksilasi menjadi D-metylmalonylCoA, kemudian diubah menjadi SuccinylCoA melalui intermediet L- metylmalonylCoA. Jumlah energi yang dihasilkan dalam
1 siklus krebs jika masuk lewat SuccinylCoA hanya sebesar 6 ATP
Karena masuk siklus krebs lewat
Succinyl-CoA maka degradasi asam lemak
dengan atom C ganjil lebih cepat
dibandingkan dengan degradasi asam
lemak dengan atom C genap. Hal ini
penting untuk memberikan konsumyi pada
orang atau makhluk hidup yang
membutuhkan energi dengan cepat, misal
orang Eskimo.
Nelson & Cox, Lehninger POB, 4th Ed.
11
dilepaskan sebagai CO2 dan atom karbon- dioksidasi oleh hidrogen peroksida menjadi

gugus aldehida. Reaksi ini dikatalisis oleh enzim peroksidase asam lemak, tidak
membutuhkan CoA-SH dan tidak menghasilkan ATP. Gugus aldehid yang terbentuk
selanjutnya dioksidasi dengan menggunakan NAD+ menjadi asam karboksilat. Dengan
demikian asam lemak yang dihasilkan dalam satu kali reaksi oksidasi telah berkurang
dengan 1 atom C. Selain itu gugus aldehid tersebut dapat dioksidasi menjadi gugus alkohol,
membentuk senyawa alkohol asam lemak. Senyawa ini banyak terdapat dalam lilin
tumbuhan.
Pada kasus syndrom Refsum, pasien yang mempunyai gangguan dalam reaksi oksidasi, tidak mampu mangoksidasi asam fitanat yang berasal dari makanan tumbuhan.
Asam fitanat mengandung gugus metil (-CH3) pada karbon- yang dapat menghambat reaksi
-oksidasi..
Berikut adalah contoh reaksi -oksidasi yang terjadi dalam biji kecambah beberapa
tumbuhan.
Gambar 3.9 Reaksi -oksidasi asam lemak yang terjadi dalam biji kecambah beberapa
tumbuhan
w-oksidasi adalah oksidasi atom C pada ujung asam lemak. Reaksi ini dimulai dengan
hidroksilasi gugus CH3 yang dikatalisis oleh monooksigenase membentuk CH2OH dan
dilanjutkan dengan oksidasi membentuk gugus karboksilat -COOH. Hasilnya adalah asam
lemak dikarboksilat yang dapat mengalami -oksidasi dari kedua ujungnya sampai diperoleh
asam dikarboksilat C8 (asam suberat) atau C6 (asam adipat) yang dapat diekskresi dalam
urin. Kedua asam ini dijumpai pada urin penderita ketotik dikarboksilat asiduria. w-oksidasi
dilakukan oleh enzim-enzim hidroksilasi yang memerlukan sitokrom P-450 dalam mikrosom.
-oksidasi di Peroksisom
Bentuk modifikasi -oksidasi terjadi di peroksisom hati, yang dikhususkan untuk
degradasi asam lemak berantai panjang (n > 20). Dua perbedaan pokok -oksidasi di
mitokondria dan di peroxisome (gambar 3.10) adalah:
12
1. Pada tahap reduksi 1, flavoprotein acyl-CoA oxidase di peroxisome memasukkan
elektron secara langsung ke O2 menghasilkan H2O2, yang segera diubah menjadi H2O dan
O2 oleh katalase. Energi yang dihasilkan tidak disimpan sebagai ATP tetapi dibuang
dalam bentuk panas. Dalam mitokondria elektron yang dihasilkan pada tahap reduksi 1
dimasukkan ke O2 menghasilkan H2O melalui rantai respirasi yang digabungkan dengan
pembentukan ATP.
2. Dalam sistem perosisomal, -oksidasi lebih aktif dilakukan terhadap asam lemak berntai

panjang, seperti asam hexakosanoat (26:0), dan asam lemak bercabang, seperti asam
fitanat dan asam pristanat. Pada mamalia konsentrasi lemak yang tinggi dalam diet akan
menaikkan sintesis enzim -oksidasi peroxisomal hati. Karena peroxisome hati tidak
mempunyai enzim-enzim untuk siklus TCA dan tidak dapat mengkatalisa oksidasi acetylCoA menjadi CO2, maka asam lemak berantai panjang atau bercabang terseut
dikatabolisme menjadi produk asam lemak yang lebih pendek, selanjutnya dieksport ke
mitokondria untuk dioksidasi secara sempurna.
Dalam kasus sindrom Zellweger, asam lemak rantai panjang tidak dapat didegradasi karena
peroksisomal rusak.
Gambar 3. 10 Perbandingan -oksidasi di mitokondria dan di peroxisome dan glyoxysome
Nelson & Cox, Lehninger POB, 4th Ed.
13
RANGKUMAN KATABOLISME ASAM LEMAK
Asam lemak jenuh didegedasi dalam 3 tahapan oksidasi. Tahap pertama, -oksidasi,
dilakukan dalam siklus yang berkesinambungan dengan hasil akhir sebagai acetyl-CoA. Tiap
siklus terdiri atas 4 tahap reaksi, yaitu (1) dehidrogenasi 1, (2) hidratasi, (3) dehidroenasi 2,
dan (4) tiolasi. Pada tahap kedua tiap acetyl-CoA dioksidasi menghasilkan 2 CO2 dan 8
elektron dalam siklus TCA. Pada tahap ketiga, elektron yang dihasilkan dari tahap 1 dan 2
masuk ke rantai respirasi mitokondria dengan menghasilkan energi untuk sintesis ATP
dengan forforilasi oksidatif.
Oksidasi asam lemak tidak jenuh memerlukan 2 enzim tambahan: enoyl-CoA
isomerase dan 2,4-dienoyl-CoA reductase. Asam lemak beratom C ganjil dioksidasi
menghasilkan acetyl-CoA dan propionyl-CoA. Propionyl-CoA dikarboksilasi menjadi
LmethylmalonylCoA yang kemudian diisomerisasi menjadi succinyl-CoA untuk dioksidasi
menjadi CO2 dalam siklus TCA.
Peroxisome tanaman dan hewan dan glyoxysome tanaman menjalankan oksidasi
dalam empat tahap yang mirip dengan oksidasi di mitokondria hewan. Akan tetapi pada
tahap pertama elektron langsung ditransfer ke molekul O2 menghasilkan H2O2.
Reaksi w-oksidasi yang terjadi di dalam retikulum endoplasma menghasilkan asam
lemak dikarboksilat yang dapat mengalami -oksidasi dari kedua ujungnya sampai diperoleh
asam dikarboksilat berantai pendek seperti C8 (asam suberat) atau C6 (asam adipat).
14
C. ANABOLISME LIPID

Hati adalah tempat penting untuk pembentukan asam lemak, lemak, keton bodi, dan
kolesterol. Meskipun jaringan adiposa juga mensintesis lemak, tetapi fungsi utamanya adalah
menyimpan lipid.
Metabolisme lipid di dalam hati berkaitan erat dengan karbohidrat dan asam amino.
Dalam keadaan absorpsi, hati mengubah glukosa menjadi asam lemak melalui asetyl-CoA.
Hati dapat juga mendapatkan kembali asam lemak dari suplai lipid dengan kilomikron dari
usus. Asam lemak dari kedua sumber tersebut kemudian dikonversi menjadi lemak netral
dan fosfolipid.
BIOSINTESIS KETON BODIES
Tujuan pembentukan keton bodies adalah: (1) untuk mengalihkan sebagian acetylCoA yang terbentuk dari asam lemak di dalam hati dari oksidasi selanjutnya, dan (2) untuk
mengangkut acetyl-CoA menuju jaringan lain untuk dioksidasi menjadi CO2 dan H2O (salah
satu cara distribusi bahan bakar ke bagian lain dalam tubuh)
Dalam keadaan paska absorpsi, khususnya selama puasa atau kondisi lapar, atau
menderita dibetes melitus (DM), ada pergeseran dalam metabolisme lipid. Pada penderita
DM jaringan tidak dapat memanfaatkan glukosa dari darah, akibatnya hati lebih banyak
menguraikan asam lemak yang diperolehnya dari jaringan adiposa sebagai bahan bakar.
Asetyl-CoA hasil degradasi asam lemak jika konsentrasinya dalam mitokondria hati
tinggi, maka dua molekul asetyl-CoA akan berkondensasi membentuk acetoacetyl-CoA
(Gambar 3.11 reaksi 1), penambahan satu gugus acetyl selanjutnya menghasilkan 3hydroxy--methylglutyryl-CoA (HMG-CoA) (Gambar 3.11 reaksi 2), dan pelepasan satu
acetyl-CoA dari senyawa tersebut dihasilkan acetoacetate (Gambar 3.11 reaksi 3). Ketiga
senyawa hasil dari reaksi 1, 2, dan 3, yaitu acetoacetyl-CoA, 3-hydroxy--methylglutyrylCoA, dan acetoacetate disebut sebagai keton bodies. Senyawa acetoacetate dapat direduksi
menjadi 3-hydroxybutirate atau diurai menjadi acetone (Gambar 3.11 reaksi 4). Keton bodies
selanjutnya dilepaskan hati ke darah. Dalam kondisi lapar, keton bidies dalam darah naik.
Acetoacetate dan 3-hydroxybutirate bersama asam lemak digunakan sebagai sumber energi
untuk hati, otot skeletal, ginjal dan otak. Sedangkan aceton yang tidak diperlukan
dikeluarkan melalui paru-paru.
Jika produksi keton bodies melebihi penggunaannya di luar sel hati, maka keton
bodies ini akan terakumulasi dalam plasma darah (ketonemia), dan diekskresikan bersama
15
urin (ketonuria). Karena keton bodies adalah asam kuat moderat dengan pKa sekitar 4, maka
dapat menurunkan nilai pH plasma darah (ketoacidosis).

Gambar 3.11 Reaksi-reaksi pembentukan keton bodies. Reaksi 1: pembentukan acetoacetylCoA.


Reaksi 2: pembentukan HMG-CoA. Reaksi 3: pembentukan acetoacetate. Reaksi 4.
pengubahan
acetoacetate menjadi acetone dan d--hydroxybutirate.
BIOSINTESIS ASAM LEMAK,
Biosintesis asam lemak sangat penting, khususunya dalam jaringan hewan, karena
mempunyai kemampuan terbatas untuk menyimpan energi dalam bentuk karbohidrat. Proses
ini dikatalisis oleh asam lemak synthase, suatu multienzim yang berlokasi di sitoplasma.
Biosintesis Asam Lemak Jenuh
Biosintesis asam lemak jenuh dimulai dari acetyl-CoA sebagai starter. Acetyl-CoA ini dapat
berasal dari -oksidasi asam lemak maupun dari piruvate hasil glikolisis atau degradasi asam
amino melalui reaksi pyruvate dehydrogenase. Acetyl-CoA tersebut kemudian ditransport
dari mitokondria ke sitoplasma melalui sistem citrate shuttle untuk disintesis menjadi asam
Reaksi 1:
Reaksi 4:
Reaksi 3:
Reaksi 2:
16
lemak. Reduktan NADPH + H+ disuplai dari jalur hexose monophosphate (fosfoglukonat).
Gambar 3.12 adalah bagan pengangkutan acetyl-CoA dari mitokondria ke sitoplasma.
Gambar 3.12 Bagan pengangkutan acetyl-CoA dari mitokondria ke sitoplasma. Pyruvate hasil
katabolisme asam amino atau dari glikolisis glukosa diubah menjadi aecetyl-CoA oleh sistem
pyruvate dehydogenase. Gugus acetyl tersebut keluar matriks mitokondria sebagai citrate,
masuk ke
sitosol untuk sintesis asam lemak. Oxaloacetate direduksi menjadi malate kembali ke matriks
mitokondrion dan diubah kembali menjadi malate. Malat di sitosol dioksidasi oleh enzim
malat
menghasilkan NADPH dan pyruvate. NADPH digunakan untuk reaksi reduksi dalam
biosintesis asam
lemak sedangkan pyrivate kembali ke matriks mitokondrion..
Asam lemak synthase disusun oleh dua rantai peptida yang identik yang disebut homodimer
yang dapat dilihat pada gambar 3.13. Masing-masing dari 2 rantai peptida yang digambarkan
sebagai suatu hemispheres tersebut, mengkatalisis 7 bagian reaksi yang berbeda yang

dibutuhkan dalam sintesis asam palmitat. Katalisis reaksi multi urutan dengan satu protein
mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan beberapa enzim yang terpisah.
Keuntungan tersebut antara lain: (1) reaksi-reaksi kompetitif dapat dicegah, (2) reaksi terjadi
dalam satu garis koordinasi, dan (3) lebih efisien karena konsentrasi substrat lokal yang
tinggi, kehilangan karena difusi rendah.
Enzim kompleks asam lemak synthase bekerja dalam bentuk dimer. Tiap monomernya secara
kovalen dapat mengikat substrat sebagai tioester pada bagian gugus SH. Ada dua gugus
Nelson & Cox, Lehninger POB, 4th Ed.
17
SH yang masing-masing terikat pada residu Cysteine (Cys-SH) pada -ketoacylACPSynthase
dan 4-phosphopantetheine (Pan-SH) (Gambar 3.14 (B)). Pan-SH, yang mirip
dengan Koenzim A (CoA-SH) (Gambar 3.14 (A)), diikat dalam suatu domain enzim yang
disebut acyl-carrier protein (ACP). ACP bekerja seperti tangan yang panjang yang
melewatkan substrat dari satu pusat reaksi ke reaksi berikutnya.
Gambar 3.13 Sistem enzim kompleks asam lemak synthase yang bekerja dalam bentuk dimer.
Aktivitas yang terlibat dalam sistem enzim kompleks asam lemak synthase dilokasikan
dalam 3 domain protein yang berbeda. Domain 1 bertanggung jawab pada katalisis reaksi 2a,
2b, dan 3, yaitu masuknya substrat asetyl-CoA atau acyl-CoA dan malonyl-CoA yang diikuti
dengan kondensasi kedua substrat tersebut. Domain 2 mengkatalisis reaksi 4, 5, dan 6, yaitu
reaksi reduksi pertama rantai perpanjangan asam lemak, dehidratase, dan reduksi kedua.
Sedangkan domain 3 atau domain tiolase mengkatalisis pelepasan produk akhir asam lemak
setelah 7 tahap perpanjangan (reaksi 7).
18
(A)
Reaksi Biosintesis asam lemak Jenuh (Asam Palmitat)
Biosintesis asam lemak jenuh, dalam hal ini sebagai pokok bahasan adalah biosintesis asam
palmitat, karena proses metabolisme sudah banyak diketahui. Reaksi ini dibagi dalam tiga
tahap, yaitu tahap aktivasi, tahap elongasi, dan tahap tiolasi atau pelepasan produk akhir.
Tahap aktivasi:
Reaksi 1. Asetil-CoA + oksaloasetat sitrat + KoA-SH
(B)
Gambar 3.14 Gugus phosphopantetheine
pada ACP dan

Coenzyme A
(mitokondria) (masuk ke sitoplasma)
19
Acetyl-CoA dibawa masuk dari mitokondria ke sitoplasma dengan mengubahnya
menjadi sitrat oleh aktivitas enzim Sitrat sintetase (gambar 3.12).
Reaksi 2. Sitrat + ATP + KoASH Asetil-KoA +Oksaloasetat + ADP + Pi
Acetyl-CoA dibentuk kembali dari sitrat dalam sitoplasma dengan enzim ATPsitrat
liase (gambar 3.12)
Reaksi 3. Acetyl-CoA + CO2 + ATP malonyl-CoA +ADP + Pi
Gambar 3.15. Reaksi pembentukan malonyl-CoA dari acetyl-CoA yang dikatalisis oleh
enzim acetylCoA karboksilase dengan bantuan Biotin. Enzim acetyl-CoA karboksilase mempunyai 3
daerah
fungsional, yaitu: (1) biotin carrier protein, (2) biotin carboxylase, dan (3) transcarboxylase.
Tahap elongasi :
Reaksi pemanjangan rantai secara kontinyu dapat dilihat pada gambar 3.14 dan 3.15.
Reaksi 1: pembentukan acetyl-ACP sebagai starter atau molekul pemula
Transfer residu acetyl dari Acetyl-CoA ke gugus SH dari molekul ACP pada sistem
enzim kompleks asam lemak synthase merupakan reaksi pemula dalam mekanisme
biosintesis
asam lemak. Kedua atom karbon ini akan menjadi atom karbon ujung (atom karbon nomor 15
dan 16) dari asam palmitat yang terbentuk. Reaksi ini dikatalisis oleh salah satu dari enam
enzim kompleks asam lemak synthase, Acetyl-CoA-ACP transacylase.
Reaksi 2: transfer residu acetyl ke Cys-SH dari enzim & residu malonyl ke Pan-SH dari ACP
Residu acetyl dari molekul ACP kemudian ditransfer (translokasi) ke gugus SH dari residu
cystein pada -ketoacyl-ACP-Synthase (Gambar 3.17, reaksi 2a). Secara bersamaan gugus
malonyl dari malonyl-CoA dipindah ke Pan-SH dari ACP membentuk malonyl-ACP oleh
enzim malonyl-CoA- ACP-transferase (Gambar 3.17, reaksi 2b).
karboksilasi acetyl-CoA menjadi malonylCoA sebagai molekul yang menambahkan
2 atom C pada pemanjangan asam lemak
dengan melepaskan CO2. Reaksi ini
dikatalisis oleh enzim acetyl-CoA
karboksilase dengan bantuan Biotin

(gambar 3.15). CO2 yang digabungkan


dengan acetyl-CoA berasal dari HCO3
dari buffer darah.
Nelson & Cox, Biochemisry POB4th Ed.
20
Reaksi 3: Reaksi kondensasi pembentukan acetoacetyl-S-ACP
Gugus acetyl yang diesterkan pada enzim -ketoacyl-ACP-Synthase ditransfer ke atom C
nomer 2 pada malonyl-ACP dengan pelepasan CO2 yang berasal dari HCO3
- (lihat Gambar
3.17, reaksi 3 pada tahap aktivasi) oleh enzim -ketoacyl-ACP-Synthase membentuk
acetoacetyl-S-ACP. Dengan demikian dalam reaksi karboksilasi acetyl-CoA, CO2 dari HCO3
tersebut memegang peran katalitik karena dilepaskan kembali sebagai CO2.
Reaksi 4: Reaksi reduksi pertama
Acetoacetyl-S-ACP direduksi oleh NADPH membentuk D-b-hydroxybutyryl-ACP, yang
dikatalis oleh b-ketoacyl-ACP reductase. Struktur intermediet yang dihasilkan adalah D,
bukan L. Berbeda dengan struktur isomer selama oksidasi asam lemak, yaitu memiliki
konfigurasi L (Gambar 3.5).
Reaksi 5: Reaksi dehidratasi
D-b-hydroxybutyryl-ACP selanjutnya didehidratasi oleh enoyl-ACP hidratase menjadi a,btrans-butenoyl-ACP atau trans-2- butenoyl-ACP atau disebut crotonyl-S-ACP.
Reaksi 6: Reaksi reduksi kedua
Trans-2- butenoyl-ACP direduksi oleh enoyl ACP reductase menghasilkan butyryl-ACP.
NADPH digunakan sebagai reduktor pada E coli dan jaringan hewan.
Pembentukan butyryl-ACP berarti menyempurnakan satu siklus dari 7 siklus dalam
pembentukan palmitoyl-ACP. Untuk memulai siklus berikutnya, dilakukan proses
translokasi,
yaitu gugus butyryl dari butyryl-ACP ditransfer ke gugusSH dari enzim b-ketoacyl-ACP
synthase. ACP kemudian diesterkan dengan gugus malonyl dari molekul-molekul malonylCoA lain oleh malonyl-CoA-ACP transferase. Kemudian siklus diulang, yang mana pada
tahap berikutnya kondensasi malonyl-ACP dengan butyryl-b-ketoasyl-ACP synthase
menghasilkan b-ketohexanoyl-ACP dan CO2. Setelah 7 siklus dihasilkan palmitoyl-ACP
sebagai produk akhir dari sistem enzim kompleks asam lemak synthase .

Tahap tiolasi:
Reaksi 7: Pelepasan asam palmitat
Palmitoyl-ACP dapat dilepaskan menjadi asam palmitat bebas oleh kerja enzim palmitoyl
thioesterase (Domain 3) (Gambar 3.16. B), atau ditransfer dari ACP ke CoA atau
digabungkan secara langsung ke asam fosfatidat dalam jalur yang menuju fosfolipid dan
triasilgliserol.
21
Gambar 3.16 (A) Bagan urutan reaksi dalam
siklus reaksi pada tahap pemanjangan secara
kontinyu. Sistem enzim kompleks asam
lemak synthetase digambarkan dalam bentuk
lingkaran yang terdiri atas enam aktivitas
enzimatik dan ACP berada di pusatnya.
Enzim yang ditunukkan dalam warna biru
beraktivitas pada tahap berikutnya.
(B) Keseluruhan prosesn biosintesis asam
lemak (asam palmitat).
2b
3
45
6
1
2a
7
A
B
Nelson & Cox, Lehninger POB4th Ed.
22
Gambar 3.17. Urutan tahap-tahap reaksi dalam biositesis asam lemak (asam palmitat)
Pada kebanyakan organisme, sistem enzim kompleks asam lemak synthase berhenti
pada produk asam palmitat dan tidak menghasilkan asam stearat. Hal ini karena: (1)
spesifitas panjang rantai maksimum yang dapat diakomodasi oleh sistem enzim kompleks
asam lemak synthase adalah gugus tetradecanoyl (C14), gugus hexadecanoyl (C16) tidak
diterima oleh sistem ini; (2) palmitoyl-CoA merupakan penghambat feedback sistem enzim

kompleks asam lemak synthase.


23
Reaksi keseluruhan dari reaksi biosintesa asam palmitat yang dimulai dari asetil-CoA adalah:
8 asetyl-CoA asam palmitat
Jika dibandingkan dengan reaksi -oksidasi asam palmitat adalah:
asam palmitat 8 asetyl-CoA
14 molekul NADPH+ 14H+ diperlukan pada biosintesis asam palmitat bersumber dari:
a. Sistem malat yang ditemukan di hati dan jaringan hewan lainnya
b. Jalur pentose phosphate
c. Fotosintesis
Biosintesis Asam Lemak Jenuh dengan jumlah atom C ganjil
Asam lemak dengan jumlah atom C ganjil banyak terdapat pada organisme laut.
Asam lemak ini juga disintesis oleh sistem enzim kompleks asam lemak synthase.
Sintesisnya
dimulai dari molekul propionyl-ACP bukan acetyl-ACP. Penambhahan 2 atom C dilakukan
14NADPH
14H+
7ATP
H2O
8CoA
14NADP+
7ADP
7Pi
8 CoA
7 FAD
14 NAD+
7 H2O
7 FADH2
7 NADH
7 H+
24
melalui kondensasi dengan malonyl-ACP, sama pada biosintesis asam lemak jenuh beratom
C
genap.

Dari uraian tentang jalur -oksidasi asam lemak (katabolisme) dan biosintesis asam
lemak (anabolisme) terdapat lima perbedaan yang dapat diamati (gambar 3.18), yaitu:
1. Lokasi intraseluler: -oksidasi terjadi di mitokondrion, biosintesis di sitoplasma
2. Tipe pembawa gugus acyl: dalam -oksidasi adalah CoA, dalam biosintesis adalah ACP
3. Dalam -oksidasi asam lemak sebagai akseptor elektron (oksidator) adalah FAD,
sedangkan dalam biosintesis asam lemak NADPH sebagai donor elektron (reduktor)
4. Senyawa intermediet yang terbentuk pada reaksi hidratasi mempunyai konfigurasi L, pada
reaksi dehidrasi dalam biosintesis asam lemak senyawa intermedietnya mempunyai
konfigurasi D
5. Malonyl-CoA berperan sebagai prekursor penambahan unit C2 dalam biosintesis asam
lemak, sedangkan dalam oksodasi pengurangan unit C2 dalam bentuk acetyl-CoA.
Selain kelima perbedaan di atas, pada -oksidasi dihasilkan energi sedangkan pada biosintesis
asam lemak diperlukan energi.
-Oksidasi Biosintesis
terjadi di mitokondrion terjadi di sitoplasma
Pembawa gugus
acyl : CoA
Akseptor
elektron: FAD
Gugus L-Hydroxyacyl
Akseptor
elektron: NAD+
Produk unit C2:
acetyl-CoA
Pembawa gugus
acyl : ACP
Donor elektron:
NADPH
Gugus D-Hydroxyacyl
Akseptor donor:
NADPH
Donor unit C2:

malonyl-CoA
KATABOLISME ANABOLISME
Gambar 3.18 Perbedaan antara jalur -oksidasi asam lemak dan biosintesis asam lemak. Ada
lima
pokok perbedaannya, yaitu: (1) lokasinya, (2) pembawa gugus acyl, (3) akseptor/donor
elektron, (4)
stereokimia reaksi hidrasi/dehidrasi, dan (5) Bentuk unit C2 yang dihasilkan/didonorkan.
Nelson & Cox,, Lehninger POB, 4th Ed.
25
Biosintesis Asam Lemak setelah Asam Palmitat
Sistem enzim kompleks asam lemak synthase hanya mampu mensintesis asam lemak
dengan jumlah atom C maksimum 16. Untuk sintesis asam lemak yang beratom C lebih dari
16 digunakan asam palmitat sebgai precursor. Proses ini disebut elongasi asam lemak jenuh,
yang dapat terjadi di mitokodria dan mikrosom (retikulum endoplasma).
1. Elongasi asam lemak jenuh di mitokondria
Di dalam mitokondrion penambahan 2 atom C dengan acetyl-CoA pada ujung karboksilat
(dan bukan dengan malonyl-ACP seperti yang digunakan dalam proses de novo
biosintesis palmitat). Proses elongasi palmitat menjadi stearat (C18:0) mengikuti reaksi
seperti pada -oksidasi, dengan urutan reaksi seperti pada gambar 3.19. Untuk reaksi
reduksi pertama dan kedua digunakan NADPH bukan NADH.
Gambar 3.19. Reaksi elongasi palmitoyl-CoA dengan satu molekul acetyl menghasilkan
steroyl-CoA
2. Elongasi asam lemak jenuh di mikrosom
Di dalam mikrosom mekanisme elongasi asam lemak jenuh identik dengan yang terjadi
pada biosintesis asam palmitat, yaitu penambahan 2 atom C dengan malonyl-CoA,
kemudian diikuti dengan reduksi 1, dehidratasi, dan reduksi 2 untuk menghasilkan
stearoyl-CoA.
-Ketoacyl-CoA reductase
Enoyl-CoA
reductase
Palmitoyl-CoA
-Hydrxystearoyl-CoA
Enoyl-CoA hydratase
Stearoyl-CoA

26
Biosintesis Asam Lemak Tak Jenuh (Asam monoenoat)
Biosintesis asam lemak tak jenuh yang mempunya ikatan rangkap tunggal (asam monoenoat)
dalam jaringan hewan dan tumbuhan berbeda. Dalam jaringan hewan asam palmitat dan
asam stearat digunakan sebagau precursor untuk biosintesis asam lemak tak jenuh terutama,
asam palmitoleat (C16:1 cis-D9) dan asam oleat (C18:1 cis-D9). Ikatan rangkap yang terjadi
selalu pada posisi D9 dan berbentuk cis.
Biosintesis Asam Polienoat
Asam polienoat adalah asam lemak tak jenuh yang tingkat ketidakjenuhannya besar,
mempunyai ikatan rangkap lebih dari dua. Sebagai precursor adalah palmitoleate, oleate,
linoleate, atau linolenate. Elongasi terjadi pada ujung karboksil, sedangkan pembentukan
ikatan rangkap melalui reaksi desaturasi yang dikatalisis oleh asam lemak-CoA desaturase.
Pada vertebrata atau organisme aerobik, 1 molekul O2 digunakan sebagai akseptor 2 pasang
elektron, yaitu 1 pasang berasal dari substrat asam-lemak-CoA dan 1 pasang berasal dari
NADPH. Transfer elektron dalam reaksi kompleks ini merangkai reaksi transport elektron
dalam mikrosom yang membawa elektron dari NADPH ke Cyt b5 melalui Cyt b5 reductase
(Gambar 3.20). Jalur reaksi pembentukan asam lemak tidak jenuh berantai panjang dari
palmitate dapat dilihat pda gambar 3.19.
Gambar 3.20 Transfer elektron dalam reaksi desaturasi asam lemak yang terjadi pada
retikulum
endoplasma vertebrata.
Nelson & Cox,, Lehninger POB 4th Ed.
27
Pengendalian Biosintesis Asam Lemak
Biosintesis asam lemak tergantung pada kecepatan enzim acetyl-CoA carboxylase
mengubah acetyl-CoA menjadi malonyl-CoA. Jika konsentrasi acetyl-CoA dan ATP di dalam
mitokondria naik, cytrate ditransport keluar mitokondria masuk ke sitosol. Cytrate ini
menjadi
precursor acetyl-CoA sitosol sekaligus sebagai isyarat alosterik (modulator positif) untuk
mengaktifkasi acetyl-CoA carboxylase dalam pembentukan malonyl-CoA. Jika konsentrasi
malonyl-CoA meningkat maka pembentukan palmitoyl-CoA juga meningkat. Oleh karena
palmitoyl-CoA merupakan penghambat (modulator negatif) bagi enzim acetyl-CoA
carboxylase, maka proses ini akan diatur secara alosterik sampai keadaan menjadi normal
kembali. Biosintesis asam lemak juga diatur oleh beberapa hormon. Hormon insulin memicu

aktivasi enzim cytrate lyase, sedangkan glucagon dan epinephrine memicu penginaktifan
enzim acetyl-CoA carboxylase melaui fosforilasi (gambar 3.22).
Gambar 3.21. Rute sintesis asam-asam
lemak lainnya. Asam palmitat
diguanakan sebagai procursor sistesis
asam-asam lemak berantai panjang
jenuh melalui proses elongasi atau
sintesis monoenoat palmitoleate dan
oleat melalui proses desaturasi.
Mamalia tidak dapat mengubah oleate
menjadi linoleate atau linolenate. oleh
karena itu dalam dietnya disebut
sebagai asam lemak esensial. Linoleate
selanjutnya dapat diubah menjadi asam
lemak polienoat. Makna angka 18:1,
yaitu : angka didepan (18)
menunjukkan jumlah atom C asam
lemak, sedangkan angka
dibelakangnya (1) menunjukkan
jumlah ikatan rangkap.
Gambar 3. 22 Regulasi biosintesis asam
lemak. Tanda segitiga hijau menunjukkan
poses aktivasi sedangkan tanda
silang merah menunjukkan proses
Nelson & Cox, Lehninger POB, 4th Ed. penghambatan.
28
BIOSINTESIS TRIACYLGLYCEROL
Triacylgliserol (trigliserida) merupakan lipid cadangan yang disimpan dalam jaringan
adiposa dalam hati. Dalam tumbuhan dan hewan biosintesis triacylglyserol menggunakan
precursor L-glyserol-3-phosphate (disingkat dengan G-3-P) dan acyl-CoA. G-3-P pada
umumya berasal dari senyawa intermediet dalam proses glikolisis atau dibentuk dari gliserol
bebas hasil degradasi triacylgliserol oleh aktivitas glycerol kinase. Gambar 3.20 adalah
Urutan reaksi dalam biosintesis triacylglyserol.
Nelson & Cox, Lehninger POB, 4th Ed.

glycerol 3-phosphate
dehydrogenase
glycerol
kinase
phosphatidic acid
phosphatase
Acyl
transferase
Acyl-CoA
synthetase
Acyl transferase
Acyl-CoA
synthetase
Acyl transferase
Gambar 3.22. Biosintesis triacylglycerol. Dua gugus acyl
asam lemak yang sudah diaktifkan dalam bentuk asam lemakCoA ditransfer ke L-glycerol 3-phosphate membentuk asam
fosfatidat yang selanjutnya didefosforilasi menjadi
diacylglycerol. Triacylglecerol dihasilkan setelah proses
asilasi diacylglycerol dengan molekul asam lemak-CoA yang
ketiga. Asam fosfatidat juga merupakan precursor
glycerophospholipid.
29
RANGKUMAN ANABOLISME ASAM LEMAK
Asam lemak jenuh rantai panjang disintesis di sitosol dari acetyl-CoA oleh sistem
enzim kompleks asam lemak synthase dengan enam aktivitas enzim dan ACP. Sistem enzim
kompleks ini terdiri atas dua jenis gugus SH, yang satu terikat pada ACP, dan yang lainnya
pada residu Cystein pada -ketoacyl-ACP synthase yang berfungsi sebagai pembawa
intermediet asam lemak.
Tiap satu siklus penambahan satu unit 2 atom C pada sintesis asam lemak terdiri atas
4 tahap reaksi, yaitu (1) kondensasi gugus acetyl dari malonyl-ACP dengan intermediet asam
lemak yang terikat pada cys-SH, dengan melepaskan CO2, (2) reduksi 1menghasilkan
turunan D--hydroxy, (3) dehidrasi menghasilkan trans-2- unsaturated acyl-ACP, dan (4)
reduksi 2 menghasilkan intermediet asam lemak yang sudah diperpanjang dengan dua atom

C.
Asam palmitat dapat diperpanjang menjadi asam stearat (C18:0). Baik asam palmitat
maupuan stearat dapat didesaturasi menghasilkan masing-masing palmitoleat dan oleat.
Mamalia tidak dapat membuat asam linoleat dan asam -linolenat, kedua asam lemak ini
disebut asam lemak esensial.
Triasil gliserol dibentuk dengan reaksi dua molekul asam lemak-CoA dengan
gliserol-3-fosfat membentuk asam fosfatidat, yang selanjutnya didefosforilasi menghasilkan
diacylglicerol. Melalui asilasi dengan moleku asam lemak-CoA ketiga triasilgleserol dapat
diperoleh. Sintesis dan degradasi triasilgliserol diatur oleh hormon.

Ny. Nano
45 Tahun

Kelainan
Degradasi Hb

Kenaikan
Derajat Bilirubin
Direct

Makan Seafood
(lemak/kolesterol
naik)

Tidak Suka
Aerobik

Obesitas

Dislipidemia
Sklera Ikretik

Batu Empedu

Feses Pucat
LPL dan TG
naik di plasma

Kenaikan
Viskositas Darah

Mudah Lelah
dan Jantung
berdebar

Kelainan
Degradasi Hb

Kenaikan Derajat
Bilirubin Direct