Anda di halaman 1dari 19

ANALISIS KINERJA EKONOMI MAKRO DAN

SEKTORAL KABUPATEN DEMAK


METODE DAN TEKNIK ANALISIS DAN RENCANA WILAYAH

Disusun Oleh :
Haidar Hilmi
12/333568/TK/39916

PRODI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


JURUSAN ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014

ANALISIS KINERJA EKONOMI MAKRO DAN SEKTORAL


KABUPATEN DEMAK
A. Pendahuluan
Suatu Wilayah/Kabupaten memiliki kegiatan yang bermacam macam, kegiatan tersebut
diantaranya yaitu kegiatan ekonomi, soslal, budaya, politik, pertahanan, keamanan. Diantara
kegiatan tersebut, terdapat kegiatan krusial yang dapat menjadi tolok ukur tingkat kemajuan
wilayah, kegiatan tersebut adalah kegiatan ekonomi dimana jika kinerja ekonominya baik yaitu
pertumbuhanya tinggi, kontribusi tiap sektor ekonomi di setiap wilayah tinggi, skala ekonominya
besar dan seterusnya maka tentu saja wilayah tersebut terindikasi maju, unggul, dan sejahtera.
Namun jika kinerja ekonominya rendah maka wilayah tersebut terindikasi masih berkembang atau
malah tertinggal, tidak mandiri, dan bergantung pada wilayah lainya dan butuh usaha peningkatan
kinerja ekonomi.
Di setiap usaha peningkatan kinerja ekonomi wilayah, pasti terdapat tahap evaluasi kinerja
ekonomi. Evaluasi kinerja ekonomi bertujuan diantaranya untuk :
1. Menemukenali potensi dan sektor-sektor yang dapat dipacu
2. Menemukenali permasalahan perekonomian
3. Penilaian kemungkinan aktivitas ekonomi yang dapat dikembangkan dalam wilayah
4. Untuk mencatat dan menilai pencapaian pelaksanaan kebijakan ekonomi berdasarkan
tujuan, sasaran, dan strategi, sehingga dapat diketahui kemajuan ekonomi serta tingkat
efektivitas dan efisiensi kebijakan ekonomi.
Output dari analisis kinerja ekonomi adalah data kinerja ekonomi sehingga nanti dapat
dibuat dan ditetapkan arahan kebijakan ekonomi, sedangkan Outcome dari analisis kinerja ekonomi
adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi, kemakmuran penduduk, terjadinya investasi dan
mobilisasi dana pada wilayah analisis.
Untuk mengetahui kinerja ekonomi di suatu wilayah diperlukan suatu analisis kinerja
perekonomian. Pada bahasan kali ini, penulis akan menganalisis Kinerja Perekonomian Kabupaten
Demak dengan fokus ekonomi makro dan sektoral. Selain bertujuan untuk memperoleh pemahaman
tentang proses analisis kinerja ekonomi wilayah sekaligus untuk menyelesaikan tugas Metode dan
Teknik Analisis Rencana Wilayah.

B. Gambaran Umum Wilayah


Kondisi Geografis

Geologi tanahnya sebagian besar


merupakan

endapan

dimanfaatkan

sebagai

aluvium,
lahan

cocok

pertanian.

Sedangkan dari tekstur tanahnya, terdiri atas


tekstur tanah halus (liat) seluas 49.066 ha dan
tekstur tanah sedang (lempung) seluas40.677
ha.
Kondisi Sosial Ekonomi
Berdasarkan data Kabupaten Demak
dalam Angka tahun 2014, tercatat jumlah
penduduk Kabupaten Demak tahun 2013
, INDONESIA

Kabupaten demak merupakan salah


satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah.
Dengan luasan wilayah seluas 89.743 Ha, yang
terdiri dari 14 kecamatan, 243 desa, dan 6
kelurahan. Jumlah penduduk di Kabupaten
Demak pada tahun 2013, sebanyak 1.094.472

berjumlah 1.094.472 jiwa, yang terdiri dari


jumlah penduduk laki-laki sebanyak 542.310
jiwa dan penduduk perempuan sebanyak
552.162 jiwa. Tercatat terjadi pertumbuhan
penduduk yang cukup tinggi, sekitar 1,11%
dibandingkan tahun 2012.
Peningkatan

jiwa yang tersebar di 14 kecamatan. Letak

juga

terjadi

pada

Kabupaten Demak strategis karena dekat

pertumbuhan Pendapatan Domestik Regional

dengan kota Semarang dan dilewati Jalur

Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan

Nasional Pantura sehingga memiliki potensi

(ADHK) yaitu 3,30 triliun pada tahun 2012

yang besar sebagai daerah pasar distribusi

menjadi 3,45 triliun pada tahun 2013,

dan pengembangan sektor ekonomi.

sehingga

Kondisi Fisik
Dilihat dari ketinggian permukaan

secara

agregat

pertumbuhan

ekonomi di Kabupaten Demak mencapai


4,62%. Sektor unggulan yang merupakan
sektor utama pertumbuhan di Kabupaten

tanah dari permukaan laut (elevasi), wilayah

Demak

Demak terletak mulai dari 0 m sampai dengan

perdagangan, hotel, dan restoran (18,51%),

100 m dari permukaan laut, sebagian besar

dan jasa-jasa (12%).

dataran rendah ketinggian 0-3 meter.

adalah

pertanian

(43,21%),

C. Analisis Kinerja Ekonomi Makro Wilayah


Kinerja ekonomi wilayah dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat
pertumbuhan ekonomi berkaitan erat dengan tingkat produksi barang dan jasa, tingkat produksi
barang dan jasa dapat diukur melalui Produk Nasional Bruto (PNB) pada tingkat nasional atau produk
domestic regional bruto (PDRB) pada tingkat daerah baik kabupaten maupun kota, sehingga PDRB
dapat digunakan sebagai alat analisis kinerja perekonomian.
Definisi Produk Domestik Regional Bruto sendiri adalah nilai pasar dari semua barang dan
jasa yang diproduksi dalam suatu daerah dalam waktu tertentu, PDRB digunakan sebagai ukuran
kinerja makro ekonomi wilayah, dalam analisis kinerja ekonomi Kabupaten Demak diperlukan lima
tahap analisis yaitu :

1. Analisis Struktur Ekonomi Wilayah


2. Analisis Pola Keruangan Ekonomi Wilayah
3. Analisis Laju Pertumbuhan Ekonomi
4. Analisis PDRB Per Kapita
5. Kemampuan Ekonomi Menyerap Tenaga Kerja
Namun tahap ke lima masih belum dapat dilakukan karena keterbatasan data. Setelah
dilakukan analisis maka akan diketahui kinerja perekonomian Kabupaten Demak secara umum,
namun sebelum dilakukan analisis diperlukan data PDRB atas harga berlaku maupun atas harga
konstan Kabupaten Demak berikut adalah datanya dengan sumber Demak Dalam Angka 2009 dan
2013
Tabel 1.1 PDRB ADHB di Kabupaten Demak, 2008 - 2012

Pertanian
a.Tanaman Bahan Pangan
b.Tanaman Perkebunan
c.Peternakan dan Hasil
hasilnya
d.Kehutanan
e.Perikanan
Pertambangan dan
Penggalian
Industri Pengelolaan
Listrik,Gas,dan Restoran
Bangunan
Perdagangan,Hotel,dan
Restoran
Pengangkutan dan
Komunikasi

2008
2,194,685.87
1,812,948.70
50,511.51

PDRB ADHB
2009
2,364,655.21
1,956,474.44
53,408.50

2010
2,661,663.09
2,210,785.57
53,660.66

2011
2,897,773.85
2,415,829.25
56,357.30

2012
3,154,296.91
2,638,461.34
59,131.09

106,911.09
701.41
223,613.16

115,710.56
802.07
238,259.63

133,066.11
899.44
263,251.31

142,728.16
960.89
281,898.24

153,226.84
1,016.04
302,461.60

10,024.04
484,278.29
46,125.97
263,343.13

10,944.85
514,451.90
50,673.01
291,823.43

11,911.94
563,609.19
55,769.45
320,478.09

12,764.27
630,227.87
60,479.78
344,982.64

13,737.63
709,067.48
65,414.41
377,226.44

906,352.19

976,984.07

1,067,378.93

1,183,260.81

1,313,772.50

257,111.83

275,462.43

302,384.76

326,357.36

352,607.19

Keuangan,Persewaan,Jasa
Perusahaan
Jasa Jasa
PDRB ADHB

216,461.43
52,995.43
4,431,378.18

239,826
609,401.72
5,334,222.62

261,588.52
688,011.47
5,932,795.44

293,009.85
768,350.53
6,517,206.96

323,259.93
859,019.07
7,168,401.56

Tabel 1.2 PDRB ADHK Kabupaten Demak, 2008 - 2012

Pertanian
a.Tanaman Bahan Pangan
b.Tanaman Perkebunan
c.Peternakan dan Hasil
hasilnya
d.Kehutanan
e.Perikanan
Pertambangan dan
Penggalian
Industri Pengelolaan
Listrik,Gas,dan Restoran
Bangunan
Perdagangan,Hotel,dan
Restoran
Pengangkutan dan
Komunikasi
Keuangan,Persewaan,Jasa
Perusahaan
Jasa Jasa
PDRB ADHK

2008
1,176,841.83
949,413.28
29,608.51

PDRB ADHK
2009
1,226,312.09
993,479.58
29,288.66

2010
1,259,938.42
1,015,723.26
29,128.47

2011
1,303,641.70
1,053,712.94
29,237.56

2012
1,348,332.86
1,092,386.94
29,367.70

60,260.87
349.14
137,210.03

62,358.47
381.22
140,804.15

67,119.86
386.19
147,580.64

69,118
390.37
151,182.65

71,210.89
394.4
154,972.93

5,987.37
295,965.65
18,162.88
176,650.99

6,218.96
302,523.35
19,142.50
183,556.78

6,497.17
315,760.21
20,258.63
193,354.62

6,658.43
336,269.62
20,999.89
202,029

6,843.68
360,319.95
21,789.29
211,437.44

562,836.51

583,409.48

610,499.60

639,837.43

671,721.08

117,816.58

123,030.07

131,198.45

137,675.90

144,627.67

112,305.73
320,956.48
2,787,524.02

117,875.91
339,072.38
2,901,141.52

123,487.76
359,799.19
3,020,794.05

129,161.37
379,852.89
3,156,126.23

135,423.75
402,114.46
3,302,610.18

Sumber : Demak Dalam Angka 2009 dan 2013


PDRB Kabupaten Demak atas dasar harga berlaku tahun 2012 sebesar 7,168,401.56 juta,
sedangkan berdasarkan harga konstan mencapai Rp 3,302,610.18 juta. Berdasarkan harga berlaku
selama kurun waktu 2008 sampai 2012 berkembang 1.61 kali lebih besar dibandingkan tahun 2008.
Berdasarkan harga konstan, PDRB Kabupaten Demak berkembang 1.18 kali lebih besar dibandingkan
tahun 2008. Dari keadaan tersebut terjadi peningkatan kinerja ekonomi namun terasa sangat lambat
terutama PDRB ADHK, perlu dilakukan evaluasi kinerja ekonomi.

1. Analisis Struktur Ekonomi Wilayah


Analisis struktur ekonomi digunakan untuk mengetahui sumbangan atau peranan masingmasing sektor atau kegiatan ekonomi dalam perekonomian kawasan perencanaan secara
keseluruhan dalam suatu tahap tertentu, berikut adalah rumusnya :

Nilai PDRB setiap sektor


Nilai PDRB total

100%

Indikator penentuan struktur ekonomi ada dua yaitu distribusi sektoral PDRB dan distribusi
sektoral tenaga kerja, namun pada perhitungan Kabupaten Demak kali ini karena tidak ada data
tenaga kerja menurut lapangan usaha, maka hanya akan dilakukan analisis distribusi kontribusi
sektoral / struktur ekonomi kabupaten sektoral dan struktur ekonomi secara spasial tiap
kecamatan menggunakan grafik batang dengan data PDRB ADHB dalam persen tahun 2008-2012.

1.1 Struktur Ekonomi Kabupaten Demak (Sektoral)


Struktur ekonomi wilayah merupakan gambaran kontribusi tiap-tiap sektor di dalam
kabupaten. Struktur tersebut dapat digunakan untuk mengetahui sektor penyumbang terbesar
maupun terkecil dalam suatu wilayah dan bagaimana perubahan atau pergeseran dari waktu ke
waktu.
Tabel. 1.3 Pertumbuhan PDRB ADHB (%) Demak 2008 -2012
Sektor
Pertanian
a.Tanaman Bahan Pangan
b.Tanaman Perkebunan
c.Peternakan dan Hasil hasilnya
d.Kehutanan
e.Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri Pengelolaan
Listrik,Gas,dan Restoran
Bangunan
Perdagangan,Hotel,dan Restoran
Pengangkutan dan Komunikasi
Keuangan,Persewaan,Jasa Perusahaan
Jasa Jasa
PDRB ADHB

2008
49.53
40.91
1.14
2.41
0.02
5.05
0.23
10.93
1.04
5.94
20.45
5.8
4.88
1.2
100

2009
44.33
36.68
1
2.17
0.02
4.47
0.21
9.64
0.95
5.47
18.32
5.16
4.5
11.42
100

Tahun
2010
44.86
37.26
0.9
2.24
0.02
4.44
0.2
9.5
0.94
5.4
17.99
5.1
4.41
11.6
100

2011
44.46
37.07
0.86
2.19
0.01
4.33
0.2
9.67
0.93
5.29
18.16
5.01
4.5
11.79
100

2012
44
36.81
0.82
2.14
0.01
4.22
0.19
9.89
0.91
5.26
18.33
4.92
4.51
11.98
100

Grafik 1.2 Struktur Ekonomi dan Pergeseran Peran Sektor Ekonomi


Kabupaten Demak Tahun (%) 2008-2012
100%

0.23
1.04
4.88
5.8
5.94

0.21
0.95
4.5
5.16
5.47

0.2
0.94
4.41
5.1
5.4

0.2
0.93
4.5
5.01
5.29

0.19
0.91
4.51
4.92
5.26

9.64

9.5

9.67

9.89

70%

10.93
1.2

11.42

11.6

11.79

11.98

60%

20.45
18.32

17.99

18.16

18.33

90%
80%

50%

Listrik,Gas,dan Restoran
Keuangan,Persewaan,Jasa Perusahaan
Pengangkutan dan Komunikasi
Bangunan

40%

Industri Pengelolaan

30%
20%

Pertambangan dan Penggalian

Jasa Jasa
49.53

44.33

44.86

44.46

44

Perdagangan,Hotel,dan Restoran
Pertanian

10%
0%
2008

2009

2010

2011

2012

Sumber : Olah Data 2014


Pada stuktur ekonomi sektoral, terlihat bahwa sektor pertanian merupakan sektor utama
terbesar di Kabupaten Demak sebesar 44 persen pada tahun 2012. Kemudian, sektor penyumbang
terbesar kedua adalah perdagangan, hotel dan restoran dimana peranannya mencapai 18.33
persen pada tahun 2012. Sektor-sektor lain yang juga tidak kalah penting dalam menyumbang PDRB
adalah jasa-jasa sebesar 11.98 persen pada tahun 2012 sebagai penyumbang terbesar ketiga dalam
pembentukan PDRB.
Trend perubahan yang terjadi adalah pergeseran kepada sektor perdagangan, jasa, dan
industri pengelolaan yang hampir selalu mengalami peningkatan setiap tahun, sedangkan sektor
lainya mengalami penurunan.

1.1 Struktur Ekonomi Kecamatan Kecamatan-Kecamatan Demak (Spasial)


Struktur ekonomi kecamatan merupakan gambaran mengenai kontribusi tiap-tiap sektor di
dalam tiap-tiap kecamatan dalam wilayah. Struktur kecamatan tersebut dapat digunakan untuk
mengetahui spesialisasi sektor dalam tiap kecamatan sehingga dapat diketahui potensi yang dapat
dikembangkan untuk kecamatan tersbut.
Tabel 1.4 Struktur Ekonomi Spasial Kecamatan-Kecamatan Kabupaten Demak Tahun 2008-2012

2011
Mranggen Karangawen Guntur Sayung Karangtengah Bonang Dempet Wonosalam Demak Gajah Kebonagung Karanganyar
Pertanian
22.56
38.37 48.01 28.37
34.64
55.43 59.10
46.44 21.20 58.13
66.85
55.13
Pertambangan dan Penggalian
0.14
0.28
0.12
0.14
0.08
0.10
0.09
0.10 0.07 0.08
0.09
0.11
Industri Pengolahan
19.09
22.64
5.83 28.98
21.09
6.02
2.27
5.57 2.60 2.00
1.13
5.71
Listrik, Gas dan Air Bersih
0.75
0.41
0.34
0.71
0.61
0.76
0.60
0.85 0.86 0.69
0.59
0.41
Bangunan
6.58
4.86
7.28
6.87
6.14
5.90
5.87
8.15 5.98 6.48
6.77
6.84
Perdagangan
27.37
20.00 22.72 20.11
20.54
15.65 18.33
16.70 22.88 18.75
11.50
15.79
Pengangkutan dan Komunikasi
3.22
3.98
2.56
2.78
5.49
5.77
4.16
5.22 6.75 2.61
3.82
4.63
Lembaga Keuangan, Persewaan
8.25
2.25
3.58
3.50
3.09
3.20
2.87
3.02 7.01 2.87
2.44
3.08
Jasa-Jasa
12.04
7.20
9.56
8.55
8.33
7.16
6.71
13.96 32.65 8.38
6.82
8.30
Total
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100

Mijen Wedung
45.98 49.72
0.10
1.53
10.31
3.89
0.56
0.83
6.77
6.21
20.72 22.03
2.76
5.00
3.26
2.47
9.53
8.32
100
100

Grafik 1.2 Struktur Ekonomi Spasial Kecematan Kecamatan Kabupaten


Demak Tahun (%) 2008-2012
100%
12.04
90%

7.20
2.25
3.98

8.25
80%

3.22

22.72

30%
20%
10%

8.55
3.50
2.78

20.11

8.33

7.16

3.09
5.49

3.20
5.77

6.71
2.87
4.16

13.96
3.02
5.22

8.38

6.82

2.87
2.61

2.44
3.82

32.65

15.65 18.33

27.37

4.86
0.41

22.64
6.58
0.75

7.28
0.34
5.83
0.12

6.87
0.71

18.75

28.98

6.14
0.61

5.87
0.60
2.27
0.09

7.01
8.15

6.75

6.77
0.59
1.13
0.09

6.48
0.69
2.00
0.08

0.85
5.57
0.10

21.09

9.53

8.32

3.08
4.63

3.26
2.76

2.47
5.00

15.79

20.54
5.90
0.76
6.02
0.10

8.30

11.50

16.70

50%
40%

3.58
2.56

20.00

70%
60%

9.56

6.84
0.41
5.71
0.11

20.72 22.03

6.77
0.56
10.31

6.21
0.83
3.89
1.53

0.10
22.88

0.28
0.08

19.09
0.14

66.85
55.43

48.01

0.14

59.10
46.44

38.37

5.98
0.86
2.60
0.07

58.13

55.13
45.98

49.72

34.64
28.37

22.56

21.20

0%

Pertanian

Pertambangan dan Penggalian

Industri Pengolahan

Listrik, Gas dan Air Bersih

Bangunan

Perdagangan

Pengangkutan dan Komunikasi

Lembaga Keuangan, Persewaan

Jasa-Jasa

Sumber : Olah Data 2014 & Demak Dalam Angka 2009 dan 2013
Pada tabel dan grafik diatas, dapat terlihat bahwa tiap kecamatan memiliki kontribusi yang
berbeda-beda untuk sektornya, ada pun hasil analisisnya sebagai berikut :
1. Sektor pertanian masih mendominasi sebagai sektor di setiap kecamatan di Kabupaten Demak,
hanya ada 3 kecamatan yang bukan berbasis sektor pertanian, yaitu Kecamatan Mranggen,
Kecamatan Demak, dan Kecamatan Sayung. Persentase sektor pertanian tertinggi ada pada
kecamatan Kebon Agung dengan basis ekonomi mencapai 66.85 persen. Sedangkan yang
terkecil adalah pada kecamatan Demak yaitu 21%.

2. Kecamatan dengan sektor basis perdagangan terbesar adalah Mranggen, letaknya yang
bersebelahan dengan Kota Semarang sehingga terkena efek spill over dari kegiatan
perdagangan dan jasa Kota Semarang.
3. Sektor industri pengolahan terbanyak ada di kecamatan sayung, hal ini terjadi karena
Kecamatan Sayung berada di perbatasan kota besar yaitu Semarang dan terletak di jalan
pantura sehingga sangat menguntungkan dan cocok ditetapkan sebagai kawasana industri.

2. Analisis Pola Keruangan Ekonomi Wilayah


Analisis pola keruangan ekonomi wilayah digunakan untuk mengetahui sumbangan atau
peranan masing masing bagian wilayah dalam perekonomian kawasan perencanaan secara
keseluruhan dalam suatu tahap tertentu.
Indikator pola keruangan ekonomi wilayah ada dua yaitu distribusi spasial PDRB dan
distribusi spasial tenaga kerja, namun karena tidak ada data tenaga kerja menurut lapangan usaha,
maka hanya akan dilakukan analisis distribusi spasial PDRB kabupaten dan pola keruangan ekonomi
tiap kecamatan menggunakan grafik batang dengan data PDRB ADHB dalam persen.

2.1 Distribusi Spasial PDRB


Distribusi spasial PDRB adalah alat analisis yang digunakan untuk mengetahui sumbangan
kecamatan tehadap PDRB kabupaten dalam suatu wilayah, beriku adalah analisisnya
Tabel 2.1 Ranking PDRB Kecamatan-Kecamatan Kabupaten Demak Tahun 2011
PDRB ADHK Tahun
2011
Kebonagung
131,361
Mijen
162,560
Gajah
163,550
Guntur
178,119
Karanganyar
186,299
Dempet
191,905
Wonosalam
196,881
Karangtengah
197,966
Wedung
210,288
Bonang
251,053
Karangawen
256,961
Sayung
264,442
Mranggen
355,818
Demak
408,944
Sumber : Olah Data 2014 & Demak Dalam Angka 2009 dan 2013
Kecamatan

Grafik 2.1 Rangking PDRB Kab. Demak Menurut Kecamatan Tahun


2011
Demak

408,944

Mranggen

355,818

Sayung

264,442

Karangawen

256,961

Bonang

251,053

Wedung

210,288

Karangtengah

197,966

Wonosalam

196,881

Dempet

191,905

Karanganyar

186,299

Guntur

178,119

Gajah

163,550

Mijen

162,560

Kebonagung

131,361
0

50,000

100,000

150,000

200,000

250,000

300,000

350,000

400,000

450,000

Sumber : Olah Data 2014 & Demak Dalam Angka 2009 dan 2013
Dari tabel dan grafik di atas dapat diketahui bahwa Kecamatan Demak merupakan
penymbang PDRB paling besar di Kabupaten Demak dengan sumbangan sebesar 408,994 milyar
pada tahun 2011, urutan kedua adalah Kecamatan Mranggen dengan sumbangan sebesar 355,818
milyar, sedangkan rangking ke tiga ditempati oleh Kecamatan Sayung dengan sumbangan 264,442
miliyar. Kecamatan Kebonagung adalah kecamatan dengan sumbangan PDRB terendah yaitu
131,361 miliyar.
Terdapat fakta menarik yaitu walaupun Kecamatan Kebonagung memiliki struktur ekonomi
dengan kontribusi 66.8 persen pada sektor pertanian, namun karena wilayahnya yang paling sempit
menjadikan produksi pertanianya tidak berpengaruh besar terhadap sumbangan PDRB Kab. Demak.

2.1 Pola Keruangan Ekonomi


Analisis Pola Keruangan ekonomi digunakan untuk mengetahui persen sumbangan tiap tiap
kecamatan terhadap tiap-tiap sektor PDRB Kabupaten yang berada di kabupaten tersebut, berikut
adalah analisinya
Tabel 2.2 Pola Keruangan Ekonomi Kabupaten Demak (%) Tahun 2011

Mranggen
Karangawen
Guntur
Sayung
Karangtengah
Bonang
Dempet
Wonosalam
Demak
Gajah
Kebonagung
Karanganyar
Mijen
Wedung

Pertanian Pertambangan dan


Industri
Penggalian
Pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Bangunan
Bersih Perdagangan Pengangkutan dan
Lembaga
Komunikasi
Keuangan,
Jasa-Jasa
Persewaan
PDRB
6.16
7.53
20.20
12.63
11.58
15.24
8.32
22.73
11.27 11.27
7.56
10.97
17.30
4.96
6.19
8.04
7.43
4.47
4.87 8.14
6.56
3.20
3.09
2.88
6.42
6.33
3.31
4.93
4.48 5.64
5.75
5.40
22.79
8.96
8.99
8.32
5.33
7.17
5.78 8.38
5.26
2.51
12.42
5.74
6.01
6.36
7.89
4.73
4.34 6.27
10.67
3.62
4.50
9.12
7.33
6.15
10.53
6.22
4.73 7.95
8.70
2.51
1.30
5.53
5.58
5.50
5.79
4.26
3.39 6.08
7.01
2.88
3.26
8.01
7.94
5.14
7.46
4.60
7.25 6.24
6.65
4.07
3.16
16.83
12.10
14.64
20.04
22.21
35.16 12.96
7.29
2.04
0.97
5.39
5.25
4.80
3.09
3.63
3.61 5.18
6.74
1.70
0.44
3.71
4.40
2.36
3.65
2.48
2.36 4.16
7.88
3.01
3.17
3.65
6.31
4.60
6.26
4.44
4.07 5.90
5.73
2.38
4.98
4.32
5.45
5.27
3.26
4.10
4.08 5.15
8.02
48.20
2.43
8.27
6.46
7.25
7.63
4.03
4.61 6.66
100
100
100
100
100
100
100
100
100 100

Grafik 2.2 Pola Keruangan Ekonomi Kab. Demak (%), Tahun 2011
100%
90%

Wedung

80%

Mijen

70%

Karanganyar

60%

Kebonagung

50%

Gajah

40%

Demak

30%

Wonosalam

20%

Dempet

10%

Bonang

0%

Karangtengah
Sayung
Guntur
Karangawen
Mranggen

Sumber : Olah Data 2014 & Demak Dalam Angka 2009 dan 2013
Berdasarkan grafik pola keruangan ekonomi di atas, Kabupaten Demak memiliki beberapa
lokasi sektor utama diantaranya adalah Kecamatan Wedung sebagai lokasi yang memiliki kontribusi
sektor pertambangan sebesar 48%. Untuk industri pengolahan kontribusi lokasi terbesar berada di
Kecamatan Sayung, Mranggen, dan Karangawen. Industri tersebut berada di kecamatan tersebut
karena letaknya berada di pinggir Kota Semarang dan merupakan luberan aglomerasi kegiatan
Semarang. Lembaga keuangan dan persewaan terbesar berada pada Kecamatan Mranggen dan
Demak, sedangkan jasa-jasa berada di teraglomerasi terbesar di Kecamatan Demak sebagai pusat
kota.

3. Analisis Laju Pertumbuhan Ekonomi Wilayah

3.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten


Analisis laju pertumbuhan ekonomi digunakan untuk mengetahui kenaikan produksi riil yang
dihasilkan suatu daerah. Dalam menghitung laju pertumbuhan ekonomi wilayah dibutuhkan data
PDRB harga konstan dengan pertimbangan data PDRB harga konstan hanya melihat peningkatan
produksi riil dan tidak melihat peningkatan harga sehingga hasilnya lebih relevan dari pada
menghitung dengan PDRB harga berlaku. Metode untuk menghitung laju pertumbuhan ekonomi
terdapat dua metode yaitu metode sederhana dan metode end to end :
a. Metode Sederhana
Y = Pertumbuhan ekonomi
PDRB (t) = PDRB tahun t
PDRB (t-1) = PDRB tahun sebelumnya
b. Metode End to End
Y = pertumbuhan ekonomi
PDRBt = PDRB tahun t
PDRBto = PDRB tahun awal
Dalam melakukan analisi kali ini, penulis menggunakan metode sederhana karena hasil akhir
dari kedua metode tersebut tidak jauh berbeda jika menggunakan analisis sederhana, berikut adalah
data dan perhitunganya,
Tabel 3.1 PDRB ADHK, ADHB, dan Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Demak Tahun 2008-2012
PDRB Kabupaten Demak
Tahun

2008

2009

2010

2011

2012

PDRB ADHB

4,431,378.18 5,334,222.62 5,932,795.44 6,517,206.96 7,168,401.56

PDRB ADHK

2,787,524.02 2,901,141.52 3,020,794.05 3,156,126.23 3,302,610.18

Pertumbuhan ADHK

4.08

4.12

4.48

4.64

Grafik 3.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kab. Demak (%), Tahun 2009 2012
3,400,000.00

4.7

3,300,000.00

4.6

3,200,000.00

4.5

3,100,000.00

4.4

3,000,000.00

4.3

2,900,000.00

4.2

2,800,000.00

4.1

2,700,000.00

2,600,000.00

3.9

2,500,000.00

3.8
2008

2009
PDRB ADHK

2010

2011

2012

Pertumbuhan ADHK

Sumber : Olah Data 2014 & Demak Dalam Angka 2009 dan 2013
Dilihat dari grafik diatas, terlihat bahwa laju pertumbuhan ekonomi meningkat dari tahun ke
tahun, itu juga di sebabkan oleh peningkatan nilai PDRB ADHK setiap tahunnya. Kesimpulannya
adalah, laju pertumbuhan ekonomi kabupaten Demak berbanding lurus dengan pertumbuhan PDRB
ADHK, lajunya meningkat tiap tahun, dan mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif namun
tidak cepat.

3.2 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektoral


Laju pertumbuhan ekonomi sektor merupakan pergerakan ekonomi tiap sektor dengan
satuan persen, dihitung secara time series menggunakan data sektor PDRB ADHK, analisis laju
pertumbuhan sektoral digunakan untuk mengetahui tren perubahan maupun pergeseran sektor
ekonomi suatu wilayah dari waktu ke waktu, perhitunganya akan ditunjukan oleh tabel berikut ini:
Tabel 3.2 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Demak Atas Dasar Harga Konstan Menurut
Lapangan Usaha tahun 2008 2012 .
PERTUMBUHAN EKONOMI ADHK (persen)
Lapangan usaha
2009
2010
Pertanian
4.20
2.74
a.Tanaman Bahan Pangan
4.64
2.24
b.Tanaman Perkebunan
-1.08
-0.55
c.Peternakan dan Hasil hasilnya
3.48
7.64
d.Kehutanan
9.19
1.30
e.Perikanan
2.62
4.81
Pertambangan dan Penggalian
3.87
4.47
Industri Pengelolaan
2.22
4.38

2011
3.47
3.74
0.37
2.98
1.08
2.44
2.48
6.50

2012
3.43
3.67
0.45
3.03
1.03
2.51
2.78
7.15

Listrik,Gas,dan Restoran
Bangunan
Perdagangan,Hotel,dan Restoran
Pengangkutan dan Komunikasi
Keuangan,Persewaan,Jasa Perusahaan
Jasa Jasa
PDRB ADHK ( ekonomi kabupaten )

5.39
3.91
3.66
4.43
4.96
5.64
4.08

5.83
5.34
4.64
6.64
4.76
6.11
4.12

3.66
4.49
4.81
4.94
4.59
5.57
4.48

3.76
4.66
4.98
5.05
4.85
5.86
4.64

Grafik 3.2 Laju Pertumbuhan Ekonomi Tiap Sektor Kab. Demak (%),
Tahun 2009-2012
8
Pertanian
7
Pertambangan dan
Penggalian

Industri Pengelolaan
5
Listrik,Gas,dan Restoran
4
Bangunan
3
Perdagangan,Hotel,dan
Restoran

Pengangkutan dan
Komunikasi

Keuangan,Persewaan,Jas
a Perusahaan

0
2009

2010

2011

Jasa Jasa

2012

Sumber : Olah Data 2014 & Demak Dalam Angka 2009 dan 2013
Berdasarkan tabel dan grafik 3.2 laju pertumbuhan pada tahun 2009 2012 secara umum
memiliki pola naik pada tahun 2009 ke 2010, turun pada 2010 ke 2011, dan merambat naik lagi pada
tahun 2011 ke 2012 kecuali sektor pertanian yang memiliki pola kebalikanya, keuangan dan
persewaan jasa perusahaan yang hampir stagnan, dan industri pengolahan yang konstan naik setiap
waktu.
Sektor yang penting di cermati adalah sektor industri pengolahan yang meningkat dari waktu
ke waktu secara tajam yang menandakan pertumbuhan dan pembangunan sektor industri di
Kabupaten Demak berjalan dengan baik, namun bersamaan dengan hal tersbut sektor pertanian
justru kecenderunganya terus menurun, sehingga ada kemungkinan sedang terjadi pergeseran
sektor

ekonomi

di

4. Analisis PDRB Perkapita Kabupaten Demak

Kabupaten

Demak.

Tingkat kemakmuran penduduk suatu kabupaten, sangat tergantung oleh kinerja


perekonomian kecamatan-kecamatan dan dapat dilihat melalui PDRB perkapita tiap kecamatan.
PDRB perkapita merupakan gambaran rata-rata pendapatan penduduk selama satu tahun di suatu
wilayah. Dalam mengitung PDRB perkapita digunakan data PDRB ADHK/ADHB dan dengan rumus
sebagai berikut

PDRB Perkapita =

Nilai PDRB Kecamatan

Jumlah Penduduk Kecamatan

1 juta

Tabel 3.1 Tabel PDRB Perkapita ADHK & ADHB Kabupaten Demak (juta), 2008-2012
Jumlah Penduduk
PDRB ADHK ( JUTA )
PDRB ADHB ( JUTA )

2008
1,074,566
2,787,524.0
2
4,431,378.1
8

2009
1,086,410
2,795,141.5
2
5,334,222.6
2

2010
1,097,280
3,020,794.0
5
5,932,795.4
4

2011
1,057,049
3,156,126.2
3
6,517,206.9
6

PDRB Per Kapita ADHK (


2.59
2.57
2.75
2.99
JUTA)
PDRB per Kapita ( JUTA )
4.12
4.91
5.41
6.17
Sumber : Kecamatan Dalam Angka 2011 dan 2012 & Olah Data 2014

2012
1,059,038
3,302,610.1
8
7,168,401.5
6
3.12
6.77

Tabel 3.1 Tabel PDRB Perkapita ADHK & ADHB Kabupaten Demak (juta), 2008-2012
8
7
6.77

6.17

5.41
4.91

4.12

3
2

2.59

2.57

2.75

2.99

3.12

1
0
2008

2009

2010

PDRB Per Kapita ADHK ( JUTA)

2011

2012

PDRB Per Kapita ( JUTA )

Sumber : Kecamatan Dalam Angka 2011 dan 2012 & Olah Data 2014
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut terlihat bahwa terjadi peningkatan pendapatan per
kapita penduduk di Kabupaten Demak dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten
Demak telah mampu meningkatkan kemakmuran penduduknya. Untuk melihat pendapatan per
kapita di masing masing kecamatan di Kabupaten Demak, berikut adalah hasil perhitungannya pada
tahun 2010-2011.
Tabel 3.2 Tabel PDRB Perkapita Berdasarkan Harga Konstan Kabupaten Demak (juta), 2008-2012

PDRB PERKAPITA KECAMATAN


KECAMATAN
2010
2011
pertumbuhan
Demak
3.94
4.11
4.38
Gajah
3.66
3.69
0.79
Dempet
3.33
3.69
10.64
Kebonagung
3.32
3.44
3.80
Karangtengah
3.17
3.32
4.61
Mijen
2.68
3.22
20.29
Karangawen
2.88
3.01
4.52
Wedung
2.57
2.96
15.16
Wonosalam
2.66
2.73
2.40
Karanganyar
2.58
2.69
4.18
Sayung
2.53
2.67
5.57
Bonang
2.49
2.60
4.46
Guntur
2.36
2.47
4.54
Mranggen
2.15
2.20
2.39
Sumber : Kecamatan Dalam Angka 2011 dan 2012 & Olah Data 2014
Grafik 3.2 PDRB Perkapita Kecamatan Tahun 2010
4.50

25.00

4.00
20.00

3.50
3.00

15.00

2.50
2.00

10.00

1.50
1.00

5.00

0.50
0.00

0.00

PDRB PERKAPITA KECAMATAN

PDRB PERKAPITA KECAMATAN

PDRB PERKAPITA KECAMATAN

Sumber : Kecamatan Dalam Angka 2011 dan 2012 & Olah Data 2014
Dari grafik diatas, dapat terlihat lima besar kecamatan yang mempunyai PDRB terbesar
tahun 2010 yaitu Kecamatan Demak, Kecamatan Gajah, Kecamatan dempet, Kecamatan
Karangtengah, dan Kecamatan KebonAgung. Dari pertumbuhanya terdapat tiga besar kecamatan
dengan pertumbuhan tertinggi yaitu Kecamatan Mijen, Wedung, dan Dempet.
PDRB perkapita terbesar di Kabupaten Demak berada di Kecamatan Demak sebesar 4,11
juta/kapita pada tahun 2011. Dari grafik tersebut juga nampak bahwa perkembangan pendapatan

perkapita pada tahun 2010-2011 di Kecamatan Wedung dan Mijen mengalami lonjakan yang cukup
signifikan. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk di kecamatan ini mengalami penurunan yang cukup
tinggi hingga 8.000 jiwa namun mengalami kenaikan PDRB dalam kurun waktu satu tahun yaitu
tahun 2010-2011. Untuk PDRB per kapita terendahnya berada di Kecamatan Mranggen. Hal ini
dikarenakan jumlah penduduk di kecamatan ini terbilang besar yaitu mencapai lebih dari 150.000
jiwa.

5. Kesimpulan Kinerja Ekonomi Kabupaten Demak


Berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan beberapa kesimpulan terkai kinerjjaj ekonomi
Kabupaten demak diantaranya :
a. Dari segi struktur ekonomi dengan dasar data PDRB ADHK, Kabupaten Demak masih
memiliki basis sektor pertanian dengan dominasi trend perubahan yang terjadi adalah
pergeseran kepada sektor perdagangan, jasa, dan industri pengelolaan yang hampir selalu
mengalami peningkatan setiap tahun, sedangkan sektor lainya mengalami penurunan.
b. Sebagian besar kecamatan masih berbasis sektor pertanian kecuali pusat kota dan
kecamatan di dekat Kota Semarang, yang berbasis perdagangan, jasa, dan industri
pengolahan yaitu Kecamatan Demak, Mranggen, dan Sayung
c. Kecamatan Demak merupakan penyumbang PDRB paling besar di Kabupaten Demak dengan
sumbangan sebesar 408,994 milyar pada tahun 2011, urutan kedua adalah Kecamatan
Mranggen dengan sumbangan sebesar 355,818 milyar, sedangkan rangking ke tiga ditempati
oleh Kecamatan Sayung dengan sumbangan 264,442 miliyar. Terkait dengan sektor
utamanya perdagangan, jasa, dan industri pengolahan sebagai penyumbang terbesar PDRB.
d. Laju pertumbuhan ekonomi kabupaten Demak berbanding lurus dengan pertumbuhan PDRB
ADHK, lajunya meningkat tiap tahun, dan mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif
namun tidak cepat tetapi lambat.
e. Kinerja ekonomi Kabupaten Demak tidak terlalu tinggi sehingga berdampak pada
pendapatan perkapitanya juga rendah walaupun naik dari waktu ke waktu. Peningktan
kinerja ekonomi sangat dipelukan untuk mensejajarkan posisi demak dan mengejar
ketertinggalan dengan daerah lainya.