Anda di halaman 1dari 22

Penyakit Gangguan Sistem Imun

Ledy Martha Aridiana, S.Kep. Ns. M.Kes

Artritis Reumatoid
Gangguan kronik yang menyerang berbagai
sistem organ
Penyakit jaringan penyambung difus yang
diperantarai oleh imunitas dan tidak diketahui
sebabnya
Terjadi destruksi sendi secara progresif
2,5 kali lebih banyak terjadi pada wanita (usia
40-60th)

Penyebab AR
Belum diketahui secara pasti
Genetik (pada orang kulit putih)
wanita yang sedang hamil faktor
keseimbangan hormonal
Infeksi karena timbul secara mendadak, dan
terdapat gambaran inflamasi yang mencolok, agen
infeksius : bakteri, mikoplasma/virus
Heat shock protein (HSP) sekelompok protein
berukuran sedang yang merupakan respon
terhadap stres

Patofisiologi
Terjadi destruksi jaringan sendi melalui dua cara
1. Destruksi pencernaan melalui protease, kolagenasi
dan enzim-enzim hidrolotik lainnya.
Enzim ini memecahkan tulang rawan, ligamen,
tendon dan tulang pada sendi
dilepaskan bersama radikal oksigen dan
metabolit asam arakhidonat oleh leukosit
polimorfonuklear dalam cairan sinovial
proses ini adalah respon autoimun
2. Destruksi melalui kerja panus reumatoid
panus meruapakn jaringan granulasi vaskuler
yang terbentuk dari sinovium yang meradang
kemudian meluas ke sendi

Manifestasi klinis
Lelah hebat, anoreksia, berat badan menurun, demam
Kaku pagi hari (morning stiffness)
Kekakuan pada pagi hari pada persendian dan sekitarnya,
sejak bangun tidur sampai sekurang-kurangnya 1 jam
sebelum perbaikan maksimal

Artritis pada 3 daerah


Terjadi pembengkaan jaringan lunak atau persendian,
bukan pembesaran tulang.
Terjadi sekurang-kurangnya pada 3 sendi secara
bersamaan
sendi : interfalang proksimal, metakarpofalang,
pergelangan tangan, siku, pergelangan kaki,
metatarsofalang kiri dan kanan

Artritis pada persendian tangan


terjadi pembengkakan satu persendian tangan
Artritis simetris
keterlibatan sendi yang sama pada kedua sisi
yang serentak
Nodul reumatoid
nodul subkutan pada penonjolan tulang
Faktor reumatoid serum positif
Perubahan gambaran radiologis erosi atau
dekalsifikasi tulang pada sendi

Pemeriksaan penunjang

Tes faktor reuma


Protein C reaktif biasanya positif
LED meningkat
Leukosit normal atau meningkat sedikit
Anemia normositik hipokrom
Trombosit meningkat
Kadar albumin serum turun dan globulin naik

Penatalaksanaan
OAINS : untuk mengatasi nyeri sendi akibat inflamasi
aspirin dan ibuprofen
DMARD : untuk melindungi tulang rawan dan sendi
dari proses destruksi
klorokuin, sulfasalazin, D-penisilamin, garam emas, obat
imunosupresif atau imunoregulator, kortikosteroid

Rehabilitasi
pemakaian alat bidai, tongkat penyangga, walking
machine, kursi roda, sepatu, terapi mekanik,
pemanasan (hidroterapi)
pembedahan

Asuhan Keperawatan
Diagnosa

NOC

NIC

Nyeri akut berhubungan


dengan
agen cedera biologis

Nyeri terkontrol

-Manajemen Nyeri
-hidroterapi

Hipertermi berhubungan
dengan penyakitnya

Termoregulasi dalam batas Fever treatment


normal
Temperature regulation

Ketidakseimbangan nutrisi status nutrisi adekuat


kurang dari kebutuhan
tubuh
berhubungan dengan:
Faktor biologis

-Pengelolaan nutrisi
(Nutrion Management )
-Nutrition Monitoring
-Weight Management

Gangguan mobilitas fisik

Joint mobility : ROM


&PROM

kelelahan

mobility

Asma Bronkhiale : alergi


Penyakit dengan ciri meningkatnya respon
trakea dan bronkus terhadap berbagai
rangsangan dengan manifestasi adanya
penyempitan jalan nafas yang luas dan
derajatnya dapat berubah-ubah, baik secara
spontan maupun sebagai hasil pengobatan

Klasifikasi derajat asma


Derajat Asma

Gejala

Gejala Malam

Intermiten
mingguan

gejala < 1x/minggu


Tanpa gejala diluar serangan
Serangan singkat
Fungsi paru asimtomatik

<= 2x sebulan

Persisten ringan
mingguan

Gejala>= 1x/minggu tapi<1x/hari


Serangan dapat mengganggu aktivitas dan
tidur

> 2x seminggu

Persisten sedang
harian

Gejala harian
Menggunakan obat setiap hari
Serangan mengganggu aktivitas dan tidur
Serangan2x/minggu, bisa berhari-hari

> Sekali
seminggu

Persisten berat
kontinu

Gejala terus menerus


Aktivitas fisik terbatas
Sering serangan

sering

Patofosiologi
Gangguan saraf otonom meliputi saraf parasimpatis
(hiperaktivitas saraf kolinergik), gangguan saraf
simpatis dan hiperaktivitas adrenergik alfa. Hal ini
menimbulkan bronkostriksi
Gangguan reseptor kolinergik, rangsangan seperti
hawa dingin, asap rokok, partikel-partikel yang ada
dalam udara, tertawa dan sebagainya pada penderita
asma dapat menimbulkan serangan asma
Asma golongan ini bisa dicegah dengan obat-obatan
Asma bisa terjadi karena didapat

Pada gangguan sistem imun dimulai dengan


masuknya alergen dari luar badan ke dalam
saluran nafas
Alergen berupa debu rumah, spora jamur, tepung
sari, serpihan kulit hewan
Alergen merangsang sistem imun membentuk
antibodi jenis IgE
Imunoglobulin ini yang akan menempel pada
permukaan sel mastosit yang didapatkan
disepanjang sauran nafas dan kulit

Ikatan antara alergen yang masuk lagi kedalam


dengan IgE pada permukaan sel mastosit tadi
akan mencetuskan serangkaian reaksi dan
menyebabkan pengelepasan mediator kimia
seperti histamin, leukotrin, prostaglandin dan
lain-lain
Mediator ini menyebabkan bronkokonstriksi,
edema, hiperreaksi kelenjar-kelenjar sub mukosa
dan infiltrasi sel-sel radang saluran nafas

Gejala yang timbul berupa asma akut fase


cepat atau lambat bahkan asma kronik
Bronkus penderita asma sangat peka terhadap
rangsangan imunologi maupun non imunologi
Karena sifat ini serangan asma mudah terjadi
akibat berbagai rangsangan baik fisik,
metabolik, kimia, alergen, infeksi dsb

Faktor pencetus asma


Alergen utama debu rumah, spora jamur dan
tepung sari rerumputan
Iritan seperti asap, bau-bauan, polutan
Infeksi saluran nafas terutama disebabkan oleh
virus
Perubahan cuaca yang ekstrim
Kegiatan jasmani yang berlebihan
Lingkungan kerja
Obat-obatan
emosi

Manifestasi klinis
Bising mengi (wheezing)
Batuk produktif, seriing pada malam hari
Nafas atau dada seperti tertekan
Gejala bersifat paroksismal membaik pada
siang hari dan memburuk pada malam hari

Penatalaksanaan
Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma
Mencegah kekambuhan
Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta
mempertahankannya
Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal
termasuk melakukan exercise
Menghindari efeksamping obat asma
Mencegah obstruksi jalan nafas yang ireversibel
Obat-obatan :
Bronkodilator (agonis beta 2, metilxantin, antikolinergik)
Anti inflamasi (kortikosteroid, natrium kromolin)

Asuhan Keperawatan
Diagnosa

NOC

NIC

Gangguan pertukaran gas


berhubungan dengan
ketidakseimbangan perfusi
ventilasi

status pernafasan :
pertugaran gas adekuat

Pengelolaan asam basa


(acid base management)

Ketidakefektifan bersihan
jalan nafas berhubungan
dengan
Obstruksi jalan nafas :
Spasme jalan nafas

status pernafasan : jalan


nafas paten

Airway Management
Oxygen Therapy
Respiratory Monitoring

Intoleransi aktivitas

Activity tolerance

Activity therapy
Energy enhancement

Dermatitis atopik urtikaria


Urtikaria merupakan suatu reaksi vaskuler
pada kulit yang timbul mendadak dengan
gambaran lesi yang eritem, edema, dan sering
disertai gatal

Secara imunologik urtikaria merupakan salah


satu manifestasi keluhan alergi pada kulit
Urtikaria terdiri dari :
Bentuk akut
Kurang dari 6 minggu
Pada kelompok dewasa muda

Bentuk kronik
Lebih dari 6 bulan
Orang berusia pertengahan
Cenderung kambuh ulang

Faktor imunologik
Mekanisme hipersensitifitas mendasari
terjadinya urtikaria
Reaksi hipersensitifitas tipe I dengan
perantara IgE
Diikuti terjadinya aktivasi komplemen dan
diikuti terbentuknya anafilaktoksin dan
merangsang pelapasan histamin