Anda di halaman 1dari 63

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Negara Indonesia ini adalah negara berkembang yang sedang dalam masa
pertumbuhan ekonomi sehingga tidak luput dari perkembangan di sektor industri
untuk mendukung pertumbuhan tersebut. Sektor industri ini berperan penting
dalam pertumbuhan ekonomi karena merupakan salah satu sektor yang memiliki
andil cukup besar dalam menyumbangkan dana untuk pembangunan.
Perkembangan

sektor

industri

akan

berdampak

pada

pemakaian

sumberdaya alam yang ada. Sumberdaya alam yang ada tersebut dieksplorasi
dan diproses sehingga menjadi suatu produk yang bernilai ekonomis.
Sumberdaya alam juga ada yang dimanfaatkan sebagai sumber energi sebagai
utilitas pendukung proses produksi. Kegiatan industri dilakukan agar dapat
meningkatkan potensi dan nilai jual sumberdaya, akan tetapi juga berpotensi
menimbulkan dampak negatif yaitu adanya limbah akibat proses produksi dan
produk yang dihasilkan serta kemungkinan terjadinya degradasi terhadap
sumberdaya yang digunakan.
Dengan adanya perkembangan sektor industri namun tidak dibarengi
dengan upaya penanggulangan terhadap limbahnya serta kurangnya kesadaran
dari pihak industri dan pihak konsumen maka terjadi pencemaran lingkungan
yang sangat mengkhawatirkan. Kegiatan sektor industri tersebut telah
berkontribusi dalam pencemaran di tanah, udara dan perairan. Terjadinya
kontaminasi tanah oleh zat-zat kimia berbahaya, hujan asam, perubahan iklim
global karena efek rumah kaca, penipisan lapisan ozon, dan kontaminasi zat
kimia lainnya yang merusak lingkungan. Selain merusak lingkungan,
pencemaran tersebut berbahaya untuk kehidupan dan kesehatan makhluk hidup
termasuk manusia.
Melihat begitu banyaknya permasalahan yang disebabkan pencemaran
lingkungan, maka pihak masyarakat/konsumen, pihak industri dan pihak
pemerintah mulai tersadar untuk melakukan penanggulangan terhadap
permasalahan tersebut. Penanggulangan sudah tidak dapat lagi dilakukan di hilir

(end of pipe treatment) karena telah terjadi begitu banyak pencemaran


sebelumya. Maka diperlukan penanggulangan yang bersifat up the pipe
treatment yaitu penanggulangan sebelum limbah terbentuk. Sehingga dibuat
konsep produksi bersih, Produksi Bersih didefinisikan sebagai strategi
pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif, terpadu dan diterapkan secara
terus-menerus pada setiap kegiatan mulai dari hulu ke hilir yang terkait dengan
proses produksi, produk dan jasa untuk meningkatkan efisiensi penggunaan
sumberdaya alam, mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan mengurangi
terbentuknya limbah pada sumbernya sehingga dapat meminimisasi resiko
terhadap kesehatan dan keselamatan manusia serta kerusakan lingkungan (KLH,
2003).
Dalam produksi bersih terdapat beberapa teknik produksi bersih untuk
mengimplementasikan konsep tersebut. Karya tulis ini mengulas salah satu
teknik produksi bersih untuk menanggulangi pencemaran yang terjadi, teknik
produksi tersebut sesuai dengan judul karya tulis ini yaitu Penggantian Bahan
Baku atau Bahan Pembantu yang Ramah Lingkungan. Salah satu teknik
produksi ini penting untuk dilakukan karena dengan digunakannya bahan yang
ramah lingkungan diharapkan limbah yang dihasilkan akan berkurang
toksisitasnya, jumlah limbah dapat dikurangi, dan limbah yang dihasilkan dapat
didaur ulang atau diproses dengan sarana IPAL yang ada.
1.2

Rumusan Masalah
Apa pengertian dari bahan baku, bahan pembantu dan bahan berbahaya
beracun di industri?
Apa tujuan dari penggantian bahan baku atau bahan pembatu yang ramah
lingkungan?
Apa saja hal yang dapat dilakukan oleh industri dalam rangka penggantian
material dengan material yang ramah lingkungan?
Apa saja faktor penghambat dari produksi bersih?
Apa contoh studi kasus yang berhubungan dengan topik tersebut?

1.3

Tujuan Penulisan
Memahami pengertian dari bahan baku, bahan pembantu dan bahan
berbahaya beracun di industri
Mengetahui tujuan dari penggantian bahan baku atau bahan pembatu yang
ramah lingkungan
Mengetahui hal yang dapat dilakukan oleh industri dalam rangka penggantian
material dengan material yang ramah lingkungan
Mengetahui faktor-faktor yang menjadi penghambat produksi bersih
Memaparkan studi kasus yang berhubungan dengan topik tersebut

1.4

Metodelogi Penulisan
Dalam pembuatan karya tulis ini, kami menggunakan metoda studi
pustaka/kepustakaan dengan menggunakan data yang seakurat mungkin untuk
mendapatkan tujuan dari pembuatan karya tulis ini dengan sebaik mungkin.

1.5

Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dari makalah ini adalah terdiri dari 5 bab. Bab
pertama berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metodelogi
penulisan dan sistematika penulisan. Pada bab kedua berisi mengenai isi
tentang masalah dari latar belakang. Pada bab ketiga menjelaskan studi kasus
dari rumusan masalah. Pada bab keempat menjelaskan pembahasan dari studi
kasus yang dipaparkan. Setelah itu terdapat bab terakhir yaitu simpulan dan
saran, daftar pustaka yang berisi semua kepustakaan yang dijadikan sebagai
acuan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi

2.1.1 Produksi Bersih


Produksi Bersih merupakan tindakan efisiensi pemakaian bahan baku,
air dan energi, serta pencegahan pencemaran. Produksi bersih ini mempunyai
sasaran yakni peningkatan produktivitas dan minimisasi timbulan limbah.
Istilah Pencegahan Pencemaran seringkali digunakan untuk maksud yang
sama dengan istilah Produksi Bersih. Demikian pula halnya dengan Ecoefficiency

yang

menekankan

pendekatan

bisnis

yang

memberikan

peningkatan efisiensi secara ekonomi dan lingkungan.


Industri seringkali menghasilkan limbah yang berdampak buruk bagi
lingkungan jika langsung dibuang. Pengelolaan pencemaran melalui
pendekatan pengolahan limbah (end-of-pipe treatment) ternyata bukan cara
yang efektif dan hemat biaya, oleh karena itu strategi pengelolaan lingkungan
harus diubah ke arah pencegahan pencemaran, yaitu dengan penerapan
Produksi Bersih. Strategi ini merupakan paradigma baru dalam pengelolaan
pencemaran lingkungan, sehingga masalah pencemaran lingkungan, terutama
bagi industri, tidak lagi identik dengan pengeluaran tambahan yang
menaikkan biaya produksi bagi industri tersebut (Saribanon, 2003).
Menurut UNEP (United Nations Environment Program) Produksi
bersih merupakan strategi pengolahan yang bersifat preventif dan terpadu.
Oleh karena itu, strategi tersebut perlu untuk diterapkan secara terus menerus
pada proses produksi dan daur hidup produk dengan tujuan untuk
mengurangi resiko terhadap manusia dan lingkungan (UNEP, 2003).
Produksi bersih merupakan strategi pengelolaan lingkungan yang
bersifat preventif, terpadu dan diterapkan secara terus-menerus pada setiap
kegiatan mulai dari hulu ke hilir yang terkait dengan proses produksi, produk
dan jasa untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam,
mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan mengurangi terbentuknya

limbah pada,sumbernya sehingga dapat meminimisasi resiko terhadap


kesehatan dan keselamatan manusia serta kerusakan lingkungan (KLH,2003).
Menurut BAPEDAL Pusat (1998). Produksi bersih merupakan suatu
strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu yang
perlu diterapkan terus menerus pada proses produksi dan praproduksi,
sehingga mengurangi risiko terhadap manusia dan lingkungan. Dimana
Produksi bersih tidak hanya menyangkut proses produksi, tetapi juga
menyangkut pengelolaan seluruh daur hidup produksi, yang dimulai dari
pengadaan bahan baku dan pendukung, proses dan operasi, hasil produksi
dan limbahnya sampai ke distribusi serta konsumsi.

2.1.2 Minimasi Limbah


Minimisasi limbah adalah upaya untuk mengurangi volume,
konsentrasi, toksisitas, dan tingkat bahaya limbah yang berasal dari proses
produksi, dengan cara reduksi pada sumbernya dan/atau pemanfaatan limbah
berupa reuse, recycle, dan recovery. Menurut Kepmenkes RI No. 1204 Tahun
2004, minimisasi limbah merupakan salah satu upaya untuk mengurangi
jumlah limbah yang dihasilkan oleh kegiatan pelayanan kesehatan. Jadi,
minimisasi limbah medis yaitu upaya untuk mengurangi volume, konsentrasi,
toksisitas, dan tingkat bahaya limbah yang berasal dari dihasilkan oleh
kegiatan rumah sakit, dengan cara reduksi pada sumbernya dan/atau
pemanfaatan limbah berupa reuse, recycle, dan recovery.
Minimisasi limbah mencakup pencegahan pencemaran dan daur ulang
serta cara lain untuk mengurangi jumlah limbah yang harus diolah atau
ditimbun. Prioritas utama minimisasi limbah adalah reduksi pada sumbernya.
Aktivitas yang dapat mereduksi limbah lebih baik dilakukan daripada
aktivitas mendaur ulang limbah karena lebih mungkin untuk dilakukan dan
dapat menghemat biaya. Sedangkan pemanfataan limbah melalui daur ulang
dan perolehan kembali setelah upaya reduksi pada sumber dilakukan.
Beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan
meminimisasi limbah harus kita ketahui, seperti informasi mengenai jenis
material yang dapat direduksi ataupun dimanfaatkan kembali, volume

produksi limbah yang dihasilkan, upaya minimisasi limbah yang telah


dilakukan, analisis biaya untuk menentukan kemungkinan perubahan praktek
yang dilakukan, prioritas upaya berdasarkan peraturan yang berlaku, biaya,
volume, dan lainnya, serta identifikasi peluang minimisasi limbah baik
reduksi limbah pada sumbernya, penggunaan kembali limbah, maupun daur
ulang limbah. (Lee, 1992).
Merupakan upaya untuk mengurangi volume, konsentrasi, toksisitas,
dan tingkat bahaya limbah yang akan menyebar di lingkungan, secara
preventif langsung pada sumber pencemar. Juga merupakan upaya untuk
mengurangi volume, konsentrasi, toksisitas, dan tingkat bahaya limbah yang
dilakukan langsung dari sumbernya.
Konsep minimisasi limbah berupa reduksi limbah langsung dari
sumbernya menggunakan pendekatan pencegahan dan teknik yang meliputi
perubahan bahan baku (pengelolaan bahan dan modifikasi bahan), perubahan
teknologi (modifikasi proses dan teknologi bersih), praktek operasi yang baik
(housekeeping, segregasi limbah, preventive maintenance), dan perubahan
produk yang tidak berbahaya.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan pada reduksi ini, antara lain
dengan

Melakukan

Housekeeping,

Pemilahan

(Segregasi)

Limbah,

Pemeliharaan Pencegahan (Preventive Maintenance), Pemilihan Teknologi


dan Proses, Pengelolaan bahan (material inventory, Pengaturan kondisi
proses dan operasi yang baik, Pengoperasian alat sesuai dengan kondisi yang
optimum sehingga dapat , Modifikasi atau subsitusi bahan, Penggunaan
teknologi bersih

2.1.3 Bahan Baku dan Bahan Pembantu


Menurut Wikipedia, bahan baku adalah bahan yang digunakan dalam
membuat produk dimana bahan tersebut secara menyeluruh tampak pada
produk jadinya (atau merupakan bagian terbesar dari bentuk barang).

Menurut Soemarso (2004:271) Bahan baku adalah barang-barang


yang digunakan dalam proses produksi yang dapat dengan mudah dan
langsung diidentifikasi dengan barang atau produk jadi.
Menurut Mulyadi (2005:275) bahan baku merupakan bahan yang
membentuk bagian menyeluruh produk jadi.
Bahan pembantu adalah bahan yang ditambahkan dan sifatnya hanya
untuk melengkapi.

2.1.4 Molase
Molase (bahasa Inggris: molasses) merupakan produk sampingan dari
industri pengolahan gula tebu atau gula bit yang masih mengandung gula dan
asam-asam organik. Molase yang hasil dari industri gula tebu di Indonesia
dikenal dengan nama tetes tebu. Kandungan sukrosa dalam molase cukup
tinggi, berkisar 48-55% sehingga dapat digunakan sebagai sumber yang baik
untuk pembuatan etanol. Molase berbentuk cairan kental berwarna cokelat ini
dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku etanol, alkohol, pembentuk asam
sitrat, MSG, dan gasohol.
2.1.5 Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
Bahan berbahaya dan beracun adalah bahan yang karena sifat dan
atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau
dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup
manusia serta makhluk hidup lainnya.
Menurut PP No.74 tahun 2001 tentang pengelolaan B3, B3 dapat
diklasifikasikan:
1.

Mudah meledak (explosive)

2.

Pengoksidasi (oxidizing)

3.

sangat mudah sekali menyala (extremely flammable)

4.

sangat mudah menyala (highly flammable)

5.

mudah menyala (flammable)

2.2

6.

amat sangat beracun (extremely toxic)

7.

sangat beracun (highly toxic)

8.

Beracun (moderately toxic)

9.

berbahaya (harmful)

10.

korosif (corrosive)

11.

bersifat iritasi (irritant)

12.

berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment)

13.

karsinogenik (carcinogenic)

14.

teratogenik (teratogenic)

15.

mutagenik (mutagenic)

Kebijakan
Dalam

penerapan

pengelolaan

lingkungan

di

sektor

industri,

Kementerian Perindustrian menetapkan upaya dan kebijakan, diantaranya


adalah:
1. Program Pembangunan Industri Hijau. Program ini akan mendorong
sektor industri agar menggunakan energi dan air secara hemat,
menggunakan energi baru terbarukan, efisiensi bahan baku, menggunakan
bahan baku yang ramah lingkungan termasuk yang rendah karbon dan
rendah bahan berbahaya dan beracun (B3), proses produksi yang ramah
lingkungan, serta menerapkan prinsip 4R. Tujuan yang diharapkan adalah
produk industri yang tahan lama, dapat didaur ulang secara biologi dalam
waktu tertentu (degradability/compostability), berkualitas tinggi, terbuat
dari bahan baku yang rendah B3/dapat mengurangi B3 di lingkungan
(environmental clean up product).
2. Program Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca, diantaranya melalui
penyusunan pedoman teknis tentang pengurangan emisi CO2 yang saat ini
sudah dilakukan pada Industri Semen, Baja, Pulp & Kertas.
3. Program Konservasi Energi, diantaranya adalah Implementasi Konservasi
Energi dan Pengurangan Emisi CO2 di 50 (lima puluh) Sektor Industri
Baja dan Pulp & Kertas melalui kerjasama dengan Indonesia Climate
Change Trust Fund (ICCTF), diantaranya dengan output: baseline emisi
CO2; sistem manajemen informasi energi dan emisi; Standard Operational

Procedure

(SOP),

Technology

Need

Assessment

(TNA)

untuk

implementasi konservasi energi dan pengurangan emisi CO2; pedoman


umum dan pedoman teknis tingkat nasional dan draft peraturan menteri;
implementasi rekomendasi konservasi energi dan pengurangan emisi CO2;
dan kapasitas SDM industri.
4. Penerapan Produksi Bersih melalui:
a) Penyusunan Pedoman Teknis Produksi Bersih untuk beberapa komoditi
industri sebagai pedoman penerapan produksi bersih, diantaranya
Industri Kayu Lapis, Cat, Kosmetik, Pengalengan Ikan, Electroplating,
Pengecatan Furniture, Tekstil, dan Makanan (mini jelly);
b) Bantuan Teknis kepada beberapa industri untuk menerapkan produksi
bersih melalui pemberian bantuan teknis at company level, diantaranya
Industri Pulp & Kertas, Baterai, Penyamakan Kulit, Flexible
Packaging, Tekstil, dll.
5. Penggunaan Bahan Baku dan Mesin Ramah Lingkungan melalui Program
Penggantian

Bahan

yang

Merusak

Lingkungan,

dan

Program

Restrukturisasi Permesinan kepada Industri Tekstil dan Produksi Tekstil,


Alas Kaki, Penyamakan Kulit, Gula, dan Industri Kecil Menengah (IKM)
Sandang. Hingga tahun 2010, peremajaan mesin di industri tekstil telah
menyebabkan terjadinya penghematan energi sebesar 6 18%,
peningkatan produktivitas sebesar 7 17%; di industri gula terjadi
peningkatan kapasitas produksi 1,52%, efektifitas giling 1,2%, dan
efisiensi energi uap sebesar 0,9%; dan di industri alas kaki terjadi
peningkatan efisiensi energi sebesar 22 25%, kapasitas produksi sebesar
29,75%, dan produktifitas 5,46%. Peremajaan mesin ini juga menyerap
tenaga kerja yang signifikan jumlahnya.
6. Mendorong industri berpartisipasi dalam kegiatan perdagangan pasar
karbon.
Beberapa program lain yang sedang dan akan dikembangkan adalah
pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun, seperti electronic and electric
waste atau lebih dikenal dengan e-waste; pengembangan kawasan industri yang
berwawasan lingkungan; pengkajian potensi implementasi energi baru
terbarukan di sektor industri; pengkajian dan implementasi eco-labelling,

carbon footprint, energy service company (ESCO) di sektor industri; pengkajian


insentif dan disinsentif bagi sektor industri yang berkategori hijau dengan
melakukan konservasi energi dan pengurangan emisi CO2, menggunakan bahan
baku rendah karbon. Riset bidang teknologi bahan baku, bahan pembantu,
proses, produk, peralatan, bidang, pengolahan limbah padat cair, gas, udara,
kebisingan dan B3, teknologi produksi bersih, rancang bangun dan perekayasaan
serta bioteknologi bagi pengelolaan lingkungan dan pengolahan limbah industri
tengah dikembangkan melalui penelitian dan pengembangan.
PROPER merupakan salah satu bentuk kebijakan pemerintah, untuk
meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan perusahaan sesuai dengan yang
telah ditetapkan dalam peraturan perundangan-undangan. PROPER juga
merupakan perwujudan transparansi dan demokratisasi dalam pengelolaan
lingkungan di

Indonesia. Penerapan instrumen ini merupakan upaya

Kementerian Negara Lingkungan Hidup untuk menerapkan sebagian dari


prinsip-prinsip good governance (transparansi, berkeadilan, akuntabel, dan
pelibatan masyarakat) dalam pengelolaan lingkungan.
Adapun beberapa peraturan yang mengatur permasalahn produksi bersih
di industri, diantaranya:

Perpres No. 28 Tahun 2008 tentang kebijakan industri nasional jangka


panjang/ konsep pembangunan berkelanjutan yang dari segi ekonomi
mengedepankan Pembangunan industri yang mampu menghasilkan barang
yang dibutuhkan pasar secara kontinue akan tetapi tetap menjaga
keseimbangan ekosistem, memelihara sumberdaya yang berkelanjutan,
menghindari

eksploitasi

sumberdaya

alam

dan

fungsi

pelestarian

lingkungan lainnya.

Peraturan Menteri Perindustrian No. 33/M-IND/PER/4/2007 hal yang


diatur dalam kebijakan tesebut adalah perlindungan terhadap lapisan ozon
melalui kontrol produk, bahan baku/ bahan penunjang secara bertahap.
Dimana hal tersebut mempehatikan sekali bahan baku yang digunakan
karena dalam penggunaan

bahan baku akan menentukan limbah yang

dihasilkan.

10

2.3

Penggantian Bahan Baku/ Bahan Pembantu yang Ramah Lingkungan


Penggantian bahan baku pada industri bertujuan untuk mencegah
timbulnya limbah sedini mungkin. Bahan yang digunakan adalah bahan yang
ramah lingkungan, maka diharapkan tingkat toksisitas dari limbah akan
berkurang, jumlah limbah yang dihasilkan berkurang, serta limbah yang
dihasilkan dapat didaur ulang kembali.
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam rangka penggantian material
dengan material yang ramah lingkungan diantaranya:
2.3.1

Pemilihan Bahan Kimia yang Ramah Lingkungan


Dalam pemilihan bahan kimia yang akan digunakan pada suatu
proses, perlu diperhatikan keandalan dari bahan kimia tersebut, dampak
penggunaan bahan kimia tersebut, serta cara pengolahan limbah dan
biaya pengolahan limbah yang dikeluarkan.
Adapun pertimbangan-pertimbangan yang dijadikan pegangan
dalam pemilihan bahan kimia, yaitu:
Efektif untuk proses,
Dapat diolah lebih lanjut dengan cara daur ulang (reuse, recycle,
recovery),
Mampu diolah lebih lanjut oleh unit pengolahan limbah yang
dimiliki perusahaan.
Oleh karena itu, bahan kimia yang digunakan dalam proses
produksi, diupayakan sedapat mungkin adalah bahan kimia yang
mempunyai beban pencemaran dan sifat toksik yang rendah.
Beberapa cara yang dilakukan dalam upaya pemilihan bahan
kimia yang ramah lingkungan adalah:
Menggunakan bahan yang lebih murni.
Menggunakan bahan yang tidak berbahaya dan beracun.
Menggunakan bahan yang lebih mudah diuraikan (degradable).
Menggunakan

bahan

baku

yang

terbaharukan

(renewable

resources).
Menggunakan bahan baku yang dapat didaur ulang (recyclable).

11

Adapun contoh industri yang menerapkan sistem penerapan


bahan baku yang ramah lingkungan, yaitu:
1. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMI) berkiprah dalam
3R Exhibition. Penerapan industri ramah lingkungan melalui
kerjasama dengan JFE Engineering Corporation Jepang (JFE).Di
Semen Gresik, program ini dimulai dengan memanfaatkan gas panas
buang. Program itu sudah populer di industri Jepang agar prosesnya
tetap efesien. Pabrik Tuban juga sudah berinovasi dengan
menggunakan sekam padi sebagai bahan bakar. Sejak diuji coba
pada 2005, hasilnya sangat baik. Sehingga pada 2006 sampai
sekarang, program tersebut sudah dijalankan di Pabrik Tuban I-IV.
Sebagai

industri

semen

yang

sudah

sering

mendapatkan

penghargaan lingkungan, RDF ini rencananya akan dipakai di


seluruh Opco.
2. PT. Medco Ethanol
PT. Medco Ethanol Lampung memiliki pabrik yang dapat
digunakan memproduksi ethanol dengan menggunakan singkong
sebagai bahan baku utamanya. PT. Medco Ethanol Lampung mulai
berdiri pada tahun 2006 disaat harga singkong dipasaran masih
berada pada angka Rp 260,- namun sejak saat itu harga singkong
sudah naik hingga 300% dari harga awal. Hal ini mengakibatkan
biaya produksi membengkak sehingga PT. Medco Ethanol Lampung
akhirnya merugi dan terpaksa mencari solusi lain agar tetap dapat
berproduksi. Keputusan yang diambil adalah untuk mencoba
menggunakan kemampuan pabrik mereka yang lainnya, yaitu
memproduksi ethanol dengan menggunakan molasses. Karena itulah
sejak

tahun

2011,

pihak

manajemen

memutuskan

untuk

menggunakan molasses sebagai bahan utama proses produksi


ethanol. Dan ternyata keputusan pihak PT. Medco Ethanol Lampung
untuk melakukan pengalihan bahan baku utama produksi ethanol
dari singkong menjadi molasses sudah tepat. Hal ini bisa dilihat dari

12

perbandingan biaya produksi yang dikeluarkan pada saat perusahaan


masih menggunakan singkong dan disaat setelah perusahaan
menggunakan molasses. Jumlah biaya yang dikeluarkan saat
menggunakan molasses terbukti lebih murah dibandingkan pada saat
perusahaan menggunakan singkong sebagai bahan baku utama
produksi ethanol mereka.

2.3.2

Penghematan Pemakaian Zat Kimia


Selain pemilihan bahan kima yang ramah lingkungan, dapat
juga melakukan penghematan pemakaina zat kimia. Salah satu cara
untuk menghemat bahan kimia yaitu dengan meninjau kembali formula
persiapan penyempurnaan, pencelupan, pencapan dan penyempurnaan
air. Dengan meningkatkan kecermatan dan teknologi yang tepat dalam
pelaksanaan proses industri dapat diharapkan penambahan bahan untuk
faktor keamanan dapat dikurangi sehingga akan menghemat pemakaian
zat kimia dan dapat mengurangi kandungan zat kimia sisa dalam air
limbah. Dengan mengurangi zat kimia akan menghasilkan limbah yang
kadar toksisitasnya lebih rendah, sehingga ekosistem dan lingkungan
dapat terjaga. Selain itu juga pengurangan zat kimia ini dapat
mengurangi jumlah biaya pengeluaran proses produksi.

2.4

Faktor Penghambat Penggantian Bahan Baku atau Bahan Pembantu yang


Ramah Lingkungan
Faktor penghambat untuk penggantian bahan baku atau bahan pembantu
yang ramah lingkungan merupakan faktor penghambat dari Produksi Bersih,
sehingga sama dapat berasal dari luar (eksternal) maupun dari dalam (internal)
perusahaan.
1.

Faktor penghambat eksternal umumnya timbul akibat rendahnya penegakan


regulasi lingkungan, terlalu ketatnya regulasi lingkungan, rendahnya
kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, dan rendahnya insentif
lingkungan.

13

2.

Sedangkan faktor penghambat internal meliputi sikap sulit menerima


perubahan, faktor teknis, faktor finansial, dan faktor kultur perusahaan.

a) Sulit Menerima Perubahan.


Faktor ini paling sering muncul untuk menjadi penghambat dalam
perapan Produksi Bersih, jauh di atas faktor finansial dan teknologi.
Berdasarkan suatu studi, ada beberapa sikap dan pernyataan yang sering menjadi
penghambat, yaitu:

Saya selau melakukannya dengan cara ini.

Saya telah menggunakan pelarut ini selama lebih dari 30 tahun.

Bila sistem tidak rusak, tidak perlu diperbaiki. Misi kami sangat
penting, issue lingkungan harus ditempatkan di belakang.

Kami telah melakukan semua yang bisa dilakukan.

Itu akan membuat pekerjaan saya menjadi lebih sulit.

Kita harus mengorbankan kinerja kualitas.

b) Faktor Teknis
Hambatan faktor teknis merupakan hambatan yang relatif paling ringan
dibandingkan dengan kedua hambatan diatas. Umumnya hambatan ini karena
kurangnya informasi teknis tentang produksi bersih. Sekali manajemen
dankaryawan telah memiliki informasi tentang teknik Produksi Bersih, maka
program akan sangat mudah dijalankan di perusahaan. Kajian literatur, aliansi
dengan pihak yang pernah melakukan program Produksi Bersih, pelatihan
karyawan, dan penggunaan konsultan akan mampu menghilangkan hambatan
teknis ini.
c) Faktor Finansial
Kesulitan finansial pada dasarnya bukan merupakan faktor penghalang
yang cukup kuat. Permasalahan finansial berkaitan dengan Produksi Bersih
umumnya hanya dijumpai pada perusahaan berskala kecil. Pada perusahaan
skala menengah sampai besar, permasalahan ini nyaris tidak ada. Permasalahnya
14

lebih terletak pada bagaimana meyakinkan investor atau pengambil keputusan


untuk berinvestasi pada program Produksi Bersih.
Produksi Bersih bukan merupakan cost center. Produksi Bersih adalah
bagian dari investasi bisnis yang mampu memberikan keuntungan dan
penghematan. Sama seperti investasi lain, Produksi Bersih juga memiliki
berbagai ukuran pencapaian program yang dapat dinyatakan dalam ukuranukuran ekonomi biasa, seperti break event point (BEP), internal rate of return
(IRR), return on investment (ROI), maupun berbagai manfaat yang kurang nyata
(less tangible). Proposal yang baik akan menguraikan seluruh ukuran-ukuran
kinerja ini dan itu akan mempermudah investor dan pengambil keputusan untuk
membiayai program. Proposal yang baik akan menghilangkan faktor finansial
sebagai hambatan. Namun bila hal sebaliknya terjadi, maka faktor finansial akan
menjadi hambatan yang cukup besar. Dengan kata lain perbaikilah proposal
anda.
d) Kultur Perusahaan
Kadangkala walaupun semua hambatan di atas dapat dilalui, masih saja
program tidak berjalan dengan baik. Permasalahannya, pergeseran paradigma
dari end-of-pipe ke up-the-pipe memerlukan perubahan. Banyak terjadi bahwa
kultur perusahaan tidak siap menerima perubahan ini.

15

BAB III
STUDI KASUS
3.1 Industri Pulp dan Kertas
Dalam makalah ini, studi kasus yang diangkat terkait dengan kegiatan
industri pulp dan kertas dengan teknik penggantian bahan baku dan/atau bahan
penunjang yang merupakan bagian dari minimalisasi limbah. Masih ada industri
pulp & paper yang berpikir bahwa mengatasi masalah limbah hanya berkaitan
dengan pengolahannya saja tapi tidak berpikir untuk meminimasinya, salah
satunya dengan cara substitusi bahan baku atau bahan penunjangnya. Di tengahtengah produksi kertas yang semakin melonjak, bahan baku kertas dunia menjadi
suatu hal yang harus diperhatikan. Pembuatan kertas menggunakan banyak bahan
kimia seperti yang terlihat pada tabel 1.1. industri pulp and papper tidak hanya
menggunakan banyak chemical namun juga menggunakan energi yang cukup
besar.
Tabel 1.1 komposisi dalam satu metric ton kertas
Bahan

Ukuran

Bahan

Ukuran

Air

133000 Liter

Power

4752 MJ

15,5 kg

Talc

28 kg

20 kg

Synthetic Fiber

10,5 kg

Kapur

176,5 kg

Alum

14 kg

Na2SO4

33 kg

Clay

66 kg

Soda api

29 kg

Rosin

6 kg

Klorin

54 kg

Pewarna

8 kg

Kanji

53 kg

Kayu

4 m2

Sulfur
Magnesium
Hidroxide

Bahan bakar

686 Liter minyak


atau 1 t batu bara

Sumber : (shreve, 1984)

16

3.1.1

Proses Pembuatan Pulp


Proses pembuatan pulp dimulai dari penyediaan bahan baku,
dengan cara mengambil dari hutan tanam industri kemudian disimpan
dengan tujuan untuk pelapukan dan persediaan bahan baku. Kayu yang
siap diolah ini disebut dengan Log/Kayu gelondongan. Kemudian log di
kupas kulitnya dengan alat yang berbentuk drum disebut Drum barker.
Setelah itu log melewati stone trap (alat yang berbentuk
silinder berfungsi untuk membuang batu yang menempel pada log),
setelah itu log dicuci.
Log yang sudah bersih ini kemudian di iris menjadi potonganpotongan kecil yang di sebut dengan chip. Chip kemudian dikirim ke
penyaringan utama untuk memisahkan chip yang bisa dipakai (ukuran
standar 25x25x10mm) dengan yang tidak. Chip yang standar disimpan
ditempat penampungan.
Dari tempat penampungan chip dibawa dengan konveyor ke
bejana pemasak (digester). Steam dimasak dengan beberapa tahap.
Pertama di kukus (presteamed), kemudian baru dipanaskan dengan steam
di steaming vessel. chip di masak dengan cairan pemasak yang disebut
dengan cooking liquor.
Tahap selanjutnya setelah setelah bubur kertas siap kemudian
dicuci dengan tujuan untuk memisahkan cairan sisa hasil pemasakan dan
mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Proses selanjutnya pulp di saring (screaning) agar terbebas dari
bahan-bahan pengotor yang dapat mengurangi kualitas pulp. Proses
penyaringan ini ada dua tahap, yaitu penyaringan kasar dan penyaringan
halus. Proses akhir dari penyaringan berada pada sand removal cyclones
yang berfungsi untuk memisahkan pasir dari pulp.
Kemudian bubur kertas dicampur dengan oksigen (O2) dan
sodium hidroksida (NaOH) di dalam delignification tower sebelum di
cuci didalam washer. Tujuan dari pencampuran ini adalah untuk
mengurangi pemakaian bahan-bahan kimia pada tahap pengelantangan
(bleacing), mengurangi kandungan lignin, serta memutihkan pulp.
Bubur kertas ini kemudian dikelantang (bleacing) dengan
bahan kimia di dalam proses bleacing untuk mencapai derajat keputihan

17

sesuai standar ISO. Pulp kemudian disimpan atau dikirim ke paper


machine untuk diolah menjadi kertas.

3.1.2

Proses Pembuatan Kertas (Paper Machine)


Sebelum masuk keareal paper machine pulp diolah dulu pada
bagian stock preparation. bagian ini berfungsi untuk meramu bahan baku
seperti: menambahkan pewarna untuk kertas (dye), menambahkan zat
retensi, menambahkan filler (untuk mengisi pori - pori diantara serat
kayu), dll.
Dari stock preparation sebelum masuk ke headbox dibersihkan
dulu dengan alat yang disebut cleaner. Dari cleaner stock masuk ke
headbox. headbox berfungsi untuk membentuk lembaran kertas
(membentuk formasi) diatas fourdinier table.

18

Fourdinier berfungsi untuk membuang air yang berada dalam


stock (dewatering). Hasil yang keluar disebut dengan web (kertas basah).
Kadar padatnya sekitar 20 %.
Press part berfungsi untuk membuang air dari web sehingga
kadar padatnya mencapai 50 %. Hasilnya masuk ke bagaian pengering
(dryer). Cara kerja press part ini adalah. Kertas masuk diantara dua roll
yang berputar. Satu roll bagian atas di beri tekanan sehingga air keluar
dari web. Bagian ini dapat menghemat energi, karena kerja dryer tidak
terlalu berat (air sudah dibuang 30 %).
Dryer berfungsi untuk mengeringkan web sehingga kadar
airnya mencapai 6 %. Hasilnya digulung di pop reel sehingga berbentuk
gulungan kertas yang besar (paper roll). Paper roll ini yang dipotong potong sesuai ukuran dan dikirim ke konsumen.

19

3.1.3

Permasalahan Industri Pulp dan Kertas


Peningkatan produksi kertas dapat pula meningkatkan jumlah limbah
yang dihasilkan karena industri ini menggunakan bahan-bahan kimia yang
dapat merusak lingkungan. Namun makin meningkatnya produksi akan
berdampak terhadap tingginya volume limbah yang dihasilkan. Dari proses
produksi industri pulp dan kertas akan dihasilkan limbah yang salah satunya
adalah limbah sludge. Satu industri pulp dan kertas tiap hari menghasilkan
sludge berkisar antara 30 40 ton, sementara pemanfaatan sludge per hari
hanya 12 ton (Aritonang, 2005). Sehingga masih banyak sludge yang tersisa
yang belum dimanfaatkan. Karena itu, pengangkatan studi kasus yang
berkaitan dengan industri pulp & paper ini akan dikaitkan dengan adanya
minimasi limbah terutama pada bagian substitusi dan/atau eliminasi bahan
berbahaya.
Selain itu proses pembuatan pulp ini membutuhkan banyak sekali air,
bahan kimia dan energi. Sementara dalam proses produksi kertas, limbah yang
timbul dari proses produksi adalah BOD (Biological Oxygan Demand/oksigen
yang dibutuhkan) yang mencapai 1-6 kg/ton kertas dengan serapan konsumsi
air mencapai 10-40 m3/ton kertas yang dihasilkan.

3.2 PT. Coca Cola Corporation


Sekelompok remaja mengeluarkan sebuah petisi online kepada Coca-Cola
untuk mengganti minyak nabati brominasi sebagai bahan dalam beberapa
minumannya. Dalam rancangannya, Coca-Cola berencana menghilangkan bahan
kontroversial dari beberapa produk minumannya menyusul petisi tersebut.
Minyak sayur brominasi (brominated vegetable oil atau BVO) ditemukan dalam
minuman Coca-Cola buah dan minuman olahraga, seperti Fanta dan Powerade,
yang dijual di Amerika Serikat, Kanada, dan Amerika Latin. Bahan ini akan
diganti setelah kekhawatiran ada unsur aditif, yang ternyata tidak disetujui untuk
digunakan dalam makanan atau minuman di Uni Eropa dan Jepang. Pesaing
Coca-Cola, yakni Pepsi, bahkan telah menghapus bahan kimia tersebut dari
minuman olahraga Gatorade pada tahun lalu.
Menurut juru bicara Coca-Cola, Josh Gold, ia menekankan bahwa langkah
untuk menghapus BVO tidak terkait dengan masalah keamanan minuman tersebut
untuk dikonsumsi. Dan berkata bahwa semua minuman kami, termasuk produk

20

yang menggunakan BVO, aman dan selalu mematuhi semua peraturan di negaranegara di mana produk tersebut dijual. BVO sendiri telah digunakan sebagai
bahan penyeimbang dalam minuman rasa buah karena membantu mencegah
bahan-bahan di dalamnya saling terpisahkan. Isu kesehatan belakangan muncul
terkait kenyataan bahwa BVO mengandung bromida, yang juga ditemukan dalam
brominated flame (paling umum digunakan untuk membuat beragam bahanbahan tahan api, termasuk tekstil). Menurut peneliti medis di Klinik Mayo
Amerika Serikat, konsumsi berlebihan minuman ringan yang mengandung BVO
telah dikaitkan dengan efek kesehatan negatif, termasuk kehilangan memori,
kulit, dan masalah saraf.
3.3 Industri Detergen
3.3.1 Pengertian Detergen
Detergen adalah pembersih sintetis campuran berbagai bahan, yang
digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan
turunan minyak bumi. Yaitu senyawa kimia bernama alkyl benzene sulfonat
(ABS) yang direaksikan dengan natrium hidroksida (NaOH). Dibanding
dengan sabun, detergen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai
daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. Akan
tetapi sabun lebih mudah diurai oleh mikroorganisme.
Air sadah merupakan air yang mengandung garam kalsium dan
magnesium yang larut dari batuan yang dialiri air. Kesadahan dibedakan
menjadi dua jenis yaitu kesadahan sementara dan kesadahan tetap.
Kesadahan sementara disebabkan garam kalsium hidrogen karbonat
(CaHCO3) yang larut dalam air. Kesadahan ini dapat dihilangkan dengan
pendidihan dan menghasilkan zat padat putih tak larut yaitu kalsium
karbonat (CaCO3) atau kerak air. Kesadahan tetap disebabkan garam
kalsium dan magnesium yang larut dalam air. Kesadahan ini tidak dapat
dihilangkan dengan pendidihan tetapi dengan distilasi. Nah, untuk
menghindari hal tersebut, saat ini dipakai detergen sebagai pengganti sabun.
Detergen mengandung zat aktif permukaan yang serupa dengan sabun,
misalnya natrium benzensulfonat (Na-ABS). Garam kalsium atau
magnesium yang larut dalam air sadah jika bereaksi dengan Na-ABS tetap
larut dalam air dan tidak mengendap.

21

Molekul sabun terdiri atas dua bagian yaitu bagian yang bersifat
hidrofilik dan yang bersifat hidrofobik. Bagian hidrofilik adalah bagian
yang menyukai air atau bersifat polar. Adapun bagian hidrofobik adalah
bagian yang tidak suka air atau bersifat nonpolar. Kotoran yang bersifat
polar biasanya larut dalam air, sehingga kotoran jenis ini tidak perlu
dibersihkan dengan menggunakan sabun. Kotoran yang bersifat nonpolar,
seperti minyak atau lemak tidak akan hilang jika hanya dibersihkan
menggunakan

air.

Oleh

karena

itu,

diperlukan

detergen

sebagai

pembersihnya. Ujung hidrofob detergen yang bersifat nonpolar mudah larut


dalam minyak atau lemak dari bahan cucian. Ketika kamu menggosok atau
memeras pakaian membuat minyak atau lemak menjadi butiran-butiran
lepas yang dikelilingi oleh lapisan molekul detergen. Gugus polarnya
berada di luar lapisan sehingga butiran itu larut di air.
Kebersihan merupakan salah satu faktor penting bagi kesehatan
masyarakat. Untuk menjaga kebersihan badan, pakaian, tempat tinggal serta
tempat umum dibutuhkan produk pembersih atau sabun cuci yang dapat
diandalkan. Ibu rumah tangga, rumah sakit, sarana umum lain hingga hotel
berbintang lima pasti menjadikan produk yang satu ini sebagai bagian
kehidupan sehari-hari untuk mencuci pakaian maupun peralatan rumah
tangga.
3.3.2 Bahan Baku Pembuatan Detergen
Pada umumnya, detergen mengandung bahan-bahan sebagai berikut:
1. Surfaktan
Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan
yang mempunyai ujung berbeda yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob
(suka lemak). Surfaktan ialah molekul organik dengan bagian lifofilik
dan bagian polar, yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan air
sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan
bahan. Surfaktan membentuk bagian penting dari semua detergen
komersial.

22

2. Builder
Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari
surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air.
Bahan ini ditambahkan untuk menyingkirkan ion kalsium dan
magnesium (kesadahan) dari air pencuci. Pembangun dapat melakukan
hal ini lewat pengkelatan (pembentukan kompleks) atau lewat pertukaran
ion-ion ini dengan natrium. Pembangun juga meningkatkan pH untuk
membantu emulsifikasi minyak dan bufer terhadap perubahan pH.
Pembangun yang paling lazim ialah natrium tripolifosfat (5Na+ P3O105), tetapi karena limbah fosfat dapat mencemari lingkungan, jumlah yang
digunakan dibatasi oleh peraturan; baru-baru ini, natrium sitrat, natrium
karbonat, dan natrium silikat mulai menggantikan natrium tripolifosfat
sebagai pembangun.
3. Zeolit
Zeolit (natrium aluminosilikat) digunakan sebagai penukar ion,
terutama untuk ion kalsium.
4. Filler
Filler (pengisi) adalah bahan tambahan Detergen yang tidak
mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah
kuantitas. Contoh Sodium sulfat.
5. Bahan antiredeposisi (antiedeposition agent)
Bahan antiredeposisi ialah senyawa yang ditambahkan ke detergen
pakaian untuk mencegah pengendapan kembali kotoran pada pakaian.
Contoh yang paling lazim ialah selulosa eter atau ester.
6. Aditif
Aditif adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk
lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak
berhubungan

langsung

dengan

daya

cuci

Detergen.

Additives

ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contoh :


Enzim, Boraks, Sodium klorida, Carboxy Methyl Cellulose (CMC).

23

3.3.3 Jenis-Jenis Detergen


Kita tentu sudah akrab dengan detergen, selama ini kita mengenal
detergen sebagai bubuk pembersih pakaian. Sebenarnya Detergen adalah
senyawa organik, yang memiliki dua kutub dan bersifat non-polar
karakteristik. Ada tiga jenis Detergen yaitu anionic, kationik, dan non-ionik.
Anionic dan permanen kationik memiliki muatan negatif dan positif yang
melekat pada non-polar (hidrofobik) CC rantai. Detergen non-ionik tidak
mempunyai muatan ion tetap, hal ini terjadi karena mereka memiliki jumlah
atom yang lemah elektropositif dan elektronegatif yang disebabkan oleh
kekuatan menarik elektron atom oksigen.
Ada dua jenis karakteristik detergen yang berbeda yaitu fosfat
Detergen dan surfaktan Detergen. Pada umumnya Detergen yang
mengandung fosfat akan terasa panas ditangan, sedangkan surfaktan adalah
jenis Detergen yang sangat beracun. Perbedaan kedua jenis detergen itu
adalah Detergen surfaktan lebih berbusa dan bersifat emulsifying Detergen.
Disisi lain fosfat detergen adalah Detergen yang membantu menghentikan
kotoran dalam air. Zat yang terkandung didalam detergen juga digunakan
dalam formulasi dalam pestisida. Degradasi alkylphenol polyethoxylates
(non-ion) dapat menyebabkan pembentukan alkylphenols (terutama
nonylphenols) yang bertindak sebagai endokrin pengganggu jika limbah
detergen bercampur dengan air limbah lain di saluran air.
Berdasarkan bentuk fisiknya, Detergen dibedakan atas:
1. Detergen Cair, secara umum Detergen cair hampir sama dengan
Detergen bubuk. Yang membedakan cuma bentuk fisik. Di indonesia
setahu saya Detergen cair ini belum dikomersilkan, biasanya digunakan
untuk laundry modern menggunakan mesin cuci yang kapasitasnya besar
dengan teknologi canggih.
2. Detergen krim, bentuk Detergen krim dengan sabun colek hampir sama
tetapi kandungan formula bahan baku keduanya berbeda.
3. Detergen bubuk, jenis Detergen bubuk ini yang beredar dimasyarakat
atau dipakai sewaktu mencuci pakaian. Berdasarkan keadaan butirannya,
Detergen bubuk dapat dibedakan menjadi dua yaitu Detergen bubuk

24

berongga dan Detergen bubuk padat. Perbedaan bentuk butiran kedua


kelompok tersebut disebabkan oleh perbedaan proses pembuatannya.

3.3.4 Bahaya Detergen


Tanpa mengurangi makna manfaat Detergen dalam memenuhi
kebutuhan sehari-hari, harus diakui bahwa bahan kimia yang digunakan
pada Detergen dapat menimbulkan dampak negatif baik terhadap kesehatan
maupun lingkungan. Dua bahan terpenting dari pembentuk Detergen yakni
surfaktan dan builders, diidentifikasi mempunyai pengaruh langsung dan
tidak langsung terhadap manusia dan lingkungannya.
Surfaktan dapat menyebabkan permukaan kulit kasar, hilangnya
kelembaban alami yang ada pada permukan kulit dan meningkatkan
permeabilitas permukaan luar. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa kulit
manusia hanya mampu memiliki toleransi kontak dengan bahan kimia
dengan kandungan 1 % LAS dan AOS dengan akibat iritasi sedang pada
kulit. Surfaktan kationik bersifat toksik jika tertelan dibandingkan dengan
surfaktan anionik dan non-ionik. Sisa bahan surfaktan yang terdapat dalam
Detergen

dapat

membentuk

chlorbenzene

pada

proses

klorinisasi

pengolahan air minum PDAM. Chlorbenzene merupakan senyawa kimia


yang bersifat racun dan berbahaya bagi kesehatan. Pada awalnya surfaktan
jenis ABS banyak digunakan oleh industri Detergen. Namun karena
ditemukan bukti-bukti bahwa ABS mempunyai risiko tinggi terhadap
lingkungan, bahan ini sekarang telah digantikan dengan bahan lain yaitu
LAS.
Builders, salah satu yang paling banyak dimanfaatkan di dalam
Detergen adalah phosphate. Phosphate memegang peranan penting dalam
produk Detergen, sebagai softener air. Bahan ini mampu menurunkan
kesadahan air dengan cara mengikat ion kalsium dan magnesium. Berkat
aksi softenernya, efektivitas dari daya cuci Detergen meningkat. Phosphate
yang biasa dijumpai pada umumnya berbentuk Sodium Tri Poly Phosphate
(STPP). Phosphate tidak memiliki daya racun, bahkan sebaliknya

25

merupakan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan mahluk hidup. Tetapi
dalam jumlah yang terlalu banyak, phosphate dapat menyebabkan
pengkayaan unsur hara (eutrofikasi) yang berlebihan di badan air, sehingga
badan

air

kekurangan

oksigen

akibat

dari

pertumbuhan

algae

(phytoplankton) yang berlebihan yang merupakan makanan bakteri.


Populasi bakteri yang berlebihan akan menggunakan oksigen yang terdapat
dalam air sampai suatu saat terjadi kekurangan oksigen di badan air dan
pada akhirnya justru membahayakan kehidupan mahluk air dan sekitarnya.
Di beberapa negara, penggunaan phosphate dalam Detergen telah dilarang.
Sebagai alternatif, telah dikembangkan penggunaan zeolite dan citrate
sebagai builder dalam Detergen.
Detergen yang selama ini kita gunakan untuk mencuci pakaian
sebenarnya merupakan hasil sampingan dari proses penyulingan minyak
bumi yang diberi berbagai tambahan bahan kimia seperti fosfat, silikat,
bahan pewarna, dan bahan pewangi. Generasi awal Detergen pertama kali
muncul dan mulai diperkenalkan ke masyarakat sekitar tahun 1960-an
dengan menggunakan bahan kimia pengaktif permukaan (surfaktan) Alkyl
Benzene Sulfonat (ABS) sebagai penghasil busa.(Wikipedia, 2009).
Polusi atau pencemaran adalah keadaan dimana suatu lingkungan
sudah tidak alami lagi karena telah tercemar oleh polutan. Misalnya air
sungai yang tidak tercemar airnya masih murni dan alami, tidak ada zat-zat
kimia yang berbahaya, sedangkan air sungai yang telah tercemar oleh
detergen misalnya, mengandung zat kimia yang berbahaya, baik bagi
organisme yang hidup di sungai tersebut maupun bagi makhluk hidup lain
yang tinggal di sekitar sungai tersebut.
Polutan adalah zat atau substansi yang mencemari lingkungan. Air
limbah detergen termasuk polutan karena didalamnya terdapat zat yang
disebut ABS. Jenis Detergen yang banyak digunakan di rumah tangga
sebagai bahan pencuci pakaian adalah Detergen anti noda. Detergen jenis
ini mengandung ABS (alkyl benzene sulphonate) yang merupakan Detergen
tergolong keras. Detergen tersebut sukar dirusak oleh mikroorganisme
(nonbiodegradable) sehingga dapat menimbulkan pencemaran lingkungan

26

(Rubiatadji, 1993). Lingkungan perairan yang tercemar limbah Detergen


kategori keras ini dalam konsentrasi tinggi akan mengancam dan
membahayakan kehidupan biota air dan manusia yang mengkonsumsi biota
tersebut.
Awalnya inovasi yang dianggap cemerlang ini ini mendapatkan
respon yang menggembirakan. Namun seiring berjalannya waktu, ABS
setelah diteliti lebih lanjut diketahui mempunyai efek destruktif (buruk)
terhadap lingkungan yakni sulit diuraikan oleh mikroorganisme. Hal ini
menjadikan sisa limbah Detergen yang dikeluarkan setiap hari oleh rumah
tangga akan menjadi limbah berbahaya dan mengancam stabilitas
lingkungan hidup kita.Beberapa negara di dunia secara resmi telah melarang
penggunaan zat ABS ini dalam pembuatan Detergen dan memperkenalkan
senyawa kimia baru yang disebut Linier Alkyl Sulfonat, atau lebih sering
jika kita lihat di berbagai label produk Detergen yang kita pakai dengan
nama LAS yang relatif lebih ramah lingkungan. Akan tetapi penelitian
terbaru oleh para ahli menyebutkan bahwa senyawa ini juga menimbulkan
kerugian yang tidak sedikit terhadap lingkungan. Menurut data yang
diperoleh bahwa dikatakan alam lingkungan kita membutuhkan waktu
selama 90 hari untuk mengurai LAS dan hanya 50% dari keseluruhan yang
dapat diurai.
Efek paling nyata yang disebabkan oleh limbah Detergen rumah
tangga adalah terjadinya eutrofikasi (pesatnya pertumbuhan ganggang dan
enceng gondok). Limbah Detergen yang dibuang ke kolam ataupun rawa
akan memicu ledakan pertumbuhan ganggang dan enceng gondok sehingga
dasar air tidak mampu ditembus oleh sinar matahari, kadar oksigen
berkurang secara drastis, kehidupan biota air mengalami degradasi, dan
unsur hara meningkat sangat pesat. Jika hal seperti ini tidak segera diatasi,
ekosistem akan terganggu dan berakibat merugikan manusia itu sendiri,
sebagai contoh saja lingkungan tempat pembuangan saluran selokan. Secara
tidak langsung rumah tangga pasti membuang limbah Detergennya melalui
saluran selokan ini, dan coba kita lihat, di penghujung saluran selokan
begitu banyak eceng gondok yang hidup dengan kepadatan populasi yang
sangat besar.

27

Selain merusak lingkungan alam, efek buruk Detergen yang dirasakan


tentu tak lepas dari para konsumennya. Dampaknya juga dapat
mengakibatkan gangguan pada lingkungan kesehatan manusia. Saat seusai
kita mencuci baju, kulit tangan kita terasa kering, panas, melepuh, retakretak, gampang mengelupas hingga mengakibatkan gatal dan kadang
menjadi alergi.
Detergen sangat berbahaya bagi lingkungan karena dari beberapa
kajian menyebutkan bahwa Detergen memiliki kemampuan untuk
melarutkan bahan bersifat karsinogen, misalnya 3,4 Benzonpyrene, selain
gangguan terhadap masalah kesehatan, kandungan detergen dalam air
minum akan menimbulkan bau dan rasa tidak enak. Sedangkan tinja
merupakan jenis vektor pembawa berbagai macam penyakit bagi manusia.
Bagian yang paling berbahaya dari limbah domestik adalah mikroorganisme
patogen yang terkandung dalam tinja, karena dapat menularkan beragam
penyakit bila masuk tubuh manusia, dalam 1 gram tinja mengandung 1
milyar partikel virus infektif, yang mampu bertahan hidup selama beberapa
minggu pada suhu dibawah 10 derajat Celcius.
Dalam jangka panjang, air minum yang telah terkontaminasi limbah
Detergen berpotensi sebagai salah satu penyebab penyakit kanker
(karsinogenik). Proses penguraian Detergen akan menghasilkan sisa
benzena yang apabila bereaksi dengan klor akan membentuk senyawa
klorobenzena yang sangat berbahaya. Kontak benzena dan klor sangat
mungkin terjadi pada pengolahan air minum, mengingat digunakannya
kaporit (dimana di dalamnya terkandung klor) sebagai pembunuh kuman
pada proses klorinasi.
Pada percobaan tersebut dapat dianalisa bahwa Detergen itu memang
mempunyai dampak buruk terhadap berbagai lingkungan kehidupan kita.
Baik itu lingkungan terrestrial dimana kita hidup, kemudian lingkungan
perairan termasuk organisme yang hidup di dalamnya, atau bahkan juga
lingkungan kesehatan manusia sendiri yang sebenarnya tanpa kita sadari
mulai perlahan-lahan menyerang kesehatan kita.

28

Detergen fosfat tinggi seperti tri-natrium fosfat (TSP) dapat dibeli di


beberapa toko cat dan perangkat keras. Pembersihan secara teratur dengan
Detergen fosfat tinggi telah terbukti efektif dalam mengurangi debu di yang
terdapat di jendela dan di sekitar pintu. Apa yang terjadi jika limbah
Detergent bercampur dengan air? Detergent memiliki efek beracun dalam
air. Semua Detergent menghancurkan lapisan eksternal lendir yang
melindungi ikan dari bakteri dan parasit, selain itu detergent dapat
menyebabkan kerusakan pada insang. Kebanyakan ikan akan mati bila
konsentrasi Detergent 15 bagian per juta. Detergent dengan konsentrasi
rendah pun sebanyak 5 ppm tetap dapat membunuh telur ikan. Surfaktan
Detergen pun tak kalah berbahaya karena jenis detergent ini terbukti
mengurangi kemampuan perkembangbiakan organisme perairan.
Detergen juga memiliki andil besar dalam menurunkan kualitas air.
Bahan kimia organik seperti pestisida dan fenol akan mudah diserap oleh
ikan, dengan konsentrasi Detergen hanya 2 ppm dapat diserap ikan dua kali
lipat dari jumlah bahan kimia lainnya.Detergent juga memberi efek negatif
bagi biota air. Fosfat dalam Detergen dapat memicu ganggang air tawar
bunga untuk melepaskan racun dan menguras oksigen di perairan. Ketika
ganggang membusuk, mereka menggunakan oksigen yang tersedia untuk
mempertahankan hidupnya.
Dalam sebuah literatur disebutkan, ada fakta yang menarik seputar air
di bumi ini. Jumlah total air di bumi saat ini relatif sama dengan jumlah
total air tercipta. Yaitu 70 persen permukaan bumi kita adalah air.
Komposisinya adalah 67 persen terdiri dari air asin dan tiga persen air
tawar. Prosentasi air tawar itu terdiri dari es, air tanah, air permukaan, dan
uap air. Jumlah airnya saat ini memang sama akan tetapi yang berubah
bentuknya. Tidak semua air tawar tersebut dapat di pakai, penyebabnya
adalah pencemaran lingkungan yang dibuat oleh manusia sendiri seperti
limbah dari pemakaian detergen.
3.4 Industri Semen

29

Semen (cement) adalah hasil industri dari paduan bahan baku: batu
kapur/gamping sebagai bahan utama dan lempung/tanah liat atau bahan pengganti
lainnya dengan hasil akhir berupa padatan berbentuk bubuk/bulk.
Batu kapur/gamping adalah bahan alam yang mengandung senyawa
kalsium oksida (CaO), sedangkan lempung/tanah liat adalah bahan alam yang
mengandung senyawa: silika oksida (SiO2), aluminium oksida (Al2O3), besi
oksida (Fe2O3) dan magnesium oksida (MgO). Untuk menghasilkan semen, bahan
baku tersebut dibakar sampai meleleh, sebagian untuk membentuk clinkernya,
yang kemudian dihancurkan dan ditambah dengan gips (gypsum) dalam jumlah
yang sesuai. Hasil akhir dari proses produksi dikemas dalam kantong/zak dengan
berat rata-rata 40 kg atau 50 kg.
Dalam pengertian umum, semen adalah suatu binder, suatu zat yang dapat
menetapkan dan mengeraskan dengan bebas, dan dapat mengikat material lain.
Abu vulkanis dan batu bata yang dihancurkan yang ditambahkan pada batu kapur
yang dibakar sebagai agen pengikat untuk memperoleh suatu pengikat hidrolik
yang selanjutnya disebut sebagai cementum. Semen yang digunakan dalam
konstruksi digolongkan kedalam semen hidrolik dan semen non-hidrolik.
Semen hidrolik adalah material yang menetap dan mengeras setelah
dikombinasikan dengan air, sebagai hasil dari reaksi kimia dari pencampuran
dengan air, dan setelah pembekuan, mempertahankan kekuatan dan stabilitas
bahkan dalam air. Semen non-hidrolik meliputi material seperti batu kapur dan
gipsum yang harus tetap kering supaya bertambah kuat dan mempunyai komponen
cair. Contohnya adukan semen kapur yang ditetapkan hanya dengan pengeringan,
dan bertambah kuat secara lambat dengan menyerap karbon dioksida dari atmosfer
untuk membentuk kembali kalsium karbonat.
3.4.1 Proses Pembuatan Semen
Proses pembuatan semen dapat dibedakan menurut :
1. Proses basah
Pada proses basah semua bahan baku yang ada dicampur dengan air,
dihancurkan dan diuapkan kemudian dibakar dengan menggunakan bahan
bakar minyak, bakar (bunker crude oil). Proses ini jarang digunakan karena
masalah keterbatasan energi BBM.

30

2. Proses kering
Pada proses kering digunakan teknik penggilingan dan blending
kemudian dibakar dengan bahan bakar batubara. Proses ini meliputi lima
tahap pengelolaan yaitu :
a) Proses pengeringan dan penggilingan bahan baku di rotary dryer dan roller
meal.
b) Proses pencampuran (homogenizing raw meal) untuk mendapatkan
campuran yang homogen.
c) Proses pembakaran raw meal untuk menghasilkan terak (clinker : bahan
setengah jadi yang dibutuhkan untuk pembuatan semen).
d) Proses pendinginan terak.
e) Proses penggilingan akhir di mana clinker dan gypsum digiling dengan
cement mill.
Dari proses pembuatan semen di atas akan terjadi penguapan karena
pembakaran dengan suhu mencapai 900 derajat Celcius sehingga
menghasilkan : residu (sisa) yang tak larut, sulfur trioksida, silika yang larut,
besi dan alumunium oksida, oksida besi, kalsium, magnesium, alkali, fosfor,
dan kapur bebas.

Secara garis besar proses produksi semen melalui 6 tahap, yaitu :


1. Penambangan dan penyimpanan bahan mentah
Semen yang paling umum yaitu semen portland memerlukan empat
komponen bahan kimia yang utama untuk mendapatkan komposisi kimia
yang sesuai. Bahan tersebut adalah kapur (batu kapur), silika (pasir silika),
alumina (tanah liat), dan besi oksida (bijih besi). Gipsum dalam jumlah

31

yang sedikit ditambahkan selama penghalusan untuk memperlambat


pengerasan.
2. Penggilingan dan pencampuran bahan mentah
Semua bahan baku dihancurkan sampai menjadi bubuk halus dan
dicampur sebelum memasuki proses pembakaran.
3. Homogenisasi dan pencampuran bahan mentah
4. Pembakaran
Tahap paling rumit dalam produksi semen portland adalah proses
pembakaran, dimana terjadi proses konversi kimiawi sesuai rancangan dan
proses fisika untuk mempersiapkan campuran bahan baku membentuk
klinker. Proses ini dilakukan di dalam rotary kiln dengan menggunakan
bahan bakar fosil berupa padat (batubara), cair (solar), atau bahan bakar
alternatif. Batubara adalah bahan bakar yang paling umum dipergunakan
karena pertimbangan biaya.

5. Penggilingan hasil pembakaran


Proses selanjutnya adalah penghalusan klinker dengan tambahan
sedikit gipsum, kurang dari 4%, untuk dihasilkan semen portland tipe 1.
Jenis semen lain dihasilkan dengan penambahan bahan aditif posolon atau
batu kapur di dalam penghalusan semen.
6. Pendinginan dan pengepakan
Reaksi-reaksi yang terjadi
Reaksi alite dengan air :
2Ca3OSiO4 + 6H2O 3CaO.2SiO2.3H2O + 3Ca(OH)2

32

Reaksi ini relatif cepat, menyebabkan penetapan dan perkembangan


penguatan pada beberapa minggu pertama.
Reaksi dari belite :
2Ca2SiO4 + 4H2O 3CaO.2SiO2.3H2O + Ca(OH)2
Reaksi ini relatif lambat, dan berperan untuk meningkatkan
penguatan setelah satu minggu. Hidrasi trikalsium aluminat dikontrol oleh
penambahan kalsium sulfat, yang dengan seketika menjadi cairan pada
saat penambahan air. Pertama-tama, etringit dibentuk dengan cepat,
menyebabkan hidrasi yang lambat.
Ca3(AlO3)2 + 3CaSO4 + 32H2O Ca6(AlO3)2(SO4)3.32H2O
Sesudah itu etringit bereaksi secara lambat dengan trikalsium
aluminat lebih lanjut untuk membentuk monosulfat.
Ca6(AlO3)2(SO4)3.32H2O + Ca3(AlO3)2 + 4H2O 3Ca4(AlO3)2(SO4).12H2O

Reaksi ini akan sempurna setelah 1-2 hari. Kalsium aluminoferit


bereaksi secara lambat karena adanya hidrasi besi oksida.
2Ca2AlFeO5 + CaSO4 + 16H2O Ca4(AlO3)2(SO4).12H2O + Ca(OH)2 +
2Fe(OH)3

Secara singkat, proses dari pembuatan semen ini adalah semua


bahan mentah dicampurkan, bahan-bahan mentah ini harus bebas debu.
Debu yang dihasilkan dari bahan mentah ini akan ditangkap oleh
penangkap debu, agar debu-debu tersebut tidak mencemari udara. Bahanbahan ditampung. Setelah ditampung, bahan-bahan ini kemudian

33

dimasukkan ke dalam suspensi preheater. Suspensi preheater ini berfungsi


untuk memanaskan dengan cara menyemprotkan udara panas. Kemudian
bahan-bahan dimasukkan ke dalam rotary kiln (oven besar yang berputar)
dan dibakar pada suhu 1400 C sehingga menghasilkan butiran-butiran
kecil berwarna hitam yang disebut clinker (bahan setengah jadi). Clinker
kemudian ditampung di dalam clinker silo. Dari clinker silo kemudian
dimasuk ke dalam semen mill. Semen mill ini adalah suatu tempat dimana
terjadi proses pencampuran dengan gipsum. Setelah dari semen mill,
masuk ke dalam semen silo. Tahap akhir dari proses pembuatan semen ini
adalah pengepakan, yang selanjutnya semen akan di distribusikan ke
pasaran.

3.4.2 Dampak Industri Semen terhadap Lingkungan


Berdasarkan bahan baku dan bahan bakar yang digunakan serta proses
produksi, industri semen menyebabkan dampak lingkungan sebagai berikut :
a) Lahan
Penurunan kualitas kesuburan tanah akibat penambangan tanah liat.
Perubahan tata-guna tanah akibat kegiatan penebangan dan penyerapan lahan
serta pembangunan fasilitas lainnya, menyebabkan penurunan kapasitas air
tanah yang pada akhirnya akan berpengaruh pada kuantitas air sungai di
sekitarnya. Hal ini akan menyebabkan keimbangan lingkungan setempat.
b) Air
Kualitas air menurun akibat limbah cair dari pabrik dalam bentuk
minyak dan sisa air dari kegiatan penambangan. Menimbulkan lahan kritis
yang mudah terkena erosi dan pendangkalan dasar sungai, yang pada
akhirnya akan menimbulkan banjir pada musim hujan.
Kuantitas air atau debit air menjadi berkurang karena hilangnya vegetasi
pada suatu lahan akan mengakibatkan penyerapan air hujan oleh tanah di
tempat itu berkurang, sehingga persediaan air tanah menipis. Sungai menjadi
kering pada musim kemarau dan banjir pada musim hujan karena tanah tidak
mampu lagi menyerap air.
c) Udara
Debu yang dihasilkan pada waktu pengadaan bahan baku dan selama
proses pembakaran dan debu yang dihasilkan selama pengangkutan bahan

34

baku ke pabrik dan bahan jadi ke luar pabrik, termasuk pengantongannya.


Debu yang secara visual terlihat di kawasan pabrik dalam bentuk kabut dan
kepulan debu menimbulkan pencemaran udara serius. Suhu udara di sekitar
pabrik naik. Gas yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar minyak bumi
dan batu bara, berupa gas CO, CO2, SO2 dan gas lainnya yang mengandung
hidrokarbon dan belerang.

35

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan Industri Pulp dan Kertas
Zero Waste adalah sebuah konsep kuat yang menantang cara lama berpikir
dan mengilhami sikap dan perilaku baru. Ini adalah pendekatan multifaset untuk
menjaga kelestarian sumber daya bumi yang terbatas. Konsep zero waste
diartikan sebagai konsep untuk mengupayakan agar suatu kegiatan itu
menghasilkan limbah dalam jumlah yang sekecil-kecilnya, bahkan kalau bisa,
tidak menghasilkan limbah sama sekali. Upaya ini disebut sebagai minimasi
limbah. Salah satu bagian dari minimasi limbah adalah substitusi bahan baku atau
bahan penunjang dari proses produksi.
Pada produksi kertas & pulp salah satunya, sebaiknya dilakukan minimasi
limbah dengan cara ini. Kapas dan linen adalah salah satu sumber fiber untuk
kertas yang sekarang telah digantikan dengan fiber dari kayu. Sekitar 20 % pulp
yang digunakan di amerika adalah recycle, dan Eropa serta Jepang melakukan
recycle lebih banyak. Woods (soft and hardwood) digunakan untuk membuat
pulp, tapi kulit kayu tidak, karena tidak memiliki serat dan sulit untuk di
bleaching.
Komponen utama dari kayu yang perlu dihilangkan untuk mengubah
menjadi kertas dikenal sebagai senyawa lignin. Nama ini mengacu pada
sekelompok bahan kimia yang pada dasarnya tiga polimer dimensi transconiferol, trans-sinapol dan trans-p-coumarol (Gambar 1.1), bersama dengan
hemiselulosa dan asam karboksilat aromatik. Lignin adalah

senyawa yang

memperkuat yang diendapkan pada dinding sel pohon untuk membuat kayu
cukup kuat. Namun, lignin juga merupakan senyawa yang membuat pulp kayu
bewarna coklat, sehingga senyawa tersebut akan dihilangkan dari pulp kecuali
jika digunakan untuk membuat kertas buram dan kardus.

36

Gambar 1.1. gugus kimia lignin


Bahan dasar pembuatan kertas adalah selulosa yaitu suatu produk
fotosintesa tumbuh-tumbuhan, yang berarti bahwa produksi kertas menggunakan
bahan baku yang senantiasa dapat diperbaharui (renewable rescurce), sedangkan
yang larut (- selulosa, - selulosa, pentosa, heksosa, dan lain-lain) disebut hemi
selulosa. Sifat kimia selulosa sesuai dengan gugus aktif alcohol yang demikiannya
(dapat mengalami oksidasi), dan derajat polimerisasinya (panjang serat). Semakin
panjang rantai selulosa semakin kuat dan tahan degradasi baik secara panas, kimia
maupun biologis. Sedangkan sifat fisiknya tergantung dari dimensi serat (panjang
rantai 500-1000 A, lebar 9 A, tebal 4,7 A), semakin panjang semakin kuat.
Beberapa contoh jenis serat yang dapat diperoleh di indonesia adalah
sebagai berikut :
Karakteristik

Bambu

Serat

Kayu

Kayu

Lunak

Kertas

Bagase

Jerami

Panjang serat

3-4

1,6 - 2,7

0,7 - 1,6

1,7

1,5

Diameter serat

14

32 - 43

20 - 40

20

8,5

% Abu

1-3

10 - 15

% Lignin

22 - 30

26 - 30

18 - 25

19 - 21

14 - 21

% Pentosan

16 - 20

6-9

16 - 18

30 - 32

% Selulosa

50 52

40 45

38 - 49

40 43

30 38

37

Dalam proses pembuatan pulp digunakan dua jenis bahan baku, yaitu:
a. Bahan baku primer
Untuk memperoleh serat ini diperoleh dari tumbuh-tumbuhan dengan
jenis kayu (wood) atau bukan kayu (non wood).
1. Kayu (wood)

Kayu dapat dibedakan berdasarkan ukuran daun yang dimiliki yaitu


kayu berdaun lebar (hard wood), dan kayu berdaun jarum (soft wood).Kayu
berdaun lebar (hard wood), umumnya menggugurkan daunnya pada musim
kemarau seperti Albazia falcatera, Euclyptus sp, dan Antochehalus
candabia.Sedangkan kayu berdaun jarum (soft wood), sering disebut kayu
jarum adalah jenis daun yang bersal dari pohon berdaun jarum. Jenis pohon ini
selalu hijau sepanjang tahun dan tidak menggugurkan daunnya pada musim
kemarau, seperti Pinlis sp (tusam) dan Aganthis sp (dammar).
Analisis sifat pengolahan kayu digunakan untuk mengetahui jenis kayu
yang cocok sebagai bahan baku pulp. Analisis ini meliputi rendemen pulp,
konsumsi alkali, bilangan permanganate, panjang putus dan factor retak.
2. Bukan Kayu (non wood)
Beberapa jenis tumbuhan bukan kayu merupakan sumber serat untuk
bahan baku pulp, baik itu yang berasal dari kulit batang, daun, tangkai,
buah/biji dan bulu biji. Berdasarkan sumber serat, tumbuhan bukan kayu dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
Serat kulit batang

: Fax, Jule, Hemo, Rami Kenaf, Haramay

Serat daun

: Manila, Abaca, Sisal, Palm, Nenas

Serat bulu biji

: Kapas, Kapuk

Serat rerumpunan

: Merang, Jerami, Baggase, Bambu, Gelaga

38

Tabel: Rata-rata komposisi kimia kayu dan bukan kayu


Kandungan

Serat Panjang

Serat Pendek

Bukan Kayu

Bahan Kimia

(soft wood)

(hard wood)

(non wood)

Selulosa

42 +/- 2 %

40 +/- 2 %

(36 38) %

Hemiselulosa

27 +/- 2 %

30 +/- 5 %

(38 40) %

Lignin

28 +/- 3 %

28 +/- 3 %

(12 16) %

Zat ekstraktif

5 +/- 3 %

3. +/- 3 %

b. Bahan Baku Sekunder


Guna penghematan atau efisiansi serat dari bahan baku primer, maka dewasa
ini telah diusahakan pemanfaatan kertas bekas (waste paper) dari berbagai jenis
kertas dan karton sebagai bahan baku pulp. Serat yang dihasilkan dari kertas,
karton bahkan dari baju bekas yang dikenal sebagai sebutan serat primer.
4.1.1 Kualitas Bahan Baku
Pada proses pembuatan pulp digunakan bahan baku chip yang berasal
dari kayu. Kualitas chip yang digunakan dalam proses pembuatan pulp
merupakan faktor yang sangat penting baik dalam proses pengoperasian di
pabrik maupun kualitas chip yang dihasilkan. Oleh karena itu perlu diketahui
faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas chip pada produksi pulp. Faktorfaktor yang mempengaruhi proses pembuatan pulp dibagi menjadi tiga
kategori, yaitu:
1. Chip Quality
Kualitas chip yang digunakan dalam pulping adalah faktor yang sangat
penting dalam kualitas akhir pulp. Faktor-faktor kualitas chip yang perlu
diperhatikan adalah:
a) Wood Related Variable
Meliputi sifat-sifat kayu seperti spesies, densitas dan decay (kerusakan).
Wood spesies
Chip-chip softwood menghasilkan pulp yang lebih kuat daripada
hardwood karena fiber-fibernya lebih panjang dan lebih fleksibel
daripada hardwood. Softwood umumnya menghasilkan yield yang

39

lebih rendah daripada hardwood bila dimasak dibawah kondisi


biasanya.
Wood Density
Density kayu adalah factor ekonomi yang penting dalam pulping.
Dengan suatu kayu yang padat (denser wood)akan membuat lebih
banyak dalm volume digester dam ini akan meningkatkan produksi
pulp.Kualitas pulp maupun kertas juga dipengaruhi oleh densitas kayu
yang digunakan. Serat yang didapat dari kayu dengan densitas rendah
akan menghasilkan serat yang fleksibel serta kertas yang berkekuatan
baik.
Wood Decay
Pembusukan kayu disebabkan oleh mikroorganisme seperti fungi,
bakteri, ragi dan lain-lain. Pembusukan terjadi pada saat tanaman masih
ditanam maupun dstronge chip (tempat penyimpanan chip).
b) Process Related Variable
Chip Size
Ketebalan chip sangat penting dalam proses pulping, ketika cairan
pemasak akan menembus chip pada semua sisi. Jika chip tebal, cairan
pemasak tidak akan menembus secara sempurna kepusat chip sehingga
pusat chip tidak masak.
Chip Bulk Density
Merupakan parameter yang penting pada saat pengisian digester.Hal ini
menentukan jumlah pulp yang dapat masuk dan dinyatakan dalam
kg/m3.Chip Bulk Density dipengaruhi oleh wood density dan chip size.
Chip moisture
Mempunyai pengaruh terhadap pulp yield, kappa number, dan kualitas
pulp. Jika moisture terlalu rendah, maka akan mempersulit dalam
menghasilkan chip. Dengan mengetahui moisture content chip dapat
dihitung wood input yang masuk kedalam digester, supaya terjaga
konsentrasi liquor dan alakali secara konstan. Moisture level sebaiknya
dalam range 40%-50%.

40

Bark (kulitkayu) dan kontaminasi lainnya


Bark merupakan komponen yang tidak diinginkan dalam produksi pulp
karena bark berisi 20-30% selulosa dan 20-30% ekstraktif dan
selebihnya lignin. Bark sendiri akan menaikkan konsumsi alkalidan
mengurangi kekuatan pulp. Kandungan ekstraktif yang tinggi
menyebabkan masalah di evaporator dan pitch pada pulp machine.

1. White Liqour Properties


White Liqour merupakan bahaan kimia pemasak dengan metode
sulfat (kraft cycle) dalam bentuk aqueous solution, dimana
kandungannya terdiri dari NaOH, Na2S, Na2SO4, Na2CO3).White
Liquor digunakan untuk mengurangi kandungan lignin dalam
digester dan juga untuk ekstraksi selulosa. Digester yang digunakan
adalah digester continue.
2. Cooking Control Variable
Variabel-variabel yang digunakan untuk mengontrol cooking
adalah:
Waktu dan Temperatur
Reaksi delignifikasi bergantung pada temperature. Kenaikan
temperature yang kecil mempunyai pengaruh besar terhadap
reaksi delignifikasi seperti kenaikan 10C dari 160C - 170C
akan menyebabkan dua kali delignifikasi.
Alkali Charge
Efektivitas normal alakali charge memiliki nilai antara 10%-18%
Na2O dalam drywood tergantung dari jenis kayu, kondisi
pemasakan, dan derajat delignifikasi yang dibuttuhkan. Kelebihan
alkali dapat menyebabkan kenaikan angka delignifikasi, dan
mengurangi yield as the mount of dissolved hemicellulosa
increase.
Liqour to Wood Ratio

41

Rasio liquor :wood (rasio normal3:1 atau 5:1), kelebihan black


liquor yang berasal dari digester ke chip untuk menaikkan rasio
liquorwood.
Banyak bahan perusak lingkungan dihasilkan oleh pabrik
konvensional penghasil pulp yang dikelantang dengan proses kraft
atau sulfit.Proses sulfit dan kraft tanpa pengambilan kembali bahan
kimia khususnya yang menimbulkan pencemaran, sebaiknya
dipertimbangkan untuk tidak digunakan dalam pabrik baru.
Pengelantangan dengan menggunakan senyawa klorin menimbulkan
hidrokarbon klor dengan kadar yang tidak dapat diterima oleh
lingkungan, termasuk dioksin. Akhir-akhir ini pengelantang dengan
menggunakan oksigen dan peroksida mulai digunakan untuk
menggantikan klor.Pengelantangan dengan menggunakan oksigen
menghasilkan produk dengan kualitas lebih tinggi daripada yang
menggunakan

klor.

Demikian

juga,

pengelantangan

dengan

penukaran (di mana zat-zat warna asli pada serat ditukar dengan zat
pemutih) mulai dipasang pada pabrik-pabrik baru, menghasilkan
lebih sedikit buangan dari kilang pengelantangan. Langkah lain yang
berkaitan dengan substitusi bahan adalah penggunaan klor dioksida
untuk

menggantikan

klorin

dalam

proses

pengelantangan

konvensional.
4.1.2 Perubahan Bahan Baku Industri Pulp dan Kertas
Pada industri pulp dan kertas, bahan baku utama yang digunakan adalah
serat yang berasal dari tanaman (dengan kandungan utama berupa selulosa).
Dalam proses produksinya, ditemukan adanya serat yang hilang dan terbawa
bersama air limbah. Adanya serat dalam air limbah ini tentu akan menambah
beban pada instalasi pengolahan air limbah yang pada akhirnya akan
menambah beban pencemaran pada lingkungan (sungai). Oleh karena itu perlu
dilakukan upaya menangkap kembali serat ini agar tidak terbuang dan dapat
digunakan kembali sebagai bahan baku. Alat yang dapat digunakan untuk
menangkap serat adalah disc filter. Disc filter mempunyai efisiensi
penangkapan serat yang bervariasi tergantung pada kecepatan putaran dan

42

jumlah serat yang digunakan sebagai pemancing yang disebut sweetener.


Kadar serat dalam air sebelum dan setelah melewati disc filter, meliputi :

white water: air yang mengandung serat yang berasal dari proses produksi

sweetener: serat pancingan yang berfungsi sebagai prefilter

cloudy filtrate: filtrat yang akan dibuang sebagai air limbah

clear filtrate: filtrate dengan kadar serat yang lebih rendah daripada cloudy

filtrate: airnya dapat dimanfaatkan kembali sebagai air proses

filtered stock: serat yang berhasil disaring oleh disc filter dan dapat
dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku.
Bahan baku kayu bisa disubstitusi dengan menggunakan ampas tebu,

daun, eceng gondok, ranting, jerami, tandan kosong kelapa sawit, kertas daur
ulang,

bambu,

rumput-rumputan,

pisang

abaca

di

simeulue

sudah

dikembangkan dan masih bisa dikembangkan lagi dengan alternatif bahan lain
yang mengandung selulosa dan hemiselulosa.

Seperti PT Kertas Leces

(Persero), salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menandatangani


perjanjian kerja sama (MoU) dengan Pemkab Simeulue dalam hal
pengembangan tanaman pisang Abaca (non-wood Primer), yakni pisang yang
menjadi bahan baku kertas termasuk untuk pembuatan uang kertas. Pisang
yang sangat langka di daerah lain itu akan dikembangkan pada areal seluas
5.000 hektare.
Adapun penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Indonesia
pada PT Kertas Bekasi Teguh, Bekasi Jawa Barat, yang mengganti bahan baku
kertas dari campuran kayu dan kertas bekas menjadi 100% kertas bekas
(Bahan baku sekunder). Hasil perhitungan menunjukkan terjadi penghematan
air dan kayu serta penurunan beban pencemaran dengan dilakukannya
perubahan bahan baku dari bahan baku campuran kayu dan kertas bekas
menjadi bahan baku 100% kertas bekas. Selain itu juga terjadi penurunan pada
biaya pengolahan air limbah dan biaya pembuangan air limbah serta membawa
manfaat yang positif bagi lingkungan masyarakat sekitar khususnya
masyarakat sekitar sungai tempat pembuangan air limbah dari PT. KBT
(Suryani, 2007).

43

Lain halnya dengan PT Riau Andalan pulp & paper yang belum
menerapkan substitusi bahan baku/bahan penunjang pada proses produksinya.
Bahan baku yang digunakan yaitu kayu tanaman akasia yang mayoritas
tergolong hard wood. Pulp yang digunakan yaitu pulp serat pendek dan pulp
serat panjang. Bahan tambahan yang digunakan ada 3 macam yaitu cairan
pemasak (liquor), steam, dan bahan pemutih (clorin dioksida). Karena
kurangnya perhatian akan proses produksinya perusahaan ini mendapat proper
merah. Hal ini memang sesuai fakta karena pada perusahaan pulp dan kertas
ber-proper hijau seperti PT Pindo Deli pulp & paper mills di Karawang,
banyak didapatkan upaya minimasi limbah atau pun energi. Salah satu
upayanya adalah memasang CFB Boiler menggunakan sludge kertas sebagai
bahan baku alternatif. Teknologi ini dapat menghemat biaya untuk landfill
sludge dan tidak perlu dilakukannya pengeringan awal jika digunakan
campuran pada batubara maks 5%. Selain itu perusahaan ini juga
mengembangkan penggunaan bahan baku sekunder untuk proses produksi
kertas baru seperti halnya PT Kertas Bekasi Teguh.
4.2 Pembahasan PT. Coca Cola Corporation
Rasa cinta banyak orang kepada soft drink pelan-pelan mulai pudar. Kini
semakin banyak orang yang berusaha mengurangi kebiasaannya mengonsumsi
minuman bersoda. (Kompas)
Berdasarkan poling dari Gallup pada bulan Juli 2014, 63% persen orang
Amerika secara aktif mencoba menghindari soda. Meningkat dari 51% persen
saat tahun 2004.
Beberapa akibat dari minuman softdrink :
1. Meningkatkan lemak di sekitar organ
Yang dimaksud adalah lemak jahat yang sulit dideteksi dengan mata
telanjang. Dengan kata lain Anda mungkin tak tahu bahayanya karena Anda
tak merasa ada perubahan pada tubuh. Peneliti dari Denmark yang menguji
tentang efek dari non-diet soda mewawancara para responden apakah mereka
mengonsumsi soda yang mengandung gula, susu dengan jumlah kalori yang
sama dengan minuman bersoda, atau air. Mereka ditanya setiap hari selama 6
bulan. Meski total lemak para responden hampir sama, tapi orang yang sering

44

mengasup minuman bersoda mengalami peningkatan drastis pada lemak


tersembunyinya, terutama di bagian liver dan skeletal.
2. Soda diet tak membantu
Sebenarnya mengubah minuman bersoda yang bergula dengan yang
tanpa gula tak banyak menguntungkan kesehatan. Dari hitungan kalori
mungkin benar, tapi diet soda memiliki bahayanya sendiri. Dalam sebuah
penelitian, ternyata orang yang sering mengasup diet soda mengalami
peningkatan lingkar pingang hingga 70 persen dalam kurun waktu 10 tahun
dibanding dengan yang tidak minum soft drink.
3. Efek racun
Eropa dan Jepang telah melarang minuman bersoda yang mengandung
racun jenis Brominated Vegetable Oil (BVO) dalam busa. Namun di Amerika
masih banyak produk minuman yang menggunakannya, terutama yang berasa
sitrus. BVO awalnya diciptakan untuk membuat bahan plastik tak mudah
terbakar. Namun BVO juga dipakai untuk memberi efek desis pada minuman.
Namun efek samping dari zat kimia ini masih terus diteliti. Sebagian produsen
memang telah memutuskan untuk mengganti BVO dari beberapa produk
mereka.
4. Bersifat polutan pada air
Tubuh kita tidak bisa memecah pemanis buatan sehingga gula tersebut
akan dibuang tubuh dan mengalir di sungai-sungai yang menjadi sumber air
kita. Penelitian yang dilakukan di Swiss menemukan beberapa zat pemanis
buatan seperti sakarin dan sukralose yang biasa dipakai dalam minuman soda,
pada danau, sungai, dan saluran air di negara tersebut.
5. Mempercepat penuaan dini
Anda telah menghabiskan ratusan bahkan jutaan rupiah untuk produk
antipenuaan, multivitamin dan membayar trainer untuk menjaga tubuh tetap
muda dan sehat. Tapi semua itu akan percuma jika Anda masih punya
kebiasaan mengasup minuman manis dan soft drink. Minuman ini akan
menurunkan kepadatan tulang, menambah berat badan, mengikis email gigi,
dan menyebabkan masalah ginjal di kemudian hari.
Brominated Vegetable Oil (BVO) adalah zat yang digunakan untuk
mengikat minyak yang terdapat pada minuman bersoda. Tanpa zat ini, minyak
yang terdapat pada minuman akan muncul ke permukaan. Zat ini berbahaya jika

45

menumpuk pada tubuh. Efek jangka panjang dapat membuat tubuh lemas,
hilangnya kordinasi otot dan memori serta kelumpuhan. Zat ini biasanya terdapat
pada minuman soda dengan rasa jeruk.
BVO dimasukkan dalam daftar bahan makanan yang "Generally
Recognized as Safe" atau "Umumnya Diakui Aman" oleh US Food and Drug
Administration pada 1970. Namun, perusahaan minuman diizinkan untuk
menggunakan BVO sampai dengan 15 bagian per jutaan produksinya. Di Jepang
dan Uni Eropa, penggunaan BVO sebagai aditif makanan tidak diperbolehkan.
Coca-Cola mengatakan akan beralih menggunakan sukrosa asetat isobutyrate
atau gliserol ester rosin, yang sering ditemukan pada permen karet. Perusahaan
berbasis di Atlanta ini mengatakan bahwa dua rasa Powerade, yakni fruit punch
dan strawberry lemonade, telah mengganti BVO dengan gliserol ester rosin.
Keputusan Coca-Cola untuk menghapus BVO dari produknya pada akhir
tahun ini mencerminkan tren yang berkembang di antara perusahaan makanan
dan minuman. Mereka mempertimbangkan kembali bahan-bahan yang digunakan
karena menerima tekanan publik. Kampanye terhadap penggunaan BVO ini
dimulai dari Sarah Kavanagh, seorang remaja asal Mississippi, yang
mempertanyakan mengapa bahan tersebut digunakan dalam minuman. Sejauh ini,
lebih dari 250.000 orang telah menandatangani petisi online sejak Sarah
memasangnya di Change.org. Setelah pengumuman yang dikeluarkan Coca-Cola
dan Pepsi, dia mengatakan bahwa benar-benar menyenangkan mengetahui bahwa
perusahaan-perusahaan, terutama perusahaan besar, mendengarkan komplain
konsumen.
4.3 Pembahasan Industri Detergent
Kesadaran masyarakat pengguna Detergen mesin akan dampak dibalik
manfaat Detergen mesin cuci perlu ditingkatkan. Peran serta masyarakat dalam
mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh penggunaan Detergen sangat
diharapkan. Banyaknya pilihan produk yang diinformasikan melalui iklan
memang bisa menguntungkan konsumen. Tetapi konsumen tetap perlu berhatihati, karena kesalahan memilih produk akan merugikan konsumen sendiri.
Sebaiknya konsumen memilih Detergen yang pada kemasannya mencantumkan
penandaan nama dagang, isi / netto, nama bahan aktif, nama dan alamat pabrik,
nomor ijin edar, nomor kode produksi, kegunaan dan petunjuk penggunaan, juga
tanda peringatan serta cara penanggulangan bila terjadi kecelakaan. Selain itu

46

dianjurkan bagi konsumen untuk memilih produk yang mencantumkan bahan


aktif yang lebih aman dan ramah lingkungan. Informasi mengenai produk ramah
lingkungan dapat dilihat pada label baik berupa logo hijau maupun klaim ramah
lingkungan. Selain itu produsen sebaiknya memberikan informasi yang lebih
lengkap mengenai produknya.
Kemampuan Detergen untuk menghilangkan berbagai kotoran yang
menempel pada kain atau objek lain, mengurangi keberadaan kuman dan bakteri
yang menyebabkan infeksi dan meningkatkan umur pemakaian kain, karpet, alatalat rumah tangga dan peralatan rumah lainnya, sudah tidak diragukan lagi. Oleh
karena banyaknya manfaat penggunaan Detergen, sehingga menjadi bagian
penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern.
Ada dua ukuran yang digunakan untuk melihat sejauh mana produk kimia
aman di lingkungan yaitu daya racun (toksisitas) dan daya urai (biodegradable).
ABS dalam lingkungan mempunyai tingkat biodegradable sangat rendah,
sehingga Detergen ini dikategorikan sebagai non-biodegradable. Dalam
pengolahan limbah konvensional, ABS tidak dapat terurai, sekitar 50% bahan
aktif ABS lolos dari pengolahan dan masuk dalam sistem pembuangan. Hal ini
dapat menimbulkan masalah keracunan pada biota air dan penurunan kualitas air.
LAS mempunyai karakteristik lebih baik, meskipun belum dapat dikatakan
ramah lingkungan. LAS mempunyai gugus alkil lurus / tidak bercabang yang
dengan mudah dapat diurai oleh mikroorganisme.
Hal lain yang perlu diperhatikan oleh konsumen dalam menggunakan
Detergen adalah cara penggunaan yang benar. Pada beberapa Detergen bubuk
ternyata terdapat petunjuk yang tidak tepat. Yaitu ketika konsumen dianjurkan
menggunakan takaran genggam. Hal ini sungguh berisiko karena Detergen
bersifat basa yang berarti korosif terhadap kulit. Apalagi jika kulit pengguna
bersifat sensitif, maka takaran Detergen yang menggunakan istilah genggam
tersebut akan langsung memberikan reaksi pada kulit berupa gatal, mengering
dan pecah-pecah. Selain itu, takaran genggam bukan ukuran yang bersifat pasti,
karena hanya berupa kira-kira yang sangat tergantung kepada ukuran tangan
seseorang. Jadi kecenderungan konsumen untuk menggunakan berlebihan
memang besar. Disamping itu, karena slogan-slogan pada iklan produk Detergen
baik di media elektronik maupun media cetak, timbul persepsi konsumen bahwa
busa banyak bisa mencuci lebih bersih. Padahal busa yang terlalu banyak bukan

47

berarti Detergen menjadi lebih efektif, malah sebaliknya, daya cucinya


terhambat. Selain itu keberadaan busa-busa di permukaan badan air menjadi
salah satu penyebab kontak udara dan air terbatas sehingga menurunkan oksigen
terlarut. Dengan demikian akan menyebabkan organisme air kekurangan oksigen
dan dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu sebaiknya konsumen
menggunakan takaran khusus untuk Detergen dan produsen menyediakan alat
takar tersebut di dalam kemasan produknya.
Air yang tercemari detergen dapat mengancam kehidupan organisme yang
hidup di dalamnya, salah satunya adalah ikan. Selain ikan masih banyak
organisme lain, seperti fitoplankton, zooplankton/protozoa, cyanobacteria, dan
lain-lain. Jika organisme-organisme seperti fitoplankton mati, maka zooplankton
akan mati karena tidak ada makanan, ikan-ikan pun akan mati karena
zooplankton yang biasa dimakan tidak ada. Dengan kata lain detergen dan
polutan lainnya yang mencemari air dapat memusnahkan seluruh organisme yang
hidup di dalamnya.Besar tidaknya pengaruh detergen dan polutan lainnya pada
ikan dan makhluk hidup lain tergantung pada konsentrasi polutan tersebut.
Semakin tinggi konsentrasi polutan, semakin besar pengaruhnya.
Sabun dan detergen dapat menjadikan lemak dan minyak yang tadinya
tidak dapat bercampur dengan air menjadi mudah bercampur. Sabun dan detergen
dalam air dapat melepaskan sejenis ion yang memiliki bagian yang suka air
(hidrofilik) sehingga dapat larut dalam air dan bagian yang tidak suka akan air
(hidrofobik) sehingga larut dalam minyak atau lemak.Jika dalam pakaian yang
dicuci dengan detergen terdapat kotoran lemak maka bagian ion yang bersifat
hidrofobik masuk ke dalam butiran lemak atau minyak dan bagian ion tersebut
yang bersifat hidrofilik akan mengarah ke pelarut air. Keadaan ini menyebabkan
butiran-butiran minyak akan saling tolak-menolak karena menjadi bermuatan
sejenis. Akibatnya, kotoran lemak atau minyak yang telah lepas dari pakaian
tidak dapat saling bersatu lagi dan tetap berada dalam larutan.
Kita perlu hati-hati dalam memilih bahan pembersih, bahan tersebut
jangan sampai menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap lingkungan.
Beberapa jenis detergen sukar diuraikan oleh pengurai. Jika detergen ini
bercampur dengan air tanah yang dijadikan sumber air minum manusia atau
binatang ternak maka air tanah tersebut akan membahayakan kesehatan. Oleh
karena itu, kita sebaiknya memilih detergen yang limbahnya dapat diuraikan oleh

48

mikrorganisme (biodegradable). Pengaruh buruk yang dapat ditimbulkan oleh


pemakaian detergen yang tidak selektif atau tidak hati-hati adalah rusaknya
keindahan lingkungan perairan, terancamnya kehidupan hewan-hewan yang
hidup di air danmerugikan kesehatan manusia.
Gunakanlah detergen sebijaksana mungkin, jangan buang air cucian ke
perairan yang banyak organisme yang hidup di dalamnya. Gunakanlah ilmu
pengetahuan kita untuk menciptakan solusi masalah ini, misalnya detergen yang
ramah lingkungan.

4.4 Pembahasan Industri Semen


Untuk mengatasai dampak lingkungan yang terjadi akibat industry semen yang
menggunakan Bahan baku kapur (batu kapur), silika (pasir silika), alumina (tanah
liat), dan besi oksida (bijih besi), serta gipsum untuk memperlambat pengerasan. Saat
ini telah ditemukan bahan baku lain yang dapat mengurangi dampak lingkungan
dibandingkan dengan bahan baku sebelumnya.

4.4.1 Penemuan Semen Terbaru


4.4.1.1 Ekosemen
Jepang telah berhasil mengubah sampah menjadi produk semen yang
kemudian dinamakan ekosemen. Kata ekosemen sendiri diambil dari
penggabungan kata ekologi dan semen. Diawali penelitian di tahun 1992,
para peneliti Jepang (yang tergabung dalam NEDO) telah meneliti
kemungkinan abu hasil pembakaran sampah dan endapan air kotor sebagai
bahan semen. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa abu hasil
pembakaran sampah mengandung unsur yang sama dengan bahan dasar
semen pada umumnya. Pada tahun 2001, pabrik pertama di dunia yang
mengubah sampah menjadi semen resmi beroperasi di Chiba.
Di Jepang, sampah terbagi menjadi tiga macam, salah satunya adalah
sampah terbakar (terdiri atas sampah organik, kertas, dll) dan sampah tidak
terbakar (plastik, dll). Setiap tahunnya, penduduk Jepang membuang sekitar
37 juta ton untuk sampah terbakar. Kemudian sampah tersebut dibakar

49

(diinsenerasi) dan menghasilkan abu (inceneration ash) mencapai 6


ton/tahunnya. Dari abu inilah kemudian dijadikan sebagai bahan dari
pembuatan ekosemen. Abu ini dan endapan air kotor mengandung senyawasenyawa dalam pembentukan semen biasa yaitu senyawa-senyawa oksida
seperti CaO, SiO2, Al2O3, dan Fe2O3. Oleh karena itu, abu insenerasi ini dapat
berfungsi sebagai pengganti clay (tanah liat) yang digunakan dalam
pembentukan semen biasa.
a. Proses Pembuatan Ekosemen
Pada pembuatan ekosemen,secara prinsip sama dengan pembuatan
semen biasa. Perbedaannya terletak pada abu insenerasi, sewage sludge,
dan limbah lainnya yang digunakan sebagai pengganti clay dan sebagian
limestone. Adapun prosesnya sebagai berikut:
a) Reprocessing
Raw material (inceneration ash dan endapan air kotor rumah
tangga) diproses terlebih dahulu, seperti dengan pengeringan (drying),
crushing, dan logam yang masih terkandung dalam raw material
dipisahkan dan didaur ulang.
b) Raw Material Drying and Pulverizing
Setelah dikeringkan, raw material dihancurkan pada raw
grinding/drying mills bersamaan dengan natural raw material.
c) Raw Material Mixing
Kemudian dimasukkan ke dalam homogenizing tank bersamaan
dengan fly ash (abu yang dihasilkan dari pembangkit listrik batubara)
dan blast furnance slag (limbah yang dihasilkan industri besi). Dua
homogenizing tank ini dimasukkan untuk memperoleh penentuan
komposisi kimia yang diinginkan.
d) Firing
Setelah itu dimasukkan ke dalam rotary kiln untuk kemudian
dibakar pada suhu diatas 1350C. Pada proses ini, dioksin dan senyawa
berbahaya lainnya yang terkandung pada inceneration ash akan terurai
dengan aman. Gas limbah dari rotary kiln kemudian didinginkan secara
cepat hingga suhu 200C untuk mencegah terbentuknya dioksin
kembali. Pada proses ini pula logam berat yang masih terkandung
dipisahkan dan dikumpulkan ke dalam bag filter sebagai debu yang

50

mengandung klorin. Debu ini kemudian dialirkan ke Heavy Metal


Recovery Process. Pada proses ini, klorin yang masih terkandung akan
dihilangkan dan menghasilkan sebuah articial ore seperti tembaga dan
timbal yang kemurniaannya mencapai 35% atau lebih. Pada proses
firing ini akan menghasilkan clinker yang kemudian dikirim ke clinker
tank.
e) Product Pulverizing Process
Gipsum ditambahkan bersama clinker dan campuran tersebut
akan dihancurkan pada finish mills yang kemudian akan menghasilkan
produk ekosemen.

Hingga saaat ini terdapat dua macam tipe ekosemen


(berdasarkan penambahan alkali dan kandungan klorin) yaitu tipe biasa
dan tipe pengerasan cepat. Ekosemen tipe biasa mempunyai kualitas
yang sama baiknya dengan semen portland biasa. Tipe semen ini
digunakan sebagai bahan campuran beton. Sedangkan ekosemen tipe
kedua memiliki kekuatan beton dan pengerasan yang lebih cepat
dibanding semen portland tipe high early strength. Ekosemen tipe ini
digunakan pada architectural block, exterior wall material, roof
material, wave dissipatingconcrete block, dll.
Yang menjadi masalah adalah kandungan Cl yang begitu tinggi
pada abu insenerasi dan logam berat yang dikandung yang dapat
mengakibatkan masalah pada sistem operasi dan mengurangi kualitas
dan pengamanan material pada semen. Sedangkan kandungan CaO
yang masih kurang pada abu insenerasi dapat dicukupi dengan
penambahan batu kapur. Dalam pembuatan ekosemen ini, klorin dan
logamm berat yang terkandung pada abu insenerasi akan diekstrak
menjadi bijih tiruan yang kemudian didaur ulang.
Plastik vinil yang terdapat dalam sampah pada proses
pembakaran akan mengakibatkan kekuatan kronkit ekosemen akan
berkurang. Hal ini diakibatkan oleh adanya gas Cl2 hasil penguraian
plastik vinil yang dapat mempengaruhi kekuatan konkrit ekosemen.
Sehingga pemisahan sampah sangatlah penting, khususnya sampah
plastic

51

b. Manfaat Ekosemen
Dengan adanya pengubahan sampah menjadi semen, menambah
alternatif pengolahan sampah yang lebih bernilai ekonomis, dan biaya
pengolahan sampah di Jepang menjadi lebih murah. Selain itu, teknologi
ekosemen juga ramah lingkungan. Pada pembuatan ekosemen, sebagian
CaO diperoleh dari abu insenerasi sehingga mengurangi penggunaan batu
kapur yang selama ini menjadi polusi gas CO2.

4.4.1.2 Semen Pozolan


Jenis semen alternatif yang harganya relatif murah dan teknologi
proses pembuatannya sederhana adalah semen pozolan. Semen ini dibuat
dari campuran bahan pozolan dan kapur padam dengan tidak melalui
proses pemanasan. Bahan pozolan berasal dari batuan produk gunung api
dan biasanya batuan tersebut telah mengalami pelapukan baik pelapukan
fisik maupun kimia. Sedangkan kapur padam berasal dari batugamping
dengan melalui proses pembakaran menghasilkan kapur tohor. Kemudian
pada kapur tohor tersebut ditambahkan air sehingga terbentuk kapur
padam. Potensi batuan produk gunungapi dan batugamping sangat
melimpah di Indonesia.
Di era Otonomi Daerah, pengembangan industri semen pozolan
sangat tepat untuk diaplikasikan daerah-daerah yang mempunyai potensi
bahan pozolan dan batu kapur (batu gamping). Manfaat yang akan
diperoleh daerah yaitu meningkatkan PAD, memberikan kesempatan
peluang

kerja,

mengurangi

pengangguran

dan

urbanisasi,

dan

meningkatkan pemanfaatan sumberdaya mineral di daerah. Untuk


mendukung terealisasinya otonomi daerah, Direktorat TPSM melalui
Proyek Pengembangan Teknik Terapan dan Teknologi Pengolahan Bahan
Mineral pada tahun anggaran 2000 telah melakukan kegiatan evaluasi
cadangan bahan baku semen pozolan di Daerah Tunggilis, Kabupaten
Ciamis.

52

Daerah Kabupaten Ciamis memiliki potensi bahan baku semen


pozolan yang besar berupa batukapur (batugamping) dan zeolit.
Pengolahan batukapur telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat setempat
dengan cara pembakaran untuk menghasilkan kapur tohor dan kapur
padam.
Pada kegiatan evaluasi bahan baku semen pozolan telah dilakukan
pekerjaan pemetaan topografi dan geologi serta pemboran pada endapan
bahan pozolan berupa zeolit dengan tujuan untuk mengetahui volume
bahan bakunya.
Zeolit merupakan senyawa alumino-silikat terhidrasi yang secara
fisik dan kimia mempunyai kemampuan sebagai bahan penyerap
(adsorpsi), penukar kation dan katalis. Unsur utama mineral zeolit terdiri
dari kation alkali dan alkali tanah. Zeolit terbentuk karena proses
diagenetik, proses hidrotermal dan proses sedimentasi batuan produk
gunungapi (batuan piroklastik) berukuran debu pada lingkungan danau
yang bersifat alkali. Mineral-mineral yang termasuk dalam grup zeolit
pada umumnya dijumpai dalam batuan tufa yang terbentuk dari hasil
sedimentasi debu gunungapi yang telah mengalami proses alterasi.
Mineral-mineral utama pembentuk zeolit hanya ada sembilan jenis, yaitu
analsim, kabasit, klinoptilolit, Erionit, mordenit, ferrierit, heulandit,
laumontit dan fillipsit. Di Indonesia jenis mineral zeolit yang terbanyak
adalah klinoptilolit dan mordenit.

4.4.1.3 Geopolimer Semen


Akhir-akhir ini, industri semen dan beton semakin sering disorot,
khususnya oleh para pecinta lingkungan. Ini disebabkan emisi karbon
dioksida, komponen terbesar gas rumah kaca, yang dihasilkan dari proses
kalsinasi kapur dan pembakaran batu bara. Isu lingkungan ini tampaknya
akan memainkan peran penting dalam kaitan dengan isu pembangunan
berkelanjutan di masa mendatang.
Dari Konferensi Bumi yang diselenggarakan di Rio de Janeiro,
Brasil tahun 1992 dan di Kyoto, Jepang tahun 1997 dinyatakan bahwa
emisi gas rumah kaca ke atmosfer yang tak terkendali tidak bisa lagi
diterima dari sudut pandang kepentingan sosial dan kelestarian lingkungan

53

dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan. Gas rumah kaca yang


menjadi sorotan utama adalah gas karbon dioksida karena jumlahnya yang
jauh lebih besar dari gas lainnya seperti oksida nitrat dan metan.
Dalam produksi satu ton semen Portland, akan dihasilkan sekitar
satu ton gas karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer. Dari data tahun
1995, jumlah produksi semen di dunia tercatat 1,5 miliar ton. Hal ini
berarti industri semen melepaskan karbon dioksida sejumlah 1,5 miliar ton
ke alam bebas.
Menurut International Energy Authority: World Energy Outlook,
jumlah karbon dioksida yang dihasilkan tahun 1995 adalah 23,8 miliar ton.
Angka itu menunjukkan produksi semen portland menyumbang tujuh
persen dari keseluruhan karbon dioksida yang dihasilkan berbagai sumber.
Tampaknya proporsi ini akan terus bertahan atau bahkan meningkat sesuai
dengan peningkatan produksi semen kalau tidak ada perubahan berarti
dalam teknologi produksi semen atau didapatkan bahan pengganti semen.
Pada tahun 2010, diperkirakan total produksi semen di dunia mencapai
angka 2,2 miliar ton.
Merujuk pada besarnya sumbangan industri semen terhadap total
emisi karbon dioksida, perlu segera dicarikan upaya untuk bisa menekan
angka produksi gas yang mencemari lingkungan ini. Tampaknya
perbaikan teknologi produksi semen tidak terlalu bisa diharapkan dapat
menekan produksi karbon dioksida secara signifikan. Penggantian
sejumlah bagian semen dalam proses pembuatan beton, atau secara total
menggantinya dengan bahan lain yang lebih ramah lingkungan menjadi
pilihan yang lebih menjanjikan.
Pakar teknologi beton yang bermukim di Kanada, VM Malhotra,
memelopori riset penggunaan abu terbang (fly ash) dalam proporsi cukup
besar (hingga 60-65 persen dari total semen Portland yang dibutuhkan)
sebagai bahan pengganti sebagian semen dalam proses pembuatan beton.
Sebelumnya banyak peneliti menggunakannya hanya dalam proporsi kecil.
Abu terbang adalah abu sisa pembakaran batu bara yang dipakai
dalam banyak industri. Abu terbang sendiri tidak memiliki kemampuan
mengikat seperti halnya semen. Tetapi dengan kehadiran air dan ukuran
partikelnya yang halus, oksida silika yang dikandung oleh abu terbang

54

akan bereaksi secara kimia dengan kalsium hidroksida yang terbentuk dari
proses hidrasi semen dan menghasilkan zat yang memiliki kemampuan
mengikat.
Adanya kalsium hidroksida dalam beton selama ini ditengarai
sebagai sumber perusak beton sebelum waktunya, khususnya bila beton
berada di lingkungan yang agresif. Karenanya, penambahan atau
penggantian sejumlah semen dengan abu terbang berpotensi menambah
keawetan beton tersebut. Selama ini abu terbang tidak dimanfaatkan dan
dibuang begitu saja, sehingga memiliki potensi mencemari lingkungan.
Upaya yang dipelopori Malhotra dan kawan-kawan ini tampaknya
memberikan

hasil

menjanjikan.

Beton

yang

dihasilkan

ternyata

menunjukkan tenaga tekan tinggi serta memiliki sifat keawetan


(durability) lebih baik dibanding beton biasa yang sepenuhnya
menggunakan semen Portland. Upaya ini dikembangkan lebih lanjut
dengan pemanfaatan bahan-bahan sisa lainnya yang mempunyai
kandungan oksida silika tinggi seperti silica fume, slag atau bahkan abu
sekam dan jerami.
Dari konferensi Concrete 2001 yang diselenggarakan di Perth,
Australia, belum lama ini, dilaporkan penggunaan HVFA (high volume fly
ash) concrete atau beton dengan kandungan abu terbang tinggi pada
sejumlah proyek infrastruktur, demikian pula penggunaan bahan buangan
lain seperti slag. Beton tersebut dilaporkan menunjukkan hasil memuaskan
di lapangan. Dalam waktu singkat di masa mendatang, penggunaan beton
jenis ini diperkirakan akan meningkat dengan cepat. Selain lebih ramah
lingkungan,

mengurangi

jumlah

energi

yang

diperlukan

karena

berkurangnya pemakaian semen, lebih awet dan lebih murah, bahan ini
juga tetap menunjukkan perilaku mekanik memuaskan.
Perkembangan mutakhir yang menjanjikan adalah penggunaan abu
terbang sepenuhnya sebagai pengganti semen lewat proses yang disebut
polimerisasi anorganik (kadang disebut geopolimer) yang dipelopori oleh
seorang ilmuwan Prancis, Prof. Joseph Davidovits, sekitar 20 tahun lalu.
Geopolimer semen, demikian nama yang diberikan, menjadi
harapan

utama

mereduksi

penggunaan

semen

untuk

keperluan

pembangunan infrastruktur. Setidaknya untuk pembuatan beton pracetak.

55

Walaupun tahapan yang harus dilalui untuk memasalkan penggunaan


teknologi ini masih jauh, setidaknya hasil riset yang ada selama ini
menunjukkan hasil menjanjikan. Saat ini, riset beton geopolimer giat
dilakukan di sejumlah lembaga riset atau universitas khususnya di Prancis,
Amerika Serikat dan Australia.
Tahun 1989, total abu yang dihasilkan dari pembakaran batu bara
di seluruh dunia mencapai 440 miliar ton. Sekitar 75 persen adalah abu
terbang. Produsen utama adalah negara-negara bekas Uni Soviet (99 miliar
ton), diikuti Cina (55 miliar ton), Amerika Serikat (53 miliar ton) dan
India (40 miliar ton). Produksi abu ini terus meningkat dari tahun ke
tahun. Cina sendiri menghasilkan lebih dari 110 miliar ton abu di tahun
2000, dengan total produksi abu dunia tahun 2000 mencapai angka 661
miliar ton.
Tingkat pemanfaatan abu terbang dalam produksi semen saat ini
masih tergolong amat rendah. Cina memanfaatkan sekitar 15 persen, India
kurang dari lima persen, untuk memanfaatkan abu terbang dalam
pembuatan beton. Abu terbang ini sendiri, kalau tidak dimanfaatkan juga
bisa menjadi ancaman bagi lingkungan. Karenanya dapat dikatakan,
pemanfaatan abu terbang akan mendatangkan efek ganda pada tindak
penyelamatan lingkungan, yaitu penggunaan abu terbang akan memangkas
dampak negatif kalau bahan sisa ini dibuang begitu saja dan sekaligus
mengurangi penggunaan semen Portland dalam pembuatan beton.
Mengingat terbatasnya bahan baku dan kondisi lingkungan hidup
yang makin merosot, maka diperlukan inovasi untuk menghasilkan
material konstruksi yang murah, hemat energi dalam proses produksinya,
memiliki sifat keawetan yang tinggi serta sedikit menghasilkan karbon
dioksida atau bahan-bahan berbahaya lainnya.
Pembuatan semen geopolimer dapat mereduksi hingga 80 persen
jumlah karbon dioksida yang dihasilkan dari proses pembuatan semen
biasa (semen Portland). Bahkan para peneliti dari Universitas Melbourne,
Australia, di bawah pimpinan Prof. J Van Deventer mengemukakan hasil
riset mereka bahwa beton geopolimer dapat dimanfaatkan untuk
memasung (immobilise) bahan-bahan berbahaya yang mengandung
radioaktif maupun bahan-bahan beracun lain, seperti tailing. Dalam

56

laporan penelitian disebutkan hampir semua bahan buangan industri yang


mengandung unsur-unsur silika dan alumina bisa dibuat menjadi semen
geopolimer.
Kenyataan bahwa semen geopolimer dapat diproduksi dari bahanbahan buangan atau limbah industri, mengurangi emisi karbon dioksida
secara amat signifikan, memiliki sifat keawetan unggul dan mampu
memasung bahan-bahan beracun, mengukuhkannya sebagai material
konstruksi masa depan.
Saat ini belum semua sifat fisik dan mekaniknya dipahami dengan
baik. Sehingga para peneliti berupaya mengenali perilakunya lewat
sejumlah riset yang dilakukan. Bila perilaku fisik dan mekaniknya telah
dikenali dengan baik, produk-produk aplikasinya di bidang infrastuktur
dapat diwujudkan dengan mudah.

57

BAB V
PENUTUP

5.1

Simpulan
Pada era modernisasi ini masalah lingkungan semakin lama semakin
mengkhawatirkan. Salah satu penyebab pencemaran lingkungan adalah industri.
Limbah yang dihasilkan dari suatu industri merupakan salah satu penyumbang
pencemar lingkungan terbesar. Oleh karena itu sudah suatu kewajiban sebuah
industri ikut serta dalam menjaga keberlangsungan lingkungan. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara meminimasi limbah yang dihasilkan dari proses produksi.
Salah satu cara dalam meminimasi limbah adalah dengan mensubstitusi bahan
baku yang dapat mencemari lingkungan dengan bahan yang lebih ramah
lingkungan.
Penggantian (substitusi) bahan baku dapat dijadikan solusi untuk menjaga
keberlangsungan lingkungan karena dengan mengganti bahan baku industri yang
lebih ramah lingkungan maka indutri tersebut akan turut menjaga kelestarian
lingkungan juga menghemat biaya produksi.

5.2

Saran
Saat ini masih banyak industri yang masih tetap menggunakan bahan baku
yang dapat mencemari lingkungan. Padahal ada industri-industri pulp dan kertas
lain sudah menggantikan bahan bakunya menjadi bahan baku yang dapat
meminimasi limbah. Untuk industri yang belum mengganti bahan baku semula
yang dapat mencemari lingkungan diharapkan dapat mengikuti industri
sejenisnya yang sudah mengganti bahan bakunya menjadi bahan baku yang
lebih ramah lingkungan/ dapat meminimasi limbah.

58

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1996. Rencana Pelaksanaan Produksi Bersih. BAPEDAL, Jakarta
Anonim. 2001. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2001
tentang

Pengelolaan

Bahan

Berbahaya

dan

Beracun.

http://jdih.menlh.go.id/pdf/ind/IND-PUU-3-2001PP%2074%20thn%202001.pdf . Diakses tanggal 9 Oktober 2014


Anonim.

2006.

P.T.

Pindo

Deli

pulp

&

Paper

Mills.

http://www.energyefficiencyasia.org/docs/casestudies/languages/Indo/
Case%20studies%20Indo/Indonesia%20Bahasa/Pindo%20Deli%20%20Company%20case%20study%20(Bahasa%20Indonesia).pdf.
Diakses tanggal 7 Oktober 2014
Anonim.

2011.

PT.

Riau

Andalan

Pulp

and

Paper.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37177/4/Chapter%20II
.pdf. Diakses tanggal 7 Oktober 2014
Anonim.

2012.

Petunjuk

Pelaksanaan

CSR

Bidang

lingkungan.

http://www.menlh.go.id/DATA/csr_pi_2012/Petunjuk_Pelaksanaan_C
SR_Bidang_Lingkungan.pdf. Diakses tanggal 8 Oktober 2014
Anonim. 2014. Bahan Baku. http://id.wikipedia.org/wiki/Bahan_baku. Diakses
tanggal 12 Oktober 2014
Anonim.

2014.

Sekam

jadi

Bahan

Bakar

Industri.

http://www.semenindonesia.com/page/read/sekam-jadi-bahan-bakarindustri-2472. Diakses tanggal 13 Oktober 2014


Fatimah,

Siti.

Industri

Semen.

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._KIMIA/196802161
994022SOJA_SITI_FATIMAH/Kimia_industri/PRODUKSI_SEMEN.pdf.
Diakses tanggal 28 November 2014
Friedman, Lauren. 2014. http://www.businessinsider.co.id/coca-cola-removing-bvofrom-powerade-2014-5/#.VE794D_3PwE. Diakses pada tanggal 28
Oktober 2014

59

Gilang.

2013.

Minimasi

Limbah

pada

Industri

Kertas

dan

Pulp.

http://gilangrupaka.wordpress.com/2013/04/05/minimasi-limbah-padaindustri-kertas-dan-pulp/. Diakses tanggal 10 Oktober 2014


Hermawati, Emma dkk. 2010. Buku I Bahan Ajar Teknik Produksi Bersih. Politeknik
Negeri Bandung
Liman, Yogi. 2014. http://www.warungcurhat.com/2014/10/baca-fakta-ini-untukputus-hubungan-dengan-soft-drink/. Diakses pada tanggal 28 Oktober
2014
Mulyadi. 2005. Akuntansi Biaya edisi 5. Aditya Media: Yogyakarta.
Munif.

2014.

Berbagai

Upaya

Minimasi

Limbah.

http://helpingpeopleideas.com/publichealth/minimisasi-limbah/.
Diakses tanggal 12 Oktober 2014
Nurhadianty, Vivi. 2013. Modul Ajar Proses Industri Kimia I Industri Pulp dan
Kertas.
https://www.academia.edu/5579657/Modul_industri_pulp_dan_kertas.
Diakses tanggal 12 Oktober 2014
Putri, Safari. 2014. Program Pemerintah dalam pengelolaan Lingkungan.
http://safariputriunior.blogspot.com/2014/02/program-pemerintahdalam-pengelolaan.html. Diakses tanggal 11 Oktober 2014
Rahimahullah,

Mawardi.

2013.

bahan

rekayasa

Lingkungan.

http://www.slideshare.net/mrahimahullah/bahan-rekayasa-lingkungan.
Diakses tanggal 7 Oktober 2014
Sagala, Arryanto. 2011. Upaya Kementerian Perindustrian dalam Penerapan
Pengelolaan

Lingkungan

di

Kalangan

Dunia

Usaha.

http://ppesumatera.menlh.go.id/index.php?r=detail_berita&x=97.
Diakses tanggal 10 Oktober 2014
SR Soemarso. 2004. Akuntansi Suatu Pengantar Buku 1 Edisi 5. Jakarta: Salemba
Empat

60

Yulianti,

Fitri.

2014.

http://lifestyle.okezone.com/read/2014/05/07/299/981281/dipetisi-250ribu-konsumen-coca-cola-hilangkan-bahan-kontroversial. Diakses pada


tanggal 28 Oktober 2014

61

LAMPIRAN
TANYA JAWAB

Aditya : Bagaimana agar kesadaran akan penggantian bahan baku muncul di


industri?
Jawaban :
Sebenarnya kesadaran itu sudah ada, karena dari beberapa pihak industri pun
sudah ada tindakan-tindakan nyata seperti penggantian bahan baku dan tindakan
preventif lainnya. Selain dari sisi industri, dari sisi aktor dalam produksi bersih
yang lain pun seperti pemerintah dan masyarakat sebagai konsumen sudah
melakukan tindakan preventif. Sebagai mahasiswa, kita perlu memberikan
sosialisasi yang berkelanjutan mengenai pemahaman terhadap hal tersebut untuk
meningkatkan kesadaran akan pelestarian lingkungan kepada pihak industri.

Yuliani : Apabila industri kertas mengganti bahan baku dengan bahan lain
bukan kayu, apakah kualitas kertas yang dihasilkakn sama dg yg berasal dari
pohon? Jika sama, bahan dari apa?
Jawaban :
kualitas kertas yang dihasilkan dilihat dari bahan baku yang digunakan apakah
memiliki ukuran serat yang lebih panjang atau lebih pendek. Dapat dilihat dari
tabel berikut:
Karakteristik

Bambu

Serat

Kayu

Kayu

Lunak

Kertas

Bagase

Jerami

Panjang serat

3-4

1,6 - 2,7

0,7 - 1,6

1,7

1,5

Diameter serat

14

32 - 43

20 - 40

20

8,5

% Abu

1-3

10 - 15

% Lignin

22 - 30

26 - 30

18 - 25

19 - 21

14 - 21

% Pentosan

16 - 20

6-9

16 - 18

30 - 32

% Selulosa

50 52

40 45

38 - 49

40 43

30 38

Panjang serat menentukan kekuatan dari kertas yang dihasilkan oleh karena itu
semakin panjang serta maka semakin baik kualitas kertas yang dihasilkan.
Kualitas yang dihasilkan belum tentu sama antara bahan baku kayu dan non
kayu dari segi kekerasan, keputihan dan kerapuhan. Hal itu tergantung dari
bahan baku yang digunakan. Bahan baku non kayu mempunyai panjang serat

62

yang berbeda-beda. Terlihat bahwa dengan bahan baku lain, kualitas kertas
dapat lebih baik dari bahan baku yang menggunakan kayu. Contohnya bambu,
memiliki panjang serat paling panjang dan dapat menghasilkan kertas dengan
kualitas paling baik.

63