Anda di halaman 1dari 2

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Obat merupakan zat yang diharapkan dapat menyembuhkan atau memberikan efek
terapi pada berbagai penyakit. Namun, obat tidak selalu dapat menyembuhkan, bahkan
sebaliknya obat dapat memperparah keadaan penyakit. Suatu obat dapat menjadi racun atau
zat berbahaya jika dosis dan pemakaiannya tidak sesuai. Seperti pernyataan Paracelsus bahwa
obat dan racun hanya berbeda pada dosisnya. Oleh karena itu sebelum digunakan atau
disebarkan, obat harus diuji agar tidak menimbulkan efek yang merugikan, salah satunya
dengan ui toksisitas akut.
Uji toksisitas akut adalah suatu pengujian untuk menetapkan potensi toksisitas akut,
menilai berbagai gejala toksik, spektrum efek toksik, dan mekanisme kematian. Uji toksisitas
akut merupakan salah satu uji pra-klinik. Uji ini dilakukan untuk mengukur derajat efek
toksik suatu senyawa yang terjadi dalam waktu singkat, yaitu 24 jam, setelah pemberiannya
dalam dosis tunggal. Tolak ukur kuantitatif yang paling sering digunakan untuk menyatakan
kisaran dosis letal atau toksik adalah dosis letal tengah (LD50) (Sulastry 2009). Tujuan
toksisitas akut adalah untuk mendeteksi adanya toksisitas suatu zat, menentukan organ
sasaran dan kepekaannya, memperoleh data bahayanya setelah pemberian suatu senyawa
secara akut dan untuk memperoleh informasi awal yang dapat digunakan untuk menetapkan
tingkat dosis yang diperlukan untuk uji toksisitas selanjutnya (Angelina et al. 2008).
Kafein ialah alkaloid yang tergolong dalam methylxanthine bersama senyawa teofilin
dan teobromin, dapat bekerja sebagai perangsang sistem saraf pusat (analeptik). Tergantung
dari dosisnya, kafein merangsang SSP, contohnya pada dosis tinggi kafein dapat merangsang
pernafasan. Kafein memiliki efek samping seperti anoreksia, gugup, tremor, dan insomnia.
Efek lain yaitu diuresis, iritasi gastrointestinal, dan dalam jumlah yang besar mempengaruhi
SSO dan jantung. Kafein dosis tinggi terdapat dalam kopi dan cokelat, dan dapat
menimbulkan ketergantungan (Kee dan Hayes 1994)
Tujuan
Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat menguasai salah satu metode yang
dapat digunakan untuk menentukan LD50 secara akut, menjelaskan berbagai faktor yang dapat
mempengaruhi nilai LD50 dari salah satu obat atau racun, dan mengetahui manfaat penentuan
LD50 dari suatu obat dan racun.

DAPUS
Angelina M, Hartati S, Dewijanti ID, Banjarnahor SDS, Meilawati L. 2008. Penentuan LD 50
daun cinco (Cyclea barbata Miers.) pada mencit. Makara Sains. 12 (1): 23-26.
Kee JL, Hayes ER. 1994. Farmakologi, Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta (ID): EGC.
Sulastry F. 2009. Uji toksisitas akut yang diukur dengan penentuan LD 50 ekstrak daun
pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) terhadap mencit. [karya tulis ilmiah].
Semarang (ID): Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro.