Anda di halaman 1dari 16

Struma Uninodusa Non Toxic

Nama : Liana Herdita Santoso


NIM : 102010127
Kelompok : B2
Tanggal : 12 November 2012

Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta
2012

Alamat Korespondensi:
Liana Herdita Santoso, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jalan Arjuna Utara no. 6
Jakarta Barat 11470, E-mail: lianaherdita@yahoo.co.id

Pendahuluan
Pada keadaan normal kelenjar tiroid demikian kecil, sehingga tidak mempengaruhi bentuk leher.
Adakalanya terjadi pembesaran dari kelenjar tiroid yang disebut dengan struma. Apabila pada
pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul maka pembesaran ini disebut struma nodusa.
Struma mudah ditemukan, karena segera terlihat dan dapat diraba, tetapi justru sulit ditetapkan
penyebab dan tidak bermaknanya kelainan anatomi dengan perubahan fungsi yang terjadi.
Nodul tiroid merupakan neoplasia endokrin yang paling sering ditemukan diklinik. Karena lokasi
anatomic kelenjar tiroid unik, yaitu berada di superficial, maka nodul tiroid dengan mudah dapat
didekteksi baik melalui pemeriksaan fisik maupun dengan menggunakan berbagai moda
diagnostic seperti ultarsonografi, sidik tiroid, atau CT scan. Yang menjadi kepedulian klinik
adalah kemungkinan nodul tersebut ganas, disamping keluhan pasien seperti perasaan tidak
nyaman karena tekanan mekanik nodul terhadap organ sekitarnya serta masalah kosmetik.
Diperlukan uji saring yang cukup spesifik untuk mendeteksi keganasan mengingat
kemungkinannya hanya sekitar 5% dari nodul yang ditemukan di klinik.
Dasar pemikiran pengelolaan nodul tiroid adalah bagaimana mendeteksi karsinoma yang
mungkin ditemukan hanya pada sebagian kecil pasien, serta menghindarkan pembedahan atau
tindakan lain yang sebenarnya tidak perlu pada sebagian besar pasien lainnya. Untuk itu perlu
dipahami pathogenesis dan lainnya dari nodul tiroid tersebut.

Scenario
Seorang laki-laki berusia 70 tahun, datang ke puskesmas dengan keluhan terdapat benjolan
dileher bagian depan yang kian hari makin membesar, sejak 1 tahun yang lalu. Awalnya benjolan
tersebut kecil dan tidak dihiraukan pasien, namun sekarang pasien menjadi sulit menelan dan
pasien juga mengeluh tidak bisa bernapas dengan lapang, suaranya menjadi serak. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan benjolan pada leher dengan diameter 10cm, konsistensi keras, dan
sukar digerakkan pada dasarnya. Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening daerah leher.
Tekanan darah 120/80 mmHg, denyut nadi 82x/menit, frekuensi napas 26x/menit, suhu 36,8oc.

Anamnesis
Hal-hal yang perlu ditanyakan oleh seorang dokter kepada pasiennya untuk menggali lebih
dalam informasi-informasi yang diperlukan untuk menegakkan suatu diagnosis.
Hal pertama yang perlu ditanyakan tentunnya adalah identitas pasien. Identitas meliputi
nama lengkap pasien, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, nama orang tua atau suami atau istri
atau penanggung jawab, alamat, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa dan agama. Identitas perlu
ditanyakan untuk memastikan bahwa pasien yang dihadapi adalah memang benar pasien yang
dimaksud.
Lalu menanyakan keluhan utama pasien datang untuk berobat. Dalam scenario ini pasien datang
ke dokter dengan keluhan utama terdapat benjolan dileher.
Benjolannya terdapat dimana? Sudah berapa lama ada benjolan tersebut? Perkembangan
benjolan seperti apa? Apakah semakin membesar atau menetap?
Keluhan lainnya yang dirasakan pasien? Sulit menelan, bernapas tidak lapang, suara menjadi
serak.
Keluhan lain yang mengarah pada hipotiroid, kulit kering? BB bertambah? Malas atau banyak
tidur? Gangguan pertumbuhan?
Mengarah pada hipertiroid, kurus? Keringat dingin? Gelisah? Kulit basah,dingin dan tremor?
Riwayat obat? Sudah pernah minum obat sebelumnya? Apa? Bagaimana perkembangannya?
Riwayat penyakit terdahulu? Pernah seperti ini? Sakit didaerah leher? Pernah melakukan operasi
di daerah leher?
Riwayat keluarga? Ada yang sakit seperti ini?
Riwayat sosial? Tempat tinggal? Makanan? Minuman? Merokok?

Pemeriksaan fisik
Inspeksi

Gambar 1. Inspeksi kelenjar tiroid.1


Posisikan kepala pasien agak kebelakang, dan dengan menggunakan pencahayaan
tangensial yang ditunjukan langsung kearah dagu pasien, perhatikanlah dengan seksama
daerah dibawah kartilagi krikoid untuk menemukan kelenjar tiroid. Batas bawah kelenjar
tiroid terlihat seperti gambar dibawah ini.
Kemudian mintalah pasien menggerakkan kepala lebih kebelakang, lalu mintalah pasien
menelan. Perhatikanlah dengan seksama gerakan keatas dari kelenjar tiroid saat menelan
tadi. Pada saat menelan tadi kartilago tiroid, kartilagi krikoid dan kelenjar tiroid akan
terlihat naik, untuk kemudian kembali turun ketempat asalnya.1
Palpasi

Gambar 2. Palpasi kelenjar tiroid.1

Sekarang lakukanlah palpasi didaerah tonjolan kartilago tiroid dan kartilago krikoid
dibawahnya. Temukan ismus tiroid, yang biasanya terletak diatas cincin trakea 2,3,dan4.
1. Mintalah pasien untuk menundukan kepalanya sedikit dengan tujuan untuk
merelaksasi otot sternomastoid.
2. Letakanlah jari-jari anda kedua tangan anda pada leher pasien sehingga jari
telunjuk diletakan tepat dibawah kartilago krikoid.
3. Mintalah pasien meneguk air dan menelannya seperti pada pemeriksaan inspeksi,
lalu rasakan ismus tiroid naik pada telapak jari-jari anda.
4. Geserlah trakea kearah kanan dengan jari-jari tangan kiri, lalu dengan jari-jari
tangan kanan anda rabalah bagian lateral untuk menemukan lobus kanan kelenjar
tiroid pada celah/ruang antara trakea yang tergeser tadi dengan otot
sternomastoid, dan temukan tepi lateralnya. Lakukan hal yang sama untuk
menemukan lobus kiri. Permukaan anterior dari lobus lateral biasannya hampir
seukuran phalax dari ibu jari dan terasa seperti karet.
5. Perhatikan ukuran, bentuk, konsistensi dari kelenjar tiroid dan temukan adanya
nodus atau nyeri, pada penyakit hashimoto tiroiditis dan keganansan kelenjar
tiroid terasa keras.1
Auskultasi
Bila kelenjar tiroid membesar, dengan stetoskop yang diletakkan diatas lokasi kelenjar
tiroid tadi dapat terdengar adanya bruit, yaitu bunyi sejenis yang terdengar pada murmur
jantung. Bruit dapat sinkron dengan sistolik atau diastolic atau terus menerus, mungkin
dapat terdengar pada penyakit hipertiroidisme.1
Pembesaran tiroid nodul tunggal dapat berupa kista, tumor jinak atau satu nodul pada kelenjar
multinoduler (kemungkianan keganasan)
Pada struma gondok endemic, perez membagi klasifikasi menjadi:

Derajat 0: tidak teraba pada pemeriksaan.

Derajat I: teraba pada pemeriksaan, terlihat hanya kalau kepala ditegakan

Derajat II: mudah terlihat pada posisi kepala normal.

Derajat III: terlihat pada jarak jauh.


4

0a: tidak terlihat atau teraba tidak besar dari ukuran normal.
0b: jelas teraba lebih besar dari normal, tetapi tidak terlihat kalau kepala diregakkan.

Pemeriksaan penunjang
Pemindaian tiroid (thyroid scan)
Hasil pemeriksaan dengan radioisotope adalah reaan ukuran, bentuk, lokasi, dan yang utama
ialah fungsi bagian-bagian titoid. Pada pemeriksaan ini pasien diberi Nal peroral dan setelah 24
jam secara fotografik ditentukan konsistensi yodium radioaktif yang ditangkap oleh tiroid.2
Dari hasil sidik tiroid dapat ditentukan 3 bentuk:

Nodul dingin: bila penangkapan iodium nihil atau kurang dibandingkan sekitarnya. Hal
ini menunjukan rendahnya fungsi.

Nodul panas: bila penangkapan iodium lebih banyak dari sekitarnya. Memperlihatkan
aktivitas berlebihan.

Nodul hangat: bila penangkapan iodium banyak dari sekitarnya. Ini berarti fungsi tiroid
sama dengan bagian fungsi lain.2

Tidak dapat membedakan itu suatu keganasan atau bukan.


USG
Dapat membedakan padat atau cairan, USG lebih menguntungkan karena dapat dilakukan tanpa
persiapan dan kapan saja, lebih aman dan dapat membedakan jinak dan ganas.2
Biopsy aspirasi jarum halus
Fine needle aspiration (FNA) cara ini mudah, aman, dapat dilakukan dengan berobat jalan, tidak
nyeri, tidak menyebabkan bahaya penyebaran sel-sel ganas. Kerugiannya dapat memberikan
hasil positif palsu atau negate palsu.2,3

Termografi
Berdasarkan

pengukuran

suhu

kulit

pada

suatu

tempat.

Alatnya

adalah

dynamic

telethermography. Hasil disebut panas bila perbedaan panas dengan sekitanya > 0,9 0c dan dingin
apabila <0,90c. panas hasilnya ganas. Cara yang sensitid dan spesifik.
Petanda tumor
Yang diuji hanya peninggian tiroglobilin serum yang mempunyai nilai yang bermakna. Tg
normal antara 1,5-3,0 ng/ml, pada kelaian jinak rata-rata 323 ng/ml dan pada keganasan 424
ng/ml.
CT scan atau MRI
Penggunaan diutamakan untuk mengetahui posisi anatomi dari nodul tau jaringan tiroid terhadap
organ sekitarnya seperti diagnosis struma sub sterna dan kompresi trakea karena nodul.3

Working diagnosis
Struma uninodusa non toxic

Definisi
Struma adalah pembesaran pada kelenjar tiroid yang biasanya terjadi karena folikel-folikel terisi
koloid secara berlebihan. Setelah bertahun-tahun sebagian kolid tumbuh semakin besar dengan
membentuk kista dan kelenjar tersebut menjadi noduler. Struma nodusa non toksik adalah
pembesaran kelenjar tiroid yang secara klinis teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tandatanda hipertiroidisme.

Etiologi
Penyebab pasti pembesaran kelenjar tiroid pada struma nodusa tidak diketahui, namum sebagian
besar penderita menunjukkan gejala-gejala tiroiditis ringan, oleh karena itu, diduga tiroiditis ini
6

Tabel 1. Etiologi nodul-nodul tiroid.5

menyebabkan menyebabkan hipotiroidisme ringan, yang selanjutnya menyebabkan peningkatan


sekresi TSH dan pertumbuhan yang progresif dari bagian kelenjar yang tidak meradang.
Keadaan inilah yang dapat menjelaskan mengapa kelenjar ini biasanya nodular, dengan beberapa
bagian bagian kelenjar tumbuh namun bagian yang lain rusak akibat tiroiditis.
Defisiensi iodium. Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang
kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan.4
Keadaan- keadaan jinak yang dapat menyebabkan timbulnya nodul pada kelenjar tiroid,
termasuk daerah fokal dari tiroiditis kronis, porsi dominan dari goiter multinodular, atau kista
yang mengenai jaringan tiroid, jaringan paratiroid atau sisa duktus tiroglossus, keadaan jinak
lainnya termasuk agenesis satu lobus tiroid, dengan hioertrofi lobus lainnya yang nampak
sebagai suatu massa di leher. Biasanya lobus kiri dari tiroid yang gagal berkembang, dan terjadi
hipertrofi lobus kanan. Pembentukan jaringan parut pada kelenjar setelah operasi atau
tumbuhnya kembali kelenjar setelah operasi atau pengobatan radioiodine yang dapat
memberikan nodul. Akhirnya, neoplasma jinak pada tiroid termasuk adenoma folikular, adenoma
fetus, adenoma embrional, dan adenoma oksifil atau sel hurthle. Jenis-jenis yang jarang dari lesi
yang jinak termasuk teratoma, lipoma, dan hemangioma. Dengan pengecualian hyperplasia lobus
kanan tiroid bersamaan dengan agenesis lobus kiri dan beberapa adenoma folikular, semua lesilesi diatas memberikan gambaran nodul dingin pada scan isotop.5
7

Epidemiologi
Prevalensi nodul meningkat sesuai dengan umur, keterpajaan terhadap radiasi pengion dan
defisiensi iodium. Di amerikaserikat prevalensi nodul tiroid solidter sekitar 4-7% dari penduduk
dewasa, 3-4 kali lebih sering pada wanita dibandingkan pria.3

Manifestasi klinis
Pada umumnya pasien struma nodusa non toksik datang berobat karena keluhan kosmetik atau
ketakutan akan keganasan. Biasanya penderita tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipo
atau hipertiroidsme. Sebagian kecil pasien, khususnya yang dengan struma nodusa yang besar,
mengeluh adanya gejala mekanis, yaitu penekanan pada esophagus dan trakea sehingga pasien
merasa sakit untuk menelan dan sesak nafas. Penyempitan berarti menyebabkan gangguan
pernapasan sampai akhirnya terjadi dispnea dengan stridor inspiratoar. Biasanya tidak disertai
rasa nyeri kecuali bila timbul perdarahan di dalam nodul.6

Patofisiologi
Etiologi struma non toksik antara lain adalah desisiensi yodium atau gangguan kimia intratiroid
yang disebabkan oleh berbagai factor. Akibat gangguan ini kapasitas kelenjar tiroid untuk
mengekskresikan tiroksin terganggu, mengakibatkan peningkatan kadar TSH dan hyperplasia
dan hipertrofi folikel-folikel tiroid. Pembesaran kelenjar tiroid sering bersifat eksersebasi dan
remisi, disertai hipervolusi dan involusi pada bagian-bagian kelenjar tiroid. Hyperplasia mungkin
bergantian dengan fibrosis, dan dapat timbul nodula-nodula yang mengandung folikel-folikel
tiroid.4
Secara klinis, pasien dapat memperlihatkan penonjolan disepertiga bagian bawah leher. Struma
yang besar dapat menimbulkan masalah kompresi mekanik, disertai pergeseran letak trakea dan
esophagus, dan gejala-gejala obstruksi.4

Pemasukan iodium yang kurang, gangguan berbagai enzim tubuh, hiposekresi TSH, glukosil
goitogenik (bahan yang dapat menekan sekresi hormone tiroid), gangguan pada kelenjar sendiri
serta factor pengikat dalam plasma sangat menentukan adekuat tidaknya sekresi hormone tiroid.
Bila kadar hormone tiroid kurang maka akan terjadi mekanisme umpan balik terhadap kelenjar
tiroid sehingga aktifitas kelenjar meningkat dan terjadi pembesaran.

Karalteristik nodul dan penilaian risiko


Diklinik perlu dibedakan nodul tiroid jinak dari nodul ganas yang memiliki karakteristik antara
lain sebagai berikut:

Konsistensi keras dan sukar digerakkan, walaupun nodul ganas dapat mengalami
degenerasi kistik dan kemudian menjadi lunak.

Sebaliknya nodul dengan konsistensi lunak lebih sering jinak, walaupun nodul yang
mengalami klasifikasi dapat ditemukan pada hyperplasia adenomantosa yang sudah
berlangsung lama.

Infiltrate nodus ke jaringan sekitarnya merupakan petanda keganasan, walaupun nodul


ganas tidak selalu mengadakan infiltrate.

20% nodul soliter bersifat ganas sedangkan nodul multiple jarang yang ganas, tetapi
nodul multiple dapat ditemukan pada 40% keganasan tiroid.

Nodul yang muncul tiba-tiba atau cepat membesar perlu dicurigai keganasan.

Nodul dicurigai ganas bila disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening regional
atau perubahan suara menjadi serak.3
Tabel 2.

Differential diagnosis
Adenoma tiroid
Merupakan massa soliter dan diskrit. Ada lebih dari satu varian histologik yang semuanya
menggambarkan neoplasma folikuler. Meskipun mayoritas terbesar adenoma bersifat non
fungsional, sebagian kecil edenoma menghasilkan hormone tiroid dan menyebabkan
tirotoksikosis yang nyata secara klinis. Kadang adenoma menjadi precursor kanker.7
Pathogenesis. Mutasi somatic pengaktif pada satu dari dua komponen dalam system
penyampaian sinyal ini, menyebabkan stimulasi kronik lintasan cAMP sehingga menghasilkan
sel-sel dengan kelebihan pertumbuhan. Keadaan ini mengakibatkan ekspansi klonal sel-sel epitel
spesifik di dalam adenoma folikuler, semua ini secara otonom dapat menghasilkan hormone
tiroid dan menyebabkan gejala kelebihan hormone tiroid. Secara keseluruhan, mutasi yang
menimbulkan aktivasi cAMP konstitutif tampaknya menjadi penyebab 50% hingga 75%
10

adenoma kelenjar tioid yang berfungsi secara otonom. Tidak banyak yang diketahui tentang
pathogenesis adenoma yang non fungsional.
Morfologi. Lesi dengan batas yang jelas, soliter dan kadang-kadang disertai fibrosis, perdarahan
atau kalsifikasi. Tumor ini dipisahkan dengan jelas dari parenkim disekitarnya oleh kapsula
fibrosa dengan batas yang tegas. Tumor tersebut menekan kelenjar disekitarnya dan penekanan
ini tampak nyata dengan tidak terlihatnya multinodularitas. Secara mikroskopik, sel-sel yang
membentuk adenoma tiroid sering membentuk folikel yang tampak seragam dan berisi koloid.
Pola pertumbuhan folikuler di dalam adenoma biasanya cukup berbeda dengan jaringan tiroid
non neoplastik dan keadaan ini merupakan cirri utama yang membedakan lainnya dengan
penyakit gondok multinoduler.7
Gambaran klinis. Secara khas ditemukan massa tanpa nyeri yang harus dibedakan dengan
karsinoma. Adenoma tiroid mengambil lebih sedikit zat radioaktif iodium dibandingkan dengan
paremkim tiroid yang normal. Karena itu, pada pemeriksaan scanning radionuclide, akan terlihat
adenoma sebagai nodul dingin jika dibandingkan dengan jaringan tiroid disekitarnya. Hingga
10% dari semua nodul dingin itu pada akkhirnya menjadi lesi yang ganas. Berbeda dengan
keadaan ini, keganasan kadang-kadang berbentuk nodul panas.7

Kista tiroid
Benjolan yang berisikan cairan dinamakan kista. Kurang lebih 10-25% benjolan pada tiroid
adalah kista. Isi kista bisa berupa cairan koloid atau darah. Jika cairan dikeluarkan dengan jarum
kecil, kista itu bisa menjadi kecil.2
Ada benjolan yang terdiri dari bagian cairan (kista) dan bagian padat (nodul) sekaligus, dan perlu
diperiksa dan diteliti lebih lanjut, untuk mengetahui apakah itu suatu kanker yang mengalami
kerusakan jaringan dan mencair. Namun, jika murni hanyalah kista, tidak ada bagian yang padat,
hampir dipastikan benjolan tadi bukanlah kanker.2

11

Struma multinodusa non toksik


Didahului oleh struma difus, mungkin non toksik atau terdapat bersama hipertiroidsme.
Morfologi. Nodularitas kelenjar yang tidak teratur, disertai perubahan-perubahan fokal, fibrosis,
kalsifikasi dan perubahan kistik. Perubahan-perubahan histology juga meliputi penimbunan
koloid yang bervariasi, hyperplasia epithelial folikular, dan involusi folikular dengan daerahdaerah jaringan parut fokal diantaranya, perdarahan. Kelenjar dapat menjadi sangat besar dan
meluas ke bawah sternum, trakea dan esophagus.7
Gambaran klinis. Tanda-tanda dan gejala-gejala yang disebabkan efek massa, kadang-kadang
fungsi tiroid abnormal karena hiperaktivitas nodul fokal yang menghasilkan tirotokosis.
Masalah-masalah yang terkait dengan efek massa meliputi deformitas kosmetik, penekanan
esophagus dengan disfagia, penekanan trakea, dan kadang-kadang obstruksi vena kava superior.
Perdarahan kedalam struma dapat menyebabkan nyeri dan merupakan efek massa. Tirotoksikosis
terjadi kurang dari setengah jumlah kasus, oftalmopati, dan dermopati infiltrative tidak tampak
bila juga tidak terdapat penyakit grave. Manifestasi kardiovaskuler (takikardi, fibrilasi arterial,
gagal jantung kongestif) dapat tampak jelas.
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan variasi peningkatan T3,T4 dan ambilan yodium
radioaktif, scintiscans menghasilakn aktivitas fungsional yang tidak teratur dengan bercak atau
penimbunan fokal yodium radioaktif.7

Penatalaksanaan

Terapi obat: karbimazol. Menurunkan sintesis hormone tiroid.

Terapi supresi dengan i-tiroksin

Merupakan pilihan yang paling sering dan mudah dilakukan. Dapat menghambat pertumbuhan
nodul serta mungkin bermanfaat pada nodul yang kecil. Terapi supresi dilakukan dengan
memberikan 1-tiroksin dalam dosis supresi dengan sasaran kadar TSH sekitar 0,1-0,3 mIU/ml.
biasanya diberikan selama 6-12 bulan, bila nodul tidak mengecil atau membesar perlu dilakukan
biopsy ulang atau disarankan operasi.3
12

Yang perlu diwaspadai adalah terapi hormonal jangka panjang yang dapat menimbulkan keadaan
hipertiroidisme subklinik dengan efek samping berupa osteopeni atau gangguan pada jantung.

Suntikan etanol perkutan

Terapi sklerosing dengan etanol dilakukan pada nodul jinak padat atau kistik dengan
menyuntikan larutan etanol, tingkat keberhasilannya tidak begitu tinggi, dalam 6 bulan ukuran
nodul bisa berkurang sebesar 45%. Efek samping yang mungkin terjadi adalah rasa nyeri yang
hebat, rembesan alcohol kejaringan ektratiroid, juga resiko tirotoksikosik dan paralisis pita
suara.3

Terapi iodium radioaktif (I-131)

Dilakukan pada nodul tiroid autonom atau nodul panas baik yang keadaan eutiroid maupun
hipertiroid. Juga diberikan pada struma multinodusa non toksik terutama pada pasien yang
menolak operasi atau mempunyai resiko operasi. Dapat mengurangi volume nodul tiroid dan
memperbaiki keluhan atau gejala penekanan. Yang perlu diperhatikan kemungkianan terjadinya
tiroiditis radiasi dan disfungsi tiroid pasca radiasi seperti hipertiroidisme selintas atau
hipotiroidisme.3

Pembedahan

Dapat dilakukan dekompresi terhadap jaringan vital disekitar nodul. Hemitiroidektomi dapat
dilakukan pada nodul jinak, sedangkan berapa luas tiroidektomi yang akan dilakukan pada nodul
ganas tergantung pada jenis histology dan tingkat resiko prognosis. Yang perlu diperhatikan
adalah penyulit seperti perdarahan pasca pembedahan, obstruksi trakea pasca pembedahan,
gangguang pada n. rekurens laringeus, hipoparatiroidi, hipotiroidi atau nodul kambuh.

Terapi lacer intertisial dengan tuntunan ultrasonografi

Masih dalam tahap eksperimental. Dengan menggunakan low power laser energy, energy termik
yang diberikan dapat mengakibatkan nekrosis nodul tanpa atau sedikit sekali kerusakan pada
jaringan sekitarnya.3

13

Pencegahan
Pada masyarakat tempat struma timbul akibat kekurangan iodium, garam dapur harus diberikan
tambahan iodium. Untuk menghindari komplikasi akibat pembedahan maka lakukan
pembedahan pada tenaga ahli dibidang pembedahan tiroid.

Prognosis
Komplikasi untuk struma uninodusa non toksik adalah baik dengan penanganan yang baik dan
tepat, oleh karena struma nodusa non toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid yang secara klinis
teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme. Biasanya pasien datang
berobat setelah terjadi pembesarn yang besar dan terjadi gangguan napas dan menelan selebihnya
kareana factor kosmetik.

Komplikasi
Umumnya tidak ada, kecuali adanya infeksi seperti pada tiroiditis akut atau subakut. Jika
dilakukan tiroidektomi, komplikasi yang sering muncul adalah:

Pendarahan massif.

Terbukannya vena besar, yaitu v. tiroidea superior dan menyebabkan embolisme udara.

Trauma pada nervus laringeus rekurens.

Sepsis yang meluas ke mediastinum.

Kesimpulan
struma uninodusa non toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid yang secara klinis teraba nodul
satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme. Secara klinis, pasien dapat
memperlihatkan penonjolan disepertiga bagian bawah leher. Struma yang besar dapat

14

menimbulkan masalah kompresi mekanik, disertai pergeseran letak trakea dan esophagus, dan
gejala-gejala obstruksi.

Daftar pustaka
1. Nah YK, Santoso M, Rumawas JSP. Buku panduan keterampilan klinik. Jilid 5. Jakarta:
fakiltas kedokteran universitas kristen krida wacana. 2008.p.40-42.
2. Tandra H. Mencegah dan mengatasi penyakit tiroid segala sesuatu yang harus anda
ketahui tentang kelainan kelenjar gondok. Jakarta: gramedia pustaka utama. 2011.p.101104.
3. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. Jilid III. Jakarta: fakultas kedokteran universitas Indonesia. 2006.p.2022-2029.
4. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi 6. Vol 2.
Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC. 2006.p.1232
5. Greenspan FS, Baxter JD. Endokrin dasar dan klinik. Edisi 4. Jakarta: penerbit buku
kedokteran EGC.p.276-280.
6. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku ajar ilmu bedah.3rd ed. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 2011.h.926-936.
7. Robbins SL, Cotran RS, Kumar W. Buku saku dasar patologis penyakit. Edisi 7. Jakarta:
penerbit buku kedokteran EGC. 2009.p.651-661.

15