Anda di halaman 1dari 11

Balkanisasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kawasan Balkan di bawah kekuasaan Utsmaniyah


Balkanisasi adalah sebuah istilah geopolitik, awalnya dipakai untuk menyebut proses
fragmentasi atau pembagian suatu wilayah atau negara menjadi beberapa wilayah atau
negara kecil yang sering bertentangan atau tidak kooperatif satu sama lain.[1] Istilah ini
dianggap peyoratif.[2]
Istilah balkanisasi merujuk pada pembagian semenanjung Balkan, yang sebelumnya
hampir seluruhnya dikuasai oleh Kekaisaran Utsmaniyah, menjadi beberapa negara kecil
antara 1817 dan 1912.[3] Istilah ini menjadi umum setelah Perang Dunia Pertama dengan
menyebut beberapa negara yang muncul setelah runtuhnya Kekaisaran Austria-Hongaria
dan Kekaisaran Rusia.

Kampanye Bulgaria memperlihatkan kondisi kawasan Balkan pada Perang Dunia I

Istilah ini juga dipakai untuk menyebut bentuk lain disintegrasi, termasuk misalnya,
pembagian Internet menjadi beberapa engklave,[4] pembagian subbidang dan pembuatan
bidang baru dari sosiologi, dan pemisahan susunan kerja sama akibat meningkatnya
jumlah entitas saingan independen yang terlibat dalam perang undian "beggar thy
neighbour".
Balkanisasi kadang dipakai untuk menyebut divergensi bahasa pemrograman dan format
berkas data (terutama XML). Istilah ini juga digunakan dalam penataan kota di Amerika
Serikat untuk mendeskripsikan proses pembentukan permukiman tertutup.
Ada pula upaya memakai istilah balkanisasi dalam artian positif dengan
menyeterakannya dengan kebutuhan desentralisasi dan penyeimbangan suatu kelompok
atau masyarakat tertentu. Penelitian terkini terhadap aspek-aspek positif Balkanisasi
dilakukan oleh Sran Jovanovi Weiss bersama Centre for Research Architecture[5] di
Goldsmiths College.[6][7]
Negara-negara besar di Eropa, umumnya berupa hasil penyatuan beberapa daerah atau
bangsa bersejarah, telah menghadapi ancaman balkanisasi. Semenanjung Iberia dan
Spanyol sudah menghadapi ancaman balkanisasi sejak zaman Al-Andalus,[8] dengan
beberapa gerakan separatis yang berdiri saat ini, termasuk Negara Basque dan
independentisme Catalunya.
Pada bulan Januari 2007, terkait dukungan yang terus meningkat terhadap kemerdekaan
Skotlandia, mantan Perdana Menteri Britania Raya Gordon Brown berbicara tentang
"Balkanisasi Britania".[9] Gerakan kemerdekaan di Britania juga eksis di Inggris, Wales
dan Cornwall

BALKANISASI KORBAN
PERANG MODERN, AKANKAH MENIMPA NKRI ?
Oleh : Kol.Chb.Drs.T.Samuel L.Toruan,MM *
1. Pendahuluan
Kawasan Balkan baik secara geopolitik dan geostrategis memiliki posisi
penting di Eropa dan dunia internasional. Secara umum kawasan Balkan dan
secara khusus negara eks Yugoslavia saat ini menjadi pusat perhatian dunia
internasional menyusul dengan apa yang kita kenal BALKANISASI.
BALKANISASI adalah perpecahan negara eks Yugoslavia ( Republik Federal
Sosialis Yugoslavia yang terdiri dari Republik-Republik Bagian Serbia, Kroasia,
Slovenia, Bosnia Herzegovina , Makedonia dan Montenegro) menjadi negaranegara kecil baru yaitu Republik Federal Yugoslavia terdiri dari Rep.Serbia dan
Rep.Montenegro (RFY), Republik Kroasia, Republik Slovenia, Republik
Makedonia dan Konfederasi Bosnia Herzegovina. Selanjutnya Republik Federal
Yugoslavia berubah menjadi Uni Serbia dan Montenegro. Pembentukan negaranegara baru tersebut bukan melalui suatu proses alamiah dan berlangsung
secara damai, akan tetapi melalui pertikaian akibat lunturnya nasionalisme dan
wawasan kebangsaan rakyat yang diikuti konflik bersenjata.
Hingga saat ini negera-negara pecahan eks.Yugoslavia walaupun telah
merdeka tetapi mereka masih tergantung dengan negara-negara Barat baik
secara politik, ekonomi dan militer, misalnya pemberian bantuan ekonomi,
keberadaan pasukan NATO masih tetap tinggal di Bosnia Herzegovina untuk
melindungi negara tersebut dari pertikaian bersenjata. Timbulnya nasionalisme
kedaerahan yang sempit tersebut ternyata tidak terlepas dari provokasi negaranegara luar yang memiliki agenda kepentingan di kawasan negara
eks.Yugoslavia dengan mengadu domba dan menimbulkan perpecahan melalui
issu global seperti demokratisasi, HAM dan lingkungan hidup. Selain politik adu
domba yang dikembangkan oleh negara adidaya dan sekutunya juga
mengangkat issu agama, suku dan etnik dengan memanfaatkan media massa
untuk melakukan propaganda yang sebenarnya merupakan Konsep Perang
Modern saat ini ( Konsep Perang Modern, oleh Jendral TNI Ryamizard
Ryacudu).
Situasi yang terjadi di kawasan Balkan patut menjadi pelajaran bagi kita
serta menuntut kita untuk selalu waspada dan tidak boleh lengah mengingat
situasi dan kondisi di NKRI memiliki beberapa kesamaan dengan negara
eks.Yugoslavia di berbagai aspek kehidupan. Letak geografis dan sumber
kekayaan alam Indonesia yang melimpah dari dulu merupakan daya tarik
tersendiri bagi pihak asing untuk menguasainya demi kepentingan mereka
sehingga akan menjadi garapan pihak asing dengan pola-pola perang modern.
2. Posisi Geopolitik dan Geostrategis

Sebagian besar teritori eks Republik Federal Yugoslavia (RFY) terletak di


tengah-tengah pertemuan geopolitik kawasan Balkan, fakta tersebut
menunjukkan betapa besarnya arti geopolitik yang dikandung oleh eks.negara
RFY. Eks.negara RFY terletak di pertengahan jarak pendek antara wilayah Eropa
dan Mediteranian, wilayah-wilayah eks.negara RFY merupakan penghubung
antara Eropa dengan Asia Timur Dekat dan Timur Jauh serta Mediteranian
sehingga merupakan transit dari Euro-Asia. Eks.negara RFY merupakan wilayah
penyangga antara dua pengaruh yakni pengaruh eks. Pakta Warsawa dan
pengaruh NATO, serta penghubung atau jembatan antara Eropa dan Turki dan
negara-negara di wilayah Timur Tengah. Disintegrasi eks Yugoslavia yang
menciptakan negara-negara pecahan kecil tidak merubah posisi strategis
eks.negara RFY bahkan tidak satupun dari negara pecahan eks Yugoslavia
mempunyai posisi strategis sentral seperti eks.negara RFY. Komposisi wilayah
Yugoslavia yang terdiri dari daratan, laut, pantai, pegunungan, danau dan
sungai-sungai yang merupakan komposisi lengkap, menggambarkan negara
eks.Yugoslavia memiliki potensi sumber daya alam yang beraneka ragam dan
sangat diperlukan dalam pembangunan ekonomi maupun bagi kepentingan
pertahanan dan keamanan.
3. Kepentingan Barat dan sekutunya di kawasan Balkan dan eks.Yugoslavia
a. Arti Kosovo dan Metohya bagi AS dan NATO.
Posisi Kosovo dan Metohya (KOSMET) yang terletak di kawasan Balkan
persisnya di tengah-tengah wilayah Republik Federal Yugoslavia (RFY)
membuat daerah itu sangat penting bagi setiap pihak yang mempunyai ambisi
untuk mengontrol kawasan Balkan. Walaupun letak geografisnya agak kurang
sentral (lebih dekat ke laut Adriatik dan laut Algea dibanding ke laut Ion dan laut
Hitam) namun letak Kosmet dianggap sebagai titik pertemuan koridor-koridor
jalur-jalur utama yang strategis. Posisi KOSMET yang terletak di "Kawasan
Tengah" (Central Region) dari semenanjung Balkan yang berada di suatu zona
dan dikelilingi oleh garis-garis yang menghubungkan kota-kota di Serbia (Kota
Nis), Bulgaria (Kota Sofia), Makedonia (Kota Skopje) dan Kosovo/Serbia (di kota
Kosovska-Mitrovica). Sebagai posisi sentral di wilayah Balkan, KOSMET
mempunyai arti khusus bagi AS dan NATO dalam rangka pengawasan
semenanjung Balkan. Kehadiran pasukan NATO yang dipimpin oleh Amerika di
Kosovo- Metohya ( KOSMET ) dengan memasang pasak di tengah-tengah
Balkan ( AS telah membangun kompleks militer secara permanen dengan daya
tampung 10.000 personil berikut fasilitas dan peralatan tempurnya) , maka AS
dan NATO telah menduduki posisi yang sangat strategis karena memiliki "batu
loncatan" untuk akses-akses selanjutnya di kawasan Balkan termasuk ke
daerah-daerah yang lebih jauh misalnya bagian Utara dan bagian Timur
kawasan Balkan, kawasan laut Hitam dan Kaukasus.
Keberhasilan NATO memantapkan posisinya di Kosovo, merupakan
tambahan terhadap posisi-posisi yang sudah didapatkan di Albania, Makedonia

dan Bosnia Herzegovina. Penerobosan teritorial dalam struktur Eropa telah


terpenuhi ditandai dengan relokasi-relokasi pasukan-pasukan NATO secara
mulus dari Eropa Barat ke bagian Eropa Timur dan Tenggara. Demikian pula
telah tercipta kontrol atas semua komunikasi penting pada koridor-koridor
geostrategis di jembatan Euro-Asia menuju sumber-sumber minyak baik yang
lama dan baru. Lebih jauh kemungkinan ambisi Rusia untuk mengkontrol
kawasan Balkan dan Laut Tengah menjadi rancu untuk jangka pendek dan
panjang mengingat posisi strategis yang sudah diduduki dan dikuasai oleh AS
dan sekutunya NATO. Dengan memanfaatkan faktor Islam di kawasan Balkan
khusunya di Kosovo-Serbia, AS dan NATO telah berhasil menciptakan kesan
seakan-akan berkiblat pada geopolitik pro-Islam di Balkan dan di sisi lain berhasil
pula meredam kelompok Muslim radikal yang anti Amerika.
b. Arti Negara Eks Yugoslavia bagi Koalisi AS.
Setelah Jerman bersatu, nampak ambisi Jerman yang semula hanya
raksasa ekonomi ingin menjadi raksasa politik dan militer (mengubah UUD yang
melarang pasukan Jerman turut mengadakan kegiatan internasional). Naluri
menaklukan dan naluri menjajah Jerman yang pernah dilakukan terhadap
negara-negara koloninya pada masa lalu ingin meluaskan sayapnya ke Balkan
yang selama ini tidak pernah berhasil dikuasainya semenjak PD-I dan PD-II.
Kawasan Balkan sangat penting artinya bagi Jerman terutama untuk pelemparan
hasil-hasil produksi industri Jerman, untuk mendapatkan sumber bahan baku,
akses untuk pelabuhan laut panas, maupun kemungkinan pelemparan sampahsampah nuklir yang semakin menjadi problem akhir-akhir ini serta jalur menuju
ke negara-negara sumber minyak di laut Tengah. Hal itu tampak ketika Jerman
sangat dominan mensponsori pengakuan internasional terhadap kemerdekaan
negara-negara pecahan eks.Yugoslavia.
Kepentingan negara-negara Barat lainnya yang mendukung disintegrasi
eks.Yugoslavia adalah untuk menghentikan laju produk-produk industri militer
eks.Yugoslavia yang mengancam produk-produk industri militer negara-negara
Barat ( konon pada periode tersebut industri militer eks.Yugoslavia termasuk
nomor 10 besar di dunia). Produk industri militer eks Yugoslavia memang secara
kualitas dan harga yang relatif kompetitip memiliki keunggulan tertentu dibanding
produk-produk negara-negara Barat lainnya, karena memiliki teknologi standar
NATO dan Eks Pakta Warsawa. Kepentingan militer lainnya negara-negara Barat
terhadap konflik yang terjadi di negara eks Yugoslavia adalah merupakan
momentum yang strategis dalam rangka mengurangi stock arsenal mereka yang
menumpuk sekaligus juga untuk uji coba senjata-senjata dan perlengkapan
militer lainnya sesuai dengan temuan barunya.
Dengan berakhirnya era perang dingin dan bubarnya Pakta Warsawa maka
organisasi NATO yang selama ini digunakan sebagai kekuatan politik dan militer
untuk menghadapi Pakta Warsawa mulai digugat dan dipertanyakan terutama
kehadirannya di wilayah Eropa. Oleh sebab itu untuk tetap dapat eksis di

kawasan Eropa maka organisasi NATO Cq AS harus mencari wilayah konflik


baru dalam rangka proyeksi pengerahan kekuatan NATO dengan alasan yang
dicari-cari yaitu melindungi negara yang terancam dari agresi negara tetangga.
Oleh sebab itu konflik yang terjadi dan diikuti pertikaian bersenjata baik di
wilayah eks. Yugoslavia dan eks. RFY merupakan momentum yang strategis
untuk menghadirkan kekuatan NATO di kawasan secara mulus.
c. Arti krisis eks.Yugoslavia bagi organisasi internasional dan NGO lainnya.
Pengerahan pasukan PBB di wilayah eks.Yugoslavia merupakan
pengerahan yang terbesar dan terlama sepanjang sejarah penugasan PBB
dalam misi internasionalnya guna menjaga dan memelihara perdamaian dunia.
Situasi ini tentu merupakan momentum yang sangat baik bagi kegiatan PBB
untuk kepentingannya terutama untuk mendapatkan bantuan dana dari
masyarakat internasional. Tidak ketinggalan pula bagi NGO-NGO, krisis yang
terjadi di wilayah eks.Yugoslavia merupakan ladang yang subur untuk berkiprah
sesuai kepentingannya baik dalam rangka kepentingan kemanusiaan ataupun
yang lainnya sesuai misi dari NGO yang bersangkutan. Akan tetapi tidak sedikit
dari NGO tersebut justru banyak yang memperkeruh situasi dibanding membantu
penyelesaian masalah yang terjadi. Misalnya lewat NGO terjadi penyeludupan
senjata atau personel NGO merangkap jadi agen intelijen pihak-pihak tertentu di
wilayah eks Yugoslavia.
4. Strategi Barat dan sekutunya di eks.negara Yugoslavia.
a. Pembusukan lewat Ideologi.
Hancurnya ideologi komunisme di Eropa ditandai dengan bubarnya Uni
Soviet dan perubahan sistem komunis ke arah sistem demokrasi ala Barat ikut
pula melanda negara eks Yugoslavia. Situasi ini telah dimanfaatkan oleh pihak
Barat dengan alasan penegakan demokrasi untuk memprovokasi RepublikRepublik Bagian mengatur diri sendiri dengan perkataan lain desentralisasi
kekuasan tingkat pusat dan sentralisasi kekuasaan di tingkat daerah. Dengan
adanya kekuasaan yang dilimpahkan secara luas ke daerah tersebut berakibat
fatal, yang mana gerakan daerah-daerah untuk memisahkan diri semakin kuat,
sementara pemerintah pusat tidak mampu dan berkuasa untuk
mempersatukannya. Semua propaganda kebanyakan dilakukan lewat media
masa baik elektronik dan cetak yang sangat efektif dalam membentuk opini
internasional. Kelanjutannya proses disintegrasi pun berjalan lancar dengan hakhak yang segera diakui oleh pihak Barat.
b. Pembusukan lewat politik.
Rasa ketidak adilan antara satu daerah dengan daerah lainnya ataupun
antara pusat dan daerah terus dikembangkan ke arah kecemburuan sosial yang
mengarah kepada nasionalisme sempit melalui propaganda besar-besaran.
Proses demokratisasi yang melahirkan multi partai mempunyai pengaruh yang
sangat besar bukan hanya terhadap hubungan antar republik yang telah

berdisintegrasi melainkan juga terhadap hubungan antar individu dalam rangka


satu wilayah (Republik) karena wawasan politik yang berbeda-beda. Hal ini telah
mempengaruhi pula kepada solidaritas sosial karena masyarakat telah terbagibagi oleh kepentingan lokalisme/sukuisme maupun ideologi partai. Setelah
partai-partai demokrasi menang mereka segera membentuk pemerintahan yang
independen dan didukung dengan pembentukan tentara-tentara republik.
c. Pembusukan lewat ekonomi.
Dengan mengangkat issu ketidak adilan antara pembagian pendapat pusat
dan daerah telah mendorong pemerintah Republik-Republik Bagian untuk
mengelola segala kekayaan daerah dengan alasan akan lebih mensejahterakan
rakyat ketimbang ditangani oleh pemerintah pusat. Kekacauan kehidupan politik
dan merosotnya kehidupan ekonomi telah dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh
pihak Barat untuk menawarkan dan menjanjikan bantuan -bantuan ekonomi
dengan syarat-syarat yang sangat mengikat. Untuk diketahui bahwa hubungan
perdagangan di eks. negara Yugoslavia, sebagian besar berasal dari hasil
kegiatan perdagangan antar mereka. Namun setelah terjadi perpecahan,
Republik-Republik Bagian meninggalkan sistem moneter Yugoslavia, menutup
kegiatan-kegiatan perdagangan antar republik sehingga perekonomian
Yugoslavia menjadi tambah parah. Keadaan yang demikian masih mendapat
tekanan dari dunia internasional dan pihak Barat dengan dikenakannya sanksi
ekonomi internasional secara total khususnya terhadap eks.RFY sehingga
keadaan ekonomi dan sosial semakin buruk.
d. Pembusukan lewat sosial budaya.
Perasaan kesukuan semenjak berkuasanya komunisme di Yugoslavia
sebenarnya telah terasa. Adanya perbedaan agama, latar belakang sejarah dan
aspirasi politik yang berbeda-beda telah dikemas secara baik oleh pihak Barat
untuk membentuk sel-sel perlawanan serta adu domba untuk menimbulkan
perpecahan di Yugoslavia. Perbedaan agama pun mulai menajam yang terbawa
oleh rasa kesukuan masing-masing. Komposisi agama dalam penduduk
Yugoslavia adalah mayoritas beragama Kristen Orthodox ( Etnis Serbia),
Katholik ( Etnis Kroasia ) dan Islam ( Etnis Muslim Bosnia ). Masalah agama ini
mulai dibenturkan dengan masalah suku sehingga menyulut perang saudara.
Issu yang diangkat sangat efektif untuk membentuk opini dengan propagandapropaganda bahkan dengan rekayasa intelijen seolah-olah telah terjadi
pembantaian etnik Muslim sehingga dengan cepat menarik perhatian dan simpati
dunia terutama dari negara-negara Arab.
Selain itu juga dihembuskan tentang pembelaan HAM terutama terhadap
kaum yang tertindas seperti etnis Muslim yang di ekspos sebagai korban
kejahatan perang sehingga banyak pimpinan pemerintah dan militer didakwa
sebagai penjahat perang yang harus diadili di Pengadilan Internasional
Kejahatan Perang (ICTY) di Den Haag Belanda. Dengan mengangkat issu
sebagai penjahat perang yang didakwakan terhadap para pemimpin eks
Republik Yugoslavia telah mengakibatkan negara-negara Barat menjatuhkan

sanksi politik, ekonomi dan militer kepada RFY. Bahkan sampai saat ini salah
satu persyaratan normalisasi untuk pemberian bantuan ekonomi kepada negaranegara pecahan eks.Yugoslavia adalah harus melakukan kerjasama dengan
ICTY Den Haag dengan hasil yang maksimal, artinya para pemimpin politik dan
militer yang diduga terlibat kejahatan perang dan kemanusiaan di eks.Yugoslavia
dan Kosovo harus diseret ke ICTY Den Haag.
e. Pembusukan lewat Aspek Hankam.
Dengan alasan untuk membela dan mempertahankan kedaulatan masingmasing republik dari kekuasaan pusat telah menimbulkan perang saudara. Pihak
Barat dengan jalur-jalur tidak resmi ikut membantu melatih ( melalui tentaratentara bayaran ) dan mempersenjatai pasukan-pasukan teritorial negara-negara
Republik Bagian. Akibatnya perang yang berkecamuk di eks Yugoslavia telah
menjadi ajang pembuangan senjata-senjata dan amunisi serta peralatan militer
pihak Barat yang seharusnya dihancurkan dengan biaya yang sangat mahal
namun sebaliknya mendapat keuntungan besar. Ajang peperangan di eks
Yugoslavia juga menjadi bisnis senjata bagi produk-produk negara Barat serta
tempat uji coba bagi penemuan senjata-senjata dan perlengkapan militer Barat
secara tidak langsung maupun langsung. Issu yang dikembangkan oleh Barat
Cq. AS untuk mencegah bencana kemanusiaan di Kosovo-Serbia telah
mengakibatkan serangan udara NATO terhadap wilayah Yugoslavia tanpa
persetujuan atau mandat dari PBB.
Disini terlihat pihak Barat dan sekutunya telah memaksakan kehendaknya
dengan tekanan kekuatan militer untuk menundukkan penguasa negara eks.RFY
yang berusaha menumpas separatis etnis Albania di Kosovo sehubungan
dengan gerakannya untuk memisahkan diri dari Republik Bagian Serbia dan
selanjutnya akan bergabung dengan Republik Albania. AS dan NATO
melancarkan serangan udara yang dikenal dengan sebutan" Humanitarian
Intervention Guardian Angel " selama 91 hari dengan tujuan menghentikan
bencana kemanusiaan dan justru sebaliknya menimbulkan bencana
kemanusiaan dan lingkungan hidup yang lebih parah. Sekedar tambahan
informasi selama periode serangan tersebut NATO menjatuhkan sebanyak
kurang lebih 40.000 buah missil yang diantaranya mengandung isian depleted
uranium (menurut sumber informasi Tentara Yugoslavia ).
Tidak ada pembelaan HAM atau protes terhadap korban-korban yang
ditimbulkan maupun terhadap kerusakan lingkungan hidup dari organisasi
pembela HAM maupun Lingkungan Hidup walaupun serangan udara tersebut
merupakan pelanggaran berat terhadap prinsip-prinsip fundamental hubungan
internasional, hukum internasional, kedaulatan suatu negara dan hak azasi
manusia. Kejadian tersebut diatas sangat kontradiktif dengan sikap negara
Amerika yang selalu menyatakan sebagai negara penegak demokrasi, pembela
HAM dan Lingkungan Hidup. Pendek kata negara yang sudah menjadi target
untuk dieliminir oleh negara adi kuasa tidak ada toleransi meskipun itu
mengorbankan penduduk sipil yang tidak berdosa demi kepentingan

nasionalnya. Orientasi negara-negara Barat yang dipimpin oleh AS adalah jelas


yaitu sikap menunjukkan sebagai negara terkuat dan tampil sebagai pemimpin
dunia, disamping itu ingin mengeksploitasi sumber daya alam yang kaya untuk
kepentingan kelangsungan industri negara kolonialis dan imperialis tersebut.
5. Kesamaan permasalahan di Indonesia.
Permasalahan yang terjadi di eks Yugoslavia memiliki beberapa
persamaan dengan kondisi yang terjadi di Indonesia baik di dalam sistem
pemerintahan, pengelolaan sistem politik, ekonomi, kultur budaya dan sistem
pertahanan. Proses demokrasi yang terjadi di eks.negara Yugoslavia telah lepas
kontrol dalam arti desentralisasi kekuasaan ke daerah terlalu luas. Saat ini di
Indonesia sedang berlangsung proses reformasi dan kebijaksanaan otonomi
daerah yang tampaknya belum siap untuk diberlakukan secara serentak di
seluruh Indonesia. Kebangkrutan ekonomi eks.Yugoslavia dan eks.RFY akibat
pertikaian politik dan perang saudara yang berlarut telah mengakibatkan negara
tersebut jatuh ke jurang kemiskinan. Indonesia saat ini masih belum sepenuhnya
keluar dari krisis ekonomi akibat dari krisis multi dimensi sehingga sangat rawan
terhadap pemeliharaan stabilitas politik dan keamanan. Masalah SARA di eks
Yugoslavia telah menjadi pemicu perpecahan dalam negeri yang mengakibatkan
tercerai berainya negara tersebut.
Sementara itu masalah SARA di Indonesia sampai saat ini masih
merupakan masalah rawan yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan konflik
sehingga perlu dijaga, diamankan dan dilindungi dari kemungkinan
penyalahgunaan untuk kepentingan kelompok ataupun tujuan tertentu. Adanya
ketidak adilan tentang kemajuan dan kesejahteraan di eks.negara Yugoslavia
merupakan sumber perpecahan negara tersebut sementara di Indonesia masih
terdapat pembagian tata ruang yang menimbulkan ketimpangan dan
kesejahteraan yang mana hal tersebut dapat menimbulkan kerawanan bagi
kesatuan dan persatuan bangsa.
Demikian pula halnya masalah gerakan separatisme di eks Yugoslavia
telah mendorong negara tersebut menjadi terpecah-pecah akibat nasionalisme
kedaerahan sempit yang mendapat dukungan faktor internasional. Saat ini
masalah gerakan separatisme di Indonesia seperti di Aceh, Maluku dan Papua
masih belum tuntas diatasi sehingga tetap menimbulkan kerawanan bagi
kesatuan dan persatuan bangsa. Semua sumber-sumber permasalahan tersebut
diatas merupakan lahan yang empuk untuk garapan Konsep Perang Modern
saat ini.
6. Kepentingan negara Barat di wilayah Indonesia.
Ada beberapa alasan bagi negara-negara Barat untuk hadir secara
permanen di wilayah Indonesia, diantaranya adalah letak geografis yang
strategis dan kekayaan sumber daya alam yang kaya dan melimpah ruah yang

tidak pernah habis merupakan daya tarik tersendiri bagi pihak asing untuk
menguasainya demi kepentingan politik, ekonomi dan kepentingan militernya.
Dengan dalih memerangi terorisme untuk keamanan nasionalnya dan
kepentingan dunia internasional kemungkinan akan berusaha mengkontrol dan
intervensi ke- wilayah Indonesia baik melalui mandat atau tanpa seijin PBB untuk
hadir memerangi terorisme yang diduga terdapat di wilayah Indonesia walaupun
tanpa bukti-bukti yang kuat. Alasan lainnya adalah untuk membela HAM dan
penegakan demokrasi sesuai ala Barat serta menjaga pelestarian lingkungan
hidup.
Oleh sebab itu terhadap gelagat pihak Barat diatas kita senantiasa harus
waspada dan jangan lengah terhadap gerakan-gerakan konsep perang modern
dengan memanfaatkan permasalahan-permasalahan yang belum selesai di
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu tidak ada jalan lain maka
anak-anak bangsa harus terus membangun rasa nasionalisme dan wawasan
kebangsaan sehingga akan menutup upaya-upaya neo kolonialisme dan
imperialisme pihak Barat dan negara-negara "agresor" untuk memaksakan
kepentingannya di negara kita yang kita cintai ini.

7. Penutup.
Pengalaman dan pelajaran yang dapat diambil khidmatnya dari kejadian
disintegrasi Negara eks.Yugoslavia antara lain:
a. Faktor pemersatu bangsa diantaranya yaitu pemimpin negara yang kuat,
pemerintahan yang stabil, adanya kesamaan ideologi serta Tentara Nasional
yang kuat dan disegani semua pihak merupakan hal yang mutlak perlu dijaga
agar kepentingan nasional tidak terganggu.
b. Agenda Reformasi harus terkendali, demikian pula proses demokrasi tidak
boleh dilepas tanpa kontrol, dalam arti desentralisasi kekuasaan di daerah harus
tetap memegang teguh hirarkhis kekuasaan pada tingkat pusat.
c. Masalah Suku, Agama, Ras dan antar golongan ternyata merupakan masalah
rawan terhadap konflik sehingga perlu tetap dijaga dari kemungkinan
penyalahgunaan bagi kepentingan-kepentingan politik tertentu.
d. Perlu peninjauan kembali adanya tata ruang wilayah Indonesia agar tidak
menimbulkan suatu ketimpangan dalam hal kesejahteraan yang dapat digunakan
untuk mengganggu stabilitas dan persatuan nasional. Demikian pula
pertumbuhan ekonomi harus segera ditingkatkan terutama untuk kepentingan
masyarakat luas seperti pengentasan kemiskinan dan pengangguran.

e. Senantiasa waspada dan hati-hati terhadap campur tangan pihak asing


dengan motivasi untuk membantu penyelesaian permasalahan dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Pelibatan pihak luar baik melalui perantaraan PBB
maupun negara ketiga atau organisasi-organisasi internasional lainnya ternyata
seringkali justru memperburuk situasi, jauh dari yang diharapkan.
f. Propaganda-propaganda yang menjelek-jelekkan aspek kehidupan berbangsa
dan bernegara kiranya perlu mendapat perhatian serius dan di counter secara
komprehensif baik dengan tindakan dan perbuatan seluruh lapisan masyarakat.
Demikianlah tulisan ini dibuat dengan harapan semoga ada manfaatnya bagi
para pembaca dalam rangka menjaga dan memelihara persatuan dan kesatuan
negara Republik Indonesia yang kita cintai ini.
* Penulis adalah Mantan Athan RI di Beograd-Serbia Montenegro TA 2000
s/d 2003, sekarang Aslitbang Satinduk Bais TNI.