Anda di halaman 1dari 10

Nama : Riani Aprianti Nurhasanah

NPM : 230110130003
Kelas : FPIK A
KETERKAITAN IDENTITAS NASIONAL DENGAN GLOBALISASI
Identitas nasional pada hakikatnya merupakan manifestasi nilai-nilai
budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan suatu
bangsa dengan ciri-ciri khas. Dengan ciri-ciri khas tersebut, suatu bangsa berbeda
dengan bangsa lain dalam hidup dan kehidupannya. Diletakkan dalam konteks
Indonesia, maka Identitas Nasional itu merupakan manifestasi nilai-nilai budaya
yang sudah tumbuh dan berkembang sebelum masuknya agama-agama besar di
bumi nusantara ini dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku yang
kemudian dihimpun dalam satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan Nasional
dengan acuan Bhinneka Tunggal dan Pancasila Ika sebagai dasar dan arah
pengembangannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan perkataan lain, dapat dikatakan bahwa hakikat identitas nasional
kita sebagai bangsa di dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara
adalah Pancasila yang aktualisasinya tercermin dalam berbagai penataan
kehidupan kita dalam arti luas, misalnya dalam Pembukaan beserta UUD, sistem
pemerintahan yang diterapkan, nilai-nilai etik, moral, tradisi, bahasa, mitos,
ideologi, dan lain sebagainya yang secara normatif diterapkan di dalam pergaulan,
baik dalam tataran nasional maupun internasional. Perlu dikemukaikan bahwa
nilai-nilai budaya yang tercermin sebagai Identitas Nasional tadi bukanlah barang
jadi yang sudah selesai dalam kebekuan normatif dan dogmatis, melainkan
sesuatu yang terbuka-cenderung terus menerus bersemi sejalan dengan hasrat
menuju kemajuan yang dimiliki oleh masyarakat pendukungnya.
Konsekuensi dan implikasinya adalah identitas nasional juga sesuatu yang
terbuka, dinamis, dan dialektis untuk ditafsir dengan diberi makna baru agar tetap
relevan dan funsional dalam kondisi aktual yang berkembang dalam masyarakat.

Krisis multidimensi yang kini sedang melanda masyarakat kita


menyadarkan bahwa pelestarian budaya sebagai upaya untuk mengembangkan
Identitas Nasional kita telah ditegaskan sebagai komitmen konstitusional
sebagaimana dirumuskan oleh para pendiri negara kita dalam Pembukaan,
khususnya dalam Pasal 32 UUD 1945 beserta penjelasannya, yaitu :
Pemerintah memajukan Kebudayan Nasional Indonesia yang diberi penjelasan:
Kebudayan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budaya
rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli terdapat ebagi puncakpuncak kebudayaan di daerah-daerah seluruh Indonesia, terhitung sebagai
kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab,
budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan
asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa
sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia .
Kemudian dalam UUD 1945 yang diamandemen dalam satu naskah
disebutkan dalam Pasal 32
1. Negara memajukan kebudayan Nasional Indonesia di tengah peradaban
dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memeliharra dan
mengembangkan nilai-nilai budaya.
2. Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan
budaya nasional.
Dengan demikian secara konstitusional, pengembangan kebudayan untuk
membina dan mengembangkan identitas nasional kita telah diberi dasar dan
arahnya, terlepas dari apa dan bagaimana kebudayaan itu dipahami yang dalam
khasanah ilmiah terdapat tidak kurang dari 166 definisi sebagaimana dinyatakan
oleh Kroeber dan Klukhohn di tahun 1952.
Kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal.
Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja
(working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada

yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses
alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat
satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan koeksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya
masyarakat.
Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat,
termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilainilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh
warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi
berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam
alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari,
bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam
pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan
penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari
kebudayaan.
Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu
keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat
semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari
perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini ( Lucian
W. Pye, 1966 ).
Namun, perkembangan globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada
awal ke-20 dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Kontak melalui media
menggantikan kontak fisik sebagai sarana utama komunikasi antarbangsa.
Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antarbangsa lebih mudah dilakukan,
hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan.
Ciri berkembangnya globalisasi kebudayaan
1) Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional.
2) Penyebaran prinsip multikebudayaan (multiculturalism), dan kemudahan
akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaannya.
3

3) Berkembangnya turisme dan pariwisata.


4) Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain.
5) Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, film dan lain
lain.
6) Bertambah banyaknya event-event berskala global, seperti Piala Dunia
FIFA.
Dengan adanya globalisasi, intensitas hubungan masyarakat antara satu
negara dengan negara yang lain menjadi semakin tinggi. Dengan demikian
kecenderungan munculnya kejahatan yang bersifat transnasional menjadi semakin
sering terjadi. Kejahatan-kejahatan tersebut antara lain terkait dengan masalah
narkotika, pencucian uang (money laundering), peredaran dokumen keimigrasian
palsu dan terorisme. Masalah-masalah tersebut berpengaruh terhadap nilai-nilai
budaya bangsa yang selama ini dijunjung tinggi mulai memudar. Hal ini
ditunjukkan dengan semakin merajalelanya peredaran narkotika dan psikotropika
sehingga sangat merusak kepribadian dan moral bangsa khususnya bagi generasi
penerus bangsa. Jika hal tersebut tidak dapat dibendung maka akan mengganggu
terhadap ketahanan nasional di segala aspek kehidupan bahkan akan
menyebabkan lunturnya nilai-nilai identitas nasional.
Munculnya arus globalisme yang dalam hal ini bagi sebuah Negara yang
sedang berkembang akan mengancam eksistensinya sebagai sebuah bangsa.
Sebagai bangsa yang masih dalam tahap berkembang kita memang tidak suka
dengan globalisasi tetapi kita tidak bisa menghindarinya. Globalisasi harus kita
jalani ibarat kita menaklukan seekor kuda liar kita yang berhasil menunggangi
kuda tersebut atau kuda tersebut yang malah menunggangi kita. Mampu tidaknya
kita menjawab tantangan globalisasi adalah bagaimana kita bisa memahami dan
malaksanakan Pancasila dalam setiap kita berpikir dan bertindak.
Persolan utama Indonesia dalam mengarungi lautan Global ini adalah masih
banyaknya kemiskinan, kebodohan dan kesenjangan sosial yang masih lebar. Dari
beberapa persoalan diatas apabila kita mampu memaknai kembali Pancasila dan

kemudian dimulai dari diri kita masing-masing untuk bisa menjalankan dalam
kehidupan sehari-hari, maka globalisasi akan dapat kita arungi dan keutuhan
NKRI masih bisa terjaga.

KETERKAITAN IDENTITAS NASIONAL DENGAN INTEGRASI


NASIONAL INDONESIA
Berbagai peristiwa sejarah di negeri ini telah menunjukkan bahwa hanya
persatuan dan kesatuanlah yang membawa negeri Indonesia ini menjadi negeri
yang besar. Besarnya kerajaan Sriwijaya dan Majapahit tidaklah mengalami
proses kejayaan yang cukup lama, karena pada waktu itu persatuan cenderung
dipaksakan melalui ekspansi perang dengan menundukkan Negara- Negara
tetangga.
Sangat berbeda dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus
1945 yang sebelum proklamasi tersebut telah didasari keinginan kuat dari seluruh
elemen bangsa Indonesia untuk bersatu dengan mewujudkan satu cita-cita yaitu
bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia dan
menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa persatuan (Sumpah Pemuda 28
Oktober 1928)
Dilihat dari banyak ragamnya suku, bangsa, ras, bahasa dan corak budaya
yang ada membuat bangsa ini menjadi rentan pergesekan, oleh karena itu para
pendiri Indonesia telah menciptakan Pancasila sebagai dasar bernegara.
Masalah

integrasi

nasional

di

Indonesia

sangat

kompleks

dan

multidimensional. Untuk mewujudkannya diperlukan keadilan, kebijakan yang


diterapkan oleh pemerintah dengan tidak membedakan ras, suku, agama, bahasa
dan sebagainya. Sebenarnya upaya membangun keadilan, kesatuan dan persatuan
bangsa merupakan bagian dari upaya membangun dan membina stabilitas politik
disamping upaya lain seperti banyaknya keterlibatan pemerintah dalam
menentukan komposisi dan mekanisme parlemen.
Dengan demikian upaya integrasi nasional dengan strategi yang mantap
perlu terus dilakukan agar terwujud integrasi bangsa Indonesia yang diinginkan.
Upaya pembangunan dan pembinaan integrasi nasional ini perlu karena pada
hakekatnya integrasi nasional tidak lain menunjukkan tingkat kuatnya persatuan
dan kesatuan bangsa yang diinginkan. Pada akhirnya persatuan dan kesatuan
6

bangsa inilah yang dapat lebih menjamin terwujudnya negara yang makmur, aman
dan tentram. Jika melihat konflik yang terjadi di Aceh, Ambon, Kalimantan Barat
dan Papua merupakan cermin dan belum terwujudnya Integrasi Nasional yang
diharapkan. Sedangkan kaitannya dengan Identitas Nasional adalah bahwa
adanya integrasi nasional dapat menguatkan akar dari Identitas Nasional yang
sedang dibangun.
Dilihat dari bentuknya Pancasila merupakan pengalaman sejarah masa lalu
untuk menuju sebuah cita-cita yang luhur. Pancasila dilambangkan seekor burung
Garuda yang mana burung tersebut dalam kisah pewayangan melambangkan anak
yang berjuang mencari air suci untuk ibunya, sedangkan pita bertuliskan Bhineka
Tunggal Ika berartikan berbeda tetapi tetap satu. Kemudian tergantung di dada
burung tersebut sebuah perisai yang mana biasanya perisai adalah alat untuk
menahan serangan perang pada jaman dulu, jadi kalau diartikan untuk menjaga
integritas bangsa Indonesia baik itu ancaman dari dalam maupun dari luar yaitu
dengan menggunakan perisai yang didalam nya terkandung lima sila.
Dalam pidato bahasa Inggris di Washington, Soekarno telah mendapatkan
apresiasi yang luar biasa dari bangsa Amerika yang mana Sukarno pada waktu itu
mengenalkan ideologi Indonesia yaitu Pancasila. Panca berarti Lima dan sila
berarti landasan atau dasar yang mana dasar pertama Negara Indonesia ini dalah
berdasar Ketuhanan, kedua berdasar Kemanusiaan, ketiga persatuan , dan keempat
adalah demokrasi, serta kelima adalah keadilan sosial.
Seringkali bangsa kita ini mengalami disintegrasi dan kemudian bersatu
kembali konon kata beberapa tokoh adalah berkat kesaktian Pancasila. Sampai
pemerintah juga menetapkan hari kesaktian pancasila tanggal 1 Oktober. Hal ini
menunjukan bahwa sebenarnya Pancasila hingga saat ini masih kuat relevansinya
bagi sebuah ideologi Negara seperti Indonesia ini.
Untuk itu dengan perkataan lain, dapat dikatakan bahwa hakikat identitas
asional kita sebagai bangsa di dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan
bernegara adalah Pancasila yang aktualisasinya tercermin dalam berbagai

penataan kehidupan kita dalam arti luas, misalnya dalam Pembukaan beserta
UUD kita, sistem pemerintahan yang diterapkan, nilai-nilai etik, moral, tradisi,
bahasa, mitos, ideologi, dan lain sebagainya yang secara normatif diterapkan di
dalam pergaulan, baik dalam tataran nasional maupun internasional.

REVITALISASI PANCASILA SEBAGAI PEMBERDAYAAN IDENTITAS


NASIONAL
Suatu bangsa harus memiliki identitas nasional dalam pergaulan
internasional. Tanpa national identity, maka bangsa tersebut akan terombangambing mengikuti ke mana angin membawa. Dalam ulang tahunnya yang ke-62,
bangsa Indonesia dihadapkan pada pentingnya menghidupkan kembali identitas
nasional secara nyata dan operatif.Identitas nasional kita terdiri dari empat elemen
yang biasa disebut sebagai konsensus nasional. Konsensus dimaksud adalah
Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
Revitalisasi Pancasila harus dikembalikan pada eksistensi Pancasila
sebagai ideologi bangsa dan negara. Karena ideologi adalah belief system,
pedoman hidup dan rumusan cita-cita atau nilai-nilai (Sergent, 1981), Pancasila
tidak perlu direduksi menjadi slogan sehingga seolah tampak nyata dan
personalistik. Slogan seperti "Membela Pancasila Sampai Mati" atau "Dengan
Pancasila Kita Tegakkan Keadilan" menjadikan Pancasila seolah dikepung
ancaman dramatis atau lebih buruk lagi, hanya dianggap sebatas instrumen tujuan.
Akibatnya, kekecewaan bisa mudah mencuat jika slogan-slogan itu tidak menjadi
pantulan realitas kehidupan masyarakat.
Karena itu, Pancasila harus dilihat sebagai ideologi, sebagai cita-cita.
Maka secara otomatis akan tertanam pengertian di alam bawah sadar rakyat,
pencapaian cita- cita, seperti kehidupan rakyat yang adil dan makmur, misalnya,
harus dilakukan bertahap. Dengan demikian, kita lebih leluasa untuk
merencanakan aneka tindakan guna mencapai cita-cita itu.
Selain perlunya penegasan bahwa Pancasila adalah cita-cita, hal penting
lain yang dilakukan untuk merevitalisasi Pancasila dalam tataran ide adalah
mencari maskot. Meski dalam hal ini ada pandangan berbeda karena dengan
memeras Pancasila berarti menggali kubur Pancasila itu sendiri, namun dari sisi
strategi kebudayaan adalah tidak salah jika kita mengikuti alur pikir Soekarno,

jika perlu Pancasila diperas menjadi ekasila, Gotong Royong. Mungkin inilah
maskot yang harus dijadikan dasar strategi kebudayaan guna penerapan Pancasila.
Pendeknya, ketika orang enggan menyebut dan membicarakan Pancasila, Gotong
Royong dapat dijadikan maskot dalam rangka revitalisasi Pancasila.
Melalui revitalisasi Pancasila sebagai wujud pemberdayaan Identitas
Nasional inilah, maka Identitas Nasional dalam alur rasional-akademik tidak saja
segi tekstual melainkan juga segi konstekstualnya dieksplorasikan sebagai
referensi kritik sosial terhadap berbagai penyimpangan yang melanda masyarakat
kita dewasa ini. Untuk membentuk jati diri maka nilai-nilai yang ada tersebut
harus digali dulu misalnya nilai-nilai agama yang datang dari Tuhan dan nilainilai yang lain misalnya gotong royong, persatuan kesatuan, saling menghargai
menghormati, yang hal ini sangat berarti dalam memperkuat rasa nasionalisme
bangsa. Dengan saling mengerti antara satu dengan yang lain maka secara
langsung akan memperlihatkan jati diri bangsa kita yang akhirnya mewujudkan
identitas nasional kita.

DAFTAR PUSTAKA
Aditya Rangga. 2008. Keterkaitan Identitas Nasional dengan Globalisasi.
(http://ipdn-artikelgratis.blogspot.com/2008/09/ketrekaitan-identitas-nasionaldengan.html), diakses pada tanggal 4 Maret 2014.
Suscadoswar. 2005. Modul Materi-Identitas Nasional. Universitas Negeri
Yogyakarta,
(http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=6&ved=0
CFMQFjAF&url=http%3A%2F%2Fstaff.uny.ac.id%2Fsites%2Fdefault%2Ffiles
%2Fpendidikan%2FDr.%2520Rukiyati%2C%2520M.Hum.%2FMateri%25203%
2520%2520Identitas%2520Nasional.doc&ei=atEVU7LTOsjMyQHYtoG4Cg&usg=AF
QjCNHHP60hBre_hgb9ZGvU-Ojy4-XRrA&sig2=QshoxCBb46KAWMWLoyOVQ&bvm=bv.62286460,d.aWc), diakses pada tanggal 4 Maret 2014.

10