Anda di halaman 1dari 19

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN


SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

KONSEP DASAR AKUNTANSI MANAJEMEN

Disusun oleh :
KELOMPOK 1
1.
2.
3.
4.
5.

AMELIA KUSUMASTUTI / 144060005883 / (3)


ANGESTI MARGI RAHAYUNINGSIH / 144060005963 / (5)
OTHNIEL H.S.P / 144060005933 / (17)
RENDY KURNIAWAN / 144060006071 / (23)
WARDINTO / 144060006054 / (27)

TAHUN 2014
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

KONSEP DASAR AKUNTANSI MANAJEMEN


A. Pembebanan Biaya
Pembebanan biaya pada produk, jasa, pelanggan, dan objek lain

yang menjadi

perhatian manajemen adalah salah satu tujuan dasar dari sistem informasi akuntansi
manajemen. Peningkatan keakuratan pembebanan biaya menghasilkan informasi yang
lebih berkualitas tinggi dan dapat digunakan untuk membuat keputusan lebih baik.
1. Biaya
Biaya adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang
atau jasa yang diharapkan memberi manfaat saat ini atau di masa depan bagi organisasi.
Mengurangi biaya yang dibutuhkan untuk mencapai manfaat tertentu berarti membuat
perusahaan menjadi lebih efisien, akan tetapi biaya harus dikelola dengan strategis.
Artinya manajer harus memiliki tujuan menyediakan nilai bagi bagi pelanggan yang
sama besar (atau lebih besar) dengan biaya yang lebih rendah dari para pesaingnya.
Dengan cara ini, posisi stategis perusahaan akan naik dan keunggulan kompetitif akan
tercipta.
2. Objek Biaya
Sistem akuntansi manajemen dibuat untuk mengukur dan membebankan biaya pada
entitas yang disebut objek biaya. Objek biaya dapat berupa apapun, seperti produk,
pelanggan, departemen, proyek, aktifitas, dan lain-lain yang digunakan untuk mengukur
dan membebankan biaya. Sebagai contoh, jika sebuah pabrik mainan ingin
mengembangkan mainan baru, maka maka objek biayanya adalah proyek pengembangan
mainan baru.
Beberapa tahun terakhir, aktifitas muncul sebagai objek biaya yang penting. Aktifitas
adalah unit dasar dari kerja yang dilakukan dalam sebuah organisasi dan dapat juga
dideskripsikan sebagai kumpulan tindakan dalam suatu organisasi yang berguna bagi
para manajer untuk melakukan perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan.
Aktifitas tidak hanya bertindak sebagai objek biaya, tetapi juga berperan utama dalam
pembebanan biaya untuk objek biaya lainnya. Sebagai contoh, aktifitas pengepakan
untuk kue tart kopi mini akan berbeda (dan jumlah biayanya berbeda) daripada aktifitas
pengepakan untuk kue biasa yang dimasukkan ke dalam kotak tersendiri.
3. Keakuratan Pembebanan
Pembebanan biaya secara akurat pada objek biaya sangatlah penting. Keakuratan
tidak dievaluasi berdasarkan pengetahuan tentang biaya yang sebenarnya. Keakuratan
1

adalah suatu konsep yang relatif dan harus dilakukan secara wajar dan logis terhadap
penggunaan metode pembebanan biaya. Tujuannya adalah mengukur dan membebankan
biaya dari sumber daya yang dikonsumsi objek biaya sebaik mungkin.
Pembebanan biaya yang terdistorsi dapat menghasilkan keputusan yang salah dan
evaluasi yang buruk. Sebagai contoh, jika seorang manajer pabrik sedang mencoba
memutuskan akan melanjutkan produksi listrik secara internal atau membelinya dari
perusahaan fasilitas umum lokal, maka penilaian secara akurat mengenai besarnya biaya
memproduksi listrik adalah hal mendasar untuk analisis. Biaya produksi listrik yang
dinyatakan terlalu tinggi dapat mendorong manajer untuk menutup Departemen Listrik
Internal dan membeli listrik dari luar, padahal pembebanan biaya yang lebih akurat
mungkin menyarankan hal yang sebaliknya. Menetapkkan hubungan sebab akibat antara
biaya yang dibebankan dan objek biaya adalah kunci untuk membuat pembebanan biaya
secara wajar dan akurat.
Hubungan antara biaya dan objek biaya harus ditelusuri untuk membantu
meningkatkan keakuratan pembebanan biaya. Biaya dapat berkaitan dengan objek biaya
secara langsung atau tidak langsung. Biaya langsung (direct cost) dapat ditelusuri dengan
mudah dan akurat sebagai objek biaya, berbeda halnya dengan biaya tidak langsung
(indirect cost). Ditelusuri dengan mudah berarti biaya dapat dibebankan dengan cara
yang layak secara ekonomi. Sedangkan ditelusuri dengan akurat berarti biaya dapat
dibebankan dengan hubungan sebab akibat. Jadi, ketelusuran adalah kemampuan
membebankan biaya pada objek biaya dengan cara yang layak secara ekonomi
berdasarkan hubungan sebab akibat. Semakin besar biaya yang dapat ditelusuri pada
objeknya, semakin akurat pembebanan biayanya.
Ketelusuran berarti biaya dapat dibebankan dengan mudah dan akurat, sedangkan
penelusuran (tracing) berarti pembebanan aktual biaya pada objek biaya dengan
menggunakan ukuran yang dapat diamati atau sumber daya yang dikonsumsi oleh objek
biaya. Penelusuran biaya pada objek biaya dapat terjadi melalui penelusuran langsung
atau penelusuran penggerak. Penelusuran langsung (direct tracing) adalah suatu proses
pengidentifikasian dan pembebanan biaya yang berkaitan secara khusus dan fisik dengan
suatu objek. Penelusuran ini sering dilakukan melalui pengamatan fisik. Penelusuran
penggerak (driver tracing) adalah penggunaan penggerak untuk membebankan biaya
pada objek biaya. Di dalam konteks pembebanan biaya, penggerak adalah faktor
penyebab yang dapat diamati dan faktor penyebab yang mengukur konsumsi sumber
daya objek biaya. Oleh sebab itu, penggerak adalah faktor yang menyebabkan perubahan
2

dalam penggunaan sumber daya dan memiliki hubungan sebab akibat dengan biaya yang
berhubungan dengan objek biaya.
Penelusuran penggerak biasanya kurang akurat dibandingkan dengan penelusuran
langsung. Akan tetapi, jika hubungan sebab akibatnya kuat, maka tingkat keakuratan
yang lebih tinggi dapat diperkirakan. Perhatian yang lebih penting adalah situasi saat
objek biaya bukan merupakan pemakai sumber daya satu-satunya, dan tidak ada
hubungan sebab akibat yang dapat ditetapkan atau adanya kendala biaya jika
menggunakan hubungan sebab akibat. Biaya tidak langsung (indirect cost) tidak dapat
dibebankan pada objek-objek biaya, baik dengan menggunakan penelusuran langsung
maupun penggerak. Hal ini berarti tidak ada hubungan sebab akibat antara biaya dan
objek biaya , atau penelusuran tidak layak dilakukan secara ekonomis. Pembebanan biaya
tidak langsung pada objek biaya disebut alokasi. Karena tidak terdapat hubungan sebab
akibat, pengalokasian biaya tidak langsung didasarkan pada kemudahan atau beberapa
asumsi yang berhubungan. Cara mudah untuk pengalokasian biaya adalah hanya dengan
membebankannya secara proporsional pada jam tenaga kerja langsung yang digunakan
setiap produk.
Berikut adalah ilustrasi metode pembebanan biaya

B. Harga Pokok Produk dan Jasa


Ada dua jenis keluaran yaitu produk berwujud dan jasa. Produk berwujud (tangible
product) adalah barang yang dihasilkan dengan mengubah bahan baku melalui
penggunaan tenaga kerja dan input modal. Jasa (service) adalah tugas aktifitas yang
dilakukan atau dijalankan oleh pelanggan dengan menggunakan produk atau fasilitas
3

organisasi. Jasa juga diproduksi dengan menggunakan bahan, tenaga kerja dan masukan
modal. Ada empat dimensi penting dari jasa, yaitu :
a) Tidak berwujud (Intangibility)
Pembeli jasa tidak dapat melihat,mendengar,merasakan suatu jasa sebelum
dibeli.Jadi jasa adalah produk tidak berwujud
b) Tidak tahan lama (Perishability)
Jasa tidak dapat disimpan untuk kegunaan masa depan oleh pelanggan
c) Tidak dapat dipisahkan (Inseparabaility)
Produsen dan pembeli biasanya harus melakukan kontak langsung saat terjadi
pertukaran.
d) Tidak selalu sama (Heterogenity)
Terdapat peluang variasi yang lebih besar pada penyelenggaran jasa daripada produk.
Organisasi yang membuat produk berwujud disebut organisasi manufaktur sedangkan
yang memproduksi produk tidak berwujud disebut organisasi jasa.
1. Biaya yang Berbeda untuk Tujuan yang Berbeda
Harga Pokok Produk (product cost) adalah pembebanan biaya yang mendukung
tujuan manajerial yang spesifik. Artinya adalah product cost bergantung pada tujuan
manajerial yang sedang dicapai. Hal tersebut mengilustrasikan prinsip manajemen biaya
fundamental yaitu biaya yang berbeda untuk tujuan yang berbeda. Sebagai contoh
pertama, anggaplah pihak manajemen tertarik dengan analisis tingkat laba strategis,
dengan demikian manajemen perlu informasi tentang semua pendapatan dan biaya yang
berhubungan dengan suatu produk.
2. Harga Pokok Produk dan Pelaporan Keuangan Eksternal
Salah satu tujuan utama sistem manajemen biaya adalah perhitungan harga pokok
produk untuk pelaporan keuangan eksternal. Biaya dikelompokkan dalam dua kategori
fungsional utama yaitu produksi dan non produksi. Biaya Produksi adalah biaya yang
berkaitan dengan pembuatan barang dan penyediaan jasa, sedangkan Biaya Non Produksi
adalah biaya yang berkaitan dengan fungsi desain, pengembangan, pemasaran, dan
sebagainya. Untuk barang berwujud, Biaya Produksi dan Biaya Non Produksi sering
disebut sebagai Biaya Manufaktur dan Non Manufaktur.
a) Biaya Produksi
Biaya produksi dapat diklasifikasikan sebagai bahan langsung, tenaga kerja langsung
dan overhead. Dalam pelaporan keuangan eksternal, hanya ketiga elemen biaya ini yang
dibebankan pada produk.

Bahan Baku Langsung adalah bahan yang dapat ditelusuri secara langsung pada
barang atau jasa yang sedang diproduksi.
4

Tenaga Kerja Langsung adalah tenaga kerja yang dapat ditelusuri secara langsung

pada barang atau jasa yang sedang diproduksi.


Overhead adalah semua biaya produksi selain bahan langsung dan tenaga kerja
langsung, dikelompokkan dalam satu kategori yang disebut overhead. Contoh:
penyusutan bangunan.

Biaya Utama (Primary Cost) adalah gabungan biaya yang dikeluarkan untuk bahan
baku langsung dan tenaga kerja langsung.
Primary Cost = DM + DL
Biaya Konversi (Conversion Cost) adalah gabungan biaya yang dikeluarkan untuk
tenaga kerja langsung dan overhead.
Conversion Cost = DL + FOH
b) Biaya Non Produksi
Biaya Non Produksi terdiri atas kategori umum, yakni biaya penjualan dan biaya
administrasi. Untuk pelaporan keuangan eksternal, biaya penjualan dan administrasi
disebut biaya yang tidak dapat diinventarisasi atau biaya periode. Biaya ini dibebankan
dalam periode waktu terjadinya. Pada organisasi manufaktur, biaya ini dapat mencapai
jumlah yang signifikan dibandingkan dari organisasi jasa (biasanya lebih dari 25% dari
pendapatan

penjualan)

dan

usaha

untuk

mengendalikannya

dapat

melakukan

penghematan biaya yang lebih besar.


Biaya pemasaran adalah biaya biaya yang diperlukan untuk memasarkan,
mendistribusikan, dan melayani produk atau jasa. Biaya ini sering disebut biaya
mendapatkan pesanan (order getting cost) dan biaya memenuhi pesanan (order filling
cost). Gaji dan komisi tenaga penjual adalah contoh order getting cost, sedangkan iklan,
pergudangan adalah contoh order filling cost.
3. Jenis - Jenis Pola Perilaku Biaya
Terdapat 3 jenis pola perilaku biaya, yakni :
a) Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya tetap konstan secara total, namun jika biaya tetap dinyatakan menurut biaya per
unit, maka biaya tersebut berubah secara berlawanan dengan tingkat aktifitas.
b) Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya Variabel meningkat secara total, proporsional terhadap aktifitas. Biaya variabel
konstan per unit terhadap aktifitas.
5

c) Biaya Semivariabel (Mixed Cost / Semivariable Cost)


Biaya Semivariabel merupakan biaya yang di dalamnya terdiri dari elemen-elemen
biaya tetap dan biaya variabel.
Y= a + bx
Y = total mixed cost
a = total fixed cost
b = total variable cost / unit aktifitas
x = tingkat aktifitas
4. Analisis Biaya Semivariabel
Terdapat 3 metode dalam melakukan analisis biaya semivariabel, antaralain :
a) Metode titik tertinggi dan terendah (High-Low Method)
Secara umum perhitungannya dapat dilakukan dengan cara:
1. Memilih jumlah biaya yang paling tinggi dari data yang tersedia
2. Memilih jumlah biaya yang paling rendah dari data yang tersedia
3. Menghitung selisih jumlah aktifitas dan selisih biaya dari dua titik tertinggi dan
terendah
4. Memasukkan selisih tersebut ke dalam formula untuk menghitung kmponen biaya
tetap dan biaya variable.
b) Metode Diagram Pencar (Scattergraph Method)
Sebuah garis regresi ditarik di antara pencaran titik-titik yang diplot secara sederhana
berdasarkan pengamatan visual.
c) Metode Regresi Kuadrat Terkecil (Least Squares Regression Method)
Metode ini lebih objektif dan tepat daripada metode Scattergraph tetapi melibatkan
beberapa perhitungan yang rumit sehingga lebih mudah menggunakan komputer untuk
menerapkan metode ini. Metode least square regression untuk membuat estimasi
hubungan linier didasarkan pada persamaan linier :
Dimana : a = Y / n
Y = a + bx
C. LAPORAN KEUANGAN EKSTERNAL

dan b = X.Y / X2

1. Laporan Laba Rugi


Ketika menyusun Laporan Laba Rugi, biaya produksi dipisahkan dari biaya penjualan
dan administrasi. Hal ini untuk mengelompokkan biaya berdasarkan fungsi, dimana
biaya produksi sebagai harga pokok produk, sedangkan biaya penjualan dan
administrasi sebagai biaya periode.
Dalam Laporan Laba Rugi biaya juga dibagi dalam dua kelompok, yaitu biaya
produksi dan biaya non produksi. Biaya produksi meliputi biaya bahan langsung (direct
material), biaya tenaga kerja langsung (direct labor), dan biaya overhead (meliputi
6

depresiasi gedung, pemeliharaan, perlengkapan, supervisi, penanganan material, ebergi,


pajak property dan pengamanan). Untuk biaya non produksi sendiri seperti biaya
perencanaan produk, biaya pengembangan produk, biaya pemasaran, biaya distribusi,
biaya pelayanan pelanggan, biaya administrasi umum.
Biaya produksi melekat pada produk yang terjual diakui sebagai beban (harga pokok
penjualan) sedangkan untuk produk yang belum terjual dilaporkan sebagai persediaan di
neraca. Beban penjualan dan administrasi harus dikurangi setiap periode sebagai beban
dan tidak tampak pada neraca.
a) Laporan Laba Rugi pada Perusahaan Manufaktur
Laporan Laba Rugi Perusahaan Manufaktur menggunakan perhitungan pemasukan
biaya absorpsi (full costing) karena semua biaya manufaktur dibebankan pada produk.
Pendekatan perhitungan biaya absorpsi, beban dipisahkan kemudian dikurangi dari
penjualan untuk menghasilkan laba sebelum pajak. Dapat dilihat pada contoh di bawah
ini, beban memiliki dua fungsional utama: harga pokok penjualan dan beban operasi.
Harga Pokok Penjualan (cost of goods sold) adalah biaya bahan langsung, tenaga kerja
langsung, dan overhead yang melekat pada unit yang terjual. Harga Pokok Produksi
(cost of goods manufactured) adalah total biaya barang yang diselesaikan selama
periode berjalan yang meliputi bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead.
Untuk barang dalam proses (work in process) pada proses awal mencerminkan biaya
manufaktur yang tercatat dari periode sebelumnya, sedangkan work in process proses
akhir mencerminkan biaya manufaktur yang akan dicatat pada periode selanjutnya.

Contoh Laporan Laba Rugi Perusahaan PT. Ultrajaya Milk

BEBAN
OPERASIONAL

Keterangan :
Karena keterbatasan informasi dalam penjelasan pada tulisan ini kami hanya membahas
rincian beban non produksi dari beban penjualan, beban administrasi dan umum, serta
beban lain-lain.

Rincian Beban Produksi :

Rincian Beban Non Produksi :

Dari rincian di atas dapat kita ringkas Laporan Laba Rugi PT. Ultrajaya Milk, sebagai
berikut:
PT. Ultrajaya Milk (Manufacturing Co.)
Laporan Laba Rugi
untuk tahun berakhir 31 Desember 2012
Penjualan

2.809.851.307.439

(-) Harga Pokok Penjualan (COGS) :


Persediaan Awal Barang Jadi
(+) Harga Pokok Produksi (COGM)
Barang yang tersedia untuk dijual
(-) Persediaan akhir barang jadi

99.979.626.413
1.894.733.649.171
1.994.713.275.584
(86.604.228.347)

Margin Kotor

1.908.109.047.237
901.742.260.202

(-) Beban Operasi


Beban Penjualan
Beban Administrasi & Umum
Beban Lain-lain
Kerugian Selisih Kurs
Rugi Penjualan Aset Tetap

366.413.401.362
82.694.854.869
5.069.974.743
14.849.245.962
5.069.974.743

Laba Sebelum Pajak

472.400.760.324
429.341.499.878

b) Laporan Laba Rugi pada Perusahaan Jasa


Perusahaan Jasa memiliki perhitungan biaya yang berbeda dengan perusahaan
manufaktur karena tidak memiliki persediaan barang, karena jasa tidak dapat disimpan.
Biaya penjualan jasa sama dengan harga pokok produksi sehingga dapat dihitung dengan
format perhitungan yang sama dengan perhitungan harga pokok produksi.

10

Contoh Laporan Laba Rugi Perusahaan PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk Dan
Anak Perusahaan

Dari rincian di atas dapat kita sederhanakan Laporan Laba Rugi PT. Garuda Indonesia
dengan detail sebagai berikut:
PT. Garuda Indonesia (Service Co.)
Laporan Laba Rugi
untuk tahun berakhir 31 Desember 2010
Penjualan

19.534.331.480.504

(-) Biaya Operasional :


Bahan Langsung (Operasional Penerbangan)
Upah Langsung (Pelayanan Penumpang)
Overhead :
-Penyusutan dan amortisasi
-Pemeliharaan dan perbaikan
-Bandara
Margin Kotor

9.978.323.688.415
1.587.014.476.658
1.647.951.805.359
1.221.770.659.965
1.496.930.784.245 15.931.991.414.642
3.602.340.065.862
11

(-) Biaya Non Operasional


Beban Penjualan
(tiket, penjualan, & promosi)
Beban Operasional
(transportasi, jaringan, hotel)
Beban administrasi dan umum
Beban imbalan kerja
Laba (Rugi) Sebelum Pajak

1.753.244.759.714
235.804.819.591
1.370.474.991.002
310.065.847.259 3.669.590.417.566
(67.159.351.704)

D. Sistem Akuntansi Manajemen (Management Accounting Systems)


Sistem Akuntansi Manajemen secara umum dapat diklasifikasi menjadi Functionalbased Systems dan Activity-based Systems. Functional-based Management accounting
systems (FBM) sudah digunakan sepanjang 1900an dan masih digunakan secara luas di
industri manufaktur dan jasa. Activity-based Management accounting systems (ABM)
dikembangkan dalam kurun waktu tiga dekade terakhir dan masih tergolong baru.
Penggunaan sistem ini sedang meningkat dan digunakan secara luas, khususnya oleh
organisasi yang berhadapan dengan produk dan pelanggan yang beragam, produk yang
kompleks, perputaran produk yang cepat, kebutuhan terhadap peningkatan kualitas, dan
kompetisi yang ketat. ABM dapat ditemukan di dalam industri kesehatan, keuangan,
transportasi, dan manufaktur pada umumnya, seperti elektronik. Perbandingan antara
kedua model sistem akuntansi manajemen tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah
ini.
FBM Model

ABM Model

12

Dimensi vertikal setiap model menggambarkan bagaimanana biaya dialokasikan


kepada objek biaya, seperti produk dan pelanggan. Dimensi horizontal berfokus pada
upaya sistem untuk meningkatkan efisiensi operasional dan pengaturan biaya. FBM
model berpusat pada fungsi yang biasanya dikelompokkan ke dalam unit-unit organisasi
seperti departemen, sedangkan ABM berfokus pada aktifitas.
1. Pandangan terhadap Biaya
Dalam FBM, sumber biaya dialokasikan terlebih dahulu kepada unit fungsi dan
kemudian ke produk. Dalam pengalokasian digunakan direct tracing dan driver tracing.
FBM driver tracing hanya menggunakan production (unit level) driver, yaitu ukuran
pemanfaatan yang berkorelasi sangat tinggi dengan hasil produksi. Driver yang memiliki
korelasi tinggi terhadap unit yang diproduksi, seperti jam kerja, bahan baku, dan jam
mesin, hanyalah drivers yang diasumsikan penting. Karena FBM hanya menggunakan
driver yang berkaitan dengan fungsi produksi untuk mengalokasikan biaya, pendekatan
ini disebut sebagai functional-based costing (FBC).
Dalam activity-based costing (ABC), biaya ditentukan terlebih dahulu kepada
aktifitas dan kemudian kepada produk. Sama seperti FBC, direct tracing dan driver
tracing juga digunakan, meskipun peran dari driver tracing diperluas secara signifikan
dengan mengidentifikasi dan menggunakan driver yang tidak berkaitan dengan jumlah
produk yang dihasilkan (non unit-based drivers). Penggunaan kedua jenis driver ini
meningkatkan akurasi dari alokasi biaya, kualitas, dan relevansi informasi biaya. ABC
memilliki kecenderungan fleksibel. Informasi biaya dihasilkan untuk mendukung
berbagai tujuan manajerial, termasuk pelaporan keuangan.
2. Pandangan terhadap Efisiensi Operasional
Manajemen berbasis fungsi melakukan pendekatan untuk mengatur alokasi biaya
kepada unit organisasi dan kemudian mengawasi manajer yang bertanggung jawab atas
pengaturan alokasi biaya tersebut. Kinerja diukur dengan membandingkan hasil yang
13

sebenarnya dengan hasil yang diharapkan. Penekanan kinerja difokuskan pada ukuran
keuangan, sedangkan ukuran non keuangan biasanya diabaikan. Manajer diberi
penghargaan berdasarkan kemampuannya untuk mengatur biaya. Pendekatan ini
mengasumsikan bahwa maksimalisasi kinerja organisasi dapat dicapai dengan
memaksimalkan kinerja individu dalam unit organisasi.
Sistem berbasis aktifitas berbeda secara signifikan dari sistem berbasis fungsi.
Penekanan sistem berbasis fungsi ada pada pengaturan biaya. Dalam pandangan terkini,
manajemen kegiatan, bukan biaya, yang menjadi kunci sukses pengaturan. Manajemen
berbasis aktifitas berfokus kepada tujuan manajemen kegiatan, yaitu peningkatan nilai
yang diterima konsumen dan keuntungan yang didapatkan dari menyediakan nilai
tersebut. Kegiatan tersebut mencakup analisis driver, analisis kegiatan, dan evaluasi
kinerja yang diperoleh dari pembiayaan berbasis kegiatan sebagai sumber informasi.
Proses berfokus pada identifikasi faktor yang menimbulkan biaya suatu kegiatan,
menentukan pekerjaan yang selesai, dan mengevaluasi pekerjaan yang dilakukan dan
hasil yang dicapai. Pendekatan ini berfokus pada akuntabilitas kegiatan daripada biaya
dan menekankan kinerja seluruh sistem, bukan individu. Dalam sistem akuntansi
manajemen berbasis aktifitas, ukuran keuangan dan non keuangan kinerja adalah penting.

E. CONTOH SOAL PERHITUNGAN


Contoh Soal 1 : Exercise 2-7
Loring Company memiliki perincian biaya untuk tahun lalu sebagai berikut :
Direct materials
$ 216,000
Factory rent
24,000
Direct labor
120,000
Factory utilities
6,300
Supervision in the factory
50,000
Indirect labor in the factory
30,000
Depreciation on factory equipment
9,000
Sales commissions
27,000
Sales salaries
65,000
Advertising
37,000
Depreciation on the headquarters building
10,000
Salary of the corporate receptionist
30,000
Other administrative costs
175,000
Salary of the factory receptionist
28,000
Diminta :
1. Klasifikasikanlah setiap biaya diatas menggunakan format tabel seperti yang
disediakan dibawah ini. Dan jumlahkan di setiap kolomnya.
14

Contoh : Direct materials $216,000


Costs
Expense
DM

Product Cost
DM
DL

Overhead

Period Cost
.
Selling Expense Administrative

$216,000

2. Berapa jumlah total product cost untuk tahun lalu ?


3. Berapa jumlah total period cost untuk tahun lalu ?
4. Jika sebanyak 30.000 unit diproduksi pada tahun lalu, berapa nilai product cost
per unit nya?
Penyelesaian :
1.

2. Direct materials
Direct labor
Overhead
Total product cost

$ 216,000
120,000
147,300
$ 483,300

3. Total period cost = $129,000 + $215,000 = $ 344,000


4. Product cost/ unit = $483,300/30,000 = $ 16.11
Contoh Soal 2 : Exercise 2-12
Mellon Company, sebuah perusahaan manufaktur, menyediakan informasi yang berasal
dari catatan akuntansi selama tahun 2008 sebagai berikut :
(dalam ribuan dollar)
Purchases of raw materials
$ 76,000
Direct labor cost
52,500
Supplies used
5,300
Factory insurance
1,050
Commissions paid
7,500
Factory supervision
9,675
Advertising
2,400
Material handling
11,000
15

Work-in-process inventory, December 31, 2007


Work-in-process inventory, December 31, 2008
Materials inventory, December 31, 2007
Materials inventory, December 31, 2008
Finished goods inventory, December 31, 2007
Finished goods inventory, December 31, 2008

47,500
42,000
10,400
28,500
20,055
10,750

Diminta :
1. Siapkan Laporan COGM.
2. Siapkan Laporan COGS.
3. Berapa Total Biaya Utama (prime cost) selama tahun 2008 ? Berapa Total Biaya
Konversi (conversion cost) ?
Penyelesaian :
1.
Mellon Company
Statement of Cost of Goods Manufactured
For the Year Ended December 31, 2008
(in thousands of dollars)
Direct materials:
Beginning inventory .......................................
Add: Purchases ..............................................
Materials available ..........................................
Less: Ending inventory ..................................
Direct materials used .................................................
Direct labor ................................................................
Manufacturing overhead:
Supplies ...........................................................
Insurance .........................................................
Supervision .....................................................
Material handling ............................................
Total overhead costs ........................................
Total current manufacturing costs ...............................
Add: Beginning work in process .................................
Total manufacturing costs ............................................
Less: Ending work in process ...........................................
Cost of goods manufactured .............................................
2.

$ 57,900
52,500
$ 5,300
1,050
9,675
11,000
27,025
$ 137,425
47,500
$ 184,925
42,000
$ 142,925

Mellon Company
Statement of Cost of Goods Sold
For the Year Ended December 31, 2008
(in thousands of dollars)

Beginning finished goods inventory ............................


Add: Cost of goods manufactured ...............................
Cost of goods available for sale ....................................
Less: Ending finished goods inventory ........................
Cost of goods sold ..........................................................
3.

$ 10,400
76,000
$ 86,400
28,500

$ 20,055
142,925
$ 162,980
10,750
$ 152,230

- Total Prime cost for 2008 = Direct materials + Direct labor


16

= $ 57,900 + $ 52,500
= $ 110,400
- Total Conversion cost = Direct labor + Overhead
= $ 52,500 + $ 27,025
= $ 79,525
Contoh Soal 3 : Problem 2-22
Kimmelman Company memproduksi 5,000 sofa loveseats selama setahun. Setiap sofa
dijual dengan harga $650. Kimmelman memiliki 600 loveseats dalam persediaan barang
jadi pada awal tahun. Pada akhir tahun, terdapat 800 loveseats dalam persediaan barang
jadi. Catatan akuntansi Kimmelman menyediakan informasi sebagai berikut :
Purchases of materials
Direct materials inventory, December 31, 2007
Direct materials inventory, December 31, 2008
Direct labor
Indirect labor
Rent, factory building
Supplies used in production
Depreciation, factory equipment
Utilities, factory
Salary, sales supervisor
Commissions, salespersons
General administration
Work-in-process inventory, December 31, 2007
Work-in-process inventory, December 31, 2008
Finished goods inventory, December 31, 2007
Finished goods inventory, December 31, 2008

$ 675,000
93,600
133,600
400,000
80,000
84,000
14,600
120,000
$ 23,912
180,000
360,000
600,000
26,082
29,992
160,000
228,200

Diminta :
1. Siapkan Laporan COGM.
2. Hitung biaya rata-rata untuk memproduksi 1 unit produk di tahun 2008 (bulatkan
hingga satuan dollar terdekat).
3. Siapkan Laporan Laba Rugi untuk pengguna eksternal.
Penyelesaian :
1.

Kimmelman Company
Statement of Cost of Goods Manufactured
For the Year Ended December 31, 2008

Direct materials:
Beginning inventory ...................................... $ 93,600
Add: Purchases ............................................... 675,000
Materials available ......................................... $ 768,600
Less: Ending inventory .................................. 133,600
Direct materials used .............................................
Direct labor ...........................................................
Manufacturing overhead:
Indirect labor ................................................... $ 80,000
Rent .................................................................. 84,000

$ 635,000
400,000

17

Supplies ........................................................... 14,600


Depreciation .................................................... 120,000
Utilities ............................................................. 23,912
Total overhead costs ................................................
Total manufacturing costs added ............................
Add: Beginning work in process .............................
Total manufacturing costs .......................................
Less: Ending work in process .................................
Cost of goods manufactured ...................................
2.
3.

322,512
$ 1,357,512
26,082
$ 1,383,594
29,992
$ 1,353,602

Average unit cost = $1,353,602/5,000 = $ 270.72


Kimmelman Company
Income Statement
For the Year Ended December 31, 2008

Sales (4,800* $650) ............................................


Less cost of goods sold:
Beginning finished goods inventory .................................. $ 160,000
Add: Cost of goods manufactured .................................... 1,353,602
Cost of goods available for sale ...................................... $ 1,513,602
Less: Ending finished goods inventory ............................
228,200
Gross margin ....................................................................
Less operating expenses:
Salary, sales supervisor ...................................................
$ 180,000
Commissions, salespersons ............................................
360,000
Administrative expenses ..................................................
600,000
Income before income taxes ............................................
*600 + 5,000 800 = 4,800 units sold
DAFTAR PUSTAKA

$ 3,120,000

1,285,402
$ 1,834,598

1,140,000
$ 694,598

Hansen, Don R. dan Marryane M. Mowen. 2007. Managerial Accounting, 8th Edition.
Ohio: Thomson South-Western.
Charles T Horngren., Datar M,Srikant., dan Foster,George. 2012. Cost Accounting, 14th
Edition. New Jersey: Pearson Prentice Hall.
Garrison, Noreen and Brewer. 2012. Managerial Accounting, 14th Edition. New York:
McGraw-Hill/Irwin.
Laman website
http://eleks-mulyadi.blogspot.com/2009/12/perilaku-biaya.html diakses pada 13 Oktober
2014.

18