Anda di halaman 1dari 8

Kemal Ahmad Ridla

1206254605
Ilmu Administrasi Negara
Perbandingan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Serta Implementasinya
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, Negara Kesatuan Republik Indonesia
dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi terdiri atas daerah-daerah kabupaten
dan kota. Tiap-tiap daerah tersebut mempunyai hak dan kewajiban mengatur dan mengurus
sendiri

urusan

pemerintahannya

untuk

meningkatkan

efisiensi

dan

efektivitas

penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.


Untuk menyelenggarakan pemerintahan tersebut, Daerah berhak mengenakan
pungutan kepada masyarakat. Pajak daerah merupakan pungutan wajib yang dikenakan oleh
pemerintah daerah kepada penduduk yang mendiami wilayah yurisdiksinya, tanpa langsung
memperoleh kontraprestasi yang diberikan oleh pemerintah daerah yang memungut
pungutan wajib yang dibayarkan tersebut. Sementara retribusi daerah adalah pungutan
daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan
dan diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
Pajak dan retribusi daerah ini diatur dalam peraturan yang dikeluarkan oleh
pemerintah daerah yang disetujui oleh lembaga perwakilan rakyat daerah serta dipungut
oleh lembaga yang berada di dalam struktur pemerintah daerah yang bersangkutan. Selain itu
pemungutan pajak ini juga berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 yang menempatkan perpajakan sebagai salah satu perwujudan kenegaraan,
ditegaskan bahwa penempatan beban kepada rakyat, seperti pajak dan pungutan lain yang
bersifat memaksa diatur dengan Undang-Undang.
Pajak Daerah
1. Landasan Hukum
Dalam hal pemungutan pajak, Undang-Undang Dasar 1945 telah menetapkan pada
pasal 23 A yang menyebutkan bahwa :Pajak & pungutan lain yang bersifat memaksa untuk
keperluan negara diatur dengan undang-undang
Selain itu, dalam evolusi penarikan pungutan ini ditandai dengan beragamnya
peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dalam penarikannya.

Sejak masa kemerdekaan, peraturan-perundang-undangan yang mendasari pemungutan Pajak


Daerah sebagai berikut :
a. Undang-Undang Darurat Nomor 11 Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Pajak
Daerah
b.

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

c. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang


Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
d. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
e. PP No. 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah
2. Kriteria
Selanjutnya dalam menilai pajak daerah dapat digunakan kriteria pengukuran sebagai
berikut :
a. Bersifat pajak dan bukan retribusi
b. Obyek pajak terletak atau terdapat di wilayah daerah kabupaten/kota yang
bersangkutan dan mempunyai mobilitas cukup rendah serta hanya melayani
masyarakat di wilayah daerah kabupaten /kota yang bersangkutan.
c. Objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum
d. Potensinya memadai dan hasil penerimaan pajak harus lebih besar dari biata
pemungutan
e. Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif. Karena pajak tidak mengganggu
alokasi sumber sumber ekonomi dan tidak merintangi arus sumber daya ekonomi
antar daerah maupun kegiatan ekport import
f. Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat
g. Menjaga kelestarian lingkungan yang berarti bahwa pengenaan pajajk tidak
memberikan peluang kepada Pemda atau Pemerintah atau pun masyarakat luas untuk
merusak lingkungan
Ini berarti haruslah jelas kepada daerah mana suatu pajak harus dibayarkan, dan
tempat memungut pajak sedapat mungkin sama dengan tempat akhir beban pajak. Pajak tidak
mudah dihindari, dengan cara memindahkan obyek pajak dari suatu daerah ke daerah lain,
pajak daerah hendaknya jangan mempertajam perbedaan-perbedaan antara daerah baik dari
segi potensi ekonomi masing-masing dan pajak hendaknya tidak menimbulkan beban yang
lebih besar dari kemampuan tata usaha pajak daerah.

3. Jenis Jenis
Menurut Undang - Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah sebagai pengganti dari Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 dan Undang-undang
Nomor 34 Tahun 2000, menjelaskan bahwa pajak daerah dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu :
a.

Pajak daerah Tingkat I (Propinsi)


1) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air
2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air
3) Pajak Bahan Bakar Kendaraan
4) Pajak Air Permukaan (Pengambilan dan pemanfaatan air di bawah tanah dan air di
permukaan)
5) Pajak Rokok.

b.

Pajak daerah Tingkat II (Kota/Kotamadya/Kabupaten)


1) Pajak Hotel
2) Pajak Restoran
3) Pajak Hiburan
4) Pajak Reklame
5) Pajak Penerangan Jalan
6) Pajak Bahan Penggalian Golongan C
7) Pajak Parkir
8) PBB Perdesaan dan Perkotaan
9) BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan)
10) Pajak Sarang Burung Walet
11) Pajak Air Tanah (Pengambilan dan pemanfaatan air di bawah tanah dan air di
permukaan)

Retibusi Daerah
1. Landasan Hukum
Dalam hal pemungutan retribusi daerah, Undang-Undang Dasar 1945 telah
menetapkan pada pasal 23 A yang ,menyebutkan bahwa :Pajak & pungutan lain yang
bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang
Selain itu, dalam pemungutan Retribusi Daerah juga diatur dalam peraturanperundang-undangan sebagai berikut :
a. Undang-Undang Darurat Nomor

11 Tahun

1957 tentang Peraturan Umum

Pajak Daerah
b. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
c. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
d. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah
e. PP No. 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah
2. Objek Retribusi
Menurut UU Nomor 28 tahun 2009 pasal 108 tentang Objek dan Golongan Retribusi,
dikelompokan menjadi 3 golongan, yaitu :
a. Jasa Umum
Objek Retribusi Jasa Umum adalah pelayanan yang disediakan atau diberikan
Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati
oleh orang pribadi atau Badan.
Menurut UU Nomor 28 tahun 2009 pasal 110 ayat 1 tentang Jenis Retribusi Jasa
Umum adalah:
1) Retribusi Pelayanan Kesehatan
2) Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan
3) Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil
4) Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat
5) Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum
6) Retribusi Pelayanan Pasar
7) Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor
8) Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran
9) Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta
10) Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus
11) Retribusi Pengolahan Limbah Cair
12) Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang
13) Retribusi Pelayanan Pendidikan
14) Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi
b. Jasa Usaha

Objek Retribusi Jasa Usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah
Daerah dengan menganut prinsip komersial yang meliputi:
pelayanan dengan menggunakan/memanfaatkan kekayaan Daerah yang belum
dimanfaatkan secara optimal; dan/atau
pelayanan oleh Pemerintah Daerah sepanjang belum disediakan secara memadai
oleh pihak swasta.
Menurut UU Nomor 28 tahun 2009 pasal 127 tentang Jenis Retribusi Jasa Usaha
adalah:
1) Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah
2) Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan
3) Retribusi Tempat Pelelangan
4) Retribusi Terminal
5) Retribusi Tempat Khusus Parkir
6) Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa
7) Retribusi Rumah Potong Hewan
8) Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan
9) Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga
10) Retribusi Penyeberangan di Air; dan
11) Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah
c. Perizinan Tertentu
Objek Retribusi Perizinan Tertentu adalah pelayanan perizinan tertentu oleh
Pemerintah Daerah kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pengaturan
dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang,
prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga
kelestarian lingkungan.
Menurut UU Nomor 28 tahun 2009 pasal 141 tentang Jenis Retribusi Perizinan
Tertentu adalah:
1) Retribusi Izin Mendirikan Bangunan
2) Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol
3) Retribusi Izin Gangguan
4) Retribusi Izin Trayek
5) Retribusi Izin Usaha Perikanan

Implementasi
Sebelum pelaksanaan UU No. 28 Tahun 2009, Daerah diberikan keleluasaan untuk
menerbitkan peraturan daerah pajak daerah dan retribusi daerah di luar jenis yang telah
ditetapkan dalam UU No. 34 Tahun 2000 juncto PP No.65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah
juncto PP No. 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah, dengan syarat memenuhi kriteriakriteria yang ditetapkan. Dengan terbukanya peluang itu, daerah-daerah seolah-olah
berlomba-lomba menerbitkan peraturan daerah pajak daerah dan retribusi daerah untuk
menciptakan

pungutan-pungutan

baru

dalam

rangka

menambah

Pendapatan

Asli

Daerah.Namun sayangnya, rambu-rambu yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan


dimaksud kerap kali tidak diindahkan sehingga menimbulkan pungutan-pungutan yang
berpotensi menimbulkan terganggunya iklim investasi di daerah. Di beberapa daerah
pemberlakuan peraturan daerah mengakibatkan bertambahnya biaya atas penjualan
komoditas hasil pertanian atau perkebunan, seperti antara lain:
1. Peraturan Daerah Kabupaten Bengkulu Selatan No. 06 Tahun 2001 tentang Pajak
Produksi Minyak Sawit Kasar (Crude Palm Oil/CPO) dan Biji Sawit Dalam
Kabupaten Bengkulu Selatan
2. Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang No. 27 Tahun 2000 tentang Pajak Produksi
Hasil Tanaman Perkebunan Negara/Daerah, Perusahaan Perkebunan Swasta dan
Perkebunan Rakyat di Kabupaten Deli Serdang
3. Peraturan Daerah Kabupaten Tolitoli No. 25 Tahun 2001 tentang Pajak Komoditi;
Pengenaan pajak atas komoditas tertentu baik hasil pertanian, perkebunan, dan kehutanan
dapat mengakibatkan biaya ekonomi tinggi dan menyebabkan harga komoditas menjadi tidak
kompetitif apabila dijual di luar wilayah kabupaten yang memberlakukan pajak tersebut.
Apabila suatu kabupaten memberlakukan pungutan pajak komoditas, maka para petani serta
pengusaha komoditas pertanian dan perkebunan akan merasakan kesulitan menjual
barangnya karena kalah bersaing dalam penentuan harga dengan komoditas yang berasal dari
daerah lain yang tidak memberlakukan pungutan pajak atas komoditas yang diperdagangkan.
Ketidaksesuaian dengan peraturan perundang-undangan juga terjadi pada pemungutan
retribusi daerah.Dalam beberapa peraturan daerah, pemungutan retribusi dilakukan tanpa ada
pemberian jasa secara langsung oleh Pemerintah Daerah kepada pembayar retribusi (subjek

retribusi).Padahal sesuai dengan definisi yang tercantum dalam UU Nomor 34 Tahun 2000,
retribusi adalah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus
disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau
Badan.Dalam definisi tersebut jelas dapat ditarik kesimpulan bahwa retribusi dapat dipungut
apabila Pemerintah Daerah menyediakan jasa atau memberikan izin tertentu. Beberapa
peraturan daerah retribusi daerah telah dievaluasi, dan diperoleh beberapa peraturan daerah
yang dapat menghambat arus lintas barang dan jasa serta mengakibatkan biaya ekonomi
tinggi, yaitu antara lain:
1. Peraturan Daerah Kabupaten Kapuas No. 16 Tahun 2000 tentang Pungutan Daerah
atas Kegiatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Kabupaten Kapuas
2. Peraturan Daerah Kabupaten Gresik No. 8 Tahun 2001 tentang Retribusi Jalan
Kabupaten
3. Peraturan Daerah Kabupaten Indragiri Hulu No. 13 Tahun 2002 tentang Retribusi
Pemakaian Jalan dalam Wilayah Kabupaten Indragiri Hulu
Sepanjang tahun 2002 sampai dengan bulan Juni tahun 2011, tercatat sebanyak 1.878
peraturan daerah tentang PDRD dibatalkan oleh Kementerian Dalam Negeri. Tentu saja hal
ini menimbulkan keprihatinan dan perlu dicarikan solusinya.Harapan terbesar adalah jangan
sampai peraturan daerah tentang pajak daerah dan retribusi daerah tersebut tidak mengubah
prinsip otonomi daerah menjadi prinsip automoney untuk meningkatkan pendapatan asli
daerah. Berdasarkan ikhtisar hasil evaluasi Perda tentang PDRD yang dilakukan oleh
Pemeritah, jenis pungutan daerah yang banyak bermasalah terutama dari sektor perhubungan,
industri dan perdagangan, energi dan sumber daya mineral, serta kebudayaan dan
pariwisata.Pungutan daerah untuk sektor-sektor ini perlu mendapat perhatian agar tidak
kontra produktif dalam upaya pengembangan potensi fiskal daerah dan pembangunan
ekonomi daerah.
Daftar Pustaka
http://www.pajak-daerah.blogspot.com/ diakses pada tanggal 23 Oktober 2014 | pukul 20.00
wib
http://www.ditjen-otda.depdagri.go.id/otonomi/detail_artikel.php?id=141
tanggal 23 Oktober 2014 | pukul 20.10

diakses

pada

Nota Keuangan dan RAPBN 2012