Anda di halaman 1dari 3

Stop Nosocomial Infection in Your Hospital!

Infeksi nosokomial telah menjadi momok berbahaya bagi institusi kesehatan terutama rumah sakit
sejak dulu. Sebutan bahwa rumah sakit bukan hanya sebagai tempat untuk penyembuhan tetapi juga
sumber dari infeksi memang sudah menjadi rahasia umum. Hal ini tentunya sangat merugikan bagi
pasien, karena selain memperpanjang masa perawatan di rumah sakit, meningkatnya biaya kesehatan
juga merupakan dampak yang seharusnya bisa di hindari.
Infeksi nosokomial adalah Infeksi yang belum ada ketika pasien masuk rumah sakit dan kemudian
muncul ketika dalam masa perawatan inap di rumah sakit(umumnya 3x24 jam). Infeksi nosokomial
telah menyebar secara luas. Mereka juga merupakan kontributor untuk meningkatnya morbiditas dan
kematian. Kebutuhan untuk pengendalian infeksi nosokomial akan semakin meningkat terlebih lagi
dalam keadaan sosial ekonomi yang kurang menguntungkan seperti yang telah dihadapi Indonesia
saat ini. Hal ini terjadi kerena :
Meningkatkan jumlah dan kepadatan orang

Gangguan kekebalan yang bertambah sering (usia, penyakit danperawatan).

Mikroorganisme baru (Lebih cenderung kepada gram negative bacteria)

Meningkatkan daya tahan bakteri terhadap antibiotik (resistance) akibat penggunaan


antibiotik yang tidak rasional.

Ada dua penyebaran utama dalam terjadinya infeksi nosokomial, antara lain :
1. Endogenous, self-infection atau auto-infection: agen penyebab terjadinya infeksi nosokomial
berasal dari pasien itu sendiri dan muncul ketika sedang rawat inap di rumah sakit sebagai
akibat dari menurunnya daya imunitas tubuh pasien. (contohnya luka operasi yang belum
sembuh dipegang dengan tangan pasien yang tidak steril)
2. Cross contamination diikuti dengan cross infection: Penyebaran infeksi nosokomial melalui
kontak dengan agen kausatif baru yang kemudian terjadi infeksi baru. Kontak ini bisa berasal
dari petugas paramedis, pasien lain, dan lingkungan seperti air, udara, makanan, serta
prosedur dan alat medik (ventilator, iv line, catheter)
Prinsip utama dalam pencegahan infeksi nosokomial adalah memutus rantai penyebaran terjadinya
infeksi nosokomial dan memisahkan sumber potensial terjadinya infeksi.

Pengetahuan tentang pencegahan infeksi sangat penting untuk petugas Rumah Sakit dan sarana
kesehatan lainnya merupakan sarana umum yang sangat berbahaya, dalam artian rawan, untuk terjadi
infeksi. Kemampuan untuk mencegah transmisi infeksi di Rumah Sakit, dan upaya pencegahan
infeksi adalah tingkatan pertama dalam pemberian pelayanan yang bermutu.

Salah satu strategi yang sudah terbukti bermanfaat dalam pengendalian infeksi nosokomial adalah
peningkatan kemampuan petugas kesehatan dalam metode Universal Precautions atau dalam bahasa
Indonesia Kewaspadan Universal ( KU ) yaitu suatu cara penanganan baru untuk meminimalkan
pajanan darah dan cairan tubuh dari semua pasien, tanpa memperdulikan status infeksi. Strategi ini
mencakup :
1. Personal hygiene
2. Cuci tangan menggunakan sabun atau disinfektan dan air mengalir
3. Penggunaan baju pelindung, masker, sarung tangan, dan penutup kepala
4. Sterilisasi, desinfeksi, antiseptik dan dekontaminasi
5. Kewaspadaan Universal pada pengelolaan dan penggunaan alat tajam(injeksi, iv line)
6. Pengelolaan limbah dan lingkungan
7. Surveilance
8. Penetapan standar dan prosedur kerja
Tindakan surveilance mengambil peran sangat penting dalam strategi pencegahan infeksi nosokomial.
Dengan pemantauan terus menerus oleh tim yang telah dibentuk oleh rumah sakit untuk menemukan
kasus infeksi nosokomial. Hal ini dilakukan untuk menjaga standar kualitas rumah sakit dan
memantau prilaku para pekerja medis di rumah sakit. Diharapkan dengan adanya surveilance ini maka
:
1. Menurunnya angka infeksi nosokomial di rumah sakit
2. Menurukan angka morbiditas dan mortalitas pasien
3. Mengubah prilaku tenaga kesehatan
4. Melindungi tenaga kesehatan agar lebih waspada terhadap sumber infeksi di rumah sakit
Resiko terjadinya infeksi nosokomial memang berbagai macam, berikut bentuk atau jenis infeksi
nosokomial :
1. Infeksi saluran kemih (paling sering). Infeksi ini paling sering disebabkan oleh pemasangan
catheter. Biasanya terjadi apabila pemasangan yang tidak steril, fikasi yang kurang kuat,
pemasangan melewati batas pengunggunaan( sebaiknya diganti 5-7 hari).
2. Infeksi vaskuler. Paling banyak disebabkan oleh pemasangan infus. Sumber infeksi bisa
berasal dari waktu dan cara pemasangan infus, jarum dan infus set, serta botol infus itu
sendiri.
3. Infeksi luka operasi. Resiko terjadinya infeksi luka operasi tergantung kepada jenis, macam
operasi, keadaan umum penderita, ketrampilan dokter bedah, dan proses perawatan luka.
4. Infeksi luka non operasi. Contohnya pada penanganan luka bakar dan dekubitus.
5. Infeksi saluran pernapasan. Predisposisi terjadinya infeksi ini yaitu derajat keparahan
penyakit pasien, rawat inap yang terlalu lama, usia rentan (terlalu muda atau tua) dan
penggunaan alat bantu pernapasan (ventilator).
Pencegahan terjadinya infeksi nosokomial memerlukan suatu rencana yang terintegrasi,
monitoring dan program untuk mengawasi kejadian infeksi, identifikasi penyakit dan
mengontrol penyebarannya. Dari batasan ini dapat disimpulkaan bahwa kejadian infeksi

nosokomial adalah infeksi yang secara potensial dapat dicegah. Tenaga kesehatan berperan
penting dalam pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial karena mereka merupakan
ujung tombak dalam upaya pelayanan kesehatan.