Anda di halaman 1dari 5

Faktor-faktor Habitat yang Mempengaruhi Populasi Burung Madu Sriganti (Nectarinia

jugularis) di Wanagama I
Afrizal M. Alfarisi
INTISARI

Burung Madu Sriganti merupakan burung famili Nectarinidae yang dilindungi UndangUndang, namun keberadaannya terancam karena penurunan kualitas habitat dan perburuan
untuk dipertahankan. Oleh karena itu, diperlukan riset dan manajemen untuk spesies ini di
Wanagama I.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah populasi Burung Madu Sriganti dan
habitatnya yang terdiri dari faktor biotik dan abiotik. Pengambilan data burung menggunakan
teknik point count, dan pengambilan data habitat burung menggunakan nested sampling dan
protocol sampling. Data biotik yang diambil adalah jumlah rumput, jumlah semai dan
tumbuhan bawah, jumlah sapihan, jumlah tiang dan jumlah pohon, penutupan vertikal dan
penutupan horizontal. Faktor abiotik yang diambil adalah suhu, kelembaban dan jarak dengan
sumber air. Analisis pengaruh faktor-faktor habitat terhadap populasi burung ini
menggunakan model Generalized Linear Model dengan bantuan software R Statistic.
Dari hasil analisis data, didapat persamaan
. X1 merupakan variabel kelembaban, X2
merupakan variabel kerapatan tiang dan X3 merupakan variabel kerapatan pohon.
Kelembaban, kerapatan tiang dan kelembaban secara signifikan berpengaruh terhadap
populasi Burung Madu Sriganti di Wanagama I.

Kata kunci : Burung Madu Sriganti, Populasi, Habitat

PENDAHULUAN

ini merupakan burung pemakan nektar,

Burung Madu Sriganti (Nectarinia


jugularis) adalah burung anggota Famili
Nectarinidae.

Ciri

morfologi

yang

memperoleh pakan dari nektar pada pohon


atau tumbuhan lain.
Menurut

Cheke

dan

Clive(2001),

membedakan burung ini dengan jenis lain

pohon yang cocok untuk pakan burung ini

adalah warna hijau zaitun pada mahkota,

adalah

punggung hingga ekor, dengan warna

purpurea), Ficus sp., Hibiscus sp. Cocos

kuning pada dada dan perut. Pada individu

nucifera dan Carica papaya. Karena sifat

jantan,

tenggorokannya

ini, Burung Madu sriganti bersama burung

berwarna hitam berkilau biru. Seperti

famili Nectarinidae lain menjadi burung

anggota famili Nectarinidae lain, burung

yang dilindungi oleh UU no. 5 tahun 1990

wajah

dan

Bunga

Kupu-kupu

(Bauhinia

tentang Konservasi Sumber Daya Alam.


Meskipun jenis ini dilindungi, namun

berpengaruh terhadap populasi Burung


Madu Sriganti di Wanagama I.

keberadaannya berkurang karena degradasi


lahan dan perburuan untuk diperdagangkan
(Saaroni, 2000). Oleh karena itu, perlu
adanya upaya riset dan manajemen untuk
burung jenis ini. Salah satu lokasi yang
bisa dijadikan lokasi pengelolaan jenis ini
adalah hutan Wanagama I. Wanagama I
merupakan hutan buatan yang dulunya
merupakan kawasan karst dengan tanah
batuan berkapur. Berawal dari suksesi
awal berupa pembelukaran kawasan yang
kemudian menjadi hutan klimaks, tahun
1964 kawasan yang tandus ini berhasil
dihutankan

menjadi

batu

bertanah

sehingga beberapa jenis tanaman bisa


hidup di kawasan tersebut. Perubahan
kawasan tandus ini menjadi hutan ini
membuat

wanagama

mampu

menjadi

habitat berbagai jenis burung.


Untuk

landasan

pengelolaan

jenis

Burung Madu Sriganti di Wanagama I,


diperlukan

riset

mengenai

interaksi

populasi burung Nectarinidae ini terhadap


faktor-faktor habitatnya. Dari hasil riset,
bisa diketahui faktor habitat manakah yang
perlu dikontrol untuk mempertahankan
kelestarian populasi burung ini di hutan
Wanagama I.
TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui faktor-faktor habitat yang

METODE PENELITIAN
Pengambilan data dilakukan tanggal 13
Desember 2013. Lokasi penelitian berada
di Hutan Pendidikan Wanagama I di petak
5, petak 6, petak 7, petak 13, petak 14,
petak 16 dan petak 18. Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
populasi burung, faktor biotik habitat dan
faktor abiotik habitat. Populasi burung
menggunakan metode point count. Point
count dibuat kurang lebih sebanyak 105
titik

dengan

penempatan

plot

menggunakan desain systematic sampling


with

random

start.

Data

biotik

menggunakan metode nested sampling dan


protocol sampling yang diletakkan di tiap
plot pengamatan burung. Faktor biotik
yang diambil adalah data jumlah rumput,
jumlah semai dan tumbuhan bawah,
jumlah sapihan, jumlah tiang dan jumlah
pohon, penutupan vertikal dan penutupan
horizontal. Faktor abiotik yang diambil
adalah suhu, kelembaban dan jarak dengan
sumber air. Analisis pengaruh faktorfaktor habitat terhadap populasi burung
Madu Sriganti menggunakan bantuan R
Statistic,

dengan

model

Generalized Linear Model.

analisis

HASIL DAN PEMBAHASAN


Dari pengamatan di 105 titik, didapat total
populasi Burung Madu Sriganti di
Wanagama I sebanyak 14 individu.
Populasi burung Madu Sriganti tersebar di
petak 6, petak 7, petak 13 dan petak 14.
Dari hasil analisis pengaruh faktor-faktor
habitat terhadap populasi burung, didapat
persamaan berikut

merupakan

kebutuhan

utama.(Welty,

1979).
Kerapatan tiang dan kerapatan pohon
bersama-sama

mempengaruhi

populasi

burung Madu Sriganti secara signifikan


berpengaruh terhadap populasi Burung
Madu Sriganti.

Burung Madu Sriganti

memperoleh pakan dari bunga, buah dan


serangga yang ada di tajuk tiang dan tajuk
pohon. Burung Madu Sriganti mencari
pakan serangga dengan cara terbang

Keterangan :

rendah

X1 = variabel kelembaban

di

sekitar

tajuk,

kemudian

menyambar serangga atau arthropod lain


X2 = variabel kerapatan tiang

seperti laba-laba.

X3 = variabel kerapatan pohon


Selain sumber pakan, Burung Madu
Dari hasil analisis Generalized Linear
Model, didapat variabel-variabel yang
berpengaruh secara signifikan adalah
kelembaban, kerapatan tiang dan kerapatan
pohon. Kelembaban berpengaruh secara
signifikan terhadap populasi burung. Hal
ini berkaitan dengan aktivitas burung.
Burung Madu merupakan jenis burung
diurnal yang aktif pada pagi dan sore hari.
Pada pagi dan sore hari, intensitas
matahari,
suhu
dan
kelembaban
mendukung untuk aktivitas jenis-jenis
burung Passeriformes.
Tumbuhan

merupakan

Sriganti juga menmanfaatkan tajuk dan


pohon

untuk

aktivitas

lain

seperti

bersarang, lokasi sembunyi, bersuara dan


menyisik bulu. Karena itu, kerapatan tiang
dan

pohon

berpengaruh

signifikan

terhadap populasi Burung Madu Sriganti.


Pada hasil uji coplot, Burung Madu
Sriganti lebih menyukai area dengan
kerapatan pohon 0-200 indivi du/Ha.

komponen

ekosistem penting untuk burung, bukan


hanya sebagai sumber pakan namun juga
material

sarang,

bersuara

dan

lokasi
tutupan

jaga,

tempat

pelindung.

Tumbuhan mungkin memenuhi kebutuhan


psikologis

burung,

namun

pakan

Gambar 1. Hasil uji coplot populasi


burung dan kerapatan pohon

KESIMPULAN
Faktor-faktor

habitat

berpengaruh

terhadap populasi Burung Madu Sriganti


di Wanagama I. Faktor habitat yang
berpengaruh signifikan terhadap populasi
Burung Madu Sriganti adalah kelembaban,
kerapatan tiang dan kerapatan pohon.
SARAN
Faktor-faktor habitat yang berpengaruh
adalah kelembaban, kerapatan tiang dan
kerapatan pohon. Manipulasi pada faktor
habitat tersebut akan memberi pengaruh
signifikan terhadap populasi Burung Madu
Sriganti. Oleh karena itu, manajemen
spesies

ini

bisa

dilakukan

dengan

pengarutan kerapatan tiang dan pohon di


area Wanagama I.
DAFTAR PUSTAKA
Alikodra, H. S. 2010. Teknik Pengelolaan
Satwa
Liar
dalam
Rangka
Mempertahankan Keanekaragaman
Hayati Indonesia. IPB Press Bogor.
Anderson, P. J., Charnov, E. J. The
American Naturalist vol. 134. The
University of Chicago Press for The
American Society of Naturalists.
Beehler, B. M., Pratt, T. K., Zimmerman,
D. A. Burung-burung di Kawasan
Papua. Puslitbang Biologi/LIPI Bogor.
Cheke, R. A., Clive, F. M., 2001.
Sunbirds: a guide to the sunbirds,
flowerpeckers, spiderhunters and

sugarbirds of the world. A&C Black,


2001.
Kristanto, A., Wijiatmoko, W., dan
Rusmendro., H. 2005. Perbandingan
Keanekaragaman Burung pada Pagi
dan Sore Hari di Empat Tipe Habitat
yang Berbeda di TWA dan CA
Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat.
Prosiding Seminar Ornitologi
Indonesia 2005. Bogor, Indonesia.
Maulana, I. 2013. Keanekaragaman dan
Distribusi Jenis Burung pada
Berbagai Tipe Habitat di Resort
Cigugur Taman Nasional Gunung
Ciremai. Skripsi. Tidak
Dipublikasikan.
Masud, A. A. 2012. Karakteristik Habitat
Tarsius Borneo (Tarsius bancanus
borneanus, Elliot 1910) Di Taman
Nasional Tanjung Puting, Kalimantan
Tengah. Skripsi. Tidak
Dipublikasikan.
Morrison, M. L. 2002. Wildlife Restoration
: technique for habitat analysis and
animal monitoring. Island Press.
Washington.
Morrison, M. L., Marcot, B. G., Mannan,
R. W. 2006. Wildlife-Habitat
Relationship : Concepts and
Application 3rd edition. Island Press.
Washington.
Saaroni, Y., Sozer, R., Nurwantha, P. F.
2000. Panduan Identifikasi Burung
Dilindungi yang Sering
Diperdagangkan. YPAL. Bandung
Sutherland, W. J., Newton, I., Green, R. I.
Bird ecology and conservation : A
Handbook of Technique. Oxford
University Press

Welty, J. C. 1979. The Life of Birds 2nd


edition. Saunders College Publishing.
Philadelphia.
Winnasis, S. 2011. Birds of Baluran
National Park. Direktorat Kawasan
Konservasi dan Bina Hutan Lindung.
Jawa Timur.
Wells, D. R. 2007. Bird of Thai-Malayan
Penninsula. Vol 2. Passerines.
Academic Press, London.