Anda di halaman 1dari 8

TUGAS KHUSUS

Nama : ELVAS SERDY


N I M : 03061003082
KELOMPOK : 1
SHIFF : SELASA SIANG

Biodiesel Banyuasin

Pangkalan Balai,.26 Juli 2008


Pengembangan potensi lokal pada sektor industri terus dikembangkan
Pemerintah Kabupaten Banyuasin. Bupati Banyuasin Ir.H.Amiruddin Inoed telah
melakukan penandatanganan Memorandum of understanding (MOU) dengan Dirjen
Industri Agro dan Kimia terkait rencana pembangunan pabrik tersebut. Pada
November-desember mendatang pabrik tersebut rencananya siap dibangun.
Kepala Dinas Perindustrian perdagangan koperasi dan usaha kecil
menengah dan penanaman modal Kabupaten Banyuasin Anna suzana mengatakan,
pabrik merupakan usulan dari pihak pemkab ke departemen perindustrian yang akan
direaliasasi pada tahun 2009. Namun rencana tersebut dipercepat realisasinya pada
tahun ini.
Lokasi pembangunan pabrik biodiesel ada dua tempat, yaitu di Jalur 17
Desa Muara Sugih, Kecamatan Tanjung Lago, dan Desa Pulau Harapan, Kecamatan

Banyuasin III. Tinggal nanti dipilih mana yang lebih cocok. Karena ada
pertimbangan-pertimbangan lainnya, seperti transportasi atau akses ke areal tersebut,
tentunya akan kita ambil daerah yang lebih mudah transportasinya, ujar Anna.
Dia menjelaskan, pabrik biodiesel tersebut akan memproduksi minyak solar
dengan bahan baku crude palm oil (CPO) atau sisa minyak dengan memanfaatkan
sisa-sisa jelantah yang dipakai masyarakat dan industri. Namun, dengan melihat
potensi yang ada, keberadaan pabrik biodiesel tersebut akan menggunakan bahan
baku CPO.
Pasalnya, Kabupaten Banyuasin merupakan salah satu daerah sentral
perkebunan yang mampu menghasilkan ribuan ton CPO per tahunnya. Dengan
begitu, jika menggunakan CPO saat beroperasi, pabrik tidak akan mengalami
kesulitan untuk mendapatkan bahan baku lantaran sudah tersedia di Banyuasin. Selain
menghasilkan solar, pabrik biodiesel tersebut juga akan memproduksi turunan dari
minyak solar, yaitu berupa sabun dan sabun colek.
Hal itu berbeda dengan pabrik biodiesel di kabupaten lain yang hanya
memproduksi barang utama berupa minyak solar. Kabid Perindag M Tuhid
menambahkan, kapasitas pabrik biodiesel di Kabupaten Banyuasin memiliki
kapasitas produksi yang lumayan besar, yaitu 600 ton per hari. Investasi
pembangunan pabrik ini pun lumayan besar, mencapai angka Rp5 miliar dari dana
APBN melalui Departemen Perindustrian.
Tidak hanya itu, untuk tahap awal operasionalisasi pabrik, pihak pemkab
pun menyediakan dana sebesar Rp1,5 miliar. Untuk mempermudah pengadaan bahan
baku berupa CPO, pihaknya akan menawarkan kerja sama dengan beberapa
perusahaan perkebunan lokal Banyuasin, seperti Sriwijaya Palm Oil Indonesia (SPOI)
dan beberapa perusahaan lokal lainnya. Dengan menggandeng beberapa perusahaan
produsen CPO, keberadaan pabrik akan cepat berkembang dan tidak ada persoalan
dalam penyediaan bahan baku.
Biodiesel menurut Departemen Perindustrian

Departemen Perindustrian mengembangkan, biodiesel dari sejumlah sentra produksi


kelapa untuk membantu memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) terutama
di daerah pedalaman.
"Kalau di daerah ujung dan terpencil, harga solar mahal sekali, sehingga
perlu pengembangan biodiesel," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Industri (BPPI) Depperin Rifana Erni, di Jakarta, Senin.
Ia mengatakan, harga solar di Jakarta sebesar Rp4.300 per liter, di daerah
terpencil bisa mencapai dua kali lipat, sehingga pengembangan biodiesel di daerah
sangat diperlukan.
Saat ini, kata dia, Kabupaten Banyuasin di Sumatera Selatan (Sumsel)
melalui DPRD-nya meminta Depperin mengembangkan biodiesel berbasis kelapa
atau cocodiesel.
"Investasinya tidak mahal, satu alat dengan kapasitas 100 liter per batch
harganya Rp180 juta dan enam butir kelapa bisa menghasilkan satu liter cocodiesel,"
katanya.
Rifana memperkirakan, dengan harga kelapa per butir sekitar Rp300, maka
harga satu liter cocodiesel bisa dijual dengan harga di bawah Rp3.500 per liter.
"Biodiesel berbasis kelapa ini juga akan kami kembangkan di daerah-daerah
nelayan yang membutuhkan solar untuk mesin kapal mereka, mengingat selama ini
mereka mengeluh harga solar yang mahal," katanya.
Lebih jauh Rifana mengatakan BPPI akan memprioritaskan pengembangan
riset industri sesuai dengan keunggulan sumber daya alam masing-masing daerah,
seperti di Banjarmasin yang merupakan sentra produksi pisang kepok, akan
dikembangkan produk olahan berbasis pisang tersebut.
"Kami tengah mencoba mengolah (pisang kepok) menjadi tepung pisang
dan kami masukkan ke swasta seperti Bogasari. Alatnya kami buatkan untuk
memberdayakan industri kecil di sana," ujar Rifana.

Saat ini Depperin dengan 22 balai besar yang dimilikinya telah melakukan
sejumlah riset untuk dipakai kalangan dunia usaha, baik usaha kecil dan menengah,
maupun besar. Rifana mengatakan pihaknya mendapat dana sebesar 300 miliar untuk
melakukan riset di 22 balai tersebut.
Ia juga mengatakan saat ini dari sekitar 3.000 orang pegawai Depperin
hanya sekitar 10 persen atau 300 orang yang menjadi peneliti.
Menurut dia, ketidaktertarikan pegawai menjadi peneliti di balai-balai besar
Depperin yang jumlahnya mencapai 22 balai itu karena tunjangan peneliti lebih kecil
dibandingkan tunjungan struktural.
Sumsel Tambah 60.000 Hektar Sawit
Sumatera Selatan akan menambah 60.000 hektar perkebunan kelapa
sawit tahun ini dengan melibatkan 18 investor. Upaya itu merupakan
antisipasi lonjakan permintaan bahan baku biodiesel.
Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, Syamuil Chatib, Kamis (26/4),
mengatakan, penambahan kebun kelapa sawit itu berupa perluasan dan
pembukaan lahan baru dengan pola pengembangan inti-plasma. Dengan
penambahan lahan itu, luas areal kelapa sawit di Sumsel akan meningkat dari
618.000 hektar menjadi 678.000 hektar.
Penambahan kebun kelapa sawit terus dilakukan untuk antisipasi
permintaan pasar terhadap biofuel. Saat ini, potensi biodiesel yang siap
dikembangkan di Sumsel berasal dari kelapa sawit, katanya.
Penambahan 60.000 hektar kebun kelapa sawit tersebar di Kabupaten
Musi Banyuasin, Banyuasin, dan Ogan Komering Ulu Timur. Sebagian dari
investor merupakan perusahaan yang sebelumnya telah mengembangkan
kelapa sawit di Sumsel.
Menurut

Syamuil,

produktivitas

biodiesel

dari

kelapa

sawit

cenderung tinggi, yaitu 5 sampai 6 ton per hektar. Tahun lalu, Sumsel

menyumbang 1,6 juta ton minyak sawit (CPO), atau 12 persen dari total
produksi sawit nasional 13 juta ton per tahun.
Pihaknya menargetkan perluasan kebun kelapa sawit hingga 200.000
hektar sampai 2009, sehingga luas kebun sawit naik menjadi 800.000 hektar.
Tahun ini, diprogramkan revitalisasi sawit 8.000 ha.
Sementara itu, produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit
menurun satu bulan terakhir. Produksi TBS yang biasanya 1,5 ton per hektar
turun menjadi kurang dari 1 ton per hektar.
Syamuil mengatakan, penurunan produksi itu sangat dipengaruhi
musim kemarau selama pembuahan. Pembuahan TBS umumnya berlangsung
18

bulan.

Produksi TBS yang menurun itu menyebabkan harga TBS meningkat dari Rp
970 per kilogram (kg) menjadi Rp 1.060 per kg.
Hingga saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar
berbasis fosil sebagai sumber energi. Data yang didapat dari Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa dengan persediaan minyak mentah di
Indonesia, yaitu sekitar 9 milyar barrel, dan dengan laju produksi rata-rata 500 juta
barrel per tahun, persediaan tersebut akan habis dalam 18 tahun. Untuk mengurangi
ketergantungan terhadap minyak bumi dan memenuhi persyaratan lingkungan global,
satu-satunya cara adalah dengan pengembangan bahan bakar alternatif ramah
lingkungan.
Pemilihan biodiesel sebagai bahan bakar alternatif berbasis pada ketersediaan bahan
baku. Minyak rapeseed adalah bahan baku untuk biodiesel di Jerman dan kedelai di
Amerika. Sedangkan bahan baku yang digunakan di Indonesia adalah crude palm oil
(CPO). Selain itu, masih ada potensi besar yang ditunjukan oleh minyak jarak pagar
(Jathropa Curcas) dan lebih dari 40 alternatif bahan baku lainnya di Indonesia.

Indonesia adalah penghasil minyak sawit terbesar kedua setelah Malaysia dengan
produksi CPO sebesar 8 juta ton pada tahun 2002 dan akan menjadi penghasil CPO
terbesar di dunia pada tahun 2012. Dengan mempertimbangkan aspek kelimpahan bahan
baku, teknologi pembuatan, dan independensi Indonesia terhadap energi diesel, maka
selayaknya potensi pengembangan biodiesel merupakan potensi pengembangan biodiesel
sebagai suatu alternatif yang dapat dengan cepat diimplementasikan.
Walaupun pemerintah Indonesia menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap
pengembangan biodiesel, pemerintah tetap bergerak pelan dan juga berhati-hati dalam
mengimplementasikan

hukum

pendukung

bagi

produksi biodiesel.

Pemerintah

memberikan subsidi bagi biodiesel, bio-premium, dan bio-pertamax dengan level yang
sama dengan bahan bakar fosil, padahal biaya produksi biodiesel melebihi biaya produksi
bahan bakar fosil. Hal ini menyebabkan Pertamina harus menutup sendiri sisa biaya yang
dibutuhkan.
Sampai saat ini, payung hukum yang sudah disediakan oleh pemerintah untuk industri
biofuel, dalam bentuk Keputusan Presiden ataupun Peraturan Perundang-undangan
lainny, adalah sebagai berikuti:
1.Peraturan

Presiden

No.

5/2006

tentang

Kebijaksanaan

Energi

Nasional

2.Instruksi Presiden No. 1/2006 tentang Pengadaaan dan Penggunaan Biofuel sebagai
Energi
3.Dektrit

Alternatif
Presiden

No.

10/2006

tentang

Pembentukan

team

nasional

untuk

Pengembangan Biofuel. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan


Energi Nasional menyebutkan pengembangan biodiesel sebagai energi terbarukan akan
dilaksakan selama 25 tahun, dimulai dengan persiapan pada tahun 2004 dan eksekusi
sejak tahun 2005. Periode 25 tahun tersebut dibagi dalam tiga fasa pengembangan
biodiesel. Pada fasa pertama, yaitu tahun 2005-2010, pemanfaatan biodiesel minimum
sebesar 2% atau sama dengan 720.000 kilo liter untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar
minyak nasional dengan produk-produk yang berasal dari minyak castor dan kelapa
sawit.
Fasa kedua (2011-2015) merupakan kelanjutan dari fasa pertama akan tetapi
telah digunakan tumbuhan lain sebagai bahan mentah. Pabrik-pabrik yang dibangun
mulai berskala komersial dengan kapasitas sebesar 30.000 100.000 ton per tahun.
Produksi tersebut mampu memenuhi 3% dari konsumsi diesel atau ekivalen dengan 1,5
juta kilo liter. Pada fasa ketiga (2016 2025), teknologi yang ada diharapkan telah
mencapai level high performance dimana produk yang dihasilkan memiliki angka
setana yang tinggi dan casting point yang rendah. Hasil yang dicapai diharapkan dapat
memenuhi 5% dari konsumsi nasional atau ekivalen dengan 4,7 juta kilo liter. Selain itu
juga terdapat Inpres Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan
Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar lain. Hal-hal ini menunjukkan keseriusan
Pemerintah dalam penyediaan dan pengembangan bahan bakar nabati. (Rahayu, 2006)
Hingga Mei 2007, Indonesia telah memiliki empat industri besar yang memproduksi
biodiesel dengan total kapasitas 620.000 ton per hari. Industri-industri tersebut adalah PT
Eterindo Wahanatama (120.000 ton/tahun umpan beragam), PT Sumi Asih (100.000
ton/tahun dengan RBD Stearin sebagai bahan mentah), PT Indo BBN (50.000 ton/tahun
umpan beragam), Wilmar Bioenergy (350.000 ton/tahun dengan CPO sebagai bahan
mentah), PT Bakrie Rekin Bioenergy (150.000 ton/tahun) dan PT Musim Mas (100.000
ton/tahun). Selain itu juga terdapat industri-industri biodiesel kecil dan menengah dengan

total kapasitas sekitar 30.000 ton per tahun, seperti PT Ganesha Energy, PT Energi
Alternatif Indonesia, dan beberapa BUMN.

Peluang untuk mengembangkan potensi pengembangan biodiesel di Indonesia cukup


besar, mengingat saat ini penggunaan minyak solar mencapai sekitar 40 % penggunaan
BBM untuk transportasi. Sedang penggunaan solar pada industri dan PLTD adalah
sebesar 74% dari total penggunaan BBM pada kedua sektor tersebut. Bukan hanya
karena peluangnya untuk menggantikan solar, peluang besar biodiesel juga disebabkan
kondisi alam Indonesia. Indonesia memiliki beranekaragam tanaman yang dapat
dijadikan sumber bahan bakar biodiesel seperti kelapa sawit dan jarak pagar. Pada saat
ini, biodiesel (B-5) sudah dipasarkan di 201 pom bensin di Jakarta dan 12 pom bensin di
Surabaya.