Anda di halaman 1dari 10

Melindungi Satwa Liar dalam

Kegiatan Hutan Produksi


Oleh :
IRMA WAHIDIYAH (D1D011017)
ANDITA MINDA MORA (D1D011018)

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hutan hujan tropis merupakan ekosistem daratan paling kaya
di bumi ini. Namun demikian kawasan ini berkurang secara
cepat akibat dibuka untuk di eksploitasi. Luas kawasan yang
di lindungi tidak cukup untuk melestarikan jenis flora dan
fauna yang ada (Fimbel, et.al,2001). Indonesia merupakan
pusat keanekaragaman kedua terbesar di dunia setelah
Brazil. Hal ini di satu pihak menjadi kebanggaan bangsa
Indonesia, namun di lain pihak kenyataan ini menjadi beban
dan tanggung jawab dalam menjaga dan melestarikan
keanekaragaman hayati di Negara Indonesia.

Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah adalah :


1. Mengetahui pentingnya satwa liar bagi
keseimbangan ekosistem
2. Mengetahui hal-hal yang menyebabkan
kepunahan satwa liar
3. Pengelolaan yang seharusnya dilaksanakan
agar satwa liar tetap eksis

Perubahan yang Terjadi Pada Satwa Liar

1.

Perubahan Fauna

2.

Perubahan Vegetasi

3.

Intensitas Pengelolaan

4. Ancaman Perburuan

PEMBAHASAN
Satwa liar dan kepunahannya secara ekologis dan secara tidak
langsung dipengaruhi oleh kegiatan penebangan dan kegiatan lain
yang terkait. Demikian pula hal nya dengan fragmentasi hutan,
perburuan, dan tekanan lainnya yang secara nyata dan serius
merupakan salah satu ancaman bagi satwa liar.

Walaupun kegiatan pemanenan kayu pada hutan produksi dapat di


perbaiki melalui berbagai cara, memelihara konektivitas hutan, mengatur pola
perburuan dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan ancaman
terhadap satwa liar yang lebih luas merupakan tantangan sekaligus
kewajiban. Ada sejumlah tantangan dalam pengembangan peraturan yang
dapat menjembatani kegiatan pemanenan kayu dan konservasi. Sebagai
contoh kita dapat memahami bahwa diberikan suatu kendali dan batasan yang
jelas. Namun apapun defenisi dan istilah yang di usulkan sering
mencerminkan adanya kompromi, yaitu ambang batas suatu tentang trade off .
Contohnya mengapa kegiatan pemanenan atau penebangan dilakukan pada
pohon dengan diameter 60cm (bukan 55cm atau 65cm) atau hanya membatasi
penebangan kayu di sungai dengan lebar 1m atau kelerengan 50%. Peraturan
memang harus jelas, namun dalam jangka panjang yang lebih penting adalah
pemahaman dan makna peraturan tersebut bagi yang menjalankannya, dan hal
penting lainnya adalah memastikan bahwa peraturan tersebut tercermin dalam
perencanaan dan pelaksanaannya.

Memang tidak semua hal dapat ditetapkan oleh peraturan dan perundangan
karena pengeloaan selalu di hadapkan pada penetapan prioritas yang
bertentangan antara satu dan yang lainnya. Dengan demikian hal yang
seharusnya di perhatikan oleh penegelola hutan produksi adalah bukan hanya
hasil produksi namun juga harus mempertahankan bentang alam hutan yang
cukup luas dan saling terkait hal ini termasuk dalam areal yang tidak ditebang
yang mengandung tipe-tipe asli seutuh mungkin dan memelihara satwa liar
yang ada di dalamnya. Kemudian melakiukan identigfikasi terhadap ancaman
utama pada kehidupan satwa liar.
Pengelola hutan memiliki serangkaian hak dalam melakukan kegiatan
pemanenan kayu. Namun pihak pengelola juga memiliki tanggung jawab
terhadap hak pengelolaan termasuk di dalamnya menangani dan menghadapi
tantangan terhadap hutan dan kehidupan liarnya. Hal ini bukanlah tanggung
jawab yang ringan dan para pengelola tersebut sering merasa tidak mempunyai
fasilitas untuk menjalankannya.

KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari makalah mengenai
melindungi satwa liar dalam kegiatan prodiuksi adalah sebagai
berikut :
Keberadaan satwa liar sangat lah penting dalam ekosistem hutan.
Indonesia selaku Negara yang memiliki tingkat keanekaragaman jenis
flora dan fauna memiliki kewajiban yang tidak sedikit karena menjamin
hak hidup bagi satwa liar dan menjaga ekosistemnya secara alami
bukanlah suatu tindakan yang mudah. Diperlukan kesadaran oleh para
pemegang kekuasan dan para pembuat kebijakan untuk mengatur segala
sesuatu yang ada di kehidupan liar.

Tidak semua hal dapat di tetapkan melalui peraturan dan


perudangan karena pengeloaan selalu di hadapkan pada
penetapan prioritas yang bertentangan antara satu dan yang
lainnya. Oleh sebab itulah diperlukan pengetahuan dan
kesadaran yang tinggi untuk mewujudkan satu kesatuan
ekosistem yang dapat menjamin kehidupan bagi satwa di
dalam hutan.
Kegiatan
produksi
yang
dilakukan
seharusnya
mempertimbangkan berbagai aspek mulai dari system dan
kebijakan lain dalam melakukan pemanenan harus
meminimalkan dampak negative baik bagi lingkungan maupun
penghidupan baik satwa liar maupun manusia.