Anda di halaman 1dari 99

1

ANALISA DETERMINAN HIPERTENSI ESENSIAL DI WILAYAH KERJA TIGA PUSKESMAS KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2007

T E S I S OLEH ROSLINA NIM:047023022/AKK
T E S I S
OLEH
ROSLINA
NIM:047023022/AKK

SEKOLAH PASCA SARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2008

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

2

ANALISA DETERMINAN HIPERTENSI ESENSIAL DI WILAYAH KERJA TIGA PUSKESMAS KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2007

T E S I S

OLEH ROSLINA NIM:047023022/AKK
OLEH
ROSLINA
NIM:047023022/AKK

Untuk memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) Dalam Program Magister Administrasi dan kebijakan Kesehatan Konsentrasi Kesehatan Komunitas/ Epidemiologi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

SEKOLAH PASCA SARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2008

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

3

Judul Tesis

:ANALISA

DETERMINAN

HUPERTENSI

ESENSIAL

DI WILAYAH KERJA TIGA PUSKESMAS KABUPATEN

Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi Konsentrasi

DELI SERDANG : Roslina

:047023022

:Administrasi dan Kebijakan Kesehatan :Administrasi dan Kesehatan Komunitas/ Epidemiologi

Menyetujui Komisi Pembimbing (Prof dr Nerseri Barus MPH) Ketua Direktur
Menyetujui
Komisi Pembimbing
(Prof dr Nerseri Barus MPH)
Ketua
Direktur

(Dr A.Rahim Lbs Sp Pd K GH) Anggota

(drs A.Jalil Amri Arma M.kes) Anggota

Ketua Program Studi

(Dr.Drs.Surya Utama,MS)

( Prof,Dr,Ir.T.Khairunnisa B.,MSc)

Tanggal Lulus:3 Maret 2008

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

4

Telah diuji

Pada tanggal : 3 Maret 2008

4 Telah diuji Pada tanggal : 3 Maret 2008 : Prof dr,Nerseri Barus,MPH PANITIA PENGUJI TESIS

: Prof dr,Nerseri Barus,MPH

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua

Anggota

:1 dr A.Rahim Lubis K.GH

2 drs A.Jalil Amri Arma M.Kes

3 Dr Dra Ida Yustina,MS

4 dr Ria Masniari Lubis,MSi

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

5

PERNYATAAN

ANALISA DETERMINAN HIPERTENSI ESENSIAL DI WILAYAH KERJA TIGA PUSKESMAS KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2007

TESIS
TESIS

Dengan ini menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan tinggi,dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atah pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan,

Roslina

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

6

ABSTRAK

Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama di hampir semua Negara. Prevalensi hipertensi cukup tinngi dan pada umumnya sebagian besar penderitanya tidak mengetahui bahwa dirinya menderita hipertensi. Di Indonesia, Prevalensi hipertensi berkisar antara 0,65%-28,6%, angka tertinggi di Sukabumi sebesar 28,6% dan terendah di Lembah Baliem Papua 0,65%. Hasil Pengamatan Laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang selama tahun 2005-2006 terjadi peningkatan jumlah kasus hipertensi dengan kasus terbanyak tahun 2006 sebesar 7,88%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa fator risiko:

ini bertujuan untuk menge tahui beberapa fator risiko: yaitu:(Obesitas merokok, stres, minum alkohol ) dengan

yaitu:(Obesitas merokok, stres, minum alkohol) dengan kejadian hipertensi esenmsial di Kabupaten Deli Serdang . Rancangan Penelitian yang digunakan adalah studi kasus kelola (case Control Study) dengan cara membandingkan 110 orang hipertensi esensial dengan 110 tidak hipertensi esensial dengan penyepadaan umur, jenis kelamin,,suku, pendidikan, pekerjaan di Wilayah kerja tiga Puskesmas Deli Serdang. yang diambil dari wilayah kerja tiga puskesmas yang baik rekam mediknyadi Kabupaten Deli Serdang.Analisa data menggunakan Program SPSS versi 11,5 dan regresi logistik ganda. Hasil Analisis bivariat multivariat regresi logistik ditemukan obesitas secara bermakna proporsinya lebih tinggi pada kasus dibandingkan dengan kontrol.(77,3% vs 52,7%, 13,056)p=0.005, OR adjested = 2,579(Cl:1,7785-7,644) hasil analisis bivariat multivariat regresi logistik ditemukan stres secara bermakna proporsinya lebih tinggi pada kasus dibandingkan dengan kontrol(72,7% vs 29,1%, x²- 40,177,p=0,000,OR adjested – 5,067(CL:95%:2,732-17,588). Faktor determinan yang paling dominan mempengaruhi kejadian hipertensi esensial adalah stres dengan OR adjested 5,067. Untuk meningkatkan keberhasilan penanggulangan hipertensi esensial di tiga Wilayah Kabupaten Deli Serdang diperlukan peningkatan pengetahuan tentang hipertensi esensial . Perlu ditentukan agar meningkatkan pengetahuan tentang faktor determinan hipertensi esensial

Kata Kunci:Hipertensi, Faktor Determinan

.

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

7

ABSTRACT

Hypertensive disorders result in high-rate of morbidity and mortality. It is disorder resulting from interaction and variety of risk factors which occur in the individual.According to WHO (1978), the prevalence of hypertensive disorder are fairly high in the world, ranging from 10% to 20% of population that more than 20 years of age in Indonesia, the prevalence of hypertensive disorders ranged from 11,8% to 28,6% of population that more than 20 years of age. In 2002 and 2003,the 352,respectively,and the proportion of hypertension is up to 4,6% and14,1%of all hospitalized patiens.There is 10,2% increation in case yearly among the hospitalized patiens,and the risk factor that have contribution to this increation is not known, The reseach was animed to learn the association between risk factors of abesitas,merokok,stres,minumalkohol care toword hipertensi esensial. This was matched casa control study using 110 pregnant womaen with anemia and 110 comparisons pregnant women without hipertensi esensial taken from tree quality recamedik puskesmas working area in Deli Serdang. Samples were drawn randomly and the data was collected throught direct interview and observation.The data was analyzed applying SPSS Version 11,5 and the multiple logistic regression. The study shows that thre is a significant association between o

shows that thre is a significant association between o Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

8

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,karena berkat Rahmat dan

karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan yang berjudul :

“ ANALISA DETERMINAN HIPERTENSI ESENSIAL DI WILAYAH

KERJA

TIGA

PUSKESMAS

KABUPATEN

DELI

SERDANG

TAHUN 2007” dan Kebijakan Kesehatan Konsentrasi Epidemiologi 1 dalam penyusunan tesisi dengan penuh kesabaran.
TAHUN 2007”
dan
Kebijakan
Kesehatan
Konsentrasi
Epidemiologi
1
dalam penyusunan tesisi
dengan penuh kesabaran.

Penulisan ini merupakan tugas akhir pada Sekolah Pascasarjana Program

Universitas

Administrasi

Sumatera .

.Dalam membuat tesis, penulis mendapat bantuan , dorongan dan bimbingan

dari berbagai pihak . Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima

kasih dan penghargaan kepada:

Ibu Prof dr Nerseri Barus,MPH, Bapak A.Rahim Lubis K GH, Bapak drs

A.Jalil Amri Arma MK selaku pembimbing yang telah banyak membantu

ini dengan meluangkan waktu dan pikiran

2 Bapak

Prof.dr.

Chairudin

P.Lubis

,DTM&DSAK

selaku

Rektor

Universitas Sumatera Utara.

3 Ibu Prof Dr. T.Chairun Nisa B,MSc selaku Direktur Program Magister

Administrasi Dan Kebijakan Kesehatan.

4 Ibu Dr.Dra Ida Yustina, Ibu dr Ria Masniari Lubis,MSc sebagai anggota

Komisi penguji.

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

9

5 Bapak Williem Simanjuntak yang telah memberikan bimbingan dalam

penyusunan tesis ini

6 Para Pimpinan Puskesmasdan seluruh staf Kabupaten Deli Serdang

7 Seluruh staf Administrasi yang telah memberikan pengajaran, bimbingan

selama penulisan tesis ini, 6 Rekan rekan Mahasiswa Studi Program Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Komunitas
selama penulisan tesis ini,
6
Rekan rekan Mahasiswa Studi Program Administrasi dan
Kebijakan
Kesehatan
Komunitas
konsentrasi
Epidemiologi
yang
memberikan
dorongan moril.
7
Pihak pihak yang tidak dapat saya sebutkan dalam penulisan ini.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini mempunyai kekurangan

Untukitudiharapkan kritik dan saran dari yang berkepentingan untukpenyempurnaan

tesis ini. Segala saran dari yang berkepentingan untuk enyempurnaan tesis ini. Segala

saran dan kritik yang disampaikan untuk perbaikan tesis ini sebelumnya diucapkan

terima kasih yang sebesar-besarnya.

Medan, 3 Maret 2008

Penulis.

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

10

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: ROSLINA

Tempat/Tanggal Lahir

:Tanjung Balai 5 Desember 1963

Agama

: Islam

Alamat

: Jalan Panglima Denai 52A Medan

RIWAYAT PENDIDIKAN 1. Tahun 1969-1975 : SD Prasetia Tanjung Balai 2 .Tahun 1975-1978 : SD
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
Tahun 1969-1975
: SD Prasetia Tanjung Balai
2 .Tahun 1975-1978
: SD Sisingamangaraja Tanjumg Balai
3
Tahun 1979-1982
: SMA Negri I Tanjung Balai
4
Tahun 1982-1985
: Akademi Perawat Darma Agung Medan
5.
Tahun 1995-1997
: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera
Utara Medan
6
Tahun 1998-1999
: Akta Mengajar IV Unimed Medan
7
Tahun 2004-2007
: Program Magister Administrasi dan Kebijakan
Kesehatan Peminatan Administrasi Kesehatan
Komunitas Konsentrasi Epidemiologi Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.
RIWAYAT PEKERJAAN
1.
Tahun 1986 - 1993
: Rumah Sakit PTP V Sei karang Lubuk Pakam
2
Tahun 1993
- 1996
: Rumah Sakit Haji Medan
3
Tahun 1996
- 2005
: Rumah Sakit Lubuk Pakam
4
Tahun 2006 - Sekarang
:
Puskesmas Bandar Khalipah Dinas Kesehatan
Kabupaten Deli Serdang.

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

11

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii BAB 1 PENDAHULUAN 1 1.1 . Latar Belakang 1
KATA PENGANTAR
i
DAFTAR ISI
ii
BAB 1
PENDAHULUAN
1
1.1
. Latar Belakang
1
1.2.
Perumusan Masalah
3
1.3
Tujuan Penelitian
4
1.4
Hipotesa Penelitian
4
1.5
Manfaat Penelitian
4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5
2.1.
Pengertian Hipertensi
6
2.1.1.
Klasifikasi
6
2.1.2.
Berdasarkan tingkatan gejala
7
2.1.3.
Diagnosa
8
2.1.4.
Etiologi
9
2.1.5.
Patogenesis
10
2.2.
Epidemiologi
11
2.2.1.
Faktor determinan hipertensi
12
2.2.2.
Faktor risiko Yang dapat diubah
16
2.2.3.
Perjalanan klinik dan komplikasi
24
2.2.4.
Pencegahan dan penanggulangan hipertensi
24
2.2.5.
Prinsip pengobatan hipertensi
25
2.3.
Landasan teori
28
2.4.
Krangka konsep
30

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

12

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1

31

31

. Jenis penelitian Lokasi penelitian dan waktu penelitian Populasi dan sampel Metode pengambilan sampel

3.2. 3.3 3.4 3.5. 3.6. 3.7. 3.8 4.1. 4.2. 5.1 5.2 6.1
3.2.
3.3
3.4
3.5.
3.6.
3.7.
3.8
4.1.
4.2.
5.1
5.2
6.1

32

32

34

Variabel dan Devenisi Operasional……………………………. 35 Metode Pemgumpulan data……………………………………. 39 Metode analisa data……………………………………………. 40 Jadwal Penelitian………………………………………………. 43

BAB 4 HASIL PENELITIAN……………………………………………… 44

Gambaran Umum Lokasi Penelitian…………………………… 44 Hasil Analisis…………………………………………………….48

58

Pembahasan hasil penelitian…………………………………… 58 Keterbatasan Penelitian………………………………………….63

BAB 5

PEMBAHASAN……………………………………………………

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………

65

Kesimpulan…………………………………………………… 65

6.2 Saran…………………………………………………………….66

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

13

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1.

Klasifikasi Tekanan Darah Berdasarkan Tekanan Darah Sistolik dan Diastolic NIH Publication…………………………………………

6

Tabel 2.2

Klasifikasi Tekanan Darah Menurut Jenis Kelamin…………………

14

Tabel 2.3.

Frekuensi Hipertensi Menurut Golongan Umur……………………

15

Menurut Golongan Umur…………………… 15 Tabel 2.4 Katagori Indeks Massa

Tabel 2.4

Katagori Indeks Massa Tubuh……………………………………….16

35

36

Tabel 3.1

Jumlah Populasi dan Sampel di Wilayah Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang…………………………………………………………

Tabel 3.2

Interval Kasus terpilih di Tiga PuskesmasKabupaten Deli Serdang…

Tabel 3.3

Variabel, Defenisi Cperasional ,Cara dan Alat Ukur,Skala Ukur …… 38

Tabel 4.1

Variabel Keadaan Geografis Wilayah Kerja Tiga Puskesmas di Kabupaten Deli Serdang………………………………………………44

45

Tabel 4.2

Distribusi Penduduk Berdasarkan Jumlah Keluarga dan Jenis Kelamin Di Wilayah erja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang…………

Tabel 4.3

Distribusi Penduduk Berdasarkan Suku di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang………………………………… 45

Tabel 4.4 Distribusi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Wilayah Kerja tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang……………………… 46

Tabel 4.5 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang………………………47

Tabel 4.6 Pelayanan Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang………………………………………………48

Tabel 4.7 Distribusi Proporsi Responden Berdasarkan Karakteristik Umur, Suku, Jenis Kelamin dan Pendidikan, Pekerjaan…………………… 48

Tabel 4.8. Distrobusi Proporsi Kasus dan Kontrol Berdasarkan Variabel Indevenden Kejadian Hipertensi Esensial di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang……………………………51

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

14

Tabel 4.9 Distribusi Proporsi kasus dan kontrol Berdasarkan Obesitas dengan Kejadian hipertensi, χ ², p value, OR, Cl 95% di Wilayah Kerja Tiga puskesmas Kabupaten Deli serdang…………………………… 52

Tabel 4.10 Distribusi Proporsi kasus dan kontrol Berdasarkan Merokok dengan Kejadian hipertensi, χ ², p value, OR, Cl 95% di Wilayah Kerja Tiga puskesmas Kabupaten Deli Serdang……………………………53

di Wilayah Kerja Tiga puskesmas Kabupaten Deli
di Wilayah Kerja Tiga puskesmas Kabupaten Deli

Tabel 4.11 Distribusi Proporsi kasus dan kontrol Berdasarkan Stres dengan Kejadian hipertensi, χ ², p value, OR, Cl 95% di Wilayah Kerja Tiga puskesmas Kabupaten Deli Serdang……………………………54

Tabel 4.12 Distribusi Proporsi kasus dan kontrol Berdasarkan Minum Alkohol dengan Kejadian hipertensi, χ ², p value, OR, Cl 95%

Serdang……….

.55

Tabel 4.13 Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik Ganda Empat Variabel Yang Berhubungan Bermakna Dengan Kejadian Hipertensi Esensial di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang…………………………………………….56

Tabel 4.14 Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik Ganda Tiga Variabel Yang Berhubungan Bermakna Dengan Kejadian Hipertensi Esensial di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang…………………………………………….57

0

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

15

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Judul

2.1

2.2

2.3

3.1

Skema Perjalanan Klinik dari Hipertensi Esensial

2.3 3.1 Skema Perjalanan Klinik dari Hipertensi Esensial Model Roda (The Whell Model) unyuk menggambarkan hubungan

Model Roda (The Whell Model) unyuk menggambarkan hubungan

interaktif manusia dan lingkungan (Murti,B,1995)

Kerangka Konsep Penelitian

Desain Kerangka konsep penelitian

Halaman

26

33

35

36

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

16

Nomor

1.

2

3

4

5

DAFTAR LAMPIRAN

Judul

Halaman

kuisioner Analisa Determinan Hipertensi Esensial di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang

Body Massa Index(BMI)
Body Massa Index(BMI)

Reability Analysis Scale (ALPHA) Validity And Reability Variabel Independen…………………………………………………

Crostabs Obesitas………………………………………………………

Izin penelitian………………………………………………………….

74

79

80

83

89

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

17

BB

BMI

OR

PT

Sd

SD

SLTP

SLTA

TB

U

χ ²

α

DAFTAR SINGKATAN

: Berat Badan : Body Masa Index : Odds Ratio : Perguruan Tinggi : Standard
: Berat Badan
: Body Masa Index
: Odds Ratio
: Perguruan Tinggi
: Standard deviasi
: Sekolah Dasar
: Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
: Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
: Tinggi Badan
: Umur
: Chi- squere .

: Alpa

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

18

1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN

Tujuan pembangunan nasional bidang kesehatan yang tercantum dalam Sistim

Kesehatan Nasional (SKN) adalah terciptanya kemampuan hidup sehat bagi setiap

pencegahan penyakit melalui pemliharaan kesehatan
pencegahan
penyakit
melalui
pemliharaan
kesehatan

penduduk agar dapat mewujudkan kesehatan masyarakat setinggi-tingginya . Agar

tercapai tujuan tersebut perlu diupayakan kesehatan yng bersifat menyeluruh terpadu

merata, dapat diterima, serta terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat (Depkes

RI,2004)

Dalam pembangunan kesehatan untuk mencapai Indonesia sehat 2010, dilakukan

dengan

cara

upaya

meningkatkan kesadaran, kemampuan hidup sehat. (Depkes RI, 1999).

Peningkatan taraf hidup dan perubahan gaya hidup masyarakat menyebabkan

perubahan pola penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Negara

berkembang (Bustan, M.N.1995).

Peningkatan penyakit degeneratif tidak terlepas dari perubahan gaya hidup (pola

makan, merokok, olah raga) yang terjadi di masyarakat(Djaya, S.S.2003).

Terjadinya transisi epidemiologi penyakit ditandai dengan adanya perubahan

pola kesakitan berupa penurunan prevalensi penyakit infeksi sedangkan penyakit

non

infeksi

dan

penyakit

(Bustan, M. N.,1997).

degeneratif

seperti:

hipertensi,

semakin

meningkat

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

19

The World Health Report 1997 menyatakan hipertensi merupakan masalah

kesehatan yang dirasakan oleh semua Negara.(Darmojo, B.2001)

WHO melaporkan prevalensi hipertensi meningkat seiring dengan bertambahnya

usia, dapat dilihat pada penderita berusia 50 tahun 10%, usia 60 tahun 20%

sedangkan usia 70 tahun 30% (Kiangdo,G.1997)

60 tahun 20% sedangkan usia 70 tahun 30% (Kiangdo,G.1997) Berdasarkan survei kesehatan jantung masyarakat di Kanada

Berdasarkan survei kesehatan jantung masyarakat di Kanada yang dilakukan

pada tahun 1990 menemukan 50% penderita hipertensi adalah mereka yang kelebihan

berat badan atau memiliki kadar kolesterol tinggi dalam darahnya (Hayens,B.2001)

World Health Organization pada tahun 1991 melaporkan prevalensi hipertensi di

beberapa negara (Zaire 16%, Chili 20%,Siberia 25%,Brazilia 34%)(Darmojo,B.2001)

Hipertensi merupakan penyakit kronis, paling sering di jumpai di Amerika

Serikat, National Lung Heart and Blood Institute (NHLBI) satu diantara empat orang

dewasa menderita hipertensi (Sheps,S.G.2005).

Di Indonesia prevalensi penyakit hipertensi berdasarkan hasil survei kesehatan

rumah tangga tahun 1995 sebesar 9,6 % sedangkan pada tahun 2001 hasil diperoleh

11 % (Djaya, S S.2003).

Hasil

Survei

Kesehatan

Rumah

Tangga

(SKRT)

tahun

2000

dikalangan

penduduk umur 25 tahun keatas dijumpai 27% dari laki-laki dan 29% dari wanita

menderita hipertensi (Soemantri, S.2001). Prevalensi hipertensi di Sumatera Selatan

berdasarkan jenis kelamin pria 7,75% wanita 5,6% (Syahbudin ,1998) di Sumatera

Barat prevalensi hipertensi pada pria 18,6% sedangkan wanita 17,4% ,di Jakarta

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

20

prevalensi hipertensi pada pria19,6% sedangkan pada wanita 13,7% (Susalit,dkk

1988).

Masalah utama pada hipertensi adalah bahwa lebih dari 90% dari seluruh

penderita hipertensi merupakan hipertensi esensial yang tidak diketahui penyebabnya

(Darmojo,B.2001)

hipertensi pada saat ini masih merupakan
hipertensi
pada
saat
ini
masih
merupakan

Penyakit Hipertensi esensial penyakit yang dipengaruhi oleh beberapa faktor

seperti umur, jenis kelamin, suku, faktor genetik, obesitas, stres, merokok ,konsumsi

alkohol (Sheps, S.G.2005). Berdasarkan profil kesehatan kota Medan tahun 2004,

penderita hipertensi merupakan peringkat ke tiga dari sepuluh penyakit terbesar yaitu

sebesar 8,4%

Penyakit

masalah

kesehatan

masyarakat di Kabupaten Deli Serdang .Berdasarkan sepuluh peringkat penyakit

terbesar tahun 2005, proporsi hipertensi esensial 4,02% ( 36728) dari 1479,meningkat

tahun 2006 menjadi 7,88% (36730) 2897 terjadi peningkatan kasus sebesar 95,88 %.

Berdasarkan hal tersebut perlu diadakan penelitian untuk mengetahui determinan

(faktor risiko) yang mempengaruhi kejadian hipertensi esensial di Kabupaten Deli

Serdang.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian

ini adalah masih tingginya angka kejadian hipertensi esensial di Puskesmas Deli

Serdang.serta belum diketahui bagaimana keeratan hubungan variabel –variabel yang

berhubungan dengan kejadian hipertensi esensial.

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

21

1.3.Tujuan Penelitian

Penelitian

ini

bertujuan

untuk

mengetahui

keeratan

hubungan

faktor

determinan (obesitas, merokok, stres, alkohol) terhadap kejadian hiprtensi esensial di

wilayah kerja tiga Puskesmas kabupaten Deli Serdang

1.4.Hipotesa Penelitian

dengan hipertensi esensial di Wilayah kerja tiga
dengan
hipertensi esensial di
Wilayah
kerja
tiga

a Ada hubungan faktor determinan (obesitas, merokok, stres, konsumsi alkohol)

Puskesmas

berhubungan

Kabupaten Deli Serdang .

1.5 Manfaat Penelitian

a Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada pengambil keputusan

tentang variabel yang berhubungan dengan kejadian hipertensi esensial yang

melakukan pemeriksaan di wilayah kerja tiga Puskesmas Di Kabupaten Deli

Serdang

b Hasil penelitian ini sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya terhadap

analisis variabel yang berhubungan dengan kejadian hipertensi esensial.

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

22

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian

Hipertensi adalah penyakit dengan tanda-tanda adanya gangguan tekanan

darah sistolik maupun diastolik yang naik diatas tekanan darah normal (Budiyanto,

Tekanan darah adalah suatu kekuatan darah
Tekanan darah adalah suatu kekuatan darah

2002).

Tekanan darah sistolik (angka atas) adalah tekanan puncak yang tercapai ketika

jantung berkontraksi dan memompakan darah keluar melalui arteri. Tekanan darah

sistolik dicatat apabila terdengar bunyi pertama. Pada alat pengukur tekanan darah.

Tekanan darah diastolik (angka bawah) diambil ketika tekanan jatuh ketitik terendah

saat jantung rileks dan mengisi darah kembali. Tekanan darah diastolik dicatat

apabila bunyi tidak terdengar.(Sheps, S.G.2005).

yang mengalir dalam pembuluh

darah untuk beredar keseluruh tubuh membawa oksigen dan zat-zat yang dibutuhkan

tubuh agar dapat hidup dan dapat bekerja melaksanakan tugasnya masing-masing

(Kertohoesodo, S.1979).

Hipertensi

berdasarkan

penyebabnya

dibedakan

menjadi

2

golongan,

merupakan penyebab kesakitan dan kematian yang cukup banyak dalam masyarakat

(Gunawan, L.2001).

1. Hipertensi esensial (hipertensi primer) yaitu hipertensi yang tidak diketahui

penyebabnya atau adiopatik.

2. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan penyakit lain.

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

23

Hipertensi

Esensial

merupakan

salah

satu

faktor

risiko

penting

untuk

terjadinya penyakit cerebrovaskuler dan penyakit jantung koroner. Hipertensi esensial

merupakan penyebab kesakitan dan kematian yang cukup banyak dalam masyarakat.

Bila dilihat persentase kasus hipertensi secara keseluruhan, maka hipertensi esensial

meliputi lebih kurang 90-95% dan 5-10% lainnya adalah kasus hipertensi sekunder

Penderita hipertensi esensial sering tidak menimbulkan 20 tahun. Penyakit hipertensi sering ditemukan
Penderita
hipertensi
esensial
sering
tidak
menimbulkan
20
tahun.
Penyakit
hipertensi
sering
ditemukan

(Budiyanto, 2002).

gejala

sampai

penyakitnya menjadi parah. Bahkan sepertiganya tidak menunjukkan gejala selama

10

dilakukan

atau

sewaktu

pemeriksaan kesehatan lengkap dengan gejala-gejala sakit kepala, pandangan kabur,

badan terasa lemah, palpitasi atau jantung berdebar-debar dengan cepat dan keras bisa

teratur atau tidak, susah tidur.(Sidabutar, R.P.1990).

2.1.1. Klasifikasi

Berdasarkan tingginya tekanan sistolik dan diastolic the seventh committee on

detection, evaluation, and treatment of high blood pressure, membagi hipertensi

sebagai berikut :

Tabel 2.1. Klasifikasi tekanan darah berdasarkan tekanan sistolik dan diastilic

Kategori

Sistolic (mmHg)

Diastolic (mmHg)

Normal Pre Hipertensi Stage I Stage II dan III

< 120

< 80

120-139

80-90

140-159

90-99

> 160

> 100

24

Stage I

Tidak ada gejala objektip dari perubahan atau kelainan organ yang terlihat keluhan

penderita ada fase ini tidak tergantung dari tinggi rendahnya tekanan darah.

Stage II

sekurang-kurangnya salah satu gejala dijumpai: hipertropi bilik kiri (pemeriksaan

Hipertensi benigna
Hipertensi benigna

fisik, radiology, elektrokardiografi) penyempitan arteri, retina secara umum atau

lokal, proteinuria dan atau sedikit kenaikan kreatinin plasma.

Stage III

Gejala telah ada sebagai akibat kerusakan target organ, yaitu jantung otak enselopati

hipertensi, perdarahan otak dan batang otak atau fundus okuli perdarahan dan eksudat

pada retina dan papilodema (Sheps, S.G.2005)

2.1.2 Berdasarkan tingkatan menjadi 2 yaitu :

2.1.2.1.

gejala-gejala klinik hipertensi dapat dibedakan

Tekanan darah sitolik atau tekanan darah diastolik belum begitu meningkat

sifatnya ringan dan sedang tidak tampak kelainan, yang sifatnya berbahaya seperti :

otak, mata, jantung dan ginjal (Kerto Hoesdono, 1979)

2.1.2.2. Hipertensi Maligna

Hipertensi maligna tekanan darah diastolik terus menerus meningkat, sudah

terdapat kelainan dan kerusakan organ, hipertensi bersifat progresif terdapat papil

oedem dan kelainan penglihatan, fungsi ginjal dan fungsi jantung (Moerdowo, 1984).

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

25

Hasil survei hipertensi di Indonesia keluhan dihubungkan dengan hipertensi

diantaranya: pusing, mudah marah, sukar tidur, telinga berdengung, sesak nafas, rasa

berat ditengkuk, rasa mudah lelah, mata

berkunang-kunang. Gejala lain akibat

komplikasi hipertensi, seperti gangguan penglihatan, gangguan neurologi, gejala

dan pemeriksaan laboratorium sebagai data
dan
pemeriksaan
laboratorium
sebagai
data

payah jantung dan gejala ginjal. Gangguan serebral akibat hipertensi dapat berupa

kejang, atau gejala-gejala akibat perdarahan pembuluh darah otak yang berupa

kelumpuhan, gangguan penglihatan, gangguan kesadaran bahkan sampai koma.

(Sidabutar, R. P. 1990).

2.1.3. Diagnosa

Untuk menengakkan diagnosa hipertensi dapat diperoleh dari data anamnese

penderita, pemeriksaan tekanan darah secara akurat yang dilakukan setelah cukup

istirahat 5–10 menit. Pemeriksaan yang lebih teliti pada target organ untuk menilai

seperti

komplikasi

pendukung

pemeriksaan gula, urine kalium dalam darah dan kreatinin pemeriksaan laboratorium

ini juga diperlukan untuk mengikuti perkembangan pengobatan dan

untuk menilai

kemungkinan dari efek samping yang timbul (Sidabutar R. P. 1990).

Menurut Joint National Committee on Prevention, Detection Evaluation an

Treatment of High Blood Pressure (1997) pengukuran tekanan darah dianjurkan

dilakukan pada posisi duduk setelah beristirahat selama 5 menit dan 30 menit bebas

rokok, kenaikan tekanan darah sering merupakan satu-satunya tanda klinis hipertensi

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

26

esesnsial

sehingga

.(Shep,.S.G.2005).

diperlukan

pengukuran

tekanan

darah

yang

akurat.

Tekanan darah sebesar 140/90 mmHg dinyatakan tinggi, untuk satu kali

pengukuran saja belum bisa mendasari diagnosis, karena tekanan darah kita bervariasi

Penegakan diagnosis hipertensi didasarkan hasil
Penegakan
diagnosis
hipertensi
didasarkan
hasil

dalam sehari sebaiknya dilakukan beberapa pengukuran dalam kondisi yang sama,

hanya bila hasilnya sangat tinggi yaitu angka sistolik 210 mmHg atau lebih dan angka

diastolik 120 mmHg atau lebih, maka diagnosis boleh diambil berdasarkan hanya satu

kali pengukuran ( Sidabutar, R. P.1990)

pengukuran

sedikitnya

setelah dua kali melakukan kunjungan. Tekanan darah diukur dua kali atau lebih tiap

kunjungan, sehingga total pemeriksaan tekanan darah minimal empat kali, Jika angka

rata-rata empat pengukuran itu menunjukkan tekanan darah sebesar 140/90 atau lebih,

disimpulkan menderita Hipertensi. (Sheps, S.G. 2005).

Agar yakin bahwa hasil pengukuran yang didapat akan akurat, sebaiknya tidak

merokok, makan dalam jumlah banyak, atau minum-minuman beralkohol atau kafein

sebaiknya

30

menit

sebelum

pengukuran

dilakukan

faktor-faktor

ini

dapat

menyebabkan kenaikan sementara tekanan darah. (Sidabutar, R. P. 1990).

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

27

2.1.4. Etiologi

Berdasarkan etiologi ada dua penyebab hipertensi yaitu:

2.1.4.1. Hypertensi Primer (Esensial)

Peningkatan persisten arteri yang dihasilkan oleh ketidak teraturan mekanisme

kontrol homeostatic normal penyebabnya tidak diketahui disebut juga adiopatik, turut

Hypertensi non esensial (Sekunder) Hypertensi yang disebabkan kelainan organ tubuh lain yang memerlukan
Hypertensi non esensial (Sekunder)
Hypertensi
yang
disebabkan
kelainan
organ
tubuh
lain
yang
memerlukan
pemeriksaan
khusus
agar

dapat

berperan sebagai penyebab hipertensi seperti, stress psikologi dan bertambahnya

umur, prevalensinya dimasyarakat mencapai lebih dari 90% dari seluruh penderita

hipertensi ( Sidabutar, R.P.1990)

2.1.4.2.

yang

terbukti

kaitannya, misalnya penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit pembuluh darah,

dan

ditentukan

sebagainya,

penyebabnya. Prevalensinya kurang dari 10% dari seluruh penderita hipertensi di

masyarakat (Sidabutar, R. P. 1990).

2.1.5. Patogenesis

Pada stasdium awal sebagian besar pasien hipertensi menunjukkan curah

jantung

yang

meningkat

dan

diikuti

dengan

kenaikan

tahanan

perifer

yang

mengakibatkan kenaikan tekanan darah yang menetap curah jantung dan tahanan

perifer dan atrium kanan mempengaruhi tekanan darah. (Lund and Johansen, 1989)

Faktor lain yaitu faktor lingkungan seperti obesitas merokok stres, konsumsi

alkohol, dan kurang olah raga juga berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi

esensial (Susalit dkk, 2001).

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

28

Obesitas atau kelebihan berat badan akan mengakibatkan kerja jantung lebih

berat

dan dapat menyebabkan hipertropi jantung dalam jangka lama dan tekanan

darah akan cenderung naik (Kaplan, 1983).

Zat-zat kimia seperti nikotin dan karbon yang dihisap melalui rokok masuk

kedalam

darah

dapat

merusak

lapisan

endotel

pembuluh

darah

arteri

dan

bekerja lebih keras. Hal ini akan merusak dinding
bekerja
lebih
keras.
Hal
ini
akan
merusak
dinding

mengakibatkan proses ateroklerosis denyut jantung menigkat dan kebutuhan oksigen

yang disuplai ke otot-otot jantung. Nikotin yang berasal dari rokok menaikkan

tekanan darah baik sistolik maupun diastolik. (Sidabutar,R.P.1990)

Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui saraf simpatis dapat

meningkatkan tekanan darah secara intermitten. Stress yang berlangsung lama akan

dapat mengakibatkan peninggian tekanan darah yang menetap (Susalit, dkk 2001).

Dalam keadaan stress, pembuluh darah akan menyempit sehingga menaikkan

tekanan darah jika tubuh terus menerus berada dalam keadaan stres, maka tekanan

darahpun akan tetap tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi akan memaksa jantung

untuk

darah

pembuluh

(Hutapea, 1993).

Konsumsi alkohol memberi pengaruh terhadap peningkatan tekanan darah

terutama pada tekanan darah sistolik, peningkatan kadar kortisol, dan peningkatan

volume sel darah merah serta kekentalan darah, berperan dalam menaikkan tekanan

darah (Sidabutar, R.P. 1990).

Alkohol diduga mempunyai efek pressor langsung pada pembuluh darah

kerena

alkohol

menghambat

natrium,

sehingga

terjadi

pengikatan

natrium

dan

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

29

penghambatan pertukaran natrium dan kalsium selular yang akan memudahkan

kontraksi sel otot. Otot pembuluh darah menjadi lebih sensitive terhadap zat-zat

pressor seperti angiotensin H dan kotekolamin (Kaysen, N. G.1984).

2.2. Epidemiologi Hipertensi

Di negara maju, hipertensi merupakan masalah yang memerlukan penanganan

hipertensi merupakan masalah yang memerlukan penanganan dengan baik. Menurut National Heart, Lung and Blood

dengan baik. Menurut National Heart, Lung and Blood Institute, terdapat kira-kira

satu penderita diantara setiap empat orang dewasa. (Sheps, S.G. 2005).

Hipertensi lebih banyak menyerang kulit berwarna dari pada orang kulit putih

di Amerika Serikat 15% golongan kulit putih dewasa dan 25–30% golongan kulit

hitam dewasa adalah pasien hipertensi (Susalit dkk, 2000).

Prevalasi hipertensi di daerah perkotaan (Jakarta) lebih tinggi yaitu sekitar

14.2% dibandingkan daerah pedesaan 8.6% (Darmojo,B.2001)

Dari penelitian Darmojo dkk(1988), prevalensi pada daerah perkotaan Jawa

Tengah lebih tinggi yaitu sebesar 9,3% di banding pada daerah pedesaan yaitu 1,8%.

Susalit dkk juga melaporkan bahwa prevalensi pada daerah perkotaan di Semarang

tahun 1981 sebesar 15%.(Moerdowo,R.1984)

Berdasarkan penelitian Rafizar dkk

tahun 2000 di Indonesia Prevalensi

hipertensi berkisar antara 8,6%-10%, dimana prevalansi hipertensi yang terendah di

Lembah Baliem (Papua) sebesar 0,65%, kemudian menyusul di Kali Rejo Jawa

Tengah 1,8%, di PT Arun dan Sumatarea Utara masing-masing prevalensinya sebesar

5.3% dan prevalensi tertinggi ditemukan di Silungkang Sumatera Barat sebesar

19.4% (Rafizar, dkk 2000).

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

30

2.2.1. Determinan (Faktor Risiko)Hipertensi

Faktor risiko (Determinan) Hipertensi adalah faktor-faktor yang bila semakin

banyak menyertai penderita dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. determinan ini

ada yang dapat dihindarkan

atau

diubah

ada

yang

tidak

dapat

diubah

(Budisetio, M. 2001).

Di
Di

2.2.1.1. Faktor resiko yang tidak dapat diubah

Dari penelitian epidemiologi telah membuktikan bahwa sejumlah faktor risiko

hipertensi diketahui mempunyai hubungan yang erat kaitannya dengan timbulnya

manifestasi penyakit. Hipertensi esensial dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: Ras,

usia, riwayat keluarga, jenis kelamin, faktor risiko ini tidak dapat diubah, dan yang

dapat diubah seperti obesitas, merokok, alkohol, stres faktor risiko tersebut dapat

dilihat.(Budisetio, M.2001)

a. Ras atau suku bangsa

Amerika Serikat, kaum Negro kota mempunyai prevalansi dua kali lebih

tinggi dari pada kelompok kulit putih dan lebih dari empat kali lipat morbidity rate

yang diakibatkan oleh hipertensi (Bustan, M.N.2000).

Menurut American Heart Association, 30% dari semua kematian pada laki-

laki berkulit hitam sedangkan pada wanita berkulit hitam 20%.(Sheps, S.G.2005)

Di Indonesia tahun 1981 prevalansi terendah terdapat di Lembah Baliem Jaya

0,65 %. (Bustan, N.M. 1995)

(Lubis, H.R. 1989)

sedangkan

pada

suku

batak

dijumpai

6.6%

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

31

b. Jenis kelamin

Penduduk

Amerika

Serikat

yang

berumur

18

tahun

keatas

menderita

hipertensi esensial 34% pada pria dan 31% wanita berkulit hitam, sedangkan wanita

berkulit putih 25%, pria

24 % yang mengidap hipertensi, sedangkan pada orang

hispanik terdapat 23% pria dan 22% wanita, pada keturunan asia dan suku-suku

S.G. 2005). dibawah ini: yang dikutip oleh (Azwar.A 1989) dalam epidemiologi sebagai berikut: Tabel 2.2
S.G. 2005).
dibawah ini: yang dikutip oleh (Azwar.A 1989) dalam epidemiologi sebagai berikut:
Tabel 2.2 Klasifikasi tekanan darah berdasarkan Jenis Kelamin
No
Pnelitian dan tempat
Prevalensi
Laki-Laki
Wanita
1
Syfril (1981) Silungkang Sumatera Barat
24,2
17,4
2
Ketut Sawitra (1981) Bali
13,67
10,23
3
Agus Tessy (1981) Ujung Pandang
9,05
9,75
4
Harmaji (1981) Pendrikan Jawa Tengah
7,5
10,9
5
Sugiri (1981) Blora
9,5
11,9
6
Naiorhu (1978) Aceh
4,25
6,25

dikepulauan pasifik ditemukan hanya 10% pria dan 8% wanita sedangkan diantara

orang Indian Amerika kira-kira 27% pria dan wanitanya menderita hipertensi (Sheps,

Penduduk Indonesia penyebaran hipertensi menurut jenis kelamin tidaklah

sama atara satu penelitian dengan penelitian lainnya. Seperti terlihat pada tabel

Sumber : Azwar, A.1989

Sesuai Tabel 2.1 diatas dapat dillihat bahwa dibeberapa daerah prevalensi

hipertensi lebih tinggi pada laki-laki seperti didaerah Silungkang Sumatera Barat dan

Bali, tetapi di beberapa daerah lainnya prevalensi ini lebih tinggi pada wanita seperti

di daerah Pendirikan Jawa Tengah, Blora Jawa Tengah, Aceh, dan Ujung Pandang

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

32

(Azwar, 1989).Hipertensi dapat timbul pada semua usia walaupun sebagian besar

pasien umumnya berusia lebih dari 40 tahun. Hipertensi pada pria terjadi setelah usia

31 tahun sedangkan pada wanita terjadi setelah umur 45 tahun atau setelah masa

monopause. (Purwati dkk,1997)

Penebalan pembuluh darah pada usia tua sudah mulai terjadi

dan dinding

pembuluh darah sudah mulai melemah dan menebal (Kiangdo, G. 1997). Tabel 2.3 Frekuensi Hipertensi menurut
pembuluh darah sudah mulai melemah dan menebal (Kiangdo, G. 1997).
Tabel 2.3 Frekuensi Hipertensi menurut golongan umur
No
Golongan umur (Tahun)
Prevalensi (%)
1
20 - 29
6,10
2
30 - 39
6,70
3
40 - 49
10,10
4
50 – 59
Diatas 60
10,20
5
13,00
Sumber : Azwar,A. 1989
Hipertensi (Azwar, A.1989).
c. Riwayat Keluarga

Dari tabel diatas dapat dilihat semakin tinggi umur semakin besar terjadinya

Hipertensi banyak dijumpai pada penderita kembar atau monojigot, apabila

salah satunya menderita hipertensi maka keduanya menderita hipertensi, dugaan ini

menyokong bahwa faktor genetik mempunyai peran dalam terjadinya hipertensi.

(Sidabutar, R.P.1990)

Hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan, jika seorang dari orang

tua

kita

menderita

hipertensi

maka

sepanjang

hidup

kita

mempunyai

25%

kemungkinan mendapatkannya, jika kedua orang tua kita menderita hipertensi maka

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

33

kemungkinan

kita

mendapatkan

hipertensi

60%,

penelitian

terhadap

penderita

hipertensi dikalangan orang kembar dan anggota keluarga yang sama, menunjukkan

bahwa pada kasus-kasus tertentu ada komponen keturunan yang berperan (Sheps,

S.G.2005)

ada komponen keturunan yang berperan (Sheps, S.G.2005) 2.2.2. Faktor Resiko yang dapat di ubah a. Obesitas

2.2.2. Faktor Resiko yang dapat di ubah

a. Obesitas

Obesitas didefenisikan sebagai kelebihan berat badan sebesar 20% atau lebih

dari berat badan ideal, kebanyakan masyarakat di negara berkembang beranggapan

bahwa kegemukan atau obesitas berkaitan erat dengan hipertensi, jantung koroner,

diabetes mellitus (kencing manis), penyakit pernapasan, bahkan dapat mengurangi

usia harapan hidup (Purwati, dkk. 1997)

Obesitas adalah masa tubuh meningkat yang disebabkan oleh jaringan lemak

yang jumlahnya berlebihan. Pada orang-orang kegemukan sering terdapat hipertensi,

walaupun sebabnya belum jelas. Oleh sebab itu orang yang terlampau gemuk

sebaiknya berusaha untuk menurunkan berat badannya dan berusaha dan lebih giat

lagi menjaga agar tubuhnya jangan terlampau gemuk (Sheps,.S.G.2005)

WHO pada tahun 2002 telah merekomendasikan bahwa obesitas dapat diukur

dengan Body Mass Indeks (BMI) sebagai indikator untuk mengetahui kekurangan

berat badan, kelebihan berat badan atau obesitas BMI menggambarkan obesitas

menyeluruh atau general obesity yang paling akurat dapat dihitung dengan mudah :

BMI = BB (Kg)/TB2(m) ( Depkes,RI,2004)

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

34

Tabel 2.4 Kategori Indeks Massa Tubuh(IMT)

Indeks Massa Tubuh

Kategori

< 17,00 17,0 – 18,4 18,5- 25,0 25,0- 37,0 > 27,0

Kurus Sekali Kurus Normal Gemuk Gemuk sekali(Obesitas)

Sumber DepKes RI 2004

faktor ini mempunyai kaitan yang erat dengan Menurut penelitian (Darmojo, B.1993) prevalensi hipertensi
faktor
ini
mempunyai
kaitan
yang
erat
dengan
Menurut
penelitian
(Darmojo,
B.1993)
prevalensi
hipertensi

terjadinya

Kegemukan merupakan ciri khas dari populasi hipertensi dan dibuktikan

hipertensi

bahwa

dikemudian hari walaupun belum banyak dijelaskan hubungan antara obesitas dan

hipertensi esensial, tetapi penyelidikan membuktikan bahwa daya pompa jantung dan

sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingkan

penderita yang mempunyai berat badan normal (Sheps,S.G.2005)

b. Merokok

perokok

di

jakarta 30,6%, Monica dkk (1996) menemukan prevalensi hipertensi pada perokok di

Jawa Tengah sebesar 22,9%.Penelitin Tekyan (2003) dilakukan di Palembang yang

menyatakan bahwa orang yang mempunyai kebiasaan merokok mempunyai resiko

38,71 kali untuk hipertensi dibandingkan yang tidak perokok.( Darmojo,B.2001)

Menurut WHO (2002), individu yang terus menerus merokok cenderung

meningkatkan

hipertensi,

hal

ini

disebabkan

adanya

konumsi

kumulatif

dari

penggunaan tembakau. Merokok dapat meningkatkan tekanan darah, meskipun pada

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

35

beberapa penelitian didapatkan kelompok perokok dengan tekanan darah lebih rendah

dibandingkan dengan kelompok yang tidak merokok (Susalit, dkk.2001)

Nikotin

dalam

tembakau

penyebab

meningkatnya

tekanan

darah

segera

setelah isapan pertama, seperti zat-zat kimia dalam asap rokok, nikotin diserap oleh

pembuluh darah amat kecil didalam paru-paru dan diedarkan ke aliran darah hanya

Setelah merokok dua batang tekanan sistolik maupun
Setelah
merokok
dua
batang
tekanan
sistolik
maupun

dalam hitungan detik nikotin sudah mencapai otak. Otak bereaksi terhadap nikotin

dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin (adrenalin).

Hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung

untuk bekerja lebih berat karena tekana-tekanan yang lebih tinggi (Sheps, S.G.2005).

akan

diastolik

meningkat 10 mmhg. Walaupun terjadi kemajuan yang luar biasa dalam membatasi

orang merokok, jutaan

manusia masih melakukannya, Dr. Emil Bogen, Profesor

Kesehatan Masyarakat University of Cincinati, dan pengarang banyak kajian ilmiah

dan biokoimia sehubungan dengan tembakau, mengungkapkan pendapat bahwa

sirkulasi darah bereaksi terhadap nikotin dengan penyempitan pembuluh darah diikuti

dengan kenaikan tekanan darah, Dr.Logan Clending, dalam bukunya, The Human

Body, tembakau mempunyai efek yang cukup besar terhadap penyempitan pembuluh

darah, melalui lapisan otot akan menaikkan tekanan darah (Sheps, S.G.2005).

c. Stres atau Ketegangan Jiwa

Stres merupakan reaksi fisik dan psikis terhadap perubahan-perubahan yang

dialami individu, reaksi fisik antara lain detak jantung cepat, tekanan darah naik

tinggi, dan muncul penyakit psikosomatis seperti tukak lambung, maag, dan migrain.

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

36

Reaksi psikis dapat berupa sikap penarikan diri dan mekanisme pertahanan ego,

orang yang mengalami stres mempnyai resiko untuk menderita hipertensi sebesar

2,5 kali dibandingkan dengan orang yang tidak stress (Supargo, dkk,1989)

Prevalensi

pada

masyarakat

kota

lebih

tinggi

dibandingkan

dengan

masyarakat pedesaan (Kertohoesodo, S. 1979), hal ini sesuai dengan penelitian

dkk. (1993) di jakarta, mendapatkan prevalensi bagus, kita mendapatkan suatu keadaan dengan
dkk.
(1993)
di
jakarta,
mendapatkan
prevalensi
bagus,
kita
mendapatkan
suatu
keadaan
dengan

Monica,

hipertensi

didaerah

perkotaan lebih tinggi yaitu 17% sedangkan dibandingkan pedesaan sebesar 6,3%

(Darmojo, B. 2001)

Stress adalah yang kita rasakan saat tuntutan emosi, fisik atau lingkungan tak

mudah diatasi atau melebihi daya dan kemampuan kita untuk mengatasinya. Dengan

efektif stres bukanlah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar, stres adalah respon

kita terhadap pengaruh-pengaruh yang datang dari luar (Sidabutar, R.P.1990).

Stress positif. Bentuk stress ini membangkitkan gairah dan perasaan memiliki

percaya

diri.

kesempatan

Stres negatif: stres ini terjadi jika kita merasa tidak berdaya atau dibawah tekanan

terus-menerus, mungkin karena kita merasa kesulitan konsentrasi, mungkin karena

tersisih dari lingkungan kita. Meskipun ada perbedaan stres positif dan negatif, secara

fisiologis

tubuh

bereaksi

sama

terhadap keduanya (Sheps, S. G. 2005).

Stres bisa bersifat fisik maupun mental yang menimbulkan ketegangan dalam

kehidupan sehari-hari dan mengakibatkan jantung berdenyut lebih kuat dan cepat.

Kelenjar seperti tiroid dan adrenalin juga akan bereaksi dengan meningkatnya

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

37

pengeluaran

hormon

dan

kebutuhan

otak

terhadap

darah

akan

meningkat

dan

mengakibatkan kenaikan tekanan darah (Leonard, M.1995)

Stres merupakan reksi fisik dan psikis terhadap perubahan-perubahan yang

dialami individu, reaksi fisik antara lain detak jantung cepat, tekanan darah tinggi,

dan kemunculan penyakit psikosomatis seperti tukak lambung, sakit maag, dan

(tidak menentu), apabila stres berkepanjangan dapat
(tidak
menentu),
apabila
stres
berkepanjangan
dapat

migraine. Reaksi psikis dapat berupa sikap penarikan diri dan mekanisme pertahanan

ego (Tyrer, 1980)

Stres berhubungan dengan hipertensi dengan aktivitas saraf simpati yang

beraktivitas, peningkatan saraf simpatis dengan meningkatkan tekanan darah secara

intermitten

menyebabkan

tekanan darah menetap tinggi (Sidabutar, R. P.1990)

Hormon epinefrin (adrenalin) dan kortisol yang dilepas saat stress akan

menyebabkan peningkatan tekanan darah dengan menyempitkan pembuluh darah dan

meningkatkan tekanan jantung. Besarnya peningkatan tekanan darah tergantung pada

beratnya stres dan sejauh mana kita dapat mengatasinya. Pengaruh stres yang akut

biasanya hanya sementara namun jika secara teratur menderita stres maka kenaikan

tekanan darah dalam jangka lama akan menyebabkan kerusakan jantung, arteri, otak,

ginjal, dan mata (Sheps, S.G. 2005).

d. Konsumsi Alkohol.

Alkohol

juga

dihubungkan

dengan

peningkatan

tekanan

darah.

Suatu

penelitian yang dilakukan terhadap pemnium alkohol selama 4 tahun, didapatkan

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

38

untuk insiden hipertensi 4 kali lebih tinggi peminum alkohol berat atau > 60 gr/hari

jika dibanding dengan yang bukan peminum. (Mohan, M.C 1984). Pernyataan yang

sama diungkapkan oleh Beever dan Mac Gregor (1995) juga mendukung bahwa

orang

yang

mengkonsumsi

minuman

beralkohol

dalam

jumlah

besar

dapat

meningkatkan tekanan darah. Minuman alkohol mengandung etanol dengan kadar

dan air. Minuman-minuman beralkohol yang berlebihan
dan
air.
Minuman-minuman
beralkohol
yang
berlebihan

berbeda-beda, makin tinggi kadar etanolnya semakin keras minuman tersebut.

Minuman beralkohol dalam jumlah sedikit tidaklah menaikkan tekanan darah,

ini berarti yang menjadi masalah adalah minuman-minuman beralkohol dalam jumlah

berlebihan, terlalu banyak minum akan meningkatkan tekanan darah. Alkohol dalam

darah merangsang pelepasan epinefrin (adrenalin) dan hormon-hormon lain yang

membuat pembuluh darah menyempit atau menyebabkan penumpukan lebih banyak

natrium

menyebabkan

kekurangan gizi yaitu penurunan kadar kalsium dan magnesium. Kadar yang rendah

dari kedua jenis mineral ini ada kaitannya dengan peningkatan tekanan darah (Shep,

S.G.2005).

Alkohol juga dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah. Efek terhadap

tekanan

darah

baru

nampak

apabila

mengkonsumsi

alkohol sekitar 2-3 gelas

(Karyadi, E.2002)

2.2.3. Perjalanan Klinik dan Komplikasi Dari Hipertensi

Mudah dimengerti mengapa bertambah tingginya tekanan darah seseorang

dan bertambah besar kemungkinan terjadinya mordibitas atau bahkan mortalitas.

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

39

Dari pengalaman klinik terlihat perjalanan klinik penderita hipertensi esensial sebagai

berikut :

Faktor herediter dan lingkungan

esensial sebagai berikut : Faktor herediter dan lingkungan Prahipertensi Hipertensi Dini Tidak Terkomplikasi
Prahipertensi Hipertensi Dini Tidak Terkomplikasi 1.Hypertensi maligna 3. pembuluh darah 4.
Prahipertensi
Hipertensi Dini
Tidak
Terkomplikasi
1.Hypertensi maligna
3.
pembuluh darah
4.

2.Jantung : Gagal jantung, Hipertofi, Infark

Pembuluh darah besar: Aneurisme robeknya

Serebral : Iskhemia, Thrombosis, Perdarahan

5. Ginjal Sclerosis, gagal ginjal

2.1 Skema perjalanan klinik dari hipertensi esensial (Kaplan, 1983)

Tekanan darah tinggi dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi dapat

timbul akibat tekanan darah yang tinggi itu seperti maligna (acceralated), enselopati,

perdarahan otak hyperterofi ventrikel kiri, gagal jantung kongestip, insufiensi ginjal,

robek aorta. Komplikasi yang lain adalah karena peranan hipertensi dalam terjadinya

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

40

arterosklosis seperti misalnya, Trombosis serebral, Infark miokrad, Penyakit jantung

koroner (Sidabutar, R.P.1996).

Komplikasi umumnya terjadi pada hipertensi berat yaitu apabila tekanan

diastolik sama atau > 130 mmhg atau kenaikan tekanan darah yang mendadak tinggi

(Sidabutar, R.P.1990).

Berdasarkan luasnya kerusakan organ tubuh
Berdasarkan
luasnya
kerusakan
organ
tubuh

(komplikasi),

klasifikasi

hipertensi dibagi menjadi tiga tingkat (WHO, 1978), yaitu :

Tingkat I :

Tidak ada gejala yang objektif dari perubahan atau kelainan organ yang

terlihat, keluhan penderita pada fase ini tidak tergantung dari tinggi rendahnya

tekanan darah.

Tingkat II

Sekurang-kurangnya salah satu gelaja dibawah ini dijumpai : hipertropi bilik

kiri (pemeriksaan fisik radiology, elektro kardiorafi), penyempitan arteri retina secara

umum atau lokal, protenuria dan atau sedikit kenaikan kreatinin plasma.

Tingkat III

Gejala sudah ada sebagai akibat kerusakan target organ, yaitu (jantung otak

enselopati hipertensi, perdarahan otak dan batang otak, fundus okuli perdarahan dan

eksudat pada retina dan papillodema) (Sidabutar, R.P.1996).

Umumnya komplikasi terjadi pada hipertensi berat yaitu apabila tekanan

diastolik sama atau >130 mmhg atau kenaikan tekanan darah mendadak tinggi. Alat

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

41

tubuh yang sering terserang akibat hipertensi adalah mata, ginjal, jantung, dan otak.

Mata berupa pendarahan retina, gangguan

penglihatan sampai dengan kebutaan.

Untuk hipertensi ringan dan sedang, komplikasi jantung koroner lebih banyak

ditemukan

dibandingkan

komplikasi

lain

yang

timbul

akibat

hipertensi

berat.

(Sidabutar, R.P.1996).

ditujukan untuk menurunkan tekanan darah secara
ditujukan
untuk
menurunkan
tekanan
darah
secara

Dibeberapa negara mempunyai pola komplikasi yang berbeda-beda. Di jepang

gangguan serebrovaskuler lebih mencolok dibandingkan di Amerika dan di Eropa

Komplikasi jantung lebih banyak ditemukan, di Indonesia belum ada terdapat data

mengenai hal ini, akan tetapi komplikasi serebrovaskuler dan komplikasi jantung

sering ditemukan pada hipertensi ringan dan sedang, penurunan tekanan darah

dilakukan secara bertahap, sedangkan pada hipertensi maligna dan krisis hipertensi,

dengan

pengobatan

cepat,

hitungan waktu dalam jam atau bahkan dalam menit, hal ini sangat penting, karena

peningkatan tekanan darah dengan cepat akan mempermudah terjadinya komplikasi.

Perbedaan antara keduanya kadang-kadang tidak jelas sehingga pengelolaan secara

profesional sangat diperlukan (Sheps, S.G.2005).

2.2.4. Pencegahan dan Penanggulangan Hipertensi

Dengan mengurangi tekanan darah tinggi dibawah 140/90 mmhg merupakan

pencegahan relatif lebih mudah dari pengobatan, pencegahan terhadap hipertensi

dikategorikan 4 tingkatan :

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

42

a. Pencegahan Primordial :

Pencegahan primordial : Usaha pencegahan predisposisi terhadap hipertensi,

belum terlihat adanya faktor yang menjadi resiko hipertensi, contoh adanya peraturan

pemerintah membuat peringatan pada rokok, dengan melakukan senam kesegaran

jasmani untuk menghindari terjadinya hipertensi (Bustam, M N.1997)

Yang dimaksud pencegahan primer adalah upaya
Yang
dimaksud
pencegahan
primer
adalah
upaya

b.

Pencegahan Primer

pencegahan

sebelum

seorang penderita terserang hipertensi, dilakukan pencegahan melalui pendekatan,

seperti penyuluhan mengenai faktor-faktor resiko hipertensi serta kiat agar terhindar

dari hipertensi dengan cara menghindari merokok, konsumsi alkohol, obesitas, stress

(Tara, E.1999)

c.

Pencegahan Sekunder

Upaya pencegahan hipertensi ditujukan kepada penderita hipertensi yang

sudah terserang agar tidak menjadi lebih berat. Tujuan pencegahan sekunder ini

ditekankan kepada pengobatan penderita hipertensi mencegah penyakit hipertensi

kronis (Tara, E.1999)

d. Pencegahan Tersier

Pencegahan terjadinya komplikasi yang berat dan menimbulkan kematian,

contoh melakukan rehabilitasi. Pencegahan tertier ini tidak hanya mengobati juga

mencakup upaya timbulnya komplikasi kardiovaskuler seperti infark jantung, stroke

dan lain-lain, terapi diupayakan dalam merestorasi jaringan yang sudah mengalami

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

43

kelainan atau sel yang sudah rusak akibat hipertensi, agar penderita kembali hidup

dengan kualitas normal (Sidabutar, R.P.1996).

2.2.6. Penanggulangan hipertensi dibagi menjadi dua yaitu :

a. Penatalaksanaan non farmakologis

pengamanan tekanan darah tetap atau lebih
pengamanan
tekanan
darah
tetap
atau
lebih

periode

Kadang-kadang dapat mengendalikan dengan tetap mengamati, bila pada

tindakan

akhir

tinggi

penatalaksanaan farmakologis dapat ditambahkan, bila tekanan darah menurun, tetap

dapat di teruskan (Budisetio. M.2001).

b.

Penatalaksanaan Secara Farmakologis

Penatalaksanaan keputusan ini untuk mulai memberikan obat anti hipertensi

berdasarkan beberapa faktor seperti derajat peniggian tekanan darah, terdapatnya

kerusakan organ target, manifestasi klinis penyakit kardiovaskuler, obat-obat anti

hipertensi yang sudah terbukti kegunaannya bagi penderita. Tersedianya golongan

obat mampu memanipulasi tekana darah, baik yang bekerja secara sistematik maupun

perifer (Sidabutar, R.P.1996).

2.2.6 Berdasarkan Pengobatan Hipertensi Sebaiknya disertai Beberapa Prinsip

Yaitu :

a.

Pengobatan

hipertensi

sekunder

lebih

mendahulukan

pengobatan

kausal,

pengobatan hipertensi esensial bertujuan untuk menurunkan tekanan darah

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

44

b.

dengan harapan dapat memperpanjang umur

komplikasi.

dan mengurangi timbulnya

Upaya menurunkan tekanan darah dapat dicapai dengan menggunakan anti

hipertensi dengan pengobatan jangka panjang bahkan seumur hidup.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan obat hipertensi :

1. Harga obat relatif murah dan terjangkau oleh penderita 2. Mempunyai efektifitas yang tinggi 3.
1.
Harga obat relatif murah dan terjangkau oleh penderita
2.
Mempunyai efektifitas yang tinggi
3.
Tidak menimbulkan intoleransi
4.
Mempunyai toksisitas dan efek samping yang ringan atau minimal
5.
Memungkinkan pengobatan obat secara oral
6.
memungkinkan penggunaan obat jangka panjang

Penatalaksanaan non farmakologis yaitu tindakan-tindakan mengurangi faktor

resiko yang telah diketahui akan menyebabkan atau menimbulkan komplikasi seperti

menurunkan berat badan, menghentikan kebiasaan merokok, alkohol, dan megurangi

asam garam, kalsium dan magnesium, sayuran serta olah raga dinamik, seperti lari,

berenang, bersepeda, salah satu anjuran yang umumnya sulit dilakukan, anjuran hidup

tanpa

stres

terutama

dalam

kondisi

kehidupan

(Sidabutar,R.P.1996).

Untuk

pencegahan Puskesmas dapat berfungsi sebagai :

Peranan Puskesmas

Puskesmas adalah sebagai ujung tombak sistem pelayanan kesehatan di

negara kita, melakukan upaya penanganan pertama pada penderita hipertensi. Peranan

khusus Pelayanan Kesehatan

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

45

Pertama :

Salah satunya yang berhubungan erat dengan masyarakat adalah :

melakukan kesehatan pencegahan, memberikan penyuluhan pada masyarakat dan

bahaya hipertensi yang tidak terkendali dengan baik.

dan bahaya hipertensi yang tidak terkendali dengan baik. Kedua : Secara tidak langsung berkaitan dengan tugas

Kedua :

Secara tidak langsung berkaitan dengan tugas dalam menjaga kesehatan, yaitu

dalam mencegah penyakit yang dapat menimbulkan hipertensi esensial.

Ketiga :

Dengan memahami komplikasi jangka panjang dari hipertensi dan komplikasi

akibat tingginya tekanan darah, petugas kesehatan seyogianya dapat menghindarkan

terjadinya komplikasi dalam tugas sehari-hari(Sidabutar,R.P.1996)

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

46

2.3. Landasan Teori

Pendekatan tentang timbulnya penyakit digambarkan dengan menggunakan

model roda (The Whell Theory) yang menjelaskan bahwa

timbulnya penyakit

disebabkan oleh adanya pengaruh faktor pejamu (Host)dan lingkungan (Environment)

yang digambarkan sebagai roda pedati. Roda terdiri dari sumbu yaitu Host yang

Sosial Environmen - Obesitas - - Merokok Stres - Konsumsi Alkohol Biological Environmen Genetic Care
Sosial Environmen
-
Obesitas
-
-
Merokok
Stres
-
Konsumsi Alkohol
Biological Environmen
Genetic Care
Host (Man)

diperankan oleh faktor genetik sebagai intinya dan lingkungan (Environment) sebagai

faktor yang mempengaruhi Host, sehingga akan timbul penyakit secara individu

maupun keseluruhan populasi yang mengalami perubahan tersebut ( Murti,B.1995)

Physical Environmen

Gambar

1.1.Model

roda

(The

Whell

Model)

untuk

menggambarkan

hubungan

interaktif manusia dan lingkungan ( Murti ,B. 1995)

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

47

Kasus Hipertensi Esensial ada beberapa faktor yang mempengaruhinya yang

dapat meningkatkan kesakitan dan kematian yang dapat dikelompokkan berdasarkan

model roda diatas yaitu :

a. Host (Pejamu)

Host (Pejamu) adalah manusia

diatas yaitu : a. Host (Pejamu) Host (Pejamu) adalah manusia b. Biologi Biologi adalah yang ada

b. Biologi

Biologi adalah yang ada dalam tubuh manusia

c. Environmen (.Lingkungan)

Faktor diluar penderita yang akan mempengaruhi keberadaan host yang terdiri

dari lingkungan biologis, fisik, dan sosial .Dalam penelitian ini yang berperan sebagai

faktor lingkungan meliputi Hipertensi esensial, obesitas, merokok, stres, konsumsi

alkohol.

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

48

2.4. Kerangka konsep penelitian

Obesitas Merokok Hipertensi Esensial Stres Konsumsi Alkohol Keterangan : Variabel yang diteliti
Obesitas
Merokok
Hipertensi Esensial
Stres
Konsumsi
Alkohol
Keterangan
: Variabel yang diteliti

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

49

Bab 3

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah studi analitik dengan jenis penelitian studi kasus kontrol

(case control study), dengan memilih kasus (yang menderita hipertensi esensial) dan

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan Kasus Hipertensi esensial Obesitas Merokok Stres Konsumsi Alkohol
Berdasarkan
rumusan
masalah
dan
tujuan
Kasus
Hipertensi esensial
Obesitas
Merokok
Stres
Konsumsi Alkohol
Kontrol
Tidak Hipertensi

kontrol (yang tidak menderita hipertensi). Paparan yang dialami penderita hipertensi

(subjek) pada waktu lampau (retrospektip) diukur dengan melakukan wawancara

langsung.

Desain penelitian

penelitian dalam penelitian ini

desain penelitian terdiri dari variabel independen yaitu : faktor eksternal (obesitas,

merokok, konsumsi alkohol, stres) dan sebagai variabel dependen adalah penderita

hipertensi esensial dan tidak menderita hipertensi ,desai penelitian seperti dibawah ini

:

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang

Tahun 2007, 2008

USU Repository © 2008

50

50 Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

51

3.2 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera

Utara.

Pemilihan

lokasi

ini

berdasarkan

laporan

penyakit

yang

disampaikan

Puskesmas dan berdasarkan profil kesehatan, penyakit ini menduduki urutan ke lima

penyakit utama di Kabupaten Deli Serdang. Populasi dalam penelitian ini adalah bulan Juni 2007 sebagaimana
penyakit
utama
di
Kabupaten
Deli
Serdang.
Populasi dalam penelitian
ini
adalah
bulan Juni 2007 sebagaimana terdaftar
di nomor
register

Populasi

dari

sepuluh

Berdasarkan

pada

kepentingan penelitian di Kabupaten Deli Serdang belum pernah dilakukan penelitian

untuk menyusun program pencegahan Hipertensi Esensial melaui faktor risiko.

3.2.2

Waktu

Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari 2007 sampai dengan Juni 2007.

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1

seluruh penderita yang Berkunjung

memeriksakan penyakitnya ke Puskesmas Deli Serdang bulan Januari 2007 sampai

pengobatan.

dengan

3.3.2

Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah penderita yang berkunjung di Puskesmas

Lubuk Pakam, Puskesmas Tanjung Morawa dan Puskesmas Bandar Khalipah, hal ini

dipilih menjadi penelitian disebabkan Rekam Mediknya baik sehingga mudah untuk

mengambil data untuk penelitian.

a.

Kasus

Kasus adalah penderita yang didiagnosis hipertensi esensial dengan tekanan

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

52

darah 140/90 mmHg di Puskesmas

Lubuk

Morawa, dan Puskesmas Bandar Khalipah

b.

Kontrol

Pakam, Puskesmas Tanjung

Kontrol adalah penderita yang bukan penderita hipertensi yang melakukan

pemeriksaan di Puskesmas Lubuk Pakam, Puskesmas Tanjung Morawa,

pendidikan dan pekerjaan . Obesitas OR=4,49 jumlah sampel=37 orang Riwayat Keluarga OR =4,48 Jumlah sampel
pendidikan dan pekerjaan .
Obesitas OR=4,49 jumlah sampel=37 orang
Riwayat Keluarga OR =4,48 Jumlah sampel = 38 orang
Stres OR= 3,6 jumlah sampel = 48 orang

Puskesmas Bandar Khalipah, mempunyai karakteristik yang sama dengan

kasus yaitu : umur, jenis kelamin , riwayat keluarga tidak hipertensi, suku,

3.3.3 Besar Sampel

Odds ratio dari beberapa variabel yang mempunyai hubungan yang bermakna

dengan kejadian hipertensi esensial dengan penelitian terdahulu dan jumlah sampel)

Pada Penelitian Miswar 1984

1.

2

3

4. Konsumsi Merokok OR = 2.25 jumlah sampel = 29 orang

Perhitungan besar sample dipakai rumus : Lwanga and Lemeshow (1997), yaitu:

P 1 =

P

1 =

(

)

OR P

2

(

)

OR P

2

(

+

(1

P

2

)

)

2,25 0,3

(2,25)0,3

+

(1

0,3)

= 0,5

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

53

n =

{

z 1 α

/ 2

[2

P

2

*( 1

P

2

* )]

+

Z

1

β

2 [ P *( 1 − P * ) + P *(1 − P *)
2
[
P
*( 1
P
* )
+
P
*(1
P
*) ]}
1
1
2
2

(

P

1

*

P

2

*)

2

Dengan menggunakan ketentuan proporsi keterpaparan faktor penderita tidak

hipertensi esensial sebesar 30%, perkiraan Odds Ratio untuk Hipertensi Esensial dari

hasil penelitian Miswar, dari OR terkecil pada merokok = 2,25 tingkat kemaknaan

95 % α = 0,05 dan power: 80%. { )} 1,960 2,25 x 0,3 x
95 % α = 0,05 dan power: 80%.
{
)}
1,960
2,25
x
0,3
x
0,7
+
0,842
(
0,4615
x
0,5385
+
0,3
x
0,7
n=
= n= 93,98=94
(
2,9
0,3
) 2
digunakan 100 Orang + 10 % = 110 orang untuk menghindari bias semakin kecil.
3.4 Metode Pengambilan Sampel
Metode
pengambilan Data ditetapkan secara purposive yaitu 3 Puskesmas
yang ada di Kabupaten Deli Serdang, yaitu ; Puskesmas Lubuk Pakam, Puskesmas
Tanjung Morawa, dan Puskesmas Bandar Khalipah. Besar sampel pada setiap sampel
dihitung secara proporsional dengan rumus :
n
nx = NX N
N = besar total populasi

nx = besar sampel untuk setiap stratum

NX= besar populasi (kasus di stratum X)

n = besar sampel keseluruhan (220 orang)

maka sampel adalah untuk kasus 110 orang dan kontrol 110 orang.

Besar sampel masing-masing Puskesmas dapat dilihat pada tabel 3.1 di bawah ini

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

54

Tabel 3.1 Jumlah Populasi (kasus) dan sampel di Wilayah kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang yang akan diteliti tahun 2006

No Puskesmas Jumlah Populasi Jumlah sampel 1 Puskesmas Lubuk Pakam 332 43 2 Puskesmas Tanjung
No
Puskesmas
Jumlah Populasi
Jumlah sampel
1
Puskesmas Lubuk Pakam
332
43
2
Puskesmas Tanjung Morawa
248
30
3
Puskesmas Bandar Khalipah
289
37
Jumlah
869
110
3.4.1.Pemiliham Sampel
Kasus dan control
3.4.3 Uji Validitas dan Realibilitas
Tabel 3.3.Hasil Uji Validitas dan Realibilitas fariabel independen dan Dependen
V.Independen
Item Pertanyaan
r-Hitung
Status
Alpha crombach
Status
Obesitas
1
0,9333
Valid
0,9910
Realibel
2
0,9353
Valid
0,9910
Realibel
3
0,9413
Valid
0,9912
Realibel
4
0,9036
Valid
0,9911
Realibel
Merokok
1
0,9856
Valid
0,9915
Realibel
2
0,9773
Valid
0,9917
Realibel
3
0,7976
Valid
0,9919
Realibel
4
0,8765
Valid
0,9932
Realibel
5
0,8449
Valid
0,9974
Realibel
Stres
1
0,8754
Valid
0,9921
Realibel
2
0,8856
Valid
0,9920
Realibel
3
0,9432
Valid
0,9918
Realibel
4
0,9023
Valid
0,9916
Realibel
5
0,9205
Valid
0,9926
Realibel
6
0,9346
Valid
0,9972
Realibel
7
0,8038
Valid
0,9914
Realibel
8
0,8976
Valid
0,9916
Realibel
9
0,9456
Valid
0,9919
Realibel
10
0,9074
Valid
0,9921
Realibel
11
0,8759
Valid
0,9934
Realibel
12
0,8759
Valid
0,9922
Realibel
Minum Alkohol
1
0,9566
Valid
0,9926
Realibel
2
0,8045
Valid
0,9917
Realibel
3
0,8674
Valid
0,9935
Realibel
4
0,8975
Valid
0,9922
Realibel

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

55

 

5

0,8957

Valid

0,9920

Realibel

6

0,8563

Valid

0,9918

Realibel

7

0,8256

Valid

0,9915

Realibel

V.Dependen Tekanan Darah

1

0,8754

Valid

0,9922

Realibel

2

0,8854

Valid

0,9917

Realibel

3

0,9433

Valid

0,9935

Realibel

4

0,9022

Valid

0,9932

Realibel

5

0,9205

Valid

0,9920

Realibel

6

0,9342

Valid

0,9918

Realibel

7

0,8033

Valid

0,9915

Realibel

Uji Validitas terhadap butir butir pertanyaan apabila r tabel lebih besar 0,329,

butir butir pertanyaan apabila r tabel lebih besar 0,329, Dan dikatakan realibel apab ila alpha >0,06.

Dan dikatakan realibel apabila alpha >0,06. Dari hasil pengamatan semua nilai r dari

masing-masing instrumen mempunyai nilai r hitung lebih besar dari r tabel (0,329)

sehingga instrumen pertanyaan dikatakan valid, dan Koefisien Alpha Cronbach dari

semua variabel > 0,6 sehingga pertanyaan semua item Realibel.

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

56

Kasus dan Kontrol

a. Kasus : Pemilihan sampel dilakukan secara sistimatik random sampling yaitu

daftar nama kasus diberi penomoran seluruh penderita hipertensi dimasukkan

angka hasil yang diperoleh merupakan intrval untuk menetapkan sampel yang

terpilih setiap kelipatan interval dapat dilihat pada tabel 3,2 dibawah ini:

tahun 2007 No Puskesmas Kelipatan 1 Lubuk Pakam 7 2 Puskesmas Bandar Khalipah 8 3
tahun 2007
No
Puskesmas
Kelipatan
1
Lubuk Pakam
7
2
Puskesmas Bandar Khalipah
8
3
Puskesmas Tanjung Morawa
8
pekerjaan.umur, jenis kelamin, dan dilakukan matching,

Tabel 3.2. Interval Kasus terpilih di tiga Puskesmas Deli Serdang yang diteliti

b.

Kontrol : Cara penentuan kontrol adalah dipilah kelompok hipertensi yang

sudah terpilih sebagai sampel, kelompok tidak hipertensi., setiap sampel

dipilih persamaannya, dengan karakteristik yang sama yaitu: pendidikan dan

3.4.2.Tehnik Pengumpul data

Untuk mendapatkan informasi dari subjek penelitian dilakukan wawancara

langsung terhadap kasus maupun kontrol dengan menggunakan kuisioner.

3.4.3. Alat/Instrumen Pengumpul Data

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

57

a Untuk pengumpulan data primer digunakan instrumen penelitian berupa

kuisioner yang sebelumnya terlebih dahulu diuji cobakan kepada penderita

hipertensi esensial di Wilayah kerja tiga Puskesmas atau bukan penderita

hipertensi esensial di wilayah kerja tiga Puskesmas (L.Pakam, Puskesmas

Bandar Khalipah, Puskesmas Tanjung Morawa) dengan karakteristik kurang

lebih mirip dengan dengan temu uji coba. b.Pengumpulan data sekunder berdasarkan catatan medik Puskesmas Deli
lebih mirip dengan
dengan temu uji coba.
b.Pengumpulan data sekunder berdasarkan catatan medik
Puskesmas Deli Serdang.
tanpa
disertai
penyakit
lain , skala
pengukuran

nominal

populasi di lokasi penelitian dan selanjutnya direvisi

di Wilayah tiga

3.5.Defenisi Operasional

Hipertensi Esensial: adalah

diagnosa penyakit penderiata, yang didiagnosis oleh

dokter sebagai hipertensi esensial,dengan tekanan darah 140/90 mmHg

hipertensi

esensial dan tidak hipertensi esensial ( tekanan darah 140/90 mmHg)

Obesitas : adalah individu yang mempunyai kelebihan berat badan dengan BMI27

dan tidak Obesitas dengan BMI 27 dengan ketentuan WHO 2002 skala

pengukuran nominal Obesitas dan tidak obesitas.

Merokok: Kebiasaan untuk mengkonsumsi rokok untuk setiap hari maupun sesaat,

Stres

Atau

sudah pernah merokok Skala pengukuran nominal ya dan tidak.

: Semua keadaan perubahan fisik , mental, maupun sosial, individu akibat

adanya stresor psikososial sehingga perlu penyesuaian baru ,ditanyakan

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

58

dengan seperangkat pertanyaan dan diberi nilai /skor lihat lanpiran NO: 2

Dikatakan stres apabila skor 13

Tidak stres skor 13

Minum Alkohol: Pernah

tidaknya

mengkonsumsi

minuman

yang

mengandung

alkohol pengukuran dengan skala nominal ya, bila pernah mengkonsumsi

alkohol tidak, bila tidak pernah mengkonsumsi alkohol.
alkohol
tidak, bila tidak pernah mengkonsumsi alkohol.

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

59

Variabel dan Defenisi Operasional

Tabel

Variabel,Defenisi operasional, Cara dan Alat Ukur, Hasil Ukur, Skala Ukur

Variabel Definisi Operasional Cara dan Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur Dependen Hipertensi Penderita hipertensi
Variabel
Definisi Operasional
Cara dan Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala Ukur
Dependen
Hipertensi
Penderita hipertensi yang
mempunyai tekanan darah
sistolik ≥140 mmHg dan
diastolic ≥90 mmHg.
Catatan status
dengan diagnosa
hipertensi di tiga
wilayah Puskesmas
Hipertensi T/D
Nominal
≥140/90mHg
Tidak
hipertensi≤
140/90
Independen
Gemuk
Individu yang mempunyai
kelebihan berat badan dengan
Indeks Massa Tubuh (IMT) ≥
Wawancara
Obesitas
Nominal
sekali
langsung
Tidak Obesitas
(kuisioner)
27,0
Stress
Wawancara
Stress
Nominal
Tingkat stres diukur dengan
cara memberikan nilai pada
masing-masing pertanyaan
jawaban dimulai 0.1,2,3.
.untuk menentukan tingkat
langsung
Tidak stress
(kuisioner)
stres ditetapkan berdasarkan
nilai = N+1
2
di katagorikan :
stres jika
skor ≥ 13
2 tidak stres
skor ≤ 13
1
Merokok
Wawancara
Merokok
:Riwayat pernah atau
tidaknya penderita hipertensi
merokok
Nominal
langsung
Tida merokok
(kuisioner)
Minum
Wawancara
Minum
Nominal
Alkohol
Riwayat pernah atau tidaknya
penderita hipertensi merokok
langsung
alkohol
(kuisioner)
Tidak minum
alkohol

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

60

3.6 .Metode Pngumpulan Data

Sebelum data dikumpulkan dari penderita hipertensi esensial dan penderita

tidak

hipertensi

esensial

terlebih

dahulu

kuisioner

diuji

validitasnya

dengan

melakukan uji realibilitas pada pertanyaan yang diajukan.

Pengumpulan data dilakukan untuk jenis data : melalui wawancara langsung
Pengumpulan data dilakukan untuk jenis data :
melalui
wawancara
langsung

1. Data Primer : Dikumpulkan

kepada responden

dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuisioner. Data primer yang

dikumpulkan adalah semua data yang termasuk variabel independen dan variabel

dependen.wawancara dilakukan dengan melakukan kunjungan kerumah responden

pada saat penelitian. Responden adalah penderita hipertensi esensial dan bukan

hipertensi esensial yang sudah terpilih menjadi sampel.

2. Data Skunder Yaitu data yang diperoleh dari catatan kartu status diagnosa pasien

hipertensi

esensial dan penderita yang menderita penyakit dan tidak terindikasi

hipertensi atau pencatatan dilaksanakan dengan cara wawancara langsung, dan

mengisi kuisioner kepada masing-masing penderita baik yang hipertensi esensial

ataupun yang tidak menderita hipertensi di bantu oleh petugas poliklinik .

3. Pengolahan Data

Dilakukan pengolahan data menurut tahapan:

a. Editing (Pemeriksaan data)

Data

diperiksa

kelengkapan dan ketetapan kejelasan pengisian kuisioner.

Apabila

ada

isian

yang

kurang

jelas

atau kurang lengkap, maka akan

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

61

dilengkapi dengan wawancara ulang sampai pengisian kuisioner jelas dan

lengkap.

b Coding (Pemberian Kode)

Data yang terkumpul dikoreksi kelengkapannya diberi kode secara manual

sebelum dientry dengan komputer.

Versi 11 untuk diolah. Pemeriksaan kembali semua data untuk menghindari memasukkan data yang memberi hasil
Versi 11 untuk diolah.
Pemeriksaan
kembali
semua
data
untuk
menghindari
memasukkan data yang memberi hasil akhir yang tepat.

c Entry (Pemasukan Data ke komputer)

Data semuanya diperiksa dan dimasukkan ke dalam program komputer SPSS

d Cleaning Data Entry

kesalahan dalam

3.7 Metode analaisa data

Hasil data yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah dan diperiksa dengan

menghitung Odds Ratio (OR) serta diuji kemaknaannya.

3.7.1. Analisa Univariat

Analisa univariat ini digunakan untuk mendapatkan gambaran distribusi

frekuensi atau besarnya proporsi menurut berbagai variabel yang diteliti, baik

variabel bebas (Obesitas, merokok, stres, minum alkohol ) maupun variabel terikat

(hipertensi esensial).

3.7.2 Analisa Bivariat

Tujuannya untuk mengetahui kekuatan hubungan antara variabel independen

(bebas) dengan varabel dependen (terikat) yang diuji satu persatu. Uji statistik yang

Roslina : Analisa Determinan Hipertensi Esensial Di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007, 2008 USU Repository © 2008

62

dilakukan adalah uji chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05 ), dengan

rumus sebagai berikut:

X2 =

(

)

fo fe 2

(

fe

)

X2 = harga chi kuadrat yang dihitung dibandingkan dengan chi kuadrat tabel

Fo = frekuensi yang diselidiki Fe = frekuensi teoritis atau yang diharapkan Analisa multivariat ini
Fo = frekuensi yang diselidiki
Fe = frekuensi teoritis atau yang diharapkan
Analisa
multivariat
ini
dilakukan
untuk
mengetahui
faktor