Anda di halaman 1dari 5

I.

Tujuan
Mahasiswa dapat membuat dan mengevaluasi sediaan gel dengan bahan aktif Na
Diklofenak.
II. Dasar Teori
Gel didefinisikan sebagai suatu sistem setengah padat yang terdiri dari suatu
dispersi yang tersusun baik dari partikel kecil organik atau partikel molekul-molekul besar
anorganik yang diinterpenetrasikan dalam sebuah cairan. Gel ada yang tampak transparan
dan ada juga yang translicent karena ingredientnya mungkin tidak terdispersi secara
sempurna atau berbentuk agregat yang sedikit terdispersi. Karakter umum gel yaitu
memiliki struktur kontinue seperti sifat dari bahan padat. Gel dimana makromolekulnya
disebarkan keseluruh cairan sampai tidak terlihat batas diantaranya disebut gel satu fase.
Fase kontinue biasanya air, tetapi dapat juga dari golongan alkohol atau minyak. Pada
masa gel yang merupakan jalinan dari partikel kecil dan terputus digolongkan sebagai
sistem dua fase. Jika ukuran partikum dan fase terdispersi relatif besar biasanya disebut
dengan magma. Gel dan magma dianggap sebagai dispersi koloid oleh karena masingmasing mengandung partikel-partikel dengan ukuran koloid (Lachman, 1994)
Yang membedakan antara dispersi koloid dengan larutan murni adalah besarnya
ukuran partikel fase terdispersi yang membentuk preparat ini. Perbedaan lainnya adalah
sifat optik dari kedua sistem tersebut. Larutan murni tidak dapat memancarkan cahaya,
oleh karena itu kelihatan jernih, tapi dispersi koloid mengandung partikel-partikel yang
buram yang dapat menyebarkan cahaya sehingga tampak keruh. Penggolongan dan
deskripsi gel dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Kelas

Deskripsi

Contoh

Inorganik

Biasanya sistem dua fase

Gel aluminium hidroksida,


bentonit magma.

Organik

Sistem satu fase

Carbopol, tragacant.

Hidrogel

Mengandung air

Silika, bentonit, pektin,


alumina, Na-alginat, metil
selulosa.

Organogel

Tipe hidrokarbon, lemak


hewan atau sayur, lemak
basa-sabun
hidrofilik
organogel.

Petolatum,
mineral
oil/
polietilen gel, plastibase
lard,
cocoa
butter,
aluminium stearat, gel yang
mengandung
minyak
mineral
dan
banyak
carbowax, bases atau PEG.

Hidrogel

Organik hidrogel, natural Tragacant jelly, pasta pektin,


dan sintetik gum, inorganik metil
selulosa,
Nahidrogel.
karboksimetil,
selulosa
pluronik f-127, bentonit gel

(10%-25%) veegum.
Selain penggolongan diatas ada juga yang disebut xerogel, xerogel adalah gel
yang berbentuk padat yang dikeringkan dengan cara penyusutan. Xerogel biasanya
mempertahankan porositas yang tinggi (25%), luas permukaan yang besar (150-900 m 2/g)
dan ukuran porinya kecil (1-10 nm). Saat pelarutnya dihilangkan dibawah kondisi
superkritikal, jaringannya tidak menyusut dan porous, dan terbentuk aerogel.
Viskositas secara khusus meningkat dan apabila konsentrasi dari molekul-molekul
cukup tingi, sol yang cair dapat menjadi dispersi setengah padat atau padat yang
dinamakan gel. Perubahan temperatur menyebabkan gel tertentu mendapatkan kembali
bentuk sol atau bentuk cairnya. Beberapa gel menjadi encer setelah pengocokan dan segera
menjadi setengha padat atau padat kembali setelah dibiarkan tidak terganggu untuk
beberapa waktu tertentu, peristiwa ini disebut sebgai tiksotropi.
Basis gel sebagian besar berupa polimer-polimer. Gel merupakan crosslinked
system dimana aliran tidak akan terjadi apabila berada dalam keadaan steady state.
Sebagian bahan merupakan liquid tetapi gel memiliki sifat seperti padatan karena adanya
iktan 3 dimensi didalam larutan. Ikatan ini mengakibatkan adanya sifat sweeling dan
elastic. Untuk melihat kerusakan dari struktur gel dapat dilihat dari kekuatan/ rigidness dari
gel tersebut. Temperatur tingi dapat mengakibatkan kekuatan dari gel meningkat oleh
karena itu proses penyimpanan dari sediaan berbentuk gel harus diperhatikan.
Keluhan rasa sakit merupakan salah satu alasan dokter dalam pemberian
analgetika, salah satu analgetika pilihan adalah AINS. Tiap AINS memiliki kekhasan
farmakokinetika dan farmakodinamika yang merupakan pertimbangan farmakologi
sebelum peresepannya. Pada kenyataannya, tidak satupun AINS dengan selektivitas
menghambat COX-2 bebas dan efek samping pada saluran cerna dan berbagai efek
samping lainnya diluar saluran cerna, misalnya pada sistem kardiovaskular. Pertimbangan
farmakologi dalam pemilihan AINS sebagai anti nyeri rematik adalah sebagai berikut :
AINS terdistibusi ke sinovium
Mula kerja AINS sesegera mungkin
Masa kerja AINS panjang
Bahan aktif AINS bukan rasemik
Bahan aktif AINS bukan produk
Efek samping AINS minimal
Memberikan interaksi yang minimal
Mekanisme kerja multifaktor.
OAINS tidak bersifat adiktif dengan efek samping yang pada umumnya ringan
dan reversibel meskipun obat ini memiliki efek samping pendarahan saluran cerna dan
gangguan pada ginjal. OAINS dibagi menjadi yang selektif terhadap COX-1 seperti
ibuprofen, naproxon, atau diklofenak dan selektif COX-2 seperti nabumeton, etodolac,
eloxicam, dan sebagainya.
Natrium diklofenak merupakan senyawa organik dan mengandung gugus fenil
amino asetat. Natrium diklofenak mengandung gugus penghambat siklooksigenase pada
mekanisme aksi dan juga diklasifikasikan sebagai analgesik dan antiinflamasi. Berat

molekul dari Na diklofenak yaitu 318,10 dengan pKa 4. Dibawah ini adalah rumus struktur
Na diklofenak:

Natrium diklofenak merupakan salah satu OAINS tradisional yang banyak digunakan
untuk mengobati nyeri dan inflamasi muskoloskeletal. Obat ini diserap sepenuhnya dari
saluran gastrointestinal dengan pemberian secara oral. Beberapa studi klinis natrium
diklofenak yang diberikan sebagai monoterapi atau kombinasi, menunjukkan obat ini
efektif meredam/meredakan gejala osteoartritis (OA) maupun reumatoid artritis (RA).
Studi yang dilakukan di Jerman terhadap 230 pasien menunjukkan, penggunaan diklofenak
dalam sediaan gel untuk pasien OA pada lutut terbukti efektif dan aman untuk meredakan
gejala OA pada lutut. Studi ini dimuat dalam journal Rheumatology.
III. Evaluasi Produk Referen
1. Flamar
Komposisi
: Na diklofenak
Kemasan
: emulgel 10 mg/gram 20 gram
Dosis
: 3-4 kali sehari
Indikasi
: traumatik inflamasi pada tendon, ligamen, otot sendi, rematik jaringan
lunak seperti tendovagitis, bursitis, sindrom bahu-tangan, dan periatrofi.
Penyakit rematik terlokalisasi seperti OA pada sendi perifer dan
kolumna vertebrata.
Efek samping
: dermatitis, kontak alergik/non alergik, ruam kulit yang menyeluruh
dan hipersensitivitas.
2. Voltadex Gel 1% 20 g
Komposisi
: 3 gram gel mengandung Diklofenak diethylamin 11.6 mg yang setara
dengan Diklofenak sodium 10 mg.
Kemasan
: 1 tube @ 20 gram
Dosis
: dioleskan 3-4 kali sehari
Indikasi
: pengobatan lokal pada trauma tendon, reumatik jaringan lunak, cidera,
OA pada sendi-sendi perifer dan kolumna vertebrata.
Efek samping
: gatal dan kemerahan pada kulit.
3. Aclonac
Komposis
Kemasan
Dosis
Indikasi

: 1 gram Aclonac emulsi gel mengandung Diklofenak diethylamine


yang setara dengan 10 mg Diklofenak sodium.
: 1 tube @ 20 gram
: oleskan 3-4 kali sehari
: nyeri pada otot dan sendi, nyeri peradangan pada otot dan sendi,
penyakit rematik, OA serta RA.

Efek samping

: gatal dan kemerahan pada kulit.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi empat. Jakarta : Depkes RI.
Anonim. 1995. Farmakologi dan Terapi. Jakarta : UI Press.
Gaur, R., dkk. 2008. British Pharmacopenia 2009. (electronic version)
Lachman, L., dkk. 1994. Teori dan Pratek Farmasi Industri Edisi 3 Jilid 3. ( electronic
version).