Anda di halaman 1dari 10

PUASA WAJIB DAN SUNNAH

Makalah
Disusun guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Materi dan Pembelajaran Fiqih MTs dan MA
Dosen Pengampu : Drs. H. Ahmad Fauzan, M.Ag

Disusun oleh :

1. Muhammad Irfan S

(112531)

2. Arna Qonaatin N

(112532)

3. Nova Auliyatul Faizah

(112534)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS


JURUSAN TARBIYAH / PAI
2014

Kompetensi Inti :
1.
2.
3.
4.

Memahami ketentuan puasa wajib dan sunnah serta hikmahnya


Menjelaskan ketentuan puasa wajib dan sunnah serta hikmahnya
Menghayati tentang puasa wajib dan sunnah serta hikmahnya
Menelaah tentang puasa wajib dan sunnah serta hikmahnya

Kompetensi Dasar
1. Memahami ketentuan puasa wajib dan sunnah serta hikmahnya
2. Menjelaskan ketentuan puasa wajib dan sunnah serta hikmahnya
3. Mengamalkan puasa wajib dan sunnah
Indikator
1.1 siswa dapat memahami makna puasa wajib dan sunnah serta hikmahnya
1.2 siswa dapat memahami syarat-syarat puasa wajib dan sunnah
1.3 siswa dapat memahami macam-macam puasa
2.1 siswa dapat menjelaskan makna puasa wajib dan sunnah serta hikmahnya
2.2 siswa dapat menjelaskan syarat-syarat puasa wajib dan sunnah
2.3 siswa dapat menjelaskan macam-macam dan hukum puasa
3.1 siswa dapat mengamalkan puasa wajib dan sunnah
Tujuan Pembelajaran
1. Melalui pengamatan dan pelatihan
Siswa dapat mengamati dan melatih puasa wajib dan sunnah
2. Melalui Simulasi
Siswa dapat mengamalkan puasa wajib dan sunnah
3. Melalui Diskusi
Siswa dapat mengetahui tentang puasa wajib dan sunnah
4. Melalui Tanya jawab
Siswa dapat mengerti dan memahami tentang puasa wajib dan sunnah
Materi
A. Ketentuan Puasa
1. Pengertian Puasa
Puasa merupakan terjemah dari shoum (bahasa Arab) yang berarti menahan diri dari sesuatu.
Sedangkan menurut istilah puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa
dimulai dari terbit fajar (subuh) sampai terbenam matahari (maghrib).

Dalam Islam ada beberapa macam puasa, yang paling kita kenal adalah puasa Ramadhan. Puasa
Ramadhan hukumnya wajib bagi yang memenuhi syarat wajib.
2. Rukun Puasa
Puasa merupakan ibadah mahdhah yang pelaksanaannya harus sesuai dengan apa yang telah
dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Oleh karena itu, kita tidak boleh semaunya sendiri dalam mengerjakan
puasa agar ibadah puasa kita diterima oleh Allah Swt.
Rukun puasa sendiri hanya ada 2, yakni niat dan imsak.
a. Niat
Niat puasa yaitu adanya suatu keinginan di dalam hati untuk menjalankan puasa semata-mata
mengharap ridha Allah swt, karena menjalankan perintah-Nya. Semua puasa, tanpa adanya niat maka
tidak bisa dikatakan sebagai puasa.
Kapankah kita berniat berpuasa?
Untuk puasa wajib, maka kita harus berniat sebelum datang fajar, sebagaimana disabdakan oleh
Rasulullah saw: Barang siapa tidak berniat puasa sejak makam, maka ia tidak mempunya puasa (H.R. anNasai)
Sementara itu untuk puasa sunnah, kita di bolehkan berniat setelah terbit fajar, dengan syarat kita
belum melakukan perbuatan-perbuatan yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, berhubungan
suami istri, dan lain-lain. Hal ini didasarkan pada Hadist dari Aisyah r.a: Pada suatu hari, Rasulullah sa
masuk ke rumah, kemudian bersabda, apakah enkau mempunyai makanan? Aku menjawab, Tidak.
Rasulullah saw, bersabda Kalau begitu, aku puasa. (H.R. An-Nasai)

b. Imsak
Kita sudah terlampau akrab dengan kata imsak, lebih-lebih ketika bulan Ramadhan. Banyak
orang memahami Imsak sebagai waktu menjelang fajar (subuh) dimana seorang muslim yang akan
berpuasa berhenti makan sahur. Padahal makna dari imsak tidaklah sesempit itu. Imsak yaitu menahan
diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan lain-lain dari mulai terbit fajar
sampai terbenam matahari. Jadi, waktu dimulainya puasa bukanlah pada saat sirine atau pengumuman
imsak disuarakan, tetapi dimulai ketika fajar (subuh). Tentang kenapa diperlukan sirine dan jadwal waktu

imsak itu supaya kita berhati-hati dan bersiap-siap karena sebentar lagi (sekitar 5 menit lagi) fajar akan
tiba.
3. Syarat wajib puasa
Syarat wajib puasa adalah segala sesuatu yang menyebabkan seseorang diwajibkan melakukan
puasa. Muslim yang belum memenuhi syarat wajib puasa maka dia belum dikenai kewajiban untuk
mengerjakan puasa wajib. Tetapi tetap mendapatkan pahala apabila mau mengerjakan ibadah puasa.
Syarat wajib puasa adalah sebagai beriktu:
a) Beragama Islam
b) Berakal sehat
c) Baligh
d)

Suci dari haid dan nifas (khusus bagi kaum wanita)

e)

Bermukim (tidak sedang bepergian jauh)

f) Mampu (tidak sedang sakit)


Apabila salah satu dari hal-hal di atas tidak ada pada seorang muslim, maka ia belum/tidak wajib
mengerjakan puasa wajib.

B. Macam-macam Puasa
1) Puasa wajib
a. Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan adalah puasa wajib yang dikerjakan bagi setiap muslim pada bulan Ramadhan
selama sebulan penuh.
Keutaman puasa bulan Ramadhan:
Ramadhan adalah bulan mulia, bulan penuh ampunan, bulan di mana al-Quran diturunkan, bulan
yang memiliki banyak sekali keutamaan. Berikut adalah beberapa keutamaan bulan Ramadhan yang tidak
terdapat pada bulan lain:
1) Barangsiapa berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, maka ia akan diampuni dosa-dosanya dan
kembali menjadi manusia yang fitri (suci).
2) Dibebaskan dari siksa api neraka.

3) Setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup rapat.
4) Pada bulan Ramadhan terdapat Lailah Al-Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan.
b.

Puasa Nadzar
Nadzar secara bahasa berarti janji. Puasa nadzar adalah puasa yang disebabkan karena janji

seseorang untuk mengerjakan puasa. Misalkan, Rudi berjanji jika nanti naik kelas 9 ia akan berpuasa 3
hari berturut-turut, maka apabila Rudi benar-benar naik kelas ia wajib mengerjakan puasa 3 hari berturutturut yang ia janjikan itu.
c. Puasa Kafarat
Kafarat berasal dari kata dasar kafara yang artinya menutupi sesuatu. Puasa kafarat secara istilah
artinya adalah puasa untuk mengganti denda yang wajib ditunaikan yang disebabkan oleh suatu perbuatan
dosa, yang bertujuan menutup dosa tersebut sehingga tidak ada lagi pengaruh dosa yang diperbuat
tersebut, baik di dunia maupun di akhirat.
2.

Puasa Sunnah

a.

Puasa enam hari di bulan Syawal.


Baik dilakukan secara berturutan ataupun tidak. Rasulullah saw bersabda, yang artinya:

Keutamaan puasa romadhon yang diiringi puasa Syawal ialah seperti orang yang berpuasa selama setahun
(HR. Muslim).
b.

Puasa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah


Yang dimaksud adalah puasa di sembilan hari yang pertama dari bulan ini, tidak termasuk hari

yang ke-10. Karena hari ke-10 adalah hari raya kurban dan diharamkan untuk berpuasa.
c.

Puasa hari Arafah


Yaitu puasa pada hari ke-9 bulan Dzuhijjah. Keutamaannya, akan dihapuskan dosa-dosa pada

tahun lalu dan dosa-dosa pada tahun yang akan datang (HR. Muslim). Yang dimaksud dengan dosa-dosa
di sini adalah khusus untuk dosa-dosa kecil, karena dosa besar hanya bisa dihapus dengan jalan bertaubat.
d.

Puasa Muharrom

Yaitu puasa pada bulan Muharram terutama pada hari Assyuro. Keutamaannya puasa ini,
sebagaimana disebutkan dalam hadist riwayat Bukhari, yakni puasa di bulan ini adalah puasa yang paling
utama setelah puasa bulan Romadhon.
e.

Puasa Assyuro
Hari Assyuro adalah hari ke-10 dari bulan Muharram. Nabi shalallahu alaihi wasssalam

memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari Assyuro ini dan mengiringinya dengan puasa 1 hari
sebelum atau sesudahnhya. Hal ini bertujuan untuk menyelisihi umat Yahudi dan Nasrani yang hanya
berpuasa pada hari ke-10. Keutamaan: akan dihapus dosa-dosa (kecil) di tahun sebelumnya (HR.
Muslim).
f.

Puasa Syaban.
Yang dimaksud puasa Syaban adalah memperbanyak puasa pada bulan Syaban. Keutamaan:

Bulan ini adalah bulan di mana semua amal diangkat kepada Rabb semesta alam (HR. An-Nasai & Abu
Daud, hasan).
g.

Puasa Senin dan Kamis.


Nabi telah menyuruh ummatnya untuk puasa pada hari Senin dan Kamis. Hari Senin adalah hari

kelahiran Nabi Muhammad sedangkan hari Kamis adalah hari di mana ayat Al-Quran untuk pertama
kalinya diturunkan. Perihal hari Senin dan Kamis, Rasulullah juga telah bersabda:
Amal perbuatan itu diperiksa pada setiap hari Senin dan Kamis, maka saya senang diperiksa amal
perbuatanku, sedangkan saya sedang berpuasa. (HR Tirmidzi)
h.

Puasa Tengah Bulan (tiga hari setiap bulan Qamariyah).


Disunnahkan untuk melakukannya pada hari-hari putih (Ayyaamul Bidh) yaitu tanggal 13, 14,

dan 15 setiap bulan qamariyah.


i.

Puasa Dawud
Cara mengerjakan puasa nabi Dawud adalah dengan sehari puasa sehari tidak puasa, atau selang-

seling. Puasa nabi Dawud adalah puasa yang paling disukali oleh Allah swt. (HR. Bukhari-Muslim).
3.

Puasa Makruh

Kapan puasa hukumnya makruh? Puasa yang makruh dilakukan adalah puasa pada hari Jumat
dan Sabtu yang tidak bermaksud mengqadha Ramadhan, membayar nadzar atau kafarat, atau tidak
diniatkan untuk puasa sunnah tertentu. Jadi seseorang yang puasa pada hari Jumat atau Sabtu dengan niat
mengqadha puasa Ramadhan tidak termasuk puasa makruh. Misal tanggal 9 Dzulhijjah jatuh pada hari
Sabtu maka puasa hari Sabtu pada waktu itu menjadi puasa sunnah bukan makruh. Ada pendapat lain
yang lebih keras bahkan menyatakan bahwa puasa pada hari Jumat tergolong puasa haram jika dilakukan
tanpa didahului hari sebelum atau sesudahya.
4. Puasa Haram
Ada puasa pada waktu tertentu yang hukumnya haram dilakukan, baik karena waktunya atau
karena kondisi pelakukanya.
a.

Hari Raya Idul Fitri


Tanggal 1 Syawwal telah ditetapkan sebagai hari raya sakral umat Islam. Hari itu adalah hari

kemenangan yang harus dirayakan dengan bergembira. Karena itu syariat telah mengatur bahwa di hari
itu tidak diperkenankan seseorang untuk berpuasa sampai pada tingkat haram. Meski tidak ada yang bisa
dimakan, paling tidak harus membatalkan puasanya atau tidak berniat untuk puasa.
b.

Hari Raya Idul Adha


Hal yang sama juga pada tanggal 10 Zulhijjah sebagai Hari Raya kedua bagi umat Islam. Hari itu

diharamkan untuk berpuasa dan umat Islam disunnahkan untuk menyembelih hewan Qurban dan
membagikannya kepada fakir msikin dan kerabat serta keluarga. Agar semuanya bisa ikut merasakan
kegembiraan dengan menyantap hewan qurban itu dan merayakan hari besar.
c.

Hari Tasyrik
Hari tasyrik adalah tanggal 11, 12 dan 13 bulan Zulhijjah. Pada tiga hari itu umat Islam masih

dalam suasana perayaan hari Raya Idul Adha sehingga masih diharamkan untuk berpuasa. Pada tiga hari
itu masih dibolehkan utnuk menyembelih hewan qurban sebagai ibadah yang disunnahkan sejak zaman
nabi Ibrahim as.
d.

Puasa sepanjang tahun / selamanya


Diharamkan bagi seseorang untuk berpuasa terus setiap hari. Meski dia sanggup untuk

mengerjakannya karena memang tubuhnya kuat. Tetapi secara syar`i puasa seperti itu dilarang oleh Islam.

Bagi mereka yang ingin banyak puasa, Rasulullah SAW menyarankan untuk berpuasa seperti puasa Nabi
Daud as yaitu sehari puasa dan sehari berbuka.
C. Hikmah dan Keutamaan dalam Berpuasa

1. Hikmah Ash-Shaum

Ash-Shaum merupakan salah satu ibadah dalam Islam yang memiliki keutamaan yang sangat
tinggi, serta memiliki berbagai hikmah sebagaimana yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Abdurrahman
As-Sadi dalam tafsirnya tatkala menjelaskan firman Allah Subhanahu wa Taala :
Yang artinya:Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian ash-shaum sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa. [Al-Baqarah : 183]

Diantaranya :

1. Ash-shaum adalah salah satu sebab terbesar yang mengantarkan seseorang menuju taqwa. Sedangkan
taqwa itu akan mendorong orang yang menjalankan ibadah shaum untuk meninggalkan berbagai larangan
Allah Taala, baik berupa minuman, makanan, dan jima (hubungan suami-istri) dan beberapa larangan
sejenisnya yang disukai oleh hawa nafsu, dan shaum dilakukan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri)
kepada Allah Taala dengan mengharapkan balasan di sisi-Nya.

2. Orang yang menjalankan ibadah shaum melatih jiwanya agar senantiasa merasa diawasi oleh Allah
(muroqobatullah) sehingga dia meninggalkan kemauan hawa nafsunya meskipun mampu menurutinya,
sebab dia mengetahui adanya pengawasan Allah Taala terhadap dirinya.

3. Ash-shaum dapat mempersempit ruang gerak syaithan karena ia masuk ke dalam tubuh anak Adam
melalui aliran darah.

4. Ash-shaum akan melemahkan kekuatan syaithan, sehingga orang tersebut semakin terjauhkan dari
kemaksiatan.

5. Orang yang menunaikan ash-shaum, mayoritasnya akan melakukan banyak ketaatan dan itu merupakan
bagian dari ketaqwaan kepada Allah Taala

6. Terkhusus bagi orang kaya bila merasakan pedihnya lapar karena ash-shaum maka akan muncul dalam
dirinya kepedulian kepada fuqara`, dan hal ini juga merupakan bagian dari ketaqwaan kepada Allah
Taala.

Asy-Syaikh Al-Utsaimin ketika ditanya tentang hikmah ash-shaum, beliau shalallahu alaihi
wasallam menjawab antara lain : bahwa ash-shaum mememiliki beberapa hikmah dalam hal sosial
kemasyarakatan, antara lain munculnya perasaan di tengah-tengah kaum muslimin bahwa mereka adalah
umat yang satu, makan dan bershaum di waktu yang sama.

Asy-Syaikh Alu Bassam dalam Taudhihul Ahkam menyebutkan hikmah lain dari ibadah ash-shaum, di
antaranya:
1. Mendorong seseorang untuk bersyukur kepada Allah dan mengingat berbagai nikmat-Nya.
2. Memiliki manfaat kesehatan, yaitu memberikan kesempatan pada alat pencernaan untuk istirahat.

Pendidikan Karakter
1. Dapat saling menghargai
2. Meningkatkan solidaritas
3. Menambahkan rasa syukur
4. Membersihkan hati
5. Mengendalikan hawa nafsu
Model Pembelajaran

1. Problem Based Learning


2. Cooperative Learning (Model pembelajaran kooperatif)
Metode Pembelajaran
1. Metode Ceramah
2. Metode Tanya Jawab
Kegiatan Pembelajaran
1. Memberikan salam kepada siswa dan memulai pelajaran dengan membaca basmallah
2. Guru meminta siswa untuk membaca dan memahami tentang materi puasa wajib dan
sunnah
3. Guru menjelaskan tentang puasa wajib dan sunnah
4. Guru meminta siswa untuk membuat beberapa kelompok
5. Guru membimbing siswa untuk berdiskusi
6. Guru mempersilahkan siswa untuk bertanya jawab
7. Guru mengulas ulang apa yang di diskusikan
8. Guru mengakhiri pelajaran dengan berdoa dan salam

Strategi Pembelajaran
1. Strategi Heuristik.
2. Strategi Deduktif.
Uji Kompetensi Materi
1. Apa pengertian puasa wajib dan sunnah?
2. Apa hikmah puasa wajib dan sunnah?
3. Bagaimana hukum-hukum puasa wajib bagi orang musyafir?