Anda di halaman 1dari 11

Internal and External Auditor Ethical Decision Making

PENDAHULUAN
Latar belakang
Selama ini banyak sekali penelitian yang mengangkat tema etika auditor di
perusahaan akuntan publik dengan skala international. Namun sedikit sekali yang
membandingkan perilaku auditor tersebut baik untuk internal dan external auditor di akuntan
publik baik yang skala multinational maupun nasional. Tujuan dari riset yang dilakukan oleh
penulis adalah untuk membandingkan tiga sektor profesi audit , yakni: Internal Auditors,
External Auditors dari perusahaan auditor internasional, dan External Auditior dari perusahaan
auditor yang masih kecil aatau bersifat regional. dalam hal pengaruh konteks situasional terkait
etika pengambilan keputusan dan evaluasi penilaian mereka. Saat ini sudah cukup banyak riset
yang meneliti mengenai External Auditors dari perusahaan auditor internasional, namun masih
sedikit riset yang membahas secara mandiri ataupun membandingkan satu sama lain mengenai
Internal Auditors dan External Auditior dari perusahaan auditor yang masih kecil aatau bersifat
regional.
Tujuan utama dari fungsi audit internal agak berbeda dengan fungsi audit external.
Fungsi utama internal audit menurut Institute of Internal Auditors,2009 adalah kepastian
objektif, kegiatan konsultas yang di desan untuk menambah nilai serta meningkatkan operasi
perusahaan. Hal ini membantu organisasi mencapa tujuan mereka secara sistematis, pendekatan
yang disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektifitas dari manajemen resiko,
pengendalian dan proses tata kelola. Sedangkan fungsi dari external auditor yang tertuang
dalam Securities and Exchange Commision, 2010 adalah sebagai berikut Untuk menyatakan
pendapat atas kewajaran laporan keuangan dan apakah sudah sesuai dengan GAAP dalam
semua hal yang dianggap materialitas, menyediakan jaminan tambahan kepada public,
melampaui pernyataan manajemen sendiri, dan laporan keuangan perusahaan dapat
diandalkan
Untuk memastikan kualitas dan validitas dari sistem pelaporan keuangan, bergantung
pada prinsip, standar tertentu, mengikuti pendekatan yang sistematis dan disiplin dalam
melakukan evaluasi, pengembangan, pendokumentasian, dan melaksanakan rencana yang
memenuhi tujuan audit. Selain itu juga bergantung besar pada standar etika. Meskipun secara

kewajiban professional dan tugas external auditor dari perusahaan kecil dan besar memiliki
kesamaan namun struktur, ukuran dan jasa yang mereka tawarkan seringkali bervariasi. Pratt dan
Bealieu (1992) mencatat bahwa perusahaan kecil memiliki lebih banyak kontak dengan pekerja
atau karyawan pada tingkatan diantara bawah dan atas , dan kurang memiliki sistem control yang
kaku. Selain itu Ford dan Richardson (1994) serta Loe at al (2000) menringkas bahwa ukuran
organisasi sangat terkait dengan etika perilaku yang muncul dalam pengambilan keputusan.
Sebuah

badan

penelitian

telah

dikembangkan

untuk

meneliti

dan

mencatat

kecenderungan permasalahan kegiatan etika dari external auditor. Jika dibandingkan, lebih
sedikit riset dilakukan untuk meneliti profesi internal audit. Selain itu sulit ditemukan riset yang
meneliti mengenai perbandingan etika pembuatan keputusan antara perusahaan audit berskala
besar dan kecil. Dalam penelitian ini kita akan membandingkan ketiga kelompok auditor dengan
berfokus pada interaksi mereka antara dua tipe tertentu dari pertimbangan etis / ethical
considerations (etika evaluasi / ethical evaluatuions dan niat untuk bertindak / intention to
act) dan dua tipe tertentu dari faktor-situasi tertentu / situation specific factors (konsensus
sosial / ethical consensus dan besarnya konsekuensi / ethical consequences) dari situasi etika.
Dan tujuan utama dari riset ini ialah membaningkan etika pengambilan keputusan oleh internal
auditor dengan dua sub kelompok external auditor
Permasalahan
Dari beberapa penelitian sebelumnya, seperti contoh penelitian de la merced, 2010 banyak
yang telah meneliti dengan menguji dan mencatat masalah terkait etika yang perlu ditanyakan
dari tindakan profesi external auditor. Kemudian dari penelitian Pierce and Sweney, 2010
tentang adanya perbedaan etika dalam pengambilan keputusan pada perusahaan akuntan publik
yang besar dan kecil. Dari beberapa penelitian sebelumnya belum ada yang membandingkan
perbedaan etika dari profesi external auditor dan internal auditor dari perusahaan akuntan publik
baik yang besar maupun kecil dalam kecenderungannya untuk mengikuti standar etika yang
berlaku.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan exploratori karena melakukan penelitian untuk
menguji teori atau fenomena yang sudah ada sebelumnya dan mengetahui faktor faktor apa saja
yang mendasari terjadinya fenomena tersebut. Penelittian ini melihat tanda tanda yang terjadi
dalam setiap kategori penelitian apakah terdapat kesamaan atau perbedaannya.

Penelitian ini menggunakan kuesioner dengan total 730 perusahaan yang diteliti terdiri dari
160 auditor eksternal kecil-perusahaan yang dikelompokan menjadi Kelompok 1, 355 auditor
besar perusahaan eksternal menjadi Kelompok 2, dan 215 internal auditor menjadi kelompok 3.
Instrumen yang digunakan ialah kuesioner dengan menyebutkan informasi dasar kepada
senior auditor yang sudah berpengalaman selama kurang lebih 2 6 tahun jika menghadapi suatu
permasalahan yang dibuat menjadi 5 skema yang unik yang masing masing menggambarkan
situasi dasar etika dalam melakukan audit yang berbeda beda yang dapat disembunyikan dari
supervisor auditor. Dan koresponden harus menggambarkan opini mereka dengan menggunakan
7 poin likert scale.

Teori
Perbedaan potensial dalam pertimbangan etika diantara sub-kelompok auditor
Disini akan dimulai dengan mengidentifikasi landasan teoritis yang akan digunakan untuk
membandingkan faktor potensial yang akan mempengaruhi pengambilan keputusan dari tiga subkelompok auditor. Adapun landasan teoritis yang dipakai mencakup:

Etika Pembuatan Keputusan dan Etika Moral


Ketika meneliti etika pengambilan keputusan oleh external auditor, salah satu model
psikologis yang popular ialah model yang dikembangkan oleh Rest (1979). Rest menyatakan
bahwa proses pertimbangan etis itu terdiri dati empat komponen yang berurutan, dimulai dari
sensitivitas dalam mengidentifikasi pertanyaan moral, evaluasi etis, niat untuk bertindak,
perilakun moral yang sebenarnya.
Sensitivitas etika menyangkut kemampuan untuk menyadari apakah situasi tertentu
mengandung impliasi etika. Evaluasi etika berbicara mengenai bagaimana seseorang
mengevaluasi aksi potensial yang mungkin akan diambil pada situasi tertentu. Niat untuk
bertindak dideskripsikan dengan tindakan etis yang ditentukan oleh individu ketika
menghadapi situasi tertentu. Dan perilaku moral yang sesungguhnya berkaitan dengan
apakah individu memang akan mengikuti tindakan yang dimaksud.

Ethical intensity Jones (1991) mencatat bahwa karakteristik dari etik spesifik suatu situasu yang
dihadapi oleh individu dapat berdampak pada komponen pada Rest model.

Semakin besar intensitas etika situasi, semakin besar kemungkinan bahwa rencana etis atau
pendekatan akan diikuti, yaitu sebagai intensitas meningkat etis, sehingga meningkatkan
kemungkinan bahwa mengidentifikasikan situasi etika, mengevaluasi alternatif tindakan dengan
cara yang etis, bermaksud untuk bertindak secara etis, dan menindaklanjuti dengan tindakan etis.
Salah satu atribut intensitas etis dicatat oleh Jones (1991, hal. 375) adalah bahwa tingkat
konsensus sosial didefinisikan sebagai "tingkat kesepakatan sosial bahwa tindakan yang
diusulkan adalah jahat (atau baik)".

Sebuah atribut kedua model intensitas etika Jones adalah besarnya konsekuensi didefinisikan
sebagai "jumlah dari kerugian (atau manfaat) dilakukan untuk korban (atau memperoleh manfaat
para penerima) dari tindakan moral yang bersangkutan" (hal. 375). Hal ini dapat diukur dari
jumlah orang yang menderita (atau memperoleh manfaat ting) atau sejauh mana satu menderita
(atau manfaat). Sebagaimana dicatat oleh Fritzsche dan Becker (1983), "konsekuensi serius lebih
mungkin untuk mendorong perilaku etis daripada konsekuensi sederhana". Fritzsche (1988),
Weber (1990) dan York (1989) mencatat semua asosiasi besarnya konsekuensi dan tindakan etis.
Penelitian telah menunjukkan dukungan untuk dampak dari proses pengambilan keputusan etis
konsensus sosial dan besarnya consequenceson (Carlson et al, 2002;. BarnettandValentine,
2004), evaluasi etis (Barnett, 2001; Singer dan Singer, 1997; Singhapakdi et al, 1996. ) dan niat
untuk bertindak (Barnett, 2001), semua dalam konteks non-audit. Dalam konteks audit, Schafer
et al. (2001) menemukan hubungan antara besarnya konsekuensi dan niat untuk bertindak secara
etis sementara Thorne et al. (2004) menemukan bahwa sosial pengaruh dapat memiliki dampak
yang berbeda tergantung pada apakah keputusan itu preskriptif (apa yang harus dilakukan) atau
deliberatif (apa yang realistis dapat dilakukan).

Hipotesis Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menentukan apakah faktor-faktor yang
mungkin menyebabkan auditor untuk membuat keputusan etis atau mengambil tindakan yang
tidak etis (yaitu "driver") berbeda dalam bidang tiga kelompok auditor - auditor internal, auditor
eksternal dari lebih besar perusahaan-perusahaan, dan auditor eksternal dari perusahaanperusahaan yang lebih kecil. Kami berharap bahwa jalur keputusan etis umum ada untuk semua
kelompok auditor. Sebagai contoh, semua kelompok auditor berbagi yayasan etika yang sama,
dan karena itu dapat diharapkan juga untuk berbagi jalur evaluatif serupa etis. Kedua, dari

perspektif operasional, auditor dari tiga kelompok berbagi prosedur uji tuntas yang sama dalam
mengidentifikasi pelaporan / praktek yang sesuai.
Auditor pembuatan keputusan etis

Ketiga, auditor, terlepas dari ukuran perusahaan dalam sudut internal auditor maupun eksternal,
memiliki tanggung jawab yang sama dalam memberikan pendapat atau mengevaluasi kesesuaian
entri yang spesifik. Secara bersama-sama, kami mengantisipasi bahwa semua auditor dalam
pemeriksaan kami akan menunjukkan awal jalur evaluatif etis yang sama. Pendekatan diikuti
dalam penelitian saat ini adalah untuk mendistribusikan kuesioner kepada tiga kelompok auditor
AS (Big-4, firma auditor eksternal yang kecil, dan auditor internal) dengan fokus berada di
meneliti dampak sosial-konsensus dan besarnya-of-konsekuensi atribut dari model intensitas etis
pada jalur yang berkaitan evaluasi etis untuk niat untuk bertindak. Membangun di atas gagasan
bahwa kedua evaluasi dan intensitas etika atribut etika berdampak pada niat untuk bertindak dan
bahwa sosial-konsensus dan besarnya-dari-konsekuensi atribut intensitas etika telah terbukti
memiliki signifikan berdampak pada pengambilan keputusan etis independen dari ketik atau
ukuran pekerjaan, kita mulai dengan hipotesis bahwa:
H1a. Konsensus sosial akan memengaruhi jalur keputusan antara evaluasi etika dan niat untuk
bertindak.
H1b. Besarnya konsekuensi akan memengaruhi jalur keputusan antara evaluasi etika dan niat
untuk bertindak.
Beralih ke tujuan utama dari penelitian ini - untuk menguji perbedaan antara etika proses
pengambilan keputusan dari kedua auditor eksternal dan internal serta auditor eksternal dari rms
audit fi eksternal yang lebih besar dan kecil - kami terus dengan hipotesis bahwa:
H2a. Dalam pengaruh konsensus sosial di jalan keputusan antara evaluasi etika dan niat untuk
bertindak akan berbeda-beda di kelompok auditor.
H2b. evaluasi dalam pengambilan keputusan dan niat untuk bertindak akan berbeda-beda di
kelompok auditor.

Metode penelitian Sebuah instrumen kuesioner digunakan yang menyajikan informasi latar
belakang pada auditor senior yang hipotetis (2-6 tahun pengalaman) dihadapkan dengan masalah
tekanan waktu bersama dengan lima sketsa unik masing-masing mewakili situasi etis

berdasarkan audit yang berbeda yang bisa saja disembunyikan oleh auditor dari atasannya.
Subyek kemudian diminta untuk mengekspresikan pendapat mereka (pada skala Likert tujuh
poin) dari serangkaian pertanyaan yang sama ditanya tentang setiap sketsa. Minimal kata-kata
yang berbeda digunakan untuk informasi latar belakang, deskripsi sketsa, dan pertanyaan yang
diajukan dari internal vs auditor eksternal - perbedaan yang dibutuhkan untuk membuat
kuesioner berlaku untuk dua khalayak yang berbeda. Kuesioner dibagikan kepada tiga kelompok
auditor. Kelompok pertama terdiri dari 71 subyek dari serangkaian non Big-4-rms akuntansi fi di
Northeast dan Midwest bagian dari Amerika Serikat. Perusahaan-perusahaan ini dihubungi
dengan permintaan untuk mendistribusikan kuesioner untuk mengalami auditor pra-manajer
tingkat bekerja di perusahaan-perusahaan mereka. Dari perusahaan-perusahaan

yang

menunjukkan kesediaan untuk berpartisipasi, managing director / partner tersebut jumlah


kuesioner untuk mengirim, dan di hampir semua kasus jumlah yang sama kuesioner
dikembalikan. Spesifik instruksi c disediakan untuk memastikan bahwa tanggapan akan
disimpan bersifat rahasia dari direktur utama / mitra. Kelompok kedua terdiri dari 32 auditor
tingkat senior di-4 Big sesi latihan perusahaan. Seorang rekan salah satu penulis hadir sedangkan
kuesioner yang sudah lengkap dengan respon 100%. Group ketiga terdiri dari 43 internal auditor
dengan komparasi pengalaman. Sebuah seperangkat pertanyaan diminta di setiap fi ve sketsa.
Lihat Lampiran untuk dua versi (auditor eksternal dan internal) dari kuesioner dengan sketsa.
Kami menganalisis evaluasi etis didasarkan pada dua tanggapan (Q1 dan Q2) dan niat untuk
bertindak berdasarkan dua tanggapan (Q3 dan Q4). Selain itu, langkah-langkah multi-item, yang
dikembangkan oleh penulis, digunakan untuk kedua konsensus sosial dan besarnya konsekuensi.
Pertanyaan konsensus sosial, yang berkaitan dengan penerimaan yang dirasakan dari suatu
tindakan yang tidak etis, diukur pendapat subyek untuk penerimaan tindakan kepada atasan
mereka dalam organisasi mereka (Q5), auditor lain di tingkat mereka dalam organisasi mereka
(Q6) , dan pada profesi mereka (Q7) .besaran pertanyaan diukur pendapat subyek untuk tingkat
memperoleh manfaat yang akan terhutang kepada auditor individu yang bersangkutan (Q8),
potensi bahaya bagi organisasi kerja mereka (Q9) dan potensi bahaya bagi para pemangku
kepentingan dalam klien perusahaan (Q10) [2].

Analisis dan fi temuan titik utama kami analisis adalah untuk menguji apakah konsensus sosial
(SC) dan besarnya konsekuensi (MC) memediasi hubungan antara evaluasi etika (EE) dan niat

untuk bertindak (IA) dan jika mediasi yang berbeda antar kelompok. Validitas pemeriksaan kami
terletak pada keberadaan tiga pra-kondisi. Pertama, faktor pembebanan pada empat konstruksi
harus stabil di seluruh kelompok dalam penelitian ini. Kedua, hubungan antara EE dan IA harus
signifikan untuk semua kelompok dalam model. Akhirnya, variabel mediator (SC dan MC) harus
termasuk dalam model. Kami sekarang menunjukkan keberadaan pra-kondisi.
Pengukuran konstruk laten dan stabilitas Yang pertama diperlukan pra-kondisi menetapkan
bahwa kita membangun model pengukuran untuk empat variabel laten dalam penelitian kami
yang stabil di semua kelompok. Menggunakan analisis faktor kami mengidentifikasi empat
konstruksi yang berbeda diwakili oleh sepuluh pertanyaan di bawah pemeriksaan. Data kami
menunjukkan ukuran Kaiser-Meyer-Olkin kecukupan sampling 0,778 dan tes untuk kebulatan
adalah signifikan pada p, 0.000 tingkat. Kami menyimpulkan bahwa analisis faktor sesuai untuk
data. Membangun kembali fl ected oleh pertanyaan 1 dan 2 diberi label evaluasi etis (EE).
Pertanyaan 3 dan 4 beban pada konstruksi kita label niat untuk bertindak. Konsensus sosial (SC)
membangun didirikan dengan pertanyaan 5-7. Akhirnya, mempertanyakan 8-10 asosiasi dengan
membangun berlabel besarnya konsekuensi (MC) [3].

Jurnal ini menggunakan Path Analysis untuk struktur model yang ada, baik Social Consensus
dan Magnitude of Consequences, yang terdiri dari:

Social Consensus

Path C ketika Social consensus tidak diikut sertakan.


Path C ketika Social consensus termasuk di dalamnya.
Koefisien Path C maupun Path C menunjukkan bahwa p<0,001, walaupun koefisien Path C
lebih kecil dibandingkan dengan Path C. Hal ini menunjukkan bahwa dengan tidak
memperhitungkan keanggotan kelompok (internal auditor, ekternal auditor baik the big4 atau
tidak), the effect of ethical evaluation pada intent to act termediasi atau dipengaruhi oleh Social
Consensus. Sehingga hasil ini mendukung H1a.

Magnitude of Consequences

Path C ketika Magnitude of Consequences tidak diikut sertakan.


Path C ketika Magnitude of Consequences termasuk di dalamnya.
Koefisien Path C maupun Path C menunjukkan bahwa p<0,00, walaupun koefisien Path C (0,389) lebih kecil dibandingkan dengan Path C (-0,489). Hal ini menunjukkan bahwa dengan
tidak memperhitungkan keanggotan kelompok, the effect of ethical evaluation pada intent to act
termediasi atau dipengaruhi oleh Magnitude Consequences. Sehingga hasil ini mendukung H1b.

Hasil statistik menyebutkan antara group 1(external auditor dengan ukuran perusahaan yang
kecil) dan group 3(internal auditor) menunjukkan partial mediation karena hasilnya tidak
berubah secara signifikan. Sedangkan untuk group 2(external auditor dengan perusahaan yang
lebih besar) menunjukkan full mediation karena hasilnya berubah sangat signifikan.

Langkah terakhir dari penelitian ini ialah melakukan evaluasi terhadap besarnya hasil statistik
terhadap pengaruh tidak langsung dari ethical evaluation dan intent to act terhadap semua group
dengan menguji H2a yang menyebutkan bahwa efek dari social Consensus dengan direct path
antara External Auditor dan Internal Auditor akan memiliki perbedaan antar group. Dan hasil uji
statistik terhadap penilaian tersebut menunjukan hasil yang signifikan dan H2a dapat diterima.

Hasil keseluruhan penelitian dilihat dari hasil uji statistiknya menunjukkan perbedaan
lingkungan kerja dan aturan yang ada untuk ketiga group auditor dapat mempengaruhi social
consensus on intent to act. Dalam keadaan Magnitude consequence juga mempengaruhi sikap
intent to act, tetapi pengaruhnya berbeda antara setiap group. Dan hasil penelitian juga
menunjukkan bahwa social consensus tidak terpengaruh terhadap faktor lingkungan, serta
tindakan magnitude of consequences juga tidak terpengaruh terhadap faktor yang sama.

Penelitian menguji pengaruh mediasi konsensus sosial dan besarnya konsekuensi terhadap
keputusan Path antara evaluasi etika dan niat untuk bertindak dengan 355 auditor besar
perusahaan eksternal, 160 auditor eksternal kecil-perusahaan, dan 215 intern auditor (n = 730).
Konsensus sosial sebagian menengahi jalur utama keputusan etis (Path C) untuk kedua auditor
eksternal kecil (kelompok 1) dan auditor internal (kelompok 3) Sebaliknya jalan mediasi
sepenuhnya bagi auditor eksternal besar (kelompok 2), dimana dengan penjelasan sebagai
berikut:
1. Auditor dalam kantor akuntan publik yang lebih besar dapat beroperasi dalam lingkungan
yang jauh lebih beragam dan politik daripada rekan-rekan mereka di perusahaanperusahaan kecil atau departemen akuntansi internal. Konsensus sosial di lingkungan
tersebut mungkin penting dalam mencapai dan mempertahankan performa yang baik dan
perkembangan dalam perusahaan. Dalam lingkungan ini, auditor mungkin lebih sensitif
terhadap konteks sosial dan menyelaraskan pandangan mereka kepada norma social.
2. Ukuran perusahaan dapat mempengaruhi pola keputusan. Ada kemungkinan bahwa
dengan meningkatnya ukuran perusahaan, demikian juga kecenderungan bagi seorang
individu untuk melepaskan tanggung jawab pribadi untuk kelompok yang lebih besar.
3. mediasi penuh jalur keputusan utama dapat mencerminkan keberhasilan program
pelatihan dan asimilasi di perusahaan audit eksternal yang lebih besar. Penekanan pada
orientasi tim dan kolaborasi dapat menciptakan lingkungan dimana keputusan audit yang
diambil bagian dari negosiasi.
Keputusan Path dari ketiga kelompok yang sebagian dipengaruhi oleh konsekuensi yang
diharapkan dari keputusan tersebut, namun tidak sepenuhnya digantikan oleh Primary Path
(Jalan C). Faktor yang mempengaruhi pentingnya konsensus sosial tidak mempengaruhi
pentingnya besarnya konsekuensi. Ketiga kelompok (auditor eksternal yang besar dan kecil dan
auditor internal) mempertimbangkan dampak dari keputusan mereka dalam cara yang umum,
tetapi bahwa pertimbangan ini tidak menggolongkan evaluasi etis awal mereka dalam
menentukan niat mereka untuk bertindak.
Temuan kami memberikan beberapa implikasi penelitian serta peluang penelitian di masa depan.
Banyak penelitian perilaku etika audit telah menggunakan pembelajaran dari empat perusahaan
besar. Padahal kita tahu bahwa profesi audit juga mencakup banyak auditor dari perusahaan audit
eksternal yang lebih kecil. implikasi bahwa temuan dari penelitian tersebut sama-sama berlaku

untuk perusahaan-perusahaan ukuran yang lebih kecil perlu diselidiki jika kita harus benar-benar
memahami seluruh profesi auditor eksternal.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan kesamaan dan perbedaan-perbedaan
mengenai perilaku yang berbasis etis antara ketiga kelompok dalam profesi audit. Prinsip
akuntansi internasional secara tradisional lebih pada "prinsip mendasar" daripada "berdasarkan
aturan". Penelitian telah menunjukkan bahwa budaya negara tidak memiliki efek pada tindakan
auditor.
Temuan ini juga menyajikan beberapa isu kebijakan yang menarik yang akan dihadapi oleh
profesi. Akankah anggota masyarakat investasi yang pada akhirnya bergantung pada pekerjaan
auditor (baik eksternal dan internal) lebih baik dilayani jika auditor mengikuti pendekatan atau
solusi untuk masalah etika? Atau akan mereka lebih baik dilayani dengan lebih individual,
namun profesional,? Atau investasi publik yang lebih baik disajikan dengan pengaruh yang lebih
besar dari konsensus sosial dalam satu kelompok (seperti empat perusahaan besar auditor)
sedangkan pengaruh yang lebih rendah dari dalam kelompok-kelompok lain, seperti perusahaan
eksternal yang lebih kecil dan / atau departemen audit internal. Bagaimana pengusaha masingmasing dapat mencapai tujuan dalam peningkatan atau penurunan pengaruh konsensus sosial?
Apakah bisa dilakukan dalam pelatihan internal perusahaan, dan jika demikian, bagaimana? Dan
apakah ada langkah-langkah dalam proses audit yang perlu diubah untuk mencapai tujuan?
Sementara temuan dari studi ini tidak mengatasi masalah tersebut, perbedaan yang dihasilkan
dalam dampak konsensus sosial antar kelompok menunjukkan bahwa isu-isu ini kebijakan
penting yang perlu dipelajari lebih lanjut untuk membantu membangun pendekatan dengan jenis
kontrol yang harus ada dalam lingkungan masing-masing

OPINI KELOMPOK

Internal Auditor dan Eksternal Auditor merupakan dua entitas yang memiliki
kepentingan, maksud dan tujuan yang berbeda. Maka dari itu penelti seharusnya dapat
memberikan informasi mengenai kemungkinan adanya perbedaan dan persamaan,
khususnya terhadap perilaku etis yang melibatkan keduanya, sehingga hubungan interaksi
yang kemungkinan terlibat antara kedua entitas tersebut dapat secara jelas terinformasikan kepada para pembaca mengenai dapat atau tidaknya mempengaruhi
kebijakan manajemen.

Penelitian merupakan salah satu penelitian yang baru dan unik karena sebelumnya belum
ada yang membandingkan antara internal auditor, ekternal auditor baik itu the big4
maupun non big4, secara bersama sama. Selain itu, dengan memndingkan ketiga
kelompok tersebut menunjukkan bahwa memang lingkungan kerja dan aturan yang
berbeda beda dari setiap kelompok, mempengaruhi keputusan dalam beretika

Variabel Penelitian adalah Internal auditor, External auditor dari perusahaan auditor luar
dan external auditor dari perusahaan auditor skala kecil sebagai variable (x1,x2 dan x3)
dan etika pengambilan keputusan sebagai variable (y) Populasi dan sampel 71 internal
auditor dari Perusahaan diseputar Midwest, 32 dari external auditor di Big 4 Firms, dan
43 dengan komparasi pengalaman. Variabel mediator adalah consensus social dan
besarnya konsekuensi Struktur model yang digunakan aadlah path analysis model Untuk
mengukur antara lain : Path A (Ethical evaluation social consensus), Path B ( Social
Concensus intent to act), dan Path C adalah (Ethical evaluation intent to act)
Landasan Teori yang digunakan adalah Etika Pembuatan keputusan dan Etika Moral,
Teori Jones 1991, Beckerr 1983, Fritzhe 1988, Weber 1990 dan York (1989), Dampak
pengambilan keputusan dan besarnya konsekuen dari teori Barnett dan Valentine (2004),
evaluasi etis (Barnett, 2001; Singer dan Singer, 1997; Singhapakdi et al, 1996. ) dan niat
untuk bertindak (Barnett, 2001), semua dalam konteks non-audit. Dalam konteks audit,
Schafer et al. (2001) menemukan hubungan antara besarnya konsekuensi dan niat untuk
bertindak secara etis sementara Thorne et al. (2004).

Peneliti membandingkan profesi internal auditor dan external auditor dalam mengambil
keputusan yang sesuai dengan etika. Walaupun seharusnya dalam proses untuk mendasari
etika itu sendiri ada 4 komponen yang akan dilakukan secara berurutan, penulis hanya
melakukan kedua bagian saja karena mengalami kendala dengan subjek yang akan
diteliti. Namun walaupun tidak semuanya dicantumkan peneliti dapat memberi gambaran
yang jelas mengenai adanya perbedaan dalam etika pengambilan keputusan dari masing
masing group