Anda di halaman 1dari 24

1.

Beda air bersih dan air minum


Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan
menjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasannya, air
bersih adalah air yang memenuhi persyaratan bagi sistem penyediaan air minum.
Adapun persyaratan yang dimaksud adalah persyaratan dari segi kualitas air yang
meliputi kualitas fisik, kimia, biologi dan radiologis, sehingga apabila dikonsumsi
tidak menimbulkan efek samping.
Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses
pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan
dapat langsung diminum.
2. Syarat air bersih
-

Persyaratan Kualitatif
Persyaratan kualitas menggambarkan mutu atau kualitas dari air baku air

bersih. Persyaratan ini meliputi persyaratan fisik, persyaratan kimia, persyaratan


biologis,

dan

persyaratan radiologis.

Syarat-syarat

tersebut

berdasarkan

Permenkes No.416/Menkes/PER/IX/1990 dinyatakan bahwa persyaratan kualitas


air bersih adalah sebagai berikut :
1. Syarat - syarat fisik
Secara fisik air bersih harus jernih, tidak berbau dan tidak berasa. Selain
itu juga suhu air bersih sebaiknya sama dengan suhu udara atau kurang
lebih 25C, dan apabila terjadi perbedaan maka batas yang diperbolehkan
adalah 25C 3C.
2. Syarat syarat kimia
Air bersih tidak boleh mengandung bahan-bahan kimia dalam jumlah yang
melampaui batas. Beberapa persyaratan kimia antara lain adalah : pH, total
solid, zat organik, CO2 agresif, kesadahan, kalsium (Ca), besi (Fe),
mangan (Mn), tembaga (Cu), seng (Zn), chlorida (Cl), nitrit, flourida (F),
serta logam berat.
3.

Syarat syarat bakteriologis dan mikrobiologis


Air bersih tidak boleh mengandung kuman patogen dan parasitik yang
mengganggu kesehatan. Persyaratan bakteriologis ini ditandai dengan
tidak adanya bakteri E. coli atau Fecal coli dalam air.

4.

Syarat - syarat radiologis


Persyaratan radiologis mensyaratkan bahwa air bersih tidak boleh
mengandung zat yang menghasilkan bahan-bahan yang mengandung
radioaktif, seperti sinar alfa, beta dan gamma.

Persyaratan Kuantitatif (Debit)


Persyaratan kuantitas dalam penyediaan air bersih adalah ditinjau dari

banyaknya air baku yang tersedia. Artinya air baku tersebut dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan kebutuhan daerah dan jumlah
penduduk yang akan dilayani. Persyaratan kuantitas juga dapat ditinjau dari
standar debit air bersih yang dialirkan ke konsumen sesuai dengan jumlah
kebutuhan air bersih.
-

Persyaratan Kontinuitas
Air baku untuk air bersih harus dapat diambil terus menerus dengan

fluktuasi debit yang relatif tetap, baik pada saat musim kemarau maupun musim
hujan. Kontinuitas juga dapat diartikan bahwa air bersih harus tersedia 24 jam per
hari, atau setiap saat diperlukan, kebutuhan air tersedia. Akan tetapi kondisi ideal
tersebut hampir tidak dapat dipenuhi pada setiap wilayah di Indonesia, sehingga
untuk menentukan tingkat kontinuitas pemakaian air dapat dilakukan dengan cara
pendekatan aktifitas konsumen terhadap prioritas pemakaian air. Prioritas
pemakaian air yaitu minimal selama 12 jam per hari, yaitu pada jam-jam aktifitas
kehidupan, yaitu pada pukul 06.00 18.00 WIB.
Kontinuitas aliran sangat penting ditinjau dari dua aspek. Pertama adalah
kebutuhan konsumen. Sebagian besar konsumen memerlukan air untuk kehidupan
dan pekerjaannya, dalam jumlah yang tidak ditentukan. Karena itu, diperlukan
pada waktu yang tidak ditentukan. Karena itu, diperlukan reservoir pelayanan dan
fasilitas energi yang siap setiap saat.
Sistem jaringan perpipaan didesain untuk membawa suatu kecepatan aliran
tertentu. Kecepatan dalam pipa tidak boleh melebihi 0,61,2 m/dt. Ukuran pipa
harus tidak melebihi dimensi yang diperlukan dan juga tekanan dalam sistem
harus tercukupi. Dengan analisis jaringan pipa distribusi, dapat ditentukan
dimensi atau ukuran pipa yang diperlukan sesuai dengan tekanan minimum yang
diperbolehkan agar kuantitas aliran terpenuhi.

3. Syarat jamban yang baik


Menurut Depkes (2004), jamban keluarga sehat adalah jamban yang
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Tidak mencemari sumber air minum, letak lubang penampung berjarak 1015 meter dari sumber air minum
2. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus
3. Cukup luas dan landai/miring ke arah lubang jongkok sehingga tidak
mencemari tanah di sekitarnya
4. Mudah dibersihkan dan aman penggunaannya
5. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna
6. Cukup penerangan
7. Lantai kedap air
8. Ventilasi cukup baik
9. Tersedia air dan alat pembersih
Menurut Arifin dalam Abdullah (2010) ada tujuh syarat-syarat jamban
sehat yaitu:
1. Tidak mencemari air
a. Saat menggali tanah untuk lubang kotoran, usahakan agar dasar lubang
kotoran tidak mencapai permukaan air tanah maksimum. Dinding dan
dasar lubang kotoran harus dipadatkan dengan tanah liat atau diplester
b. Jarak lubang kotoran ke sumur sekurang-kurangnya 10 meter
c. Letak lubang kotoran lebih rendah daripada letak sumur agar air kotor
dari lubang kotoran tidak merembes dan mencemari sumur
2. Tidak mencemari tanah permukaan
Jamban yang sudah penuh, segera disedot untuk dikuras kotorannya,
kemudian kotoran ditimbun di lubang galian
3. Bebas dari serangga
a. Jika menggunakan bak air atau penampungan air, sebaiknya dikuras
setiap minggu. Hal ini penting untuk mencegah bersarangnya nyamuk
demam berdarah
b. Ruangan jamban harus terang karena bangunan yang gelap dapat
menjadi sarang nyamuk

c. Lantai jamban diplester rapat agar tidak terdapat celah-celah yang bias
menjadi sarang kecoa atau serangga lainnya
d. Lantai jamban harus selalu bersih dan kering
e. Lubang jamban harus tertutup khususnya jamban cemplung
4. Tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan
a. Jika menggunakan jamban cemplung, lubang jamban harus ditutup
setiap selesai digunakan
b. Jika menggunakan jamban leher angsa, permukaan leher angsa harus
tertutup rapat oleh air
c. Lubang buangan kotoran sebaiknya dilengkapi dengan pipa ventilasi
untuk membuang bau dari dalam lubang kotoran
d. Lantai jamban harus kedap air dan permukaan bowl licin. Pembersihan
harus dilakukan secara periodik
5. Aman digunakan oleh pemakainya
Untuk tanah yang mudah longsor, perlu ada penguat pada dinding lubang
kotoran seperti: batu bata, selongsong anyaman bambu atau bahan penguat
lain
6. Mudah dibersihkan dan tidak menimbulkan gangguan bagi pemakainya
a. Lantai jamban seharusnya rata dan miring ke arah saluran lubang
kotoran
b. Jangan membuang plastik, puntung rokok atau benda lain ke saluran
kotoran karena dapat menyumbat saluran
c. Jangan mengalirkan air cucian ke saluran atau lubang kotoran karena
jamban akan cepat penuh
7. Tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan
a. Jamban harus berdinding dan berpintu
b. Dianjurkan agar bangunan jamban beratap sehingga pemakainya
terhindar dari kehujanan dan kepanasan
4. Peraturan perundangan terkait air bersih
-

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 416/Men.Kes/Per/Ix/1990 tentang


Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 Tentang


Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum

5. Peraturan perundangan terkait pengelolaan sampah


-

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan


Sampah
Pasal 22:
o Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah
sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah.
o Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah
dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau
tempat pengolahan sampah terpadu.
o Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau
dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat
pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir.
o Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan
jumlah sampah.
o Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau
residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara
aman.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 tentang


Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah
Tangga
Pengaturan pengelolaan sampah ini bertujuan untuk:
a. menjaga

kelestarian

fungsi

lingkungan

hidup

dan

kesehatan

masyarakat; dan
b. menjadikan sampah sebagai sumber daya.
Peraturan Pemerintah ini meliputi pengaturan tentang:
a. kebijakan dan strategi pengelolaan sampah;
b. penyelenggaraan pengelolaan sampah;
c. kompensasi;
d. pengembangan dan penerapan teknologi;
e. sistem informasi;

f. peran masyarakat; dan


g. pembinaan.
Dalam Undang-Undang ini ditetapkan bahwa setiap orang dilarang:

memasukkan sampah ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik


Indonesia;

mengimpor sampah;

mencampur sampah dengan limbah berbahaya dan beracun;

mengelola sampah yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan


lingkungan;

membuang sampah tidak pada tempat yang telah disediakan dan


ditentukan;

melakukan penanganan sampah dengan pembuangan terbuka di tempat


pemrosesan akhir; dan/atau

membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis


pengelolaan sampah.

6. Peraturan perundangan terkait limbah


-

Undang-Undang
2009 tentang

Republik

Perlindungan

Indonesia
dan

Nomor

Pengelolaan

32

Tahun

Lingkungan

Hidup Pasal 69
Setiap orang dilarang:

melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau


perusakan lingkungan hidup;

memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan perundangundangan


ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;

memasukkan limbah yang berasal dari luar wilayah Negara Kesatuan


Republik Indonesia ke media lingkungan hidup Negara Kesatuan
Republik Indonesia;

memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik


Indonesia;

membuang limbah ke media lingkungan hidup;


membuang B3 dan limbah B3 ke media lingkungan hidup;

melepaskan produk rekayasa genetik ke media lingkungan hidup yang


bertentangan

dengan

peraturan

perundang-undangan

atau

izin

lingkungan;

melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar;

menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat kompetensi penyusun amdal;


dan/ atau

memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan informasi,


merusak informasi, atau memberikan keterangan yang tidak benar.
Pasal 88:
Setiap orang

yang tindakannya, usahanya,

dan/atau

kegiatannya

menggunakan B3, menghasilkan dan/atau mengelola limbah B3, dan/atau yang


menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup bertanggung jawab
mutlak atas kerugian yang terjadi tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan.
Pasal 58:
Setiap orang yang memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia, menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan,
memanfaatkan, membuang, mengolah, dan/atau menimbun B3 wajib melakukan
pengelolaan B3.
7. Program kesehatan masyarakat terkait penyediaan air bersih
-

Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan


Pembentukannya didasari pada pemikiran bahwa pembangunan air minum

dan penyehatan lingkungan tidak hanya terkait pada satu bidang tertentu tetapi
harus merupakan kesatuan dari beberapa aspek, yaitu aspek teknis, kelembagaan,
pembiayaan, sosial, dan lingkungan hidup. Berdasarkan pemahaman itulah maka
dibentuk Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, yang terdiri
dari

departemen-departemen

terkait,

yakni

Departemen

Dalam

Negeri,

Departemen Kesehatan, Departemen Permukiman, dan Prasarana Wilayah serta


dikoordinasikan oleh Bappenas.
Tujuan Umum
Tujuan umum pembangunan sektor air minum dan penyehatan lingkungan
adalah terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan pelayanan air
minum dan penyehatan lingkungan yang berkelanjutan.

Tujuan Khusus
Secara khusus pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan
bertujuan: (a) meningkatkan pembangunan, penyediaan, pemeliharaan prasarana
dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan, (b) meningkatkan kehandalan
dan keberlanjutan pelayanan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan
lingkungan.
-

Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS)


Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS)

adalah salah satu program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dengan
dukungan Bank Dunia, program ini dilaksanakan di wilayah perdesaan dan
pinggiran kota.
Program Pamsimas bertujuan untuk meningkatkan jumlah fasilitas pada
warga masyarakat kurang terlayani termasuk masyarakat berpendapatan rendah di
wilayah pedesaan dan peri-urban. Dengan Pamsimas, diharapkan mereka dapat
mengakses pelayanan air minum dan sanitasi yang berkelanjutan serta
meningkatkan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Penerapan program ini
dalam rangka mendukung pencapaian target MDGs (sektor air minum dan
sanitasi) melalui perluasan pendekatan pembangunan berbasis masyarakat.
8. Bagaimana pengelolaan limbah rumah sakit yang seharusnya?
Tatalaksana penanganan limbah medis sesuai Permenkes meliputi kegiatan
Minimalisasi dan Pemilahan Limbah dengan rincian kegiatan, sebagai berikut :
-

Usaha Minimalisasi Limbah


1. Menyeleksi bahan-bahan yang kurang menghasilkan limbah sebelum
membelinya.
2. Menggunakan sedikit mungkin bahan-bahan kimia.
3. Mengutamakan metode pembersihan secara fisik daripada secara
kimiawi.
4. Mencegah bahan-bahan yang dapat menjadi limbah seperti dalam
kegiatan petugas kesehatan dan kebersihan.
5. Memonitor alur penggunaan bahan kimia dari bahan baku sampai
menjadi limbah bahan berbahaya dan beracun.
6. Memesan bahan-bahan sesuai kebutuhan.

7. Menggunakan bahan yang diproduksi lebih awal untuk menghindari


kadaluarsa.
8. Menghabiskan bahan dari setiap kemasan.
9. Mengecek tanggal kadaluarsa bahan pada saat diantar oleh distributor.
-

Pemilahan Limbah

Dilakukan pemilihan jenis limbah medis mulai dari sumber yang


terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam,
limbah farmasi, sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah
kontainer bertekanan dan dengan kandungan logam berat yang tinggi.

Pemisahan limbah berbahaya dari semua limbah pada tempat penghasil


limbah adalah kunci pembuangan yang baik.

Tempat Penampungan Sementara

Bagi rumah sakit yang mempunyai insinerator di lingkungannya harus


membakar limbahnya selambat-lambatnya 24 jam.

Bagi rumah sakit yang tidak mempunyai insinerator, maka limbah


medis harus dimusnahkan melalui kerjasama dengan rumah sakit lain
atau pihak lain yang mempunyai insinerator untuk dilakukan
pemusnahan selambat-lambatnya 24 jam apabila disimpan pada suhu
ruang.

Transportasi

Kantong limbah medis sebelum dimasukkan ke kendaraan pengangkut


harus diletakkan dalam kontainer yang kuat dan tertutup.

Pengangkutan limbah keluar rumah sakit menggunakan kendaraan


khusus.

Kantong limbah medis harus aman dari jangkauan manusia maupun


binatang.

Petugas yang menangani limbah, harus menggunakan alat pelindung


diri yang terdiri: topi/helm, masker, pelindung mata, pakaian panjang
(coverall), apron untuk industri, pelindung kaki/sepatu boot dan sarung
tangan khusus (disposable gloves atau heavy duty gloves).

Pengumpulan Limbah Medis

Pengumpulan limbah medis dari setiap ruangan penghasil limbah


menggunakan troli khusus yang tertutup.

Penyimpanan limbah medis harus sesuai iklim tropis yaitu pada musim
hujan paling lama 48 jam dan musim kemarau paling lama 24 jam.

Persyaratan Pewadahan Limbah Medis


Syarat tempat pewadahan limbah medis, antara lain :

Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan
mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya, misalnya
fiberglass.

Di setiap sumber penghasil limbah medis harus tersedia tempat


pewadahan yang terpisah dengan limbah non-medis.

Kantong plastik di angkat setiap hari atau kurang sehari apabila 2/3
bagian telah terisi limbah.

Untuk benda-benda tajam hendaknya di tampung pada tempat khusus


(safety box) seperti botol atau karton yang aman.

Sayarat benda tajam harus ditampung pada tempat khusus (safety box)
seperti botol, jerigen atau karton yang aman.

Tempat pewadahan limbah medis infeksius dan sitotoksik yang tidak


langsung kontak dengan limbah harus segera dibersihkan dengan
larutan desinfektan apabila akan dipergunakan kembali, sedangkan
untuk kantong plastik yang telah di pakai dan kontak langsung dengan
limbah tersebut tidak boleh digunakan lagi.

10

Label dan Wadah Limbah Medis


Standar lain yang harus dipenuhi dalam pewadahan limbah medis ini menyangkut
penggunaan label yang sesuai dengan kategori limbah. Detail warna dan limbah
label pada wadah limbah medis sebagai berikut:
Standar pewadahan dan penggunaan kode dan label limbah medis ini berfungsi
untuk memilah-milah limbah di seluruh rumah sakit sehingga limbah dapat
dipisah-pisahkan di tempat sumbernya:
Beberapa ketentuan juga memuat hal berikut ini:
1. Bangsal harus memiliki minimal dua macam tempat limbah, satu untuk
limbah medis (warna kuning) dan satunya lagi untuk non-medis (warna
hitam).
2. Semua limbah dari kamar operasi dianggap sebagai limbah medis.
3. Semua limbah dari kantor, biasanya berupa alat-alat tulis, dianggap
sebagai limbah non-medis.
4. Semua limbah yang keluar dari unit patologi harus dianggap sebagai
limbah medis dan perlu dinyatakan aman sebelum dibuang.
Sedangkan persyaratan yang ditetapkan sebagai tempat pewadahan limbah nonmedis sebagai berikut :

Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan
mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya, misalnya
fiberglass.

11

Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa mengotori tangan.

Terdapat minimal 1 (satu) buah untuk setiap kamar atau sesuai dengan
kebutuhan.

Limbah tidak boleh dibiarkan dalam wadahnya melebihi 3 x 24 jam atau


apabila 2/3 bagian kantong sudah terisi oleh limbah, maka harus diangkut
supaya tidak menjadi perindukan vektor penyakit atau binatang
pengganggu.

9. Bagaimana pengelolaan sampah di berbagai kota di Indonesia?


Sistem Pengelolaan Sampah Perkotaan di Indonesia
Kebijakan yang diterapkan di Indonesia dalam mengelola sampah kota
secara formal adalah seperti yang diarahkan oleh Departemen PU (Direktorat
Jenderal Cipta Karya) yang sekarang menjadi Departemen Permukiman dan
Prasarana Wilayah (KIMPIRASWIL) sebagai departemen teknis yang membina
pengelola limbah padat perkotaan (persampahan) di Indonesia. Sistem
pengelolaan sampah perkotaan pada dasarnya dilihat sebagai komponenkomponen sub sistem yang saling mendukung satu dengan yang lain, yang saling
berinteraksi untuk mencapai tujuan yaitu kota yang bersih, sehat dan teratur.
Komponen-komponen tersebut adalah:
a. Sub sistem teknik operasional (sub sistem teknik)
Sub sistem operasional memiliki komponen-komponen tersendiri atau subsub sistem tersendiri yaitu pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan akhir.
Termasuk dalam operasional sarana dan prasarananya.
b. Sub sistem teknik kelembagaan (sub sistem institusi)
Sub sistem ini menitikberatkan pada aspek kelembagaan atau organisasi,
yaitu pihak-pihak yang berwenang dalam pengelolaan sampah atau institusi yang
mengatur,

merencanakan,

mengendalikan

dan

mengawasi

pengelolaan

persampahan. Di Indonesia pihak institusi yang berwenang secara umum adalah


Dinas Kebersihan Kota.
c. Sub sistem pembiayaan (sub sistem finansial)
Sub

sistem

finansial

memiliki

tujuan

untuk

mengatur

aspek

pendanaan/pembiayaan dalam pengelolaan persampahan, baik oleh Dinas


Kebersihan Kota (pemerintah), swasta maupun oleh masyarakat itu sendiri.

12

d. Sub sistem hukum dan pengaturan (sub sistem hukum)


Sub sistem ini mengacu pada bidang perundang-undangan, penegakan
hukum, penentuan kebijakan dan upaya-upaya lainnya yang menyangkut aspek
hukum dan pengaturan baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan maupun
pengawasan dalam pengelolaan persampahan.
e. Sub sistem peran serta masyarakat dan swasta
Sub sistem peran serta masyarakat dan swasta mencakup pada sistem
mekanisme pengawasan, pelaksanaan, pemanfaatan hingga pendanaan. Bagi peran
serta masyarakat lebih mengarah pada upaya peningkatan kesadaran masyarakat
dan aspek finansial dalam pengelolaan sampah sedangkan pihak swasta terarah
pada keterlibatan dalam pendanaan.
10. Bagaimana pengelolaan sampah di kota Mataram?
Sampah yang dihasilkan oleh masyarakat dari masing-masing rumah
tangga atau sumber sampah ditangani oleh petugas yang telah ditunjuk oleh RT,
RW atau lingkungan. Biaya pengumpulan dan pengangkutan sampah sampai ke
TPS atau transfer depo dibiayai dengan iuran oleh masyarakat yang besarnya
sesuai kesepakatan masyarakat.
Sedangkan pengangkutan sampah tersebut dari masing-masing TPS atau
transfer depo ke tempat pembuangan akhir sampah (TPA) adalah tanggung jawab
Dinas Kebersihan Kota Mataram dimana masyarakat membayar retribusi
kebersihan atau sampah (sesuai dengan Perda No. 4 Tahun 2005).
Dengan kata lain bahwa retribusi sampah wajib dibayar oleh anggota
masyarakat (produsen sampah) sedangkan iuran adalah kesepakatan anggota
masyarakat untuk membayar petugas pengumpul atau pengangkut sampah dari
rumah ke rumah menuju TPS atau transfer depo.
Pola penanganan sampah di Kota Mataram dengan:
1. Pola Kantong, yang ditetapkan pada kelurahan-kelurahan yang berada
pada jalur-jalur dan jalur penghubung yang ada di Kota Mataram, dimana
sampah-sampah yang dihasilkan oleh masyarakat ditempatkan dalam
wadah berupa kantong plastik atau karung sehingga pengangkutan sampah
di TPS atau kontainer oleh armada angkutan sampah akan lebih efektif.

13

2. Pola Bin Kontainer, yaitu penempatan kontainer pada tempat-tempat


strategis dimana sampah-sampah yang dihasilkan oleh masyarakat atau
pusat-pusat perdagangan dibuang di kontainer tersebut, selanjutnya
diangkut oleh Arm Roll untuk dibuang ke TPA.
3. Pola Musnah Sendiri, yang diterapkan pada kelurahan yang berada di
pinggiran

wilayah

Kota Mataram.

Adanya

ketersediaan

lahan

yang memungkinkan sehingga sampahsampah yang dihasilkan oleh


masyarakat dapat dimusnahkan sendiri dengan cara ditimbun atau dibakar
(dengan terlebih dahulu memilah sampah plastik).
Sarana prasarana yang dimiliki oleh Dinas Kebersihan Kota Mataram sebagai
berikut :

Pick Up Kijang

Dump Truck

Pick Up Panther

Arm Roll

Whell Loader

Bull Dozzer

Truck Tinja

Kontainer

Kereta Dorong

Transfer Depo

TPS

TPA

11. Pengelolaan sampah di negara maju


Pengelolaan sampah di beberapa Negara maju yakni:
JEPANG
Jepang telah membuat peraturan tentang pengelolaan sampah ini, yang
diatur oleh pemerintah kota. Mereka telah menyiapkan dua buah kantong
plastik besar dengan warna berbeda, hijau, dan merah. Namun selain itu ada
beberapa kategori lainnya, yaitu: botol PET, botol beling, kaleng, batu baterai,
barang pecah belah, sampah besar, dan elektronik yang masing-masing
memiliki cara pengelolaan dan jadwal pembuangan berbeda.

14

Sebagai ilustrasi, cara membuang botol minuman plastik adalah botol


PET dibuang di keranjang kuning punya pemerintah kota. Setelah sebelumnya
label plastik yang menempel di botol itu kita copot dan penutup botol kita
lepas, label dan penutup botol plastik harus masuk ke kantong sampah
berwarna merah dan dibuang setiap hari Kamis. Apabila dalam label itu ada
label harga yang terbuat dari kertas, pisahkan label kertas tersebut dan
masukkan ke kantong sampah berwarna hijau dan buang setiap hari Selasa.
Selain pengelolaan sampah di rumah, departement store, convenient
store, dan supermarket juga menyediakan kotak-kotak sampah untuk tujuan
recycle (daur ulang). Kotak-kotak tersebut disusun berderet berderet di dekat
pintu masuk, kotak untuk botol beling, kaleng, botol PET. Bahkan di beberapa
supermarket tersedia untuk kemasan susu dan jus (yang terbuat dari kertas).
Uniknya lagi, dalam kotak kemasan susu atau jus (biasanya terpisah), terdapat
ilustrasi tentang cara menggunting dan melipat kemasan sedemikian rupa
sebelum dimasukkan ke dalam kotak.
Proses daur ulang itu pun sebagian besar dikelola perusahaan produk
yang bersangkutan, dan perusahaan lain atau semacam yayasan untuk
menghasilkan produk baru. Sementara, pengelolaan sampah di stasiun kereta
bawah tanah, shinkansen, pada saat para penumpang turun dari kereta ada
petugas yang berdiri di depan pintu keluar dengan membawa kantong plastik
sampah besar siap untuk menampung kotak bento dan botol kopi.
BELANDA
Sampai dengan abad ke-17 penduduk Belanda melempar sampah di
mana saja sesuka hati. Di abad berikutnya sampah mulai menimbulkan
penyakit, sehingga pemerintah menyediakan tempat-tempat pembuangan
sampah. Di abad ke-19, sampah masih tetap dikumpulkan di tempat tertentu,
tapi bukan lagi penduduk yang membuangnya, melainkan petugas pemerintah
daerah yang datang mengambilnya dari rumah-rumah penduduk. Di abad ke-20
sampah yang terkumpul tidak lagi dibiarkan tertimbun sampai membusuk,
melainkan dibakar. Kondisi pengelolaan sampah di Negeri Kincir Angin
(Belanda) saat itu kira-kira sama seperti di Indonesia saat ini.

15

Kini di abad ke-21 teknologi pembakaran sampah yang modern mulai


diterapkan. Teknologi itu memungkinkan pembakaran tidak menimbulkan efek
sampingan yang merugikan kesehatan. Agar tujuan itu tercapai, sebelum
dibakar sampah mesti dipilah-pilah, bahkan sejak dari rumah. Hanya yang
tidak membahayakan

kesehatan

yang boleh dibakar. Sampah

yang

memproduksi gas beracun ketika dibakar harus diamankan dan tidak boleh
dibakar.
JERMAN
Sedangkan di Jerman terdapat perusahaan yang menangani kemasan bekas
(plastik, kertas, botol, metal dsb) di seluruh negeri, yaitu DSD/AG (Dual System
Germany Co). DSD dibiayai oleh perusahaan-perusahaan yang produknya
menggunakan kemasan. DSD bertanggung jawab untuk memungut, memilah dan
mendaur ulang kemasan bekas.
10-30 % dari sampah awal berupa slag yang kemudian dibakar di
insinerator dan setelah ionnya dikonversikan, dapat digunakan untuk bahan
konstruksi jalan. Proses daur ulang ini dari Passau Hellersberg yakni sampah
organik yang dijadikan energi. Produksi kompos dan biogas ini memulai
operasinya tahun 1996. Sekitar 40.000 ton sampah organik pertahun selain
menghasilkan pupuk kompos melalui fermentasi, gas yang tercipta digunakan
untuk pasokan listrik bagi 2.000 - 3.000 rumah.
Sejak 1972 pemerintah Jerman melarang sistem sanitary landfill karena
terbukti selalu merusak tanah dan air tanah. Bagaimanapun sampah merupakan
campuran segala macam barang (tidak terpakai) dan hasil reaksi campurannya
seringkali tidak pernah bisa diduga akibatnya. Pada beberapa TPA atau instalasi
daur ulang selalu terdapat pemeriksaan dan pemilahan secara manual. Hal ini
untuk menghindari bahan berbahaya tercampur dalam proses, seperti misalnya
baterei dan kaleng bekas oli yang dapat mencemari air tanah. Sampah berbahaya
ini harus dibuang dan dimusnahkan dengan cara khusus.
INGGRIS
Di Inggris, ada City Council untuk kawasan perkotaan, ada juga Town
Council untuk kawasan kota dengan ukuran yang lebih kecil dan ada juga Village
Councilatau Parish Council.

16

Di Inggris tiap-tiap rumah diwajibkan membayar pajak bumi dan


bangunan juga, sama seperti di Indonesia, yang disebut Council Tax. Yang
berbeda mungkin hanya jumlahnya yang lebih mahal.
Council Tax ini digunakan oleh pemerintah lokal setempat untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan lokal semacam perbaikan jalan, pemberian
layanan dan fasilitas umum, dan juga pengelolaan sampah.
Konsepnya cukup sederhana. Dalam hal pengelolaan sampah, dari uang
pajak yang kita bayar tiap bulan, oleh Council dibelanjakan. Salah satunya adalah
untuk pengadaan wheelie bin, atau tempat sampah beroda. Disebut demikian
karena memang ada rodanya, hingga mudah didorong ke mana-mana untuk
memperingan pekerjaan.

Ukuran kotak sampah ini bermacam-macam, dari kecil untuk perumahanperumahan yang agak padat agar menghemat tempat, sampai ukuran raksasa
untuk sampah industri. Warnanya pun beragam, tergantung aturan tiap daerah atau
kota yang memakainya.
Di setiap rumah, diberikan tiga buah wheelie bin ukuran sedang (seperti
gambar pertama yang berwarna hijau) oleh Town Council. Satu berwarna hijau,
satu berwarna coklat dan satu lagi biru tua. Di tutup masing-masing kotak sampah
ini, tercetak tulisan dengan rapi apa-apa yang harus dimasukkan ke dalam kotak
sampah yang mana, dan apa-apa yang tidak boleh.

17

Di kotak sampah yang coklat, hanya diperbolehkan mengisi sampah kebun


semacam daun, akar, ranting, gulma, bunga, sampah organik dapur semacam kulit
kupasan buah, sampah sayuran dll, dan juga kertas karton atau kardus bekas.
Tetapi abu sisa pembakaran sampah, kebun, sisa barbeque atau bakar sate tidak
boleh dimasukkan ke kotak coklat ini.
Di kotak sampah yang biru tua, hanya diperbolehkan mengisi botol-botol
kemasan plastik yang sudah tidak terpakai, semacam botol susu, minuman jus,
botol selai, botol minyak sayur, dll. Semua harus yang berupa plastik saja. Di sini
juga bisa dimasukkan majalah-majalah bekas, koran bekas dan brosur-brosur
bekas yang tak terpakai. Dan semua yang berbahan kertas.
Di kotak sampah yang hijau, diperbolehkan mengisi apa saja selain yang
harus masuk ke biru dan coklat, kecuali botol kaca. Semua sampah rumah tangga
yang tidak boleh masuk ke coklat dan biru, harus masuk ke kotak hijau ini. Jadi isi
sampah dari kamar mandi, sampah dari meja rias, sampah dapur yang nonorganik, semua masuk ke wheelie bin yang warna hijau.

18

Sementara botol-botol kaca bekas selai, sambal, kecap, dll harus


dikumpulkan terpisah untuk lalu dibawa ke tempat penampungan khusus yang
biasa disediakan di jalan masuk supermarket-supermarket besar.
Di dekat tempat penampungan botol bekas ini juga sering tersedia kotak
raksasa untuk pembuangan sepatu bekas dan baju bekas. Seringnya mereka
membeli sesuatu tapi lupa memakainya, dan ketika ingat, sudah tidak berminat
lagi. Lebih banyak baju-baju yang masih berlabel masuk ke tempat pembuangan
ini, karena pemiliknya kehilangan minat untuk memakainya (meskipun masih
baru).
Demikian juga dengan sepatu, sering bernasib serupa. Tapi jangan pikir
bisa mengambilnya begitu saja, karena pembuangan sepatu dan baju ini didesain
sedemikian rupa sehingga menjadi semacam kotak surat. Kalau sudah
memasukkan surat ke kotak surat, susah untuk mengambilnya lagi. Sama halnya
dengan kotak sepatu dan baju bekas ini. Yang sudah masuk, tidak bisa keluar lagi,
kecuali petugasnya membuka gembok raksasa dan mengeluarkan isinya.

Kotak sepatu dan baju bekas


Di Inggris, ada yang namanya charity atau badan amal, mereka ada di
mana-mana dan banyak sekali. Badan-badan amal ini resmi, terdaftar dan
kegiatannya dipantau oleh pemerintah. Mereka inilah yang mengumpulkan sepatu
dan baju bekas untuk akhirnya dijual lagi dengan harga super murah, dan uangnya
digunakan untuk kegiatan amal.
Toko-toko milik charity ini bertebaran hampir di tiap desa dan kota. Yang
dijual adalah barang-barang bekas seperti sepatu, baju, mainan, alat dapur, dan
buku. Uniknya, di tiap buku yang dijual, ditempeli stiker berisi himbauan agar
jika selesai membaca, mohon dikembalikan ke toko itu untuk dijual lagi. Jadi
19

uang yang kita bayarkan sewaktu membeli buku itu jadi semacam uang sewa
buku.
Bagaimana kalau kotak sampah sudah penuh? Ke mana sampah-sampah
rumah tangga tadi dibawa pergi? Siapa yang mengambilnya? Di sini
peran Council sangat dibutuhkan. Dari uang pajak rumah yang dibayarkan tiap
bulan tadi, masing-masing Council di tiap wilayah masing-masing akan
menyediakan mobil-mobil sampah yang berkeliling dari rumah ke rumah setiap
satu minggu sekali untuk mengumpulkan sampah-sampah.
Sampah dari kotak warna coklat dan biru akan dikirimkan ke perusahaan
daur ulang. Sampah organik dari kotak coklat akan diproses menjadi kompos,
produk untuk berkebun dan semacamnya, sedangkan sampah dari kotak biru yang
berisi kertas dan plastik akan diolah lagi menjadi produk-produk daur ulang yang
berbahan kertas dan plastik.

Karena isinya tidak memenuhi persyaratan daur ulang, sampah dari kotak
yang berwarna hijau akan dikirimkan ke tempat pembuangan sampah atau
disebut landfill setempat yang dikelola dengan cukup baik agar proses
pembusukan sampahnya tidak mencemari air tanah dan udara sekitar. Sebagian
lagi dikirimkan ke sebuah tempat bernama incinerator atau tempat pembakaran
sampah untuk dimusnahkan dengan cara dibakar.
Incinerator ini diperlukan untuk membantu mengurangi volume sampah
yang terus menggunung di landfill. Karena proses pembusukan sampah juga
memerlukan

waktu

cukup

lama,

kadang-kadang

keterbatasan

lahan landfill mengharuskan sebagian volume sampah harus dibakar.


Incinerator dikelola sedemikian rupa agar panas dari pembakaran bisa
dimanfaatkan dan didaur ulang untuk sumber energi atau pemanas, sedangkan gas

20

buang dari cerobongnya diolah terlebih dahulu agar kandungan bahan-bahan


berbahaya yang bisa mencemari udara bisa ditekan sekecil-kecilnya atau
dihilangkan sama sekali. Hal ini juga sudah diatur dengan ketat oleh Uni Eropa
dan semua negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa wajib mematuhinya

Incinerator atau tempat pembakaran sampah


Sampah-sampah berukuran besar seperti meja, kursi, sepeda atau daun
pintu atau setelah membersihkan kebun dan menebang pohon, harus dibuang ke
tempat pembuangan sampah terdekat. Tempat pembuangan sampah di sini (atau
biasa disebut recycling centre atau the tip), ukurannya tidak terlalu besar.
Biasanya tempat ini punya gerbang yang bisa dibuka tutup dan dikunci di malam
hari, dan jalan masuknya teraspal rapi supaya bisa diakses oleh mobil yang keluar
masuk membawa barang-barang buangan.
Apa perbedaannya dengan landfill? Kalau landfill digunakan sebagai
tempat pembuangan akhir (TPA) untuk sampah-sampah yang tidak bisa didaur
ulang lagi, TPS yang dimaksudkan di sini dipakai untuk mengumpulkan sampahsampah berukuran besar yang tidak bisa diambil oleh mobil pengangkut sampah
biasa. Itulah perbedaannya. Untuk ke sini, orang yang ingin membuang sampah
harus membawa mobil sendiri. Di dalam recycling centre ini ada beberapa
petugas yang kerjanya memberi petunjuk ke mana para pengendara mobil yang
penuh barang-barang buangan ini harus memarkir mobilnya dan jenis sampah apa
harus masuk ke kotak yang mana.

21

Recycling Centre atau tip


Tiap-tiap jenis sampah yang berbeda-beda harus dimasukkan ke dalam
kotak-kotak besi raksasa (Skip), yang masing-masing sudah dilabeli untuk diisi
jenis sampah tertentu. Contohnya, sampah dari kebun seperti tebangan pohon,
atau kotak yang lain ditujukan sebagai tempat buangan sampah mesin seperti
sepeda bekas, mesin cuci rusak, dsb.
Dengan sistem pengelolaan sampah seperti ini, semua rumah dan industri
berkewajiban untuk melakukan pemisahan sampah sejak kita memakai produkproduk yang kita konsumsi sehari-hari. Pemisahan sampah oleh konsumen
pemakai produk di tahap awal, sangat membantu mengurangi biaya sortir.
Di Inggris, tidak diperbolehkan untuk membuang sampah dengan cara
menimbunnya di dalam tanah, atau membakarnya di kebun belakang rumah.
Selain untuk menghindari pencemaran tanah dan air tanah, juga asap pembakaran
akan mencemari udara. Seluruh pengelolaan sampah di negara Inggris dilakukan
oleh pemerintah, dan pemisahan sampah sejak di rumah menjadi kewajiban setiap
warga.
12. Permasalahan pengelolaan sampah di Indonesia
Aspek
Peraturan

Permasalahan
Lemahnya penegakan hukum.
UU 18/2008 belum sepenuhnya didukung aturan
pelaksanaannya
Pelaksanaan Perda belum optimal (Perda
Retribusi, Perda K3, Perda Pengelolaan Sampah,
dll).
Belum ada aturan yang jelas mengenai
kelembagaan
persampahan,
pembiayaan,
kompensasi, CSR bidang persampahan dan EPR.
Belum adanya Perda (provinsi) mengenai
pengelolaan sampah regional dan keharusan
penetapan lokasi dengan studi kelayakan.
22

Kelembagaan

Teknis
Operasional

dan

Pembiayaan

Belum adanya Perda tentang Rencana Induk


(Masterplan) Persampahan.
Belum ada aturan mengenai KPS bidang
persampahan
Institusi pengelola sampah masih multi sektor
Ketidakjelasan fungsi operator dan regulator
Kualitas SDM keahlian bidang persampahan
masih rendah
Mutasi kerja di daerah sering terjadi,
pengembangan profesionalisme SDM sulit
Bentuk kelembagaan yang ada tidak fleksibel
dalam penyediaan anggaran, penggunaan dan
pertanggungjawaban
Pola KPS tidak menarik bagi Swasta karena
alokasi anggaran masih rendah
Peningkatan timbulan sampah tidak sebanding
dengan kualitas pengelolaan persampahan di
daerah.
Keterbatasan lahan TPA
Keleluasaan menemukan lokasi untuk lahan TPA
adakalanya dibatasi dengan Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) daerah
Prasarana/Sarana (P/S) berkualitas (teknologi
tinggi) belum ada.
Masih banyak TPA belum punya SOP, dan ada
TPA yang dilengkapi SOP namun tidak
dijalankan
Paradigma
penutupan
sampah
masih
konvensional menggunakan tanah, sedangkan
pengadaan tanah penutup berkala sangat sulit dan
mahal
Egosentris program antar sektor
Belum menjadi prioritas baik kepala daerah
maupun legislatif (DPRD)
Secara umum alokasi anggaran persampahan
masih < 5% dari total APBD
Rendahnya realisasi penarikan retribusi (rata-rata
baru 22% dari target)
Satuan biaya yang terkait pengelolaan sampah
masih belum masuk dalam mekanisme sistem
anggaran umum (pos rekening)
Belum adanya kebijakan insentif terhadap
keberhasilan komunitas dalam pengelolaan
sampah.
Belum ada alokasi biaya kompensasi lingkungan
maupun kompensasi sosial (uang bau dan
asuransi untuk pekerja resmi di TPA).

23

Peran
Masyarakat
Swasta

Serta
dan

Kesadaran masyarakat maupun Pemda untuk


mengelola sampah dengan metoda 3R belum
merata.
Daya tahan pengomposan masih rendah
Investasi swasta yang masih rendah
CSR dari perusahaan lokal khususnya bidang
persampahan belum optimal
Produsen belum menjalankan EPR
Kesepakatan typping fee antara pemda dengan
investor yang berlarut-larut
Tidak tersedia tata cara keterlibatan masyarakat
dalam pengelolaan sampah kota
Masyarakat sekitar TPA mengarahkan ternaknya
mencari makan di TPA
Sosialisasi seringkali tidak dibarengi dengan
penyediaan P/S yang memadai (contoh:
sosialisasi memilah sampah, namun tidak
disediakan wadah, gerobak, truk, dll yang
mendukung kegiatan tsb)

24